Dua Novel Pembunuh Bapak

Oleh: Aquarini Priyatna Prabasmoro, Koran Tempo

Dua novel Eka Kurniawan Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004) telah saya baca sambil mengingat Freud dengan cerita terkenalnya yang dinamai psikoanalisis. Untuk menjadi diri sejati, demikian kata Freud dalam cerita itu, seorang anak harus melepaskan diri dari ibunya, dari tubuh ibunya. Seorang anak laki-laki yang menjatuhkan objek cinta pertamanya pada ibunya harus melepaskan ibunya karena takut bersaing dengan bapaknya yang mengancam akan memenggal penisnya. Dalam cerita ini, jika kemudian si anak tumbuh normal, dia akan mencari dan mendapatkan perempuan pengganti ibunya.

Anak perempuan juga harus melepaskan diri dari ibunya, hanya saja cerita yang harus dijalaninya berbeda: ia menghormati aturan ibunya, dan mencinta ibunya, tapi kemudian melihat ibunya sebagai pesaing dalam cintanya terhadap bapaknya sambil tetap merasa takut akan ibunya. Dan ketika ia tumbuh “normal”, ia mencari laki-laki pengganti bapaknya sambil terus menoleh ke ibunya untuk memastikan keterpisahannya dengan ibunya sambil merindu hubungan asalinya dengan sang ibu. Dalam psikoanalisis, keterpisahan dengan ibu menjadi penanda bahwa ia telah menjadi subjek.

***

Dewi Ayu dalam Cantik itu Luka menempati semacam singgasana sendiri di negeri bernama Halimunda, bersama seorang preman yang menguasainya dan seorang Shodancho yang sempat menginginkannya. Kedua lelaki itu kemudian menjadi menantunya. Dewi Ayu memperoleh penghargaan sendiri, paling tidak dari narator yang tampaknya memihak kepadanya.

Dalam Feminist Critism in the Wilderness, Elaine Showalter menulis bahwa penulisan yang sungguh-sungguh berempati terhadap perempuan hanya dapat dilakukan perempuan karena adanya pengalaman spesifik perempuan yang tak dialami laki-laki. Dengan demikian, menurut Showalter, teks “perempuan” atau “tentang perempuan” juga hanya dapat dilakukan secara sungguh-sungguh oleh perempuan. Tetapi Cantik itu Luka menampakkan bahwa Eka mampu melahirkan teks perempuan tanpa membuat perempuan dalam dunianya tampil sebagai laki-laki dalam bngkus perempuan.

Beberapa feminis sendiri mempunyai kegamangan dalam menempatkan pelacur dan pelacuran. Beberapa bersikeras bahwa pelacuran harus dihapus karena itu merupakan bentuk opresi terhadap perempuan. Kelompok feminis lain melihat pelacuran sebagai fakta sosial yang tak terhindari selama perempuan tak mempunyai sesuatu di luar tubuhnya yang dapat digunakannya sebagai “nilai tukar” untuk kelangsungan hidupnya.

Feminisme Marxis, misalnya, menempatkan pelacur dan istri dalam posisi yang sama: sebagai pekerja seksual, yang menawarkan pelayanan seksual sebagai penukar untuk sebentuk imbalan atau kenyamanan ekonomi. Bedanya pelacur menjual pelayanannya secara eceran kepada setiap lelaki sementara istri menjualnya secara borongan kepada satu laki-laki. Pada posisi istri, perempuan mengharapkan imbalan lain berupa posisi sosial di masyarakat yang kekuasaannya ada di genggaman laki-laki. Untuk itu, istri dituntut memberikan pelayanan sosial dalam bentuk kerja domestik, yang tak dituntut dari para pelacur, yang memang tak mengharapkan imbalan posisi sosial.

Dengan demikian, seks hanyalah komoditas, Suatu alat tukar ekonomi belaka karena seperti dikatakan Dewi Ayu, “Pelacur itu penjaja seks komersial, sementara seorang istri menjajakan seks secara sukarela. Masalahnya aku tak suka bercinta tanpa dibayar” (128). Dengan ekonomi seks seperti ini, keluarga juga tak lain daripada lembaga ekonomi, yang didirikan atas transaksi seksual laki-laki dan perempuan, yang produk dari transaksi itu memastikan adanya mekanisme penyambung hak milik keluarga, yaitu keluarga laki-laki. Bagi feminisme Marxis, hubungan suami istri tidaklah berbeda dari hubungan tuan-budak, majikan-buruh.

Keluarga “normal” itu sendiri dilawan dalam Cantik itu Luka sejak awal. Inses yang dipandang rendah dalam kehidupan masyarakat justru ditampilkan sebagai cinta yang agung. Maka menikahlah Henri Stamler dan Aneu Stamler, dan dari keduanya lahirlah Dewi Ayu, perempuan tiga-perempat bule yang sangat cantik. Dewi Ayu kemudian menikahi Ma Gedik yang seharusnya menjadi suami dari neneknya sendiri.

Dan kesemrawutan ikatan seksual/keluarga itu semakin menjadi-jadi karena profesi Dewi Ayu. Ia berhubungan dengan Maman Gendeng yang sempat berperan sebagai “bapak” bagi keluarganya, yang hanya terdiri dari ibu dan tiga anak perempuan. “Bapak” ini kemudian dialihkan kepada putri bungsunya, yang kemudian harus mengubah pola relasinya dari anak-bapak, jadi istri-suami.

Tetapi karena perkawinan ini tidak melibatkan transaksi seksual, yaitu karena usia Maya Dewi yang masih dua belas tahun, Maman Gendeng kembali ke tubuh sang mertua dalam percintaan yang dahsyat. Kata Maman, “Ia begitu mungil untuk dicelakai, begitu tanpa dosa untuk disentuh. Aku ingin meniduri mertuaku sendiri.” Dan setelah itu Dewi Ayu menjawab, “Kau benar-benar menantu celaka,” keduanya pun bercinta sampai pagi.

Kesemrawutan lain adalah Shodancho yang juga sempat menikmati tubuh Dewi Ayu, akhirnya kawin dengan Alamanda, putri pertama Dewi Ayu, yang sesungguhnya mencinta Kamerad Kliwon, yang kemudian menikahi Adinda, adik Alamanda. Hubungan Shodancho dengan Alamanda jauh dari normal. Alamanda mengunci selangkangannya dengan kerangkeng besi yang hanya dapat dibuka dengan mantera dan kunci yang dijaganya baik-baik. Ketika lengah, Alamanda diperkosa suaminya sendiri. Kehamilan dari du kali perkosaan yang diterimanya menghilang ketika waktu melahirkan tiba. Kamerad Kliwon juga sempat bercinta dengan Alamanda sebelum keesokan harinya gantung diri karena malu. Inses lain adalah antara Krisan, anak Adinda, dengan Si Cantik, yang sesungguhnya adalah bibinya sendiri.

Dalam kompleks Oedipus di dunia ini, setiap perempuan akhirnya disatukan lagi setelah satu demi satu “bapak” dimatikan. Setelah penisnya dipenggal, sang Shodancho kehilangan kewarasannya, dan akhirnya ia mati di tangan ajak yang pernah jadi sahabatnya. Maman Gendeng “naik ke langit”, meninggalkan tubuhnya diwujudi Romeo. Krisan juga mati ketika melakukan inses dengan Si Cantik, bibinya. Pemakaman Krisan menandai kembali ikatan perempuan, kembali ke yang asali. Keempat perempuan itu “saling mencintai satu sama lain, dan berbahagia dengan cinta tersebut” (510). Cantik itu Luka mengembalikan perempuan ke masa sebelum masuknya hukum bapak, ketika cinta ibu dan anak perempuannya tak terhalang oleh seorang bapak, oleh hukum-hukumnya yang memisahkan antara perempuan yang elok-rupa dan yang buruk-rupa.

***

Dalam Lelaki Harimau, Margio bukan hanya jatuh cinta pada ibunya sendiri, namun juga menghargai kegilaan ibunya, dan mengerti kesakitan ibunya yang sering dipukuli bapaknya. Takut penisnya akan dipenggal, ia membiarkan kekerasan itu terjadi di depan matanya. Seperti Oedipus, ia juga berhasrat menghabisi bapaknya, tapi ia sadar bahwa bapaknya, Komar bin Syueb, adalah tiang keluarga yang “tak peduli betapa keripos dan limbungnya tiang itu, serta oleng dan sumber badai yang mestinya merobohkan dirinya sendiri” (56). Tiang itu tidak roboh dengan sendirinya. Patok-patok kekuasaan bapaknya terlalu kuat untuk roboh sendiri, bahkan ketika ia keropos.

Meski demikian, hasrat membunuh bapaknya terus terpelihara sejalan dengan kekerasan yang terus dilakukan si bapak terhadap ibunya. Hasrat itu ditekannya justru karena rasa cinta pada ibunya, “Rasa cinta yang tak kepalang pada ibu dan adiknyalah, barangkali, yang telah menahannya dari kemarahan memaharaja” (56). Dan lebih dari itu, di luar sadarnya, ia tetap memimpikan bahwa keluarga yang “normal” akan menjelma justru dengan kehadiran dengan ayah, ibu, dan anak-anak. Mematikan bapaknya berarti meniadakan potensi mewujudkan keluarga normal, yang senormalnya memang ada, paling tidak dalam cerita Freud itu. Hal itu menyakitkan karena ia harus merepresi tidak saja hasrat untuk memiliki ibunya, tapi juga hasrat membunuh bapaknya, sambil terus bermimpi bahwa jika ia berhasil meresepsi kedua hasrat, ia akan diganjar kebahagiaan sebuah keluarga normal, “dan sepanjang hidupnya, usaha yang lebih membuatnya menderita adalah upaya meredam kehendak itu, didorong harapan udik bahwa segalanya akan baik dengan sendirinya …” (56). Harapan udik ataukah arkaik?

Margio memang tak langsung membunuh Komar bin Syueb, tapi penolakannya atas permohonan maaf Komar atas kematian Marian, adik tiri Margio, telah menjadikan si bapak seonggok “rongsokan daging, yang tak akan memuaskan nafsu si hahak pemakan bangkai sekalipun “ (67). Margio menghilang dan kepergian ini membuat bapaknya mati pelan-pelan. Kematian ini baru disadari Margio kemudian. Untuk sementara Margio dapat memiliki ibunya. Ia tiang bagi ibu dan adik perempuannya, bahkan bagi Marian yang mati kala bayi.

Dengan matinya Komar, Margio disatukan lagi dengan ibu dan adik perempuannya. Tapi hasrat arkaik untuk memiliki keluarga “normal” atau mungkin hasrat untuk membahagiakan ibunya membuat ia merepresi hasrat sendiri untuk memiliki ibunya dan membawanya kepada hasrat untuk memberi pasangan lain bagi ibunya. Ia datang pada Anwar Sadat, laki-laki yang diketahuinya telah berhasil menimbulkan kebahagiaan luar biasa bagi ibunya. Ia menganggap laki-laki itu memang sungguh-sungguh mencintai ibunya. Ia pun bersusah payah meminta Anwar Sadat menikahi ibunya. Di luar dugaannya, Margio menerima jawaban yang luar biasa menyakitkan, yang merendahkan dirinya dan terlebih ibunya yang direduksi jadi “pelacur” gratisan. Hasrat untuk membunuh ayah yang dipendamnya sejak awal pun menerobos keluar tanpa dapat dikendalikan, seperti sebuah kelahiran.

Sejalan dengan kehamilan ibunya, Margio tahu ia juga telah hamil. Janinnya adalah seekor harimau putih “serupa angsa” yang dipanggilnya “kakek”. Seperti janin manusia, janin dalam tubuh Margio juga dapat merasakan kemarahan-kemarahan “sang ibu”. Hasrat membunuh Komar yang dulu muncul ditenangkannya dengan pergi dari sumber kemarahannya. Pada upacara pemakaman Komar, janin Margio menggeliat lagi, dan ia menenangkan janinnya, “berbisik lirih, lihat, lelaki itu telah mati, istirahatlah” (168 ). Dan janin besar yang bersemayam dalam tubuhnya pun kembali tenang hingga hingga kelahirannya yang tak dapat dibendung itu tiba: kontraksinya dipicu, baru belakangan pembaca tahu, oleh kata-kata kasar Anwar Sadat, “Tidak mungkin, kau lihat aku ada istri dan anak … Lahipula aku tak mencintai ibumu” (192).

Sekali lagi, sang Oedipus berhasil membunuh ayahnya dan menyatukan kembali ikatan arkaiknya dengan ibu dan saudara perempuannya. Ketiganya tidak lagi terpisahkan oleh laki-laki paternal. Ketiganya menjadi keluarga yang melawan bentuk keluarga “normal” sebagaimana digariskan dalam psikoanalisis Freud.

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo, 29/8/2004. Versi lengkap makalah dalam bentuk pdf bisa diunduh di Scribd atau di situs Unpad.

Cantik itu Luka: Sebuah Catatan Perjalanan

Oleh: Nenie Muhidin, On/Off

Jumat, 10 Januari 2003, lepas Isya.

Pertama kali dia menyapaku dengan “Harusnya bisa”. Datar dia mengucap itu padaku sambil sedikit tersenyum. Tidak ngakak dengan gigi-gigi putih yang bersih. Itu dia ucapkan karena sebelumnya aku sempat ngomong “Mudah-mudahan kawan-kawan di Bandung bisa bekerja sama”. Ini soal rencana awak ON/OFF launching ke Bandung. Ini soal tawaran dariku untuk mungkin bisa bekerja sama dengan beberapa komunitas sastra di Bandung yang kebetulan aku kenal. Waktu itu aku ngobrol soal toko buku kecil, Tarlen dan Klab Baca.

Nama-nama yang aku maksud inilah kawan-kawan Bandung itu. Aku tak kenal siapa dia. Setelah sekitar semenit pertama aku bertemu Puthut, Faiz, Mumu yang sebelumnya sudah kukenal duluan dan aku belum mengenal yang lain yang kebetulan berada di ruangan itu,termasuk dia. Kedatanganku di ruang kerja mereka itu soal distribusi ON/OFF di Bandung. Puthut memperkenalkanku dengannya, “Nih kenalin, teman-teman”. Begitu kalau ku tak salah ingat. “Nenie”, aku menjabatkan tanganku ke dia. Masih datar warna mukanya. “Eka”. Beracamata, kurus, sedikit lebih pendek dari aku. Pakai sweater. Aneh pikirku, kota panas macam Jogja masih ada yang suka pakai sweater. Familiar, kesan yang aku rasa mengawali pertemuan pertamaku dengan dia. Selebihnya, orang ini sering sakit-sakitan vonisku dalam hati di kesehariannya. Kupikir aku telah melihat dia sebelumnya waktu acara launching ON/OFF di UNY. Ternyata aku salah. Ada peserta diskusi yang kukira dia yang waktu itu bertanya ke Nirwan Ahmad Arsuka dan Saut Situmorang yang didaulat jadi pembicara plus Buldanul Khuri perihal media sastra alternatif. Ternyata memang aku salah. Kukira dia. Belakangan aku tahu ternyata orang itu Nuruddin Asyhadie.

Setelahnya, aku menjabatkan tanganku ke wajah yang lain di depanku. Gondrong ikal, murah senyum. “Anas”, begitu ia bilang ke aku. Anasrullah, aku pernah baca namanya di useletter yang mereka garap itu. Yang satunya tidur. Waktu aku tanya siapa yang tidur itu Puthut bilang namanya dmw. “Ooo,lay-outer kalian ya”. Masih di ruang sempit memanjang itu, aku dan beberapa yang lain kembali ke topik pembicaraan yang remeh-temeh.

Kutahu dan bisa kupastikan dia memang Eka, Eka Kurniawan, aku pernah baca posting komentarnya di milis bumimanusia. Juga aku tahu soal buku-buku yang ia tulis, soal Pram. Salah satunya pernah kubaca meski hanya kata pengantarnya di cover belakang. Paling anyar, aku tahu meski belum sempat kubaca. Ini soal novel yang baru saja dia buat; Cantik Itu Luka (CIL).

Sehari sebelumnya buku itu sudah berkenalan denganku dengan CIL di RS Panti Rapih. Kawanku yang sedang sakit dikunjungi oleh seseeorang yang kebetulan bawa buku itu kesana. Aku mengenalnya dengan nama Aji. Tapi ternyata di Jogja ia dipanggil dengan ‘Bo’ol’, entah apa maksudnya.

Sok akrab. Itu yang pertama kulakukan setelah berkenalan dengan Eka.
“Apa kabar, Ka”.
“Baik”.
“Gimana bumimanusia-nya”.

“Hehehe…”, cuma tertawa kecil dan masih saja terus duduk di atas meja. Setelah beberapa saat kemudian, isyaratnya ke Anas ingin pergi dari ruangan itu. Padahal aku masih ingin mengenal siapa dia, lebih penting dari itu aku berencana minta jatah buku yang pasti dikasih penerbit ke dia sebagai penulisnya. Siapa tahu masih ada jatah lebih yang biasanya disimpan buat orang-orang terdekat, terkasih. Aku sempat ngomong basa-basi lagi ke dia “CIL, harganya berapa tuh?”. Bukan dia yang jawab. Kalau gak salah Mumu atau Faiz yang menjawab. Aku lupa berapa harganya. Tapi terus masih dengan sedikit kritis, karena kalau tak salah dengar, dibanding Supernova-nya Dee, CIL sedikit lebih mahal. Kubilang “Wah, lebih mahal dari Supernova dong”, ada yang menimpaliku selanjutnya, “Supernova-kan lebih tipis”.

“Hehehe…”.

Kuurungkan niatku meminta CIL padanya. Biarlah nanti kalau aku ada lebih-lebih pasti kubeli. Dia pergi. Bersama Anas, temannya yang murah senyum dan gondrong ikal itu. Faiz juga pergi, tertinggal di ruangan itu; aku, Mumu, Puthut dan dmw yang sedang tidur. Tak lama, Puthut pulang. Sebelumnya ia ngomong, “Sampai ketemu besok. Biasanya besok semua pada ngumpul”. Aku ikut pulang setelah sekitar sejam yang lalu Puthut pergi. Mumu, nama penanya E.M. Ali, novelis yang juga baru saja menyelesaikan karyanya Peta Yang Retak, berbincang banyak hal denganku soal sastra. Ia ngobrol soal fisika terapan denganku. Ada rencana soal dunia yang ia obrolkan itu dengan karya yang rencananya bakal ia garap. Lalu aku juga meninggalkannya (juga dmw yang tidur) sedang mengedit tulisan entah punya siapa. Ia bilang ia nginap di situ. Seperti rumah buatnya ruangan itu. Ia juga bilang kalau ke Jogja, aku bisa pakai komputer di situ buat menulis. Sebelum aku pulang, ia mengatakan untuk tak menebus harga kopi yang aku pesan di kedai. Biarlah katanya, ia yang membayarkan. Baik orang ini, pikirku. Juga tenang. Sangat.

Sabtu, 11 Januari 2003, siang bolong

Ketemu muka baru. Perempuan yang ada di ruangan itu sedang khusyuk membuka-buka buku. Kembali, aku kenal buku itu. Perempuan itu membuka-buka lembar awal CIL. Perempuan itu belum melihatku yang berdiri di luar.

“Selamat siang”. Aku langsung mengulurkan tangan, isyaratku untuk segera berkenalan. Kubilang namaku dan ia membalas. “Susi”. Aku tanya orang-orang semalam dan ia bilang sebentar lagi juga pasti pada kesini. Ia mempersilahkanku masuk. Langsung akrab. Seperti yang sudah lama berkenalan. Supel. Tema-tema pembicaraan kami melompat-lompat. Tapi ada yang dominan; soal CIL yang ada di depan kami berdua dan tentu saja soal dia yang semalam, pengarangnya. Aku langsung minta maaf duluan karena mengusik kekhusyukannya dengan CIL yang lagi ia baca siang itu. Ia hanya tertawa saja.

Muncul satu-satu. Ramai. Apalagi di kedai Insist sebelah ruangan itu ada diskusi, kalau tak salah soal peluncuran buku sekaligus pemutaran film Zapatista. Ada kawan yang ingin jadi anggotanya, minta diantar kesana, tidak hanya sekedar mendengar cerita-ceritanya. Panas siang itu. Semua awak berpindah dan nongkrong ke beranda sebelah dalam yang lebih adem. Masing-masing dengan pesanan minuman dingin segar yang di pesan ke ibu yang mengurus kedai. Aku dengan segelas kopi hitam dan sebungkus Djarum coklat. Itu karena tak ada Gudang Garam Filter yang dijual di kedai. Semua adalah orang-orang yang semalam, minus Mumu dan dmw tapi plus Susi dan belakangan datang nama baru; Astrid, begitu ia memperkenalkan diri padaku. Tema seriusnya soal acara mereka yang direncanakan medio Februari. Nama-nama macam Pram, Gus Dur, Sri Sultan disebut-sebut. Aku tak tertarik untuk menyimak. Semalam Puthut sempat singgung soal rencana acara mereka itu.

Bukan sweater, sekarang dia pakai kaos. Berwarna hitam. Bayangkan kalau bersentuhan dengan matahari. Tetap aneh buatku. Duduk selonjor, kakinya dibentang di ujung meja bambu.Pembicaraan dengan mereka agak aneh. Malah tak tahu kenapa harus sampai ke Nafa Urbach.

Rabu, 15 Januari 2003, warung internet di Bandung

Ringkih (dia tak seperti Kamerad Kliwon, Shodancho atau Maman Gendeng, tokoh-tokohnya di CIL, kupikir). Memang benar, sebuah subyek e-mail ditulis dengan temanya dia dan karyanya yang baru oleh ‘anak panda’. Ringkih. Itu salah satu yang ditulis di isi subyek milis itu soal dia, proses kreatifnya. Subyek milis di reply. Dia bilang dia belum mati. Itu karena komentar tentang proses kreatifnya dari ‘anak panda’ yang kucurigai sebagai Puthut. Eka bilang, tulisan ‘anak panda’ seperti obituary.

Kembali ke siang bolong itu. Aku berencana pulang ke Bandung keesokannya. Seperti tidak ada alasan buatku untuk berlama-lama di kota yang selalu bikin biji-biji peluhku mengalir deras dari bokong. Aku pamit pada mereka semua dan Faiz punya titipan buatku untuk kawannya yang kebetulan juga kukenal dan juga kawanku, Wini di Bandung. Titipan ada di kos Faiz. Aku harus kesana dulu sebelum balik ke Kaliurang tempatku menginap selama di Jogja. Sesampai di kos Faiz, ternyata tak hanya di RS Panti Rapih atau di genggaman Susi, CIL juga kulihat tergeletak di atas karpet kamar kos Faiz. Titipan Faiz kuselip ke tas bersama sekantong kresek besar berisi puluhan eksemplar ON/OFF edisi anyar yang rencananya aku bawa dan disebarluaskan di Bandung. Setelah semua beres, aku pamit pada Faiz untuk balik ke Kaliurang sekaligus Bandung keesokannya. Faiz menahanku sebentar dan mengambil CIL yang tergeletak di atas karpet dan tiba-tiba ia mengucapkan sesuatu padaku.

“Bawa aja kalau kau mau baca. Aku kasih. Aku punya dua. Tapi yang ini sedikit rusak kemasannya di pertengahan buku”.

“Tapi semua lembar halamannya masih utuh kan?”

“Masih. Belum ada yang lepas kok,” kata Faiz. Aku pergi dan meninggalkan Faiz sendiri di kamar kosnya itu. Selain cinta, buku pemberian adalah yang selalu memberikan energi bagi hidup yang segala sesuatunya dibeli. Adalah orang-orang yang memberi ini merupakan keanehan sekaligus surprise buatku. Lagi-lagi, aku hanya terlatih untuk mengucapkan kelaziman. “Terima kasih”.

“Sabtu malam kusendiri. Tiada teman kunanti…” Aku menyanyikan lagu ini untuk mempersiapkan semua hal termasuk diri ini untuk memasuki dunia CIL. Kopi hitam Kapal Api spesial Lampung yang tidak terlalu manis kuseduh, rokok Gudang Garam Filter kupersiapkan. Tak ada bunyi-bunyian. Kaliurang damai beserta dengan kawanku yang tempat kosnya kuinap sudah tertidur dengan pulas. Aku membuka pintu masuk CIL. Ada banyak anggapan sekaligus kecurigaan yang kadang kuanggap naif kalau bukan tak cerdas waktu sebuah resepsi yang telah dan sering kulewatkan untuk memasuki, membuka pintunya dan menjamah cerita juga tokoh-tokoh sebuah karangan dengan “Ooo, ini kayak ini nih…, ooo, ini anu banget nih…” sering aku sok tahu dengan klaim-klaim itu. Aku jadi ingat Susi yang tadi siang ngobrol denganku. Ia bilang menarik tidaknya sebuah karya tulis buatnya adalah ketika sebuah karya mampu menahannya untuk bertahan dan tak bergeming dari sana, dari sebuah cerita. Anggapan atau kecurigaan yang kumaksud adalah ketika aku tak selalu harus seperti yang dimaksud olehnya; cerita mampu mengusik pembaca untuk selalu bertahan dan menyelesaikan bacaan dari sebuah cerita. Tentu aku sepakat dengan Susi. Tapi tidak terlalu. Ini yang tak ada hubungannya dengan isi sebuah karya atau tepatnya yang beredar dan bermain-main di luar sebuah karya. Buktinya adalah ketika aku akhirnya bertahan pada Larung-nya Ayu Utami. Diawal-awal Larung, aku hampir menutupnya dan segera menyimpannya saja dalam lemari buku. Buatku, di awal-awal cerita, Larung sungguh terasa garing dan membosankan. Tapi ternyata tidak. Aku melanjutkannya. Ada sesuatu yang hegemonik yang kuanggap dan kucurigai di fase bertahan itu. Tapi tak tahu apa yang hegemonik itu. Karena Ayu-kah? Karena opini publik-kah? Atau karena legitimasi media yang berisi cuap-cuap dari yang katanya punya otoritas-otoritas sastra itu.

“Ah, aku tak tahu”. Dan setelah melewati bagian awal dan memasuki wilayah ujung pengembaraan Ayu dan tokoh-tokohnya, buatku Larung bagus. Sama seperti Dee. Atau karena Dee seorang penyanyi dengan suaranya yang merdu? “Ah, lagi-lagi aku tak tahu”.

Begitupun dengan CIL, yang malam ini aku sudah ada di gerbangnya, di sebuah ruang yang sebentar lagi aku masuk kedalamnya. Mudah-mudahan aku bisa pulang dengan selamat dari sana, dari CIL seperti aku selamat dari dekapan Ayu dan kutahu kalau kecurigaanku memang tak beralasan. Tentang CIL aku jadi ingat Mumu. Kita mendekat-dekatkannya malam itu dengan karya Marquez, seratus tahun kesunyian. Itu karena kupikir ada bagan dari pohon hierarki keturunan tokoh-tokoh yang dibuat oleh kedua penulis. Dia dan tentu saja Marquez. Aku juga belum pernah baca karya Marquez (lagi-lagi, aku hanya membaca pengantar novelnya, seratus tahun kesunyian) atau karya-karya lain yang dianggap masterpiece sastra dunia. Paling hanya pernah mendengar cerita-cerita soal mereka itu dari obrolan-obrolan singkat, sentilan gagah nama-nama mereka atau ketika aku berada di sebuah acara diskusi formal. Untuk itu aku tak terlalu bisa memberikan komentar waktu Mumu dan aku membicarakannya.

Sudah jam 3 pagi. 100 halaman CIL pertama kulewati. Ada 516 halaman yang tersedia. Soal ini aku ingat tetralogi Pram. Tebal juga bukan? Ada energi yang harus kusediakan. Kalau setiap kali CIL kubuka dan aku bisa menyicilnya per 100 halaman, empat atau lima hari ke depan aku pasti bisa menyelesaikannya. Kuambil pembatas buku dari sebuah potongan karton hijau kecil dan setelah itu menutupnya. Kubilang padanya besok aku kembali mengetuk pintunya itu untuk mencicipi 100 halaman baru dari 100 pertama halamanmu yang baru saja aku lewati.

Hegemoni teks CIL yang sering datang di 100 halaman pertama dan menyapaku dan kayaknya hingga akhir perjalananku dalam CIL adalah kelamin dan tai (Halaman 2; Sebab lubang keluar bayi dan tai hanya terpisah dua sentimeter saja). Ini membuatku selalu berjaga-jaga untuk selalu memberikan catatan di buku harianku hanya untuk dua tema itu; kelamin dan tai. Membuatku tak terlalu pusing dengan tema-tema historis yang kuat melatarbelakangi alur CIL; masa kolonialisme dan pendudukan fasisme Jepang.

Dewi Ayu-pun langsung terasa begitu menari-nari di pelupuk mata dan celanaku. Seperti Larung, CIL adalah Annie Arrow yang cerdas yang dulu sering aku baca sembunyi-sembunyi sepulang sekolah. Tapi kukira, jelas CIL bukan Larung juga bukan pula Annie Arrow. Masing-masing punya tiap-tiap.

Malam itu pikirku untuk 100 pertama halaman CIL aku ingin jadi Ma Gedik saja tapi dalam konstruksi cerita yang tentu saja tidak seperti yang diceritakan dia; laki-laki paling tolol sejagat raya.

Minggu, 12 Januari 2003, stasiun kereta api Lempuyangan jam 21.30

Kereta api ekonomi Kahuripan belum juga datang. Sudah lebih dari waktu yang seharusnya kereta itu sudah tiba dari Kediri dan berangkat menuju Bandung. Berencana untuk membuka CIL dari tasku dan menemui Dewi Ayu di sana sambil menunggu kereta datang. Tapi lantas kupikir jangan-jangan aku tak akan bisa bercengkerama serius dengan Dewi Ayu atau Rosinah, pembantu itu, di 100 kedua halaman CIL. Dewi Ayu kukira sinis (Halaman 9; Sebab setan tak kurang iseng daripada dewa dan Tuhan,…, rahimku jadi tempat setan membuang anak-anak mereka dan aku melahirkan anak-anak setan).

Ia bisa saja memojokan aku seperti tentara-tentara Jepang yang kupikir sado-masokis karena perilaku hiperseks dan menidurinya. Aku harus benar-benar bisa senyaman mungkin bertemu lagi dengannya. Kereta datang dan aku berebut cari tempat duduk yang nyaman. Jauh dari kenyataan. Aku duduk di lorong gerbong yang lampu-lampunya padam. Bersesakan. Orang-orang dalam gerbong seperti sayur kangkung rebus yang kering kuahnya karena terlalu lama dipanggang api kompor minyak. Maaf, cuma itu yang sempat kuucap pada kesempatan 100 kedua halaman CIL yang rencananya kubaca dalam perjalanan. Biarlah, aku akan mengetuk pintu dan menemui kalian yang disekap di Bloedenkamp sesampainya aku di Bandung. Tak mungkin di sini yang untuk merokok dan meluruskan kaki saja aku harus permisi. Kereta api bergerak dari stasiun satu ke stasiun yang lain. CIL masih saja diam di tas, tak aku ambil.

Senin, 13 Januari 2003

Dari stasiun Kiaracondong, aku langsung mampir ke rumah pacarku dan segera melanjutkan tidur-tidur ayamku setelah selama semalam aku kering di kereta sayur kangkung. Siangnya aku berencana untuk pulang ke rumah kontrakan dan mungkin malam aku bisa lebih segar bertemu dengan CIL, dengan Dewi Ayu atau teman senasibnya, Ola yang saat itu akan jadi pelacur tentara-tentara Jepang di rumah yang diasuh Mama Kalong.

Kubuka kembali CIL. Masih sama, tema besar yang hegemonik buatku itu; kelamin dan tai, seputar selangkangan (Halaman 123; kedatangan pertama Maman Gendeng di Halimunda, Bahkan taipun selalu cantik disini). Ada yang sedikit bergerak dominan menjadi sub dari dua tema besar itu. Tapi masih serumpun; prostitusi (Halaman 128; Dewi Ayu berkata, Pelacur itu penjaja seks komersial, sementara seorang istri menjajakan seks secara sukarela. Masalahnya aku tak suka bercinta tanpa dibayar. Halaman 135; masih Dewi Ayu ketika bernegosiasi dengan Maman Gendeng, Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja atau cinta jika itu ada). Rosinah, pembantu yang aku tunggu sebagai teman dialog Dewi Ayu di 100 pertama halaman CIL dia tinggalkan. Diakhir 100 yang kedua halaman-halaman CIL, ada yang bergerak perlahan-lahan muncul sebagai latar baru yang memberi kekuatan dengan sedikit bau-bau ideologis, kamerad Kliwon dan pacarnya Alamanda, gadis yang kayaknya akan menjadi cikal-bakal yang juga berpotensi membuat seperti ada sesuatu yang di dalam celanaku juga ikut-ikut bergerak seperti yang dibuat mamanya, Dewi Ayu di awal-awal kedekatanku dengan CIL.

Besok aku harus membawa eksemplar-eksemplar ON/OFF ke toko buku kecil dan mungkin beberapa lain sisanya di distro-distro yang tersebar banyak di Bandung dan sesegera mungkin mengabari via e-mail redaksi ON/OFF soal distribusi useletter mereka itu. Seperti malam ini, aku akan mengunjungi CIL di 100 ketiga halaman-halamannya.

Rabu, 15 Januari 2003

Tak ada CIL hari Selasa kemarin. Aku terlalu lelah bercinta seharian dengan pacarku setelah kutinggalkan ia selama seminggu di Jogja. Pikirku, aku tidak harus seperti kamerad Kliwon yang kutahu setelah 100 ketiga halaman CIL sebagai komunis, sebagai yang disiplin, sebagai yang bukan revisionis kata dia di CIL. Aku tak harus selalu setiap hari disiplin dengan 100 halaman CIL dan juga CIL tidak harus menyita hari-hariku segalanya. Ada dunia lain selain CIL yang juga bergerak. Ada pintu lain yang harus aku ketuk selain pintu gerbang dunia CIL; pintu rumah pacarku tentu saja. Aku harusnya tak terlalu berdisiplin dengan pembagian cara baca yang 100, lalu 100, dan lalu 100 selanjutnya itu. Aku seharusnya lebih bisa menceritakan Maya Dewi atau Adinda yang cantik-cantik serupa Dewi Ayu mama mereka, Shodancho, pemerkosa Alamanda, istri yang urung juga membuka celana dalam besinya dengan mantra sebagai kuncinya dan aku ingin sekali bertemu dengannya dan selanjutnya ikut-ikutan berlaku dingin seperti suatu ketika Kamerad Kliwon bersamanya berhari-hari di tengah laut. Tentang Halimunda dan tempat-tempat yang lainnya di CIL itu dengan aku menerangkannya dengan lebih bebas tanpa dibatasi oleh halaman demi halaman yang kubagi-bagi itu. Ini karena mungkin beginilah caraku membaca, bukan menceritakan kembali isi bacaan yang aku baca dalam bentuk tulisan seperti yang kalian baca sekarang ini.

Ada yang aku tunggu-tunggu dari telah beberapa hari ini kuketuk pintu gerbang dunia CIL: Cantik! Aku tak tahu dibagian mana dia menampilkan Cantik yang kumaksud. Aku sudah lagi tak sabar. Aku akan masuk paksa tanpa ketukan pintu ke halaman-halaman CIL dan melompat-lompat di halamannya menginjak-injak tamannya tanpa merusak konstruksi bunga-bunga dia atas CIL. Tak ada lagi potongan kecil karton hijau pembatas buku yang harus aku taruh di misalnya halaman 400 atau 500, seharusnya.

Sudah lebih setengah halaman CIL kudatangi. Telah kulewati pula kemasan rusak yang Faiz bilang waktu ia memberikan CIL itu dengan gratis padaku. Salah di percetakan? Hampir lupa, salah cetak atau editing ataukah salah penulis waktu aku hampir begitu lama terhenti membaca dan menyimak garis tinta hitam pulpen di sebuah kalimat, “Keempat anakku”. Mungkin Faiz yang menggaris tanda itu sebelumnya. (Halaman 14; percakapan Dewi Ayu dengan laki-laki yang menitipkan Rosinah anaknya pada Dewi Ayu untuk dipelihara sebelum mati saat ejakulasi di atas tubuh Dewi Ayu). Kutahu belakangan bahwa saat itu Dewi Ayu belum lagi melahirkan Cantik. Juga ketika di sebuah akhir dari percakapan mengangguku. (Halaman 392; pernyataan yang seharusnya milik kamerad Kliwon ketika Shodancho harus menangkapnya atas desakan para Jenderal). Mudah-mudahan bukan salah dia.

Sudah semakin kukenal pula karakter tokoh-tokoh utama yang diporsikan dia dalam CIL ini. Kadang aku jadi Shodancho, kadang jadi Maman Gendeng, suatu kali merasa jadi Kamerad Kliwon. Yang terakhir ini aku jadi ingat Salim dalam Atheisnya Achdiat Kartamihardja, seorang komunis cerdas yang tampil sebagai sosok laki-laki gagah, tenang, kharismatik sebagaimana halnya tokoh-tokoh heroik yang sering kukenal. Perbedaannya mungkin di CIL bahwa Kamerad Kliwon adalah komunis kaku yang digambarkan dia karena disiplin partai dengan ideologinya. Beda dengan Salim di Atheis yang lebih terkesan santai. Persamaan dari keduanya kupikir mungkin semacam selubung ideologis. Keduanya aktivis komunis. Tokoh lainnya yang kusebut barusan di atas seringkali lebih terasa mewakili perilaku seksualku ketika aku meleburkan diri sebagai mereka dalam babak-babak ranjang, sebagai konsekuensi tema besar yang salah satunya kuanggap, kucurigai sebagai hegemoni; kelamin. Ataukah gambaran itu memang representasi general perilaku seksual laki-laki umumnya?

Aku melihat Kamerad Kliwon akhirnya dekat dengan Adinda, adik Alamanda yang sempat dekat pula dengannya. Sampai di suatu ketika perjalanan di taman-taman CIL aku juga melihat tokoh pembantu macam Kamino penjaga kubur yang kehadirannya di awal seperti penambal CIL juga akhirnya berpacaran. Peran Kamino terasa menjadi yang bukan sebagai tambalan ketika kehadirannya relevan dengan pembantaian massal orang-orang komunis oleh orang-orang anti komunis pasca 30 September.

Kamis, 16 Januari 2003

Perubahan-perubahan di CIL terasa buatku begitu cepat. Masih ada tai. Juga masih ada kelamin disana. Tidak ada lagi 100 halaman pembagian. Juga belum ada bunyi-bunyian waktu CIL kugenggam. Kamerad Kliwon bunuh diri setelah sehari sebelumnya selingkuh dengan Alamanda. Tapi dia punya anak dan jadi tokoh sentral hingga akhir cerita, Krisan, anak yang bikin aku sempat menghardik sendiri dan untung tak ada orang lain di sebelahku. “Anjrit”. Dia mencintai untuk kasih sayang dan tubuh atas dua perempuan cantik Ai dan Rengganis sepupunya, anak bibinya, cucu perempuan Dewi Ayu. Rengganis si Cantik, putri Maman Gendeng dan Maya Dewi-pun dibunuhnya setelah diperkosa di toilet sekolah. Padahal aku ingin ikut memberitahukan ke ayahnya meski aku tak tahu siapa pemerkosa anaknya dan terkejut dengan kata ‘anjrit’ setelahnya. Itu agar aku ikut bersaing dengan Kinkin anak Kamino penjaga kubur yang juga mencintai Rengganis si Cantik. Ini ditambah lagi ketika ternyata pangeran yang menyetubuhi Cantik anak perempuan Dewi Ayu yang terakhir lahir dan buruk rupa itu tak lain adalah Krisan. “Anjrit”.

Luka adalah permissivitas dia dari gambaran sebuah pemahaman chaos, kekacauan hubungan badan (Inses) dan kerusuhan-kerusuhan di Halimunda sepanjang masa penjajahan kolonial hingga pasca 1965 ketika komunis dibinasakan, Hantu-hantu yang dicitrakan sebagai komunis menjadi punya makna ganda, hantu betulan dan hantu propaganda. Sense of humor dia boleh juga pikirku. Juga termasuk terakhir ketika anjing-anjing dibinasakan Maman Gendeng dan preman-preman yang menyangka Rengganis si Cantik diperkosa anjing betulan dan Halimunda kembali dilanda kekacauan.

Cantik. Kehadirannya terasa mengobati rasa penasaranku setelah sudah seperempat tebal CIL kujamah, mengetuk pintu dan lalu mengucapkan salam dan belum saja ia kukenal. Dia sengaja untuk mengkahiri dunia CIL ini pikirku untuk pemahaman yang lebih dalam meski konsekuensi kehadiran Cantik di CIL terlalu kecil porsinya. Cantik itu nama, sekaligus keadaan.

Ini soal pengakuan terakhir Krisan karena pertanyaan Cantik padanya; kenapa ia mau menyetubuhinya yang buruk rupa. Pengakuan itu terasa sebagai penegas inti dari keseluruhan isi cerita. Penegas bagi CIL yang taman-tamannya olehku terlihat gagah tapi yang bukan berarti selalu harus dikonotasikan sebagai sebuah keindahan.

Berarti sudah lima hari dengan hari ini aku mengunjungi dunia CIL. Kututup pintu belakangnya dan setelah itu menerbitkan bunyi-bunyi yang tak lagi pernah kudengar lama-lama karena kunjunganku ke CIL. Tarik napas dalam-dalam dan berkata dalam hati; aku selamat. Soal hegemonik-nya kelamin dan tai yang kupatri di kepala dari awal cerita memang tak bisa dengan begitu saja hilang dari sana. Aku lantas memaklumkannya setelah kubuka-buka folder komputer dan ada nama dia disana dengan sebuah judul; Sastra Itu Tai!

Aku ingat dia dalam sebuah perdebatan di milis dan aku masih menyimpan komentarnya yang aku copy dari milis itu. Tapi aku lupa tanggal posting e-mail itu. Perdebatan tentang penulis (saat itu melibatkan Saut Situmorang) dan orisinalitas karya yang sering diacak-acak oleh biasanya editor sebuah penerbitan. Perdebatan soal The Author is Dead. Berikut kutipannya;

Benarkah karya sastra seperti fiksi, puisi, atau esai punya otonomi sehingga gak boleh diubah?

Bung Saut, kalau kau mau silahkan acak-acak seluruh tulisanku. Aku gak bakalan marah. Peduli aja nggak. Paling bertanya-tanya, apa kau tak punya kerjaan lain?

Bagiku semua tulisan tak lebih dari tai (tulisanku maupun tulisanmu). Dipikir-pikir kau lebih mengerikan dari Islam fundamentalis yang takut kitab sucinya berubah. Selamat, mungkin sebentar lagi kau jadi Nabi dan orang-orang berkelahi memperebutkan,”Mana tulisan Saut yang paling asli?”

Sekali lagi, selamat atas pengangkatan sastra menjadi sesuatu yang suci! Sebentar lagi sastra bakalan jadi agama, mungkin. Huah, padahal yang sudah ada saja bikin jengkel belaka.

Bagiku tetap: sastra itu tai. Aku menulis seperti aku beol. (tau nggak, kadang-kadang tai juga bisa dijual?).

Cemara, Januari 2003

Menulis Sejarah, Membangkitkan Tokoh dari Kubur

Realisme Magis dalam Novel Cantik itu Luka

Oleh: Alex Supartono, Kompas

Dengan judul Cantik Itu Luka (CIL) dan desain sampul yang tidak memadai, kesan pertama yang muncul pada novel karya Eka Kurniawan ini adalah murahan. Namun demikian, kesan ini dengan cepat akan terbantah bila melihat ketebalannya. Novel debutan ini bahkan disebut-sebut sebagai yang terpanjang yang pernah ditulis dalam bahasa Indonesia, mengalahkan Arus Balik (1995) karya Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan dari usianya, Eka Kurniawan (1974- ) juga menggetarkan nyali para penulis kawakan yang hanya sibuk mengais karya lama untuk dijadikan antologi. Ketebalan memang tidak berbanding lurus dengan kualitas, namun kerja keras bagaimanapun juga layak mendapat penghargaan yang memadai.

Sejak terbit tahun 2002, banyak pembaca CIL memuntahkan kebingungannya. Dengan pembacaan yang tak terputus, ditengah senggalan tarikan nafas, mereka seperti dibingungkan oleh teks di hadapannya: cerita silat, folklore, roman sejarah atau kisah perjuangan. Ada pendekar penghabisan dan kutuk kencantikan dewi Rengganis, ada janda Boven Digul, Deli, Komunisme dan proklamasi. Semuanya ada, dicampur aduk dalam logika dan maju mundur secara kronologis. Begitu pula cara bertutur, kita diajak meloncat-loncat dari berbagai jejak tapak. Dari yang lokal, terasa hawa Pramoedya Ananta Toer dengan efisiensi bahasanya, dan sensasi eksplorasi dialog Indonesia dari Iwan Simatupang. Sebagai penterjemah sastra yang lumayan rajin, Eka membawa juga O. Henry, Chekhov, Gorky dan tentu saja barisan penulis Latin yang belakangan begitu populer di generasi penulis mutakhir Indonesia. Bahkan kita juga bisa rasakan Sidney Sheldon dan kawan-kawan popnya yang kinky.

Walau tampak jelas usaha keras mengakar pada sejarah dan tradisi, dalam CIL dominasi pengaruh penulis dalam negri belumlah berjaya. Dialog pendek-pendek yang terasa kelewat cerdas, sangat khas alur logis rasio Barat. Seperti dialog tokoh utama Dewi Ayu dan kakeknya, ketika ia tahu bahwa ayah ibunya kabur di suatu pagi: “Mereka petualang-petualang sejati,” katanya pada Ted Stammler/”Kau terlalu banyak buku cerita, Nak,” kata kakeknya./ “Mereka orang-orang religius,” katanya lagi. “Di dalam kitab suci diceritakan seorang ibu membuang anaknya ke sungai Nil.”/ “Itu berbeda.”/ “Ya, memang. Aku dibuang di depan pintu.” (hlm. 43). Perbincangan semacam ini tidak dihasilkan dari mereka yang lahir dan berpikir dalam bahasa di Nusantara ini, pun seandainya dibesarkan dalam pendidikan Barat (Bandingkan dengan dialog Minke dalam tetralogi Pram).

Sedangkan untuk bagian yang berkait dengan selangkangan, paparan Eka mengingatkan kita Nick Carter dan bacaan stensilan lain yang sangat mungkin pernah mampir semasa puber dulu. Tapi ini kali dipakai secara banal, liar, tanpa tunduk pada norma, sehingga terasa sebagai bagian keseharian yang lumrah, dan kehilangan kemesumannya. Atau dia begitu sensasional sehingga menjadi sureal. Seperti: … Di depan loket tiket, di bawah pohon ketapang, dua orang kekasih berciuman penuh nafsu tanpa memperhitungkan tempat dan waktu. Begitu panas ciuman itu hingga orang-orang yang menjadi saksi peristiwa tersebut kelak bertahun-tahun kemudian akan menceritakannya bahwa mereka melihat api menyala dari bibir keduanya…(hlm. 197)

Perihal berbagai gaya dan bentuk yang diaduk jadi satu ini, CIL memang sebuah penataan berbagai capaian sastra yang pernah ada. Seluruh referensi yang ada dalam bagasi penulisnya, hadir bercampur aduk membentuk mozaik konstruksi linguistik yang dinamis. Toh, nothing new under the sun, tinggal sejauh mana jalan yang sudah dibabat sebelumnya mau diteruskan.

Namun demikian, kalau melihat pilar-pilar penyangga utama bangun tutur dan cerita CIL, ditambah pohon silsilah tokoh utama Dewi Ayu di bagian belakang, sudah pasti kita akan terbawa pada Gabriel Garcia Marquez dan kawan-kawannya dari Amerika Selatan. Di mana deskripsi rasional realitas dipadu dengan deskripsi cara pandang lain atas realitas, yang selama ini dilewatkan karena dianggap `tidak rasional’, tidak logis, supernatural, dan tidak bersambut gayung dengan hukum alam. Perhatikan tiga kutipan di bawah ini:

Sore hari di akhir pekan bulam Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian….kuburan tua itu bergoyang, retak dan tanahnya berhamburan bagaikan ditiup angin dari bawah, menimbulkan badai dna gempa kecil, dengan rumput dan nisan melayang dan di balik hujan tanah yang bagaikan tirai itu sosok perempuan tua berdiri dengan sikap jengkel yang kikuk, masih terbungkus kain kafan seolah mereka dikubur semalam saja. (hal 1-2)

Dan langsung pada kutipan berikut:

…..Tiga tahun Republik berdiri, tapi Belanda masih dimana-mana. Lebih menyedihkan, republik ini harus kalah di semua perang dan semua meja perundingan…..Ia bertemu dengan Presiden Republik, sahabat lamanya, yang segera berkata kepadanya, “Bantulah kami memperkuat negara melancarkan revolusi.” `Itu memang kewajibanku. Ik Kom hier om orde te scheppen…. (hal 183)

Ditambah satu kutipan lagi:

…”Jika aku boleh berpendapat, dunia ini adalah neraka, dan menjadi tugas kita menciptakan surga” (hal 185)

Kutipan pertama bukanlah sebuah ilustrasi penggambaran sebuah detil untuk menciptakan suasana atau ketegangan tertentu. Namun kutipan itu adalah bagian dari cerita, bagan utama yang menjejak di setiap bagian dari 18 bab dan 517 halaman CIL. Deskripsi yang melawan keniscayaan biologis itu bukanlah sekedar metafor, tapi sebuah pembuka bagi pembaca, untuk selanjutnya mengikuti narasi dari periode tertentu sejarah Indonesia lewat Dewi Ayu, yang bangkit dari kubur itu, dan tokoh lain di sekitarnya.

Dalam kerangka inilah, detil sejarah bermunculan. Bagi yang cukup akrab dengan sejarah gerakan dan pemikiran kiri di Indonesia, tentu tidak akan asing dengan kutipan kedua dan ketiga di atas. Yang kedua adalah dialog terkenal dari Sukarno dan Muso, menjelang `Peristiwa Madiun’ ketika Muso baru kembali dari pelariannya di Moskow setelah kegagalan pemberontakan PKI tahun 1926-27. Kutipan ketiga adalah dialog antara Kliwon dan Kamerad Salim. Menggambarkan (salah satu) gagasan yang pernah diperjuangkan untuk jadi landasan Republik yang baru berumur 3 tahun itu. Bahwa surga di bumi adalah sebuah masyarakat tanpa penindasan, tanpa kelas.

Pun bagi mereka yang belum membaca CIL, melihat penggabungan di atas (antara yang kebangkitan dari kubur, Sukarno, Muso dan sosialisme), pastilah perlu penjelasan yang memadai. Apalagi kalau kita lihat banyak sekali detil sejarah bermunculan dalam karya ini (seperti tukang foto di sudut jalan yang ternyata adalah mata-mata jepang (hal 59), tentang penjara dan perkosaan), rasanya sulit membayangkan bahwa penulis memasukkan unsur-unsur semacam bangkit dari kubur itu, hanya dalam rangka kegenitan dan sensasi eksotis semata.

Menggabungkan antara dua hal yang selama ini dianggap `berlawanan’, antara perspektif rasional atas dunia, dengan penerimaan hal-hal yang `irasional’ sebagai bagian realitas keseharian, oleh para sarjana sastra barat dianggap sebagai perbaduan antara realitas (rasional) dengan yang magis. Dalam olah berkisah, pola ini lalu dsebut sebagai realisme magis. Sedangkan bagi Gabriel Garzia Marquez dan kawan-kawan, yang terbiasa dengan dukun, santet dan realitas supranatural lain dalam kesehariannya, secara sederhana mendeskripsikan fenomena penggabungan di atas dengan: “karya sastra yang ditulis sebagaimana kakek nenek kita dulu bercerita.”

Per definisi, realisme magis sudah menyeruakkan nuansa pertentangan dua pandangan dunia, antara yang rasional dan saintifik barat, dengan yang mistis asli/natif dari timur, antara yang dominan dan yang terpinggirkan. Dalam kerangka pasca kolonial, realisme magis hadir sebagai perlawanan. Lahir dari tanah-tanah bekas jajahan di Amerika Latin, dan juga di kalangan penulis aborigin, yang kerangka pandang `dunia’-nya dibangun oleh para imperialis.

Sebagai istilah, realisme magis datang dari wilayah lain, yaitu seni rupa. Pertama kali dipakai oleh kritikus Jerman, Franz Roh (dalam eseinya tahun 1925) untuk menggambarkan kembalinya perupa Jerman seperti Dix dan Grosz, pada bentuk-bentuk figuratif setelah satu dekade abstrak. Para perupa yang kemudian dikenal dengan nama neue sachlichkeit ini (ada yang menyebutnya pasca ekspresionis), bermaksud memotret aspek-aspek keseharian hidup dan obyek-obyek di sekitarnya yang aneh, misterius dan mungkin menakutkan. Bukan untuk memasukkan elemen fantastik dalam karya mereka, tapi lebih mau menunjukkan bahwa ada cara lain untuk melihat obyek-obyek keseharian.

Magis dibedakan dari mistik. Sebab misteri dalam mistik tidak diturunkan dari dunia yang mau direpresentasikan, tapi justru menyembunyikannya. Kalau penulis fantasi menolak logika dan hukum alam dengan mencantumkan hal-hal absurd dan supernatural, maka dalam realisme magis, seluruh konvensi realistik dalam fiksi diterima, tapi ditambahi dengan sesuatu yang tidak realistik ke dalam teks. Dalam realisme magis, elemen tersebut tidak digarisbawahi dalam rangka memberikan kejutan atau efek tertentu, tapi dirajut sedemikian rupa sehingga menjadi bagian yang menyatu dengan mulus dalam teks. Dia berada di antara wilayah fantasi dan realitas empiris. Keduanya diterima dan diperlakukan sejajar, sebab peristiwa-peristiwa yang fantastik dan supernatural, selalu berkait dengan dunia `nyata’, mengakar pada realitas yang dikenali lewat referensi sosial, historis dan politis.

Pandang dunia dan kesadaran penulis CIL, sudah berada dalam dua kategorisasi yang dibuat sarjana Barat tersebut. Sejak dongeng pertama yang diceritakan. Realitas yang diterima rasio (sebagaimana dikategorisasikan di sekolah) dan realitas yang `lain’ (hantu penjaga rumah, orang bangkit dari kubur, kesurupan, santet, tenun dll) sudah tidak dipertanyakan lagi kebenarannya. Keduanya saling mengisi sejak mula, dan mungkin sekali-kali bertabrakan untuk kemudian seiring jalan lagi. Karena itu, pengaburan batas realitas, yang sering dilihat (oleh sarjana barat) sebagai tujuan dari realisme magis ini, sudah tidak perlu lagi dilakukan. Benar atau tidak, percaya atau tidak, bukan lagi pertanyaan. `Realitas-realitas’ itu sudah ada bersama berdampingan sejak dulu. Karena itu, dalam konteks ini, Eka juga tidak bermaksud menggoncang kebiasaan umum dalam mempersepsi apa yang ada di sekitar, dengan mencampuradukkan antara makhluk kasar dan makhluk halus, antara hawa hangat dan hawa dingin. Tapi dengan memakai kondisi itu sebagai pijakan, Eka bermaksud menyampaikan dengan cara lain, periode sejarah tertentu yang dipotretnya.

Masuknya unsur-unsur magis dalam roman sejarah yang ditulis Eka ini dengan demikian menjadi tampak sebagai metode untuk mengangkat detil tertentu dalam sejarah yang selama diabaikan. Bisa karena tertutup oleh pembohongan sistematis sehingga menjadi kepercayaan buta (mis. Tetnang Peristiwa Madiun dan PKI), atau karena bias patriarki dalam penulisan sejarah sehingga abai pada banyak pokok penting, seperti peran perempuan dan pelacur misalnya. Dengan metode ini, penulis CIL menjadi leluasa memasukkan banyak hal dan gagasan baru pada periode sejarah yang jadi latar, kapan saja di mana saja. Misalnya lewat tokoh Shodancho, CIL menjelaskan mengapa pimpinan pemberontakan PETA Blitar, Soperijadi, menghilang dalam sejarah. Penjelasan yang sepintas mengada-ada dan sekedar mengikuti karakter penceritaan, tapi kalau diperhatikan inilah penjelasan yang paling masuk akal dan menyeluruh. Bahwa dia menghilang karena kecewa melihat perkembangan revolusi kemerdekaan yang diperjuangkannya.

Misteri dalam CIL juga tidak semata pencipta suasasana dan efek tertentu dalam narasi (seperti sinar putih yang berpijar dari tubuh Paula dalam cerpen “Makam Keempat”-nya Linda Christanty), tapi bagian inti dari cerita yang memungkinkan penulis mendapatkan landasan kuat untuk masuk ke banyak hal dengan bebas. Roman sejarah memang membuka kemungkinan mengatasi berbagai kebuntuan metodologis sejarah. Seperti banyak kritik yang dilontarkan sejarah lisan bahwa tuntutan sebagai disiplin (!) ilmiah memaksa para sejarahwan menyibukkan diri dengan kerumitan internal mereka dan menaruh barang sebentar atau malah melupakan sama sekali beban historis itu. Waktu mereka lebih tersita oleh segala peranti konseptual dan metodologis, menenggelamkan diri dalam dunia teks, arsip dan kronik, dan melupakan berkunjung pada sumber utama mereka: manusia-manusia sebagai pribadi dengan ingatan mereka.

Dalam kasus CIL, saya mencatat kesuksesan memilih tokoh perempuan pelacur Indo yang bangkit dari kubur sebagai pintu masuk, sekaligus sebagai kerangka utama. Kesulitan menciptakan karakter sefantastis, sekuat dan seradikal Dewi Ayu pada jamannya, tanpa terjebak stereotipi dan bias patriarki, diselesaikan dengan membangkitkannya dari kubur.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Kompas, 30/11/2003.

Novel Cantik, Namun Menyisakan Luka

Oleh: Nur Mursidi, Suara Pembaruan

Cantik Itu Luka, demikianlah Eka Kurniawan, sang pengarang, memberi judul pada novel pertamanya yang telah diterbitkan Desember tahun lalu atas kerja sama AKY (Akademi Kebudayaan Yogyakarta) dan penerbit Jendela. Sungguh satu judul yang bisa dikata cukup melankolis dan manis. Selain itu, ditulis oleh seorang pengarang yang namanya hampir tak pernah nongol di lembaran sastra koran minggu. Tampaknya tak berlebihan kalau kehadiran Cantik Itu Luka ini kemudian sempat membuat dunia sastra mutakhir Indonesia seperti dikagetkan saja.

Adanya kekagetan itu bukanlah tanpa alasan. Pertama, novel Cantik Itu Luka ternyata cukup tebal (517 halaman), apalagi jika kita menengok profil dari sang pengarang sebagai novelis pemula. Memang, alumnus Filsafat Universitas Gajah Mada ini, sebelumnya telah memulai debutnya menerbitkan antologi cerpen Corat-coret di Toilet (Aksara Indonesia; 2000) dan karya skripsinya dengan judul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (Aksara Indonesia; 1999). Tetapi, dua karya sebelumnya itu tetap tak bisa dijadikan tolok ukur untuk kategori novel, bukan? Kedua, Eka Kurniawan dalam novel Cantik Itu Luka ini, sepertinya sengaja melakukan pemberontakan dalam hal konvensi dan bentuk estetika yang diusung.

Tak pelak, ketika saya selesai membaca novel yang tebal itu seperti digagahi aneka macam dan melimpah ruahnya model estetika yang ditampilkan secara bersamaan. Ia seperti sengaja hendak tampil dengan inovasi baru. Ada warna surealis yang coba ditampilkan dengan berbagai absurditas yang sungguh membuat logika kita dipermainkan. Seperti halnya dalam pembukaan novel itu, yang ditampilkan Eka dengan kisah kebangkitan Dewi Ayu setelah 21 tahun meninggal dunia. Di sisi lain, kadang pengarang kelahiran Tasikmalaya ini cukup realis dengan menyisipkan fakta sejarah, meski acapkali ia tak peduli sama sekali dengan kebenaran sejarah (apa yang sebenarnya terjadi)-bisa jadi, mungkin ia berkeyakinan yang ditulis sungguhlah sebuah fiksi.

Kendati demikian, harus diakui kalau alur cerita yang dikembangkan ternyata punya bobot. Konflik batin dengan desir psikologis tokoh-tokohnya dan makna filosofis yang ingin disampaikan tampak jelas kalau tersirat dari judulnya. Setidaknya, lewat novel ini, ia seperti hendak bertanya; apa sih cantik itu? Lebih dari itu, satire atas berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini juga dikemas dengan olok-olokan yang halus namun cukup mengena. Sehingga, membaca novel ini, kita seperti melongok sejarah negeri kita di masa lalu dan masa kini dengan kebobrokan moral yang cukup akut, seperti soal kejamnya sebuah kekuasaan (rezim), keculasan politik, ekonomi serta masalah pelecehan seksual terhadap kaum hawa.

Rangkaian Cerita

Tersebutlah Dewi Ayu, sebagai seorang keturunan Belanda di zaman kolonial jadi wanita yang harus melayani nafsu seks tentara-tentara Jepang, karena ia kebetulan berwajah ayu. Namun kecantikan wajahnya, ternyata tak berpihak padanya untuk hidup bahagia sebanding dengan anugrah wajah ayu yang dimiliki. Justru, ia bernasib tragis. Seperti nasi telah jadi bubur, selepas merdeka, ia tetap jadi pelacur meski ia diakui sebagai pelacur idola di sebuah kota yang bernama Halimunda. Kehidupan itu dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak perempuan, yang semuanya cantik.

Namun, Dewi Ayu adalah sosok yang dikutuk Ma Gedik, seorang lelaki yang telah dipaksa mengawininya dan akhirnya memilih mati karena cinta sejatinya hanya pada Ma Iyang. Kutukan itu juga tak lepas dari sejarah kelam kakek Dewi Ayu yang telah menjadikan Ma Iyang sebagai gundiknya. Padahal, Ma Iyang telah berikrar sehidup-semati dengan Ma Gedik. Itulah yang membuat Ma Gedik akhirnya dendam pada Dewi Ayu sampai anak turunannya. Alkisah, akibat kutukan itu keluarga Dewi Ayu berantakan. Ketiga anaknya hidup tak bahagia, karena ketiga suaminya mati mengenaskan dan mereka jadi janda. Bahkan kutukan Ma Gedik juga menimpa cucu-cucu Dewi Ayu, Si Rengganis, Nurul Aini dan Krisan.

Untuk itu, ketika Dewi Ayu mengandung anaknya yang keempat, ia berniat untuk menggugurkannya. Namun, aborsi yang dilakukannya selalu gagal. Akhirnya, ia hanya bisa berdoa kalau anaknya akan lahir berwajah buruk. Dan itulah kenyataan yang terjadi -meski secara ironik setelah anak keempat itu lahir ia menamainya dengan nama si Cantik. Tapi, wajah si Cantik yang mirip moster itu tak lebih suatu kutukan paling kejam. Si Cantik terpaksa harus menjalani hidup di kamar, tak bergaul dengan teman sebayanya dan tak ada sekolah mana pun yang mau menerimanya.

Tapi anehnya, Krisan, keponakannya sendiri yang patah hati setelah ditinggal mati Nurul Aini, kemudian mencintai si Cantik dan mau bercinta dengannya. Tak salah, jika si Cantik tak habis pikir, heran dan ingin tahu. Sehingga ia bertanya pada Krisan, “kenapa kau menginginkan aku?” Dengan satu jawaban, akhirnya Krisan mau mengakui, “sebab cantik itu luka.” Jawaban itu tak lebih sebagai satire pengarang untuk sebuah pikiran filosofis akan makna kecantikan di balik wajah seorang perempuan!

Cantik yang Menyisakan Luka

Sekalipun novel Cantik Itu Luka ini berkisah tentang kehidupan Dewi Ayu yang bernasib tragis karena jadi pelacur yang dikutuk, alur cerita yang dikemas di dalamnya penuh dengan beragam peristiwa dan kejadian sejarah negeri ini yang diracik pengarang dengan bahasa yang enak dan cukup renyah. Selain itu, cukup cerdas juga pengarang menyelipkan peristiwa sejarah zaman kolonialisme Jepang, era kemerdekaan sampai tragedi pemberontakan komunis 1965. Tak salah, jika di sana ada cermin sejarah yang memang pernah terjadi di negeri ini. Tampaknya, itulah suatu gaya yang ditiru dari Pramoedya oleh pengarang novel ini, yang lulus dari Fakultas Filsafat UGM, dengan skripsi Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer (Suatu Tinjauan Filsafat Seni).

Meski novel Cantik Itu Luka ini bisa dikata cukup cantik, tetap tak lepas dari luka. Jika ada luka, hal itu tak lain soal estetika yang diusung. Pengarang tampaknya sama sekali tak perduli pada pakem dan tetap bersikeras untuk membuat inovasi baru. Hanya sayangnya, ia kurang cermat. Tak salah kalau dalam novel ini kita akan menjumpai fakta sejarah yang tak sepenuhnya lurus, logika yang dipermainkan dan absurditas yang tak masuk akal karena novel ini tak lepas dari nuansa horor.

Kendati demikian, sebagai sebuah novel, bisa dikata Cantik Itu Luka telah mencatat tonggak sejarah untuk prestasi yang diraih pengarang. Novel ini terbit dengan tebal 517 halaman yang membuat kita berdecak kagum. Karena dalam perjalanan novel Indonesia, Cantik itu Luka telah mencatat rekor baru sebagai novel paling tebal yang ditulis novelis pemula untuk kategori novel perdana.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Suara Pembaruan, 9/11/2003.

Pascakolonialitas dalam Novel Cantik itu Luka

Tetapi Kutukanku akan Terus Berjalan

Oleh: Katrin Bandel, Meja Budaya

Dalam eseinya “Air Bah dalam Novel ‘Cantik itu Luka’” di Media Indonesia 2 Maret 2003, tampak jelas kebingungan Maman S. Mahayana dalam menghadapi karya Eka Kurniawan itu. “Estetika model mana yang hendak dimainkan Eka Kurniawan dalam Cantik itu Luka?” tanyanya. Novel Eka itu bukan karya realis seperti karya Pramoedya Ananta Toer misalnya, tapi juga bukan karya eksperimental gaya Iwan Simatupang atau Putu Wijaya. Jadi karya apakah Cantik Itu Luka, dan di mana posisinya dalam peta sastra Indonesia?


Jawaban Maman S. Mahayana cukup tegas dan sepertinya tidak mau ambil pusing untuk berlama-lama mencari jawaban: karena bergaya realis bukan, bergaya eksperimental juga bukan, berarti ini adalah novel “ngawur”. Eka, menurut Maman, melakukan sesuatu yang tabu: Sejarah hanya pantas menjadi tema sebuah karya realis, dan di situ “fakta sejarah” mesti “dihormati”, dalam arti pengarang harus melakukan riset sebelumnya dan kebebasannya dalam menciptakan plot dan tokoh dibatasi oleh “fakta sejarah” tersebut. Sedangkan karya di mana logika umum tidak berlaku biasanya “latar waktu bisa terjadi kapan saja dengan lokasi yang juga bisa di mana saja. Dengan begitu, titik tekan pada gagasan atau pemikiran filosofis, bisa berlaku di sembarang waktu dan tempat”.

Memang selama ini dalam sastra Indonesia umumnya demikian. Eka mencampur-adukkan kedua kemungkinan itu, dan hal itu menurut Maman S. Mahayana “berakibat fatal”: Dalam sebuah cerita yang berlatar-belakang sejarah Indonesia dari zaman kolonial sampai sekarang, kita temukan kejadian-kejadian yang tidak masuk akal, penyimpangan-penyimpangan dari “fakta sejarah”, tokoh-tokoh yang aneh dan yang kelakuannya tidak logis menurut ilmu psikologi. Uraian Maman S. Mahayana tentang kombinasi realime dengan segala macam elemen yang “aneh-aneh” ini bisa saya ikuti dan saya setujui sepenuhnya. Hanya saja, sayang sekali saya tidak menemukan argumentasi Maman mengapa kombinasi semacam itu dianggapnya tabu alias apa alasannya menganggap novel Eka gagal. Apakah hanya karena tidak mampu menemukan “estetika model mana yang hendak dimainkan”?

Membaca kalimat pertama novel Cantik Itu Luka, kita seperti membaca sebuah pengumuman: INI BUKAN NOVEL REALIS (dalam arti: realis konvensional). Dalam sebuah novel realis konvensional tidak ada tokoh yang “bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian” (hal. 1). Tentu bukan kebetulan pengarang memilih adegan ini – yang bukan kejadian paling awal secara kronologis dalam Cantik Itu Luka – sebagai adegan pembuka novelnya.

Kalau kita meneruskan membaca, cerita segera menyeret kita, mengalir lancar penuh kejutan-kejutan besar dan kecil yang sering membuat kita tersenyum atau menggeleng-geleng kepala: Edan, masa’ seorang gundik bersama kekasihnya bercinta dengan gairahnya di atas sebuah bukit, ditonton orang-orang kampung dan orang Belanda, sebelum kemudian terjun dari bukit itu dan menghilang tanpa bekas (37-38 ); pada saat kota Halimunda – kota yang lokasinya tidak jelas tapi tempat berlangsungnya cerita – dalam keadaan genting pada awal Oktober 1965, pemimpin PKI Halimunda tidak mengkhawatirkan partainya, anak buahnya atau nyawanya sendiri, melainkan duduk berdiam diri selama berhari-hari di beranda markas PKI menunggu koran-korannya yang tidak sampai padanya seperti biasanya (hal. 315-27); mayat seorang gadis berlama-lama disimpan di bawah tempat tidur, tetapi tidak bau atau busuk melainkan harum (hal. 512). Banyak lagi kejadian-kejadian aneh dan menggelikan yang kita temukan dalam Cantik Itu Luka. Tetapi apakah benar seperti yang dikatakan Maman S. Mahayana, novel itu “mengalir deras” seperti “air bah”, tetapi “ngawur” alias “tak bermakna”?

Novel Cantik Itu Luka mengisahkan sejarah Indonesia, tetapi sangat jelas tidak dimaksudkan sebagai sebuah novel historis yang berdasarkan riset tentang sejarah tempat tertentu. “Fakta sejarah” yang digunakan adalah pengetahuan sejarah yang sangat umum tentang zaman kolonial, revolusi, G30S dan sebagainya, sedangkan peristiwa-peristiwa khusus sejarah Halimunda jelas-jelas karangan belaka. Dalam hal ini, pembaca tidak mungkin tertipu karena pembaca bisa diasumsikan memiliki pengetahuan dasar tentang sejarah yang cukup untuk mengenali elemen-elemen yang diambil dari sejarah Indonesia yang kita kenal, sedangkan sejarah yang dibuat oleh ketiga tokoh penting di Halimunda – kepala militer, kepala preman dan kepala PKI, ketiga-tiganya menantu pelacur Dewi Ayu – demikian aneh dan penuh kejadian yang tidak masuk akal sehingga langsung bisa dikenali sebagai permainan fiktif yang tidak berdasarkan “fakta sejarah”.

Mari kita lihat dengan lebih teliti “permainan” macam apakah yang dilakukan atas sejarah itu? Pertama, kita menjumpai peristiwa-peristiwa aneh yang kebanyakan berdasarkan kepercayaan pada hal-hal gaib dan kepercayaan rakyat lainnya, artinya pada apa yang umumnya kita sebut “tahyul” karena tidak sesuai dengan ilmu modern (Barat). Hantu-hantu berkeliaran dan diceritakan keberadaannya tanpa sedikit pun keraguan bahwa mereka itu sama nyatanya dengan tokoh-tokoh yang lain. Malah kadang-kadang agak “kelewat” nyata: Masa’ seorang hantu dapat dibersihkan lukanya dengan lap dan air, lalu diajak ngobrol dan minum kopi, sampai akhirnya hantu itu pamit dengan sopan untuk kembali “ke tempat orang-orang mati” (hal. 396). Berbagai kepercayaan rakyat terbukti “benar 100%”, tetapi sekaligus dibolak-balikkan: Misalnya, kita mengenal kepercayaan bahwa seorang perempuan hamil mesti memikirkan dan melihat yang baik-baik dan yang indah-indah saja, karena pikirannya akan mempengaruhi rupa dan sifat anaknya. Tetapi betapa menggelikan kalau kita membaca betapa Dewi Ayu justru melakukan yang sebaliknya, memikirkan segala sesuatu yang buruk dan menjijikkan karena ia mengharapkan anak yang buruk rupa. Dan lebih menggelikan lagi bahwa usahanya itu berhasil 100%, anaknya benar-benar menyerupai seonggok tai, dengan hidung seperti colokan listrik dan telinga seperti gagang panci (hal. 3).

“Permainan” kedua yang membuat karya ini tampak tidak realis sama sekali adalah penokohannya. Semua tokoh penting tampak aneh, perilakunya sering tidak meyakinkan secara psikologis, logika berpikir yang mereka gunakan menyerupai logika berpikir orang gila. Yang menunjukkan perilaku “normal” hanyalah orang-orang biasa yang diceritakan sambil lalu dan tidak diangkat menjadi tokoh.

Orang-orang aneh itulah yang menjadi tokoh penting dalam sejarah Halimunda: “sang Shodancho”, kepala rayon militer, kamerad Kliwon, pemimpin PKI, Maman Gendeng, kepala preman, dan ketiganya menjadi kerabat karena menikah dengan ketiga anak perempuan Dewi Ayu. Sejarah Halimunda ditentukan, atau paling tidak sangat dipengaruhi, oleh sifat dan tingkah mereka, baik-buruknya hubungan antara mereka, persoalan-persoalan rumah tangga mereka.

Permainan-permainan tersebut menciptakan semacam rasa “asing” terhadap sejarah: sejarah Indonesia seperti yang kita kenal dari buku-buku pelajaran sejarah dan sebagainya kita temukan tetapi dalam bentuk yang aneh dan hampir tidak bisa dikenali lagi. Hal-hal yang biasanya kita anggap “tahyul” tiba-tiba bersanding dengan apa yang kita kenal sebagai “fakta”, orang-orang “gila” menjadi pelaku utama sejarah, dan persoalan rumah tangga yang biasanya kita anggap tidak penting dalam dunia politik/sejarah menjadi begitu menentukan. Efeknya, kita heran dan geli: “Lho, sejarah Indonesia kok jadi begini!”

Maman S. Mahayana rupanya bukan saja heran, dia malah langsung mencap karya itu sebagai karya “gagal”. Tetapi apakah benar “pengasingan sejarah” yang dilakukan Eka Kurniawan ini sekedar “ngawur” tanpa makna sama sekali?

Membuat kita merasa asing terhadap sesuatu yang dalam kehidupan sehari-hari kita anggap wajar-wajar saja dan tidak kita pertanyakan merupakan sebuah efek yang tidak jarang ditimbulkan karya sastra. Hasilnya, atau katakanlah “untungnya”, atau “maksudnya”, apa yang tadinya kita anggap “sudah sewajarnya begitu”, kemudian kita pertanyakan lagi. Hal itu juga yang dapat terjadi pada saat kita membaca Cantik Itu Luka, tentu dengan prasyarat kita tidak langsung menolak segala sesuatu yang terasa asing tersebut.

Berasal dari manakah sejarah yang kita kenal sebagai “fakta historis” itu? Bukankah ditulis dan dibakukan manusia juga, sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri? Padahal sejarah yang kita bicarakan di sini bukanlah peristiwa yang terjadi ratusan atau ribuan tahun yang lalu, melainkan sejarah yang masih muda sekali, peristiwa-peristiwa yang dialami orang-orang yang masih hidup pada saat ini di Indonesia. Setiap orang dan setiap tempat mempunyai versi sejarahnya sendiri, dan versi-versi itu bisa saja menyimpang dari versi resmi, dan sudah pasti bercampur dengan segala macam peristiwa kehidupan pribadi orang-orang tersebut. Di samping itu, konsep “sejarah” apakah yang kita pakai? Bukankah aneh juga konsep sejarah di mana G30S yang diketahui penduduk (Halimunda) hanya lewat radio dianggap nyata, sedangkan gangguan arwah orang-orang komunis yang dirasakan penduduk secara langsung dianggap tidak nyata? Konsep sejarah ala Barat yang tidak mengakui hal-hal gaib/tidak terbuktikan secara ilmiah yang bercampur dengan konsep sejarah sebuah negara otoriter yang hanya mengakui sejarah versi dirinya sendiri, inilah yang dipermainkan – atau katakanlah dilawan – dalam novel Cantik Itu Luka.

Penulisan sejarah adalah bagian dari konstruksi identitas, semacam strategi budaya untuk memberi makna pada apa yang terjadi di sekitar kita. Penguasa sering menggunakan penulisan sejarah sebagai legitimasi kekuasaannya dan tindakan-tindakannya: Raja-raja zaman dahulu menggunakan silsilah untuk mensahkan diri mereka sebagai keturunan dewa-dewa atau orang besar (Iskandar Zulkarnain misalnya); penjajah mengkonstruksikan orang-orang pribumi sebagai orang lugu dan terbelakang, primitif, serupa anak-anak, yang tak dapat hidup tanpa “bimbingan bangsa yang lebih beradab”, yaitu bangsa penjajah itu sendiri; G30S dikonstruksi untuk mensahkan pembunuhan, pembuangan dan pelecehan jutaan manusia. Tetapi bukan penguasa saja yang berhak atas sejarah.

Saya teringat pada versi sejarah penjajahan Bali yang ditemukan Margaret J. Wiener sebagai bagian dari pengetahuan sejarah (oral) orang-orang Bali di Klungkung (Visible and Invisible Realms: Power, Magic, and Colonial Conquest in Bali, 1995). Menurut versi sejarah itu, Klungkung berhasil dijajah hanya dengan sebuah tipu muslihat yang licik: Keris dan senjata-senjata sakti lain milik kerajaan Klungkung kehilangan kesaktiannya setelah kena air kencing orang Belanda/mata-mata Belanda (dalam beberapa versi dikencingi secara langsung, dalam versi lain air kencing disamarkan sebagai air suci dari pura), dan dengan itu runtuhlah kekuatan Klungkung. Sejarah versi orang terjajah ini sangat penting sebagai bagian dari konstruksi indentitas: Bukan saja merupakan penceritaan kejadian historis itu dalam bahasa budaya mereka sendiri yang tentu jauh berbeda dari bahasa budaya penjajah, ia sekaligus memungkinkan untuk mempertahankan kebanggaan dan harga diri dalam keadaan kalah itu (“sebenarnya kita lebih sakti”) dan mengekspresikan kemarahan atas sebuah ketidakadilan (hanya dengan tipu daya Belanda berhasil menang).

Dalam kasus yang diangkat Wiener ini, ada versi sejarah yang seutuhnya Barat (versi penjajah), dan ada yang seutuhnya Bali. Menulis sejarah versi alternatif pada zaman sekarang tampaknya lebih rumit: versi buku sejarah, versi budaya lokal, versi pengalaman pribadi, semuanya sudah bercampur aduk dalam kepala manusia-manusia pascakolonial Indonesia. Versi yang seutuhnya “asli Indonesia”/”asli Jawa” sudah tidak mungkin lagi ditemukan atau diciptakan karena sentuhan konsep sejarah Barat sudah tak terbatalkan lagi – apalagi yang sedang kita bicarakan di sini adalah pengertian sejarah orang-orang berpendidikan model Barat yang menulis dan/atau membaca karya sastra modern.

Dalam situasi seperti ini, gaya “realisme magis” yang digunakan Eka Kurniawan dalam novelnya merupakan solusi yang cukup menarik. Dalam sebuah buku tentang sastra pascakolonial, kritikus sastra Inggris Elleke Boehmer menerangkan: “The fantastical or magic realist novel is believed to dramatize the split perceptions of postcolonial cultures, and so to undermine ‘purist’ representations of the world which have endured from colonial times. [….] Postcolonial writers […] now demand the prerogative of ‘redreaming’ their own lands” (Colonial and Postcolonial Literature, 1995, hal. 242). Cantik Itu Luka bisa dilihat sebagai sebuah penciptaan versi alternatif sejarah Indonesia dengan gaya mimpi atau gaya main-main. Tetapi bukan berarti Eka mencoba meralat sejarah resmi dan menggantikannya dengan versinya sendiri yang “lebih benar”. Sejarah versi Cantik Itu Luka jelas sebuah produk fantasi, bukan saja karena ia memang karya fiksi dan bukan studi sejarah, tetapi juga karena di tengah konsep sejarah yang plural dalam sebuah masyarakat pascakolonial seperti Indonesia ini, cerita fantastis yang membingungkan semacam itulah sejarah paling otentik yang bisa ditulis.

Walaupun seluruh novel penuh kejutan dan keanehan, pada bagian akhir kita jumpai sebuah kejutan yang lebih besar lagi, yang memberi makna pada keseluruhan cerita, tetapi sekaligus menimbulkan kesan menggelikan atau bahkan absurd. Setelah kita mengikuti jalan hidup Dewi Ayu beserta keempat anak perempuannya yang penuh kesengsaraan – suami/kekasih, anak dan cucu keempat-empatnya semua mati dengan cara yang mengerikan – kita mengetahui bahwa yang menyebabkan terjadinya seluruh tragedi itu adalah arwah Ma Gedik, laki-laki yang kekasihnya dirampas orang Belanda Ted Stammler dan dijadikan gundiknya. Dari hubungan incest anak gundik itu dengan saudara tirinya lahirlah Dewi Ayu dan pada keturunan Dewi Ayu sebagai keturunan perampas kekasihnya itulah Ma Gedik melampiaskan dendamnya.

Keterangan di bagian akhir novel cukup membingungkan. Logika seluruh “sejarah” yang sudah kita ikuti sampai saat itu adalah logika novel misteri murahan, arwah penasaran membalas dendam? Betapa menggemaskan!

Setiap konsep sejarah pasti memiliki teorinya sendiri tentang apa logika di belakang peristiwa-peristiwa historis. Yang tersirat dalam sejarah “versi resmi” seringlah logika “kemajuan”: makin lama kita/dunia/Indonesia makin maju, makin baik, makin demokratis … dan karena itu tentu penguasa yang sedang berkuasa selalu lebih baik daripada yang sebelumnya. Sedangkan logika di belakang sejarah dalam Cantik Itu Luka bisa kita interpretasikan sebagai logika pascakolonial: Dendam pribumi yang dirampas kekasihnya – tanahnya, budayanya, dunianya – tak juga terselesaikan, dan dendam itu menentukan jalan sejarah keturunannya sampai saat ini. Biarpun Dewi Ayu bersusah payah bangkit dari kuburan setelah mati selama dua puluh satu tahun untuk mengumpulkan kekuatan, lalu berhasil membunuhnya, sebelum lenyap menjadi asap roh pribumi yang marah itu menegaskan: “Kau berhasil membunuhku, tapi kutukanku akan terus berjalan”.

Pelacur Dibayar Uang, Istri Dibayar Cinta

Oleh: Raudal Tanjung Banua, Minggu Pagi

Membaca novel “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan (Aky Press-Jendela, 2003) kita akan bersua cinta membara di antara tokoh-tokohnya. Di tengah ”kegilaan” nilai-nilai seperti pelacuran, perselingkuhan, perang, pembanditan, dan kekuasaan, cinta menjadi sangat esensial, baik bagi ”muatan moral” – kalau memang pertanggungjawaban kepada publik pembaca masih mempertimbangkan unsur ini – maupun bagi jalan cerita secara keseluruhan.

Ya, karena cinta, sebuah ungkapan tanpa tedeng aling-aling mengalir dari kalimat Eka: ”Pelacur dibayar pakai uang, istri dibayar dengan cinta!”

Atau, dengarlah ucapan seorang tabib India ketika mengobati Ma Gedik- yang notabene sakit karena cinta- katanya pasti,” Hanya cinta yang bisa menyembuhkan orang gila!” (hal. 34).

Sementara ”kegilaan” itu terus berpusar di lingkungan para tokoh novel ini, seolah menisbikan nilai-nilai (yang normatif dan konvensional). Bayangkanlah, seorang lelaki, ayah Rosinah, menyerahkan anak gadisnya untuk ditukar hanya supaya dapat tidur dengan pelacur Dewi Ayu. Katanya,” Kau bisa menjadikannya pelacur atau mencincangnya untuk dijual sebagai daging kiloan di pasar,” (sungguh mengerikan, mengingatkan kita pada cerpen-cerpen Joni Ariadinata atau kegilaan Monte Cristo), lalu mereka bercinta, si anak menunggu tenang di luar, dan sebagai bayarannya si Rosinah yang bisu menjadi milik Dewi Ayu— awal ia menjadi pembantu yang patuh.

Mengapa di antara kegilaan semacam ini, sang ayah masih membutuhkan pelacur? Mengapa tidak langsung saja menyalurkannya secara insest kepada si Rosinah, biar kegilaan itu semakin genap-lengkap? Ternyata tak. Cinta menemukan perannya di sini. Demi cinta, seorang ayah masih menghargai anaknya secara seksual, bandingkan dengan banyak peristiwa di luar teks yang justru terjadi di tengah lingkungan sosial yang ”waras”. Memang, ada Raja Pajajaran yang jatuh cinta pada Putri Rengganis, anaknya sendiri, tapi itupun kemudian berakhir ”indah”. si ayah membatalkan niat gilanya.

Karena cinta pula, Ma Gedik yang terpasung — karena kesetiaannya — lantas mencabuli binatang ternak, karena itu ia dianggap gila ”sungguh-sungguh”, justru di tengah ”kegilaan” nilai-nilai — masih bisa menyanyikan kidung-kidung cinta yang indah, yang membuat banyak orang menangis karenanya. Nyanyian itu untuk menyambut kekasihnya, setelah 16 tahun masa penantian — dengan segala kesetiaan dan cinta — dan ia kemudian bertemu Ma Iyang kekasihnya itu, meskipun harus berakhir tragis (35-37).

Cinta juga membuat Maman Gendeng yang brutal, ganas dan menyimpan dendam, luluh ketika bertemu gadis mungil berlesung pipit bernama Nasiah. Seketika ia memutuskan akan menghentikan pengembaraan gilanya, dan bermimpi hidup berumah tangga dengan Naisah (ai, bukankah impian tentang rumah juga melambangkan kuatnya cinta di tengah kegilaan? Seperti juga Shodanco yang takut kehilangan janin bayinya). Bahkan, ketika Maman menghadapi Naisah untuk mengemukakan cinta, Maman Gendeng merasakan jauh lebih mengerikan daripada menghadapi pasukan Belanda. Cinta yang takut dan gemetar, kata orang, adalah perlambang cinta yang sebenar-benarnya. Dan Maman me-ngaku terus terang,” Cinta telah memberiku dorongan yang tak diberikan oleh apapun!” (hal 115).

Akan tetapi, karena cinta pula, Naisah si gadis mungil berani menolak Maman Gendeng si tuan Gerilya, sebab ternyata ia sudah memiliki seorang kekasih, meski seorang lelaki invalid. ”Tuan Gerilya, ijinkanlah kami saling mencintai dan tak ingin dipisahkan…” Maka, Maman Gendeng yang brutal dan mestinya bisa berbuat apa saja itu, luruh kedua kalinya, pergi, karena tak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka. (116) Sebuah penghormatan yang indah pada cinta. Dan kesakitan akan cinta, tidak membuat Maman menyerah, justru membangkitkan hasratnya untuk mencari cinta sejati.

Begitulah, bertahun-tahun kemudian, setelah menjadi orang penting di kelompoknya, bagai Che Guevara yang tak mau hidup di tengah kemapanan, ia kembali bersampan, mengembara (kali ini bukan lagi pengembaraan tanpa arah, seperti sebelumnya, melainkan pengembaraan yang punya orientasi: cinta sejati). Cinta sejati itu, diinterprestasikan dengan Putri Rengganis yang bagi saya tidak hanya berarti sosok fisik, namun juga metafisik, sekaligus bayang-bayang idealisasi.

Masih soal cinta, Dewi Ayu yang melacur, masih cukup meyakinkan ketika menghadapi permintaan kliennya si Maman Gendeng tadi. Katanya,” Aku bukannya tak percaya bahwa cinta itu ada dan sebaliknya aku melakukan semua ini dengan penuh cinta, bukan berarti aku kehilangan cinta.” (135). Dengan cinta, seorang pelacur membangun bargaining dan eksistensinya. Sebaliknya, atas dorongan cinta pula (bukan seksual belaka) Maman Gendeng tetap bertahan dan berupaya untuk mendapatkan Dewi Ayu, sampai akhirnya tercapai satu kesepakatan yang cukup sportif dan lugas: menjadi klien tunggal Dewi Ayu. Saya katakan bahwa kesepakatan itu bukan karena dorongan seksual, toh anak-anak Dewi Ayu yang lain tak kalah cantiknya, dan Maman bisa mendapatkannya kalau memang ibunya tidak mau— karena Maman memang berkuasa saat itu. Akan tetapi kegilaan itu tidak terjadi lantaran cinta mampu mengontrolnya.

Di sisi yang lain, Alamanda, anak Dewi Ayu juga tengah menunggu kekasihnya dengan kesetian yang penuh: Kamerad Kliwon. Ia bergeming menghadapi godaan Shodanco, sampai laki-laki berkuasa itu jatuh dan mengeluh, ”Adakah strategi gerilya untuk mengalahkan cinta?” (167) katanya lemah, padahal ia seorang mantan gerilya yang ulung bikin strategi. Begitulah, Alamanda yang binal dan sering membuat patah hati lelaki, justru sangat bersetia pada Kliwon, sementara Shodanco yang ulung menyerah pada ajaibnya cinta.

Persoalannya sekarang, adakah cinta di sini hakiki atau masih sebatas nafsu belaka? Adakah sebatas fisik, bukan menyentuh kedalaman? Tampaknya, ”cinta bergelora” lebih dominan ketimbang ” cinta yang mempesona”. Artinya, ungkapan cinta tokoh-tokoh di atas masih saja dibayang-bayangi ”urusan perkelaminan”, penuh nafsu, bergelora, berapi-api, membakar. Satu-satunya percintaan yang teramat menyentuh dan menggetarkan, yang tidak terburu-buru masuk dalam urusan ”perkelaminan” adalah percintaan Maman Gendeng dengan Maya Dewi — anak Dewi Ayu. Tidak saja karena Maya Dewi dinikahinya secara baik-baik, penuh restu dari ibu mertua, tetapi juga kesabaran Maman menunggu malam pertama — karena Maya Dewi masih sekolah. Dan ia tahan terhadap yang berbau umbar nafsu.

Seandainya percintaan dalam ”Cantik Itu Luka” sedikit steril dari ”cinta membara”, tetapi sedikit condong pada jenis ”cinta yang mempesona” maka ”cerita cinta” akan menjadi lebih merasuk dan sunyata, dan itu akan menjadi oase yang meyakinkan. Setidaknya akan tercapai hal-hal seperti ini: pertama, ”cerita cinta” menjadi sesuatu yang benar-benar disuguhkan secara sadar oleh pengarang sebagai sindiran atas tatanan masyarakat yang gila akan nilai dan norma-norma, tapi busuk dalam pelaksanaannya. Jadi, ada misi pencerahan dan penyadaran untuk melihat ke dalam, kepada tatanan.

Kedua, bagi pembaca fanatik (akan tatanan), novel ini boleh jadi dianggap sangat keterlaluan, lancang dan mengada-ada, karena penuh ”kegilaan”, sehingga ”cinta membawa” bakal menambah sengkarut itu. Sementara ”cinta mempesona” tidak saja mampu menetralisir suasana, namun sekaligus meyakinkan bahwa cinta mampu berperan besar dalam membentuk tatanan. Bukan sekadar meradang, setelah itu padam.

Cinta dengan demikian, tidak sekadar hiasan, tidak sekadar tempelan, tidak sekadar ”urusan perkelaminan”. Tapi ia menjadi lebih esensial: menjadi misi, menjadi soliloqui, bahkan ideologi. Namun, semuanya tentu berpulang pada pengarang, meski sebagai pembaca kita pun berhak pasang ancang-ancang.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Minggu Pagi, 28/6/2003.

Luka itu Mengalir Sampai Jauh

Oleh: Binhad Nurrohmat, Sinar Harapan

Membaca novel bagi pembaca bebas dan impresif, tak selalu, apalagi harus, mengejar kalimat pertama hingga terakhir hanya demi menggapai keutuhan yang serbapadu dari aneka unsur yang berhuni di dalam novel. Kadang justru bukan keutuhan itulah yang menyihirkan pesona dan mungkin juga justru bukan keutuhan itu yang sangat disengaja penulis sebagai incaran strategi estetika novelnya. Maka memaksakan keutuhan pada setiap novel menjadi sebentuk praktik penilaian yang tak adil dan melanggar kebebasan ekspresi estetik.

Sebaris kalimat singkat atau selarik ungkapan pendek yang bagus pada halaman kesekian dari sebuah novel sehingga menancap hebat dalam ingatan atau mendapat pencerahan dari bagian kecil cerita atau benang merah dari desain besar sebuah novel (bukan detail-detail kecil) pun sudah cukup meskipun ini tak selalu dapat ditemui pada semua novel.

Novel sah dianggap sebagai sepetak taman fragmentaris, bukan harus sebidang ruang integralis, tanpa harus berisiko kehilangan kekuatan kenovelannya (novelty) selama masih ada mutu (ber)ceritanya. Adakah eksistensi, hakikat dan muatan terpenting lain dari novel (sebagai teks sastra) selain kekuatan itu?

Demikian juga ketika membaca novel Eka Kurniawan Cantik itu Luka (AKYpress dan Jendela, Yogyakarta, 2002). Ketika bertemu novel ini saya tertarik bukan karena tebal halamannya (517 halaman, spasi sangat rapat, font huruf di bawah ukuran normal) tapi oleh citraan gambar sampulnya yang klasik, mooi indie, serta bahasa redaksional judulnya yang terasa enteng.

Kemudian saya buru-buru menduga akan menghadapi cerita panjang populer, kalem, sederhana, gampang ditebak jalan ceritanya dan mungkin juga klise isi cerita dan bentuk penulisannya. Tapi saya merasa sejenak agak tertipu oleh dugaan tentang novel itu setelah beres membacanya. Kenapa muncul dugaan tertentu setiap kali bertemu gambar sampul dan judul sebuah buku, meski tak selalu tepat, saya tak bisa membebaskan diri untuk tak mengulanginya lagi setiap bertemu dengan gambar sampul dan judul sebuah buku?

Bagian halaman awal novel ini membawa pembaca pada cerita yang tampil fantastis, ingin surealis, dan mungkin juga hendak mistis dengan sejumlah pendahsyatan dan pelanturan di sana-sini: Seorang perempuan pelacur bernama Dewi Ayu bangkit dari kubur pada akhir pekan bulan Maret setelah 21 tahun kematiannya dan proses kebangkitan itu menjadi tontonan gratis dan menggemparkan penduduk kampung sekitar.

Tapi tontonan itu kemudian berubah menjadi horor besar yang membuat, ”Seorang perempuan melemparkan bayinya ke semak-semak dan seorang ayah menggendong batang pisang. Dua orang lelaki terperosok ke dalam parit, yang lainnya tak sadarkan diri di pinggir jalan dan yang lainnya lagi berlari lima belas kilometer tanpa henti.” Dan seterusnya.

Pembaca bisa salah duga bila terlalu cepat mengambil kesimpulan bila berpegang gaya cerita di halaman pertama. Pada cerita selanjutnya ditemukan cerita yang tak diduga berupa munculnya unsur kesejarahan yang mengusung begitu banyak data, fakta, dan peristiwa nasional kita yang berhasil diceritakan secara lancar dan manis, nyaris seperti untaian dongeng seputar kedatangan bala tentara keenam belas dari Jepang, minggatnya para Belanda dari wilayah yang sudah dihuni ratusan tahun lamanya, dan gerakan kaum komunis di sebuah kota antah-berantah bernama Halimunda.

Unsur kesejarahan itu memakan sebagian besar halaman novel ini yang tampak membuat komposisi novel ini kurang pas, njomplang, atau terlalu bertele-tele. Meskipun dari situ tampak dengan jelas penulis novel ini pasti sangat baik mengusai data, fakta dan peristiwa sejarah itu sehingga bisa ”menceritaulangkan” dengan sangat nyaman dan wajar. Tapi saya merasa tahu, segala latar sejarah itu bukan ”misi” utama novel ini.

Desain besar novel ini sangat tragis: ”luka silsilah dan tercabiknya eksistensi” para manusia yang berlangsung turun-temurun yang menimpa sebuah keluarga laksana kutukan panjang menyakitkan, semacam lingkaran setan, sehingga mereka menjadi manusia-manusia dengan kecenderungan sangat bejat, sarkastis, brutal dan menakutkan yang kemudian menjadi bencana besar bagi keturunan Ted Stammler dan manusia-manusia lain yang menjalin hubungan kekeluargaan dengan keturunannya.

Sinopsis novel

Seorang lelaki Belanda bernama Ted Stammler mempunyai dua anak, Henri Stammler dan Aneu Stammler. Henri lahir dari Marietje Stammler dan Aneu lahir dari Ma Iyang. Saudara seayah dari dua ibu berbeda ini saling jatuh cinta dan melakukan inses sampai melahirkan orok yang dinamai Dewi Ayu. Dua sejoli ”larangan” itu lalu kabur ke Belanda dan meninggalkan orok itu di depan pintu rumah ayah mereka.

Dewi Ayu jadi pelacur pada zaman Jepang lewat latar belakang kisah panjang yang berliku dan menyengsarakan. Dewi Ayu menjadi pelacur terkenal lokalisasi Mama Kalong dan dianggap maskot kota Halimunda. Hampir semua lelaki dewasa kota itu pernah meniduri dia atau berangan mesum bersama dia.

Dewi Ayu melahirkan 4 anak perempuan (Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Cantik) dari para lelaki yang dikehendaki maupun yang tak dikehendaki.

Dewi Ayu pelacur ulung sampai-sampai dua menantunya pernah bersanggama dengan dia. Satu di antara dua menantu Dewi Ayu itu seorang tentara pada zaman Jepang yang biasa dipanggil Shodancho (kemudian jadi suami Alamanda). Shodancho itu pernah memperkosa Dewi Ayu sebelum dia menjadi menantunya dan juga memperkosa Alamanda sebelum menjadi suaminya.

Sedangkan Maman Gendeng, menantu yang lain, adalah mantan kekasih Dewi Ayu yang disuruh dia menikahi anak ketiganya, Maya Dewi. Maman Gendeng begundal terkenal kota Halimunda setelah membunuh preman kota itu, Edi Idiot. Sedangkan Adinda dikawini seorang komunis bernama Kamerad Kliwon yang mati bunuh diri setelah serong dengan Alamanda, tak lama sepulang dari penjara Pulau Buru. Kemudian Cantik, si bungsu yang buruk rupa itu, ketika mulai menstruasi sering disambangi sang pangerannya yaitu Krisan yang menyelinap masuk ke kamarnya lewat jendela dan bersetubuh hingga Cantik hamil dan melahirkan orok yang tak sempat hidup lama.

Dari Alamanda, Dewi Ayu mendapat satu cucu Nurul Aini (Ai), dari Adinda juga memeroleh satu cucu Krisan. Maya Dewi memberi satu cucu Rengganis si Cantik yang kemudian memberi seorang cicit dengan ayah si Krisan dan dari Cantik dianugerahi seorang cucu yang juga berayah si Krisan.

Kamerad Kliwon yang bunuh diri itu pernah dikirim ke Pulau Buru atas persetujuan Shodancho. Shodancho itu mati dicabik-cabik ajak di tengah hutan setelah anaknya mati dibunuh orang. Maman Gendeng moksa setelah melihat anak buahnya dibantai tentara dan anaknya juga mati terbunuh.

Keluarga itu dikutuk roh jahat Ma Gedik (kekasih Ma Iyang) yang sakit hati pada Ted Stammler yang merebut kekasihnya. Roh jahat itu memendam kesumat dan ingin mencelakai seluruh keturunan Ted Stammler.

Anak dan cucu Ted Stammler saling berzina sesama saudaranya sendiri, para menantu saling berbunuhan, dan cucu membunuh cucunya yang lain.

Semua itu terjadi dalam ”skenario” roh jahat itu. Dan setelah mendapatkan kemenangan, Dewi Ayu yang bangkit dari kubur setelah 21 tahun kematiannya berhasil membunuh roh jahat itu.

Peristiwa Inses

Novel ini begitu tangguh dan telaten membangun jalan cerita yang rumit dan kompleks dengan sejumlah latar sejarah yang luas dan fantasi yang absurd maupun surealis serta melibatkan banyak tokoh berkecenderungan kejiwaan dan tabiat bejat, skizofrenik dan tak terduga arah dan bentuknya.

Tapi harus diakui ada khilaf-khilaf berupa sejumlah detail kecil yang menyalahi tatanan hukum representasi, salah cetak dan defamiliarisasi realitas. Ini bukti yang berkali-kali terjadi bahwa ketelitian dan kecermatan penyunting sangat penting. Tapi khilaf itu tak akan menumbangkan eksistensi paling substansial novel ini. Pepatah setitik nilai rusak susu sebelanga tak bijak diterapkan untuk menilai novel. Sebab novel ini memiliki kompleksitas yang menawarkan aneka unsur intrinsik dan ekstrinsik yang hadir simultan dan sejajar harkatnya.

Novel ini potret kerusakan jiwa dan moral manusia akibat latar dan jalan sejarah kehidupan mereka yang ”sakit” dan itu berawal dari perbuatan kakek mereka yang merebut kekasih orang lain yang membuat orang yang direbut kekasihnya itu menebar kutukan jahat setelah kematiannya: ingin menghancurkan keturunan Ted Stammler.

Novel ini, di balik kecenderungan sarkastis dan kebejatannya serta fantasi, absurditas dan surealitasnya ternyata justru tak ingin bicara tentang kecenderungan an sich semua itu. Novel ini sangat moralis.

Peristiwa inses (perkawinan dengan keluarga dekat yang melanggar adat dan agama) dan pembunuhan oleh para keturunan Ted Stammler itu terbukti mendapatkan posisi yang tak terbela lewat sebuah ”logika” hubungan sebab-akibat cerita yang cerdas dan mistis: keberadaan roh jahat yang memendam dendam pada keturunan Ted Stammler dan mengarahkan mereka pada kehancuran.

Betapa naif kutukan panjang mengerikan itu: berawal dari sakit hati seorang lelaki yang kehilangan kekasih, sungguh sesuatu yang sangat profan. Dan kenaifan yang profan itu yang membuat saya memutuskan untuk mengenang novel ini: sesuatu yang ”biasa” yang tak pernah saya duga yang kemudian hadir menggores ingatan dan mengesankan saya karena kepiawaian novelis muda yang (semoga bakal kian) cemerlang ini mengolah gagasan cerita dan ekspresi bahasanya.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Sinar Harapan, 28/6/2003.

Kisah Si Cantik yang Buruk Muka

Oleh: Nur Mursidi, Jawa Pos

Eka Kurniawan, tampaknya sungguh-sungguh ingin menjadi seorang sastrawan. Setelah menerbitkan kumpulan cerpen dalam antologi Corat-coret di Toilet (1999), alumnus Fakultas Filsafat UGM ini tampaknya tak mau kepalang tanggung dengan merilis sebuah novel. Meski namanya belum begitu “terdengar” dalam belantara sastra, namun novel Cantik Itu Luka ini, begitu diluncurkan ke pasaran, tak berlebihan kalau membuat kalangan sastra sempat tercengang, kagum, dan bahkan hampir tak percaya.

Bagaimana tidak? Novel Cantik Itu Luka dengan tebal 517 halaman bisa dikatakan telah mencatat rekor baru dalam sejarah perjalanan novel Indonesia sebagai novel paling tebal yang dihasilkan sebagai karya perdana. Selain itu, lewat novel ini pengarang juga telah melakukan inovasi baru berkaitan dengan model estetika serta gaya penceritaan sebagai satu bentuk pemberontakan atas mainstream umum. Meski tak dipungkiri masih tampak kuatnya pengaruh dari realisme sosialis yang dikembangkan Pramoedya –sosok yang dikagumi dan sempat diangkat pengarang untuk sebuah skripsinya; Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer, Suatu Tinjauan Filsafat Seni.

Seperti cerita yang dikembangkan dalam Corat-coret di Toilet, novel ini tak kehilangan gaya khas Eka Kurniawan yang lugas, lancar dan terkadang dengan sense of humor yang tinggi. Bahkan, dengan cukup realis, pembaca dibawa memasuki sejarah bangsa dengan berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi, sebuah potret buram sejarah Indonesia dari masa kolonialisme Jepang hingga pemberontakan PKI.

Lewat novel ini, Eka dengan cukup cerdas dan cerdik mengisahkan nasib anak manusia dalam gelombang sejarah bangsa. Ia telah menjadi korban kekuasaan dan kutukan karma. Lebih dari itu, lewat tokoh-tokohnya, ia juga mencecapkan renungan filosofis yang disematkan pada absurditas kecantikan yang bertengger di wajah perempuan. Tetapi dengan nada ironis, pengarang memaknai kecantikan tak lebih sebagai keindahan sekaligus keburukan (luka).

Novel ini mengisahkan seorang perempuan cantik keturunan Belanda bernama Dewi Ayu. Akibat kekejaman kolonialis Jepang, ia ditawan dan dijadikan pelacur. Tak ayal, kemenangan Jepang atas Belanda telah mengubah nasibnya menjadi amat tragis. Begitu usianya menginjak delapan belas tahun dan kemolekan tubuhnya telah merangsang libido tentara-tentara Jepang, jadilah ia “menu daging segar yang renyah untuk ditiduri”. Di kamp tentara Jepang itu, setidaknya ia telah jadi saksi adanya tindakan biadab tentara Jepang terhadap kaum perempuan. Ia baru bebas ketika Indonesia merdeka.

Meski sudah merdeka, kehidupan buram yang dilakoninya sebagai pelacur ternyata tak juga urung diakhiri. Ia masih melanjutkan kariernya sebagai penjaja tubuh di kota kelahirannya, Halimunda. Bahkan, berkat kecantikannya yang tak tertandingi, ia jadi pelacur idola yang diburu setiap lelaki hidung belang. Selama bertahun-tahun, karier itu dijalaninya hingga ia punya tiga anak gadis. Semua berwajah cantik. Akan tetapi, kecantikan ketiga anak itu tak ubahnya sebuah pisau bermata ganda. Pada satu sisi merupakan anugerah, pada sisi yang lain kehadiran tiga gadis cantik itu sebuah petaka. Sehingga, akibat kutukan dan dosa yang ditanggung Dewi Ayu, ketiga anaknya jadi janda semua. Suami-suami mereka mati mengenaskan.

Untuk itu, tatkala ia mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Tapi, anehnya, ia malah menamai anak keempatnya itu dengan si Cantik. Dia juga bersyukur karena banyak orang mencemooh kondisi anaknya yang wajahnya mirip monster itu. Karena dengan cemoohan itu diharapkan bisa menghilangkan kutukan yang diterimanya selama ini.

Meski buruk muka, si Cantik justru dicintai Krisan, yang tak lain keponakannya sendiri. Bagi Krisan –yang pernah patah hati–, cantik itu ternyata tak lebih sebuah luka. Sehingga tak ada bedanya mencintai si buruk atau si cantik.

Membaca novel ini, kita dibawa ke mana-mana. Hampir semua peristiwa yang dikisahkan ibarat sebuah kaca prisma, yang membiaskan semuanya bisa saling bertabrakan. Itu tak lain karena pengarang kurang cermat dan seolah-olah mau bercerita dengan kemauannya sendiri tanpa mempertimbangkan logika dan fakta sejarah. Tak heran, absurditas yang tak masuk akal seperti dijungkirbalikkan dalam kerangka estetika yang asal comot. Sehingga membuat pembaca bertanya-tanya. Misalnya tentang kebangkitan Dewi Ayu yang telah mati selama dua puluh satu tahun.

Kendati demikian, novel yang coba mengangkat setting sejarah kota Halimunda ini dengan rentetan peristiwa penting bangsa, tetap layak untuk mendapatkan apresiasi. Meski di dalamnya Eka juga mengumbar kata-kata jorok, setidaknya karya pertamanya yang cukup tebal dan membuat pembaca bisa lelah memelototi huruf-huruf yang kecil –dicetak dengan ukuran 10 karakter–, tampaknya masih memiliki kekuatan pada percikan pemikiran filosofis yang hendak dicecapkan pada pembaca, yakni absurditas sebuah kecantikan.

Tulisan ini pernah diterbitkan oleh Jawa Pos, 1 Juni 2003.

Horison, Maret 2003

Inilah sebuah novel berkelas dunia! Membaca novel karya pengarang Indonesia kelahiran 1975 dan alumnus Filsafat UGM ini, kita akan merasakan kenikmatan yang sama dengan nikmatnya membaca novel-novel kanon dalam kesusastraan Eropa dan Amerika Latin. Kecakapan Eka mengisahkan kejatuhan sebuah keluarga incest dengan titik pusat pengisahan pada tokoh Dewi Ayu (lahir dari ayah Belanda dan ibu Nyai) dalam gaya berkisah yang dengan enteng mencampuradukkan realisme dan surealisme, mengawinkan kepercayaan-kepercayaan lokal dengan silogisme filsafat yang membobol semua tabu, dan memberikan hormat yang sama pada realitas sejarah dan mitos, merupakan pencapaian luar biasa mengingat novel ini merupakan novel pertamanya. Di akhir masa kolonial sebuah Suratan yang aneh memaksa Dewi Ayu, seorang perempuan elok, memasuki kehidupan yang tak pernah dia bayangkan: menjadi pelacur. Kehidupan sebagai pelacur terus dijalaninya sampai ia memiliki tiga anak gadis yang cantik. Ketika ia mengandung anaknya keempat ia berharap anaknya buruk rupa. Itulah yang terjadi. Si buruk rupa itu ia beri nama si Cantik. Sebagaimana layaknya novel-novel kuat, tokoh-tokoh dalam novel ini perkembangan karakter dan fase hidupnya dikawal dengan teliti dari awal hingga akhir sehingga kemungkinan terjadinya desepsi dan akronisme peluangnya tertutup sama sekali.

Horison, Maret 2003

Cantik itu Dilukai

Oleh: Muhidin M. Dahlan, Media Indonesia

Dewi Ayu, si pelacur cantik di era kulit kuning mata sipit, terluka oleh lahirnya tiga anak haram yang cantik-cantik. Kecantikannya dan juga kecantikan tiga orang anaknya telah membawa malapetaka bagi generasinya. Karena itu, ia mengutuknya. Ia berdoa –tepatnya memaksa yang ada di langit sana– agar anak keempat yang ada dalam rahimnya buruk rupa. Dan doa itu terkabulkan. Wajah bayi itu buruk rupa. Ironisnya –atau penuh kebanggaan– Dewi Ayu memberinya nama Cantik.

Tetapi, Cantik Itu kini dilukai, bukan oleh kecantikan tiga dara, melainkan oleh sebuah artikel Maman S Mahayana di MIM (2/03/2003) yang bertitel: “Air Bah ‘Cantik Itu Luka'”. Ia dilukai karena tidak manut terhadap hukum sejarah (formal), inovasi yang hanya sekadar berbeda, tak memiliki landasan estetika yang kukuh karena itu jatuh pada kubangan main-main yang ngawur.

Sepintas, apa yang dikatakan Maman itu tampak benar dan memberi semacam justifikasi bahwa novel ini adalah novel gagal dari seorang “pemula” bernama Eka Kurniawan. Maman menjustifikasinya dengan memakai hukum estetika formal-strukturalistik. Dengan memakai hukum itu, novel ini memang tampak kedodoran dan hanya sekadar sampah yang kebetulan sangat gemuk untuk sebuah keranjang aliran yang sudah ada. Tetapi, cuma itukah arsip hukum untuk membaca sebuah novel, tepatnya novel ini?

Sesungguhnya masih banyak cara. Dan ketika saya menyelesaikan bacaan kedua kalinya, saya menemukan bahwa Cantik Itu lahir untuk merayakan chaos.

Chaos, ditilik dari genealoginya, lahir dari rahim Thermodinamika Kedua yang menyatakan bahwa kosmos ini bergerak menuju kekacauan dan akhirnya hancur. Sudah lama pertanyaan ini mengusik para ilmuwan dan filsuf. Evolusi kehidupan yang menuju pada kebaikan sama sekali bertentangan dengan hukum thermodinamika.

Ilya Prigogine lalu berusaha menjawab pertanyaan ini dan maraih Nobel. Dengan bukti-bukti matematik yang kukuh, Ilya Prigogine, sebagaimana dikutip Fritjof Capra, mendaraskan bahwa keteraturan justru muncul dari ketakteraturan, kehidupan justru lahir dari entropi.

Inilah yang Prigogine sebut dengan “dissapative structure“. Ketika ada empat macam bahan kimia dicampurkan pada piring percobaan pada suhu dan kondisi tertentu, lalu diguncangkan, maka dengan sangat cepat, campuran itu menata diri menjadi struktur gelombang yang konsentrik dan spiral, menyebar dan berbaur pusing dengan keteraturan seperti jam, dan terjadi perubahan warna pada interval yang tepat. Jika sistem itu bisa bertahan, maka dari titik kehancuran ini (Prigogine mengistilahkannya “the bifurcation point”) akan menghasilkan pola-pola baru. Dari chaos muncul sistem yang baru. Pola dissipative structure tersebut sesungguhnya bisa diterapkan pada pelbagai sistem; sejak sistem konkret seperti otak manusia, organisme, atau ekosistem, sampai sistem abstrak seperti agama, ideologi, filsafat.

Juga, tentu saja untuk novel ini.

Cantik Itu merupakan campuran dari pelbagai gaya pemikiran yang memang menjadi minat penulisnya selama ini: surealisme-sejarah-filsafat. Maka kita bisa mencium bau aroma Franz Kafka–juga Gabriel Garcia Marquez–dalam novel ini. Bahkan, sejak paragraf pertama: Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. (Bandingkan dengan paragraf pertama The Metamorphosis-nya Kafka: Kala Gregor Samsa terjaga di suatu pagi dari mimpi-mimpi buruknya, dia menemukan dirinya berubah menjadi seekor kecoa yang menakutkan).

Aroma penulis roman sejarah, Pramoedya Ananta Toer, juga tercium tajam, khususnya ketika novel ini melakukan kilas balik sejarah menjelang dan pascakemerdekaan RI di sebuah kota kecil bernama Halimunda.

Tetapi, pengarang tidak mencomot begitu saja pola yang menjadi minatnya itu. Namun, pola-pola yang ada itu diguncangkan menjadi sebuah chaos. Sejak bagian pertama hingga bagian lima belas, kita disuguhi oleh semangat chaos ini. Logika formal kita ditapis sedemikian rupa. Kehidupan sehari-hari dan segala citra yang mengikutinya diteror tanpa ampun. Sejarah positif anutan para akademisi direduksi habis-habisan dan diguncangkan.

Dewi Ayu dalam novel ini miriplah sosok turbulens–meminjam istilah James Gleick dalam Chaos: Making a New Science–menarik benda-benda yang dipengaruhinya dan kemudian melepasnya atau mengaduk-aduknya secara acak.

Lewat tokoh Dewi Ayu, tokoh-tokoh “dipaksa” mengumpul dan diaduk-aduk. Lewat tokoh sentral ini, citra tentara yang hero, gagah, dan hampir tanpa cacat–sebagaimana tokoh Shondancho–ditelanjangi habis-habisan dan dipaksa tunduk di bawah selangkangan seorang dara cantik (Dewi Ayu dan anaknya, Alamanda). Begitu pula preman yang mangkal di terminal kota yang tak terkalahkan yang bernama Maman Gendeng (maaf, ini bukan Maman Mahayana yang melukai Cantik), bolak-balik hidup di antara situasi obskuran dan terang hanya gara-gara pesona paras dan lubang yang dimiliki dara cantik Maya Dewi. Bahkan, tokoh komunis karismatik, Kamerad Kliwon, juga tertawan oleh pesonanya Adinda, sang dara.

Cantik Itu ingin memperlihatkan sebuah bentangan chaos budaya: suatu situasi terjadinya fluktuasi yang ekstrem, terjadinya pertentangan nilai-nilai yang tidak dapat diselesaikan (sampai hari ini baik-buruk profesi seorang pelacur masih menggantung dalam sawala), terjadinya tumpang tindih makna yang tidak bisa dipahami (cantik itu buruk rupa), terjadi pemutarbalikkan tanda (bahwa susu beruang, tukang foto keliling, mi bakso…, mengikuti imajinasi pengarangnya, memang sudah ada sejak dahulu), terjadi distorsi-distorsi (sejarah kemerdekaan dan sesudahnya bukan lagi sejarah yang tertata secara formal, melainkan telah meloncat dalam distorsi (metahistoris); yang menjadi catatan di sini adalah bahwa Eka Kurniawan bukan sosok sejarawan, melainkan sastrawan, karena itu ia tidak melakukan dosa akademik ketika, misalnya, mengatakan bahwa Hari Kemerdekaan bukan 17 Agustus, melainkan 23 September).

Tetapi, chaos bukan destruksi, sebagaimana yang dikatakan Prigogine. Yang lahir setelah chaos adalah orderitas. Setelah revolusi sosial, lahir sebuah tatanan baru. Kehidupan yang terang selalu lahir dari goncangan.

Begitu pula Cantik Itu Luka. Toh, kondisi chaos itu hanya terentang pada lima belas bab pertama. Tetapi, tiga bab terakhir, setelah bab pengakuan Krisan, kita kembali masuk ke dunia real ke tatanan baru. Setelah bab pengakuan, teror nalar dan perontokan sejarah formal yang menggebu-gebu kembali lagi ke orderitas.

Lalu hikmah apa yang bisa kita kais dari chaos kompleks yang ditampilkan novel gemuk ini? Setidaknya dua: (1) agar kita, para pembaca, selalu berada dalam wilayah kewaspadaan dan rasa awas yang tegar, sehingga tidak terpanggang begitu saja oleh kebenaran yang dilahirkan citra; dan (2) kekalahan semua tokohnya dalam memperebutkan hak moral dan hak sejarah yang pantas, mengajarkan arti sebuah kerendahan hati untuk sadar akan kekuatan diri dalam gelombang besar masyarakat.

Maka, saya bertanya kembali kepada Maman Mahayana, apanya yang ngawur dari novel gemuk yang memesona ini? Thermodinamika Klasik memang tidak salah, sebagaimana pandangan Maman tidak keliru. Tetapi, mungkin agak tertutup karena membaca novel dengan kacamata yang agak seragam dan memaksakan mengikuti hukum analisis dan kotak aliran (sastra) yang sudah (di)ba(ng)ku(kan) di ruang akademis. Padahal, masing-masing novel punya kekhasan dan cara baca tersendiri.

Ternyata, Cantik Itu tak hanya luka, tapi juga dilukai oleh kacamata baca kita yang kelihatannya benar-benar tepat, tapi sebenarnya belum tentu demikian.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Media Indonesia, 16 Maret 2003.