Gerilya Kota

13247710_10209719686818055_3387223266413939847_o

Catatan: Terima kasih kepada Ronny Agustinus, yang menemukan cerpen saya yang “hilang”. Judul cerpen ini “Gerilya Kota”, saya tulis November 1999, dan diterbitkan di bulan yang sama oleh Terompet Rakyat milik Taring Padi.

PS. Sebelum lupa, pada pertengahan 2013 Agus Noor mengirim saya surel berisi cerpen dia berjudul “Matinya Seorang Demonstran”. Pengantar surel antara lain berbunyi: Ini cerpen yang aku tulis berdasarkan ingatan pada cerpenmu “Gerilyawan Kota” (dia sedikit salah menyebut judul). Cerpen itu mempergunakan nama “Eka” sebagai tokoh. Justru karena surel Agus yang membuat saya teringat punya cerpen ini, dan saya harus berterima kasih pula kepadanya.





11 thoughts on “Gerilya Kota

    • @fandi:
      Dalam kasus ektrem, kalimat yang tidak memberi informasi. Dalam kasus saya, lebih ke kalimat yang tidak memberi informasi dengan tepat. Misalnya ada kalimat yang menyebut “pagar hidup”, yang maksudnya tentu ke tanaman pembatas/pagar, tapi bisa disalahpahami dalam konteks lain. Saya memperbaikinya. Ada juga yang subyeknya tertukar (Seno x Samiran), barangkali karena penulisnya waktu itu kurang tidur :-)

    • @Darul Azis
      “Matinya Seorang Demonstran”? Ada. Agus ngasih lihat saya cerpen itu sebelum dimuat dengan kata-kata, “Ini cerpen yang aku tulis berdasarkan ingatan pada cerpenmu ‘Gerilyawan Kota’ (sedikit salah menyebut judul.” Gaya dia meledek saya, hahaha.

  1. Saya menemukan alur yang lugas dan mengalir dalam cerpen ini. Tentu saya mengharapkan lebih dahsyat seperti dalam novel-novelnya Mas Eka. Sungguh luar biasa dan saya adalah penikmat yang setia. Syalom Mas Eka…salam kasih dari Flores, NTT.

  2. Mas Eka, apakah kata-kata seperti “Asu” tak dilarang pada masa cerpen ini dimuat? Bagaimana perasaan Mas Eka saat itu ketika mengetahui cerpen “penuh kritikan” ini terbit?

  3. kadang hidup selucu itu, bahkan situasi bisa menciptakan kesalah-pahaman.
    eh jadi seno itu juga seorang mahasiswa hukum ya?
    soalnya dari percakapan ini seno seperti menilai hehehe
    “Kalian bertarung melawan tembok tebal, Bung,” kata Seno. “Sebagai mahasiswa, yang katanya kaum intelek, bukankah ada cara yang lebih santun? Belajar, kemudian merumuskan konsep-konsep perubahan untuk diajukan ke pemerintah.”

    Samiran lagi tersenyum. “Sudah tiga puluh dua tahun kita melakukan itu, Bung, dan hasilnya nol besar. Karena itu, sekarang kita harus berani mengambil keputusan untuk turun ke jalan.”

Comments are closed.