20 Catatan Tentang Kesusastraan di Asia Tenggara

  1. Mari kita bicara secara langsung saja: masalah terbesar dari kesusastraan di Asia Tenggara ini adalah, kita tidak membaca satu sama lain. Orang Indonesia tak membaca novel-novel dari Thailand, orang Malaysia tak membicarakan kesusastraan Filipina, sebagaimana orang Vietnam tak tahu banyak kesusastraan Singapura.
  2. Beberapa tahun lalu, saya memang pernah membaca novel Jose Rizal yang terkenal, The Social Cancer. Belum lama saya juga membaca cerita-cerita pendek Prabda Yoon, penulis Thailand. Atau, bisa jadi Anda menemukan novel-novel Pramoedya Ananta Toer di toko buku bandara di Kuala Lumpur dan membacanya. Bukankah itu membuktikan bahwa kita membaca satu sama lain?
  3. Dalam skala kecil, bisa jadi benar. Tapi, jika kita melihatnya lebih seksama, kita akan tahu penulis-penulis tersebut dibaca di kawasan ini, terutama karena ketersediaan karya-karya mereka dalam terjemahan bahasa Inggris. Karya-karya mereka tersedia melalui jaringan toko-toko buku impor dan penerbit-penerbit di New York maupun London.
  4. Memang kita tak bisa mengelak dengan fakta sederhana bahwa bahasa Inggris tak hanya merupakan bahasa komunikasi dunia saat ini, tapi juga bahasa kesusastraan secara global. Sebagian besar orang hanya mengenal kesusastraan asing melalui bahasa tersebut, sebagaimana kesusastraan dunia dibentuk oleh selera para penerbit dan pembaca berbahasa Inggris.
  5. Dengan kata lain, kawasan Asia Tenggara merupakan wilayah yang terasing satu sama lain, setidaknya jika kita menganggap kesusastraan merupakan jiwa suatu bangsa. Saya mungkin hanya memerlukan penerbangan kurang dari lima jam dari Jakarta ke Manila, akan tetapi, novel-novel saya memerlukan perjalanan yang jauh lebih panjang untuk bisa dibaca di sini, dalam bahasa yang bukan bahasa ibu penulis maupun pembacanya.
  6. Belum lama ini saya datang menghadiri sebuah festival sastra di Yogyakarta dan bertemu dengan banyak penulis. Mereka dengan fasih bisa bicara tentang karya-karya kesusastraan global. Dari penulis klasik semacam Dostoyevsky atau Kafka, hingga penulis kontemporer semacam Haruki Murakami atau Neil Gaiman. Saya yakin percakapan sejenis bisa didengar di komunitas-komunitas penulis di Manila, Kuala Lumpur, Bangkok maupun Hanoi.
  7. Tentu saja mereka juga akrab dan dengan bersemangat bicara tentang para penulis Indonesia lainnya, yang lama maupun baru. Sebagaimana para penulis Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan lainnya bisa bicara tentang kesusastraan dan para penulis mereka sendiri. Sekali lagi, tanpa kemampuan untuk membaca kesusastraan satu sama lain.
  8. Di sini, kita terjerumus dalam dua keadaan yang tak terelakkan. Pertama, saya sering menyebutnya sebagai inses kebudayaan. Kita hanya membaca di antara sesama penulis di dalam wilayah kebudayaan yang sama. Seperti perkawinan sedarah, perkawinan di dalam satu kebudayaan hanya akan menciptakan generasi-generasi yang secara kultur mengalami kemunduran.
  9. Kedua, jika kita berusaha keluar dari perkawinan sedarah semacam itu, kita terpaksa mengkonsumsi bacaan global yang juga telah dibudidayakan dalam satu kultur tunggal: yakni kultur pembaca berbahasa Inggris. Kebudayaan semacam apa yang bisa diharapkan dari tradisi membaca yang seragam, dari London hingga Yogyakarta, dari Buenos Aeros hingga Manila?
  10. Kita, setidaknya kesusastraan Indonesia yang saya kenal, dan barangkali keadaannya sama saja di negara-negara Asia Tenggara lainnya, justru semakin mengekalkan keadaan semacam itu secara sadar. Kita berlomba menerjemahkan karya-karya terbaik kita ke bahasa-bahasa Eropa, tapi seringkali lupa memperkenalkan diri ke tetangga-tetangga terdekat kita.
  11. Gagasan tentang komunitas negara-negara di Asia Tenggara sangat menarik perhatian saya. Barangkali berbeda dengan kawasan-kawasan lainnya di dunia, wilayah ini merupakan peleburan berbagai kebudayaan yang sangat dinamis, menciptakan suatu wajah kebudayaan yang begitu beraneka warna, sekaligus memberi tantangan yang luar-biasa menantang.
  12. Pengaruh-pengaruh yang datang dari jauh bertumpang-tindih di sini. Agama membawa pengaruh China, India, Arab, hingga Eropa. Kolonialisme membawa pengaruh bahasa Spanyol, Portugis, Inggris, Perancis, Belanda. Perdagangan dan campur-aduk itu semua membangun budaya kuliner yang beraneka-pula.
  13. Secara geografi, tak terelakkan Asia Tenggara memang merupakan tempat perjumpaan berbagai tradisi. Seperti busa, kita merupakan wilayah yang sangat mudah menerima pengaruh-pengaruh tersebut, kemudian membentuknya atau menciptakannya kembali menjadi sesuatu yang bisa kita klaim sebagai milik kita sendiri.
  14. Sialnya, peleburan itu menciptakan tak hanya sebuah wilayah dengan keanekaragaman yang mengagumkan, tetapi juga membuatnya terasing satu sama lain. Asia Tenggara terpisahkan oleh agama-agama mayoritas yang dianut masing-masing penduduknya. Asia Tenggara terpisahkan oleh sejarah kolonialisme yang berbeda satu sama lain. Dan dalam problem kesusastraan, Asia Tenggara juga terpisahkan oleh bahasa-bahasa nasional yang berbeda satu sama lain, dan tak dimengerti satu sama lain.
  15. Asia Tenggara, bisa dikatakan merupakan wilayah yang selama berabad-abad tumbuh dengan kemampuan menyerap berbagai pengaruh asing, yang datang dari jauh. Akan tetapi, pada saat yang sama, gagap terhadap tetangga-tetangga dekatnya. Kita dipersamakan oleh banyak hal, sekaligus terpisahkan oleh dinding-dinding tebal yang kokoh.
  16. Bahasa merupakan tantangan terbesar dalam usaha agar kita bisa saling membaca satu sama lain. Bahkan antara Indonesia dan Malaysia, yang memiliki akar bahasa yang sama, masih terdapat jurang lebar antara pembaca dan karya sastra dari kedua negara tersebut. Bahasa, yang pada dasarnya menghubungkan satu manusia dengan manusia lain, malahan telah menjadi pagar pembatas.
  17. Kesusastraan seharusnya bisa menjadi alat pembobol pagar-pagar pembatas. Alih-alih menunggu sebuah novel dalam bahasa Tagalog atau Melayu diterjemahkan ke bahasa Inggris dan dijual di toko buku bandara, kenapa komunitas-komunitas kesusastraan kita tak mulai menerjemahkan karya-karya satu sama lain, di antara negara-negara Asia Tenggara sendiri?
  18. Negara-negara di Amerika Latin barangkali beruntung, mereka dipersatukan oleh bahasa kolonial mereka, Spanyol dan Portugis, yang memungkinkan kesusastraan dan solidaritas di antara mereka terbentuk. Hal yang sama barangkali terjadi di Afrika. Meskipun mereka memiliki begitu banyak bahasa, pada akhirnya terhubungkan oleh bahasa kolonial Inggris dan Perancis.
  19. Di Timur-Tengah, dengan berbagai konflik politik di antara mereka, setidaknya kebudayaan dan kesusastraan mereka dipersatukan oleh bahasa Arab, memanjang dari Maroko hingga Oman. Demikian pula di Eropa, mereka terbentuk oleh blok-blok bahasa yang berkerabat dekat, yang memungkinkan mereka saling membaca satu sama lain.
  20. Asia Tenggara tak harus disatukan oleh bahasa yang sama. Kita hanya memerlukan jembatan-jembatan yang menghubungkan aneka warna komunitas ini. Kita bisa memiliki jembatan kultural berupa kesusastraan, yang diterjemahkan dan dibaca satu sama lain. Sebab hanya dengan cara itulah kita terbebas dari komodifikasi kesusastraan global yang homogen, sekaligus ketertutupan kesusastraan nasional kita sendiri.
Catatan ini disampaikan sebagai pidato kunci pada Kongres PEN Internasional, Manila, 3 Oktober 2019.