“Get in the Ring”, Sebuah Pengantar

Sebagai pendengar musik alakadarnya dari sebuah kota kecil yang tak memiliki toko kaset besar dan tidak pernah dilewati konser grup band paling papan bawah sekalipun, saya tak pernah terpikirkan ada yang namanya “jurnalisme musik” atau bahkan “kritik musik” sampai saya mendengar lagu “Get in the Ring”.

Itu lagu dari Guns N’ Roses di album Use Your Illusions II, dan isinya penuh dengan caci maki terhadap jurnalis maupun kritikus musik. Lirik lagu itu secara eksplisit menyebut nama-nama mereka: Mick Wall dari Kerrang!, Bob Guiccone Jr. dari Spin, Andy Secher dari Hit Parader. Dari judulnya, kita tahu apa yang mereka inginkan dari jurnalis atau kritikus-kritikus itu: mending kita duel saja di atas ring! Konon, ajakan dari lagu itu disanggupi oleh Bob Guiccone Jr. Sayang duel di atas ring tersebut tak pernah terjadi, mungkin karena mereka sadar Bob Guiccone Jr. pernah berlatih tinju selama sembilan tahun.

Saya bisa mengerti kemarahan Axl, Slash dan Duff pencipta lagu itu. Entah kenapa, di masa itu (saya masih remaja enam belasan tahun ketika album itu muncul) saya lebih bersimpati kepada para rocker daripada para jurnalis musik. Dan dari pengertian semacam itu pula, saya rasa tak akan mengherankan jika ada band atau musisi yang jengkel dan dongkol dengan Nuran Wibisono selepas membaca artikel-artikel di buku Nice Boys Don’t Write Rock N Roll.

Bayangkan saja Mike Tramp sudah repot-repot bikin Remembering White Lion, disebut Nuran “sama sekali tak menarik”. Atau John Frusciante yang dijunjung dengan komentar “cukup menyenangkan untuk disimak”, lalu dibanting dengan “walau tak sampai meninggalkan kesan yang mendalam”. Itu belum seberapa. Collective Soul jelas-jelas disebut sebagai band “medioker”, yang bahkan bikin gerah bininya, yang ternyata penggemar band tersebut. Lebih ngeri lagi komentarnya mengenai boyband atau girlband macam SM*SH yang menurutnya, “tak hanya mempermalukan diri mereka sendiri. Mereka juga turut mempermalukan kawan dan bahkan keluarga mereka sendiri.” (Saya jadi bertanya-tanya apa pendapatnya tentang girlband Korea kesayangan saya: So Nyuh Shi Dae alias SNSD alias Girls’ Generation, ya?)

Membacanya sampai akhir, kita bisa bikin daftar lebih panjang siapa yang pantas mengajak Nuran duel di atas ring.

Ada pepatah lama yang mengatakan pena adalah pedang. Bagi para bintang rock ini, pedang itu jelas bermata dua. Para jurnalis dan kritikus musik seringkali menjadi kawan yang membantu mengangkat mereka ke tangga kepopuleran, di sisi lain bisa juga menjadi pembunuh paling bangsat. Mereka mungkin akan menggerutu, “mentang-mentang bisa nulis, punya pengetahuan ini dan itu, punya akses menerbitkannya di media yang tersebar luas, kalian seenaknya menulis (hal buruk) tentang kami.” Banyak bintang menanggapinya dengan aksi tutup mulut bagi jurnalis, jika mereka sudah sedemikian kesal. Guns N’ Roses menanggapinya dengan cara yang kreatif, menulis lagu, menyanyikannya dan memasukkannya ke salah satu album terlaris di dunia. Lagu itu dan nama-nama jurnalis musik yang dimaki, abadi di sana. 

Tanpa harus berakhir dengan adu jotos.

Bersama berlalunya waktu, sebagai penikmat musik (dalam kasus penulis buku ini, saya juga memiliki kesamaan, penggemar rock n roll dengan berbagai turunannya), saya bisa tumbuh lebih dewasa. Saya tak lagi melihat bintang-bintang rock ini sebagai “idol” (dalam makna yang sebenarnya, berhala), tapi menempatkan mereka pada definisi yang lebih tepat: “si jenius”. Kita bisa berdebat banyak soal kejeniusan ini, dan itulah titik pokoknya. Si jenius bisa diperdebatkan, berhala tidak.

Pergeseran cara pandang ini, atau pendewasaan ini, banyak dibantu oleh bacaan. Dalam hal musik, tentu itu datang dari para jurnalis dan kritikus musik. Sebagai penikmat musik, kita mulai membuat jarak antara kenikmatan mendengar musik dan para jenius di belakangnya, dan saya rasa para bintang rock yang tumbuh dengan sehat, juga akan dibikin dewasa dengan cara yang sama, melalui mereka.

Saya, misalnya, bisa lebih mengerti selepas membaca buku ini, kenapa di akhir masa remaja obsesi saya terhadap musik (secara keseluruhan) tiba-tiba pudar setelah kematian Kurt Cobain. Kalau mau jujur, saya lebih ngefans Guns N’ Roses atau bahkan Pearl Jam daripada Nirvana, meskipun saya juga memiliki seluruh album studio mereka dan terus mendengarkan lagu-lagunya. Lalu Kurt mati. Saya merasa ada yang hilang selepas itu, dan saya kehilangan napsu mendengar musik. Segala jenis musik, seolah hidup saya berakhir.

Tapi dari kematian itulah lama setelahnya hidup sesuatu yang baru. Saya mulai mencoba mendengarkan musik yang berbeda. Saya belajar mendengarkan The Drifters, The Hollies, dan belakangan melebar ke mana-mana: Via Vallen hingga Blackpink. Tapi itu cerita lain.

Hubungan fans dan bintang rock yang awalnya tampak serupa cinta posesif, dengan kehadiran jurnalis maupun kritikus musik, berkembang menjadi cinta segitiga yang dinamis. Kadang jurnalis dan kritikus musik muncul menyuarakan si jenius untuk para pendengar (tentang album Dr. Feelgood, Nuran menulis, “mereka memasukkan kisah hidup ke dalam lagu, energi baru setelah berhasil melewati berbagai drama hidup yang macam rollercoaster, serta kombinasi yang komplit antara citra dan musik.”), lain kali ia bicara persis seperti apa yang ingin diteriakkan para pendengar kepada para bintang (“Konsistensi memang penting, Bung. Apalagi jika kamu adalah seorang musisi,” tulis Nuran untuk Ahmad Dhani). Tapi yang menarik adalah ketika mereka hadir dengan suara tak terduga, mengganggu hubungan yang seolah-olah baik-baik saja. Ia membenturkan para pendengar musik dengan pendengar musik lain, atau para jenius dengan jenius lain.

Nuran jelas melakukannya:

“Yang membuat saya menilai album Appetite for Destruction itu lebih unggul ketimbang Nevermind adalah kerja band secara keseluruhan. Appetite for Destruction digarap dengan cara keroyokan. Semua anggota band punya andil pada setiap lagu. Sedangkan Nevermind, nyaris semua lagunya ditulis oleh Kurt Cobain. Dari fakta ini saja jelas Guns N’ Roses lebih unggul sebagai sebuah grup band, ketimbang Nirvana yang nyaris seperti one man show.”

Lalu mengenai Sting dan The Police:

“Album itu menunjukkan ‘cinta­belum­kelar’ Sting pada musik jazz,” tulis Nuran, tapi, “Terlepas dari pencapaian artistik yang tampak lebih baik, kita tak bisa memungkiri bahwa Sting sebagai musisi solo belum bisa menandingi dirinya sendiri ketika masih bersama The Police.”

Jurnalisme dan kritik musik adalah “ring tinju” yang sebenarnya, di mana kemarahan, gagasan, keputusasaan, harapan, dan segala tetek-bengek tentang musik berjumpa. Terutama di masa sekarang, ketika musik yang mengejutkan (juga yang paling sampah) bisa ditemukan berdampingan di belantara Youtube, di mana mendengarkan lagu baru semata-mata mengikuti rekomendasi Spotify, perbincangan ini menjadi jauh lebih perlu. Dunia tentu terus berubah, trend dan bahkan cara para jenius musik memperoleh uang dari pekerjaan mereka juga berubah, tapi satu hal tetap sama: kita senang bercerita, dan kita butuh seseorang menceritakan kepada kita, termasuk tentang musik.

2019

Tulisan ini diterbitkan pertama kali sebagai pengantar untuk buku Nice Boys Don’t Write Rock N Roll karya Nuran Wibisono.