“Bercinta dengan Barbie” dalam Kacamata Feminis

Oleh: Melissa, kritikfeminis2005.blogdrive.com

Cerpen “Bercinta dengan Barbie” adalah sebuah karya dari penulis bernama Eka Kurniawan yang terdapat dalam buku berjudul Gelak Sedih yang merupakan kumpulan hasil karyanya.

Judulnya yang begitu menarik, yaitu “Bercinta dengan Barbie”, begitu menggugah rasa ingin tahu ceritanya. Dari ceritanya yang sama menariknya dengan judulnya, kita bisa menemukan beberapa faktor yang mencolok mengenai hubungan antara suami dengan istri, laki-laki dan perempuan, pria dan wanita. Meskipun ide utama cerita ini kemungkinan tidak khusus mengarah pada masalah gender, tapi kita masih bisa mendapatkan gambaran tentang keresahan seorang istri, perempuan, wanita, dalam menghadapi suami, atau laki-laki dan pria, dalam melakukan hubungan sosial dengan mereka. Melalui beberapa unsur yang terdapat dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini, saya akan mencoba menganalisanya melalui sudut pandang para feminis.

Unsur pertama yang paling mencolok dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini sudah jelas adalah tokoh “Barbie” itu sendiri. Barbie, seperti yang kita ketahui, adalah sosok boneka perempuan yang berwujud—baik di mata kaum Adam ataupun Hawa—sangat sempurna. Mulai dari rambut sampai ke ujung kaki Barbie merupakan sosok dambaan semua lelaki dan terkadang membuat iri kaum perempuan.

Dalam cerita pendek ini Barbie tersebut disihir oleh seorang pria agar menjadi seorang manusia biasa, dengan alasan si pria sudah sangat putus asa dengan sosok istrinya yang—untuk ukuran kebanyakan laki-laki—sangat tidak memuaskan. Kejadian ini banyak ditemukan dalam kehidupan nyata, dimana seorang perempuan diharuskan untuk memiliki tubuh sesensual boneka Barbie dan wajah seayu wajah boneka tersebut, baru mereka bisa memenuhi syarat untuk bisa memuaskan setiap laki-laki. Apabila mereka tidak memenuhi persyaratan itu, maka mereka kemungkinan besar akan ditinggalkan oleh para laki-laki yang—menurut cerita dalam cerpen ini—akan mencari perempuan lain dengan penampilan serba sempurna seperti Barbie.

Akan tetapi, jika kita melihatnya dari sisi kaum perempuan sendiri, yang ada hanyalah penderitaan untuk memenuhi persyaratan “hidup” seperti itu, bagaimana kaum perempuan haruslah selalu menjadi sosok “dewi yang sempurna” untuk suami atau laki-laki yang mereka cintai. Seperti yang kita tahu, untuk memiliki kesempurnaan Barbie adalah sesuatu yang mustahil, karena si Barbie sendiri tidak akan pernah bertambah tua dan tak akan pernah berubah perawakannya menjadi keriput atau bergelambir. Jika melihat dari sudut pandang kaum feminis, hal ini akan menyebabkan kaum perempuan merasa terasing dari tubuh mereka sendiri, dimana seseorang seharusnya merasa bebas dengan keadaan dirinya, dengan usaha dari dirinya untuk dirinya sendiri, bukan orang lain.

Hubungan antara si pria yang menjadi tokoh utama dalam cerita dan boneka Barbie-nya merupakan unsur penting berikut dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie”. Si pria yang merubah Barbie menjadi seorang manusia pada akhirnya tidak hanya “menggunakan” si boneka untuk kepuasan dirinya sendiri. Pria itu mulai mencari keuntungan dengan membuka rumah pelacuran yang diberi nama “Bercinta dengan Barbie”, darimana judul cerpen itu diambil.

Keelokan si Barbie yang “dijual” oleh pria itu menunjukkan pula bagaimana proses Kapitalisme sejalan dengan sistem Patriarki. Sekalipun para perempuan dalam cerpen ini, terutama istri si pria, membenci si Barbie, tetapi Barbie-Barbie yang “dijual” oleh si pria tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena bukan kesalahan mereka kalau mereka begitu elok. Justru dari cerpen ini kita bisa melihat bagaimana Barbie-Barbie itu hanya menjadi pion si pria dalam usahanya mencari keuntungan, selain keuntungan itu juga dapat dia nikmati sendiri.

Sitem Patriarki, yang selalu dapat dihubungkan dengan kaum laki-laki, disimbolkan oleh sosok si pria “penyihir” dalam cerpen ini. Sementara itu, seperti yang sudah diketahui, Barbie dalam kehidupan nyata sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak sistem Kapitalisme yang ada. Sosok Barbie yang begitu sempurna sebagai boneka dijual ke khalayak banyak, dan mereka yang yang menjualnya mendapatkan begitu banyak keuntungan dari orang-orang yang merasa terbius oleh keindahan boneka tersebut. Yang paling tidak mengenakkan dari boneka Barbie itu sendiri, bagi kaum perempuan, sudah tentu bentuknya yang begitu menawan. Setiap perempuan yang membandingkan dirinya dengan si boneka Barbie yang menjadi impian setiap laki-laki akan terus merasa tersisih.

Cerpen ini menunjukkan bagaimana boneka-bobeka Barbie yang disihir menjadi manusia untuk “dijual” itu menjadi sumber kekacauan rumah tangga dan hubungan-hubungan antara manusia. Istri-istri yang ditinggal suaminya untuk bercinta dengan Barbie, dalam cerita ini, dikatakan menjadi kalap dan membunuhi Barbie-Barbie itu, karena suami-suami mereka sama sekali tidak mau menyentuh mereka lagi. Ini menunjukkan bagaimana standar diri untuk perempuan untuk para lelaki sangatlah tinggi, sementara saat mereka mati-matian berusaha di rumah untuk menarik perhatian para lelaki itu lagi, dengan enaknya suami-suami itu tetap mengunjungi rumah pelacuran Barbie.

Sungguh terlihat ketidakadilan hubungan laki-laki dan perempuan dan cerita ini. Meskipun dalam cerpen tokoh si pria digambarkan bukan sebagai orang yang “rakus” dan bersedia menerima istrinya asalkan tubuhnya seindah dulu, tetap saja menunjukkan bahwa laki-laki menentukan segalanya, tidak peduli sesusah apapun para wanita mereka berusaha memenuhi standar mereka. Namun pada akhirnya, usaha mereka tetap saja tidak mendapat perhatian para suami itu kembali, karena mereka lebih tertarik pada sosok-sosok perempuan “Barbie”.

Si pria sebagai simbol Patriarki dan si Barbie sebagai simbol Kapitalisme. Si pria tidak peduli seberapa banyak keluarga dan hubungan yang hancur karena pelacuran Barbie-nya selama dia mendapat untung, sekaligus sebagai penentu bagaimana seorang wanita seharusnya. Hal-hal seperti ini termasuk ke dalam persoalan yang ditentang oleh para feminis. Sosok indah perempuan dijual oleh mereka yang selalu mencari keuntungan, sementara mereka yang tidak termasuk kedalam kategori perempuan bersosok indah tersebut harus berusaha mati-matian untuk menetukan standar agar diakui oleh kaum pria.

Yang menjadi sorotan terakhir dalam penganalisaan cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini adalah tokoh sang istri dari si pria, atau juga yang mewakili semua perempuan dalam cerita. Diceritakan bahwa sang istri dan istri-istri yang suaminya berselingkuh dengan Barbie di tempat pelacuran itu membunuhi Barbie-Barbie yang menjelma menjadi manusia karena terbakar oleh rasa cemburu dan putus asa dengan usaha mereka untuk menjadi langsing atau cantik seperti sediakala. Namun begitu si pria mengalah dengan memberikan para wanita itu boneka Ken yang dirubah menjadi manusia, mereka menjadi puas.

Memang para wanita itu dikatakan puas dengan memiliki Ken sebagai pengganti suami mereka yang berselingkuh dan juga tidak menarik bagi mereka, tapi ini tidak melepaskan mereka dari sistem Kapitalis yang diterapkan pada mereka. Dengan membayar Ken-Ken ciptaan si pria untuk dibawa ke ranjang, mereka tetap harus membayar untuk kepuasan semacam itu. Bisa jadi ini semacam pemberontakan terhadap kaum lelaki yang tetap tidak mempedulikan mereka, namun dalam cerpen diceritakan apabila para boneka Ken tersebut mulai berselingkuh dengn para boneka Barbie milik suami mereka. Pada akhirnya jadilah para wanita itu tetap mengeluh dan merasa kalau saja mereka bisa menjadi secantik Barbie, maka para Ken “bayaran” itu tidak akan berselingkuh dengan para Barbie.

Kejadian dalam cerita ini jelas memperlihatkan bahwa apapun usaha yang dilakukan oleh para wanita itu, baik membunuh para Barbie, berusaha keras mengembalikan bentuk tubuh mereka, yang ada hanyalah kekosongan yang kembali mereka rasakan setelah kehilangan Ken-Ken mereka. Pada akhir cerita ini dikatakan apabila si pria mengembalikan semua boneka itu ke wujud asalnya, meskipun dia masih menyimpan Barbie untuk dirinya sendiri. Namun saat anaknya menangis mencari Barbie-nya yang hilang, dengan kejam dia mengganti istrinya ke wujud boneka dan memberikannya pada anaknya, yang langsung membuang muka melihat keburukan boneka baru tersebut. Si pria akhirnya membuang boneka si istri ke tempat sampah dan pergi bersama Barbie-nya.

Cerita ini menunjukkan bagaimana dalam kehidupan nyata seorang istri yang sudah tidak bisa memuaskan suaminya bisa dibuang begitu saja dan diganti dengan perempuan yang baru. Sungguh tidak adil, karena si istri sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya dan hanya menerima saja ketika dirinya dibuang, persis seperti sesosok boneka yang tidak bisa berkata apa-apa ataupun memprotes saat dirinya dilempar ke tempat sampah, dibuang karena sudah tidak sempurna.

Dari semua unsur yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini samar-samar menunjukkan perjuangan kaum Hawa untuk mendapat penghargaan di mata para lelaki. Meski di pertengahan sebagian dari kaum perempuan sempat melawan ketika diperlakukan semena-mena, pada akhirnya mereka dibuang juga dalam bungkam seperti sebuah boneka usang.

Sebagian dari kaum perempuan itu, dalam kasus ini adalah Barbie yang diubah menjadi manusia, juga menemukan pemberontakkan diri mereka saat diperjual-belikan kepada para lelaki yang berpenampilan sama tidak memuaskannya seperti istri mereka, dan mereka berselingkuh dengan para Ken yang sempurna. Namun pada akhirnya mereka semua dikembalikan menjadi boneka yang tidak bisa memprotes, dan hanya satu yang masih bisa menjadi manusia, yaitu Barbie milik si pria. Dengan kata lain, kalau saja Barbie itu bukanlah “milik” si pria, maka kemungkinan dia tidak akan pernah menjadi “manusia”, dimana makin kuat pendapat mengenai si pria sebagai simbol Patriarki yang mengatur segalanya dalam kehidupan kaum perempuan.

Siasat Membangun Cerita di Atas Cerita

Oleh: Damhuri Muhammad, Lampung Post

Disadari atau tidak, setiap “tukang” cerita meneladani kecerdasan Syahrazad. Permaisuri pendongeng dalam Hikayat Seribu Satu Malam yang mesti “berjuang” menyelesaikan sepenggal kisah demi tertundanya ancaman maut satu malam lagi. Bilamana sang permaisuri itu masih ingin bertahan hidup, ia harus merangkai sepenggal kisah lagi untuk mengulur waktu kematiannya satu malam lagi.

Begitu seterusnya, hingga tak terasa ia sudah menghabiskan 1001 malam untuk merajut kisah-kisahnya. Begitu juga kesan saya setelah membaca cerpen “Dongeng Sebelum Bercinta” dalam antologi Gelak Sedih (Gramedia, Jakarta, 2005) karya Eka Kurniawan. Alamanda, perempuan yang tak berdaya menolak pernikahannya dengan lelaki sepupu sendiri, mencoba bersiasat agar suaminya tak beroleh kesempatan menjamah tubuhnya, “bercinta”layaknya hubungan suami-istri.

Siasat Alamanda tidak lain adalah siasat Syharazad. Perempuan itu tidak bersedia berhubungan badan kecuali suaminya berkenan mendengarkan dongeng-dongengnya. “Percintaan” hanya akan terjadi jika dongeng Alamanda sudah “khatam”. Padahal,dongeng Alamanda tak akan pernah tamat. Maka, mengalirlah dongeng “Petualangan Alice di Negeri Ajaib” dari mulut Alamanda.

Semula saya menduga kepiawaian berdalih yang digambarkan pengarang adalah siasat Alamanda membatalkan pernikahan dan sekaligus percintaan “terlarang” itu. Sama halnya dengan siasat dongeng-dongeng Syharazad mengulur kematiannya. Tetapi,setelah menyelami lekuk-lekuk kisahnya, ternyata “kelicikan” Alamanda sekadar menutupi rasa malu pada sang suami. Sebab, ia sudah tidak perawan lagi.

Tujuan yang remeh jika dibandingkan nasib Syharazad yang sedangdi ujung tanduk. Saya merasa “tertipu” style pengisahan Eka yang semula sudah terasa “matang”, tapi pada bagian akhir Eka membuatnya “mentah” kembali. Ibarat memeras kandungan gula dari sebatang tebu, (setelah saya jilat) bagian pangkal tebu itu luar biasa manis, tapi makin keujung terasa makin hambar.

Saya tidak kecewa. Sebab, justru di titik inilah letak keunikan proses kreatif Eka. Ia seperti pemburu yang menggebu-gebu hendak mencabik-cabik buruan, tapi setelah berhasil melumpuhkan mangsa, sang pemburu tak hendak memakan dagingnya. Agaknya, pemburu tidak sedang lapar. Maka, hasil buruan pun dibuang percuma di tengah hutan. Sayang sekali! Sebagai pemburu, Eka sudah menguras energi, tapi kenapa hasil buruannya disia-siakan begitu saja?

Agaknya, logika pencapaian estetika Eka bukan pada mentah-matang, ketat-longgar atau kuat-lemahnya substansi cerita,melainkan pada seberapa bersenyawanya unsur-unsur “estetik”di dalam kisahnya. Sebab itu, Alamanda tak perlu menjelma Syharazad. Cukup menjadi perempuan yang masih punya malu setelah kelaminnya tak lagi terlindungi selaput dara.

***

Ada yang bilang, cerpen koran semata-mata bersandar pada cerita dan memperlakukan bahasa hanya sebagai “kendaraan” bercerita (Nirwan Dewanto). Lalu, muncul pula penilaian kebanyakan cerpen koran hanya bergerak di permukaan, dangkal karena isi dancara pengungkapan dikondisikan media massa (Budi Darma). Tersebab “kepentingan” koran meresap “tubuh” cerpen, sulit memilah mana cerita, mana berita.

Demikian sekelumit perihal gugatan pada geliat “cerpen koran” yang mewabah sejak sepuluh tahun terakhir. Cerpen dianggap terjerumus “realitas koran”, sehingga menjadi sangat “topikal” dan gagal menjadi sebuah kisah yang berdiri sendiri (Goenawan Mohamad). Apakah hipotesis di atas terbukti setelah membaca cerpen-cerpen Eka?

Dari segi ketergantungan pada cerita, barangkali jawabannya, ya. Di samping sebagai pencerita yang “genius”, Eka adalah (lagi-lagi) sosok “pemburu” sekaligus kolektor cerita yang tekun. Cerita-cerita yang menggugah selera estetiknya sering menjadi embrio cerita-cerita yang dia tulis. Ia membangun cerita di atas konstruksi cerita-cerita yang pernah dibacanya (seperti terlihat pada “Bercinta dengan Barbie”, “Lelaki Sakit”, “Assurancetourix”, “Peter Pan”, “Dongeng Sebelum Bercinta”, “Si Cantik yang tak Boleh Keluar Malam”, “Siapa Kirim Aku Bunga?”, dan”Kisah”), bahkan sesekali “terjerembap” mendaur ulang cerita-cerita lama (demi) melahirkan kisah-kisah baru.

Delapan belas cerpen yang terhimpun dalam antologi Gelak Sedih, sebagian besar dirangkai berdasarkan “pengalaman baca” pengarang. Pada cerpen “Bercinta dengan Barbie”,dengan jujur Eka mengaku terinsprasi karakter-karakter boneka produksi Mattel Corporation (hlm. 183). Pada bagian awal, Eka mencantumkan kutipan “Betapa menggelikan aku ketika masihmenjadi boneka!” (Carlo Collodi, Pinocchio).

Apa tujuan penulisan kutipan itu? Mungkin hendak bersikap jujur atau sekedar memberitahu pembaca perihal pentingnya cerita pinocchio dalam konteks lahirnya cerpen “Bercinta dengan Barbie”. Padahal, tidak akan ada keculasan jika kutipan yang mengganggu dan tak perlu itu ditiadakan. Toh, cerpen Eka tetap utuh sebagai kisah (tanpa kurang satu apa pun jua).

Justru, bilamana setiap cerpen Eka selalu “di-mukadimah-i”pelbagai referensi yang tak perlu, pembaca bisa saja meragukan Eka sebagai pencerita yang “mandiri”. Cerpen bukan makalah ilmiah, Bung! Jadi, tak perlu kejujuran akademik!

Lalu, apakah ekspresi literer Eka masih berkutat di tataran permukaan? Tentu saja tidak. Sebagai pengisah, refleksi dan perenungan Eka sudah “sampai”. Ia bukan hanya telaten, tetapi juga lihai mengasah, mengolah, mengelola dan meng-“eksekusi” hingga kisah-kisahnya berdiri kokoh di maqam yang patut. Eka mampu menangkap gerak dalam objek.

Seperti pernah diungkapkan Jacques Maritain, dalam proses kreatif ada hubungan misterius antara jiwa dalam diri seniman dan jiwa dalam objek yang digarapnya. Eka tidak lagi menangkap objek atau peristiwa dalam wadah kasarnya, tapi langsung menukik keceruk jiwa dan esensi objek. Dengan begitu, ia berkompetensi menulis apa saja dengan gemilang.

Sepasang suami-istri yang meskipun sudah berniat membuang bayi mereka di pinggir jalan (cerpen “Gelak Sedih”), masih memendam harap agar bayi itu ada yang memungut, beritanya munculdi koran, lalu ada orang kaya yang berkenan mengambilnya. Ini adalah jiwa dalam objek garapan pengarang. Bahwa kemudian harapannya pupus ketika berita yang terpampang di koran, “Mayatorok ditemukan di pinggir jalan, diduga dimakan anjing” itu adalah ekspresi imajiner yang harus dilakukan pengarang agar kisahnya sampai pada kulminasi konflik.

Puncaknya adalah sedih. Dan, sedih yang melampaui ambang batas bakal memuncak menjadi gelak. Begitupun sebaliknya. Inilah latar filosofis pilihan judul “Gelak Sedih”. Sejatinya, gelak mustahil dikombinasikan dengan sedih. Tapi bagi Eka, gelak dan sedih tak hanya “tak bertentangan” tetapi malah bersenyawa, membaur, dan berkelit kelindan.

Keberhadiran cerpen-cerpen Eka, seolah hendak “menjungkirbalikkan” stigma yang melekat pada cerpen koran (dangkal, topikal, dan bias berita). Cerpenis muda ini memperlihatkan “jati diri” cerpen yang bukan hanya mandiri sebagai kisah, tapi juga mandiri sebagai genre sastra, makin “dewasa” dan tegak berdiri di atas kaki sendiri (tidak bergantung intervensi “kepentingan” koran).

Akan lebih “dewasa” lagi bilamana Eka sanggup me-merdeka-kan imajinasi dari kebergantungan koleksi cerita-ceritanya. Ya, membangun cerita di atas layar “tabularasa” estetik yang masih putih bersih, belum tercorat-coret barang senoktah pun. Nah!

Tulisan ini pernah dimuat di Lampung Post, 17-7-2005.

Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih

Oleh: Sjaiful Masri, Sriti.com

Ibarat buah manggis, saya mengenal Eka Kurniawan berdasarkan cerita-cerita banyak orang. Jadi, kini saatnya saya ingin menebaknya… Maman S. Mahayana ‘mengundang’ saya untuk masuk dalam pertaruhan novel Cantik itu Luka. Saya ingin merasai bagaimana rasanya ‘air bah’ yang dimaksudnya itu… Yang saya temui adalah sebuah solmisasi, tangga nada yang harmonisnya bisa dirinci. Atau tepatnya tarot yang terkocok acak yang kemudian menyimpan risalah panjang yang asyik untuk dimainkan… Saya berbeda selera dengan Maman. Tebakan saya meleset. Air bah itu hanya berpusar pada ruang kepalanya, bukan Tsunami semesta.

Masuk kepertaruhan kedua, saya bermain-main dengan Lelaki Harimau, yang menata gaya psikologis, setingkat lebih mapan dari sejumlah karya-karya Bagus Takwin. Jika Takwin bermain dalam efek emprik dunia psiko-dramatis, Eka menyempurnakannya dengan kesadaran empirik. Dunia psikologis menyublim dalam rationale. Siapa yang bilang ini realis-magis?

Pimpinan kami, Editor website ini menjerit-jerit, “Bahas ini. Spektakuler! Masa depan cerpenis kita!! Saatnya cerpenis tua pamit panggung…..!!” Bla bla bla bla…. Mengapa begitu banyak orang salah tangkap, tegang sendirian, over-acting, berharap meluap-luap dengan sebuah karya. Bukankah penulis itu punya dedikasinya sendiri?

Kali ini Seno Gumira Ajidarma menuntaskan ‘tebak-tebak buah manggis’ saya pada Eka. Dalam Cinta tak ada Mati, Seno membubuhi komentar “Cerita-cerita ini ditulis dengan suatu bakat dan semangat pencanggihan yang tinggi…Kita pantas meletakkan harapan atas masa depan sastra Indonesia kepada para penulis muda seperti Eka Kurniawan…” Saya tidak membaca nada kecemasan Seno dibalik pujian itu. Efek yang tersisa adalah, bila saja kenyataan yang menganga kemudian akan melahirkan masa depan yang sunyi… Jika dibandingkan cerpenis seangkatannya, dalam amatan kecil kami di Sriti.com, dalam kurun enam bulan terakhir, Eka termasuk cerpenis yang ‘malas’. Saya tidak mau lagi main tebak-tebakan.

***

Dua buku karya Eka Kurniawan berbarengan muncul di pasaran. Seakan idiom lawas dunia dagang buku kalau ‘dua buku muncul berbarengan itu akan saling ‘membunuh’ dalam pasaran’. Setahun silam, ketika Cantik itu Luka edisi re-print dan Lelaki Harimau muncul berbarengan, dan kini terulang Gelak Sedih serta Cinta tak ada Mati bak bayi kembar brojol dalam rak toko buku; barangkali Eka bukan lagi masa depan sastra Indonesia, mungkin, ia juga telah menjadi pembukti dunia dagang buku mutakhir. Betapa kuatnya penetrasi pasar dunia dagang buku sastra kita saat ini….

Membaca Gelak Sedih, saya justru melihat kalau Eka adalah pengarang yang sangat realistis. Ia dengan sadar melihat dunia kepengarangannya harus ditopang mekanisme yang mumpuni. Ia memilih penerbit besar seperti Gramedia Pustaka Utama bukan tanpa alasan. Gelak Sedih membuktikan keampuhan itu. Gelak Sedih adalah edisi re-package dari kumpulan cerpen terdahulunya, Corat-coret di Toilet yang kemudian ditambahkan sembilan cerpen baru. Hemat saya, inilah proyek yang sesungguhnya, Cinta tak ada Mati segar karena 13 cerpen yang baru dirampaikan dalam bentuk buku.

Kehadiran dua buku kumpulan Eka Kurniawan ini seperti ingin menyemangati dunia cerpen koran kita yang riuh dengan kritik. Membaca Eka adalah membaca gaya sebuah cerpen. Eka membuat segala bentuk penyajian itu menjadi cair. Eksplorasi tak sebatas bagaimana menghadirkan realis-magis made in Indonesia- yang mesti diakui, ia melonggarkan diri dari segala jenis pengaruh sastra dunia. (Saya kecolongan komentar ini, karena toh, Agus Noor sudah membubuhi duluan dalam sampul belakang Gelak Sedih. Bla bla bla bla…Saya tidak akan menambah jumlah gunung pujian yang ditulis Oka Rusmini, Agus Noor, Seno, dan juga Djenar Maesa Ayu… saya punya yang lain tentang dia…)

Dua buku ini sangat dianjurkan untuk dimiliki, bukan hanya karena sosok Eka Kurniawan yang masuk sebagai cikal masa depan sastra kita. Dua buku ini menyajikan kompilasi lengkap Eka Kurniawan sebagai cerpenis. Perjalanan awal yang didudu secara lengkap. Dan yang terunik adalah ‘gaya’ dia menyajikan cerpen koran ke dalam bentuk buku perlu digarisbawahi.

Ia bertindak sebagai kreator.

Dalam kedua buku ini tidak terdapat detail sumber sejarah penerbitan cerpen. Sebagai buku, referensi ini juga bisa menimbulkan efek jualan. Tapi, Eka memilih sikap praktis. Ia kelihatan ingin melahirkan cerpen-cerpen koran-nya sebagai karya ‘baru’.

Eka mengolah lagi proses editingnya, mengganti judul, ‘menambal’ sejumlah kebocoran yang sempat terjadi saat cerpen tersebut dimuat di media massa, menimbulkan mood baru dengan sejumlah garnish, dan keberanian untuk menunjukan sikap. Jika dalam versi cetak cerpen Pengakoean Seorang Pemadat Indis yang pernah dimuat di Media Indonesia (6 Februari 2005) itu tercetak dengan ejaan familiar (EYD?), maka ketika cerpen tadi tampil dalam kumpulan Cinta tak ada Mati, Eka menampilkan teks-nya dalam ejaan zaman baheula. Saya suka caranya menyiasati prosedural sastra koran kita.

Saya tidak sedang ‘main tebak-tebakan buah manggis’. Saya sedang mencoba mengingat-ingat seorang Eka Kurniawan.