Eka Kurniawan: Aku Menunggu Buku yang Menggangguku

SETIDAKNYA ada tiga hal,” kata laki-laki itu dengan nada santai tatkala seseorang bertanya kepadanya perihal alasan apa yang selama ini membuatnya menulis, “Pertama, untuk mencatat. Kedua, untuk membagi catatan itu kepada orang lain. Ketiga, mungkin yang terlihat sepele tapi bagiku penting, yaitu untuk bermain-main. Tanpa yang terakhir itu, semuanya akan terasa sekadar aktivitas mekanik.”

Kamis, 28 April 2016, saya bertemu Eka Kurniawan di Yogyakarta. Hari itu selepas azan asar, saya sedang duduk santai di pelataran Radio Buku bersama Fairuzul Mumtaz dan Faiz Ahsoul ketika Eka muncul di hadapan kami. Ia mengenakan sepatu hitam, jin biru, dan kaus Joger biru telur asin (bertuliskan “HIDUP INI BISA JADI TAMBAH INDAH, JIKA KITA MAU & TIDAK TAKUT BERUBAH, DIUBAH & MENGUBAH”). Untuk lawatan ini, ia membawa ransel punggung, dan mengajak adik laki-lakinya. Eka tersenyum dan menyapa. “Kami habis makan pempek tadi di sana,” katanya santai.

Sore itu Radio Buku mengadakan rangkaian acara memperingati 10 tahun kematian Pramoedya Ananta Toer. Eka datang pada hari kedua untuk membicarakan buku terbarunya, novel berjudul O. Acara mengobrol bersama Eka Kurniawan merupakan bagian dari “Kata Rupa Festival” yang berlangsung selama tiga hari. Gramedia Pustaka Utama, pihak penerbit buku-buku Eka, menghubungi saya dan meminta kesediaan saya memandu acara bincang-bincang bareng dia di Yogyakarta. Dengan senang hati saya mengiyakan.

“Ngobrolin apa nih kita, Mas?” tanya saya iseng saat duduk di kursi menghadap meja bundar di halaman depan Radio Buku.

Eka mengambil tempat di sebelah kiri saya, di sebelahnya lagi Fairuz dan Faiz. Angin pukul tiga sore berembus dan bikin ngantuk. Suasana lokasi acara masih sepi. Meski demikian, beberapa menit berikutnya satu-dua pengunjung berdatangan. Saya membenarkan posisi duduk, mencari pose yang nyaman.

“Terserah mau ngobrol apa,” jawab Eka, seraya nyengir dan meregangkan tubuh.

“Pura-pura dia itu,” sahut Faiz merujuk ke saya. “Pasti sudah siapkan tiga puluh halaman pertanyaan buatmu.”

Saya tertawa.

Di dalam tas, ada empat lembar berisi pertanyaan untuk acara ini.

Acara dimulai terlambat satu jam. Kursi-kursi hampir terisi penuh. Selama dua jam, saya berusaha melontarkan seluruh pertanyaan yang sudah saya susun beberapa hari sebelumnya. Saya mencoba mengungkap sebanyak mungkin sisi Eka—kesuksesannya di luar negeri, ihwal penerjemahan karya-karyanya, hobi membaca buku, novel O, hingga kehidupan personal. Eka menjawab dengan santai, tidak terburu-buru, dan efektif. Sesekali ia mencoba menyelipkan lawakan, yang memang berhasil membuat orang-orang tertawa.

Masuk nominasi Man Booker International Prize 2016 dan meraih World Readers Award 2016 di Hong Kong. Bagaimana rasanya?

Terkejut dan senang (hening sebentar). Ya, itu saja, sih.

Punya ekspektasi khusus dari pembaca di luar negeri usai karya-karyamu diterjemahkan ke bahasa asing?

Kalau bahasa asing lain (selain Inggris), aku tidak punya bayangan, karena sama sekali tidak tahu seperti apa pembaca dan industri buku mereka. Tapi kalau yang dalam bahasa Inggris, sedikit banyak aku membayangkan penerimaan atas buku-bukuku sesuai dengan penerbitnya. Bukuku yang diterbitkan New Direction (Beauty is a Wound), misalnya. Aku berharap para pembaca New Direction suka dengan bukuku.

New Direction bukan penerbit besar, mereka penerbit menengah yang memang hanya menerbitkan buku-buku sastra. Mirip Pustaka Jaya kalau di Indonesia-walau Pustaka Jaya juga menerbitkan selain sastra. Jadi, aku membayangkan buku-bukuku sebetulnya tidak begitu dibaca dengan sangat luas seperti buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit mainstream yang lebih besar lagi.

Meski begitu, ternyata hasilnya sedikit melebihi perkiraanku. New York Times sampai mengulas bukuku sebanyak tiga kali dan The New Yorker satu kali. Itu sesuatu yang jarang terjadi. Mereka sebetulnya jarang membahas buku sastra yang sangat spesifik, lebih sering ke buku-buku mainstream.

Buku-bukumu lebih laku di luar negeri ketimbang di Indonesia. Dan tentu hasil penjualannya lebih besar?

Iya. Ketimbang di Indonesia, lebih laku di sana.

Mungkin karena bukuku di luar dijual dengan harga lebih mahal. Kalau dijadikan Rupiah, novel Cantik itu Luka (2002) harganya sampai tiga ratus ribu. Di sini, enggak sampai seratus ribu. Persoalan royalti, sih, sama saja. Tapi, misalnya, kalau di sini bukuku butuh tiga belas tahun lamanya untuk mencapai angka penjualan tertentu, sedangkan di Amerika hanya butuh satu tahun.

Tetapi, itu juga enggak bisa dibilang laku banget, karena di sana ukurannya beda. Di Amerika, kamu bisa menjual buku sebanyak 30.000 eksemplar itu hitungannya enggak gede-gede banget. Gede itu berarti ratusan ribu atau bahkan jutaan eksemplar.

Bagaimana peluang bagi buku-buku penulis Indonesia lain untuk juga dilihat oleh pembaca di luar?

Selama ini kita membayangkan pintu atau gerbang tersebut (untuk menembus pasar luar negeri) sulit ditembus, padahal sebenarnya tidak. Kesempatan itu selalu ada. Tapi barangkali sebagian besar penulis tidak tahu pintu-pintu atau gerbang itu. Gerbang selalu ada di tempatnya. Mungkin kita tidak menemukannya, tidak tahu, atau tidak berani mencoba.

Seberapa penting, bagi seorang penulis, karyanya dibaca di luar negeri?

Sebenarnya, yang jauh perlu dipertanyakan adalah: Penting enggak bagi mereka membaca karya sastra Indonesia? Ketika kita menulis dalam bahasa Indonesia dan hendak menawarkan tulisan tersebut dalam bahasa lain, itu seperti kita sedang memasak sesuatu dan menjajakan makanan tersebut, lantas bertanya: Penting enggak menjual makanan ini? Ya, tentu saja penting untuk menghasilkan duit atau alasan lain. Tapi persoalannya adalah, mereka butuh enggak makanan yang kita masak itu?

Selama kamu berpromosi di luar negeri, apa yang paling sering ditanyakan pembaca di sana?

Karena mereka baru mendengar namaku, baru tahu buku dari Indonesia, dan bahkan beberapa baru tahu soal Indonesia, hal yang paling umum ditanyakan adalah perkara teknis, seperti kenapa butuh waktu sampai tiga belas tahun untuk bukuku diterjemahkan ke bahasa Inggris. Menurut mereka, itu waktu yang sangat lama. Aku jawab, enggak ada jawaban pasti buat pertanyaan itu, justru aku masih beruntung akhirnya bukuku bisa terbit dalam bahasa Inggris, karena kalau tidak mungkin seumur hidup enggak bakal terbit (tertawa).

Hal berikutnya adalah, mereka selalu masuk ke dalam buku. Ketika berhadapan dengan buku, mereka bertanya hal-hal yang memang ada di buku itu. Buatku itu menyenangkan, karena aku telah menulis sesuatu dan mereka bertanya tentang apa yang aku tulis. Misalnya, mereka akan bertanya dari mana kamu dapat ide soal manusia keluar dari kuburan, dan setelahnya mau tidak mau aku bercerita tentang pengaruh novel-novel horor dan novel-novel silat yang kubaca. Mereka tidak bertanya di luar itu, seperti konteks politik atau lainnya, karena tentu saja mereka harus cari tahu dulu mengenai hal-hal tersebut. Kalau mereka tertarik, baru mereka akan bertanya.

Bagaimana ceritanya buku-bukumu bisa diterjemahkan dan dipasarkan di luar negeri?

Akhir tahun 2008 aku bertemu Pak Ben (alm. Benedict Anderson) di Jakarta untuk mengobrol biasa saja. Tapi di ujung pertemuan itu dia bilang bukuku harus dibaca di luar negeri, diterjemahkan ke bahasa Inggris atau Prancis atau keduanya. Dia tidak secara spesifik menyebut buku yang mana. Sampai tiga tahun kemudian aku enggak melakukan apa-apa, karena malas (tertawa).

Kemudian, akhir 2011 aku bertemu Tariq Ali, karib dekat Ben. Dia bilang, dia diberi pesan oleh Benedict Anderson untuk menemuiku. Dia tanya apa bukuku sudah diterjemahkan, dan aku jawab belum. Terjemahkan sekarang juga, katanya, dan aku iya-iya saja. Tapi begitu dia pulang aku lagi-lagi enggak melakukan apapun.

Tapi Tariq mengirimiku e-mail terus-terusan sampai-sampai aku merasa terteror (tertawa). Jadi aku menghubungi Mirna, editorku di Gramedia, dan bertanya apa kita punya penerjemah. “Gue males, nih, diteror mulu,” kataku. Kami mengontak empat penerjemah dan meminta contoh hasil terjemahan mereka. Waktu itu kami putuskan menerjemahkan Lelaki Harimau (2004), karena tipis, jadi enggak terlalu mahal ongkosnya dan masuk akal buat proyek penerjemahan pertama. Dari contoh hasil terjemahan yang masuk, terpilihlah Dalih (Labodalih Sembiring), dia berasal dari Bantul.

Pada saat yang bersamaan, pada 2011, aku dapat e-mail dari Annie Tucker. Dia bertanya apa dia boleh menerjemahkan novel Cantik itu Luka? Saat itu dia sudah menerjemahkan satu bab. Aku membacanya dan aku suka hasil terjemahannya. Saat itu dia lagi penelitian di Malang, dan karena aku akan ke Radio Buku, aku mengajaknya bertemu di Yogya. Jadi aku bertemu dengan Annie dan Dalih di waktu yang sama.

Kepada Dalih aku hanya bilang bahwa aku dan Ben bersepakat kamu yang akan mengerjakan Lelaki Harimau. Sementara ke Annie aku mengajukan dua syarat: Pertama, kamu harus menyelesaikan terjemahan Cantik itu Luka apapun yang terjadi. Kedua, aku enggak mau kamu menawarkan kepada siapapun di Indonesia. Kamu harus tawarkan buku ini ke Amerika atau Inggris.

Jadi Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka diterjemahkan di waktu yang sama. Lelaki Harimau sudah lebih dulu mendapatkan penerbitnya, Verso, karena Tariq Ali yang memasukkannya, kemudian baru dapat penerjemah. Sedangkan Cantik itu Luka lebih dulu mendapatkan penerjemah baru kemudian penerbitnya.

Soal Cantik itu Luka, setelah Annie selesai menerjemahkannya, dia bawa naskah itu ke Amerika dan mendapat dana terjemahan dari PEN American Center. Dari situ naskah terjemahannya dibaca oleh empat penerbit. Termasuk dalam keempat itu adalah New Direction. Karena aku sudah mengenal banget buku-buku terbitan New Direction, aku bilang ke Annie apa kita bisa sama mereka, dan ternyata New Direction sendiri juga sangat tertarik. Mereka minta contoh hasil terjemahan lebih banyak, sekira sembilan bab—separuh buku—yang baru selesai dikerjakan Annie. Setelahnya mereka langsung bikin kontrak.

Terjemahan bahasa Inggris novel Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka sama-sama dapat kontrak tahun 2013 dan terbit dua tahun kemudian.

Seberapa penting menerjemahkan karya sastra dari bahasa Indonesia ke bahasa asing atau sebaliknya?

Sangat penting. Tetapi menurutku, daripada kita menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa asing, jauh lebih penting menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa asing ke Indonesia. Kalau karya-karya terbaik di luar masuk ke Indonesia, kita bisa membaca karya-karya bagus, dan kalau kita membaca karya-karya bagus, kita akan menghasilkan karya-karya yang insyaallah juga bagus. Jika karya-karya kita bagus, otomatis mereka juga ingin baca.

Mereka di luar juga sebetulnya selalu butuh dan mencari karya-karya dari luar negara mereka untuk diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Tetapi memang agak berbeda antara Amerika dan Inggris dengan negara-negara di Eropa. Di Amerika dan Inggris, hanya tiga persen jumlah karya terjemahan, sedangkan di Eropa seperti Prancis dan Jerman porsinya bisa sampai empat puluh persen—mereka menerjemahkan banyak karya sastra luar karena percaya enggak bakal bisa hidup hanya dari konten lokal. Sebaliknya, Amerika dan Inggris merasa sudah cukup membaca karya-karya dari mereka sendiri.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Aku rasa di Indonesia juga seperti Amerika dan Inggris, hanya konteksnya beda. Kalau di Amerika dan Inggris menerjemahkan begitu sedikit karya sastra dari luar negara mereka karena merasa cukup dengan karya sendiri. Sementara di Indonesia bukan karena itu, tapi mungkin juga karena kurang kesadaran untuk menerjemahkan karya sastra dari bahasa asing.

Seberapa sering kamu menerjemahkan karya sastra luar ke Indonesia?

Sekarang, sih, sudah jarang. Kalau dulu masih punya banyak waktu, aku sering menerjemahkan karya-karya yang aku suka, hampir setiap hari.

Aku menerjemahkan karena ingin tahu bagaimana kata per kata ditulis oleh si penulis karya tersebut. Penting bagi penulis untuk menerjemahkan karya sastra, karena kita dipaksa menemukan kata-kata dan ekspresi tertentu dari cerita yang bukan milik kita tetapi harus kita tulis dalam bahasa kita sendiri, sehingga kita jadi terlatih menemukan kata-kata dan ekspresi tertentu yang tepat.

Lebih asyik menerjemahkan karya orang lain atau menulis karya sendiri?

Kesenangannya berbeda. Menerjemahkan enggak begitu pusing karena ceritanya sudah ada, tinggal mengalihbahasakannya. Kesulitannya hanya saat berusaha menemukan padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Kalau menulis karya sendiri kita membangun semua dari nol, mencari kata-kata sendiri, hampir tanpa panduan sama sekali.

Beberapa penulis mengerjakan bukunya dengan kerangka yang ketat, sedang yang lain menulis tanpa punya outline. Bagaimana caramu menuliskan buku-bukumu?

Sebagian besar bukuku ditulis tanpa outline atau perencanaan apapun. Dalam proses kreatifku, yang lebih penting adalah rewriting—menulis ulang. Kadang, setelah beberapa puluh halaman, aku tiba-tiba sadar nama tokohku berubah, atau plot cerita mendadak belok ke mana-mana. Tapi itu semua peristiwa yang alami, karena kita menulis tanpa perencanaan. Jadi aku biarkan tetap mengalir.

Kalau ceritaku sudah sampai di titik enggak tertolong lagi karena benar-benar jelek, aku akan menulis ulang semuanya dari awal, sambil mengingat-ingat di bagian mana tadi aku melakukan kesalahan. Ketika menulis ulang, aku mencoba menemukan ekspresi-ekspresi baru. Jika tulisan sebelumnya terasa menjemukan atau gaya menulisnya enggak enak, aku akan tulis cerita yang sama dengan cara yang baru. Prosesnya hampir selalu begitu, dan aku melakukannya sampai aku merasa novel itu sudah menemukan bentuknya.

Cantik itu Luka, misalnya, aku tulis ulang sebanyak dua-tiga kali. O, aku sudah enggak bisa hitung, sepanjang delapan tahun sudah berapa kali menulis ulang novel itu. Karena proses menulis ulang itu, selalu ada beberapa versi dari novel-novelku. Ada yang perbedaannya sedikit, ada yang cukup jauh.

Cerita pendekmu juga ditulis dengan cara yang sama?

Kurang-lebih sama. Tapi kalau cerita pendek, karena enggak sepanjang novel, jadi enggak lebih merepotkan. Kadang-kadang begitu selesai menulis satu cerita sudah ketahuan di mana letak bolongnya. Kadang pula sekali ditulis sudah enggak perlu ditulis ulang lagi karena sudah rapi. Ada cerita yang pembukaannya sudah oke, bagian akhirnya sudah oke, tapi pertengahannya kurang, maka bagian itu yang aku bongkar.

Aku enggak bisa membongkar novel dengan cara seperti itu, karena novel itu panjang dan proses pengerjaannya lama. Satu bagian dibongkar, bagian lain harus ikut. Kalau di bagian tengah ceritanya nggak jalan, ya sudah, aku tulis ulang semuanya dari awal. Akibat dari menulis ulang itu, naskah yang tadinya aku anggap sudah oke mau enggak mau aku rombak lagi.

Bagaimana caramu mempertahankan konsistensi suara cerita pada naskah yang proses pengerjaannya hingga bertahun-tahun?

Naskah akhir yang kemudian terbit jadi buku adalah naskah yang aku kerjakan selama waktu yang tidak jauh dari waktu terbitnya. O, misalnya, yang mulai aku kerjakan dari tahun 2008, tentu saja apapun di naskah tersebut yang ada pada tahun itu sudah tidak ada lagi dalam versi akhirnya sekarang. Cerita besar dari naskahnya masih ada, tetapi versi yang akhirnya terbit adalah cerita yang aku tulis secara maraton dalam setahun terakhir. Kalau enggak begitu, pasti akan ada tone cerita yang berubah dan enggak enak.

Kamu punya jam khusus untuk menulis?

Kalau masih dalam proses pengerjaan draf, enggak ada jadwal khusus. Kapanpun aku pengin menulis, ya aku tulis. Kalau sedang enggak pengin, hingga berhari-hari pun aku enggak akan menulis.

Tetapi begitu satu naskah sudah ada beberapa versi dan aku melihat sepertinya aku bisa merampungkan ini dengan membuat versi akhirnya, aku akan menulis maraton, setiap hari selama lima sampai delapan jam sehari. Pada tahap itu, aku enggak mengerjakan apapun selain naskah akhir tersebut.

Versi akhir harus dikerjakan dengan cara maraton, karena kalau pengerjaannya terputus, misalnya aku tinggalkan naskah itu selama dua minggu saja, sudah sulit untuk memasukinya lagi. Hari Sabtu dan Minggu biasanya aku pakai beristirahat.

Punya tempat favorit pada saat menulis?

Aku bisa menulis di mana saja. Rumah, kantor, atau tempat-tempat di luar. Aku bisa menulis selama tidak ada yang mengajak ngobrol. Aku enggak masalah menulis di tempat yang banyak orang berlalu-lalang.

Kamu juga menulis skenario. Pengaruh macam apa yang diberikan oleh proses membuat skenario ini terhadap kerja membuat novel?

Aku banyak menulis skenario untuk televisi, sejak tahun 2005 ketika aku tinggal di Jakarta. Waktu itu, aku sudah menerbitkan dua novel, kemudian masuk ke rumah produksi dan menulis skenario. Setelah itu aku keluar dari PH, tetapi di tengah-tengah promosi novel terbaruku tahun lalu pun aku masih menulis skenario.

Hal yang aku pelajari dan sangat berguna dari menulis skenario adalah adanya batasan durasi tayangan film atau televisi yang ketat dan sangat terbatas. Lebih-lebih di televisi, benar-benar sudah dihitung kapan commercial break atau music break masuk, dan sudah tidak bisa lebih longgar lagi.

Itu membuat seorang penulis harus bekerja dan mencari tahu bagaimana cara mengatur cerita dalam ruang sempit, memperkenalkan karakter-karakter tanpa bertele-tele, dan dengan demikian bercerita secara efektif. Pelajaran dari kerja menulis skenario ini aku pakai saat menulis novel maupun cerpen.

Novel atau cerita pendek sebenarnya tidak punya batasan seperti skenario. Kita bisa menulis sebanyak apapun. Tetapi aku sudah memiliki disiplin itu, bekerja dalam kerangka yang efektif dan tidak mengizinkan cerita untuk melebar ke sana dan ke mari. Sebisa mungkin cerita harus terus berjalan. Kalaupun kita ingin cerita berhenti sebentar, harus ada tujuan mengapa cerita itu menjadi lambat, atau mengapa kita membuatnya kembali cepat.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014) dan O punya tempo cepat seperti film. Novel-novel itu ditulis dalam pengaruh kerja menulis skenario?

Ya, memang. Buatku, efektifitas itu sangat penting. Selain menulis dengan efektif dan efisien, dari penulisan skenario aku juga belajar bagaimana membuat visual. Dua novel pertamaku menggunakan teknik telling—mengatakan, sementara du novel terakhirku lebih showing—menunjukkan, sehingga ada lebih banyak adegan dan dialog. Itu aku pelajari dari menulis skenario film dan televisi.

Aku merasa selama ini aku menulis cerita lebih banyak sebagai pendongeng, dan kini aku ingin menciptakan narator yang lebih objektif. Aku mau meletakkan saja adegan-adegan dan dialog-dialog tanpa intervensi dari narator.

Selain cerpen, novel, skenario, kamu juga menulis di blog. Bagaimana awal kamu membuat blog?

Aku membuat ekakurniawan.com dari tahun 2000, tetapi waktu itu memang enggak begitu rajin menulis di blog. Aku bikin blog karena saat itu melihat ada hal baru yang menyenangkan: Internet. Ketika media mainstream di masa itu masih kuat, Internet hadir menjadi media alternatif. Semua orang ingin mencobanya, termasuk aku.

Aku mulai rajin menulis di blog baru selama beberapa tahun terakhir, didorong rasa bosan terhadap media mainstream—koran dan majalah—sampai aku merasa enggak terlalu pengin menulis di sana lagi, kecuali satu-dua kali aku masih menulis esai. Tetapi, di waktu yang bersamaan, sebenarnya aku melihat Internet pun sudah mulai jadi mainstream. Semua orang ada di sana.

Aku sempat ingin meninggalkan blog juga, tapi kupikir kalau blog enggak punya dan koran atau majalah juga enggak aku baca, terus mau ngapain? Akhirnya aku pertahankan blog agar aku masih bisa menulis dan menyimpan satu-dua ide kecilku.

Dalam kesusastraan dan dunia Internet, blog adalah sesuatu yang unik. Kita tahu di kesusastraan ada yang namanya jurnal, tetapi jurnal sifatnya sangat personal, ditulis untuk diri sendiri. Aku melihat blog sebagai media yang personal sekaligus terbuka buat publik. Sifat blog yang semacam itu menjadi tantangan buatku, bagaimana caranya menulis sesuatu yang personal sekaligus juga bisa dibaca banyak orang.

Di blog, kamu sering mengulas buku yang kamu baca. Enggak khawatir sumber pengetahuanmu sebagai penulis ketahuan orang?

Enggak, lah. Terserah saja kalau orang mau mencuri ilmu atau membaca buku yang sama dengan yang aku baca. Lagipula, sumber-sumberku menulis justru dari buku-buku yang tidak aku ulas di blog (tertawa).

Kalaupun aku enggak mengulas buku-buku yang aku baca, ada banyak orang yang tetap mampu melacak apapun dari tulisan-tulisanku. Satu-satunya cara menjadi orisinal adalah menulis dengan pintar. Kalau mau meniru satu penulis, sebisa mungkin jangan tiru plek-plek. Harus kreatif. Ibarat ada bahan buah kedondong dan mangga, kita enggak hanya membuatnya jadi rujak, tapi bikin sesuatu yang lain.

Justru bacaan yang aku buka ke publik menjadi tantangan buatku untuk menulis dengan lebih baik lagi.

Pernah menghitung berapa banyak buku yang kamu sudah baca?

Enggak. Karena aku enggak punya rak yang besar, koleksi pribadiku juga sebetulnya enggak begitu banyak, hanya sekitar seribu lima ratus buku. Kalau sudah melebihi itu, biasanya aku sortir dan sisanya akan aku sumbangkan ke perpustakaan.

Sepertiga koleksi bacaanku novel sastra dari Indonesia maupun luar negeri—termasuk buku-buku lama Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap, sedikit buku-buku filsafat, dan yang jumlahnya agak banyak adalah buku-buku sejarah, karena buku-buku itu agak sulit ditemukan kembali.

Buku-buku sejarah sulit dicari dan jarang diterbitkan ulang, sehingga kalaupun suatu saat nanti koleksi buku sejarahku bertambah dan memenuhi rak, aku akan merelakan buku-buku yang lain tergeser. Buku-buku sejarah penting bagiku buat mencari referensi. Beda dengan novel, setelah aku baca dan sudah tahu ceritanya belum tentu aku baca ulang. Kecuali, beberapa novel yang aku sangat suka, baru akan aku simpan terus.

Buku yang bagus itu bagaimana?

Buku-buku bagus adalah buku-buku yang menggangguku, secara intelektual maupun emosi, baik itu melalui isi cerita maupun teknik menulisnya. Ada buku yang bagus tetapi dalam pengertian ia hanya menghiburku, tidak membuatku tertarik melihatnya kembali. Tetapi, ada buku-buku yang setelah aku selesai membacanya, aku tahu aku akan kembali dan melihatnya lagi untuk merasakan ulang gangguan itu. Bahkan saat aku sudah bisa memecahkan misteri mengapa buku itu menggangguku, aku akan terganggu lagi oleh hal lain.

Buku-buku semacam itu yang aku anggap buku bagus.

Di blog, kamu bilang pernah membuat satu proyek panjang yang diberi judul Malam Seribu Bulan. Bisa ceritakan tentang itu?

Ide awalnya datang dari salah satu buku yang aku suka, Seribu Satu Malam. Di sana terdapat banyak cerita yang digabung menjadi satu oleh sebuah kerangka: Syahrazad yang mendongeng dari malam ke malam. Cerita-cerita dalam buku itu sangat menarik. Aku membayangkan diriku membuat proyek serupa memakai latar Indonesia. Mungkin aku akan menuliskan kisah-kisah yang lebih urban dan modern, tetapi tetap dengan elemen-elemen serupa buku itu: violence, seks, hal-hal gaib—segala genre dongeng yang ada di sana.

Setelah Lelaki Harimau terbit kali pertama, aku mulai mengumpulkan banyak cerita demi proyek panjang Malam Seribu Bulan. Satu-satunya tantangan bagiku adalah aku tidak ingin menceritakannya seperti Syahrazad menceritakan Seribu Satu Malam. Setelah bertahun-tahun proyek itu jalan, aku mulai terlunta-lunta karena kehilangan arah, sampai akhirnya beberapa bagian dari proyek panjang itu aku putuskan untuk menjadi satu novel utuh yang berdiri sendiri. Bagian dari proyek itu adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan O.

Bagaimana gagasan awal tentang monyet bisa muncul di dalam novel O?

Sebenarnya monyet datang belakangan. O masih bagian dari proyek panjang Malam Seribu Bulan, tetapi bagian monyet baru muncul pada tahun 2012.

Ketika itu aku sudah punya anak dan anakku senang melihat topeng monyet, yang pada masanya masih diperbolehkan di Jakarta. Mulanya aku terpikir untuk menulis fabel tentang monyet, namun seiring jalan aku memutuskan, baiklah ini akan masuk saja ke proyek panjang itu. Ide membuat fabel anak-anak tentang kisah monyet kemudian buyar begitu saja.

Aku tidak punya satu rencana jelas ingin membuat novel apa. Aku jalan bersama banyak cerita yang aku kumpulkan. Gagasan dasarnya hanya: Akan ada banyak cerita yang bergabung menjadi sebuah novel. Aku mulai menulis dari awal satu persatu cerita. Beberapa akhirnya berakhir sebagai cerita pendek saja, yang juga masuk dalam kumpulan Perempuan Patah Hati yang Menemukan Kembali Cinta Melalui Mimpi.

Bayangan bentuk yang lebih utuh tentang satu novel baru mewujud ketika cerita tentang monyet itu bergabung.

O adalah novel multi-plot. Tapi apakah ada gagasan tunggal di dalamnya?

Gagasan tunggalnya adalah bahwa cerita tidak berdiri sendiri. Sebelum O, aku sudah membuat cerita multi-plot di Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau, meskipun di sana ada satu plot yang lebih kuat yang menjadi tulang punggung sub-plot sub-plot lain.

Kemudian, dari kedua novel tersebut aku mencoba menarik satu hal, yaitu bagaimana sub-plot dan plot utama tidak memiliki posisi yang hierarkis—baik plot utama maupun sub-plot berada sejajar. Si monyet di O, meskipun namanya menjadi judul novel, sebenarnya hanya bagian dari banyak karakter yang ada di sana.

Soal karakter dalam fiksimu, ada tokoh polisi bernama Joni Simbolon di O yang ternyata juga pernah muncul di Lelaki Harimau. Kamu memang punya teman polisi?

Joni Simbolon itu memang nama polisi di Pangandaran.

Ada kalimat, “Manusia, dari sampah kembali ke sampah” di bagian akhir novel O. Kamu pesimistis dengan nasib umat manusia?

Aku tidak melihat dari konteks itu. Kalau soal pesimistis atau optimistis juga aku tidak tahu. Tetapi, gagasan kecil soal O adalah mengenai hidup yang berulang. Si monyet O yang setelah hidupnya berakhir sebagai monyet, ia akan menjadi manusia, walau monyet-monyet itu sebenarnya enggak pernah tahu bagaimana kelak nanti kalau mereka jadi manusia.

Mirip dengan kita yang mungkin sering bertanya: Setelah hidup sebagai manusia, lalu apa? Kita pun enggak pernah tahu. Kita hanya bisa menebak-nebak dan sok yakin, setelah mati nanti akan masuk surga atau neraka. Tidak ada yang pernah bisa membuktikannya. Sama dengan O yang tidak pernah bisa membuktikan saat menjadi manusia nanti seperti apa.

Kalimat yang ada di akhir cerita itu aku maksudkan sebagai coda, bagian yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan sebelumnya, tetapi mengulang info yang ada di awal. Aku memelesetkan kalimat penutup itu dari frasa terkenal “From dust to dust.” (Earth to earth, ashes to ashes, dust to dust).

Banyak hewan di dalam O. Kamu merasa terhubung dengan yang mana?

Burung kakaktua, yang menyuruh orang salat tapi dirinya sendiri kagak salat.

“Keyakinan bisa membunuh,” katamu di satu bagian O. Apa artinya ini?

Orang yang sudah yakin biasanya memang tidak membutuhkan bukti apapun untuk keyakinannya. Kalau sudah yakin, ya yakin. Menurutku, semestinya semua keyakinan harus dipertanyakan terus-menerus.

Kamu mencantumkan kalimat dari Animal Farm karya George Orwell di dalam O. Saat menuliskan O kamu terpengaruh novel itu?

Kutipan yang aku letakkan dari Animal Farm itu semacam joke, meskipun memang ada paralelisme antara novel Orwell dan novelku. Orwell menulis fabel dan di novelku juga terdapat bagian yang berupa fabel, tetapi kalau dilihat lagi, struktur kedua novel tersebut amat berbeda.

Orwell menulis tentang totalitarianisme—binatang melakukan kudeta pada manusia, lalu menciptakan dunia totaliternya sendiri. Sementara di novelku, fabel beroperasi dengan terbalik. Binatang-binatang di dalam novelku sangat anarki. Kirik, misalnya, anjing yang tidak memiliki tuan dan tidak mempertuan siapapun.

Jadi, quote dari Animal Farm yang aku letakkan di dalam O itu semacam lelucon yang juga aku harap dapat membuat orang membaca atau membaca ulang novel George Orwell setelah membaca novelku dan kemudian membandingkannya.

(Kutipan dari Animal Farm itu: “Hewan-hewan di luar menoleh dari si babi ke manusia, dari si manusia ke babi, dan dari si babi ke manusia lagi: tapi sudah tak mungkin membedakan yang satu dari lainnya.)

“Dongeng selalu menjadi racun,” bunyi kalimat salah satu bagian novel O. Apakah ini visimu sebagai penulis? Caramu mengatakan bahwa novel yang menyenangkan dibaca itu novel yang berwujud seperti dongeng?

Sebetulnya kalimat itu adalah responsku buat novel Don Kihote. Don Kihote membaca novel-novel tentang kisah ksatria, dan saking tergila-gilanya dia sama novel-novel itu, dia menganggap dirinya sendiri ksatria, sehingga dia akhirnya keluar dengan membawa perisai, pedang, kuda, dan berkelana seperti ksatria di novel-novel yang dia baca.

Entang Kosasih seperti dicuci otaknya oleh dongeng-dongeng yang ia dengar. Sebagai penulis, kamu punya intensi mencuci otak pembacamu melalui novel-novelmu?

Tentu saja. Jika itu berhasil (tertawa). Aku rasa itu mirip seperti pertanyaan yang juga cukup sering diajukan orang: Apakah sebuah novel bisa mengubah dunia? Buatku, hal semacam itu penting nggak penting, tentang bisa atau tidak novel mengubah dunia. Tetapi, yang paling penting dan lebih bisa diusahakan adalah, bagaimana sebuah novel bisa mengubah cara orang melihat dunia. Karena ketika cara pandang orang terhadap dunia bisa berubah, dunia juga bisa berubah.

Apa tugas terbesar seorang penulis?

Ya, itu dia tadi, mengubah cara pandang orang terhadap sesuatu. Setiap orang punya gagasan dan cara melihat dunia. Bagaimana kita pada dasarnya saling mencoba mempengaruhi dalam memperlihatkan cara yang lebih baik untuk melihat hal-hal tertentu. Tentu saja masing-masing melakukannya dengan metode yang berbeda. Beberapa mungkin memilih cara yang straight to the point dengan mengatakan kamu harus begini dan harus begitu. Tetapi buatku, novel tidak beroperasi seperti itu. Novel masuk dan kemudian mengubah cara pandang seseorang tanpa orang itu menyadarinya.

Ada banyak novel bagus yang berhasil membuatku melihat dunia dengan cara yang berbeda. Salah satu kekagumanku terhadap Pram adalah dia berhasil membuatku melihat Indonesia dengan cara yang berbeda.

Dari novelmu yang pertama sampai yang sekarang, terlihat keinginan untuk terus mengubah gaya bercerita. Seberapa penting eksplorasi gaya menulis buatmu?

Bagiku, yang lebih penting adalah evolusi atau perkembangan. Perkembangan yang terjadi pada situasi, cerita, serta konteks sosial, politik, pengetahuan, intelektual, dan lain-lainnya menuntut perubahan-perubahan tertentu. Jika aku menuliskan Cantik itu Luka di masa kini, aku rasa bentuknya sudah pasti akan berbeda. Ada pengetahuan-pengetahuan baru dan cara-cara bercerita yang lebih baik, atau setidaknya lebih membuatku senang.

Perubahan gaya menulis bagiku sesuatu yang mengalir saja. Aku tidak, misalnya, mengharuskan diriku untuk terus berubah. Kalau aku merasa suatu cerita harus ditulis dengan cara yang sama seperti cerita sebelumnya, ya aku tulis saja.

Di beberapa novelmu, kamu menggunakan kampung halamanmu sendiri sebagai latar cerita. Apakah memang sebaiknya penulis mengambil materi tulisannya dari tempat ia tinggal?

Ketika menulis, yang paling penting kamu mengenal tempat yang sedang kamu tulis. Mengenal dalam artian kamu pernah berada di sana atau melakukan riset atas tempat itu. Kamu, kan, menulis untuk membuat orang lain percaya dengan apa yang kamu tulis—bahwa cerita tertentu terjadi di ruang dan waktu tertentu. Untuk membuat orang percaya, kamu harus meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu tahu pasti apa yang kamu tulis.

Tetapi, yang lebih perlu diperhatikan adalah apa pentingnya aku menulis dengan latar tempat tertentu. Jika suatu cerita bisa aku tulis menggunakan latar tempat yang aku lebih familiar, aku akan memakai tempat itu. Artinya, pemilihan latar tempat cerita harus memiliki konteks dan makna. Jangan sampai kita menuliskan tempat tertentu tidak lebih hanya karena kita menganggap tempat itu eksotis tanpa memberikan makna apapun terhadapnya, karena dengan demikian kita sudah melakukan semacam “kolonialisme baru”.

*

Bakda isya, sesi mengobrol dan tanya-jawab rampung. Sebelum beranjak dari lokasi acara, seorang peserta sempat menyampaikan rasa ingin tahunya kepada Eka dan bertanya apa yang Eka harapkan dari penulis-penulis yang datang dari generasi lebih baru. Eka menjawab, “Seperti aku menyukai buku-buku yang menggangguku, aku juga berharap dan menunggu akan ada buku-buku seperti itu. Buku-buku yang menawarkan cara pandang baru atas dunia dan membuatku memikirkan cara pandang tersebut.”*

Wawancara dengan Bernard Batubara, Pindai, 11 Mei 2016.

Rattling minds

By: Bissme S., The Sun

EKA KURNIAWAN is acknowledged as one of the most exciting fiction writers in Indonesia.

His debut novel, Cantik Itu Luka, published in 2002, received critical reviews and won him fans throughout.

Since then, the 39-year-old has written three novels and three collections of short stories.

Born in Tasikmalaya in West Java, in 1975, Eka was in Malaysia recently for a book event and to promote his new book, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

He sat down with The Sun to share his thoughts on his work and motivation, the literary scene in Indonesia and his new book.

You have been compared to (the late) Pramoedya Ananta Toer, one of Indonesia’s finest writers. Some believe you are the most exciting writer that Indonesia has produced since. Any comment?

“I believe the comparison is not fair. Pramoedya and I came from two different generations and two different eras. So, we tend to look at Indonesia very differently.

“When two people look at something differently, naturally the stories we tell will be different. I really believe you cannot make a comparison between the two.

“Each writer has his own style and his own perspective. Pram is one of the finest writers in my country. But he should not be made into a God.”

Some readers love your latest novel Seperti Dendam … but others were not comfortable with the vulgar language.

“My characters in the novel are from the lower class and I was capturing the language these characters tend to use when it comes to sex.

“I also looked at some of the graffiti writings on sex that you normally find behind the trucks (In Indonesia, graffiti is often found on trucks). I have used some of these graffiti writings as an inspiration.

“Personally, I take these comments as compliments. It is like some people who do not like seafood but when a chef cooks up a good seafood dish, they enjoy the flavours. They forget the dish they are eating is seafood.”

Your novels deal with sexual themes. Some may feel good literature should discuss the mind rather than desires of the body. What is your comment?

“I don’t agree. We should be discussing anything that is relevant to human life – mind and body, happiness and sadness, virtue and sin.

“Our society and our history are always dealing with the pain and joy of our bodies and our minds as well.”

What motivates you as a writer?

“I started writing at the age of 11. I was not a clever student nor was I keen on sports. I wanted to win the attention of my classmates, especially the opposite sex.

“So I started writing poetry. But over the years, I became serious about making writing my profession.”

What is the misconception that people have about you?

“After reading my work, some people have this impression that I am a serious old man. But when they meet me, they are surprised that I am nothing like that (he looks boyish and jovial and loves to laugh).

“To me, an ideal literature is telling a serious story with a touch of humour. I know people who read my work and have a good laugh. But in the end, they regard my work as serious literature.”

Do you think every story should have a message?

“Consciously or unconsciously, writers [leave] messages in [their] stories. [But] readers may not see things the same way the writer wants them to see. The writer simply has no control over how readers interpret his stories.

“I really believe a story should not become a sermon. Once a story becomes a sermon, the story is no longer interesting. I write mainly to disturb the mind of my readers (laughs).”

Why do you want to rattle the mind of your readers?

“Literature is one of the ways to discuss our existence in this life, to share our ideas and to react to other people’s ideas. What is the best way to get people into a discussion? Perhaps by disturbing their mind … am I right?”

How do you take criticism?

“A well-known critic of a newspaper gave my first novel (Cantik Itu Luka) a bad review. “He said that my novel had no direction – it was not realistic nor was it surrealistic. I did not mind his review. But my friends and my fans were not happy.

“They felt the critic was unfair and that he did not appreciate a young writer’s view of the world. They critiqued him for giving me a bad review.

“The reviewer jokingly told me that my friends and my fans were very garang (fierce)!”

Narasi Hidup Eka Kurniawan

Oleh: Linda Christanty, Dewi

Pengetahuan awalnya tentang fiksi terbangun melalui cerita silat Asmaraman Kho Ping Ho dan cerita horor Abdullah Harahap. Cerita-cerita mereka membuat Eka Kurniawan, yang kelak menjadi sastrawan, mengembara dalam benaknya ke tempat-tempat lain, meninggalkan kota kelahirannya yang beraroma laut, Pangandaran, bahkan ke waktu-waktu lain. “Membaca novel-novel itu membuat aku tiba-tiba terlempar ke daerah yang menyeramkan, ke zaman Mataram atau ke zaman Majapahit,” kenangnya. Ia berterus-terang bahwa kehidupan masa kecilnya agak membosankan, “Pagi berangkat sekolah, pulang main bola atau main di pantai atau berenang.”

Selain membaca novel, Eka juga membaca Hai, majalah remaja yang populer di tahun 1980-an. Ia memuji isi majalah itu, “Kurasa, cerita pendek dan cerita bersambungnya sangat oke.” Ia menyukai karya-karya Hilman, Gola Gong, Arini Suryokusumo dan Zara Zettira, para penulis remaja di masa tersebut. “Saya ingin seperti mereka dan ingin melihat karyaku di majalah itu,” ujarnya. Dari majalah Hai pula ia mengenal karya-karya para sastrawan dunia, seperti Guy de Maupassant, O. Henry, dan Eudora Alice Welty. Tetapi tak satu pun karyanya dimuat Hai. Sejumlah puisinya kemudian terbit di majalah Sahabat, yang sering dibelikan ayahnya. Ia senang, “Satu sekolah tahu.”

Eka pergi dari Pangandaran ketika melanjutkan belajar di SMAN 1 Tasikmalaya. Di sana, ia tinggal dengan bibinya. Di masa ini pula ia mulai menyukai serial petualangan Old Shatterhand karya Karl May dan Balada Si Roy Gola Gong. Ia terinspirasi untuk jadi penulis, karena novel-novel ini. Lebih dari itu, ia ingin bertualang! Selama tiga bulan ia bolos sekolah, berkeliling Pulau Jawa. “Hasilnya, aku dikeluarin dari sekolah,” ujarnya.

Ia pun kembali ke Pangandaran. “Aku nggak pernah suka sekolah,” tuturnya.

Berminggu-minggu di rumah ternyata membosankan. Ia terpaksa menerima tawaran orangtuanya untuk masuk pesantren. Di pesantren ia kembali merasa tertekan, lalu kabur. Akhirnya ia bersekolah di SMA PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). “Sekolah itu sebenarnya nyaris bubar, karena nggak ada siswanya. Meskipun sekolah itu yang bikin guru-guru, tapi yang sekolah di situ murid-murid buangan,” katanya. Di sekolah itu aturan tidak ketat. Bolos satu-dua jam pelajaran tak dipermasalahkan. Bolos tiga hari, hanya dijewer.

Setamat SMA, ia ingin pergi jauh dari rumah. Seorang teman mengajak main musik di Yogyakarta. Ia bersiasat, “Aku bilang ke orangtuaku, aku mau kuliah dan supaya aku nggak kelaparan.“

Dua bulan sebelum tes masuk universitas, ia bingung memilih jurusan dan fakultas untuk ditulis di formulir pendaftaran. Ia lantas teringat kutipan-kutipan kalimat bijak di halaman-halaman buku tulis merek Kiky. Pertimbangannya lugu, “Aku langsung berpikir bahwa jangan-jangan Kahlil Gibran atau siapa-siapa itu filsuf. Aku mau belajar menulis kutipan-kutipan yang bagus gitu ah.”

Ketika ia lulus tes masuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, satu sekolahnya gempar. “Karena seumur-umur baru satu orang masuk UGM. Jangankan masuk UGM, yang kuliah aja jarang. Rata-rata yang lulusan situ jadi tukang ojek, jadi tukang foto di pantai,” ujarnya. Sejak itu ia menjadi contoh teladan. Namanya disebut tiap kali kepala sekolah berpidato dalam upacara bendera di hari Senin.

Kuliah di filsafat membuatnya tertekan. Ia harus belajar sejarah filsafat Yunani. Ia harus belajar Logika dan Dasar-Dasar Filsafat. Ia memutuskan bolos kuliah selama setahun dan masuk sekolah desain grafis. Lulus dari sekolah desain membuatnya makin yakin untuk bekerja dan meninggalkan filsafat. Tiba-tiba ia berubah pikiran. Ia menemukan sisi menarik dari filsafat. Sejak itu ia mulai rajin ke perpustakaan dan membaca buku-buku filsafat.

Suatu hari ia menemukan novel Knut Hamsun di antara buku-buku lain di rak perpustakaan, Growth of the Soil. Novel ini mengisahkan seorang pemuda usia 20-an yang masuk hutan untuk membuka permukiman baru di lahan yang disangkanya tak bertuan. “Dia membangun rumah, membeli perabot rumah dan menikahi perempuan yang membantunya. Masalah muncul kemudian. Gereja menganggap mereka belum kawin. Tiba-tiba tanahnya juga mau diambil dan membuat dia jadi terlibat masalah dengan negara. Ini kisah tentang orang yang sebenarnya naïf. Dia merasa telah membuat tanah itu berguna, membangun jalan, tapi negara tiba-tiba mengatakan dia tidak boleh di situ.”

Kelak ia membaca novel Hamsun yang lain, Hunger, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor.

Ia menemukan pola dalam novel-novel Hamsun, “Tokoh-tokohnya itu selalu agak keluar dari pakem-pakem kemasyarakatan, agak soliter. Kalau nggak pergi ke hutan, ya di kota, tapi hidup sendiri. Berumur sekitar 20 sampai 30-an, di Hunger seorang calon penulis, di Growth of the Soil meskipun lebih tua, tapi ketika tokoh ini datang ke hutan umurnya juga masih segitu. Dan aku merasa spirit Hamsun adalah spirit kebebasan. Dia juga punya selera humor yang agak gelap dan suka mengejek tokohnya sendiri. Kurasa humor dalam karyaku itu pengaruh dari dia.”

Selain Hamsun, Eka merasa Gabriel Garcia Marquez, Toni Morisson, Kawabata Yasunari dan Cervantes ikut bermakna dalam penciptaan karyanya.

Perkenalannya dengan karya Hamsun membawa Eka pada titik penting, “Aku merasa seperti sudah ada kepastian aku mau jadi penulis.”

Novelnya yang pertama Cantik Itu Luka terbit pada 2002, setelah ia sempat ditolak oleh empat penerbit. Ada tiga tokoh penting dalam novel ini, yakni Dewi Ayu, Shodanco dan Maman Gendeng. Apakah ia mempunyai model untuk sosok rekaannya?

“Dewi Ayu itu nama temanku, meskipun cerita di situ bukan kehidupan dia. Namanya menarik, jadi aku pakai saja. Aku membaca beberapa buku tentang Jugun Ianfu, perempuan-perempuan penghibur untuk tentara Jepang. Salah satu buku punya cerita unik, karena perempuannya adalah Indo-Belanda. Meskipun ceritanya tentang Indonesia, tapi bukan tentang perempuan pribumi. Tokoh Shodanco terinspirasi oleh sosok Supriyadi. Kita ingat tahun 1944 ada pemberontakan PETA pertama kali yang dipimpin Supriyadi di Blitar. Aku membayangkan menulis tentang dia, dengan cara Marquez menulis tentang jenderal Simon Bolivar di The General in His Labyrinth, tokoh Amerika Latin. Selain itu, novel Pramoedya Perburuan, juga tentang satu kompi PETA yang memberontak. Pram juga terinspirasi oleh Supriyadi. Tokoh Maman Gendeng itu awalnya pendekar, kemudian dia gabung dengan tentara republik. Sesudah itu tentara ‘kan dirasionalisasi karena terlalu gemuk. Dia dipecat dan akhirnya jadi preman. Aku menemukan sambungan ke tahun 1980-an, waktu preman-preman jadi sasaran penembak misterius. Jadi sesuatu yang awal tanpa terencana, begitu menulis menjadi berkembang dengan melihat konteks sejarahnya,” jawabnya.

Novel keduanya, Lelaki Harimau, terbit pada 2004. Pemicunya, peristiwa pembunuhan di Pangandaran.

“Pelaku ditahan di kantor polisi, tapi lalu dikepung oleh warga. Polisi sampai ketakutan. Akhirnya tahanan itu disuruh kabur lewat belakang, lalu berhasil dikejar dan dibunuh oleh massa. Tapi aku tambahkan dengan legenda manusia harimau. Seperti aku katakan, aku suka novel-novel horor. Meskipun dalam novelku tidak menjadi cerita horor, tapi psikologis,” ujarnya.

Dua kumpulan cerita pendeknya, Gelak Sedih dan Cinta Tak Ada Mati terbit pada 2005. Bersama Ugoran Prasad dan Intan Paramaditha, ia meluncurkan antologi cerita horor Kumpulan Budak Setan (2010), sebagai penghormatan terhadap penulis cerita horor Abdullah Harahap.

Karya-karyanya juga tak lama lagi bakal menghampiri para pembaca berbagai bahasa. Versi bahasa Jepang dan bahasa Melayu Cantik Itu Luka telah beredar lebih dulu. Pada musim semi 2015, Cantik Itu Luka akan diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh New Directions di Amerika Serikat. Novelnya Lelaki Harimau akan diterbitkan Verso di Inggris dan Sabine Wiesper Editions di Prancis. Kini ia tengah menyelesaikan penulisan tiga novelnya dalam bahasa Indonesia, yang salah satunya beredar pada bulan Maret nanti.

Kami bercakap-cakap di kedai kopi. Udara terasa dingin. Secangkir Espressonya hampir tandas. Eka bercerita tentang putrinya, Kidung Kinanti. Kelahiran Kinan membuat ia ingin menulis cerita anak-anak. Kadangkala ia mengajak putrinya bermain di playground di mal-mal Jakarta atau berenang. Ia sendiri suka berenang, lalu memberi penjelasan ini, “Kurasa Hemingway pernah bilang bahwa syarat pertama untuk menjadi penulis adalah kamu harus sehat.”

Dimuat di rubrik “Dunia Pria” Majalah Dewi edisi Februari 2014.

Perlu Mengakrabi Sastra Mancanegara

Sebagai penulis muda yang karyanya telah dikenal luas sampai ke Jepang, bagaimana pendapat Anda tentang kemungkinan sastrawan Indonesia meraih Nobel?

Kalau saya sih optimistis saja. Untuk mendapatkan Nobel itu kan juga disebabkan banyak faktor. Bagi saya pribadi Nobel tidak selalu identik dengan kualitas. Kalau saya bilang optimistis itu lebih berarti kepada pemikiran kalau sastra Indonesia itu adalah bagian dari sastra dunia. Maksud saya nanti suatu saat, penulis kita bisa sejajar dengan penulis-penulis dari negara lain, bisa menjadi penulis yang enggak cuma jago kandang. Artinya kita punya potensi tapi harus diakui juga kalau pergaulan kita dengan sastra mancanegara juga belum terlalu intim. Kalau istilah petinju, kita itu kurang sparing partner. Kalau kita tidak terlalu banyak bergaul dengan sastra berkualitas dari mancanegara kita juga sulit menentukan standar estetikanya.
Continue reading

Eka Kurniawan: An Unconventional Writer

He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.


Like many aspiring writers who need to pay the bills, Eka Kurniawan started out as a journalist. The 33-year-old native of Tasikmalaya, West Java, then submitted a few short stories to Kompas daily’s respected literary page, and they were accepted.

“People always asked me how it happened that I had my stories published in Kompas,” says the Gadjah Mada University graduate. “But there’s really no magic to it. I sent [the stories] out to the editorial department, even though I didn’t know anybody there.”

Gradually, his journalistic days of meeting deadlines came to an end.
Continue reading