Pertanyaan tentang Manusia, Pengantar untuk Dua Buku S. Rukiyah

“Cinta itu cerita lama,” kata seorang tokoh di novel Kejatuhan dan Hati, S. Rukiyah. Dengan berbagai variasi, ia mengulang hal itu di banyak tempat, meskipun sesekali juga ditambahkan bahwa cinta lama bisa dibuat menjadi cinta yang baru.

Di permukaan, kisah ini tampak sejenis romansa biasa. Tentang cinta yang tak disetujui, cinta yang tak berkembang kemudian menjadi patah hati, cinta yang terlanjur, tanggung jawab, penyesalan, kebohongan dan rasa terombang-ambing. Tapi di balik semua itu, dan inilah kelebihan S. Rukiyah, terdapat berlapis-lapis kisah, pengamatan yang tajam tak hanya hati dan prasangka manusia, tapi juga masalah-masalah sosial.

Pertama-tama kita melihat sejenis arsitektur kekuasaan dalam bentuk sebuah keluarga kecil. Di puncak kekuasaan adalah sang ibu, dan ini jelas keluar dari stereotif tentang ayah-yang-berkuasa. Saya tak melihat ini sebagai indikasi struktur keluarga yang matriarki, karena bagi saya, si ibu di novel ini sesederhana sebuah perlambang mengenai kekuasaan yang tak hanya bengis (marah-marah dan mengatur), tapi juga hegemonik (pikirannya sanggup menerobos memengaruhi anggota keluarga), membuat aneka macam reaksi yang ditimbulkan olehnya.

Dari keluarga kecil inilah, kemudian kita mempelajari berbagai macam watak manusia ketika ia harus dihadapkan dengan kekuasaan. Si ibu jelas sewenang-wenang, dengan ukuran-ukuran nilainya sendiri (dalam hal ini, baik dan benar untuknya diukur dengan segala hal yang bersifat benda dan keduniawian).

Ia memiliki tiga anak perempuan dan masing-masing memiliki reaksinya masing-masing. Yang pertama berdiri di ekstrem yang jauh: memberontak terhadap nilai-nilai si ibu. Ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup sendiri. Ia harus tercerabut, atau dengan kata lain: terbebaskan. Ia berada di luar orbit kekuasaan. Anak kedua, seorang penurut yang memperoleh imbalan melimpah: dipuja dan dijadikan anak kesayangan oleh sang ibu. Ia pewaris sejati nilai-nilai keluarga ini, dan dapat dipastikan yang akan menjadi penerus nilai-nilai tersebut.

Anak bungsu, si narator, ada di tengah-tengah mereka. Terombang-ambing di antara kehendak untuk memberontak dan hasrat untuk takluk dan membuat senang ibunya. Justru si anak inilah yang hidupnya penuh warna: lari dari rumah, bergabung dengan palang merah, ikut dalam pergumulan revolusi, mendengar dan membaca gagasan-gagasan besar, tapi pada saat yang sama terus disiksa oleh perasaan cinta yang puritan, kerinduan kepada perlindungan rumah dan ibu, serta harapan akan sebuah keluarga. Hidupnya merupakan sejenis tragedi, yang di tangan S. Rukiyah tampak tanpa tedeng aling-aling, seperti sengaja dijerumuskan ke sana.

Dan si ayah merupakan sosok lain lagi yang tak kalah menarik, yang saya rasa tak perlu diceritakan lebih jauh di sini.

***

S. Rukiah merupakan salah satu perempuan penulis yang menghasilkan karya dalam berbagai genre sekaligus. Tak hanya novel, ia juga menulis puisi dan cerita pendek, semisal yang diterbitkan dalam Tandus (sajak-sajak dan kisah-kisah).

Seperti dalam novelnya yang di atas, S. Rukiyah tajam melihat nasib-nasib manusia di tengah gelombang sejarah yang bergerak dan berderak. Sementara di sisi lain ia memiliki harapan besar atas sejarah yang tengah bergulung-gulung ini, pada saat yang sama ia juga menaruh simpatinya yang meluap-luap kepada berbagai watak yang harus tergulung.

Watak-wataknya seringkali merupakan sosok-sosok lugu, yang bahkan tak tahu apa itu “raja” atau “presiden”. Juga tak mengerti benar dengan keberadaan kumpeni maupun tentara pendudukan Jepang. Ini bisa dilihat misalnya dalam sosok Mak Esah di cerpen dengan judul yang diambil dari sosok ini, “Mak Esah”. Ia hanyalah seorang perempuan tua, yang hanya tahu soal bagaimana hidup dengan baik dan berbuat baik dengan sesama. Ia percaya, jika ia berbuat baik, Tuhan akan selalu melindunginya. Hubungannya dengan kekuasaan di luar dirinya hanya dimengerti melalui uang bergambar presiden. Demikian lugunya, ia bahkan tetap tak mengerti kenapa rumahnya harus dibakar dan segala yang dimilikinya harus lenyap dalam sekejap.

Hal yang sama bisa dilihat di cerpen “Istri Prajurit”. Siti barangkali lebih berpendidikan daripada Mak Esah. Ia setidaknya pernah pergi sekolah dan bisa menjahit. Meskipun begitu, tetaplah ia hanya buih dari sebuah gelombang dahsyat perubahan masyarakat, yang terombang-ambing ke sana-kemari dan tak tahu kenapa itu terjadi. Bahkan meskipun ia seorang istri seorang prajurit sekalipun.

Apakah mereka merupakan sosok-sosok korban revolusi? Meskipun benar seringkali sosok-sosok dalam novel maupun cerpen S. Rukiyah habis dihajar arus peradaban (dari kolonialisme, pendudukan Jepang, revolusi, hingga perang saudara), ada karakter yang khas dalam sosok-sosok ini. Mereka seperti rumput yang digilas badai dan gelombang. Terayun-ayun ke sana-kemari dengan keluguan dan ketidaktahuan. Tapi pada saat yang sama, mereka tak pernah tercerabut. Tak pernah pula terbawa arus.

Mereka dihajar terus-terusan, tapi liat dan lentur.

Kita masih bisa menemukan hal-hal semacam itu di cerpen-cerpennya yang lain, yang seringkali diselipi dengan komentar-komentar yang tegas tentang keadaan sosial di masa itu. Ejekan tentang demikian banyaknya partai, hingga semua orang mabuk partai (di cerpen “Ceritanya Sesudah Kembali”), atau sindiran seorang perempuan atas prasangka yang membeda-bedakan perempuan dan lelaki (juga di cerpen yang sama).

Kisah-kisah ini, selain merupakan telaah yang tekun atas watak-watak manusia dan hubungannya dengan tali-temali serta karut-sengkarut perkara sosial-politik, bisa juga dilihat sebagai catatan sosial yang pentin dari satu waktu dan satu tempat: utamanya masa-masa sebelum dan setelah revolusi kemerdekaan. Kita tak hanya menengok kembali tatanan sosial, tapi juga jargon-jargon dan alam pikiran manusia Indonesia di masa itu.

***

Hidup?
Adakah hidup bahagia,
jika dipaksa hidup menghamba?

Seperti kutipan dari puisi “Pahlawan”, kisah-kisah ini dan juga puisi-puisinya tak semata-mata sebuah pernyataan, tapi yang terpenting adalah sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan tentang manusia orang per orang, dan pertanyaan tentang manusia sebagai kemanusiaan dan peradaban serta alam pikiran yang menyelimutinya.

Saya tak bisa berpikir lebih banyak lagi kecuali meyakini, melalui karya-karyanya, S. Rukiyah jelas salah satu penulis kita yang terpenting dilihat dari beragam sisi mana pun.

Diterbitkan pertama kali sebagai pengantar untuk dua buku karya S. Rukiyah, Kejatuhan dan Hati dan Tandus (sajak-sajak dan kisah-kisah), diterbitkan oleh Ultimus, 2018.