Orientalisme Balzac

Buku ini barangkali bisa menjadi contoh yang baik mengenai orientalisme Eropa abad kedelapan belas. Pertama, ia ditulis oleh Balzac. Betul, Honoré de Balzac yang “itu”. Penulis masyhur Prancis, yang ouvre karya-karyanya “dipaketkan” menjadi “Komedi Manusia” masih dibaca orang hingga kini. Kedua, ia menulis tentang Jawa. Negeri Jawa, yang menurut kata-katanya sendiri sebagai “jiwa Asia”.

“Sebagai orang Eropa, aku bersumpah, terutama sebagai seorang penyair, tak ada negeri yang begitu sedap sebagaimana Pulau Jawa.” Demikian ia menulis, tapi segera mengingatkan kepada rekan-rekan senegerinya, “Di Paris kau hidup sebagaimana kau mau: bermain, bercinta, mabuk sesukanya — dan rasa bosan yang datang dengan cepat. Tapi, di Jawa, maut menggantung di udara. Maut melayang di sekitarmu dalam bentuk senyum seorang perempuan …”

Yang paling menarik, adalah penggambarannya, atau imajinasinya yang luar biasa mengenai perempuan Jawa. Mungkin juga semacam imajinasi seksual lelaki Eropa mengenai perempuan oriental yang jauh dan asing. Balzac menggambarkan perempuan Jawa sebagai: “putih dan halus bagaikan kertas … bibir mereka pucat, telinga dan cuping hidung mereka — semua putih, hanya alis mereka yang hitam pekat dan mata coklat mereka membentuk kontras atas wajah pucat ajaib ini.”

Tidak cuma itu: “Sebagian besar perempuan ini kaya, banyak di antaranya janda. Segera setelah datang, seorang lelaki Eropa bisa langsung kawin, menjadi kaya sebagaimana mereka impikan di malam-malam panjang dan dingin di negeri sendiri.”

Begitulah impiannya tentang perempuan Jawa.

Tentu ada hal-hal lain. Imajinasi maupun prasangka. Tentang lelaki Jawa yang sekali kena candu bisa mengamuk, run amok. Tentang pohon upas yang tumbuh di titik bekas gunung berapi yang telah punah, dan betapa beracunnya pohon itu hingga kriminal yang dihukum mati hanya perlu disuruh membacok batang pohon tersebut. Hanya tiga atau empat dari sepuluh kriminal berhasil lolos. Dan, yang bertahan hidup bisa tumbuh keberanian. Dengan modal keris, ia bisa menghadapi harimau, bagaikan orang Eropa menghadapi kucing.

Buku ini sendiri, judulnya My Journey from Paris to Java — dalam bahasa Prancis Voyage de Paris à Java, terbit pertama kali 1832.

Ini mungkin sedikit menjengkelkan, atau perlu dirayakan sebagai lelucon: bahwa Balzac sendiri tak pernah datang ke Jawa. Tak pernah! Bahkan tak pernah berkelana ke negeri mana pun di “timur jauh” ini. Ia hanya mendengar tentang Jawa dari seseorang, atau beberapa orang. Apakah orang yang berkisah kepadanya, atau Balzac sendiri yang liar berfantasi, buku ini saya rasa merekam dengan baik imajinasi Eropa tentang Orient — khususnya Jawa, setidaknya pada abad kedelapan belas dan awal sembilan belas.

Ms Ice Sandwich, Kawakami Mieko: Mengucapkan Selamat Tinggal itu Enteng, Kecuali …

Ada satu adegan yang terus menari di kepala saya ketika membaca Ms Ice Sandwich karya penulis Jepang, Kawakami Mieko. Dikisahkan sang narator, anak sekolah dasar, diajak temannya untuk nonton film di rumah. Temannya ini tinggal berdua saja dengan ayahnya, yang memang punya koleksi video “dari lantai sampai langit-langit”. Ditemani sang ayah temannya (yang langsung tertidur ngorok di sofa), kedua anak itu pun menonton film. Sebuah film Hollywood penuh aksi tembak-tembakan. Si narator dengan cepat merasa bosan, berkali-kali bertanya, film apa, sih? Hingga di satu titik, temannya mendadak menekan tombol pause, lalu memutar film kembali ke belakang. Ke satu adegan tembak-tembakan yang seru. Ia meminta sang narator memerhatikan adegan yang menurutnya keren. Saking kerennya, si teman bersedia berdiri di antara sofa dan pesawat televisi, lalu menirukn adegan (dan dialog) di film it. Sama persis, dan bahkan dengan peniruan akting yang membuat sang narator tiba-tiba ikut terseret ke dalam adegan. Hingga di ujung adegan, tanpa sadar ia sudah melorot ke lantai dengan tangan teracung ke atas, seolah meminta ampun jangan ditembak. Selepas itu, si teman mengantar si narator pulang ke titik tengah antara rumah mereka. Waktu sudah hampir tengah malam. Ketika hendak berpisah, si teman melambaikan tangan sambil berseru, “Al Pacino!” Si narator, dengan lugu menganggap “al-pacino” merupakan ungkapan baru, sebagai pengganti “dadah” atau “selamat tinggal”. Maka ia pun membalas, “Al-Pacinoooooo!”. Si teman tertawa, dan membetulkan, “Itu nama aktor di film tadi.” Tapi gagasan memakai sahutan “al-pacino” sebagai ungkapan “selamat tinggal” sudah terlanjur menarik hati mereka, hingga berkali-kali mereka mempergunakannya. Memang, tampaknya novel ini bercerita tentang bagaimana mengucapkan selamat tinggal dengan enteng, belajar banyak kepada anak-anak. Dari mulai tentang bagaimana teman datang dan pergi, yang bisa dilalui dengan sekadar bertanya-tanya, hingga perpisahan yang jauh lebih berat. Si narator tinggal bersama ibu dan neneknya. Ayahnya sudah meninggal, dan neneknya itu merupakan ibu dari ayahnya. Ibunya mengabdikan diri untuk mengurus si ibu mertua, sekaligus si anak. Kita tahu, neneknya mulai sakit-sakitan. Ia merekamnya dengan baik, dari mulai jalan yang tak lagi sesehat dulu. Kemudian hanya tinggal di rumah, kemudian hanya tinggal di tempat tidur, hingga akhirnya hanya makan dan menggerakkan mata. Si bocah kecil selalu datang ke neneknya, membicarakan banyak hal yang dialaminya di sekolah, terutama tentang Ms. Ice Sandwich yang menarik perhatiannya di pusat perbelanjaan. Ia tak banyak bicara tentang “masa depan” si nenek, tapi kita tahu, di luar yang sering kita bayangkan tentang anak-anak, ia sangat siap menghadapi “selamat tinggal” kepada neneknya. Selamat tinggal yang begitu tenang, sebab ia tak terelakkan. Selamat tinggal yang bisa diganti dengan “al-pacino, Nenek!” Di atas segalanya, tentu ada Ms. Ice Sandwich, penjaga kios sandwich yang menurut gambaran si narator, mestinya sosok biasa-biasa saja. Saking tak pentingnya, ia bisa dimaki-maki pelanggan di depan banyak orang. Tapi hal yang buat orang lain biasa itulah yang menarik perhatian si bocah, hingga setiap hari ia bisa membayangkan wajahnya, lalu menggambarnya. Ketika si Ms. Sandwich tak lagi muncul di kedainya, dan kemudian ia tahu penjual itu akan pindah (menikah dan pindah kota), ia mulai merasakan artinya kehilangan. Ia menemuinya, memberinya kado (gambar yang ia buat). Di sana kita tahu, si bocah bisa enteng menghadapi kematian neneknya, karena ia tahu kematian merupakan hal yang biasa. Ia telah bersiap dengan itu. Tapi, Ms Sandwich jelas bukan “orang biasa”. Ia pernah mengikat perhatian si bocah. Berhari-hari, siang dan malam, dalam terjaga dan tertidur. Orang lain mungkin tak akan kehilangannya, tapi kepergiannya meninggalkan ruang kosong bagi si bocah. Mengucapkan selamat tinggal selalu enteng, seenteng berseru “al-pacinoooo”, kecuali … isi saja sendiri, deh.

The Memoir of an Anti-Hero, Kornel Filipowicz

Awalnya saya kira ia seorang pecundang biasa. Tidak, ia bukan pecundang. Sebagaimana seorang hero tak selalu menjadi seorang pemenang, seorang anti-hero seperti narator buku ini, juga tak perlu menjadi pecundang. Seorang pecundang, setidaknya, kita masih bisa bersimpati. Seorang pecundang mungkin pernah bertarung, tapi kemudian ia menjadi seorang yang kalah. Atau dunia, struktur dunia, telah membuatnya menjadi pecundang sejak lahir hingga mati, karena masyarakat tak pernah memberinya kesempatan untuk memenangi apa pun. Dilihiat dari hal semacam ini, tokoh kita jelas bukan seorang pecundang. Ia justru seorang pemenang, seorang yang bertahan hidup di masa sebelum perang, bertahan hidup di masa pendudukan Jerman, dan terus bertahan hidup di bawah pendudukan Sovyet. Bukan kemenangan yang gilang-gemilang, memang, tapi setidaknya ia mampu keluar dari derita perang dengan kepala menghirup udara laksana berdiri di alam kebebasan. Saya tak ingat persis berapa penulis Polandia yang pernah saya baca. Bukan karena saya sudah membaca banyak, tapi mungkin karena saya sering lupa dari mana seorang penulis berasal. Meskipun begitu, ada beberapa penulis Polandia, menulis dalam bahasa Polandia, yang terus menghantui saya sebab pernah memberi pengalaman membaca mengasyikkan. Pertama, saya bisa menyebutkan nama Bruno Schulz. Kedua, saya bisa menyebut nana Witold Gombrowicz. Dari kedua nama itu, yang kita tahu sudah menjadi nama-nama agung di belantara kesusastraan, sebenarnya saya tak ingat betul mana dulu yang terjumpai oleh saya. Keduanya memberi tawaran mengenai komedi manusia, yang mungkin tak membuatmu tertawa terbahak-bahak, tapi membuat isi kepalamu cengengesan tanpa bisa dijelaskan. Berikutnya, saya bertamu satu-satunya novel karya Andrzej Bursa. Ia memberi komedi jenis lain: kejenakaan di balik teror, di balik tindakan-tindakan brutal yang tak memiliki belas asih. Kejenakaan yang barangkali membuat kita tertawa sedih dengan betapa perihnya segala yang mungkin terjadi. Pernah sekali-dua saya merasa menyesal kenapa kita tak mempelajari Bahasa Polandia di sekolah, karena tampaknya mengasyikkan bisa membaca penulis-penulis ini di bahasa mereka sendiri, ditambah penulis-penulis yang “belum ditemukan”. Perasaan itu semakin menjadi-jadi ketika saya membaca buku ini, The Memoir of an Anti-Hero, karya Kornel Filipowicz. “Jerman telah kalah perang, tapi aku tidak.” Kalimat itu disebutnya di bagian agak akhir, dan saya merasa itulah perasaannya yang sesungguh-sungguhnya, perasaan kemenangannya. Jerman, dengan semua pasukan perangnya, keberingasannya, akhirnya mundur dan luluh-lantak, sementara “si aku”, lelaki tiga puluhan tahun dengan satu-satunya senjata yang pernah disebutnya (tapi tak pernah dipakai) adalah pisau, justru bisa bertahan dan bahkan “memenangi” perang. Bagaimana ia melakukannya? Tidak, ia tidak melakukannya dengan aksi-aksi kepahlawanan. Ia justru melakukannya dengan beragam kepengecutan, kelicikan, keegoisan, bahkan pernah juga dengan nyaris menumbalkan orang lain. Bangsat sekali, bukan? Ya, betul. Ia seorang bangsat tak terpuji. Orang yang dengan enteng mengaku Jerman jika dibutuhkan, lalu memaki-maki orang Jerman (atau orang Polandia) di waktu lain. Orang yang meniduri istri-istri kesepian, dan kemudian memperoleh keuntungan dari tindakannya itu, sehingga pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula jauh dari berlaku untuknya. Ia culas, dan ia beruntung. Lagi-lagi komedi manusia dalam seninya yang paling mengasyikkan. Ia seorang pemenang, tapi jelas bukan seorang pahlawan. Kita tahu, kita bisa melihat yang semacam ini. Di masa perang maupun damai.

The Wine of Solitude, Irène Némirovsky

Kesepian itu memang memabukkan. Pertama, kita lihat kesepian yang diderita oleh Bella. Ia lahir dari keluarga bangsawan miskin, begitu miskinnya sehingga ia tak bisa membayar mas kawin dan memilih pasangan yang diinginkannya. Ia akhirnya menikahi Boris Karol, seorang Yahudi yang dia yakin bisa menghasilkan uang. Ya, satu-satunya alasan adalah uang. Demikianlah ia terjebak dalam pernikahan yang tak membahagiakan, meskipun ia bisa membeli pakaian dan topi dan sepatu model terkini langsung dari pusat mode di Paris, yang di kota kecil Kiev langsung menjadi buah pergunjingan karena gaya hidupnya jauh di atas penghasilan suaminya. Kekayaan, ternyata tak sungguh-sungguh membuat jiwanya tenang dan memberi kebahagiaan. Ia selalu kesepian, karena satu hal yang sederhana: ia dibakar oleh amarah dendam masa lalu. Masa kecil dan remaja yang dililit kemiskinan. Masa kecil yang sering menjadi olok-olok keluarga besarnya yang lebih kaya, masa remaja yang tak berkesempatan menikmati pesta-pesta kaum bangsawan papan atas. Ia dendam pada masa kecil dan remaja yang tak dimilikinya. Demikianlah ia selalu ingin waktu berhenti di satu titik, di mana ia terus menyangkal umurnya yang menua, dan puncak kemabukannya bukan dari hidup poya-poya, tapi pada sosok seorang anak muda bernama Max, yang adalah keponakannya sendiri. Ia memelihara Max, bagaikan memelihara gigolo, dan hanya bisa bahagia dengan terus bersama Max, meskipun tetap tak bisa meninggalkan suami dan rumahnya. Kesepian kedua, tentu diderita oleh Boris Karol, sang suami. Ia mungkin memang mencintai istrinya, sebab sampai akhir ia selalu tutup mata terhadap segala desas-desus maupun bukti-bukti tak langsung yang menunjukkan ketidaksetiaan istrinya. Ia barangkali tahu, Bella tetap bersamanya hanya karena uang, dan sebab itulah ia terus berburu uang. Hidupnya hanya berburu uang dan mempermainkan uang. Ia pergi ke rumah judi untuk mempertaruhkan uang. Ia masuk ke Pasar Saham, juga untuk mempertaruhkan uang. Dan, seperti diduga Bella, ia orang yang mahir memperoleh uang. Bahkan ketika di akhir hayatnya saham-sahamnya berguguran, kita tahu ia telah menyimpan banyak uang atas nama istrinya agar mereka tak miskin, tapi ketika ia meminta uang itu ke istrinya dan Bella berbohong bahwa uang itu juga ikut jatuh di pasar saham, ia demikian percaya. Dalam ilusi kebahagiaannya, ketika anaknya mengecup keningnya di saat memejamkan mata, ia berpikir itu istrinya dan demikianlah ia bisa tertidur dengan senyum mengembang. Ia menutup lubang kesepian dengan ilusi bahwa istrinya akan tetap bersamanya, bersetia, sebab ia terus menghasilkan uang. Kesepian ketiga, diderita oleh anak mereka, Hélène, yang merasa masa kecilnya dihancurkan oleh ibu yang tak mencintainya, juga oleh hubungan ibu dan sepupunya, Max. Kesepian semakin dideritanya, ketika satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara, yang mengerti dirinya, sang pengasuh, mati. Ia memimpikan tak hanya kebahagiaan, tapi kebebasan, yang tak pernah diperolehnya hingga usia dewasa. Ia hidup dengan benih-benih kebencian kepada ibunya dan Max, kebencian yang terus berakar dan tumbuh. Puncaknya ketika ia telah menjadi “perempuan”, dan bukan lagi seorang gadis. Ia tahu bagaimana membalaskan dendam penderitaan masa kecilnya: ia bisa merebut Max dari ibunya dan membuat mereka menderita. Ya, itu puncak kemabukannya, rasa mabuk yang juga nyaris menghancurkannya. Dan, saya ikut dibuat mabuk novel ini, dihanyutkan oleh ombang-ambing perasaan si anak, yang menjadi protagonis sekaligus alat pembaca untuk melihat banyak kejadian. Dengan latar belakang Revolusi Rusia, pelarian ke Finlandia, kehidupan glamor Paris, semakin mengasingkan keluarga ini ke kesepian nyaris tanpa dasar. Ini novel yang benar-benar memabukkan, sebaiknya dibaca tidak dalam keadaan kesepian, karena efeknya mungkin bisa membuat hati dan otak berdarah-darah. The Wine of Solitude, judulnya, karya Irène Némirovsky.

Tyrant Banderas, Ramón del Valle-Inclán

Tyrant Banderas karya Ramón del Valle-Inclán tak hanya memberi anatomi brutal seorang tiran, tapi juga bagaimana ia pada saat yang sama menyebarkan wabah kebrutalan itu ke dunia yang didiaminya. Novel ini tak hanya merupakan salah satu pelopor kisah manusia yang haus kuasa, yang memberi pengaruh pada novel-novel sejenis (termasuk The Autumn of the Patriarch Gabriel García Márquez), tapi juga rangkaian kisah-kisah ganjil tentang ketidakberdayaan. Bagian terakhir itu, sungguh merupakan bagian paling menarik. Atau bisa dibilang, novel ini tak semata-mata berkisah mengenai sang tiran, tapi terutama mengenai bagaimana sekelompok orang, berkongsi maupun berkonspirasi untuk menggulingkan sang tiran dengan berbagai cara dan upaya. Dibuka dengan seorang kolonel desersi yang tengah mempersiapkan serangan pemberontakannya, novel ini jelas bukan bacaan yang gampang. Ia melompat dari satu tokoh ke tokoh lain, dalam sebuah rangkaian benang semacam jaring laba-laba, jika tak bisa dikatakan kusut. Tapi, jika kau membacanya untuk kedua kali, kau bisa menemukan keindahannya, serta bagian-bagian konyol yang bisa membuat mulutmu melebar dari satu telinga ke telinga lain. Sang tiran sendiri, yang seringkali menyebut dirinya sebagai Santos Banderas, atau Kid Santos, akan mengatakan sesuatu yang pasti bikin kita tertawa jengkel, “Bersumpah, hari paling membahagianku adalah hari ketika aku pensiun.” Semua tiran mengatakan hal serupa itu. Mungkin benar, karena pada dasarnya mereka tak pernah tahu kapan akan pensiun. Mereka pensiun hanya jika dipaksa, atau dibuat mati. “Aku bersumpah hatiku remuk ketika kutandatangani keputusan untuk mengeksekusi Zamalpoa. Aku tak bisa tidur selama tiga malam!” Ia mungkin berkata jujur, tapi tetap saja ia mengeksekusi para musuhnya, para pengkhianatnya, satu per satu. Seorang tiran bisa mengatakan apa pun yang ia ingin katakan, dan memaksa orang untuk menerimanya sebagai kebenaran, dan melakukan bahkan hal yang bertentangan dengan yang ia katakan, dan tetap memaksanya sebagai kenyataan yang harus dilakukan. Bicara tentang seorang tiran, sekali lagi, juga bicara tentang orang-orang tak berdaya di bawah kekuasaannya. Sebagian orang melawan, sebagian berusaha menjadi kolaborator, sebagian lagi menjadi penjilat, untuk bertahan hidup. Yang melawan saling mencurigai satu sama lain, dan pada saat yang sama, gamang merumuskan siapa musuh sebenarnya. Apakah kekuasaan itu memuncak pada sosok sang tiran, Santos Baderas sendiri, atau kekuasaan bersifat organik? Bahwa musuh orang Indian adalah orang kulit putih? Atau negeri leluhur, Spanyol? Atau para yankee dengan kepentingan mereka sendiri? Membaca novel ini, meskipun tak ekspilisit mengatakannya di negeri mana, tak hanya memberi gambaran tengil mengenai rejim-rejim diktator di Amerika Latin, tapi juga di banyak tempat: Afrika, Eropa, Asia. Dulu maupun sekarang. Ini jenis novel yang ideal menurut saya: bicara tentang individu-individu, pada saat yang sama menghamparkan konteks sosial yang sangat luas. Tak hanya pertarungan di antara berbagai faksi lokal, tapi juga beragam kepentingan internasional. Sikut-sikutan pula antara para revolusiner, pencari untung, hingga gereja. Valle-Inclán merupakan penulis yang menghibur, jika tahan membacanya, karena ia memiliki sinisme yang melimpah. Sang tiran memang brutal, tapi para musuhnya, juga tak kalah brutal. Dengan penuh kesinisan, ia menulis, setelah sang tiran ditembak mati, “kepalanya diletakkan di sebuah perancah dalam karung kuning selama tiga hari parade. Dektrit yang sama memutuskan tubuhnya dipotong empat dan disebar dari satu perbatasan ke perbatasan lain, dari satu pesisir ke pesisir lain.”

Tokyo Ueno Station, Yu Miri

“Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Suara itu datang dari seorang gelandangan tua, yang menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di Taman Ueno, Tokyo, bersama tuna wisma lainnya. Ia hanya berusaha menyambung hidup dari hari ke hari, dengan sisa-sisa makanan yang disumbangkan dari restoran atau toko serbaada. Jika musim dingin atau badai menghantam, mereka hanya perlu berlindung di gedung-gedung museum, yang memberi ruang-ruang hangat bagi mereka. Saya pernah melihat sendiri gelandangan-gelandangan Tokyo ini, dan yang mengejutkan, mereka seringkali menjadi tuna wisma bukan karena tak punya rumah, tak (pernah) memiliki pekerjaan, atau bahkan tak punya keluarga yang mau mengurus (meskipun alasan-alasan itu bisa saja berlaku untuk beberapa di antara mereka). Seringkali mereka memilih menjadi gelandangan karena itu adalah pilihan yang paling masuk akal, sebab pilihan lain lebih tak tertanggungkan. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Ini juga merupakan suara novel ini secara keseluruhan, Tokyo Ueno Station karya Yu Miri. Kita bisa melihat kehidupan, terutama kehidupan pasca perang, menghajar habis seorang lelaki tanpa belas kasihan. Jepang selepas perang memang hanya sebentar saja merasakan masa suram. Ditandai oleh Olimpiade 1964, gelombang kebangkitan ekonomi merebak ke seluruh negeri, meski denyut terbesarnya berada di pusat: Tokyo. Anak-anak muda dari kampung-kampung terseret ke kota itu, demi membebaskan diri dari kemiskinan, demi uang dan hidup yang lebih baik. Mereka memang memperoleh apa yang mereka cari. Uang yang beberapa kali lipat dari yang bisa mereka hasilkan di daerah asal, selain bisa menopang hidup sendiri di kota, sebagian bisa dikirim ke rumah untuk membiayai hidup istri, anak-anak, bahkan orang tua dan adik-adik. Sekaligus mereka memperoleh kutukan dan siksaannya: kehilangan keintiman keluarga, tak melihat dan tak mengenal bagaimana anak-anak tumbuh. Mereka mesin, sekrup paling kecil yang bekerja paling keras. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Seorang gelandangan bernama Shige juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan seringkali jadi sia-sia dan tak berdaya di hadapan kejamnya hidup. Tokoh kita sering membayangkan Shige dulunya seorang guru, atau sejenisnya. Ia senang membaca. Ia mengumpulkan majalah dan buku bekas, dan mengumpulkannya di dalam tenda miliknya. Tak hanya itu. Ia sejenis perpustakaan berjalan. Ia tahu berbagai peristiwa, ia bisa memberi latar belakang mengenai berbagai monumen di kota itu, sebagaimana ia bisa menggambarkan peta dan lanskap kota, serta perkembangannya. Tapi, entah apa pun yang terjadi padanya, ia juga dihancurkan oleh hidup, yang menyeretnya tinggal di dalam tenda gelandangan hanya berteman seekor kucing, yang akhirnya harus ditinggalkannya juga ketika ajal kemudian menjemput. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Ketika kita pergi ke kota, pulang setahun sekali, kerja keras mengumpulkan uang demi istri, orang tua, dan anak-anak, hidup sementara mungkin memiliki tujuan. Tapi, apa yang terjadi jika kemudian anakmu mati di pondokannya, padahal ia baru saja meraih prestasi di kuliahnya? Lalu, satu malam, istrimu juga mati dalam tidurnya, di sampingmu? Apa makna hidup jika seseorang tak lagi memiliki alasan untuk itu? “Kau tidak beruntung,” kata ibunya, dan apakah itu cukup untuk menjelaskan hidup yang sial? Novel ini bagus, bukan karena memaksa kita melihat bengisnya sisi lain kehidupan, tapi karena ia memperlihatkan bahwa yang bengis itu justru dihasilkan oleh proses yang sama yang membuat kehidupan, di sisi yang ekstrem lain, demikian gemerlap. Atau jangan-jangan kehidupan ini memang tak lebih dari upaya menggelandang. Kita berharap bertahan hidup hari ini, agar besok bisa mengulangi perjuangan yang sama dalam upaya untuk kembali bertahan hidup.

Celestial Bodies, Jokha Alharthi

Dalam beberapa kali penerbangan ke Eropa, melintasi garis pantai semenanjung Arab bagian timur sambil memperhatikan peta di layar kecil depan tempat duduk pesawat, saya sering melihat titik sebuah kota bernama Muscat. Saya sering bertanya-tanya, kota macam apakah itu? Apakah penuh dengan gunung-gunung batu, padang gersang dengan diselingi petak kurma semacam Madinah atau Mekah? Atau serupa Dubai dan Abu Dhabi, yang gemerlapnya sering saya lihat di video? Melalui novel Celestial Bodies, karya Jokha Alharthi, saya bisa mengintip sekilas. Sekilas saja, karena novel ini justru berlatar lebih jauh lagi, ke sebuah kota pinggiran di negeri bernama Oman tersebut. Sebuah pembacaan yang membawa saya ke sebuah negeri asing, dengan lanskap yang asing, bahkan hubungan-hubungan sosial yang dalam tingkat tertentu juga terasa asing. Seasing membayangkan “kuburan gersang tanpa pepohonan”, sebab sejauh yang saya ingat, kuburan selalu merupakan tempat paling teduh. Saya membayangkan novel ini semacam ensiklopedia berbagai karakter perempuan (plus beberapa karakter lelaki, yang saya rasa lebih sebagai pendamping dan bumbu penyedap, meskipun salah satunya menjadi narator penting, Abdullah). Perempuan-perempuan yang terhubung satu sama lain oleh hubungan darah, perkawinan, seks, bahkan perbudakan. Dibuka dengan Mayya, anak pertama dari tiga bersaudara perempuan, yang di bagian-bagian awal kita tahu sering berdoa, “Tuhan, aku hanya ingin melihatnya,” (kita tak tahu siapa yang ditunggunya) kemudian dilamar oleh seorang lelaki anak saudagar kaya, Abdullah. Mereka menikah, tapi saat suaminya bertanya, “Apakah kau mencintaiku?” Mayya tak pernah menjawabnya. Pun, mereka memiliki anak, salah satunya London yang menurut bibi dan neneknya, “Macam mana memberi anak dengan nama kota orang-orang Kristen?” Kelak, kita tahu London memiliki hubungan asmara yang naif dengan seorang penyair gembel, berpendidikan tinggi dan calon dokter yang cemerlang, tapi dibutakan cinta. Adik Mayya yang kedua, Asma, merupakan gadis yang penuh rasa ingin tahu, dan teman terbaiknya adalah buku-buku klasik yang ditinggalkan kakeknya. Ia mencintai pengetahuan, penuh rasa ingin tahu, tapi akhirnya menerima lamaran seorang lelaki anak imigran, dari keluarga pelarian karena konflik perang saudara di Oman. Keluarganya mengungsi ke Mesir sebelum pulang kembali. Adik bungsunya, Khawla, barangkali yang paling tragis: sewaktu kecil ia berjanji dengan sepupunya bahwa mereka kelak akan menikah. Si sepupu malah pergi ke Kanada, dan si gadis tetap menunggu, menolak belasan lamaran. Sepupunya? Di Kanada ia punya pacar dan kumpul kebo. Ketika kehabisan uang, ia pulang dan akan memperoleh warisan, hanya jika ia mengawini Khawla. Ia memang menikahinya, tapi meninggalkannya lagi ke Kanada, balik ke pacarnya. Ia hanya pulang dua tahun sekali, hanya untuk menidurinya dan meninggalkannya dalam keadaan bunting. Sepuluh tahun menghasilkan lima anak. Sekali lagi, jangan terkejut jika menemukan begitu banyak karakter, terutama perempuan di novel ini, dan mereka memiliki kisahnya masing-masing. Beberapa berkelindan, yang lain berjalan sendiri. Ada kisah tentang perempuan Badui bernama Qamar, yang mencintai seorang lelaki beristri. Tidak, ia tak ingin merebut lelaki itu. Tak menuntutnya untuk dinikahi. Ia bahagia hanya menjadi kekasih tersembunyi. Tapi justru si lelaki yang menderita, merasa “tak memilikinya”. Kelar membaca novel ini, entah kenapa, memberi saya tidur yang tak nyaman hampir sepanjang malam. Berkali-kali saya merasa berada di hadapan perempuan-perempuan ini, juga para lelakinya, dan harus menghadapi problem-problem mereka, yang bagi saya terasa berat dan memberi efek depresif. Barangkali pengetahuan saya yang tak seberapa tentang adat kebudayaan Arab, sejarah Oman yang nyaris tak tahu apa-apa, dan kesusastraan mereka yang jauh dari radar, keterasingannya memberi saya rasa penasaran sekaligus ketidaknyamanan. Seperti salah satu fabel yang dikisahkan di tengah novel ini, saya seperti seekor serigala yang mengetuk kandang, berpura-pura jadi induk kambing. Dua anak kambing terperdaya dan saya memakannya, memakan isi novel ini, sebelum lelap tak berdaya dalam kekenyangan.

Dandelions, Jika Ini Catatan Kepergian Kawabata

Pukul tiga sore ia meninggalkan rumahnya di Kamakura, untuk berjalan-jalan. Kesehatannya agak buruk, ia sangat tergantung kepada obat tidur. Beberapa temannya juga bilang, ia masih sangat bersedih atas kepergian teman kesayangannya, novelis Mishima Yukio, yang mati seppuku. Malam itu ia tidak pulang, tapi mampir ke apartemen tempatnya biasa bekerja di daerah Zushi. Hari itu 16 April 1972, dan ia berumur 72 tahun. Ketika polisi datang, pintu apartemen dalam keadaan terkunci, dan ketika mereka membuka paksa, bau gas tercium menyengat. Kawabata Yasunari sudah meninggal dengan ujung pipa gas di mulutnya. Ia tak meninggalkan catatan bunuh diri (meskipun begitu, ada juga teori yang mengatakan itu kecelakaan), tapi kemudian kita tahu, ia meninggalkan satu novel yang tak terselesaikan, berjudul Dandelions. Seperti sebagian besar novel-novel tak terselesaikan yang ditulis di akhir hayat para penulis jenius, novel ini menyajikan keindahan sekaligus misterinya yang tak terpecahkan. Ya, kita memang tak akan pernah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir, tapi ia membentangkan hamparan masalah yang dihadapi tokoh-tokohnya: cinta, kematian, perasaan kalah, penyakit, dan kegilaan. Seperti juga novel-novelnya yang lain, ia juga menyisipkan sejenis eksotisme masyarakat Jepang, dengan lonceng besi di kuil tua dari masa Edo yang berdentang lima kali sehari, meskipun pembicaraannya terasa jauh lebih modern, dari masalah penyakit mental hingga kutipan dari Balzac tentang perempuan umur empat puluh tahun. Saya membayangkan jika novel ini merupakan catatan kepergiannya, ia merupakan percakapan muram yang tak berujung dan tak menjanjikan apa-apa. Percakapan itu terjadi, terutama di antara ibu Ineko dan kekasih Ineko bernama Kuno, selepas mereka mengantarkan Ineko ke panti orang gila di atas bukit, di sebuah kota kecil di mana pada musim semi bunga dandelion telah bermekaran. Banyak hal mereka percakapkan, dan tak jarang saling berseberangan, terutama menyangkut nasib Ineko. Ibunya percaya, tempat terbaik bagi Ineko adalah klinik tersebut, yang dikelola oleh sebuah kuil, sebab ia hanya ingin mengizinkan Ineko menikah dengan Kuno dalam keadaan sembuh. Sementara Kuno keberatan dengan keputusan tersebut, sebab percaya justru “cinta” (artinya menikah dan dirawat olehnya), yang akan membuat Ineko sembuh. Kita bisa tertawa dengan kenaifan Kuno, kenaifan yang dibawa oleh gejolak anak muda, tapi sekaligus kita tak juga menyalahkannya. Dalam pandangan Kuno, penyakit Ineko tidaklah terlalu serius. Ineko menderita kebutaan sejenak, terutama ia kadang tak bisa melihat bagian tubuh seseorang. Demikianlah sehabis bercinta, Ineko tiba-tiba tak bisa melihat wajah Kuno. Ibunya berpikir sebaliknya, itu penyakit berbahaya. Ia mendengar penyakit serupa dari dokter di mana seorang ibu mendadak tak bisa melihat wajah bayi yang dipangkunya, dan kemudian membunuhnya. Pembicaraan mereka melebar ka masa yang jauh, untuk mencari akar trauma dari penyakit tersebut. Mungkinkah karena Ineko pernah menyaksikan ayahnya yang jatuh bersama kuda tunggangan ke tebing pinggir laut? Dan apakah kematian ayahnya hanya kecelakaan biasa, atau simbol kekalahan Jepang dari perang? Bukankah sang ayah juga pernah mencoba bunuh diri di hutan, tapi diselamatkan seorang perempuan misterius, dan sejak mendengar kisah itu, Ineko merasa perempuan itu bersemayam di dalam dirinya? Novel ini bisa dilihat sebagai catatan traumatik, dan mengikuti kisahnya, saya merasakan jejak waktu yang makin lama semakin suram dan tanpa harapan. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi selepas percakapan mereka, tapi saya membayangkan mereka tak akan pernah melihat Ineko lagi. Sebagaimana kesuraman kisah novel ini membawa kita kepada kenyataan, tak akan lagi mendengar sang penulis bercerita. “Bagaimanapun terasingnya seseorang dari dunia, bunuh diri bukanlah bentuk pencerahan. Semengagumkan apa pun dia, siapa pun yang bunuh diri jauh dari kesucian,” kata Kawabata dalam pidato penerimaan Hadiah Nobel, 1968. Jika novel ini catatan kepergiannya, jelas ia memang tak hendak memperlihatkan kesucian, ia memperlihatkan betapa rapuhnya manusia dan dunia.

Nadja, André Breton

  • Dalam pembacaan awal, saya melihatnya sebagai sejenis esai tentang kota, dalam hal ini Paris. “… patung Etienne Dolet di atas penyangganya di Place Maubert, Paris selalu menarik perhatianku sekaligus memaksa rasa tak nyaman yang tak tertanggungkan.” Paris, kota di mana kau bisa menemukan narator buku ini lewat setidaknya dalam tiga hari.
  • Bisa juga diperlakukan sebagai memoar. “Siapakah aku?” Sebab demikianlah buku ini dibuka. Si aku yang selalu “berharap bertemu, di malam hari di tengah hutan, dengan seorang perempuan cantik telanjang, atau, karena harapan semacam itu sekali dikatakan tak ada artinya sama sekali, aku menyesali kenapa tak bertemu dengannya.”
  • Saya kebetulan menemukan esai Mario Vargas Llosa di buku Touchstone tentang buku ini. Surealisme dan khususnya André Breton, memandang rendah novel, begitu katanya. Meskipun begitu, ia tak ragu untuk menyebut Nadja sebagai “novel orisinil tentang cinta.” Dan, jika itu novel, maka ini novel yang bagus, “sebab ia tak menceritakan dunia ini, meskipun berpura-pura demikian.”
  • Lebih tepatnya, dunia di novel ini dilihat dengan cara yang subyektif. Ia tak hanya mendeskripsikan dunia sebagaimana dilihat sang narator, tapi melingkupi kesan, fantasi, juga mimpi buruknya. Dunia tak melulu apa yang terhampar, tapi juga yang diketahui dari omong-omong kosong, dari potongan gambar, gagasan tak utuh, sebaris teks dari sebuah karya.
  • Mungkin memang bukan novel, bukan esai, apalagi puisi. Ia bukan apa-apa, sekaligus apa-apa.  Bagian pertama merupakan tulisan yang tampak ngalor-ngidul untuk menjelaskan “siapakah aku”, dan alih-alih mendeskripsikan tentang dirinya, narator sibuk bicara tentang banyak hal, dan menempelkan di halaman buku ini berbagai gambar yang ia berharap melengkapi ocehannya.
  • Jika Nadja adalah fiksi tentang seorang perempuan bernama Nadja, kita akan bertemu narator yang terus-menerus berusaha mendefinisikan siapakah Nadja ini, dan bagaimana perasaannya terhadap perempuan itu, serta hubungan macam apa yang dimiliki di antara mereka. “Untuk sementara waktu, aku berhenti memahami Nadja. Sebenarnya, barangkali kami tak pernah mengerti satu sama lain.”
  • Perempuan ini muncul di bagian kedua. “Aku melihat seorang perempuan muda berpakaian buruk berjalan ke arahku.” Perempuan yang di pertemuan awal itu sudah mengatakan memiliki “kesulitan finansial”. Ia pernah bekerja di toko roti, bahkan di penjagalan babi. Ia mengutip puisi, dan ia menggambar beberapa sketsa, sebab dengan cara seperti itulah kadang Nadja berbicara.
  • Gambar-gambar sketsa yang dibuat Nadja pada dasarnya bisa dinikmati secara mandiri. Kadang Nadja menerangkan apa makna, atau simbol apa yang ia coba sampaikan, tapi kadang ia juga tak mengerti apa yang digambarnya. Sketsa “Bunga Cinta” lumayan menyeramkan. Kelopak-kelopak bunga bergambar mata yang menatap tajam, sementara batangnya berawal dari seekor ular yang menganga. Begitu mungkin Nadja melihat cinta.
  • Kalau mau, boleh juga dianggap sebagai kritik sastra, atau kritik seni secara umum. “Bahagia rasanya, kesusastraan psikologis umurnya tak lagi panjang. Dan tak ada keraguan, semburan mematikan ini diembuskan oleh Huysmans.” Di novel ini, ia juga bicara tentang Chirico, Victor Hugo, hingga Robert Desnos. Puisi, novel, patung, hingga lukisan.
  • Sebagai pembaca novel, membaca Nadja memang terasa membaca sebuah “novel” yang sinis, yang terus-menerus meyakinkan pembacanya bahwa “aku bukanlah novel”. Seperti kita dibawa untuk berfantasi tentang Nadja melebihi sosok dengan tulang dan daging, kita diajak untuk terus-menerus bertanya, apa sesungguhnya sebuah novel, bagaimana novel didefinisikan? Yang jelas, seperti kata Llosa, Breton mempergunakan kebebasannya sebagai novelis untuk merdeka mempergunakan waktu, ruang dan kata-kata.

Jokes for the Gunmen, Mazen Maarouf

Untuk bertahan hidup, dalam perang maupun di hari-hari biasa, orang tak hanya memerlukan senjata, kekuatan, atau perlindungan berlapis-lapis, tapi juga membutuhkan “cerita” dan bahkan “lelucon”. Serius. Saya sering melakukannya. Di jalan, misal di dalam taksi, jika sopir taksi bertanya apa pekerjaan saya, saya suka mengarang cerita hanya agar pembicaraan berhenti dan saya bisa bebas melamun. Kadang saya mengaku sebagai pengecek stok jaringan toko baju (kalau kebetulan keluar dari mal) sambil berkata, “Jalan dari satu mal ke mal lain, ngecek apakah stok celana lelaki Zara di mal ini masih cukup, dan apakah sepatu Tumberland di toko sana masih melimpah.” Lain kali saya mengarang cerita sebagai pembuat es krim, dengan sedikit riwayat singkat bagaimana saya bisa jadi pembuat es krim. Lain kali saya ngaku sebagai developer web pakai Drupal. Sopir taksi biasanya tak minat bicara lagi. Kalau saya mengaku penulis, apalagi suka menulis di media massa, tamat sudah. Dia akan bertanya soal politik, soal ekonomi dan bisnis, bahkan soal problematika kehidupan rumah tangga sebab penulis dianggap serba tahu, dan dua puluh tahun ini saya sudah belajar hal penting sebagai penulis: jangan ngaku sebagai penulis ke sembarang orang. Kalau kamu ngaku sebagai penulis, paling apes yang terjadi adalah mendengar orang berkata, “Ah, anak saya suka menulis juga, bagaimana ya, cara menerbitkannya?” Cerpen-cerpen Mazen Maarouf dalam kumpulan cerita Jokes for the Gunmen penuh dengan kisah para tukang ngibul. Mengibul melalui cerita dan lelucon, dan sebagian besar dilakukan untuk bertahan hidup, atau setidaknya untuk membuat hidup lebih ringan dijalani. Seorang anak mengirim ibunya yang tua ke rumah perawatan, memberinya penyakit Alzeimer (meskipun tidak), dan untuk meyakinkan ibunya, setiap kali ia menjejalkan kepada ibunya kisah tentang lelaki tua yang bisa membuat mobil-mobil jadi biskuit raksasa. Si ibu mengisahkan dongeng biskuit itu ke dokter, dan dokter memberinya suntikan penenang. Itu di cerpen “Biscuit”. Di cerpen yang menjadi judul buku, si anak mencoba mengarang cerita agar ayahnya yang pecundang tampak hebat dan keren di depan teman-teman sekolahnya. Ia mengaku sering dipukul ayahnya dengan brutal. Punya ayah yang kasar dan senang mengirimkan jotosan merupakan hal keren di masa perang. Ayah paling kejam merupakan ayah paling keren. Ayah yang lemah tak menggampar anaknya dengan kejam. Ceritanya tak berhasil karena ayahnya memang payah, bahkan suatu hari ketahuan ayahnya habis dipukuli para gunmen. Bahkan ketika ayahnya kemudian kabur, meninggalkan keluarganya, sempat-sempatnya ia mengarang cerita bahwa sang ayah “diculik”. Pertanyaannya, sejauh mana orang bisa percaya atas sebuah kisah? Sejauh mana pula sebuah lelucon bisa meringankan beban hidup seseorang? Di cerpen “Matador”, seorang paman yang gagal jadi matador (cuma berhasil jadi tukang jagal), tapi memiliki kostum yang pernah dipakai Luis Miguel Dominguín, memperlihatkan perkara sebaliknya tentang bagaimana jika sebuah cerita, meskipun benar, tapi tak berhasil membuat orang memercayainya. Di cerita “Cinema”, meskipun tampak surealis, menyiratkan bahwa kisah di balik lubang proyektor, yakni di luar gedung bioskop, lebih menarik daripada yang terjadi di dalam. Jelas dalam peradaban manusia, kita bercerita tak melulu sebagai upaya untuk melarikan diri dari kenyataan hidup, untuk menghibur diri, atau sedikit lebih serius, untuk melihat kehidupan potensial. Tidak. Saya kira kita bercerita memang untuk bertahan hidup, seperti makan, tidur dan bercinta. Bahkan ketika tahu sebagian cerita hanya kibulan, sebagian cerita menyakitkan hati, dan sebagian cerita bisa membunuh orang, kita tetap bercerita dan mendengarkan cerita. Persis seperti cerpen “Curtain”, tentang suami-istri yang senang bercinta dengan jendela terbuka, hanya ditutup tirai tipis yang gampang tersibak angin, dan seorang boncel yang mengintip dari seberang. Kadang, untuk manjadikan hidup berjalan dengan baik, kita seperti pasangan yang membiarkan diri ditonton, atau menjadi si boncel yang menonton pergulatan orang lain. Sebab begitulah cerita, bukan?