Politik yang Mengancam

Politik kita hari ini memang sangat riuh. Dan terdengar semakin berisik ketika nama Tuhan mulai dibawa-bawa. Sekelompok partai politik diklaim seseorang sebagai partai Tuhan, sedangkan lawannya dianggap partai setan. Selembar bendera menjadi perdebatan sengit karena berisi ikrar keesaan Tuhan. Jangan lupa, bahkan ada orang yang menganggap bencana sebagai azab Tuhan karena perilaku atau pilihan politik.

Dalam skala kecil yang remeh, itu juga terjadi. Tak jauh dari rumah saya di pinggiran Jakarta, pada sebuah tanah kosong di pinggir jalan, berdiri papan pengumuman.

Yang menarik adalah apa yang tertulis di sana, yang sekilas terlihat seperti sebaris doa: “Ya Allah, aku rela mendapat azab dari-Mu jika membuang sampah di sini. Amin YRA.”

Seingat saya, itu bukan satu-satunya pengumuman sejenis. Ada beberapa variasi lain di tempat yang berbeda. Semua diawali dengan “Ya Allah”, dilanjutkan dengan “aku rela masuk neraka” atau “aku rela miskin tujuh turunan”.

Akhirannya, jika bukan “buang sampah sembarangan”, tentu saja “kencing sembarangan”. Kita bisa menemukannya di gang yang gelap, di pinggir kali, atau di halaman rumah kosong.

Jika urusan sampah di lingkungan perumahan -yang seharusnya merupakan pekerjaan ketua RT- saja diserahkan kepada Tuhan, saya rasa tak mengherankan jika untuk hal lain, politik misalnya, Tuhan pun dibawa-bawa. Orang bisa berkilah bahwa Tuhan memang ada di mana-mana dan segala hal ada atas kehendak-Nya. Tetapi, saya kira persoalannya tak semata-mata itu.

Kita bisa belajar banyak dari papan ancaman azab tersebut dengan mencoba membacanya secara lebih teliti. Apa yang tertancap di sana bukan semata-mata sebuah pengumuman. Juga bukan sesederhana sebaris doa aneh. Ada sesuatu yang lebih dari itu, yang tersirat.

Memang pengumuman semacam itu bisa dianggap sebagai unjuk diri bahwa kita manusia religius. Kita manusia yang masih percaya kepada Tuhan, yang mengawasi perilaku kita. Tapi, di baliknya, kita bisa menangkap sejenis rasa frustrasi. Kita bisa membayangkan si pemilik tanah didera ketidakpercayaan pada tingkah laku manusia lain. Ia tak percaya pada kinerja ketua RT, juga para petugas kebersihan.

Bisakah hal itu diterapkan dalam skala yang lebih luas, terhadap jargon-jargon politik? Apakah dengan membawa nama Tuhan juga menunjukkan rasa frustrasi sekelompok orang?

Bisa jadi, meskipun sumber rasa frustrasinya bisa bermacam-macam. Termasuk kemungkinan rasa frustrasi kepada dirinya sendiri. Karena tak mampu mengubah tatanan dunia sebagaimana diharapkan. Maka, sekali lagi, ia mengharapkan sesuatu di luar dirinya.

Satu hal yang paling menarik adalah bagaimana nama Tuhan ini diekspresikan. Jika kembali ke doa aneh tersebut, segera kita merasakan sesuatu yang nyata: sebuah ancaman. Kata-katanya memang tak persis seperti itu, tapi artinya jelas. Jika membuang sampah di sini, kau akan memperoleh azab. Jika kencing sembarangan, kau akan masuk neraka atau miskin tujuh turunan.

Tuhan dihadirkan bukan sebagai pembawa harapan yang menyenangkan, atau sebagai penyelamat untuk segala hal, tapi sebagai penghukum. Lebih lucunya lagi, hukuman Tuhan hadir bukan lagi karena perkara berbuat dosa, tapi karena urusan tata tertib hidup di dunia.

Tiba-tiba saya juga teringat dengan ancaman jenazah yang tak akan disalati jika ia atau keluarganya memilih calon tertentu di pemilihan kepala daerah tahun lalu. Tak ada bedanya, bukan?

Mungkin berlebihan membandingkan situasi dunia politik kita dengan urusan membuang sampah sembarangan. Meskipun begitu, ketika nama Tuhan dilibatkan, baik sebagai upaya untuk menakut-nakuti maupun sebagai sikap melemparkan urusan, manusia menjadi tersingkir. Manusia diasumsikan tak lagi perlu mengurusi urusan sendiri. Atau dianggap tak mampu melakukannya.

Bayangkan jika urusan sampah sungguh-sungguh selesai dengan doa aneh minta diazab. Saya kira masyarakat tak perlu lagi memiliki ketua RT, tak perlu lagi ada dinas kebersihan, dan tak perlu risau dengan segala limbah maupun gerakan daur ulang. Pemerintah Jakarta tak perlu bertengkar dengan masyarakat dan pemerintah Bekasi untuk urusan pembuangan sampah, apalagi sampai mengeluarkan anggaran besar.

Hal yang sama bisa kita terapkan dalam urusan yang lebih luas sebagaimana nama Tuhan dilibatkan dalam jargon-jargon politik. Pejabat pemerintah tak perlu pusing memikirkan bagaimana mengatasi banjir, atau sebaliknya, kemarau berkepanjangan. Ia hanya perlu mengumpulkan orang di stadion dan ramai-ramai berdoa. Gubernur juga hanya perlu menancapkan pengumuman sejenis di tiap-tiap sungai.

Dalam kasus membuang sampah sembarangan di dekat rumah, setiap hari saya masih melihat sampah di sana. Saya tak tahu siapa yang membuangnya, apakah orang tersebut memperoleh azab atau tidak, seketika atau kelak. Yang saya tahu, ancaman itu ternyata tak berguna sama sekali.

Di titik ini, saya mencoba membayangkan pembacaan yang berbeda. Barangkali si pemilik tanah tak benar-benar hendak mengancam, apalagi merendahkan posisi Tuhan hingga pada pengurus sampah.

Ia mungkin tengah mengingatkan kita bahwa kita tak becus mengurus perilaku sendiri. Bahwa kita tak punya malu. Bahwa kita mengaku beragama, tapi moral kita buruk. Papan pengumuman itu sejenis cermin untuk mengolok-olok.

Jika tujuannya seperti itu, rakyat yang frustrasi terhadap kegaduhan para politikus yang membawa nama Tuhan dan agama mungkin bisa membalas. Kita bisa memasang pengumuman di depan istana, misalnya, dengan tulisan: “Ya Allah, aku rela memperoleh azabmu jika tak menyelesaikan pelanggaran HAM di negeri ini.” Dan di depan gedung DPR: “Ya Allah, aku rela miskin tujuh turunan jika tertidur saat sidang.”

Kenapa tidak? Sepertinya itu tak melanggar aturan, bukan? Masak rakyat terus yang diancam dan ditakut-takuti?

Diterbitkan di Jawa Pos, 17 November 2018.