Usaha Membaca Secara Anarki

Pada umur awal dua puluhan, untuk pertama kalinya Emma Goldman menonton dan mendengar orasi John Most, seorang anarkis pendahulunya. Dengan gelegak jiwa anak muda, Emma membayangkan dirinya bisa mencapai taraf tersebut: bicara berapi-api di depan kerumunan massa, memengaruhi dan menggerakkan mereka. Butuh beberapa tahun untuknya menyadari bahwa, “aku tak lagi percaya kata-kata lisan”, dan meyakini “betapa rapuhnya itu untuk membangunkan kesadaran, bahkan emosi.” Ia menganggap orasi semacam itu hanya meninggalkan kesan yang sejenak, yang terbaik darinya adalah mengguncang keyakinan orang, tapi tak mencukupi untuk membawa mereka kepada kesadaran untuk belajar dan berpikir secara mendalam.

Ia mulai menulis banyak esai-esai politik sambil memperkenalkan anarkisme. Ia menulis tentang problem mayoritas-minoritas, tentang psikologi kekerasan, penjara, patriotisme, emansipasi perempuan, bahkan pernikahan dan cinta. Hingga pertanyaan berikutnya muncul: memangnya apa itu anarkisme? Sebagai sebuah paham, seperti apa metodenya? Pertanyaan itu sangatlah lumrah, apalagi jika dibandingkan dengan sepupu “kiri”nya, Marxisme, yang sangat ketat dan cenderung punya hasrat untuk “mengilmu-pengetahuan”kan filsafat progresif.

Dalam esainya tentang anarkisme, Emma memberi sedikit gambaran yang saya pikir berguna untuk pembicaraan kita selanjutnya. Ia mencoba menjawab tuduhan banyak kelompok bahwa anarkisme sangatlah tidak praktis, dengan mengatakan:

“Skema praktis (ia mengutip Oscar Wilde), merupakan sesuatu yang memang sudah berjalan, atau skema yang memang bisa dijalankan di suatu kondisi yang sudah ada, tapi masalahnya justru kondisi yang ada inilah yang kita tentang, dan skema apa pun yang bisa berjalan di kondisi ini jelas salah dan tolol.”

Kita bisa menduga ketika ia bicara “kondisi yang ada” merujuk kepada kondisi sosial, politik dan ekonomi, tapi saya pikir secara tersirat juga bicara tentang kondisi struktur pengetahuan. Ilmu pengetahuan dengan segala metodenya merupakan wilayah yang sama kakunya, penuh hirarki, penuh lembaga-lembaga otoritatif, dan terkadang bisa dibilang jauh lebih mapan daripada keadaan sosial, ekonomi, apalagi politik secara umum. Emma memberi kita jalan keluar: “Anarkisme, setidaknya sebagaimana saya mengerti, mewariskan kebebasan untuk mengembangkan sistem uniknya sendiri, selaras dengan kebutuhan.”

Ia bicara tentang pembebasan terus-menerus, pemberontakan terus-menerus terhadap keadaan yang salah dan curang ini. Dengan kata lain, skema harusnya sesuatu yang lentur, dan bukan sebuah sistem yang akhirnya memenjarakan diri sendiri.

Dalam konteks inilah saya ingin mengajak untuk melakukan ini, setidaknya, dalam cara kita membaca. Membaca apa pun, novel, puisi, traktat, bahkan iklan di jalanan, sebagai tindakan untuk terus-menerus membebaskan diri dan memberontak, sebab dalam tindakan yang seolah remeh ini, pembaca terus-menerus dihadapkan kepada begitu banyak otoritas: kuasa pengarang, kuasa pengetahuan, bahkan kuasa modal yang menyediakan apa yang bisa kita baca. Persis dalam titik inilah saya rasa Benedict Anderson melakukan dan menunjukkannya melalui buku Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial.

***

Di masa sekarang, mungkin tak terbayangkan sebuah novel bisa menggerakkan sebuah bangsa, juga memberi landasan bagi imajinasi tentang bangsa tersebut, yang memang belum ada ketika novel itu diterbitkan, dan penulisnya tak hanya menjadi seorang martir, tapi juga dianggap sebagai Bapak Pendiri Bangsa. Tapi itu terjadi pada Noli me Tangere (serta sekuelnya, El Filibusterismo) serta sang penulisnya, Jose Rizal.

Filipina, seperti ditunjukan oleh Ben Anderson, jikapun menjadi warga negara Republik Global Kesusastraan, tentunya hanya warga pinggiran saja. Tak hanya di masa ketika Jose Rizal hidup di mana produksi novel-novel besar dimonopoli Perancis dan Inggris, yang lalu dibayang-bayangi dan diteruskan oleh Amerika dan Rusia, tapi bahkan sampai sekarang bisa dibilang masih saja merupakan warga pinggiran saja, sebagaimana apa yang terjadi dengan seluruh kesusastraan di wilayah Asia Tenggara ini. Siapa penulis Filipina yang Anda baca (atau setidaknya Anda kenal namanya) selepas Jose Rizal? Saya yakin sebagian besar di antara kita muncul dengan pikiran kosong.

Tapi kenapa novel itu bisa mencuat dari pinggiran, bersanding dengan raksasa-raksasa lain dari pusat-pusat Republik Global Kesusastraan ini? Ben meminjam argumentasi kuat Pascale Casanova bahwa “penulis-penulis pinggiran … menemukan orisinalitasnya saat berusaha mendobrak … menentang premis-premis yang berlaku dengan gaya yang berbeda.”

Saya rasa di sinilah Ben menunjukkan kejeniusan Rizal yang menentang “premis-premis yang berlaku dengan gaya yang berbeda” tersebut, sebab ini mengisyaratkan bahwa Rizal mengetahui terlebih dahulu “premis-premis yang berlaku” untuk menciptakan “gaya yang berbeda”. Sesuatu yang tentulah sulit dilakukan dari pinggiran, tapi menjadi mungkin dalam kasus Rizal. Ben menjelajah berbagai kemungkinan, melintasi batas-batas teritori, tak hanya bangsa-negara dan kebudayaan, tapi disiplin-disiplin ilmu, dari usaha melakukan perbandingan sastra, hingga sejarah ekonomi dan kolonial, bahkan pertarungan ordo-ordo gereja.

Seperti kaum anarkis yang mencoba merubuhkan segala sekat bangsa-bangsa, tradisi, dan otoritas, demikianlah pula sang novelis bekerja bersama kesusastraannya. Menilik kedua novelnya, meskipun secara khusus Ben menunjukkan novel keduanya, kita serasa melihat berbagai saling-silang tradisi kesusastraan lintas-bangsa melebur di sana, tak hanya berbaur tapi juga dipermainkan oleh sang penulis. Jose Rizal memang sedikit beruntung dalam hal ini: ia tak semata-mata anak Filipina, ia bisa dibilang anak global tak hanya secara pikiran, tapi juga bahkan secara fisik.

Tapi yang terpenting bukan semata-mata sumber-sumber berharga kesusastraan global yang secara istimewa bisa diaksesnya, melainkan bagaimana Jose Rizal mempergunakan itu semua untuk tujuan-tujuan “praktis”nya. Persis seperti dalam bayangan saya ketika merujuk kata-kata Emma Goldman, bahan-bahan kesusastraan yang disediakan untuknya dari berbagai peradaban itu dipergunakannya dalam konteks yang sangat berbeda: Filipina dan angan-angan kebebasannya.

Persis seperti dinamit yang ditemukan oleh Alfred Nobel, yang barangkali diciptakan demi memenuhi kebutuhan untuk meledakkan gunung-gunung demi eksploitasi pertambangan, di tangan kaum anarkis menjadi senjata ringkas yang bisa dibawa ke mana-mana dan mendobrak kebekuan zaman. Kita akan melihat bagaimana Ben menunjukkan seperti apa kesusastraan dan tradisi Eropa yang tersedia untuk Jose Rizal, bisa dipergunakannya bagaikan dinamit oleh kaum anarkis.

***

Saya bertemu Ben Anderson untuk pertama kali sekitar satu dekade yang lalu. Kami bicara tentang tempat-tempat di Jawa yang sering dikunjunginya, atau pernah dan ingin dikunjunginya kembali, dan sesekali menyarankan saya mengunjungi tempat-tempat tersebut. Adakalanya tempat-tempat itu demikian acaknya, dari mulai satu situ di Tasikmalaya selatan yang menurutnya dipenuhi kalong-kalong raksasaa, hingga sarannya untuk mengunjungi masjid yang pernah menjadi pusat Darul Islam di Garut, yang menyajikan percampuran arsitektur menarik.

Tapi di antara semua saran-sarannya, ia beberapa kali meminta saya membaca satu novel dari pengarang yang nyaris tak dikenal, setidaknya saya tak kenal namanya sampai Ben menyebut nama itu: Hino Minggo dengan seri bukunya berjudul Six Balax. Ia tak pernah mengajak saya membicarakan penulis-penulis sastra Indonesia dengan nama-nama besar, tidak juga menyarankan saya membaca nama-nama penulis tersebut. Melalui surel, atau ketika bertatap muka, satu-satunya penulis yang dengan ngebet disarankannya kepada saya hanyalah Hino Monggo.

Saya memang tak langsung menuruti sarannya, karena bukan hal yang gampang menemukan buku Hino Minggo. Dan ketika akhirnya saya menemukan buku itu, membacanya, saya terpana lama sambil berpikir keras, “Apa yang sedang Ben coba sarankan kepada saya?”

Six Balax sendiri dengan cepat memang menarik hati saya ketika membacanya. Itu kisah tentang detektif polisi dengan bandit-bandit tengil kelas coro, berbaur dengan gaya bahasa yang campur-aduk, adegan-adegan slapstik, komentar-komentar cunihin, hingga pesan moral yang seringkali agak brengsek. Meskipun saya merasa terhibur dengan bukunya, saya tak berpikir itu akan berguna bagi kerja kesusastraan saya, hingga saya mencoba untuk membaca “secara anarki” saran Ben Anderson tersebut.

Saya rasa ia menyadari latar belakang selera saya pada novel-novel hiburan semacam itu. Saya pembaca novel-novel horor dan silat, dan tak menyangkal pengaruh besar genre tersebut dalam karya yang saya tulis. Tapi saran Ben untuk membaca Six Balax membuat saya menjelajah ke berbagai karya lain, yang barangkali sama terlupakannya. Bahkan jika pun populer, barangkali tak memperoleh tempat dalam ruang-ruang emas kesusastraan dan kebudayaan Indonesia.

Di titik inilah saya menjelajah dari satu buku ke buku lain, dalam semangat “saran Ben untuk membaca Six Balax”. Saya tak hanya membaca kembali novel-novel silat (dari Kho Ping Hoo, SH Mintardja, Bastian Tito) dan novel horor (dari Abdullah Harahap hingga Tara Zagita), tapi juga menapaki kembali komik-komik Petruk-Gareng karya Tatang S, romans La Rose, hingga novel ala pulp fiction semacam Kaptin Umar Bey karya S. Puteradjaja. Sekali lagi, mereka mungkin tak memperoleh ruang emas yang sama dalam kesusastraan dan kebudayaan Indonesia sebagaimana mereka menempatkan Idrus, Sutan Takdir Alisjahbana, Iwan Simatupang, Chairil Anwar. Tapi selepas mengunjungi karya-karya ini, saya tak bisa mengelak dari sejenis pencerahan: saya melihat Indonesia, barangkali dengan mata dan perasaan yang jauh lebih segar.

Pikiran itu semakin menjadi-jadi setelah membaca Di Bawah Tiga Bendera, dengan silang-sengkarut kisah Jose Rizal dan Isabelo de los Reyes bersama pembentukan nasionalisme (bahkan identitas) Filipina. Menyadari bahwa wilayah yang kini menjadi Filipina tersebut terpisah-pisah tak hanya secara geografis, tetapi juga suku dan adat-istiadat, Isabelo menceburkan diri kepada kajian-kajian folklore. Mungkin bukan niat utamanya, tapi secara tak langsung ia membentuk sejenis dasar bagi imajinasi tentang Filipina. Pada saat yang kurang-lebih bersamaan, Jose Rizal meminjam dari berbagai khazanah luar, sebagaimana ditelusuri dengan detail oleh Ben, untuk menciptakan imajinasi mungkin tentang hal yang sama, dengan cara yang berbeda.

Membaca buku ini, dan kemudian mengikuti saran Ben dengan menafsirkannya secara agak liar, setidaknya bagi saya memberi sejenis titik pijak untuk melihat Indonesia, setidaknya sejarah kesusastraan Indonesia, dengan kacamata yang baru. Seperti bintang-bintang di langit kita gambar ulang membentuk rasi-rasi baru dalam konteks seperti “komparasi ilmu falak” yang disebut Ben.

***

Tentu saja menemukan cara baru bukan pokok pentingnya, demikian pula “komparasi ilmu falak” juga bukan pokok pentingnya. Kembali ke buku Benedict Anderson yang jadi tali simpul bagi pembicaraan ini, saya ingin mengutip apa yang ditulisnya di pendahuluan: “Atas nama kebebasan individu, anarkisme juga terbuka pada penulis-penulis dan seniman ‘borjuis’ (hal yang tak berlaku dalam Marxisme institusional). Meski sama sengitnya terhadap imperialisme, anarkisme tidak memendam syak wasangka teoritis terhadap paham-paham nasionalis ‘kecil’ dan ‘ahistoris’, termasuk yang berkembang di negeri jajahan.

Dalam kasus Jose Rizal, bisa jadi ia meminjam tradisi cerita bersambung yang antara lain dipelopori oleh Charles Dickens dan Eugene Sue, yang seringkali tujuan utamanya untuk hiburan, untuk merekatkan pembaca terus-menerus ke halaman koran/majalah yang menerbitkannya, dengan suspens dan kejutan dibuat dari episode ke episode; bisa pula ia meminjam bahasa Spanyol, yang merupakan bahasa kolonial yang bahkan tak memiliki akar mendalam di negerinya — mungkin hanya tiga persen yang bisa mempergunakannya di masa itu; tapi novelnya menjadi semacam dinamit dengan daya gebuk, membuatnya ditakuti penguasa kolonial dan para pemimpin gereja (bahkan dalam ketidakberdayaannya), dan memberi api bagi sebangsanya untuk memimpikan kebebasan.

Dengan cara seperti itulah barangkali kita bisa membaca apa pun dengan cara apa pun, bahkan melenceng jauh dari niat-niat di balik bacaan tersebut. Maraknya novel-novel romans yang muncul di tahun 70an, dengan tokoh-tokoh (dan juga penulis perempuan seperti La Rose, Marga T dan lain-lainnya), bahkan dengan sampul-sampul buku yang dipenuhi wajah perempuan, bisa jadi di satu sisi merupakan eksploitasi kapital (dan dunia hiburan) atas perempuan; tapi kenapa tidak dibaca dengan cara yang progresif, katakanlah sebagai momentum bagi wacana untuk merebut ruang-ruang budaya yang bisa jadi sebelumnya didominasi oleh wajah lelaki (sebagai perbandingan, lihat poster-poster para pahlawan di dinding kelas, yang umumnya didominasi wajah lelaki).

Kemunculan berbagai genre seperti cerita silat, horor, pulp fiction, komik banyolan, atau seri seperti Six Balax, juga di era Orde Baru, di satu sisi bisa jadi merupakan upaya untuk meredam dan menjauhkan pembaca dari isu-isu serius macam politik, sejenis eskapisme; tapi dengan cara baca yang anarki, kita bisa menjadikannya politis. Novel-novel horor Abdullah Harahap, misalnya sebagaimana saya dan dua teman, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad, pernah mencoba membaca ulang, bisa dipergunakan untuk membedah relasi urban dan rural, tak semata-mata urusan pesugihan babi ngepet.

Kita mungkin sedikit terpana melihat cara Benedict Anderson menulis atau menyajikan kisah tentang dua figur Filipina ini, tapi dari sana kita merasakan apa yang sudah disinggung dari Emma Goldman di muka, “Anarkisme mewariskan kita kebebasan” untuk melakukan hal ini dengan cara yang unik. Dan terutama sebenarnya bukan semata-mata apa yang ditulis pada sebuah buku, apalagi seringkali apa yang tersedia tak lebih apa yang disediakan oleh para penguasa jejaring perbukuan dan dunia intelektual, tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membaca itu semua. Menarik simpul-simpul baru macam ilmu falak, dan pada saat yang bersamaan, mempergunakannya sebagai dinamit yang enteng dibawa ke mana-mana.

Disampaikan pada Lokakarya BenAR (Benedict Anderson Reader) II di Lembaga Studi Realino (LSR), Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 30 Agustus 2018.