O, Monyet Kepincut Penyanyi Dangdut Terkenal

Oleh: Rio Fitra SY, Harian Haluan, 4 September 2016

“Novel O, tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan seorang kaisar dangdut.” Begitu tagline yang tertulis pada sampul belakang novel yang ditulis Eka Kurniawan ini. Dari tagline tersebut pembaca sudah langsung disodorkan imajinasi yang liar. Bayangkan, seekor hewan tak hanya ingin menjadi manusia bahkan ingin menikahi manusia. Bukan sekadar manusia biasa, tapi seorang penyanyi dangdut paling terkenal di dunia.

O adalah nama seekor monyet betina. Ia merasa yakin bahwa kaisar dangdut Entang Kosasih yang tersohor itu adalah kekasihnya di masa lalu. Ia juga yakin bahwa monyet bisa menjadi manusia sebagaimana pernah terjadi pada pendahulunya di Rawa Kalong. Dengan keyakinan itu O menempuh jalan ikut sirkus topeng monyet bersama Betalumur sebagai majikannya. “Ternyata tidak mudah menjadi manusia,” ujar O.

Monyet menjadi manusia mengingatkan kita pada teori evolusi Darwin. Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Inilah yang disebut realisme magis dalam karya sastra. Sesuatu yang pada kenyataan bisa saja terjadi namun tampak begitu ajaib saat diceritakan. Dalam konteks ini, jika mengacu pada teori Darwin, cerita O menjadi manusia dapat dibenarkan. Itu yang disebut realisme. Tapi, secara bersamaan terasa sangat ajaib dan di luar akal manusia. Itulah yang disebut magis. Eka Kurniawan memang dikenal sebagai pengarang Indonesia yang sering mengangkat realisme magis khas Indonesia. Realisme magis dalam karya sastra sendiri pada mulanya dipopulerkan oleh pengarang-pengarang Amerika Latin.

Kisah O dicerita secara tuntas. Semua yang berhubungan dengan O dan jalan cerita mendapat porsi yang sama besarnya. Nyaris seakan tak ada tokoh utama dalam novel ini. Kisah hidup masing-masing tokoh yang muncul diceritakan oleh pengarang dengan tuntas. Bahkan kaleng sarden, sepucuk revolver, burung kakaktua pun diceritakan premis mereka masing-masing. Diceritakan kisah hidup mereka masing-masing hingga akhirnya bersentuhan dengan kehidupan O.

Gaya tersebut dinilai menyulitkan bagi pembaca yang bermasalah dengan kemampuan fokus. Cerita dapat beralih kapan saja pada karakter (tokoh) yang lain. Untungnya Eka Kurniawan menggunakan teknik cerita dengan penggalan-penggalan yang relatif pendek. Ini membuat proses pembacaan menjadi lebih ringan untuk novel setebal 496 halaman. Gaya seperti ini cocok untuk zaman sekarang yang serba sibuk. Waktu membaca buku pun kian sempit. Novel O dapat memenuhi kebutuhan orang-orang seperti itu. Orang-orang hanya dapat membaca beberapa paragraf di sela-sela kesibukannya.

Teknik ini pernah dilakukan oleh Eka Kurniawan pada novel sebelumnya Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas (2014). Dengan munculnya banyak tokoh yang semua sama kuatnya, ini mengingatkan kita pada novel pertamanya Cantik itu Luka (2002). Jadi, dapat dikatakan teknik bercerita O merupakan gabungan gaya bercerita Cantik itu Luka dan Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas.

Dalam cerita rakyat Nusantara sering ditemui kisah-kisah tentang hewan yang menjadi manusia maupun manusia yang menjadi hewan. Novel O mengisahkan tema tersebut dengan latar zaman sekarang, kehidupan modern.

Di lain hal, novel ini juga mengingatkan pada novel Animal Farm-George Orwell yang memanusiakan hewan dan menghewankan manusia. Dengan lelucon-lelucon satir khas Eka Kurniawan, akan menohok kemanusiaan kita. Manusia bahkan bisa lebih kacau dan kejam dibanding hewan predator sekalipun.

Dengan dimunculkan tokoh-tokoh dengan porsi yang sama membuat novel O berkisah menghakimi dan menggurui, sebab setiap tokoh punya alasan dan kebenarannya masing-masing sesuai dengan nilai yang diyakininya. Maka, siapa sebenarnya manusia?

O yang ingin menjadi manusia akhirnya pasra karena sejauh ini usahanya sia-sia belaka. Menariknya, Betalumur, majikan topeng monyet O, memiliki keinginan menjadi hewan. Semua adalah karena cinta. O ingin menjadi manusia karena cinta. Betalumur ingin menjadi manusia karena perempuan yang ia cintai bilang “belajarlah pada binatang”. Betalumur pun memutuskan untuk menjalankan sirkus topeng monyet agar bisa belajar dari binatang. Tapi, ia tak mendapatkan pelajaran apapun. Kemudian ia mencoba menjadi babi ngepet.

Barangkali itu adalah bagian dari evolusi manusia. Puncak evolusi manusia diproyeksikan membangun peradaban yang beradab secara ideal. Hal tersebut tak serta-merta berarti bergerak secara garis lurus dengan nilai kemanusiaan. Evolusi manusia secara total harusnya termasuk pada sifat material, dan spiritual. Oleh sebab itu teori evolusi meyakini bahwa evolusi tertinggi manusia adalah menjadi hewan berbudaya. Artinya adalah secara bersamaan manusia harus melepaskan naluri-naluri kehewanannya.

Tak selamanya teori evolusi tersebut linear. Salah satu penyimpangan itu adalah seperti yang digambarkan dalam novel O. Manusia berasal dari hewan yang berevolusi, kemudian menusia berevolusi kembali menjadi hewan. Sebagaimana yang dipelajari O, manusia tampaknya harus saling membunuh untuk menunjukkan bahwa dirinya manusia. Inilah masanya ketika hewan ingin menjadi manusia, manusia malah ingin menjadi hewan. Sebab, memang tak mudah menjadi manusia.

Memahami Hidup dalam Kisah Binatang Menjadi “Manusia”

Oleh: Khoimatun Nikmah, Koran Jakarta, 20 Juli 2016

Pengambilan tokoh sentral bernama O yang berwujud monyet jelas memiliki makna tersendiri yang hendak disampaikan novel ini. Biasanya cinta monyet diartikan sebagai abal-abal, tidak serius, dan sekadar main-main. Dalam buku ini cinta monyet bernama O kepada kaisar dangdut, Entang Kosasih, justru membawa dampak besar berupa evolusi makhluk hidup.

Novel ini menyuguhkan kisah dengan nada sindiran, akan potret sebuah kehidupan pinggiran Jakarta di tengah derasnya laju kehidupan urban yang tak terperikan. Mereka yang tinggal di pinggiran kota, terperangkap antara rural dan urban seperti O yang berwadag monyet, namun berperilaku seperti manusia.

Terdapat dongeng bahwa di Rawa Kalong, nonyet bisa berubah menjadi manusia. Demikian juga dulu ikan dapat berubah menjadi monyet. Kini monyet pun bisa alih wujud menjadi manusia. Armo Gundul berhasil keluar dari Rawa Kalong dan melangkah ke dunia manusia memakai nama Entang Kosasih. Dia meniru tindakan manusia. Di antaranya, membunuh Joni Simbolon dengan revolver, berempati layaknya manusia kepada bocah yang hendak dilahap sanca. Yang paling menegangkan Entang Kosasih mampu berpikir secerdas manusia. Padahal manusia lebih menakutkan dari hantu (hal 37).

O dan Entang Kosasih akan menikah, namun batal karena Entang Kosasih menjadi manusia. O ingin menjadi manusia dengan ikut sebagai topeng monyet. Hanya melalui topeng, si monyet bisa meninggalkan dirinya, meletakkan diri-monyetnya di belakang dan menjadi manusia yang bisa dipahami manusia (hal 48).

Usaha O menyaru manusia dengan menjadi topeng monyet bukanlah mudah. Menyeberang dari dunia monyet ke dunia manusia merupakan sesuatu yang besar (hal 101). Belum lagi rintangan O saat bertemu dengan aneka makhluk dan manusia dengan persoalan masing-masing dalam perjalanan.

Manusia dan monyet berdiri dalam posisi sepadan. Monyet dan aneka makluk lain, ular, anjing, kakatua, bahkan revolver dan kaleng sarden bertindak serta berkata seperti manusia. Sedangkan manusia dalam novel ini tampil tak ubahnya hewan, saling makan, hidup dengan kelindan persoalan.

Kondisi ini mengingatkan pembaca pada teori filsuf Belanda, Baruch Spinoza (1632-1677) bahwa sejatinya manusia adalah binatang sosial. Pada tahap tertentu manusia akan menampakkan sisi kebinatangannya. Dalam novel O perenungan bahwa manusia bisa sangat mengerikan yang dikepung aneka persoalan hingga gelap mata. Ini membenarkan ungkapan Thomas Hobbes (1588-1679) bahwa Homo Homini Lupus, manusia merupakan serigala bagi manusia lain.

Novel menyuguhkan kritik tajam terhadap pola interaksi manusia modern sekarang. Dalam takaran tertentu manusia tidak ubahnya binatang. Batas antara manusia dan binatang setipis tirai.

Antitesis Cinta Monyet

Oleh: Tenni Purwanti, Kompas, 2 Juli 2016

Istilah ”cinta monyet” sering digunakan untuk melabeli kisah cinta sepasang remaja yang belum mengenal cinta sejati. Istilah cinta monyet konon dipakai karena melihat tingkah para monyet yang malu-malu jika sedang bersama pasangannya, persis pasangan muda-mudi yang baru mengenal cinta.

Eka Kurniawan dalam novel keempatnya berjudul O justru mendobrak istilah itu. Seperti tak rela monyet selalu jadi bulan-bulanan kandasnya hubungan cinta, Eka merangkai novel tentang kisah cinta sepasang monyet yang bertahan hingga akhir hayat, bahkan hingga keduanya (mungkin) mengalami reinkarnasi menjadi manusia.

Judul novel ini diambil dari nama monyet yang kasmaran. O dan Entang Kosasih saling mencintai dan hidup bergelantungan di sebuah tempat bernama Rawa Kalong. Dongeng tentang Armo Gundul yang bisa menjadi manusia diceritakan secara turun-temurun di Rawa Kalong. Armo Gundul dianggap sebagai pahlawan karena mengiringi manusia membangun peradaban, lantas mati, dan terlahir kembali menjadi manusia. Entang Kosasih berniat mengikuti jejak Armo Gundul, bahkan mempertaruhkan janjinya untuk menikahi O di bulan kesepuluh.

Kisah pun berlanjut tentang O yang kehilangan Entang Kosasih dan mencarinya di kehidupan manusia. Ia percaya, dengan bergabung bersama sirkus topeng monyet, ia akan dapat menemukan sang kekasih, yang ia percaya telah bereinkarnasi menjadi manusia. Hingga suatu ketika ia menemukan sebuah poster seorang kaisar dangdut dan begitu yakin bahwa kaisar dangdut itulah titisan kekasihnya, Entang Kosasih sang monyet, yang berjanji menikahinya di bulan kesepuluh. Ini yang kemudian dirangkum dan ditulis dalam sampul belakang buku, tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut.

Cinta dan derita

Jika biasanya sampul belakang buku digunakan penulis atau penerbit untuk menarik perhatian pembaca dengan memberikan sedikit bocoran kisah dan menutupnya dengan pertanyaan yang menggugah pembaca mencari jawabannya di dalam buku, dalam novel ini sinopsis tersebut justru begitu irit. Hanya berisi sebuah kalimat, dan konon ini keinginan penulisnya sendiri. Dan saya bisa mengatakan strategi ini berhasil, setidaknya untuk saya yang berhasil dibuat penasaran.

Hampir semua tokoh dalam novel ini menjalani kisah cinta yang menghanyutkan sekaligus tragis. Tetapi, mereka sama-sama setia, bertahan dalam kesakitan, bahkan berjuang untuk cinta-nya, seperti kutipan pada pembuka bab 10. ”Cinta tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, meskipun cinta bisa memberimu hal itu,” kata si pembaca tanda-tanda. ”Aku menderita karena cinta. Dan aku terus menderita, karena aku terus mencintai ia yang membuatku menderita.”

Pembaca akan menemui banyak tokoh dengan latar belakang kehidupan masing-masing. Alur novel ini dibangun dari karakter-karakternya. Tak ada sosok yang nyaris sia-sia, dan nyaris tak ada sosok tanpa kepribadian, begitu kata Eka yang saya kutip dalam jurnalnya soal karakter minor, yang ia pelajari dari karya-karya William Shakespeare.Baginya, setiap karakter, sekecil apa pun, ada di sana karena ia memang penting berada di sana. Dan karena penting, sekecil apa pun sebuah karakter, ia tetaplah karakter yang memiliki kepribadian, masa lalu, masa depan, kepentingan, dan lain sebagainya.

Saya pun menikmati ketika cerita melompat-lompat seperti monyet untuk sementara mengisahkan kisah tokoh yang lain agar pembaca mengerti hubungan tokoh satu dengan yang lain, juga hubungan langsung ataupun tidak langsung dengan O, sang monyet.

Demikian pula umpatan-umpatan kasar hingga petikan ayat suci Al Quran yang diselipkan ke dalam novel ini, semuanya sesuai dengan porsinya dan memang penting berada di sana untuk memperkuat karakter tokoh yang sedang diceritakan.

Selipan satire

Dalam beragam kisah cinta yang diceritakan melalui plot multilayer , Eka lihai menyelipkan satire. ”Hidup adalah perkara makan atau dimakan,” kata Kirik kepada O lagi. ”Kau harus memakan yang lain, sebab jika tidak, kau akan dimakan.” Kirik adalah seekor anjing kecil penuh borok yang menjadi sahabat O. Hal itu dikatakan Kirik saat belatung mengerumuni boroknya. Di bab lain, seekor sanca siap melahap seorang anak manusia yang disangkanya hendak mengambil telur-telur yang sedang dijaganya.

Ada pula kisah tentang burung kakaktua yang fasih melantunkan ayat suci dari seorang syekh. Burung itu bertemu dengan syekh karena mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan kekasihnya. Apa tujuan seekor kakaktua di dunia, selain makan, terbang, dan sesekali menemukan pasangan untuk bercinta? Jalan hidup mempertemukan kakaktua itu dengan seorang syekh dan ia diajari untuk menghafal ayat suci dan mengucapkan ayat tersebut sebagaimana kakaktua selalu menirukan ucapan manusia. Sebelumnya ia sering diejek oleh burung-burung lain sebagai peniru. Setelah bertemu syekh, burung itu berpikir, burung-burung itu hanya membanggakan suara sendiri, tanpa mengerti apa pun di luar tempurung kepala mereka.

Demikian pula saat Kirik berpendapat soal keteguhan O mencari Entang Kosasih. ”Lupakan keinginanmu untuk menikah dengan kaisar dangdut,” kata Kirik kepadanya. ”Pakai otakmu, O. Kau seekor monyet. Sekali menjadi monyet, selamanya monyet. Kau tak perlu memercayai omong kosong bahwa seekor monyet bisa menjadi manusia.”

Saya seperti melihat adegan sinetron saat seseorang berkata, ”Pakai otakmu. Kau seorang yang miskin. Sekali miskin, selamanya miskin. Kau tak perlu memercayai omong kosong bahwa seorang miskin akan menikah dengan orang kaya. ” Tentu saja dialog ini bisa diganti dengan apa saja yang menunjukkan bahwa terkadang keyakinan seseorang bisa dipatahkan oleh orang lain yang dengan mudah memustahilkan apa saja.

Namun, O adalah pencinta yang teguh. Dengan kesetiaan, ia mematahkan istilah cinta monyet yang telanjur viral. ”Itulah kenapa aku mencintainya, ” kata O. ”Ia seekor monyet yang percaya kepada isi kepalanya, dan mau melakukannya. Dan ia membuktikan bisa pergi dari pohon gundul itu melewati punggung buaya. Bahkan meskipun apa yang diyakininya itu terbukti, jika di tengah jalan seekor buaya berbalik dan menghajar kami, aku tetap mencintainya. Sesederhana karena ia memiliki nyali untuk memiliki mimpi.”

Setelah membaca novel ini, saya merenungkan kembali penggunaan istilah cinta monyet untuk menyebut cinta sesaat, cinta main-main, yang tidak sejati. Seperti halnya ”buaya ” yang menjadi istilah bagi lelaki yang tidak setia, padahal buaya adalah hewan yang paling setia kepada pasangannya. Setelah menamatkan novel ini, saya tahu, novel O tidak sesederhana kisah seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut.

Dongeng Manusia dan Monyet

Oleh: Aris Kurniawan, Jawa Pos, 10 April 2016.

Novel keempat Eka Kurniawan ini dikemas setengah fabel. Karena tokoh-tokohnya terdiri dari hewan dan manusia, bahkan benda-benda mati. Mereka hidup di dunianya masing-masing tapi saling bersinggungan. Secara cerdik pengarang berhasil menghubungkan secara selaras alur dunia hewan dan alur dunia manusia. Kedua alur ini serupa cermin bagi satu sama lain.

Memasuki novel terbaru pengarang yang masuk daftar The Man Booker International Prize 2016 ini kita laksana memasuki dunia yang riuh rendah oleh suara berbagai mahluk hidup. Suara manusia berbaur dengan suara kerabat-kerabatnya sesama mahluk hidup dari dunia hewan dan mahluk tak kasat mata. Mereka bersinggungan dan berinteraksi satu sama lain yang kadang bersilangan namun membentuk harmoni sekaligus kekacauan atau kekacauan dalam harmoni.

Dalam pusaran berbagai suara itu, kita seperti dibawa ke alam dongeng fabel untuk anak-anak yang agak nglantur, sepele, namun penuh petualangan berkelok-kelok, seru dan mengasyikkan. Suara manusia hanya bagian dari berbagai-bagai suara dari dunia monyet, burung kakak tua, anjing, tikus, pistol revolvers, bahkan bekas kaleng sarden. Dengan menghadirkan begitu banyak tokoh dari berbagai mahluk hidup seperti monyet yang bercakap-cakap dengan anjing dan tikus serta jenis hewan lainnya, Eka terkesan bermain-main.

Namun dalam bermain-mainnya, dalam kenglanturannya, secara sengaja atau tidak, Eka agaknya sedang menyodorkan semacam alegori ihwal mendasar tentang mahluk hidup; bahwa hidup adalah sesederhana atau serumit perkara siapa memakan siapa. Sebuah alegori yang terumuskan dalam teori homo homini lupus yang dicetuskan filsuf Yunani yang hidup 195 Sebelum Masehi.

Dari kerangka ihwal kejadian mahluk hidup dan bagaimana mereka mempertahankan hidupnya novel ini berpijak dan menggelindingkan banyak alur dengan karakter-karakter yang berasal berbagai mahluk hidup dan peran mereka semua penting bagi alur utama novel. Mereka berpendar dengan kisah dan dunianya masing-masing namun bermuara kepada satu bangunan kisah utama yang penuh kejutan.

Seluruh mahluk hidup di bumi berasal dari ikan. Teori ini dilontarkan O, seekor monyet betina yang ingin menjelma jadi manusia. Dan, suatu ketika monyet akan menjelma jadi manusia. Inilah yang diyakini O, sekaligus menjadi premis novel O, karya mutakhir pengarang yang masuk daftar The Man Booker International Prize.

Klaim sepihak

Novel ini secara bermain-main seperti hendak meledek manusia yang secara sepihak mengklaim sebagai mahluk utama dan paling mulia di muka bumi. Pada kenyatannya, manusia justru gemar berperang, saling memangsa, untuk mempertahankan hidupnya; sedangkan di dalam dunia hewan mereka justru hidup rukun, saling menyayangi, dan menasihati dalam kebaikan. Bagi para pemburu pesan, inilah barangkali yang dapat dipetik. Tapi kita tahu Eka bukan jenis penulis yang gemar menyampaikan pesan melalui karyanya.

Kisah O dan Entang Kosasih dalam dunia monyet serupa cermin dari drama kehidupan seorang gadis O yang bekerja sebagai penjual jasa phone seks dan Kaisar Dangdut Entang Kosasih di dunia manusia. Dua kisah dari dua pasang mahluk hidup yang berbeda spesies ini bersilangan lalu bersinggungan dalam jalinan peristiwa yang melibatkan drama dan tragedi yang mengharukan sekaligus kocak.

O, demi mimpinya menjadi manusia supaya dapat bertemu dengan Entang Kosasih, kekasihnya, yang dia yakini telah menjelma jadi manusia dan berprofesi sebagai kaisar dangdut , rela menjalani apa saja sekalipun nyawa taruhannya.

Bagi O, untuk menjelma jadi manusia, seekor monyet harus menjalani latihan meniru semua tingkah laku manusia sebagaimana dikatakan Entang Kosasih yang tewas ditembak seorang polisi. Sobar, polisi yang menembak Entang Kosasih, melampiaskan dendam atas kematian kawannya di tangan Entang Kosasih sebelum monyet bergajulan itu hilang dan diyakini O menjelma jadi manusia.

Dan tak ada cara lain untuk mencapai itu selain menjadi sirkus topeng monyet. O mengorbankan kebebasannya ke tangan seorang pawang sirkus topeng monyet bernama Betalumur yang kadang memperlakukannya dengan kejam. Ketika si pawang menghilang dibunuh kawanan preman, O berusaha keras mencari tuannya yang tentu saja tidak pernah ketemu. O kemudian mengabdi kepada sepasang pemulung, dan berakhir dengan seorang banci pengamen bernama Mimi Jamilah. Mimi berjanji kepada O mempertemukannya dengan Kaisar Dangdut Entang Kosasih.

Eka barangkali terlalu serius bermain-main atau bermain-mainnya kelewat serius, sehingga agak terkesan kurang sinkron dalam meletakkan setting waktu pada cerita yang disusunnya. O dalam dunia monyet hidup di Jakarta pascakerusuhan Mei 1998. Bersama sang pawang dan sepasang pemulung, O tinggal di sebuah gedung bekas terbakar yang tak terpakai akibat peristiwa kerusuhan Mei 1998. Ini tidak ada masalah.

Sementara O dan Entang Kosasih di dunia manusia juga hidup di Jakarta, sekitar masa sesudah reformasi. Sejak awal kemunculan Entang Kosasih Si Kaisar Dangdut ingatan kita akan langsung digiring kepada Raja Dangdut yang kita kenal di dunia nyata, Rhoma Irama. Penutur menjelaskan karakter Entang Kosasih, sebagai… Meskipun ia menciptakan dan memainkan lagu berirama dangdut, kocokan gitarnya banyak terpengaruh oleh music hard rock klasik. Ia mendengarkan Deep Purple, Led Zeppelin, juga Pink Floyd. Kocokan gitarnya lebih terdengar seperti hard rock, tapi mereka tetap mengenali irama dangdut di sana. (hal 335).

Raja Dangdut Rhoma Irama sebagai identifikasi Kaisar Dangdut Entang Kosasih juga dijelaskan dalam keterangan bahwa Entang Kosasih gemar berdakwah melalui syair-syair lagunya. Suatu hari Entang Kosasih membuat kekacauan di sebuah pub di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, ketika dia tampil menyanyi. Dia meloncat dari meja ke meja, dan berseru “Tidakkah kalian tahu mabuk merupakan kelakukan setan? Dan berdepe-dempetan dengan pasagan yang bukan istri atau suami, apalagi di ruangna remang-remang seperti ini, merupakan perbuatan nista?” (hal 336).

Pada masa sesudah reformasi, Raja Dangdut Rhoma Irama sebagai identifikasi Entang Kosasih, tidak lagi lajang dan sudah melewati karir puncaknya sebagai Raja Dangdut.

Tetapi tentu saja ini hanya sebuah tafsiran saya sebagai pembaca, sekalipun berdasarkan petunjuk penutur sendiri. Namun ketidaksinkronan setting waktu tokoh Entang Kosasih ini tentu saja tidak terlalu berpengaruh bagi kenikmatan membaca novel yang kaya dengan ihwal filsafat tentang manusia ini. Karena bagaimana pun toh ini fiksi.

Publishers Weekly Review: Beauty Is a Wound

At the beginning of this English-language debut from Indonesian author Kurniawan, Dewi Ayu, who was once the most respected prostitute in the fictional coastal town of Halimunda, rises from her grave after being dead for two decades. She’s returned to pay a visit to her fourth daughter, Beauty, who is famously ugly. What follows is an unforgettable, all-encompassing epic of Indonesian history, magic, and murder, jumping back to Dewi Ayu’s birth before World War II, in the last days of Dutch rule, and continuing through the Japanese occupation and the mass killings following the attempted coup by the Indonesian Communist Party in the mid-1960s. Kurniawan centers his story on Dewi Ayu and her four daughters and their families. Readers witness Dewi Ayu’s imprisonment in the jungle during the war, a pig turning into a person, a young Communist named Comrade Kliwon engaging in guerrilla warfare, and a boy cheating in school by asking ghosts for help. Indeed, the combination of magic, lore, and pivotal events reverberating through generations will prompt readers to draw parallels between Kurniawan’s Halimunda and García Márquez’s Macondo. But Kurniawan’s characters are all destined for despair and sorrow, and the result is a darker and more challenging read than One Hundred Years of Solitude. There is much physical and sexual violence, but none of it feels gratuitous—every detail seems essential to depicting Indonesia’s tragic past. Upon finishing the book, the reader will have the sense of encountering not just the history of Indonesia but its soul and spirit. This is an astounding, momentous book. (Sept.)

From Publishers Weekly, 8 June 2015.

Keniscayaan Manusia dalam Fiksi Gaya “Posmo”

Oleh: Andesta Herli, Singgalang

Pernahkah kita membayangkan sebuah potret, hasil bidikan seorang fotografer handal, di mana dengan cara yang tak terduga, di dalamnya kita serasa melihat gedung-gedung meliuk-merosot, papan iklan menjelma penari balet yang sesekali mengedip, dan horison mengepak-ngepak seperti sayap burung gagak. Pernahkah? Itulah yang saya rasakan ketika membaca novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan yang terbit pada Mei 2014 lalu. Sungguh sebuah fiksi yang apik, melenakan. Kita bisa merasa marah, sedih, tergugah di depannya, meski tahu itu hanya sebuah fiksi. Juga karya yang cerdas, di mana peristiwa-peristiwa sederhana mampu menebar renungan filosofis menyangkut kehidupan manusia.

Berkisah tentang perjalanan hidup tokoh Ajo Kawir, bocah yang kemaluannya tak pernah bisa berdiri. Ajo Kawir yang tergolong berandalan, jarang pulang ke rumah orangtuanya, melainkan lebih betah tinggal di rumah sahabat dekatnya, Si Tokek. Semuanya bermula saat satu malam, dua orang polisi memaksa Ajo Kawir menyetubuhi seorang perempuan gila. Saat itu ia melihat, kemaluannya tiba-tiba tak bisa berdiri sebagaimana seharusnya. Seperti itulah, sesederhana itulah ia bermula. Bertahun-tahun setelah itu, permasalah kelamin menjadi sumber segala narasi.

Ajo Kawir menikah dengan gadis bernama Iteung, yang mengaku mau menerima segala kekurangannya. Namun tetaplah, pada kenyataannya kemudian, Iteung tak mampu bertahan. Ia mencari kepuasan yang utuh pada lelaki lain. Dan Ajo Kawir pun melata.

Masa-masa selanjutnya, Ajo Kawir menjalani hidup dengan menjadi supir truk lintas Jawa-Sumatera. Dan kiranya, siapa sangka, dengan jalan inilah keajaiban terjadi pada diri Ajo Kawir. Bertahun-tahun lamanya setelah terakhir kali bisa mengacung, ia mendapatkan kemaluannya kini bisa berdiri kembali, begitu gagah, saat suatu malam ia menyetir truk ditemani seorang perempuan bernama Jelita. Kebahagiaan itu membawanya pulang ke rumahnya semula, menemukan orangtuanya dan anak Si Iteung (dari kekasih gelapnya) yang dititipkan pada orangtua Ajo Kawir. Sementara Si Iteung yang saat itu baru saja bebas dari penjara malah masuk kembali, sebab membunuh dua orang polisi yang ia yakini sebagai sebab malapetaka yang menimpa kemaluan Ajo Kawir.

Hal yang menarik dari novel ini adalah, realitas yang dipilih Eka Kurniawan, sebuah realitas yang bisa kita temukan dengan mudah dalam sehari-hari. Kehidupan perkampungan yang tergolong semerawut. Pengarang mengajak kita melihat potret itu dengan cara yang lebih manusiawi, di mana tokoh-tokohnya dihadirkan secara apa adanya. Lagi, karakter dan penokohan para tokohnya pun sangat tidak biasa. Sepanjang cerita, narasi, deskripsi, dan dialog, senantiasa membawa kita untuk kagum pada seorang tokoh, namun pada bagian lain kita malah merasa terkecoh, sebab narasi tiba-tiba menghancurkan kesan hebat pada diri sang tokoh.

Sebagai contoh, lihat Ajo Kawir. Sebagai pemuda yang berani membunuh preman yang paling disegani orang, Si Macan, tentulah gambaran dalam kepala kita mengenai Ajo Kawir ini mengacu pada sesosok petarung tangguh. Namun ternyata narasi selanjutnya menceritakan bahwa Si Macan adalah preman yang telah tobat dan kakinya telah pincang! Selain itu, juga bisa ditemukan pada bagian ketika Ajo kawir ditanyai oleh temannya: bagaimana cara mengalahkan lawan yang tangguh dan badannya lebih sangat besar? Ajo kawir bahkan hanya menjawab: tusuk saja matanya dengan dua jari bila ada kesempatan!” Sungguh sebuah taktik yang bahkan hanya mungkin ada dalam kepala anak-anak.

Lain pula dengan Iteung, yang meskipun seorang pesilat hebat, namun tak berdaya jika berhadapan dengan masalah perasaan, terutama menyangkut perasaannya kepada Ajo Kawir. Atau mengenai Si Tokek, seorang sahabat yang selalu menasehati Ajo Kawir, sementara ia sendiri tidaklah tahu banyak tentang yang dikatakan. Begitu tokoh-tokoh dihadirkan dalam karakter-karakter yang paradoks.

Secara keseluruhan, tokoh-tokoh dalam novel ini adalah representasi dari keniscayaan yang membayangi setiap manusia. Seolah ingin mengatakan bahwa, selalu ada yang tak sempurna, selalu ada cacat dalam diri manusia, meski tak pernah kita duga-duga sebelumnya. Bahwa manusia bukanlah dewa atau malaikat, adalah sebuah kenyataan. Pengarang dengan gaya bicara yang sederhana, berhasil memperlihatkan bagian hakiki dalam diri manusia itu, lewat tokoh-tokoh sederhana yang dibangunnya. Meski pun paradoks, selalu ada yang tak sia-sia dalam diri manusia. Begitupun, cinta yang tulus membuat Ajo Kawir mampu bertahan menjalani hidupnya dengan waras. Sebuah kehidupan yang terus berjalan dengan segala masalah, sebuah pikiran dan wawasan yang terus berkembang dan berubah, begitulah yang kita temukan dalam novel ini. Kita tahu Ajo kawir pun akhirnya menjelma seorang lelaki matang yang tenang, setelah bertahun-tahun panik sebab penyakit kemaluannya tak mau mengacung. Dan ketika kemaluannya sembuh, Si Iteung istrinya, “pemilik” kemaluan itu, malah masuk kembali ke penjara.

Mengemukakan hal ini, saya membayangkan wacana postmodern yang hari ini menyelimuti dunia. Tentu saja Eka Kurniawan juga banyak menyerap gairah postmodern ini. Sebuah semangat yang menolak modernitas dengan segala citra, pakem, keuniversalan, dan kebekuannya. Eka Kurniawan menolak itu semua dengan memperlihatkan secara gamblang dalam karyanya. Misal, dari pemilihan alur cerita yang tak biasa (tak seperti dalam pakem modern yang hanya mengenal maju-mundur). Alur Eka malah bisa disebut sebagai sesuatu yang lebih sengkarut dari sehelai kain tak disetrika. Kadang seperti lingkaran, kadang serasa petak, kadang serasa segiempat memanjang, kadang serasa seperti ranting pohon.

Begitupun dari sisi ketokohan yang ia bangun. Jika modernitas membawa karya sastra kepada kebersahajaan, di mana tokoh dihadirkan secara konsisten dan terkesan sempurna. Di mana manusia dibedakan antara yang baik dan jahat, yang lemah yang kuat, atau yang hebat dan pecundang. Maka lagi-lagi Eka kurniawan menolak itu semua. Ia membangun tokoh tokoh yang paradoks, yang tak bisa dibagi ke dalam hanya dua kategori: hitam-putih. Di sini tokoh-tokoh dilepaskan dari paham lama, untuk kemudian diberi kesempatan untuk dinilai, ditafsirkan dengan cara beragam, dan tidak ada yang mutlak. Ini artinya setiap tokoh memiliki “yang baik” dan “yang jahat” dalam dirinya, “yang kuat” dan “yang lemah” begitu saja digabungkan. Konsekwensinya, tokoh tiba-tiba menjadi benar-benar hidup. Dan kita merasa tidak saja membaca sebuah karya fiksi, bahkan lebih dari itu, kita serasa sedang berhadapan dengan realitas yang kita kenali namun tak pernah kita tuliskan.

Maka tidaklah berlebihan rasanya, jika novel terbitan Gramedia ini masuk sebagai salah satu dari lima buku berkualitas, yang maju dalam pengkurasian dalam sayembara sastra bergengsi Indonesia, Khatulistiwa Literary Award (KLA), pada penguhujung tahun lalu.

(Padang, 20 Januari 2015)

Ulasan ini dimuat di halaman Estetika Koran Singgalang, Minggu, 08 Februari 2015

Kejujuran dari Dinding Toilet

Oleh: Widyanuari Eko Putra, Jawa Pos

Di toilet, kebebasan seperti tumbuh, berkembang, dan mekar. Di sana segala yang “jujur” dan murni bisa tampil tanpa malu-malu. Kita bisa membayangkan, dari toilet, imajinasi dan ide berjejalan minta diperhatikan. Maka ketika ada coretan di dinding toilet, itulah sesungguhnya kebenaran dari apa yang manusia rasakan. Ia mewakili kebebasan pikiran dan mewakili apa yang tengah terjadi, merekam kondisi mental dan psikologis si penulisnya.

Coretan di dinding adalah pertanda zaman yang bergerak, menjadi resep membaca kondisi negara, bangsa, psikologi, dan mental masyarakat. Terlebih sebuah dinding toilet di sebuah universitas, tempat manusia terpelajar dipelihara. Eka Kurniawan menangkap sinyal ini dan merangkumnya dalam buku terbarunya Corat-coret di Toilet (GPU, 2014). Buku ini adalah antologi kritik, ironisme, paradoks, dan satir bermuatan politis-ideologis.

Nafas kritik bercampur sinisme kepada penguasa tercium sejak cerpen pembuka. Cerpen berjudul “Peter Pan”, berkisah tentang aktifis mahasiswa yang menjual bukunya, menjual segalanya, demi mengurusi perjuangan menggulingkan sang diktatur. Meski akhirnya berhasil dilengserkan, kejahatannya tetap saja tak tersentuh. Cerpen bernada sinis, menyengat ingatan pembaca perihal kekuasaan Orde Baru. Akhir-akhir ini kita memang kerap menjumpai wajah mantan presiden tengah tersenyum sambil menyapa, menawarkan memori nostalgia bermuatan politis. ”Senyum yang terkutuk itu bahkan masih tercetak di uang kertas”. Ekspresi tokoh mahasiswa kepada presiden memang seringkali terkesan sarkastik, meski sebenarnya berisi kejujuran. Cerpen ini merekam kegelisahan dan kejengkelan para aktifis pasca-kejatuhan sang diktatur, yang masih saja “tersenyum”, bahkan hingga hari ini.

Eka bagai melanjutkan wasiat Bung Besar untuk tidak sekalipun melupakan sejarah. Sejarah dijadikan ramuan cerita untuk mengingat, mengejek, dan menghibur pembaca. Sejarah Indonesia berisi peperangan dan konflik. Cerpen “Hikayat Orang Gila” mengantarkan imajinasi penuh haru tentang perang, yang bagaimanapun selalu mengorbankan orang tak berdosa, sekalipun itu orang gila. Tragedi di Timor Timur adalah satu contoh. Deskripsi kesemrawutan perang berkelindan dengan perjuangan seorang gila bersama rasa laparnya yang kian tak terobati. Pada akhir cerita, “tanpa makan berhari-hari dan kemudian demam, Si Orang Gila akhirnya mati di situ. Terkapar tak berdaya”. Pembaca bakal termenung haru, mengimajinasikan kematian Si Gila akibat lapar tak terkira.

Melalui penggarapan sejarah, Eka menyajikan kisah beraroma nasionalisme, diselingi humor tragis-politis. Cerpen “Siapa Kirim Aku Bunga?” mengingatkan pembaca pada roman pergerakan ala Mas Marco Kartodikromo. Cerpen ini berkisah tentang Kontrolir Henri, seorang Belanda yang secara tak terduga jatuh cinta pada gadis bumiputera penjual bunga. Percakapan demi percakapan memberi garis demarkasi yang jauh antara kolonial dan bumiputera. Melalui perspektif ala Mas Marco inilah, Eka melawan lewat sejumlah fakta tragis-ironis. Henri hendak menemui orang tua si gadis untuk melamar, namun kedua orang tua si gadis justru tengah berada di Digoel. “Kau sendiri yang kirim mereka ke sana,” tegas si gadis. Pukulan sempurna: merobohkan kesombongan kolonial tanpa angkat senjata. Eka menyajikan kisah berlatar sejarah demi menyadarkan betapa ulah penjajah adalah penyebab atas kesengsaraan bangsanya.

Humor Politis dan Perlawanan

Pada akhirnya humor satir berbau politis mencapai puncaknya pada “Corat-coret di Toilet”. Gubahan cerita pendek dengan serangkaian satir, humor cerdas, hingga ungkapan politis-ideologis seolah mewakili pilihan sikap si pengarang. Penggarapan tema reformasi 1998 jadi isu sensitif. Pergulatan pelbagai pikiran mahasiswa tampil di dinding toilet, mengejawantahkan ironisme demokrasi. Dinding toilet jadi buku harian milik bersama, semua berhak menulis dan berkata jujur. Maman S. Mahayana menganggap cerpen ini cerdas “mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problem kemanusiaan.” Bernada pesimis-sarkastik Eka menulis:”Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya pada dinding toilet”. Coretan di dinding menjelaskan ketidakpercayaan mahasiswa kepada para anggota dewan. Nah!

Keseluruhan cerita dalam buku ini memiliki satu nyawa: perlawanan. Perlawanan itu menyasar tema-tema kediktaturan, tradisi, penjajahan, kesewenang-wenangan, dan kekerasan, yang mengacu pada satu pusat: kemanusiaan. Cerpen yang keseluruhannya ditulis pada periode 1999-2000 ini tak sekadar kisah, namun semacam jejak sejarah. Jejak semangat reformasi, sekaligus gairah mempertanyakan ulang keberhasilan reformasi, mengalir deras dalam beberapa cerpen Eka. Cerpen yang lahir di saat penulis masih berusia 20-an, usia ketika idealisme dan jiwa perlawanan mencapai titik didihnya. Apalagi beberapa cerpen mengambil penokohan mahasiswa, ikon penting gerakan reformasi. Tokoh mahasiswa memang kerap identik dengan aktifitas pergerakan, reformasi, dan intelektualisme.

Lebih dari itu, kumpulan cerpen ini mengingatkan pembaca di negeri ini, tentang sejarah yang tidak boleh disepelekan. Juga tentang penguasa yang mesti terus diingatkan, meski lewat sekadar “corat-coret di dinding toilet”.

Diterbitkan di Jawa Pos, 4 Mei 2014. Sumber: widyanuariekoputra.blogspot.com.

Ulasan Corat-coret di Toilet

Ini beberapa tautan berisi ulasan mengenai buku Corat-coret di Toilet:

Ketika Kecantikan Terluka

Oleh: Bagus Purwoadi, Aksaraloka

Bermula dari komentar di sampul belakang novel: “It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor…..”-Benedict R. O’G Anderson, New Left Review, saya mulai membaca novel Eka Kurniawan: Cantik itu Luka. Ya, Pramoedya, sepertinya, memang sering dijadikan sebagai patokan untuk menilai seberapa bagusnya sebuah karya sastra lokal—dan menurut saya itu pantas. Sekarang bagaimana dengan Cantik itu Luka-nya Eka Kurniawan?

Bagian pertama, saya dikejutkan oleh kisah seorang pelacur yang bangkit dari kubur! Wah! Apa-apaan ini! Mistisisme? Takhayul? Pada mulanya saya kira ini adalah novel sejarah. Bagaimanapun, Pram dan sejarah itu tidak bisa dipisahkan, sedang Pram dan takhayul itu, sebaliknya, tidak bisa disatukan, bagaikan minyak dan air! Saya kira penulis review di atas ngawur! Tapi tunggu! Eka Kurniawan menuturkan kebangkitan sang pelacur dari kematian seperti ia bercerita tentang kambing tetangga sebelah yang beranak cempe berkepala dua. Aneh, ajaib, tak wajar, tapi ada, dan tak perlu jadi takhayul, tak perlu dituturkan secara berlebihan, dan menjadi sassus yang menyesatkan, anggap saja itu sebagai sirkulasi menyimpang dari kehidupan, agar tak jenuh. Dan semakin lama, gaya tuturnya semakin membuat saya terpaku.

Di dalam novel ini ada seorang pelacur cantik jelita yang telah bercinta dengan seratus tujuh puluh dua lelaki di sepanjang hidupnya! Pelanggan tertuanya berumur sembilan puluh dua, dan yang termuda dua belas tahun—yang belakangan ini bercinta dua minggu setelah disunat. Lalu ada seorang gadis buruk rupa yang diberi nama: Cantik, kelahirannya serupa onggokan tai yang keluar melalui lubang yang berbeda letak, barang beberapa senti. Hidungnya seperti colokan listrik, dan kulitnya sehitam jelaga. Ketika dewasa, ia bersenggama dengan pria tampan yang jera pada kecantikan. Kemudian, ada preman yang mampu berkelahi tujuh hari tujuh malam, kebal senjata dan mati dengan cara moksa. Ia jatuh cinta pada seorang pelacur, tapi kemudian menikahi putri si pelacur yang masih bocah, setelah cintanya ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Ada pelanggan seks komersial lanjut usia yang membayar layanan seks dengan putrinya yang bisu, dan mati di atas ranjang setelah orgasme. Ada penggali kubur yang menikah dengan seorang gadis yang terobsesi pada arwah ayahnya. Ada hubungan incest, ada sadomasokis, ada pedhophilia, ada hantu-hantu komunis yang bergentayangan. Cantik itu Luka adalah perayaan atas ambruknya nilai-nilai keindahan. Lalu di mana Pramoedya-nya?

Saya tidak menemukan “Pramoedya” sebelum beberapa tokoh dalam novel ini tampil dengan maksimal. Tokoh-tokoh yang tampil maksimal! Inilah yang membuat Benedict R. O’G Anderson membandingkan Eka Kurniawan dengan Pramoedya. Seperti halnya teknik penokohan Pramoedya yang tidak hanya “menghidupkan” Minke—tokoh utamanya, dalam Tetralogi P. Buru, Cantik itu Luka memiliki teknik penokohan yang juga kuat. Eka Kurniawan begitu rajin membangun latar belakang, dan karakter tokoh-tokohnya. Setiap tokoh memiliki ceritanya masing-masing, dan dapat berdiri sendiri-sendiri.  Plot cerita maju-mundur , khas Tetralogi P.Buru, disampaikan dengan perpindahan alur yang halus.  Titik perpindahan alur cerita tidak selalu sama, kadang disisipkan ketika terjadi interaksi antar tokoh satu dengan yang lainnya, kadang ketika penulisnya menjelaskan perihal latar belakang (sejarah) tempat di mana kisah ini terjadi. Tokoh-tokohnya tuntas, demikian pula dengan latar belakang tempat, sebuah kota fiktif yang bernama Halimunda, beserta sifat-sifat masyarakatnya.

Cantik Itu Luka mengingatkan saya pada ironi yang selalu hadir mendampingi sang kecantikan itu sendiri. Ia—kecantikan, tidak hanya membawa kebahagiaan dan kebanggaan, ia pun juga (seringnya) membawa luka, dan duka. Kecantikan yang luar biasa itu selalu menghunuskan pisau, kata Acep Zamzam Noor. Dan pisau itu dipatahkan oleh Cantik itu Luka. Dalam novel ini, kecantikan, dan keindahan, dibombardir oleh kekejian, dan keburukan yang menjijikan. Kecantikan yang agung dan selalu dipuja-puja, disandingkan dengan keburukan, yang selalu dicacimaki. Ini seperti, membalas dendam pada sang kecantikan yang angkuh dan selalu menghunuskan pisau tersebut.

Nah, barangkali saja, sebagian dari Tuan dan Nyonya, secara tidak sadar ternyata mendendam pada kecantikan, Cantik Itu Luka akan mengiringi anda untuk tertawa keras-keras. Merayakan kekalahan dari si angkuh yang selalu menghunuskan pisau itu. Karena Cantik itu luka. Dan yang terluka, kini berhak untuk tertawa, karena kecantikan telah merasakan bagaimana rasanya terluka.