Karena Tribalisme Tak Dikelola Seutuhnya

Catatan Sepak Bola

Ada apa di balik kebrutalan supoter Persib yang mengeroyok hingga mati seorang suporter Persija bernama Haringga Sirila? Pertama, jelas itu kasus pembunuhan dan harus ditangani sebagai kasus kriminal berat. Kedua, yang membuatnya berbeda dari kasus pembunuhan umumnya, meskipun pembunuhan tetaplah pembunuhan, ada unsur tribalisme yang menyedihkan di sini, dan jelas penanganannya tak bisa dilepaskan dari pokok penting tersebut.

Sepak bola modern memang merupakan wujud baru dari tribalisme, dengan kultus nyaris buta kepada klub dengan segala ritual pemujaannya. Jika sepak bola merupakan agama, stadion sebagai altar tempat pemujaan, maka klub sepak bola merupakan ordo-ordo di mana orang mengelompokkan diri dalam sejenis kesukuan. Sialnya, klub sepak bola kemudian tak hanya menjadi bagian dari ekosistem sepak bola itu sendiri, ordo bagi satu agama, tapi merembet menjadi identitas bahkan di luar persepakbolaan, terutama ketika pranata sosial tradisional mulai hancur perlahan-lahan.

Tengok misalnya Jakmania dan Persija. Orang akan berpikir bahwa Persija merupakan klub sepak bola Jakarta, maka suporternya yang sebagian bergabung atau menggabungkan diri menjadi Jakmania dibayangkan sebagai orang Jakarta pula. Kenyataannya tidak begitu.

Di pinggiran, di wilayah-wilayah yang secara administrasi masuk ke Depok, Bekasi, Tangerang, bahkan Karawang, dengan mudah kita akan menemukan kantong-kantong suporter Jakmania. Siapa mereka? Bisa jadi mereka memang orang-orang Jakarta yang tergusur oleh pembangunan dan harus menetap di luar wilayah Jakarta. Hal ini saya yakin juga berlaku untuk klub sepak bola lain dan suporternya, bahkan termasuk klub sepak bola mancanegara.

Problem terbesar kenapa kasus kebrutalan suporter ini terus-menerus terjadi, saya pikir terletak dalam keengganan mengelola unsur tribalisme ini secara menyeluruh. Kita tahu kebrutalan suporter hingga menewaskan sesama suporter bukan kali ini saja terjadi. Jika harus menyebut, sekelompok suporter Persija juga pernah melakukannya, tapi tentu saja ini tak bisa dijadikan pembenaran atas kasus yang baru terjadi. Pertanyaan pentingnya, kenapa ini terus terjadi dan apa upaya radikal untuk menghentikan kebrutalan ini?

Pada dasarnya naluri tribalisme dalam sepak bola modern sudah banyak diketahui dan bahkan dengan jitu dimanfaatkan. Kelangsungan sepak bola modern sebagai industri rasanya tak akan sebesar ini tanpa kesadaran akan adanya sentimen kesukuan ini. Ikatan yang kuat antara suporter dan klub mereka tak hanya memastikan stadion dipenuhi umat pemuja, tapi juga menjamin penjualan merchandise dan menjadi alasan kuat untuk menarik sponsor.

Dalam sepak bola Indonesia, ikatan-ikatan primordial baru ini bahkan seringkali dianggap sebagai pintu masuk untuk memperoleh dukungan politik. Tak mengherankan jika kepala daerah atau politikus lokal merasa harus mengidentifikasikan diri dengan klub setempat. Bahkan ketua umum PSSI tak mau meletakkan jabatannya meskipun ia terpilih sebagai gubernur.

Industri sepak bola mengeksploitasi sentimen tribalisme ini untuk tujuan-tujuan ekonomi dan politik, tapi gagal mengelola aspek-aspek primitifnya. Kegagalan inilah yang selalu membawa banyak masalah, dari sekadar vandalisme fasilitas stadion, kerusuhan di lapangan, hingga tawuran dan pengeroyokan yang mengakibatkan kematian.

Untuk memahami selintas kecenderungan tribalisme ini, kita bisa menengok sejenak kepada sebuah novel penting yang banyak menjadi rujukan bahkan para ilmuwan. Novel ini memang tak ada hubungannya dengan sepak bola, tapi barangkali bisa membuat kita paham mengenai perilaku suporter. Novel ini berjudul Lord of the Flies, karya William Golding.

Secara singkat novel ini berkisah tentang sekelompok anak yang terdampar di sebuah pulau selepas pesawat mereka jatuh. Terisolir dari mana-mana, mereka secara alamiah membentuk kelompok, kemudian suku. Ada hasrat untuk mengatur diri sendiri, hasrat untuk berkuasa, pada saat yang sama, juga timbul persaingan, rasa cemas akan ditinggalkan, di mana aspek-aspek negatif ini akan berakhir menjadi semua memangsa semua.

Suporter sepak bola bisa dilihat dari kaca mata itu juga. Ada hasrat untuk mengelompokkan diri, tentu terpusat pada satu klub. Di dalam kelompok akan tercipta suatu persaingan antara kelompok-kelompok kecil, siapa lebih berkuasa atas yang lain. Dan pada saat yang sama, jangan lupa keberadaan kelompok lain. Sementara klub mereka bersaing dalam kompetisi yang resmi, kelompok suporter dengan beragam masalah mereka juga berkompetisi satu sama lain, kali ini tanpa wadah yang jelas.

Sifat tribalisme ini seharusnya bisa dikelola dengan memberi ruang bagi kelompok-kelompok suporter sebagai bagian tak terpisahkan dari komunitas persepakbolaan. Suporter seharusnya menjadi bagian dari klub, sehingga ambisi tribalisme bisa disalurkan ke lapangan. Ke dalam pertandingan, melalui klub.

Suporter di Indonesia dalam tingkat tertentu mirip anak-anak di Lord of the Flies. Mereka hidup di alam rimba yang tak ada hukum, tak ada aturan main. Mereka berebut untuk menancapkan panji-panji kelompok, dan pada titik tertentu mengobarkan perang.

Mereka tercampak dari sistem persepakbolaan itu sendiri. Sebagian besar dari mereka tak pernah punya akses terhadap kebijakan-kebijakan klub. Pada saat yang sama, mereka terus dieksploitasi untuk kepentingan klub dan industri sepakbola secara umum. Kompetisi mereka berkobar di luar lapangan. Menjadi kebrutalan.

Lihat bagaimana sikap PSSI, otoritas tertinggi sepak bola, atas kasus ini. Mereka hanya menyampaikan belasungkawa, menyerahkan tragedi ini kepada kepolisian. Seolah PSSI tak punya wewenang apa pun. Padahal jelas, PSSI memiliki otoritas, tapi enggan mempergunakannya. Itu bukti bahwa masalah suporter seolah bukan masalah sepakbola.

Mengelola tribalisme suporter seharusnya merangkul mereka menjadi bagian dari klub, dan dalam hal ini, klub seharusnya ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Dengan kata lain, Persib seharusnya bertanggung jawab atas tragedi ini. Otoritas sepak bola seharusnya punya nyali untuk bertindak, misalnya mendiskualifikasi atau menghukum Persib tidak bertanding selama sekian tahun. Menghukum Persib hanya bertanding tanpa penonton mempertunjukan sikap lembek, mendidik klub untuk tak pernah bertanggung jawab dan merasa tak perlu mengelola suporternya.

Jika suporter bisa kita anggap rakyat, jelas ada keengganan para pemegang otoritas, elit sepak bola, untuk berbagi kuasa dengan mereka.

Kematian Haringga tak hanya tragedi kemanusiaan, tapi juga wujud nyata bahwa suporter hanya dianggap ada untuk dieksploitasi secara ekonomi dan politik. Nyawa mereka hanya berharga beberapa pertandingan tanpa penjualan tiket. Itu membuat tragedi ini lebih memilukan lagi.

Diterbitkan di Jawa Pos, 25 September 2018.