Lelaki Harimau (Review #2)

Oleh: H Tanzil, bukuygkubaca.blogspot.com

Eka Kurniawan adalah penulis muda berbakat dimana novel pertamanya Cantik Itu Luka (2002) banyak mendapat sambutan positif dari para pengamat sastra Indonesia. Seolah ingin mengokohkan dirinya sebagai novelis, kali ini Eka Kurniawan melahirkan novel terbarunya yang berjudul Lelaki Harimau. Berbeda dengan Cantik Itu Luka yang mengusung gaya realisme magis, novel Lelaki Harimau ini ditulis dengan gaya realisme. Katrin Bandel seorang pengamat Sastra Indonesia dari Universitas Hamburg dalam salah satu ulasannya mengatakan “mungkin novel ini dapat dikatakan sebgai novel psikologis karena kekuatan novel ini terletak pada kekayaan dan ketepatan deskripsi pengalaman, pikiran, dan perasaan para tokoh utamanya yang membuat tingkah laku mereka menjadi meyakinkan secara psikologis.”

Novel ini dibuat dengan alur cerita secara flash back, dimulai dari terdengarnya berita matinya Anwar Sadat di tangan Margio secara keji yaitu dengan mengigit leher Anwar Sadat hingga nyaris putus seperti harimau membunuh mangsanya. Ketika Margio ditangkap karena perbuatannya itu ia mengelak bahwa bukan dirinya yang membunuh melainkan harimau yang ada di dalam tubuhnyalah yang melakukan perbuatan keji tersebut. Margio merasa dirinya dikuasai oleh harimau jadi-jadian yang merupakan warisan dari kakeknya.

Perlahan-lahan motif pembunuhan ini akan terkuak dan baru benar-benar jelas terbuka pada kalimat akhir novel ini. Dalam novel ini pembaca juga diajak mengenal latar belakang keluarga Margio jauh sebelum Margio dilahirkan. Margio dilahirkan dari sebuah keluarga yang tidak bahagia, ayahnya (Komar) senantiasa bertindak kasar terhadap ibunya (Nuraeni) bahkan anak-anaknyapun tidak luput dari perlakuan kasarnya. Lambat laun Margio membenci ayahnya dan diam-diam berniat untuk membunuhnya, namun hal ini urung dilakukan karena Komar terburu mati dalam tidurnya karena sakit. Sebelum Komar mati, tidak tahan dengan perlakuan kasar suaminya, Nuraeni berselingkuh dengan Anwar Sadat majikannya hingga akhirnya Nuraeni hamil dan melahirkan seorang anak yang akhirnya meninggal sebelum sempat diberi nama. Tahu ibunya mencintai Anwar Sadat dan hanya memperoleh kebahagian darinya, Margio pergi menemui Anwar Sadat dan menyatakan bahwa ibunya sangat mencintainya. Namun tanpa diduga jawaban dari Anwar Sadat sangat menyakitkan Margio sehingga membuat dirinya terpukul hingga akhirnya ia membunuh Anwar Sadat.

Walau novel ini tidak setebal dan sekompleks novel pertamanya, semua tokoh dalam cerita tragis ini diungkapkan oleh Eka Kurniawan dengan menarik dan penuh simpati , pembaca diajak untuk menyelami dan mengamati perasaan, pikiran dan perkembangan psikologis para tokoh-tokohnya sehingga novel ini menjadi menarik untuk dibaca. Tidak berlebihan jika Katrin Bandel menyebutnya sebagai novel psikologis.

Novel ini dibuat dengan alur cerita secara flash back, dimulai dari terdengarnya berita matinya Anwar Sadat di tangan Margio secara keji yaitu dengan mengigit leher Anwar Sadat hingga nyaris putus seperti harimau membunuh mangsanya. Ketika Margio ditangkap karena perbuatannya itu ia mengelak bahwa bukan dirinya yang membunuh melainkan harimau yang ada di dalam tubuhnyalah yang melakukan perbuatan keji tersebut. Margio merasa dirinya dikuasai oleh harimau jadi-jadian yang merupakan warisan dari kakeknya.

Perlahan-lahan motif pembunuhan ini akan terkuak dan baru benar-benar jelas terbuka pada kalimat akhir novel ini. Dalam novel ini pembaca juga diajak mengenal latar belakang keluarga Margio jauh sebelum Margio dilahirkan. Margio dilahirkan dari sebuah keluarga yang tidak bahagia, ayahnya (Komar) senantiasa bertindak kasar terhadap ibunya (Nuraeni) bahkan anak-anaknyapun tidak luput dari perlakuan kasarnya. Lambat laun Margio membenci ayahnya dan diam-diam berniat untuk membunuhnya, namun hal ini urung dilakukan karena Komar terburu mati dalam tidurnya karena sakit. Sebelum Komar mati, tidak tahan dengan perlakuan kasar suaminya, Nuraeni berselingkuh dengan Anwar Sadat majikannya hingga akhirnya Nuraeni hamil dan melahirkan seorang anak yang akhirnya meninggal sebelum sempat diberi nama. Tahu ibunya mencintai Anwar Sadat dan hanya memperoleh kebahagian darinya, Margio pergi menemui Anwar Sadat dan menyatakan bahwa ibunya sangat mencintainya. Namun tanpa diduga jawaban dari Anwar Sadat sangat menyakitkan Margio sehingga membuat dirinya terpukul hingga akhirnya ia membunuh Anwar Sadat.

Capaian Eksperimentasi Novel Lelaki Harimau

Oleh: Maman S. Mahayana, Suara Pembaruan

Setelah sukses dengan Cantik itu Luka (Yogyakarta: AKY, 2002; Jakarta Gramedia, 2004) yang memancing berbagai tanggapan, kini Eka Kurniawan menghadirkan kembali karyanya, Lelaki Harimau (Gramedia, 2004; 192 halaman). Sebuah novel yang juga masih memendam semangat eksperimentasi. Berbeda dengan Cantik itu Luka yang mengandalkan kekuatan narasi yang seperti lepas kendali dan deras menerjang apa saja, Lelaki Harimau memperlihatkan penguasaan diri narator yang dingin terkendali, penuh pertimbangan dan kehati-hatian.

Pemanfaatan -atau lebih tepat eksplorasi-setiap kata dan kalimat tampak begitu cermat dalam usahanya merangkai setiap peristiwa. Eka seperti hendak menunjukkan dirinya sebagai “eksperimentalis” yang sukses bukan lantaran faktor kebetulan. Ada kesungguhan yang luar biasa dalam menata setiap peristiwa dan kemudian mengelindankannya menjadi struktur cerita. Di balik itu, tampak pula adanya semacam kekhawatiran untuk tidak melakukan kelalaian yang tidak perlu. Di sinilah Lelaki Harimau menunjukkan jati dirinya sebagai sebuah novel yang tidak sekadar mengandalkan kemampuan bercerita, tetapi juga semangat eksploratif yang mungkin dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sarana komunikasi kesastraan. Ia lalu menyelusupkannya ke dalam segenap unsur intrinsik novel bersangkutan.

***

Mencermati perkembangan kepengarangan Eka Kurniawan, kekuatan narasi itu sesungguhnya sudah tampak dalam Coret-Coret di Toilet (Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia, 2000), sebuah antologi cerpen yang mengusung berbagai tema. Dalam antologi itu, Eka terkesan bercerita lepas-ringan, meski di dalamnya banyak kisah tentang konteks sosial zamannya. Di sana, ia tampak masih mencari bentuk. Belakangan, cerpennya “Bau Busuk” (Jurnal Cerpen, No. 1, 2002) cukup mengagetkan dengan eksperimentasinya. Dengan hanya mengandalkan sebuah alinea dan 21 kalimat, Eka bercerita tentang sebuah tragedi pembantaian yang terjadi di negeri entah-berantah (Halimunda). Di negeri itu, mayat tak beda dengan sampah. Pembantaian bisa jadi berita penting, bisa juga tak penting, sebab esok akan diganti berita lain atau hilang begitu saja, seperti yang terjadi di negeri ini.

Meski narasi yang meminimalisasi kalimat itu, sebelumnya pernah dilakukan Mangunwijaya dalam Durga Umayi (Jakarta: Grafiti, 1991) yang hanya menggunakan 280 kalimat untuk novel setebal 185 halaman, Eka dalam Lelaki Harimau seperti menemukan caranya sendiri yang lebih cair. Di sana, ada semacam kompromi antara semangat eksperimentasi dengan hasratnya untuk tidak terlalu memberi beban berat bagi pembaca. Maka, rangkaian kalimat panjang yang melelahkan itu, diolah dalam kemasan yang lain sebagai alat untuk membangun peristiwa. Wujudlah rangkai peristiwa dalam kalimat-kalimat yang tidak menjalar jauh berkepanjangan ke sana ke mari, tetapi cukup dengan penghadiran dua sampai empat peristiwa berikut berbagai macam latarnya.

Cara ini ternyata cukup efektif. Lelaki Harimau, di satu pihak berhasil membangun setiap peristiwa melalui rangkaian kalimat yang juga sudah berperistiwa, dan di lain pihak, ia tak kehilangan pesona narasinya yang mengalir dan berkelak-kelok. Dengan begitu, kalimat-kalimat itu sendiri sesungguhnya sudah dapat berdiri sebagai peristiwa. Cermati saja sebagian besar rangkai kalimat dalam novel itu. Di sana -sejak awal- kita akan menjumpai lebih dari dua-tiga peristiwa yang seperti sengaja dihadirkan untuk membangun suasanan peristiwa itu sendiri.

Tentu saja, cara ini bukan tanpa risiko. Rangkaian peristiwa yang membangun alur cerita, jadinya terasa agak lambat. Ia juga boleh jadi akan mendatangkan masalah bagi pembaca yang tak biasa menikmati kalimat panjang. Oleh karena itu, berhadapan dengan novel model ini, kita (: pembaca) mesti memulainya tanpa prasangka dan menghindar dari jejalan pikiran yang berpretensi pada sejumlah horison harapan. Bukankah banyak pula novel kanon yang peristiwa-peristiwa awalnya dibangun melalui narasi yang lambat? Jadi, apa yang dilakukan Eka sesungguhnya sudah sangat lazim dilakukan para novelis besar.

***

Secara tematik, Lelaki Harimau tidaklah mengusung tema besar, pemikiran filsafat, atau fakta historis. Ia berkisah tentang kehidupan masyarakat di sebuah desa kecil. Dalam komunitas itu, hubungan antarsesama, interaksi antarwarga, bisa begitu akrab, bahkan sangat akrab, hingga terjadi perselingkuhan. Margio yang tahu ibunya berselingkuh dengan Anwar Sadat, meminta agar lelaki itu mengawini ibunya. “Kawinlah dengan ibuku, ia akan bahagia.” (hlm. 192). Anwar Sadat tentu saja menolak, karena ia sesungguhnya tidak mencintai perempuan selingkuhannya itu. Saat itulah, harimau di tubuh Margio keluar, “Putih serupa angsa” menggigit leher Anwar Sadat hingga putus. Peristiwa pembunuhan inilah yang menjadi titik berangkat dan sekaligus titik akhir novel ini.

Perhatikan kalimat pertama yang mengawali kisahan novel ini. “Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana.” (hlm.1). Peristiwa apa yang melatarbelakangi pembunuhan itu dan bagaimana duduk perkaranya? Jawabannya terungkap justru pada bagian akhir novel ini. Jadi, peristiwa di bagian awal, sebenarnya kelanjutan dari peristiwa yang terjadi di bagian akhir saat Margio meminta Anwar Sadat untuk mengawini ibunya (hlm. 192).

Itulah salah satu keunikan novel ini. Dan Eka melanjutkan kalimat pertama itu tidak pada peristiwa pembunuhan yang dilakukan Margio, tetapi pada diri tokoh Kyai Jahro. Mulailah ia berkisah tentang kyai itu. Lalu, dari sana muncul pula tokoh Mayor Sadrah. Ia pun bercerita tentang tokoh itu. Begitulah, pencerita seperti sengaja tidak membiarkan dirinya berdiri terpaku pada satu titik. Ia menyoroti satu tokoh dan kemudian secara perlahan beralih ke tokoh lain. Di antara rangkaian peristiwa yang dibangun dan dihidupkan oleh setiap tokohnya, menyelusup pula mitos tentang manusia harimau, potret bersahaja masyarakat pinggiran, dan keakraban kehidupan mereka. Sebuah pesona yang disampaikan lewat narasi yang rancak yang seperti menyihir pembaca untuk terus mengikuti kelak-kelok peristiwa yang dihadirkannya.

Dalam hal itu, kedudukan pencerita seperti sebuah kamera yang terus bergerak merayap dari satu tokoh ke tokoh lain, dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Akibatnya, peristiwa yang dihadirkan di awal: Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, … seperti timbul-tenggelam mengikuti pergerakan tokoh-tokohnya. Seperti seseorang yang masuk sebuah lorong berbentuk spiral. Ia terus menggelinding perlahan mengikuti ke mana pun arah lorong itu menuju. Dan ketika muncul di permukaan, ia sadar bahwa ternyata ia masih berada di tempat semula; di seputar ketika ia mulai masuk lorong itu.

***

Dalam konteks perjalanan novel Indonesia, pola alur seperti itu pernah digunakan Achdiat Karta Mihardja dalam Atheis (1949), meski dihadirkan untuk membingkai biografi tokoh Hasan. Putu Wijaya dalam Stasiun membangunnya untuk mengeksplorasi pikiran-pikiran si tokoh. Tetapi, dalam Dag-Dig-Dug, Putu Wijaya menggunakannya agak lain. Akhir cerita yang seperti mengulangi kembali peristiwa awal, dirangkaikan lewat dialog-dialog antartokoh mengingat karya itu berupa naskah drama. Iwan Simatupang dalam Kering dan Kooong, menutup peristiwa akhir dengan mengembalikan kesadaran si tokoh sebagai akibat yang terjadi pada peristiwa awal. Tampak di sini, bahwa pola spiral sesungguhnya bukanlah hal yang baru sama sekali.

Meski begitu, Lelaki Harimau, dilihat dari sudut itu, tetap saja menghadirkan kekhasannya sendiri. Selain pola alur yang demikian, Eka menggunakan kalimat-kalimat itu sebagai pintu masuk menghadirkan rangkaian peristiwa. Dengan demikian kalimat tidak hanya bertindak sebagai fondasi bagi pencerita untuk membangun peristiwa, juga sebagai pilar penyangga bagi peralihan peristiwa satu ke peristiwa lain melalui pergantian fokus cerita (focus of narration) dari tokoh yang satu ke tokoh yang lain. Dalam hal ini, Lelaki Harimau telah menunjukkan keunikannya sendiri.

Hal lain yang juga ditampilkan Eka dalam novel ini menyangkut cara bertuturnya yang agak janggal, tetapi benar secara semantis. Ia banyak menghadirkan metafora yang terasa agak aneh, tetapi tidak menyalahi makna semantisnya. Kadangkala muncul di sana-sini pola kalimat yang mengingatkan kita pada style penulis Melayu Tionghoa. Di bagian lain, berhamburan pula analogi atau idiom yang tak lazim, tetapi justru terasa segar sebagai sebuah usaha melakukan eksplorasi bahasa. Dalam hal ini, bahasa Indonesia dalam novel ini jadi terasa sangat kaya dengan ungkapan, idiom, metafora, dan analogy.

***

Dalam beberapa hal, Lelaki Harimau harus diakui, berhasil memperlihatkan sejumlah capaian. Ia menjelma tak sekadar mengandalkan imajinasi, tetapi juga bertumpu lewat proses berpikir dan tindak eksploratif kalimat dengan berbagai kemungkinannya. Maka, peristiwa perselingkuhan Nuraeni-Anwar Sadat pun, terasa sebagai kisah yang eksotis (hlm. 133-142); prosesi penguburan Komar bin Syueb, ayah Margio (hlm. 168-171), menjadi kisah yang di sana-sini menghadirkan kelucuan. Eka seperti sengaja memporakporandakan struktur kalimat yang klise, dan sekaligus menyodorkan pola yang terasa lebih segar, agak janggal dan terkadang lucu. Lelaki Harimau, tak pelak lagi, tampil sebagai novel dengan kategori: cerdas!

Tulisan ini pernah dimuat di Suara Pembaruan, 14/11/2004.

Lelaki Harimau (Review)

Oleh: Katrin Bandel, Kompas

Dengan novelnya yang pertama, Cantik Itu Luka (2002), Eka Kurniawan menimbulkan kontroversi yang cukup seru. Mungkin penerbitan ulang novel tersebut oleh Gramedia dapat dipahami sebagai tanda bahwa novel yang banyak dikritik itu akhirnya bisa diterima. Pada waktu yang sama, Gramedia juga menerbitkan novel Eka yang kedua, Lelaki Harimau (2004).

Lelaki Harimau cukup jauh berbeda dari Cantik Itu Luka. Kalau Cantik Itu Luka saya sebut novel realis-magis (lihat: “Pascakolonialitas dalam Novel Cantik itu Luka”, mejabudaya September 2003), Lelaki Harimau tak dapat dikategorikan demikian. Meskipun dalam Lelaki Harimau ada unsur “magis”, yaitu adanya makhluk berupa harimau jadi-jadian dalam tubuh Margio, sang tokoh utama, novel ini menggunakan gaya realis, mungkin bahkan dapat disebut novel psikologis. Kekuatan novel ini terletak terutama pada kekayaan dan ketepatan deskripsi pengalaman, pikiran, dan perasaan para tokoh utama yang membuat tingkah laku mereka menjadi meyakinkan secara psikologis. Kalau novel pertamanya dianggap aneh dan “tak bermakna” oleh Maman S Mahayana, antara lain karena alur cerita dan kelakuan tokoh-tokohnya “tidak masuk akal”, dengan terbitnya Lelaki Harimau terbukti secara gamblang bahwa Eka bukannya tidak mampu mengarang dengan alur yang realis dan masuk akal secara psikologis. Hanya, dalam Cantik Itu Luka memang bukan gaya penulisan ini yang menjadi pilihannya.

Membaca Lelaki Harimau, saya teringat pada novel Belenggu karya Armijn Pane (1940). Meskipun setting kedua novel sangat berbeda, ada sebuah kesamaan, yaitu cara perselingkuhan dilukiskan. Perselingkuhan Sukartono dalam Belenggu maupun perselingkuhan Nuraeni dalam Lelaki Harimau diceritakan tanpa penilaian moral atas perbuatan tersebut, melainkan lebih berfokus kepada situasi dan keadaan batin para tokoh.

Pada zamannya, Belenggu dianggap skandal dan menimbulkan penolakan yang cukup keras dari berbagai pihak. Tentu saja pada zaman sekarang, bercerita tentang perselingkuhan tanpa menekankan nilai moral tidak lagi merupakan skandal, malah hal itu dapat dikatakan biasa-biasa saja dalam sebuah karya sastra. Bahkan, akhir-akhir ini-kira-kira sejak terbitnya Saman karya Ayu Utami pada tahun 1998-terdapat semacam kecenderungan untuk dengan eksesif mendobrak semua tabu dan nilai moral (terutama yang berhubungan dengan seksualitas) yang sampai sekarang tetap dianggap berlaku dalam masyarakat Indonesia. Hal itu biasanya dilakukan dengan nada “memberontak” dan seakan-akan para pengarangnya dengan sengaja mencari-cari tema dan cara penyampaian yang dapat mengejutkan atau “menantang” para pembacanya. Keinginan serupa untuk dengan sengaja menimbulkan skandal terasa antara lain pada novel Dinar Rahayu yang diberi judul provokatif Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (2002) dan pada novel Herlinatiens Garis Tepi Seorang Lesbian (2003) yang bahkan diberi sticker “Khusus Bacaan Dewasa”.

Dalam novel Lelaki Harimau pun seksualitas cukup berperan, tetapi jauh berbeda dari novel-novel yang saya sebut di atas. Hubungan seks yang diceritakan adalah seks yang penuh kekerasan antara kedua orang tua si tokoh utama, Komar dan Nuraeni, dan hubungan perselingkuhan Nuraeni dengan Anwar Sadat. Dengan realistis Eka menceritakan bagaimana Nuraeni, perempuan setengah tua yang terus-menerus menerima perlakuan kasar dari suaminya, untuk pertama kali merasakan kenikmatan seksual dalam perselingkuhan tersebut. Meskipun bagi masyarakat kampung tempat cerita berlangsung perselingkuhan semacam itu merupakan “dosa” atau “skandal”, Eka berhasil menceritakannya sedemikian rupa hingga pembaca dapat merasakannya sebagai sesuatu yang sudah wajar terjadi. Persetubuhan mereka dilukiskan dengan sangat rinci, tetapi sama sekali tidak menimbulkan kesan “mesum” atau “norak”.

Novel Lelaki Harimau menceritakan kisah tragis sebuah keluarga yang tidak bahagia: pasangan Komar dan Nuraeni tidak pernah akur, Komar mengasari istri dan anaknya, anak-anak membenci ayahnya. Nuraeni akhirnya berselingkuh dengan majikannya, Anwar Sadat. Margio, anak Komar dan Nuraeni, membunuh Anwar Sadat saat dia mengetahui bahwa laki-laki hidung belang tersebut tidak mencintai ibunya. Jelas terjadi banyak kejahatan dan kekejaman dalam novel ini. Tetapi, pembaca akan sulit menentukan siapa di antara para tokoh yang sesungguhnya bersalah: Komar yang berbuat kasar, Margio yang membunuh, atau Nuraeni dan Anwar Sadat yang berselingkuh.

Sementara, di sisi lain, Komar berusaha membahagiakan istrinya, tetapi Nuraeni sepertinya sudah memutuskan untuk menolak setiap usaha semacam itu. Sikap kasarnya makin menjadi-jadi karena keputusasaannya dalam usaha memenangkan hati istrinya tersebut. Sedangkan Nuraeni pun tak dapat sepenuhnya disalahkan, dia sangat menderita karena kekasaran Komar, wajarlah dia merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat diperlakukan dengan mesra oleh Anwar Sadat. Keadaan Margio pun dapat dipahami: bagaimana anak yang selalu membela ibunya itu tak akan mengamuk saat mendengar ibunya diremehkan laki- laki yang membuatnya demikian bahagia? Di samping itu, menurut pengakuan Margio bukan dia yang melakukan pembunuhan itu, tetapi harimau warisan dari kakeknya yang ada dalam dirinya.

Lebih jauh lagi, segala kehancuran perkawinan Komar dan Nuraeni itu ternyata berawal dari sebuah kesalahpahaman sepele pada saat mereka masih pacaran, yaitu Komar tidak menepati janjinya untuk mengirimi Nuraeni surat hingga Nuraeni merasa tidak diperhatikan dan tidak dicintainya. Padahal, Komar bukan melupakan janjinya, hanya dia tak tahu apa yang mesti ditulisnya!

Semua tokoh yang terlibat dalam cerita tragis tersebut dilukiskan penuh simpati, perbuatan dan perasaan mereka dapat dipahami. Berbeda dari banyak novel Indonesia yang lain, di sini tak ada tokoh yang jahat ataupun keadaan buruk tertentu yang dapat diidentifikasikan sebagai asal-usul segala bencana. Tampaknya semuanya terjadi begitu saja, disebabkan bukan oleh persoalan-persoalan besar, seperti kemiskinan, kekurangan cinta, dan lain sebagainya, tetapi malah oleh hal yang begitu sepele: seandainya Komar muda menulis surat-surat cinta penuh omong kosong seperti para pemuda lain, kisah Komar dan Nuraeni pasti akan menjadi sangat berbeda.

Meskipun dapat dikategorikan sebagai novel psikologis, toh kelakuan para tokoh Lelaki Harimau tidak dapat sepenuhnya dipahami atau dijelaskan secara ilmu psikologi. Terutama tokoh Margio yang tetap penuh misteri. Margio memang mempunyai alasan untuk membenci Anwar Sadat, tetapi hal itu tidak dapat dengan sepenuhnya menjelaskan mengapa dia sampai melakukan pembunuhan yang luar biasa kejam dan mengerikan, yaitu menggigit leher Anwar Sadat sampai putus. Juga, mengapa anak muda yang selalu berhasil menahan nafsu membunuh ayahnya sendiri yang sangat dibencinya tiba-tiba tidak dapat mengontrol diri lagi pada saat berhadapan dengan Anwar Sadat.

Di sini, mitos yang memberi judul pada novel ini mengambil peranan: Margio merasa dikuasai oleh harimau jadi-jadian dalam tubuhnya yang membuatnya mampu dan tega membunuh dengan cara yang luar biasa tersebut. Seperti yang dikatakan Eka sendiri pada acara peluncuran novelnya di Universitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 16 Juli 2004 lalu, hal itu dapat dipahami sebagai metafor ataupun sebagai kejadian yang mungkin saja terjadi secara nyata. Artinya, bahwa ada harimau dalam diri tokoh Lelaki Harimau dapat dibaca sebagai ungkapan metaforis betapa ada unsur buas dan tak terduga dalam diri setiap manusia, atau dapat juga dibaca sebagai kejadian supranatural. Dengan cara itu, meskipun novel ini menitikberatkan perkembangan psikologis para tokoh, psikologi sekaligus diragukan sebagai cara yang tepat dan memadai untuk memahami manusia. Dalam hal ini, tetap saja ada unsur-unsur yang tak terpahami, entah berasal dari kedalaman batin manusia yang tak terselami atau dari kekuatan-kekuatan supranatural yang keberadaannya tidak diakui oleh psikologi sebagai ilmu Barat.

Deskripsi perkembangan psikologis para tokoh Lelaki Harimau membuat kita menyadari betapa nilai-nilai moral yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari ternyata terlalu sederhana, tak memadai untuk menilai kehidupan manusia yang penuh liku-liku. Misalnya, bagaimana mungkin perselingkuhan Nuraeni akan kita nilai sebagai “dosa” atau kesalahan, padahal mungkin kemesraan dalam perselingkuhan itulah satu- satunya kebahagiaan yang dialami perempuan malang itu dalam hidupnya? Plot yang menunjukkan rumitnya hubungan manusia semacam inilah, menurut saya, merupakan pendobrakan nilai-nilai moral yang sesungguhnya. Karena dapat membuat pembaca mempertanyakan nilai-nilai yang ada dan membuatnya sadar betapa hidup ini tak sehitam-putih yang dibayangkan.

Tulisan ini pernah dimuat di Kompas, 31/10/2004.

Dua Novel Pembunuh Bapak

Oleh: Aquarini Priyatna Prabasmoro, Koran Tempo

Dua novel Eka Kurniawan Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004) telah saya baca sambil mengingat Freud dengan cerita terkenalnya yang dinamai psikoanalisis. Untuk menjadi diri sejati, demikian kata Freud dalam cerita itu, seorang anak harus melepaskan diri dari ibunya, dari tubuh ibunya. Seorang anak laki-laki yang menjatuhkan objek cinta pertamanya pada ibunya harus melepaskan ibunya karena takut bersaing dengan bapaknya yang mengancam akan memenggal penisnya. Dalam cerita ini, jika kemudian si anak tumbuh normal, dia akan mencari dan mendapatkan perempuan pengganti ibunya.

Anak perempuan juga harus melepaskan diri dari ibunya, hanya saja cerita yang harus dijalaninya berbeda: ia menghormati aturan ibunya, dan mencinta ibunya, tapi kemudian melihat ibunya sebagai pesaing dalam cintanya terhadap bapaknya sambil tetap merasa takut akan ibunya. Dan ketika ia tumbuh “normal”, ia mencari laki-laki pengganti bapaknya sambil terus menoleh ke ibunya untuk memastikan keterpisahannya dengan ibunya sambil merindu hubungan asalinya dengan sang ibu. Dalam psikoanalisis, keterpisahan dengan ibu menjadi penanda bahwa ia telah menjadi subjek.

***

Dewi Ayu dalam Cantik itu Luka menempati semacam singgasana sendiri di negeri bernama Halimunda, bersama seorang preman yang menguasainya dan seorang Shodancho yang sempat menginginkannya. Kedua lelaki itu kemudian menjadi menantunya. Dewi Ayu memperoleh penghargaan sendiri, paling tidak dari narator yang tampaknya memihak kepadanya.

Dalam Feminist Critism in the Wilderness, Elaine Showalter menulis bahwa penulisan yang sungguh-sungguh berempati terhadap perempuan hanya dapat dilakukan perempuan karena adanya pengalaman spesifik perempuan yang tak dialami laki-laki. Dengan demikian, menurut Showalter, teks “perempuan” atau “tentang perempuan” juga hanya dapat dilakukan secara sungguh-sungguh oleh perempuan. Tetapi Cantik itu Luka menampakkan bahwa Eka mampu melahirkan teks perempuan tanpa membuat perempuan dalam dunianya tampil sebagai laki-laki dalam bngkus perempuan.

Beberapa feminis sendiri mempunyai kegamangan dalam menempatkan pelacur dan pelacuran. Beberapa bersikeras bahwa pelacuran harus dihapus karena itu merupakan bentuk opresi terhadap perempuan. Kelompok feminis lain melihat pelacuran sebagai fakta sosial yang tak terhindari selama perempuan tak mempunyai sesuatu di luar tubuhnya yang dapat digunakannya sebagai “nilai tukar” untuk kelangsungan hidupnya.

Feminisme Marxis, misalnya, menempatkan pelacur dan istri dalam posisi yang sama: sebagai pekerja seksual, yang menawarkan pelayanan seksual sebagai penukar untuk sebentuk imbalan atau kenyamanan ekonomi. Bedanya pelacur menjual pelayanannya secara eceran kepada setiap lelaki sementara istri menjualnya secara borongan kepada satu laki-laki. Pada posisi istri, perempuan mengharapkan imbalan lain berupa posisi sosial di masyarakat yang kekuasaannya ada di genggaman laki-laki. Untuk itu, istri dituntut memberikan pelayanan sosial dalam bentuk kerja domestik, yang tak dituntut dari para pelacur, yang memang tak mengharapkan imbalan posisi sosial.

Dengan demikian, seks hanyalah komoditas, Suatu alat tukar ekonomi belaka karena seperti dikatakan Dewi Ayu, “Pelacur itu penjaja seks komersial, sementara seorang istri menjajakan seks secara sukarela. Masalahnya aku tak suka bercinta tanpa dibayar” (128). Dengan ekonomi seks seperti ini, keluarga juga tak lain daripada lembaga ekonomi, yang didirikan atas transaksi seksual laki-laki dan perempuan, yang produk dari transaksi itu memastikan adanya mekanisme penyambung hak milik keluarga, yaitu keluarga laki-laki. Bagi feminisme Marxis, hubungan suami istri tidaklah berbeda dari hubungan tuan-budak, majikan-buruh.

Keluarga “normal” itu sendiri dilawan dalam Cantik itu Luka sejak awal. Inses yang dipandang rendah dalam kehidupan masyarakat justru ditampilkan sebagai cinta yang agung. Maka menikahlah Henri Stamler dan Aneu Stamler, dan dari keduanya lahirlah Dewi Ayu, perempuan tiga-perempat bule yang sangat cantik. Dewi Ayu kemudian menikahi Ma Gedik yang seharusnya menjadi suami dari neneknya sendiri.

Dan kesemrawutan ikatan seksual/keluarga itu semakin menjadi-jadi karena profesi Dewi Ayu. Ia berhubungan dengan Maman Gendeng yang sempat berperan sebagai “bapak” bagi keluarganya, yang hanya terdiri dari ibu dan tiga anak perempuan. “Bapak” ini kemudian dialihkan kepada putri bungsunya, yang kemudian harus mengubah pola relasinya dari anak-bapak, jadi istri-suami.

Tetapi karena perkawinan ini tidak melibatkan transaksi seksual, yaitu karena usia Maya Dewi yang masih dua belas tahun, Maman Gendeng kembali ke tubuh sang mertua dalam percintaan yang dahsyat. Kata Maman, “Ia begitu mungil untuk dicelakai, begitu tanpa dosa untuk disentuh. Aku ingin meniduri mertuaku sendiri.” Dan setelah itu Dewi Ayu menjawab, “Kau benar-benar menantu celaka,” keduanya pun bercinta sampai pagi.

Kesemrawutan lain adalah Shodancho yang juga sempat menikmati tubuh Dewi Ayu, akhirnya kawin dengan Alamanda, putri pertama Dewi Ayu, yang sesungguhnya mencinta Kamerad Kliwon, yang kemudian menikahi Adinda, adik Alamanda. Hubungan Shodancho dengan Alamanda jauh dari normal. Alamanda mengunci selangkangannya dengan kerangkeng besi yang hanya dapat dibuka dengan mantera dan kunci yang dijaganya baik-baik. Ketika lengah, Alamanda diperkosa suaminya sendiri. Kehamilan dari du kali perkosaan yang diterimanya menghilang ketika waktu melahirkan tiba. Kamerad Kliwon juga sempat bercinta dengan Alamanda sebelum keesokan harinya gantung diri karena malu. Inses lain adalah antara Krisan, anak Adinda, dengan Si Cantik, yang sesungguhnya adalah bibinya sendiri.

Dalam kompleks Oedipus di dunia ini, setiap perempuan akhirnya disatukan lagi setelah satu demi satu “bapak” dimatikan. Setelah penisnya dipenggal, sang Shodancho kehilangan kewarasannya, dan akhirnya ia mati di tangan ajak yang pernah jadi sahabatnya. Maman Gendeng “naik ke langit”, meninggalkan tubuhnya diwujudi Romeo. Krisan juga mati ketika melakukan inses dengan Si Cantik, bibinya. Pemakaman Krisan menandai kembali ikatan perempuan, kembali ke yang asali. Keempat perempuan itu “saling mencintai satu sama lain, dan berbahagia dengan cinta tersebut” (510). Cantik itu Luka mengembalikan perempuan ke masa sebelum masuknya hukum bapak, ketika cinta ibu dan anak perempuannya tak terhalang oleh seorang bapak, oleh hukum-hukumnya yang memisahkan antara perempuan yang elok-rupa dan yang buruk-rupa.

***

Dalam Lelaki Harimau, Margio bukan hanya jatuh cinta pada ibunya sendiri, namun juga menghargai kegilaan ibunya, dan mengerti kesakitan ibunya yang sering dipukuli bapaknya. Takut penisnya akan dipenggal, ia membiarkan kekerasan itu terjadi di depan matanya. Seperti Oedipus, ia juga berhasrat menghabisi bapaknya, tapi ia sadar bahwa bapaknya, Komar bin Syueb, adalah tiang keluarga yang “tak peduli betapa keripos dan limbungnya tiang itu, serta oleng dan sumber badai yang mestinya merobohkan dirinya sendiri” (56). Tiang itu tidak roboh dengan sendirinya. Patok-patok kekuasaan bapaknya terlalu kuat untuk roboh sendiri, bahkan ketika ia keropos.

Meski demikian, hasrat membunuh bapaknya terus terpelihara sejalan dengan kekerasan yang terus dilakukan si bapak terhadap ibunya. Hasrat itu ditekannya justru karena rasa cinta pada ibunya, “Rasa cinta yang tak kepalang pada ibu dan adiknyalah, barangkali, yang telah menahannya dari kemarahan memaharaja” (56). Dan lebih dari itu, di luar sadarnya, ia tetap memimpikan bahwa keluarga yang “normal” akan menjelma justru dengan kehadiran dengan ayah, ibu, dan anak-anak. Mematikan bapaknya berarti meniadakan potensi mewujudkan keluarga normal, yang senormalnya memang ada, paling tidak dalam cerita Freud itu. Hal itu menyakitkan karena ia harus merepresi tidak saja hasrat untuk memiliki ibunya, tapi juga hasrat membunuh bapaknya, sambil terus bermimpi bahwa jika ia berhasil meresepsi kedua hasrat, ia akan diganjar kebahagiaan sebuah keluarga normal, “dan sepanjang hidupnya, usaha yang lebih membuatnya menderita adalah upaya meredam kehendak itu, didorong harapan udik bahwa segalanya akan baik dengan sendirinya …” (56). Harapan udik ataukah arkaik?

Margio memang tak langsung membunuh Komar bin Syueb, tapi penolakannya atas permohonan maaf Komar atas kematian Marian, adik tiri Margio, telah menjadikan si bapak seonggok “rongsokan daging, yang tak akan memuaskan nafsu si hahak pemakan bangkai sekalipun “ (67). Margio menghilang dan kepergian ini membuat bapaknya mati pelan-pelan. Kematian ini baru disadari Margio kemudian. Untuk sementara Margio dapat memiliki ibunya. Ia tiang bagi ibu dan adik perempuannya, bahkan bagi Marian yang mati kala bayi.

Dengan matinya Komar, Margio disatukan lagi dengan ibu dan adik perempuannya. Tapi hasrat arkaik untuk memiliki keluarga “normal” atau mungkin hasrat untuk membahagiakan ibunya membuat ia merepresi hasrat sendiri untuk memiliki ibunya dan membawanya kepada hasrat untuk memberi pasangan lain bagi ibunya. Ia datang pada Anwar Sadat, laki-laki yang diketahuinya telah berhasil menimbulkan kebahagiaan luar biasa bagi ibunya. Ia menganggap laki-laki itu memang sungguh-sungguh mencintai ibunya. Ia pun bersusah payah meminta Anwar Sadat menikahi ibunya. Di luar dugaannya, Margio menerima jawaban yang luar biasa menyakitkan, yang merendahkan dirinya dan terlebih ibunya yang direduksi jadi “pelacur” gratisan. Hasrat untuk membunuh ayah yang dipendamnya sejak awal pun menerobos keluar tanpa dapat dikendalikan, seperti sebuah kelahiran.

Sejalan dengan kehamilan ibunya, Margio tahu ia juga telah hamil. Janinnya adalah seekor harimau putih “serupa angsa” yang dipanggilnya “kakek”. Seperti janin manusia, janin dalam tubuh Margio juga dapat merasakan kemarahan-kemarahan “sang ibu”. Hasrat membunuh Komar yang dulu muncul ditenangkannya dengan pergi dari sumber kemarahannya. Pada upacara pemakaman Komar, janin Margio menggeliat lagi, dan ia menenangkan janinnya, “berbisik lirih, lihat, lelaki itu telah mati, istirahatlah” (168 ). Dan janin besar yang bersemayam dalam tubuhnya pun kembali tenang hingga hingga kelahirannya yang tak dapat dibendung itu tiba: kontraksinya dipicu, baru belakangan pembaca tahu, oleh kata-kata kasar Anwar Sadat, “Tidak mungkin, kau lihat aku ada istri dan anak … Lahipula aku tak mencintai ibumu” (192).

Sekali lagi, sang Oedipus berhasil membunuh ayahnya dan menyatukan kembali ikatan arkaiknya dengan ibu dan saudara perempuannya. Ketiganya tidak lagi terpisahkan oleh laki-laki paternal. Ketiganya menjadi keluarga yang melawan bentuk keluarga “normal” sebagaimana digariskan dalam psikoanalisis Freud.

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo, 29/8/2004. Versi lengkap makalah dalam bentuk pdf bisa diunduh di Scribd atau di situs Unpad.

Denting Gelas Copycat, Membaca Lelaki Harimau

Oleh: Nuruddin Asyhadie, Media Indonesia

Kehidupan sastra adalah kehidupan tiruan, denting gelas para copycat. Sejarah sastra sendiri tersaji sebagai sejarah mutasi tak bertepi. Adakah kisah lain di luar Ramayana dan Mahabharata? Karya seagung Illiad Homerus pun lahir dan menyusu pada dua maha epos tersebut; Alenka adalah purwarupa Troya, demikian pula relasi Shinta dengan Helena, Atalas (Syiwa) dengan Atlas, pertarungan Indra vs Writa dengan pergulatan Zeus vs Typhon atau Herkules vs Kakkus. Siapa pula yang bisa menjamin bahwa Mahabharata dan Ramayana bukan sebuah salinan dari kisah-kisah lain yang muncul sebelum 600 tahun SM?

Lalu apakah dengan begitu tak ada lagi yang bisa dipertaruhkan? Ya, jika pertaruhan di sana dimaknai secara leavisistik, pendefinisian dan penangkaran keunggulan-keunggulan, keutamaan-keutamaan estetis, dalam sebuah proyek kebudayaan dengan “K” kapital. Tidak, jika pertaruhan tersebut adalah pencarian perbedaan-perbedaan yang melampaui oposisi-oposisi baik/buruk, benar/salah, alfa/omega. Pencarian seperti itu semata-mata menyangkut keunikan dan perbedaan operasi tekstual. Memandang tulisan sebagai permainan perbedaan dan penundaan (differance) atau pencarian kemungkinan-kemungkinan, ketidakpastian-ketidakpastian, yang muncul dari ledakan teks yang mencari tanda dan strukturnya sendiri. Itulah satu-satunya peluang yang kita miliki di tengah keremangan nekrokultura, ketika semua hal termasuk sastra, membiru di anjung museum-museum, dalam pendingin almari es-almari es dan menguapkan hawa daba formalin.

Memasuki lanskap Lelaki Harimau, novela Eka Kurniawan yang terbit tahun ini, kita seakan berada di tengah simpang siur dan tumpang tindihnya bahasa-bahasa Byron, Kafka, Virginia Woolf, Edgar Alan Poe, Faulkner, Marquez, hingga Morrison, tanpa suatu keinginan untuk mensintesiskannya, mengejek, bahkan menjadikannya sebagai tekstur, hanya seperti membuat sesuatu dari materi apapun yang yang ada, bricolage, interstyle. Novela ini adalah seni pastiche, meminjam idiom Jameson, penggunaan topeng bahasa, pengungkapan dalam bahasa mati.

Apakah bahasa mati itu? Bahasa yang mati bukan hanya bahasa yang tak lagi digunakan, baik secara oral maupun tulisan, tetapi adalah bahasa yang keras hati yang sibuk mengagumi paralysisnya sendiri, kelumpuhannya sendiri. Sebagai bahasa statis, ia disensor dan menyensor. Zalim, kejam, bengis dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Tak memiliki hasrat atau tujuan-tujuan selain memelihara gerak bebas dalam narsisisme narkotiknya, eksklusivitas dan dominansinya.

Lihatlah narative hook yang dipergunakan dalam pembukaan novela ini: Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya…. (hal. 1).

Selanjutnya, kita disodori sejarah kolam tersebut panjang lebar, biografi kedatangan Kyai Jahro di tempat itu, serta inisiasi tokoh Mayor Sadra, sementara pembunuhan itu menguap entah ke mana, hingga kedatangan Ma Soma, yang memberitahukan bahwa Margio telah membunuh Anwar Sadat, bukan untuk memberi penekanan pada arti penting peristiwa itu, namun agar Kyai Jahro bergegas memimpin salat jenazah (hal.3), yang juga bisa dibaca sebagai pelucutan peristiwa pembunuhan itu. Secara inkonsisten bukan Kyai Jahro yang akhirnya memimpin “upacara” ini, tetapi Mayor Sadrah.

“Demi Tuhan,” kata Mayor Sadrah…..”Tadi siang aku melihatnya menenteng samurai bangka berkarat sisa perang. Anak celaka, kuharap ia tak mengambilnya selepas kurampas benda celaka itu.” (hal. 3)

Pengalpaan yang mengambil bentuk digresi yang dipamerkan pada narrative hook di atas adalah sebentuk sensor terhadap hasrat-hasrat zoon logon ekhon, pengalihan balita dari benda-benda yang menggelitik hatinya. Taktik itu muncul berulang sepanjang kisahan ini, yang pada porsinya yang lebih besar adalah penyimpangan cerita novela ini dari tema lelaki harimau, harimau, atau keharimauan, yang tak tandas dieksplorasi baik sebagai sesuatu yang analog maupun metaforik. Sebagai penggerak roda cerita, harimau atau keharimauan itu tampak tak bergigi, ia tak memiliki kekuatan yang mencekam seluruh teks novela ini, kecuali Bab Dua, itupun timbul tenggelam seperti kemarahan Margio pada Komar bin Syueb, dipotong oleh kisah-kisah lainnya, dan akhirnya dikebiri bulat-bulat oleh minggatnya Margio dari rumah, dari kampung.

Jikapun di penghujung novela, harimau itu muncul kembali, keluar dari tubuh Margio, menerjang dan menggigit urat leher Anwar Sadat. Sebuah afirmasi terhadap pengakuan Margio bahwa bukan dia yang membunuh “babi penjamah lahan orang” yang telah meniduri Nuraeni, ibunya, tetapi harimau dalam tubuhnya. Afirmasi yang ditujukan untuk memberi garis penghubung dalam keterceraiberaian kisahan ini, namun semua itu palsu. Garis tersebut adalah memori lisut akan stabilitas, unitas, harmoni, yang coba ditanamkan ke dalam rajutan ini. Apakah harimau itu bergerak dengan sendirinya? muncul ke permukaan atas kehendaknya sendiri?

Tergagap Anwar Sadat menggeleng, dan dengan kata terpatah ia bergumam. “Tidak mungkin, kau lihat aku ada istri dan anak.” Tatapan itu jelas mencela gagasan konyol Margio, Dan kalimat selanjutnya memberi penjelasan yang melimpah, “Lagi pula aku tak mencintai ibumu.”

Itulah kala harimau di dalam tubuhnya keluar. Putih serupa angsa. (hal. 192)

Kalimat ini begitu jelas. harimau atau pembunuhan itu digerakan oleh gumaman Anwar Sadat. Oleh kata-kata Don Yuan lokal tersebut: “Lagi pula aku tak mencintai ibumu.” Kata itulah yang menciptakan kejahatan Margio atau si harimau, yang menghukum kemaniakan Anwar Sadat. Kata yang terpatah, yang meremang sebab tak lebih dari gumam, yang kehilangan suaranya, nuansanya. Bahasa mati. Bahasa yang sama dengan yang digunakan dalam penulisan novela ini.

Bukan sang harimau yang berperan sebagai arsip tuan K. dalam The Castle Kafka yang merepresentasikan dunia ide Platonis, di mana K. atau manusia atau apapun di dunia adalah bayang-bayang darinya. Sama dengan Margio, harimau itu adalah bayang-bayang, anak wayang yang digerakan oleh sesuatu di luar dirinya. Bukankah itu makna dari kulitnya yang putih serupa angsa?

Betapapun, bahasa yang mati bukannya tanpa efek apapun. Ia secara aktif merintangi dan menghalangi intelek, mematikan kesadaran dan menekan potensi-potensi manusia. Tak dapat dipertanyakan, tak dapat membentuk atau sabar menghadapi ide-ide baru, tak mampu membentuk pikiran-pikiran anyar, menyuarakan perbedaan, mengisi kesunyian-kesunyian tak terkira.

Itulah sebabnya tokoh-tokoh dalam Lelaki Harimau bukan tokoh-tokoh bulat (round characters), tetapi murni pipih (flat characters), Mereka tak memiliki kesadarannya sendiri, pikiran dan gagasannya sendiri. Jangankan demikian, sebuah pribadi, “manusia dalam manusia” yang final pun tak Novela ini ditulis bukan hanya dalam sudut pandang orang ketiga, tetapi dalam suatu aesthetic distance, yang tak menyisahkan sesudutpun ruang bagi einfühlung, empati. Tak ada eksositisme. Semuanya disampaikan sebagai that has been dan tak membuka kemungkinan bagi sudden awakening, sebab memang tak ada apapun di sana, tak ada monolog, apalagi dialog.

Teks Lelaki Harimau telah melukai kita. Tidak dengan totalitarianisme atau theologi kekuasaan pengarang, tetapi dengan rasa sunyi. Hampa abadi. Bahasa mati itu tak dijalan dalam gaya menyerang yang meneror kita di bawah pemeriksaan Stalinis untuk mengidentifikasi sebuah dakwaan absurd, melihat kejahatan kita sendiri, dan selanjutnya membuat pengakuan publik bahwa kita adalah makhluk yang cengeng, narsisisus, nostalgis. Sebaliknya ia dipraktekan dalam pertahanan grendel Italia dan menyerang balik dengan menunjuk justru kitalah yang berbuat demikian. Kitalah yang bersikap Stalinis dengan bersama-sama Mayor Sadra berusaha mencari motif rahasia, dibalik kegamblangan itu, realitas yang terlalu real, denotasi, analogon. Meremasnya dengan cara apapun agar menjadi bermakna, mengasyikan, losta masta!

Posisi itu, sertamerta mengingatkan saya pada dongeng Toni Morrison dalam nobel lecture-nya pada tahun 1993. Beberapa anak muda bertandang ke gubuk seorang nenek buta bijaksana. Anak-anak itu beritikad untuk menyangkal keterusmataannya, membuka kedok sang nabi. Rencana mereka sederhana belaka: bersama-sama mereka ngluruk ke rumah perempuan itu dan mengajukan sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab oleh seorang buta: “Nini, adakah burung yang kami bawa hidup atau mati?” Nenek itu tak menjawab. Mereka mengulang pertanyaan itu. Mulut tua itu tetap tak bergeming. Ia adalah nenek buta dan tak dapat melihat tetamunya, apalagi yang ada di tangan mereka. Satu-satunya yang ia pahami lewat pertanyaan itu adalah motif mereka. Lama diam itu menggantung. Hingga akhirnya nenek buta itu bersuara, “Maaf, Nini tidak tahu apakah burung itu hidup atau mati, Nini hanya tahu bahwa ia ada di tangan kalian. Di tangan kalian.” Sang nenek lantas menegur dan menasehati gerombolan itu bahwa mereka tak hanya bertanggung jawab atas penghinaan yang telah mereka lakukan, tetapi juga nasib hewan mungil yang mereka pergunakan dalam mencapai maksud mereka

Dengan memandang burung itu sebagai bahasa dan sang nenek adalah pengarang, Toni Morrison mengajak kita melihat bahwa bahasa, meski di satu sisi bisa dipandang sebagai sistem, di sisi lain lagi bisa pula dicerna sebagai organisme tertentu yang tak dapat dikendalikan, namun mula pertama ia adalah instrumen, agen, atau tindakan dengan berbagai konsekuensinya. Maka kemudian hidup-mati bahasa bergantung pada yang berkuasa, sebagaimana burung di tangan anak-anak itu.

Persoalannya, mengapa sang nenek musti risau akan nasib sang burung? jika bahasa mati, lalu kenapa? Pernahkah ia benar-benar hidup, pernahkah kita benar-benar hidup? Tidakkah kita sedang menipu diri kita sendiri? Memanipulasi diri kita sendiri?

Barangkali itulah yang digugatkan novela ini, seraya mencemooh kamanungsan kita: “Sisiphus, sampean memang goblok!”

Tulisan ini pernah diterbitkan di Media Indonesia, 29/8/2004 , dengan judul Bahasa Mati “Lelaki Harimau”.