Publishers Weekly Review: Beauty Is a Wound

At the beginning of this English-language debut from Indonesian author Kurniawan, Dewi Ayu, who was once the most respected prostitute in the fictional coastal town of Halimunda, rises from her grave after being dead for two decades. She’s returned to pay a visit to her fourth daughter, Beauty, who is famously ugly. What follows is an unforgettable, all-encompassing epic of Indonesian history, magic, and murder, jumping back to Dewi Ayu’s birth before World War II, in the last days of Dutch rule, and continuing through the Japanese occupation and the mass killings following the attempted coup by the Indonesian Communist Party in the mid-1960s. Kurniawan centers his story on Dewi Ayu and her four daughters and their families. Readers witness Dewi Ayu’s imprisonment in the jungle during the war, a pig turning into a person, a young Communist named Comrade Kliwon engaging in guerrilla warfare, and a boy cheating in school by asking ghosts for help. Indeed, the combination of magic, lore, and pivotal events reverberating through generations will prompt readers to draw parallels between Kurniawan’s Halimunda and García Márquez’s Macondo. But Kurniawan’s characters are all destined for despair and sorrow, and the result is a darker and more challenging read than One Hundred Years of Solitude. There is much physical and sexual violence, but none of it feels gratuitous—every detail seems essential to depicting Indonesia’s tragic past. Upon finishing the book, the reader will have the sense of encountering not just the history of Indonesia but its soul and spirit. This is an astounding, momentous book. (Sept.)

From Publishers Weekly, 8 June 2015.

Ketika Kecantikan Terluka

Oleh: Bagus Purwoadi, Aksaraloka

Bermula dari komentar di sampul belakang novel: “It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor…..”-Benedict R. O’G Anderson, New Left Review, saya mulai membaca novel Eka Kurniawan: Cantik itu Luka. Ya, Pramoedya, sepertinya, memang sering dijadikan sebagai patokan untuk menilai seberapa bagusnya sebuah karya sastra lokal—dan menurut saya itu pantas. Sekarang bagaimana dengan Cantik itu Luka-nya Eka Kurniawan?

Bagian pertama, saya dikejutkan oleh kisah seorang pelacur yang bangkit dari kubur! Wah! Apa-apaan ini! Mistisisme? Takhayul? Pada mulanya saya kira ini adalah novel sejarah. Bagaimanapun, Pram dan sejarah itu tidak bisa dipisahkan, sedang Pram dan takhayul itu, sebaliknya, tidak bisa disatukan, bagaikan minyak dan air! Saya kira penulis review di atas ngawur! Tapi tunggu! Eka Kurniawan menuturkan kebangkitan sang pelacur dari kematian seperti ia bercerita tentang kambing tetangga sebelah yang beranak cempe berkepala dua. Aneh, ajaib, tak wajar, tapi ada, dan tak perlu jadi takhayul, tak perlu dituturkan secara berlebihan, dan menjadi sassus yang menyesatkan, anggap saja itu sebagai sirkulasi menyimpang dari kehidupan, agar tak jenuh. Dan semakin lama, gaya tuturnya semakin membuat saya terpaku.

Di dalam novel ini ada seorang pelacur cantik jelita yang telah bercinta dengan seratus tujuh puluh dua lelaki di sepanjang hidupnya! Pelanggan tertuanya berumur sembilan puluh dua, dan yang termuda dua belas tahun—yang belakangan ini bercinta dua minggu setelah disunat. Lalu ada seorang gadis buruk rupa yang diberi nama: Cantik, kelahirannya serupa onggokan tai yang keluar melalui lubang yang berbeda letak, barang beberapa senti. Hidungnya seperti colokan listrik, dan kulitnya sehitam jelaga. Ketika dewasa, ia bersenggama dengan pria tampan yang jera pada kecantikan. Kemudian, ada preman yang mampu berkelahi tujuh hari tujuh malam, kebal senjata dan mati dengan cara moksa. Ia jatuh cinta pada seorang pelacur, tapi kemudian menikahi putri si pelacur yang masih bocah, setelah cintanya ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Ada pelanggan seks komersial lanjut usia yang membayar layanan seks dengan putrinya yang bisu, dan mati di atas ranjang setelah orgasme. Ada penggali kubur yang menikah dengan seorang gadis yang terobsesi pada arwah ayahnya. Ada hubungan incest, ada sadomasokis, ada pedhophilia, ada hantu-hantu komunis yang bergentayangan. Cantik itu Luka adalah perayaan atas ambruknya nilai-nilai keindahan. Lalu di mana Pramoedya-nya?

Saya tidak menemukan “Pramoedya” sebelum beberapa tokoh dalam novel ini tampil dengan maksimal. Tokoh-tokoh yang tampil maksimal! Inilah yang membuat Benedict R. O’G Anderson membandingkan Eka Kurniawan dengan Pramoedya. Seperti halnya teknik penokohan Pramoedya yang tidak hanya “menghidupkan” Minke—tokoh utamanya, dalam Tetralogi P. Buru, Cantik itu Luka memiliki teknik penokohan yang juga kuat. Eka Kurniawan begitu rajin membangun latar belakang, dan karakter tokoh-tokohnya. Setiap tokoh memiliki ceritanya masing-masing, dan dapat berdiri sendiri-sendiri.  Plot cerita maju-mundur , khas Tetralogi P.Buru, disampaikan dengan perpindahan alur yang halus.  Titik perpindahan alur cerita tidak selalu sama, kadang disisipkan ketika terjadi interaksi antar tokoh satu dengan yang lainnya, kadang ketika penulisnya menjelaskan perihal latar belakang (sejarah) tempat di mana kisah ini terjadi. Tokoh-tokohnya tuntas, demikian pula dengan latar belakang tempat, sebuah kota fiktif yang bernama Halimunda, beserta sifat-sifat masyarakatnya.

Cantik Itu Luka mengingatkan saya pada ironi yang selalu hadir mendampingi sang kecantikan itu sendiri. Ia—kecantikan, tidak hanya membawa kebahagiaan dan kebanggaan, ia pun juga (seringnya) membawa luka, dan duka. Kecantikan yang luar biasa itu selalu menghunuskan pisau, kata Acep Zamzam Noor. Dan pisau itu dipatahkan oleh Cantik itu Luka. Dalam novel ini, kecantikan, dan keindahan, dibombardir oleh kekejian, dan keburukan yang menjijikan. Kecantikan yang agung dan selalu dipuja-puja, disandingkan dengan keburukan, yang selalu dicacimaki. Ini seperti, membalas dendam pada sang kecantikan yang angkuh dan selalu menghunuskan pisau tersebut.

Nah, barangkali saja, sebagian dari Tuan dan Nyonya, secara tidak sadar ternyata mendendam pada kecantikan, Cantik Itu Luka akan mengiringi anda untuk tertawa keras-keras. Merayakan kekalahan dari si angkuh yang selalu menghunuskan pisau itu. Karena Cantik itu luka. Dan yang terluka, kini berhak untuk tertawa, karena kecantikan telah merasakan bagaimana rasanya terluka.

Perjuangan Terbelenggu, Kecemasan Alamanda

Makalah ini judul aslinya adalah “Sebuah Analisis Psikologi Sastra: Perjuangan Terbelenggu, Kecemasan Alamanda dalam Cerpen Dongeng Sebelum Bercinta Karya Eka Kurniawan“. Ditulis oleh Avesina Wisda Burhana, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Makalah ditulis pada 2 Januari 2012.

Makahal bisa juga diunduh di arsip Scribd saya.

Estetika Kritik Populer

Oleh: Surli Tania

Sinopsis

Novel Cantik Itu Luka berlatar pada masa pendudukan Belanda di Indonesia hingga masa setelah kemerdekaan. Novel ini bercerita tentang seorang gadis Indo-Belanda bernama Dewi Ayu. Dewi Ayu adalah seorang anak yang cerdas, memiliki rambut hitam panjang, kulit putih, dan mata biru. Saat desanya, Halimunda, dikuasai tentara Jepang, Dewi Ayu dipaksa menjadi pelacur karena kecantikannya, dan pekerjaanya sebagai pelacur berlanjut hingga akhir hayatnya.

Dari pekerjaannya tersebut, Dewi Ayu dikaruniai 3 anak perempuan yang mewarisi kecantikan ibunya yang kesemuanya tidak diketahui siapa bapaknya. Dewi Ayu beserta ketiga anaknya kerap menemui tragedi dalam kehidupan mereka yang diakibatkan kecantikan yang mereka miliki. Dikarenakan hal tersebut, pada kehamilannya yang keempat, Dewi Ayu berharap anak bungsunya terlahir buruk rupa agar tidak mengalami tragedi yang sama seperti yang dialami ibu dan kakak-kakaknya, dan doa tersebut dikabulkan Tuhan; anak bungsunya terlahir buruk rupa dan ia beri nama Cantik.Walaupun terlahir buruk rupa, kehidupan Cantik tetap dipenuhi tragedi seperti yang dialami ibu dan ketiga kakaknya. Bagi Dewi Ayu dan anak-anaknya, cantik bukanlah anugerah tapi cantik itu luka.

Latar Belakang

Novel yang dipilih penulis sebagai tugas akhir mata kuliah Estetika berupa kritik sastra adalah Cantik Itu Luka yang ditulis tahun 2004 oleh Eka Kurniawan. Jenis kritik sastra yang akan digunakan adalah kritik sastra populer yang ditinjau dari alur cerita yang terdapat dari novel tersebut. Penulis memilih alur cerita novel Cantik Itu Luka dikarenakan alur cerita yang unik; setiap bab menceritakan kisah dari tokoh yang berbeda dan akan dilanjutkan di beberapa bab kemudian. Novel ini memiliki lebih dari satu tokoh sentral karena tiap bab memiliki tokoh sentral yang berbeda.

Analisis Novel

Novel Cantik Itu Luka terdiri dari 18 bab yang menceritakan masa lalu Dewi Ayu beserta masa lalu anak-anak dan cucunya. Pada bab 1, alur cerita yang disajikan penulis adalah alur maju mundur. Pada bab ini, diceritakan kebangkitan Dewi Ayu dari kubur yang wafat selama 21 tahun. Hal pertama yang ia ingat sekembalinya dari alam baka adalah anak bungsunya, Cantik, kemudian ia kembali ke rumah yang dulu ia tempati untuk bertemu dengan Cantik. Pada perjalanan Dewi Ayu pulang ke rumah, penulis menceritakan saat-saat menjelang kematian Dewi Ayu; melahirkan Cantik. Kemudian sesampainya Dewi Ayu di rumahnya, alur cerita kembali menceritakan hal yang terjadi pada Dewi Ayu saat ini, yaitu tiba di rumahnya dan menemukan Cantik yang hamil tanpa bapak.

Alur cerita pada bab 2-4 merupakan alur mundur yang menceritakan siapakah Dewi Ayu. Dewi Ayu adalah seorang gadis cantik keturunan Indo-Belanda yang dipaksa menjadi pelacur saat kampungnya, Halimunda, diduduki oleh tentara Jepang. Pada bab tersebut juga diceritakan tentang kehamilan-kehamilan Dewi Ayu dan pertemuannya dengan seorang preman bernama Maman Gendeng. Peran Dewi Ayu sebagai tokoh sentral terhenti pada bab 4 karena bab-bab selanjutnya ditokohi oleh orang-orang di sekitar Dewi Ayu.

Pada bab 5, peran Dewi Ayu sebagai tokoh sentral terhenti dan digantikan oleh Maman Gendeng. Alur cerita pada bab ini lagi-lagi merupakan alur maju mundur karena bab ini menceritakan masa lalu Maman Gendeng yang menggunakan alur mundur, dan pada pertengahan bab cerita berlanjut pada pertemuan Maman Gendeng dengan Dewi Ayu serta perkelahian antara Maman Gendeng dan Sang Shodancho yang memperebutkan Dewi Ayu yang menggunakan alur maju dan lanjutan dari bab 4. Maman Gendeng muncul lagi sebagai pemeran sentral pada bab 17, dan pada bab ini diceritakan masa lalu Maman Gendeng sebelum putrinya, Rengganis si Cantik lahir.

Pada bab 6, tokoh sentral berubah menjadi Sang Shodancho. Bab ini menyajikan alur maju, yaitu pertemuan Sang Shodancho dengan anak pertama Dewi Ayu, Alamanda.

Pada bab 8-14, alur cerita yang disajikan berubah menjadi alur maju dengan tokoh sentral yang tetap berbeda-beda di tiap babnya. Mulai dari bab 7, tokoh sentral berubah menjadi anak-anak, menantu dan cucu-cucu Dewi Ayu.

Anak pertama Dewi Ayu, Alamanda yang menikah dengan Sang Shodancho, muncul sebagai tokoh sentral pada bab 8, 9 dan 11. Kliwon, bekas pacar Alamanda, yang menikah dengan anak kedua Dewi Ayu, Adinda, berperan sebagai tokoh sentral pada bab 7, 12 dan 14. Peran sentral Maman Gendeng yang menikahi anak ketiga Dewi Ayu, Maya Dewi, terdapat pada bab 10 dan 13 yang merupakan kelanjutan dari bab 5.

Alur cerita pada bab 15-18 kembali menjadi alur maju mundur. Bab 15 yang dimulai dengan kelahiran anak Maya Dewi dan Maman Gendeng dari anak mereka, Rengganis si Cantik. Dipertengahan bab, alur cerita berubah menjadi alur mundur saat Rengganis si Cantik menceritakan penyebab kehamilannya yang misterius; diperkosa oleh seekor anjing. Setelah cerita kehamilan misterius Rengganis si Cantik selesai, alur cerita kembali berubah menjadi alur maju, yaitu saat-saat sebelum pernikahan Rengganis si Cantik.

Pada bab 16, Nurul Aini (Ai) yang merupakan anak dari Alamanda dan Sang Shodancho tiba-tiba dikisahkan telah meninggal dunia. Kuburan Ai dibongkar oleh seseorang yang ternyata orang tersebut adalah sepupunya sendiri, Krisan, yang jatuh cinta pada Ai. Pada bab ini, alur cerita kembali menjadi alur maju-mundur. Alur maju muncul pada awal bab dimana Krisan membongkar kuburan Ai, kemudian alur mundur muncul dipertengahan bab yang menceritakan penyebab Krisan jatuh cinta pada Ai.

Alur cerita pada bab terakhir adalah alur maju mundur. Alur maju terdapat pada pertemuan kembali anak-anak Dewi Ayu dengan ibunya, sedangkan alur mundur muncul saat misteri kehamilan si Cantik terkuak dan kisah pembunuhan Rengganis si Cantik yang dilakukan oleh Krisan.

Kesimpulan

Alur cerita yang disajikan Eka Kurniawan sangatlah unik dan menantang. Pembaca diajak untuk mengingat alur cerita yang maju-mundur di tiap babnya. Selain itu, novel ini membuat pembaca kecanduan membaca karena pembaca bertanya-tanya akan lanjutan dari tiap kisah yang akan muncul entah di bab berapa. Walaupun demikian, akan sulit mengikuti alur cerita jika pembaca melanjutkan membaca novel ini setelah berhenti membaca dalam kurun waktu yang cukup lama karena pembaca akan kesulitan melacak di bab berapakah kisah yang dialami oleh seorang tokoh telah muncul.

Skripsi Wiwik Hidayati Tentang “Cantik itu Luka”

Skripsi “Cantik itu Luka” karya Wiwik Hidayati (Undip)

Judul lengkap skripsi ini adalah “Pengaruh Dominasi Penjajah atas Subaltern dalam Novel Cantik itu Luka Karya Eka Kurniawan: Analisis Berdasarkan Pendekatan Poskolonialisme”. Ditulis oleh Wiwik Hidayati, untuk S1 Ilmu Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, 2008.

Skripsi ini bisa didownload di sini.

Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu

Oleh: Berto Tukan, kecoamerah.blogspot.com

Tentu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah sebuah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel García Márquez dan Cantik Itu Luka (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat ini dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak pernah bisa habis untuk dibahas.

Lihatlah Layar Terkembang, Romeo and Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak. Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan atas karya sastra nampak; mencari yang tak disadari sebagai hasil kerja yang tanpa sadar pula.

Maka, setiap pembacaan dengan kaca mata pembacaannya masing-masing sangat mungkin mengungkapkan ketidak sadaran-ketidak sadaran yang berbeda-beda. Sama dengan hasil pembacaan saya atas STK dan CIL yang berkelindan-bersetubuh dengan hasil pembacaan saya atas hasil pembacaan-pembacaan terhadap STK dan CIL lainnya yang terkristalkan dalam tulisan ini; mencoba mengungkapkan sesuatu yang (mungkin) tak terungkap.

***

Menarik membandingkan STK dan CIL. Pasalnya, dalam pembacaan sepintas pun terlihat bagaimana kesamaan antara kedua karya ini; pertama sama-sama menggunakan gaya realisme magis. Realisme magis sendiri merupakan gaya penulisan yang menggunakan surealisme dan realisme secara bersamaan dan tak terpisahkan. Istilah ini diambil dari kasanah seni lukis oleh kritikus sastra untuk mencandrakan karya Márquez, Grass (dalam novel The Tin Drum) Borges, Okri serta Eka Kurniawan. Elleke Boehmer (dalam Bandel, 2003) mengatakan, bahwa gaya realisme magis merupakan gaya yang cocok bagi penceritaan tanah-tanah pascakolonial untuk menceritakan dirinya dengan kaca matanya sendiri. Kedua, STK dan CIL punya atribut-atribut cerita yang hampir-hampir mirip.

Salah satu yang paling kentara adalah kedua novel ini menyertakan pohon silsilah. STK tentang silsilah keluarga Buendia sedangkan CIL silsilah keturunan Ted Stammler. Keduanya mengambil latar tempat kota imajiner, seperti yang diungkapkan pada awal tulisan ini. Peristiwa moksa terdapat pada keduanya; Maman Gendeng di CIL dan Si Cantik Remedios dalam STK. Perlindungan terhadap keperawananpun terdapat pada keduanya; Ursula dengan “…celana dalam yang panjang buatan ibunya dari kain layar yang diperkuat dengan tali kulit yang disiliang-menyilang dan bagian depannya ditutup dengan gesper besi tebal.” (STK, hal.27). Sedangkan Alamanda dalam CIL menggunakan “…celana dalam terbuat dari logam dengan kunci gembok yang tampaknya tak memiliki lubang anak kunci untuk membukanya.” (CIL, hal. 248) Bahkan, Alamanda menggunakan semacam mantra khusus. Inces akan sering ditemukan dalam kedua novel ini. Si Cantik Remeditos muncul kembali dalam persamaan berikut; keluguan dua tokoh perempuan yang cantiknya tak terkira, bahkan akibat kecantikan itu, laki-laki yang melihatnya dipastikan akan demam tinggi dalam beberapa minggu; Rengganis Si Cantik dalam CIL dan Si Cantik Remeditos dalam STK. Bedanya, Si Cantik Remeditos akhirnya moksa. Berarti, kecantikan dan keluguannya tak tersentuh apa pun. Sedangkan Rengganis Si Cantik diperkosa oleh saudaranya sendiri, Krisan, hingga melahirkan seorang anak. Kedua novel berakhir dengan pandangan yang cenderung nihilis; STK dengan ketak-bersisaan ‘dinasti’ keluarga Buendia di Macondo dan CIL diakhiri dengan kenyataan, bahwa kutukan Ma Gedik ternyata akan terus berlanjut.

***

Menengok pendapat Elleke Boehmer di atas, tentu saja kedua novel ini lebih indah bila dibaca dengan kaca mata postkolonialisme. Kaca mata satu ini yang adalah varian postmodernisme mengandaikan adanya pengetahuan sejarah kolonial dari tanah pascakolonial tempat karya itu lahir. Maka itu, dengan penuh kerendahan hati, tulisan ini hanya akan lebih fokus pada CIL dengan sedikit-sedikit menengok STK.

Adalah menarik ketika melihat tokoh sentral CIL adalah Dewi Ayu. Walau pun banyak yang mengatakan bahwa cerita ini bercerita tentang keturunan Ted Stammler, kata Stammlet sendiri sangat jarang muncul. Saya lebih condong menyebut cerita ini sebagai kisah Dewi Ayu dan keturunannya. Dewi Ayu sendiri adalah indo tiga perempat Belanda, seperempat Indonesia. Indo merupakan warisan kolonial yang paling nyata. Biasanya, seorang Indo akan lebih condong pada darah Belandanya. Ini akan ditujukan pula dengan penggunaan nama Belanda bagi Indo. Sekolah-sekolah modern barat a la Belanda sangat berperan dalam konstruksi pembeda-bedaan ini. Sekolah-sekolah Belanda bahkan akan menamakan semua muridnya dengan nama Belanda. Minke dalam tetralogi Buruh Pramoedya serta Rusli (periksa lagi) dalam Salah Asuhan Marah Rusli pun demikian. Adalah sesuatu yang aneh ketika Henri Stamler dan Aneu Stamler menamai anak mereka dengan Dewi Ayu. Namun baiklah kita menerima Dewi Ayu sebagai Indo yang lebih memilih Indonesia ketimbang Belanda. Hal ini semakin dibuktikan dengan kekeras-kepalaan Dewi Ayu untuk tetap tinggal di Halimunda ketika semua keluarganya meninggalkan Indonesia.

Dari pandangan yang berbeda, sosok Dewi Ayu bisa dilihat sebagai simbol tanah Indonesia pasca VOC yang masih tetap eksotis, indah dan menantang untuk disetubuhi. Barat cenderung menampilkan diri sebagai laki-laki, maskulin, agresif dan timur (tanah kolonial) sering disimbolkan dengan perempuan perawan, cantik rupawan, lugu dan siap untuk ditaklukan laki-laki. Kolonialisme Indonesia dalam CIL adalah Indonesia pasca VOC (yang ditandai dengan Dewi Ayu: nama Indonesia dengan darah campuran: warisan VOC). Maka tak heranlah ketika Komandan Bloedenkamp (mewakili Jepang) menghadapi Dewi Ayu (simbol Indonesia) yang menyerahkan diri tanpa syarat, Komandan itu memperkosa dengan “…menyerangnya dengan ganas, langsung tanpa basa-basi…” (CIL, hal. 77) sedangkan Dewi Ayu hanya bisa menghindar ketika laki-laki itu hendak mencium bibirnya. Dewi Ayu dan beberapa perempuan lainnya selanjutnya menjadi “penghibur jiwa-jiwa tentara Jepang” di rumah pelacuran Mama Kalong di Halimunda. Dari rumah pelacuran Mama Kalong jaman jepang inilah Dewi Ayu melahirkan Alamanda. Belakangan, Alamanda yang hasil persetubuhan Dewi Ayu dan Jepang menikah dengan Sodancho, seorang gerilyawan massa Jepang yang hebat yang menjadi pemimpin militer di Halimunda.

(versi awal sebuah tulisan di PendarPena No.6.tahun 1. mei 2008, sastra)

Bi wa Kizu and the Image of Cultural Globalization in Contemporary Japan

A Case Study of an Indonesian Novel Translation

By: Indah S. Pratidina, ispdina.blogspot.com

Japan’s role in globalizing Asia has been widely recognized. Ever since the 1990’s, Japan has been exporting waves of it’s cultural products such as anime or animated films, television dramas, music, manga or comics, novels, and so on. These spreads of cultural products across the borders of Asia have sprung new hope for Japan’s relationship with other Asian countries. Through the consumption of Japan’s cultural products, it can promote cultural dialogue, and hopefully Japan can overcome its unfortunate history with the rest of Asia, especially regarding to the World War II.

However, globalization not only demands an integration of cultural diversity in the global community. It also reflects peoples’ (nations’) needs to develop a strong self or cultural identity (ies). In this light, one can see that Japan is not only an exporter of media. Rather, Japan has also been receiving various media from other Asian countries; such as Korea with its television dramas.

Though Indonesia it does not share the same amount of attention as Korea does in the Japanese market, Japan has also been receiving media from the former country as well. This study will look at one of these contributions, the novel Bi wa Kizu (Beauty is a Wound). In 2004, Cantik Itu Luka (Beauty is a Wound) was published in Indonesia by one of the leading publishing bodies of a large Indonesian media group, KOMPAS Gramedia Group.

The novel revolves around the life story of a half-Dutch half-Indonesian woman, Dewi Ayu, from the end of Dutch’s colonial rule to the Japan’s invasion (1942-1945), up until the era of communist revolution in Indonesia (1960s). One of the turning points of her story was the time she was forced to become a comfort woman for the Japan Imperial Army. As a piece of historical fiction, this work has been received widely in Indonesia.

What is surprising is that despite the contents of this novel, in 2006, the Japanese company Shinpusha purchased the publishing rights and a translation of this work was published entitled Bi wa Kizu. For foreign countries to succeed in penetrating a target market, every cultural product must overcome the language barrier; in the case of this study, the language barrier between Indonesian and Japanese. This is where translation plays a major role.

In this study, I found it interesting how a Japanese publisher decided to publish a novel about the life of a comfort woman in Indonesia during War World II, and in the translations I have observed that there certain sections of the novel where the brutality of the Japanese Imperial Army was described stayed unaltered. Nonetheless certain sections were slightly altered, probably for the sake of the Japanese market.

This study wishes to show some samples of the author’s observations, and analyses about how Japan is portrayed by the novel (both the original and translated versions), and, through the consumption of this novel in the Japanese market, whether this can be seen as a sign for Japan’s willingness for self-reflection about its past.

Indah S. Pratidina, ispdina.blogspot.com, Research student, Institute for the Study of Global Issues, Hitotsubashi University, Tokyo, Japan. This article was a paperwork for Speaker: MCIA Conference, Nov 2007.

Cantik Itu Luka Sebuah Terobosan Literer

Oleh: Titon Rahmawan, langitkubiru.blogspot.com

Bagi saya, Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan adalah merupakan sebuah terobosan literer di dalam khazanah sastra Indonesia. Cukup lama saya merasa tak mendapatkan kepuasan optimum setiap kali selesai membaca sejumlah novel-novel karya penulis asli Indonesia, yaitu semenjak terakhir kali saya membaca Olenka karya Budi Darma. Dan baru kali ini saya memperoleh kembali kenikmatan itu, setelah saya menyelesaikan pembacaan saya yang kedua kalinya atas Cantik Itu Luka.

Menarik untuk dicermati, bahwa Cantik Itu Luka adalah sebuah novel yang menawarkan begitu banyak alternatif kemungkinan pembacaan, dan oleh karena itu ia jauh dari kata membosankan. Ia tidak saja menawarkan sebuah fiksi dengan latar sejarah yang digarap dengan pendekatan yang cukup komprehensif, namun juga didukung oleh resensi dan riset penulisan yang cukup lengkap.

Dalam banyak hal, Cantik Itu Luka telah berhasil menampilkan persingunggan dengan fakta yang cukup rinci dan sekaligus mendetail. Di sisi lain, karya tersebut memiliki kesadaran yang sangat kuat atas keberadaannya sebagai sebuah karya fiksi, yang dengan bebas melakukan manufer-manufer yang nyaris tak terbatas, bahkan hingga yang paling liar sesuai dengan kekuatan imajinasi sang pengarang.

Dalam novel ini, secara jenial Eka berhasil meramu begitu banyak aspek permasalahan, beragam peristiwa, dan juga berbagai karakter manusia yang multi dimensional, hingga menjadi sebuah adonan yang luar biasa kaya dan mengenyangkan. Bila coba kita urai satu persatu, maka akan kita temukan berbagai hal yang berkaitan dengan fakta-fakta sejarah, legenda dan juga mitos, kondisi sosio-kultural masyarakat dari berbagai bangsa, sisi-sisi psikologis manusia yang paling wajar hingga kepada yang paling absurd, sampai pada romantika dari hubungan cinta, seksualitas dan kebencian yang demikian rumit dan berbelit sekaligus.

Tapi ia tak berhenti sampai di situ, ia juga menampilkan masalah-masalah pelik yang berhubungan dengan aspek ideologis, politis hingga filsafat. Yang antara lain muncul dalam sosok seorang preman, seorang partisan, seorang syudanco, serta seorang pelacur kelas atas yang sekaligus seorang ibu dari sejumlah anak gadis. Dan Eka juga membawa kita menelusuri sejumlah proses pencarian jati diri dari beberapa orang anak manusia, serta konflik-konflik kejiwaan para tawanan perang dan penderitaan para jugun ianfu, hingga perjuangan manusia dalam upaya menegakkan harkat kemanusiaanya untuk dapat meraih kemerdekaan dan kebebasan.

Di luar itu semua, dengan fasih Eka juga berbicara tentang berbagai fenomena yang berhubungan dengan hal-hal yang berbau gaib, supranatural dan juga misteri, serta yang berkaitan dengan masalah kanuragan dan kedigdayaan hingga masalah penyimpangan seksual. Semua itu mampu ia lebur menjadi satu menjadi sebuah karya yang tidak saja apik, namun sanggup mengocok imajinasi pembaca hingga melampaui batas-batas realitas dan juga ilusi, fakta dan fiksi sekaligus.

Inilah sebabnya mengapa saya berani mengatakan, bahwa Cantik Itu Luka adalah merupakan sebuah terobosan literer di dalam khasanah sastra Indonesia. Ia telah melampaui semua batas-batas pencapaian yang telah dilakukan oleh para penulis pendahulunya. Ia tidak berhenti sebagai sebuah fenomena realisme absurd sebagaimana Olenka dan Rafilus karya Budi Darma. Ia juga mampu mengupas problematika seksualitas dan kisah percintaan dengan latar sejarah menjadi sebuah drama dan sekaligus epik yang menggugah sebagaimana trilogi Ronggeng Dukuh Paruk nya Ahmad Tohari, dan dwilogi milik Ayu Utami Saman dan Larung.

Karakter-karakter tokoh dalam Cantik Itu Luka terasa begitu komplet dan kaya. Dalam banyak hal, mereka juga terasa begitu hidup. Sekilas mereka memang tampak berkesan main-main, namun di dalam upaya main-main itu mereka juga sekaligus bisa sangat serius. Memang, banyak karakter-karakter di dalam novel ini yang digambarkan oleh sang penulis dengan cara sedemikian rupa, hingga memberi kesan komikal. Namun bukan berarti mereka tidak memiliki kedalaman. Menurut pengamatan saya, sebagian besar karakter bahkan telah berhasil menampilkan sisi yang paling tragis dan paling ironis dari kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Sedikit kelemahan barangkali adalah karena Eka terlampau berani menafikan logika justru kepada hal yang menurut saya sangat mendasar. Bahwa ada beberapa hal, yang menurut saya tetap membutuhkan sebuah penjelasan logis. Dan itu yang tidak berhasil saya temukan sampai kisah ini berakhir. Seperti misalnya dalam kasus mayat sang tokoh utama yang hidup lagi setelah puluhan tahun itu. Walaupun bengkoknya logika tersebut tak mengurangi kenikmatan saya dalam membaca. Namun, rasa ingin tahu atas dasar apa Eka membuat “absurditas” itu menjadi suatu hal yang dapat diterima sebagai kewajaran dalam sebuah fiksi dengan latar sejarah, tetap saja menyisakan sebuah ganjalan di dalam diri saya.

Bagaimanapun patut saya katakan, bahwa masa depan sastra Indonesia banyak bergantung kepada orang muda seperti Eka Kurniawan. Ia tidak berhenti sebagai seorang pendongeng yang cerdas dan sekaligus piawai memainkan alur cerita, dan menggambarkan watak serta karakter tokoh-tokohnya dengan cara yang demikian hidup. Namun lebih daripada itu, harus saya akui bahwa ia mempunyai sebuah visi yang jauh melampaui pemikiran penulis-penulis yang sebaya atau bahkan lebih tua dari usianya.

Novel “Cantik itu Luka” – Eka Kurniawan

Oleh: Wannofri Samry, Riau Pos

Novel Cantik Itu Luka (2004) karya Eka Kurniawan bercerita mengenai keluarga besar Ted Stamler, seorang Belanda yang malang-melintang bekerja sebagai pejabat di akhir masa kolonial Belanda di Halimunda. Tempat itu adalah sebuah kota yang dilukiskan pengarang sebagai tempat menarik, penuh mitos dan begitu penting di ujung masa kolonial.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Dewi Ayu, anak Aneu Stamler atau cucu Ted Stamler. Dewi Ayu adalah anak perkawinan luar nikah dari dua bersaudara lain ibu. Namun kedua orang tua Dewi Ayu, Henri Stamler dan Anue Stamler meninggalkan Dewi Ayu begitu saja di depan pintu rumahnya dan mereka pergi angkat kaki ke negeri Belanda. Inilah awal kisahnya.

Di zaman Jepang sebagian besar penduduk ditangkapi oleh Jepang, terutama yang dianggap pro Belanda, termasuk Dewi Ayu. Ia diasingkan ke sebuah pulau kecil yang seram dan terpencil. Pulau ini, Bloedenkamp, adalah sebuah tempat yang mengerikan dan menjijikkan. Selain dkenal angker, di sana juga tak ada makanan disediakan . Karena itu para tawanan umumnya memakan apa yang ada di sekitar mereka termasuk cacing, ular ataupun tikus. Kekejaman dan kehausan seksual Jepang di Bloedenkamp telah memanggil nurani Dewi Ayu untuk memberikan dirinya kepada seorang tentara Jepang untuk disetubuhi.

Dewi Ayu sendiri, sebagaimana kenyataan di ujung Pemerintahan Kolonial Belanda, berada dalam kesulitan sosial dan ekonomi. Setelah mengalami kegetiran bersama penduduk di Bloedenkamp, Dewi Ayu bersama gadis-gadis lainnya dibawa diam-diam oleh Jepang ke tempat pelacuran Mama Kalong di Halimunda. Mereka dipaksa menjadi pelacur. Mama Kalong adalah germo yang paling terkenal dan profesional di sana. Namun pada masa berikutnya rumah pelacuran Mama Kalong menjadi terkenal dan identik dengan Dewi Ayu, ia menjadi selebriti di kota tersebut. Ketenarannya menyamai nama-nama penguasa di kota tersebut. Bahkan Halimunda sendiri menjadi identik dengan kecantikan pelacur Dewi Ayu.

Dewi Ayu melahirkan empat anak yang tidak dikehendakinya, tiga di antaranya sangat cantik dan diminati banyak lelaki di kota Halimunda. Ketiga putrinya yang cantik itu adalah Alamanda, Adinda dan Maya Dewi. Kecantikan tiga putri itu juga menjadi malapetaka bagi keluarganya sendiri. Karena itu, saat ia hamil pada keempat kalinya, ia berdoa agar anaknya dialahirkan buruk rupa. Sebab kecantikan akan membawa mereka ke dalam petaka. Anaknya yang keempat ini benar lahir dengan menjijikkan namun punya keajaiban, ia diberi nama Cantik. Namun si buruk rupa akhirnya juga terjebak dalam perselingkuhan dengan sepupunya, Krisan.

Alamanda dikawini paksa oleh seorang komandan tentara, Shodanco, setelah diperkosa. Perkwinan itu sungguh tidak dengan rasa cinta, melainkan kebencian yang begitu bergelora. Karena itu 5 tahun perkawinan mereka tak melahirkan anak sebab Alamanda selalu memakai celana besi dan azimat. Dari perkawinan mereka melahirkan anak Nuraini. Adinda menikah dengan Kamerad Kliwon, seorang pemuda genteng, tokoh politik dan terkenal di kota itu. Kamerad Kliwon adalah mantan pacar sejati Alamanda. Perkawinan mereka melahirkan anak Krisan. Maya Dewi menikah dengan seorang tokoh preman dan penguasa terminal, namanya Maman Gendeng. Mereka menikah saat Maya Dewi berumur dua belas tahun tetapi baru disetubuhi saat umur 17 tahun. Kemudian mereka dikaruniai anak, Rengganis Si Cantik.

Si Cantik, anak Dewi Ayu keempat, si bungsu buruk rupa, hidup bersama pembantu yang bisu, Rosina. Ia bercinta-buta dengan Krisan setelah kematian Rengganis Si Cantik. Cantik dan Krisan melahirkan seorang anak yang meninggal sebelum diberi nama. Sebelumnya Krisan juga bercinta buta dengan anak tantenya, Rengganis Si Cantik. Rengganis Si Cantik melahirkan juga seorang anak tak bernama, kemudian diserahkan pada ajak-ajak liar. Krisan membunuh Rengganis Si Cantik di tengah laut untuk menutupi perbuatan zinanya itu. Kinkin adalah anak penggali kuburan yang bisa berhubungan dengan roh orang mati dengan permainan jelangkung. Ia satu kelas dengan Rengganis Si Cantik. Walaupun penampilannya kumal dan pendiam namun diam-diam ia mencintai Rengganis Si Cantik. Ketika Rengganis Si Cantik diketahui hamil dengan isu bahwa seekor anjing telah memperkosanya, ia sangat kecewa.

Kinkin tetap tak percaya bahwa Anjing telah memperkosa Rengganis Si Cantik. Namun ia mau menjadi bapak anak yang dikandung Rengganis tetapi tidak kesampaian. Setelah kematian Rengganis Si Cantik, Kinkin selalu mencari siapa pembunuh orang yang dicintainya itu. Roh Rengganis pun tidak mau mengatakan pembunuh dirinya, sebab ia sangat mencintai orang yang membunuhnya. Akhirnya, lewat susah-payah ia menemukan juga pembunuh Rengganis dari roh yang tidak dikenal. Pembunuhnya adalah Krisan, sepupunya, sekaligus kekasih yang sangat dicintai Rengganis. Setelah itu Kinkin mencari Krisan, dan membunuhnya di rumah Cantik si buruk rupa.

***

Paragraf pembuka novel ini sungguh menakjubkan, kalimatnya lancar dan puitik. Ada jalinan keindahan logika yang teratur. Pengarang memulai cerita dengan sesuatu yang menyentak, membuat pembaca tertarik. Kalimat-kalimat awal membawa pembaca mulai bertyanya-tanya tentang peristiwa apa yang akan terjadi berikutnya. Novel yang terkesan mendekonstruksi dunia sosial-budaya dan pikiran ini sengaja diantarkan oleh pengarang dengan kekacauan suasana pada awal cerita. Kebangkitan Dewi Ayu, seorang pelacur terkenal di Halimunda, membuat orang kampung heboh; orang-orang dan benda-benda tunggang-langgang ketakutan dan takjub. Dewi Ayu meninggal 21 tahun lalu, setelah 12 hari klelahiran Cantik si buruk rupa. Dewi Ayu sendiri mati dengan keanehan; ia sendiri tahu jam kematiannya, sehingga ia memandikan badannya sendiri serta mengkafani dengan kain putih.

Sebagaimana tergambar dalam awal cerita, buku ini ditulis dengan “menunggang-langgangkan” cara berpikir pembaca, mengedepankan dekonstruksi bentuk dan ide. Lembaran pertama dari buku ini sesungguhnya lembaran kehidupan baru, cerita hari ini. Kemudian, halaman 3-10 adalah episode terakhir dari kehidupan Dewi Ayu. Namun lompatan dari “kini” dan masa “lampau” tidak begitu susah bagi pengarang, ia hadir bagai angin menelusup ke jeruji-jeruji besi, atau mengibas ke dalam pakaian dalam kita. Tak terasa, menyegarkan, sehingga pembaca menginginkan bersamanya lebih lama. Pembaca tergoda untuk menelusuri kisahnya. Pengarang tampaknya meniru model penulisan sejarah kritis, mulai dari akibat (masa kini) terus mencari ke sebab dengan menerangkan struktur-struktur sosial-budaya yang ada di dalamnya. Novel ini berada dalam bingkai diakronik, atau prosesual sejarah. Unsur waktu dalam novel ini bergerak dari zaman akhir kolonial, zaman Jepang, pergolakan politik tahun 1960-an dan sesudahnya. Dewi Ayu sendiri adalah keturunan “nyai” zaman kolonial. Putri-putrinya walaupun tidak menjadi pelacur tetapi mengalami tragedi-tragedi seksual dan keperempuanan. Keturunan Dewi Ayu, sebagaimana Dewi Ayu tidak mengalami cinta sebagaimana dikehendaki, cinta mereka penuh hambatan, tantangan dan siksaan. Tragedi cinta itulah yang diolah oleh pengarang, dengan memberinya latar sosio-politik dan kultural yang kuat.

Pengarang tampaknya begitu menguasai alur sejarah Indonesia dari alkhir zaman kolonial sampai pasca tahun 1960-an. Secara baik novel ini bisa memberikan suasana perubahan sejarah politik dari Kolonial Belanda ke Kolonial Jepang, Indonesia merdeka sampai suasana mencekam tahun 1960-an. Pengarang begitu lincah memasuki roh sejarah, suasana pergantian antar rezim itu begitu mengena. Penamaan yang sering didengar zaman Jepang seperti Kempetai, Hinomaru, karaben, senapan steyer, dan istilah struktur dalam ketentaraan Jepang terungkap dalam novel ini secara tepat. Suasana tahun 1960-an terasa menggeliat dengan uraian pengarang tentang gerombolan rakyat bawah seperti nelayan. Kemudian dikemukakan bacaan-bacaan yang tidak asing masa itu seperti, marx, Engles, Lenin, Trotsky, Mao, dan Tan Malaka. Hal-hal yang akrab di telinga tahun 1960-an terbongkar seperti lagu komunis internationale, manifesto sebagai kitab suci, bahan bacaan komunis Harian Rakyat dan Bintang Timur, serta berbagai istilah yang berhubungan dengan revolusi kerakyatan. Pembongkaran dan penguraian suasana kesejarahan itu tentu melalui studi serius, yang telah membawa pengarangnya pada pencapaian wawasan yang begitu luas. Unik dan kelayakan novel ini sungguh bukan karena keberanian pengarang untuk menelanjangi tokoh-tokohnya secara seksual atau dengan mengemukakan seksualitas. Hal yang lebih menarik adalah, boleh dikatakan keseluruhan tokoh memainkan peran yang spesifik dan punya karakter yang kuat. Keberhasilan dan nafas panjang seperti dalam novel ini tentu jarang diraih oleh pengarang-pengarang Indonesia kontemporer, apa lagi generasi setelah 1980-an.

Cantik Itu Luka telah mengalami dua kali cetak dari penerbit yang berbeda. Penerbit pertama adalah AKYPress Yogyakarta sebelum diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama tahun lalu. Inilah novel pertama Eka Kurniawan sebelum dia menulis Lelaki Harimau.

Tulisan ini pernah dimuat di Riau Pos, 27/03/2005.