Serigala Berbulu Domba

Tentu kita sering mendengar perumpamaan “serigala berbulu domba”. Itu bukan sekadar orang jahat yang berperilaku manis, tidak juga sekadar niat busuk yang dibungkus kata-kata indah. Terutama, bagi saya, bagaimana muslihat dilakukan melalui penampilan permukaan.

Itu bisa berlaku bagi iklan di televisi yang menjanjikan hal-hal hebat, tapi kenyataannya ia hanya menjual barang ala kadarnya. Bisa juga berlaku untuk politisi yang menjanjikan angin surga di masa kampanye, tapi memberi neraka dunia di waktu menjabat.

Berjanji tak akan melakukan penggusuran? Tak akan mereklamasi pantai? Tunggu sekitar dua tahun setelah menjabat. Perilaku sesungguhnya akan terlihat, menggantikan kata-kata indahnya. Sebagaimana semua berjanji tak akan menjarah uang rakyat, tapi sebagian dari mereka berakhir menggunakan seragam oranye Komisi Pemberantasan Korupsi.

Untuk urusan itu, apa boleh buat, kita memang gampang tertipu. Tak hanya sekali, bahkan bisa berkali-kali. Siapa sih yang tak tertipu oleh penampilan seekor domba? Dengan bulu lebat yang lembut, wajah menggemaskan, dan kita tahu tak akan menjadi predator karena kita tahu mereka hanya memakan rumput?

Mungkinkah kita mencurigai seluruh domba di dunia ini? Masak kita akan menangkap semua domba dan menyibak bulunya satu per satu?

Juga, apakah mungkin mencurigai semua orang yang berperilaku baik? Bagaimana jika skenarionya dibalik: Ada seekor domba yang lahir dengan wajah dan penampilan mirip serigala? Ia akan menjalani hidup sial, saya yakin.

Sebenarnya, siapa yang sedang ditipu oleh muslihat serigala? Kita? Para petani pemilik gerombolan domba? Sesama serigala? Meskipun siapa pun bisa ikut tertipu, tentu saja tujuan paling utama adalah menipu gerombolan domba itu sendiri. Agar serigala bisa masuk ke kerumunan domba, ia harus berperilaku dan berpenampilan sebagai serigala. Hanya dengan cara itulah dengan mudah ia bisa diterima.

Saya jadi ingat satu cerita rakyat dari negeri Tiongkok yang kemudian menjadi film Disney, Mulan. Di masa itu, setiap keluarga dimintai satu orang lelaki untuk maju berperang.

Karena ayahnya sudah tua dan adiknya masih kecil, Mulan maju untuk menggantikan mereka. Selama dua belas tahun dia berperang demi bangsa dan rajanya. Tapi, dia hanya bisa melakukan itu dengan menyamar menjadi lelaki.

Kisah tentang Mulan dan perumpamaan tentang serigala berbulu domba bagi saya memiliki irisan yang menarik. Keduanya mengasumsikan satu hal ini: Jika ingin diterima dengan mudah di satu kelompok, jadilah sebagaimana kelompok itu, meskipun harus berpura-pura. Dalam perilaku maupun dalam wujud. Itu bukan semata-mata soal tipu muslihat kejahatan yang berbungkus kebaikan, tapi juga memiliki sisi lain yang mungkin jarang dibicarakan.

Tentu, sebagai mekanisme pertahanan diri, domba akan berkumpul dengan domba lagi. Paling banter, mereka berkumpul dengan sesama binatang ternak. Mereka hanya percaya kepada sesama domba dan tentu tak percaya kepada binatang predator macam serigala. Bagaimana jika ada domba tapi sialnya berwajah dan berbulu serigala? Tidak, mereka tak akan memercayainya.

Begitu juga Mulan. Dia hanya mungkin diterima karena kenyataan semua prajurit adalah lelaki. Bahkan, dalam kasus Mulan, dia bukanlah orang yang menyamar dengan niat jahat. Meskipun begitu, jika diketahui dia seorang gadis, sudah jelas Mulan akan dikeluarkan.

Dari sini, kita bisa melihat dua sisi perumpamaan itu. Di satu sisi, kita melihat kejahatan yang menyamar dalam tipu muslihat rupa yang baik dan manis. Di sisi lain, ada mekanisme pertahanan diri yang hanya percaya kepada sesama kelompok dan curiga terhadap segala yang berbeda. Apalagi jika tertanam di dalam pikiran, kelompok berbeda dianggap berbahaya.

Kita melihatnya dalam bentuk yang lebih ekstrem, itu menjadi cikal bakal rasialisme. Juga menjadi awal mula dari kelompok-kelompok nasionalis radikal, yang anti-imigran. Termasuk juga prasangka atas dasar orientasi seksual, kelas ekonomi, agama, maupun etnis.

Ada sebuah karakter di novel The Plotters karya Kim Un-su, yang saya rasa menarik untuk melihat fenomena tentang itu. Novel tersebut berkisah tentang pembunuh bayaran, dan si pembunuh bayaran selalu dipasok informasi mengenai target pembunuhannya oleh seseorang dengan nama alias Shadow.

Suatu hari dia ditanya, “Bagaimana kamu bisa menyamar mengumpulkan berbagai informasi tanpa ketahuan?” Jawabannya, kurang lebih, jadilah orang biasa. Sebab, hanya dengan jadi orang biasa, berbaur, kamu tak akan dicurigai. Hanya orang-orang unik, orang yang berpenampilan berbeda, yang menarik perhatian.

Benar, kita harus selalu waspada kepada siapa pun yang tiba-tiba berperilaku dan berwujud seperti kita. Pura-pura kere atau pura-pura religius.

Pada saat yang sama, tentu kita juga harus belajar melihat bahwa dunia tidak sesederhana rupa dan kulit luar. Agar kita tahu serigala berbulu domba tetaplah serigala dan yang berwajah serigala, siapa tahu, hanyalah seekor domba yang manis.

Diterbitkan di Jawa Pos, 15 Juni 2019.