Tokyo Ueno Station, Yu Miri

“Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Suara itu datang dari seorang gelandangan tua, yang menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di Taman Ueno, Tokyo, bersama tuna wisma lainnya. Ia hanya berusaha menyambung hidup dari hari ke hari, dengan sisa-sisa makanan yang disumbangkan dari restoran atau toko serbaada. Jika musim dingin atau badai menghantam, mereka hanya perlu berlindung di gedung-gedung museum, yang memberi ruang-ruang hangat bagi mereka. Saya pernah melihat sendiri gelandangan-gelandangan Tokyo ini, dan yang mengejutkan, mereka seringkali menjadi tuna wisma bukan karena tak punya rumah, tak (pernah) memiliki pekerjaan, atau bahkan tak punya keluarga yang mau mengurus (meskipun alasan-alasan itu bisa saja berlaku untuk beberapa di antara mereka). Seringkali mereka memilih menjadi gelandangan karena itu adalah pilihan yang paling masuk akal, sebab pilihan lain lebih tak tertanggungkan. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Ini juga merupakan suara novel ini secara keseluruhan, Tokyo Ueno Station karya Yu Miri. Kita bisa melihat kehidupan, terutama kehidupan pasca perang, menghajar habis seorang lelaki tanpa belas kasihan. Jepang selepas perang memang hanya sebentar saja merasakan masa suram. Ditandai oleh Olimpiade 1964, gelombang kebangkitan ekonomi merebak ke seluruh negeri, meski denyut terbesarnya berada di pusat: Tokyo. Anak-anak muda dari kampung-kampung terseret ke kota itu, demi membebaskan diri dari kemiskinan, demi uang dan hidup yang lebih baik. Mereka memang memperoleh apa yang mereka cari. Uang yang beberapa kali lipat dari yang bisa mereka hasilkan di daerah asal, selain bisa menopang hidup sendiri di kota, sebagian bisa dikirim ke rumah untuk membiayai hidup istri, anak-anak, bahkan orang tua dan adik-adik. Sekaligus mereka memperoleh kutukan dan siksaannya: kehilangan keintiman keluarga, tak melihat dan tak mengenal bagaimana anak-anak tumbuh. Mereka mesin, sekrup paling kecil yang bekerja paling keras. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Seorang gelandangan bernama Shige juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan seringkali jadi sia-sia dan tak berdaya di hadapan kejamnya hidup. Tokoh kita sering membayangkan Shige dulunya seorang guru, atau sejenisnya. Ia senang membaca. Ia mengumpulkan majalah dan buku bekas, dan mengumpulkannya di dalam tenda miliknya. Tak hanya itu. Ia sejenis perpustakaan berjalan. Ia tahu berbagai peristiwa, ia bisa memberi latar belakang mengenai berbagai monumen di kota itu, sebagaimana ia bisa menggambarkan peta dan lanskap kota, serta perkembangannya. Tapi, entah apa pun yang terjadi padanya, ia juga dihancurkan oleh hidup, yang menyeretnya tinggal di dalam tenda gelandangan hanya berteman seekor kucing, yang akhirnya harus ditinggalkannya juga ketika ajal kemudian menjemput. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Ketika kita pergi ke kota, pulang setahun sekali, kerja keras mengumpulkan uang demi istri, orang tua, dan anak-anak, hidup sementara mungkin memiliki tujuan. Tapi, apa yang terjadi jika kemudian anakmu mati di pondokannya, padahal ia baru saja meraih prestasi di kuliahnya? Lalu, satu malam, istrimu juga mati dalam tidurnya, di sampingmu? Apa makna hidup jika seseorang tak lagi memiliki alasan untuk itu? “Kau tidak beruntung,” kata ibunya, dan apakah itu cukup untuk menjelaskan hidup yang sial? Novel ini bagus, bukan karena memaksa kita melihat bengisnya sisi lain kehidupan, tapi karena ia memperlihatkan bahwa yang bengis itu justru dihasilkan oleh proses yang sama yang membuat kehidupan, di sisi yang ekstrem lain, demikian gemerlap. Atau jangan-jangan kehidupan ini memang tak lebih dari upaya menggelandang. Kita berharap bertahan hidup hari ini, agar besok bisa mengulangi perjuangan yang sama dalam upaya untuk kembali bertahan hidup.

Celestial Bodies, Jokha Alharthi

Dalam beberapa kali penerbangan ke Eropa, melintasi garis pantai semenanjung Arab bagian timur sambil memperhatikan peta di layar kecil depan tempat duduk pesawat, saya sering melihat titik sebuah kota bernama Muscat. Saya sering bertanya-tanya, kota macam apakah itu? Apakah penuh dengan gunung-gunung batu, padang gersang dengan diselingi petak kurma semacam Madinah atau Mekah? Atau serupa Dubai dan Abu Dhabi, yang gemerlapnya sering saya lihat di video? Melalui novel Celestial Bodies, karya Jokha Alharthi, saya bisa mengintip sekilas. Sekilas saja, karena novel ini justru berlatar lebih jauh lagi, ke sebuah kota pinggiran di negeri bernama Oman tersebut. Sebuah pembacaan yang membawa saya ke sebuah negeri asing, dengan lanskap yang asing, bahkan hubungan-hubungan sosial yang dalam tingkat tertentu juga terasa asing. Seasing membayangkan “kuburan gersang tanpa pepohonan”, sebab sejauh yang saya ingat, kuburan selalu merupakan tempat paling teduh. Saya membayangkan novel ini semacam ensiklopedia berbagai karakter perempuan (plus beberapa karakter lelaki, yang saya rasa lebih sebagai pendamping dan bumbu penyedap, meskipun salah satunya menjadi narator penting, Abdullah). Perempuan-perempuan yang terhubung satu sama lain oleh hubungan darah, perkawinan, seks, bahkan perbudakan. Dibuka dengan Mayya, anak pertama dari tiga bersaudara perempuan, yang di bagian-bagian awal kita tahu sering berdoa, “Tuhan, aku hanya ingin melihatnya,” (kita tak tahu siapa yang ditunggunya) kemudian dilamar oleh seorang lelaki anak saudagar kaya, Abdullah. Mereka menikah, tapi saat suaminya bertanya, “Apakah kau mencintaiku?” Mayya tak pernah menjawabnya. Pun, mereka memiliki anak, salah satunya London yang menurut bibi dan neneknya, “Macam mana memberi anak dengan nama kota orang-orang Kristen?” Kelak, kita tahu London memiliki hubungan asmara yang naif dengan seorang penyair gembel, berpendidikan tinggi dan calon dokter yang cemerlang, tapi dibutakan cinta. Adik Mayya yang kedua, Asma, merupakan gadis yang penuh rasa ingin tahu, dan teman terbaiknya adalah buku-buku klasik yang ditinggalkan kakeknya. Ia mencintai pengetahuan, penuh rasa ingin tahu, tapi akhirnya menerima lamaran seorang lelaki anak imigran, dari keluarga pelarian karena konflik perang saudara di Oman. Keluarganya mengungsi ke Mesir sebelum pulang kembali. Adik bungsunya, Khawla, barangkali yang paling tragis: sewaktu kecil ia berjanji dengan sepupunya bahwa mereka kelak akan menikah. Si sepupu malah pergi ke Kanada, dan si gadis tetap menunggu, menolak belasan lamaran. Sepupunya? Di Kanada ia punya pacar dan kumpul kebo. Ketika kehabisan uang, ia pulang dan akan memperoleh warisan, hanya jika ia mengawini Khawla. Ia memang menikahinya, tapi meninggalkannya lagi ke Kanada, balik ke pacarnya. Ia hanya pulang dua tahun sekali, hanya untuk menidurinya dan meninggalkannya dalam keadaan bunting. Sepuluh tahun menghasilkan lima anak. Sekali lagi, jangan terkejut jika menemukan begitu banyak karakter, terutama perempuan di novel ini, dan mereka memiliki kisahnya masing-masing. Beberapa berkelindan, yang lain berjalan sendiri. Ada kisah tentang perempuan Badui bernama Qamar, yang mencintai seorang lelaki beristri. Tidak, ia tak ingin merebut lelaki itu. Tak menuntutnya untuk dinikahi. Ia bahagia hanya menjadi kekasih tersembunyi. Tapi justru si lelaki yang menderita, merasa “tak memilikinya”. Kelar membaca novel ini, entah kenapa, memberi saya tidur yang tak nyaman hampir sepanjang malam. Berkali-kali saya merasa berada di hadapan perempuan-perempuan ini, juga para lelakinya, dan harus menghadapi problem-problem mereka, yang bagi saya terasa berat dan memberi efek depresif. Barangkali pengetahuan saya yang tak seberapa tentang adat kebudayaan Arab, sejarah Oman yang nyaris tak tahu apa-apa, dan kesusastraan mereka yang jauh dari radar, keterasingannya memberi saya rasa penasaran sekaligus ketidaknyamanan. Seperti salah satu fabel yang dikisahkan di tengah novel ini, saya seperti seekor serigala yang mengetuk kandang, berpura-pura jadi induk kambing. Dua anak kambing terperdaya dan saya memakannya, memakan isi novel ini, sebelum lelap tak berdaya dalam kekenyangan.

Dandelions, Jika Ini Catatan Kepergian Kawabata

Pukul tiga sore ia meninggalkan rumahnya di Kamakura, untuk berjalan-jalan. Kesehatannya agak buruk, ia sangat tergantung kepada obat tidur. Beberapa temannya juga bilang, ia masih sangat bersedih atas kepergian teman kesayangannya, novelis Mishima Yukio, yang mati seppuku. Malam itu ia tidak pulang, tapi mampir ke apartemen tempatnya biasa bekerja di daerah Zushi. Hari itu 16 April 1972, dan ia berumur 72 tahun. Ketika polisi datang, pintu apartemen dalam keadaan terkunci, dan ketika mereka membuka paksa, bau gas tercium menyengat. Kawabata Yasunari sudah meninggal dengan ujung pipa gas di mulutnya. Ia tak meninggalkan catatan bunuh diri (meskipun begitu, ada juga teori yang mengatakan itu kecelakaan), tapi kemudian kita tahu, ia meninggalkan satu novel yang tak terselesaikan, berjudul Dandelions. Seperti sebagian besar novel-novel tak terselesaikan yang ditulis di akhir hayat para penulis jenius, novel ini menyajikan keindahan sekaligus misterinya yang tak terpecahkan. Ya, kita memang tak akan pernah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir, tapi ia membentangkan hamparan masalah yang dihadapi tokoh-tokohnya: cinta, kematian, perasaan kalah, penyakit, dan kegilaan. Seperti juga novel-novelnya yang lain, ia juga menyisipkan sejenis eksotisme masyarakat Jepang, dengan lonceng besi di kuil tua dari masa Edo yang berdentang lima kali sehari, meskipun pembicaraannya terasa jauh lebih modern, dari masalah penyakit mental hingga kutipan dari Balzac tentang perempuan umur empat puluh tahun. Saya membayangkan jika novel ini merupakan catatan kepergiannya, ia merupakan percakapan muram yang tak berujung dan tak menjanjikan apa-apa. Percakapan itu terjadi, terutama di antara ibu Ineko dan kekasih Ineko bernama Kuno, selepas mereka mengantarkan Ineko ke panti orang gila di atas bukit, di sebuah kota kecil di mana pada musim semi bunga dandelion telah bermekaran. Banyak hal mereka percakapkan, dan tak jarang saling berseberangan, terutama menyangkut nasib Ineko. Ibunya percaya, tempat terbaik bagi Ineko adalah klinik tersebut, yang dikelola oleh sebuah kuil, sebab ia hanya ingin mengizinkan Ineko menikah dengan Kuno dalam keadaan sembuh. Sementara Kuno keberatan dengan keputusan tersebut, sebab percaya justru “cinta” (artinya menikah dan dirawat olehnya), yang akan membuat Ineko sembuh. Kita bisa tertawa dengan kenaifan Kuno, kenaifan yang dibawa oleh gejolak anak muda, tapi sekaligus kita tak juga menyalahkannya. Dalam pandangan Kuno, penyakit Ineko tidaklah terlalu serius. Ineko menderita kebutaan sejenak, terutama ia kadang tak bisa melihat bagian tubuh seseorang. Demikianlah sehabis bercinta, Ineko tiba-tiba tak bisa melihat wajah Kuno. Ibunya berpikir sebaliknya, itu penyakit berbahaya. Ia mendengar penyakit serupa dari dokter di mana seorang ibu mendadak tak bisa melihat wajah bayi yang dipangkunya, dan kemudian membunuhnya. Pembicaraan mereka melebar ka masa yang jauh, untuk mencari akar trauma dari penyakit tersebut. Mungkinkah karena Ineko pernah menyaksikan ayahnya yang jatuh bersama kuda tunggangan ke tebing pinggir laut? Dan apakah kematian ayahnya hanya kecelakaan biasa, atau simbol kekalahan Jepang dari perang? Bukankah sang ayah juga pernah mencoba bunuh diri di hutan, tapi diselamatkan seorang perempuan misterius, dan sejak mendengar kisah itu, Ineko merasa perempuan itu bersemayam di dalam dirinya? Novel ini bisa dilihat sebagai catatan traumatik, dan mengikuti kisahnya, saya merasakan jejak waktu yang makin lama semakin suram dan tanpa harapan. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi selepas percakapan mereka, tapi saya membayangkan mereka tak akan pernah melihat Ineko lagi. Sebagaimana kesuraman kisah novel ini membawa kita kepada kenyataan, tak akan lagi mendengar sang penulis bercerita. “Bagaimanapun terasingnya seseorang dari dunia, bunuh diri bukanlah bentuk pencerahan. Semengagumkan apa pun dia, siapa pun yang bunuh diri jauh dari kesucian,” kata Kawabata dalam pidato penerimaan Hadiah Nobel, 1968. Jika novel ini catatan kepergiannya, jelas ia memang tak hendak memperlihatkan kesucian, ia memperlihatkan betapa rapuhnya manusia dan dunia.

Nadja, André Breton

  • Dalam pembacaan awal, saya melihatnya sebagai sejenis esai tentang kota, dalam hal ini Paris. “… patung Etienne Dolet di atas penyangganya di Place Maubert, Paris selalu menarik perhatianku sekaligus memaksa rasa tak nyaman yang tak tertanggungkan.” Paris, kota di mana kau bisa menemukan narator buku ini lewat setidaknya dalam tiga hari.
  • Bisa juga diperlakukan sebagai memoar. “Siapakah aku?” Sebab demikianlah buku ini dibuka. Si aku yang selalu “berharap bertemu, di malam hari di tengah hutan, dengan seorang perempuan cantik telanjang, atau, karena harapan semacam itu sekali dikatakan tak ada artinya sama sekali, aku menyesali kenapa tak bertemu dengannya.”
  • Saya kebetulan menemukan esai Mario Vargas Llosa di buku Touchstone tentang buku ini. Surealisme dan khususnya André Breton, memandang rendah novel, begitu katanya. Meskipun begitu, ia tak ragu untuk menyebut Nadja sebagai “novel orisinil tentang cinta.” Dan, jika itu novel, maka ini novel yang bagus, “sebab ia tak menceritakan dunia ini, meskipun berpura-pura demikian.”
  • Lebih tepatnya, dunia di novel ini dilihat dengan cara yang subyektif. Ia tak hanya mendeskripsikan dunia sebagaimana dilihat sang narator, tapi melingkupi kesan, fantasi, juga mimpi buruknya. Dunia tak melulu apa yang terhampar, tapi juga yang diketahui dari omong-omong kosong, dari potongan gambar, gagasan tak utuh, sebaris teks dari sebuah karya.
  • Mungkin memang bukan novel, bukan esai, apalagi puisi. Ia bukan apa-apa, sekaligus apa-apa.  Bagian pertama merupakan tulisan yang tampak ngalor-ngidul untuk menjelaskan “siapakah aku”, dan alih-alih mendeskripsikan tentang dirinya, narator sibuk bicara tentang banyak hal, dan menempelkan di halaman buku ini berbagai gambar yang ia berharap melengkapi ocehannya.
  • Jika Nadja adalah fiksi tentang seorang perempuan bernama Nadja, kita akan bertemu narator yang terus-menerus berusaha mendefinisikan siapakah Nadja ini, dan bagaimana perasaannya terhadap perempuan itu, serta hubungan macam apa yang dimiliki di antara mereka. “Untuk sementara waktu, aku berhenti memahami Nadja. Sebenarnya, barangkali kami tak pernah mengerti satu sama lain.”
  • Perempuan ini muncul di bagian kedua. “Aku melihat seorang perempuan muda berpakaian buruk berjalan ke arahku.” Perempuan yang di pertemuan awal itu sudah mengatakan memiliki “kesulitan finansial”. Ia pernah bekerja di toko roti, bahkan di penjagalan babi. Ia mengutip puisi, dan ia menggambar beberapa sketsa, sebab dengan cara seperti itulah kadang Nadja berbicara.
  • Gambar-gambar sketsa yang dibuat Nadja pada dasarnya bisa dinikmati secara mandiri. Kadang Nadja menerangkan apa makna, atau simbol apa yang ia coba sampaikan, tapi kadang ia juga tak mengerti apa yang digambarnya. Sketsa “Bunga Cinta” lumayan menyeramkan. Kelopak-kelopak bunga bergambar mata yang menatap tajam, sementara batangnya berawal dari seekor ular yang menganga. Begitu mungkin Nadja melihat cinta.
  • Kalau mau, boleh juga dianggap sebagai kritik sastra, atau kritik seni secara umum. “Bahagia rasanya, kesusastraan psikologis umurnya tak lagi panjang. Dan tak ada keraguan, semburan mematikan ini diembuskan oleh Huysmans.” Di novel ini, ia juga bicara tentang Chirico, Victor Hugo, hingga Robert Desnos. Puisi, novel, patung, hingga lukisan.
  • Sebagai pembaca novel, membaca Nadja memang terasa membaca sebuah “novel” yang sinis, yang terus-menerus meyakinkan pembacanya bahwa “aku bukanlah novel”. Seperti kita dibawa untuk berfantasi tentang Nadja melebihi sosok dengan tulang dan daging, kita diajak untuk terus-menerus bertanya, apa sesungguhnya sebuah novel, bagaimana novel didefinisikan? Yang jelas, seperti kata Llosa, Breton mempergunakan kebebasannya sebagai novelis untuk merdeka mempergunakan waktu, ruang dan kata-kata.

Jokes for the Gunmen, Mazen Maarouf

Untuk bertahan hidup, dalam perang maupun di hari-hari biasa, orang tak hanya memerlukan senjata, kekuatan, atau perlindungan berlapis-lapis, tapi juga membutuhkan “cerita” dan bahkan “lelucon”. Serius. Saya sering melakukannya. Di jalan, misal di dalam taksi, jika sopir taksi bertanya apa pekerjaan saya, saya suka mengarang cerita hanya agar pembicaraan berhenti dan saya bisa bebas melamun. Kadang saya mengaku sebagai pengecek stok jaringan toko baju (kalau kebetulan keluar dari mal) sambil berkata, “Jalan dari satu mal ke mal lain, ngecek apakah stok celana lelaki Zara di mal ini masih cukup, dan apakah sepatu Tumberland di toko sana masih melimpah.” Lain kali saya mengarang cerita sebagai pembuat es krim, dengan sedikit riwayat singkat bagaimana saya bisa jadi pembuat es krim. Lain kali saya ngaku sebagai developer web pakai Drupal. Sopir taksi biasanya tak minat bicara lagi. Kalau saya mengaku penulis, apalagi suka menulis di media massa, tamat sudah. Dia akan bertanya soal politik, soal ekonomi dan bisnis, bahkan soal problematika kehidupan rumah tangga sebab penulis dianggap serba tahu, dan dua puluh tahun ini saya sudah belajar hal penting sebagai penulis: jangan ngaku sebagai penulis ke sembarang orang. Kalau kamu ngaku sebagai penulis, paling apes yang terjadi adalah mendengar orang berkata, “Ah, anak saya suka menulis juga, bagaimana ya, cara menerbitkannya?” Cerpen-cerpen Mazen Maarouf dalam kumpulan cerita Jokes for the Gunmen penuh dengan kisah para tukang ngibul. Mengibul melalui cerita dan lelucon, dan sebagian besar dilakukan untuk bertahan hidup, atau setidaknya untuk membuat hidup lebih ringan dijalani. Seorang anak mengirim ibunya yang tua ke rumah perawatan, memberinya penyakit Alzeimer (meskipun tidak), dan untuk meyakinkan ibunya, setiap kali ia menjejalkan kepada ibunya kisah tentang lelaki tua yang bisa membuat mobil-mobil jadi biskuit raksasa. Si ibu mengisahkan dongeng biskuit itu ke dokter, dan dokter memberinya suntikan penenang. Itu di cerpen “Biscuit”. Di cerpen yang menjadi judul buku, si anak mencoba mengarang cerita agar ayahnya yang pecundang tampak hebat dan keren di depan teman-teman sekolahnya. Ia mengaku sering dipukul ayahnya dengan brutal. Punya ayah yang kasar dan senang mengirimkan jotosan merupakan hal keren di masa perang. Ayah paling kejam merupakan ayah paling keren. Ayah yang lemah tak menggampar anaknya dengan kejam. Ceritanya tak berhasil karena ayahnya memang payah, bahkan suatu hari ketahuan ayahnya habis dipukuli para gunmen. Bahkan ketika ayahnya kemudian kabur, meninggalkan keluarganya, sempat-sempatnya ia mengarang cerita bahwa sang ayah “diculik”. Pertanyaannya, sejauh mana orang bisa percaya atas sebuah kisah? Sejauh mana pula sebuah lelucon bisa meringankan beban hidup seseorang? Di cerpen “Matador”, seorang paman yang gagal jadi matador (cuma berhasil jadi tukang jagal), tapi memiliki kostum yang pernah dipakai Luis Miguel Dominguín, memperlihatkan perkara sebaliknya tentang bagaimana jika sebuah cerita, meskipun benar, tapi tak berhasil membuat orang memercayainya. Di cerita “Cinema”, meskipun tampak surealis, menyiratkan bahwa kisah di balik lubang proyektor, yakni di luar gedung bioskop, lebih menarik daripada yang terjadi di dalam. Jelas dalam peradaban manusia, kita bercerita tak melulu sebagai upaya untuk melarikan diri dari kenyataan hidup, untuk menghibur diri, atau sedikit lebih serius, untuk melihat kehidupan potensial. Tidak. Saya kira kita bercerita memang untuk bertahan hidup, seperti makan, tidur dan bercinta. Bahkan ketika tahu sebagian cerita hanya kibulan, sebagian cerita menyakitkan hati, dan sebagian cerita bisa membunuh orang, kita tetap bercerita dan mendengarkan cerita. Persis seperti cerpen “Curtain”, tentang suami-istri yang senang bercinta dengan jendela terbuka, hanya ditutup tirai tipis yang gampang tersibak angin, dan seorang boncel yang mengintip dari seberang. Kadang, untuk manjadikan hidup berjalan dengan baik, kita seperti pasangan yang membiarkan diri ditonton, atau menjadi si boncel yang menonton pergulatan orang lain. Sebab begitulah cerita, bukan?

Unbreakable, Split, Glass

Beragam pertanyaan muncul setelah menonton tiga film M. Night Shyamalan. Elijah Price di film Unbreakable yakin bahwa komik, terutama komik superhero, juga merupakan “catatan” penting mengenai sejarah manusia dan apa yang bisa mereka lakukan. Dengan kata lain, kisah tentang manusia bisa terbang, manusia yang bisa menghilang, dan dalam kasus film ini, manusia yang tak bisa dihancurkan, bukanlah dongeng omong-kosong. Jika cerita-cerita rakyat dipenuhi dengan manusia-manusia berkekuatan dewa, demikian pula karya-karya klasik penuh dengan pahlawan-pahlawan berkekuatan luar biasa, dan mereka memberi banyak pengaruh kepada peradaban manusia, kenapa buku komik tidak? Buku komik jelas merupakan lanjutan tak terputus dari “catatan” tersebut. Bahkan meskipun kita bisa yakin bahwa apa yang dikisahkan hanya fantasi, hanya dunia spekulasi manusia, setidaknya fantasi dan spekulasi ini berkesinambungan. Jika dari zaman lampau hingga industri komik ala Marvel dan DC mereka terus dilahirkan, tentu mestinya ia menjadi bagian dari kesadaran manusia, di luar konteks industrinya sekalipun. Film ini jelas bukan sekadar film tentang superhero, lebih penting dari itu, ini film tentang hubungan manusia dengan kisah superhero, dan juga tentang di mana letak buku komik dalam peradaban manusia. Di film berikutnya, yang dirilis tujuh belas tahun kemudian, Split (2017), mencoba membacanya seperti saya membaca film sebelumnya, saya membayangkan film ini sebagai penjelajahan manusia dengan fiksi sains. Memang film ini tidak bicara tentang fiksi sains (berbeda dengan film sebelumnya yang jelas memperkenalkan kita kepada pemujaan industri buku komik), tapi cerita dan pendekatan film ini mengingatkan saya kepada fiksi sains. Terutama tentang bagaimana kejahatan tercipta dan sains seringkali tak sanggup mengatasinya, setidaknya orang yang berada di belakang sains malah jadi korban. Salah satu yang sering menjadi kritik dan perbincangan mengenai fiksi sains, di luar keakuratan, adalah representasi, terutama jika yang dimunculkan adalah sosok jahat seperti berbagai kepribadian yang dimiliki Kevin Wendell Crumb. Banyak yang keberatan bahwa penganut DID akan cenderung melakukan kekerasan dan berubah menjadi monster, dan film macam begini hanya memperburuk stigma terhadap penderita mental disorder. Masalahnya, sains fiksi seringkali menjadi sains fiksi justru ketika ia melebih-lebihkan apa yang kita ketahui mengenai obyek sainsnya. Bahkan film tentang dinosaurus, tentang hiu pemangsa manusia, juga banyak dikritik para ilmuwan karena menciptakan imaji buruk tentang binatang-binatang tersebut. Pertanyaannya, mengapa kita selalu kembali ke sana? Selalu kembali kepada dunia spekulatif bahwa sesuatu (ia bisa manusia penderita DID, bisa ikan hiu ganas, bisa pula ular raksasa di hutan Amazon) bisa menjadi monster jahat? Apakah sosok jahat, sebagaimana manusia super, merupakan obsesi manusia yang terus dilahirkan sejak dari tradisi dongeng rakyat (atau bahkan lukisan gua) hingga industri film Hollywood? Di luar pertanyaan itu, film ini merupakan suguhan beragam ketegangan yang mencengkeram. Jika kamu terseret oleh pertanyaan-pertanyaan tersebut ketika menonton kedua film, mungkin kamu tak akan memperolehnya ketika melihat film ketiga, Glass (2019). Setidaknya tidak terjadi pada saya. Ia kehilangan misteri dan spekulasinya, dan meninggalkannya sebagai film superhero ditambah thriller psikologi yang sudah dijelajah sangat dalam di dua film sebelumnya. Kita hanya bertemu penjahat super, yang bukan hal baru dalam film-film sejenis, di mana sejenis pepatah seolah berkata, di atas langit kejahatan masih ada langit kejahatan lainnya.

Membaca Cerita-cerita Isaac Babel

Isaac Babel merupakan salah satu yang tersisa dari era Sovyet. “Ditemukan” oleh Maxim Gorky, dan konon terus dimentori olehnya sampai Gorky sendiri mati. Salah satu penulis cemerlang berbahasa Rusia (awalnya ia menulis dalam bahasa Prancis), seorang revolusioner, yang harus berkahir tragis ditembak mati polisi rahasia Stalin. Permohonan terakhirnya sebelum dieksekusi hanya, “Izinkan aku menyelesaikan tulisanku.” Meskipun banyak karyanya dihancurkan, dan namanya sempat dilupakan (sebelum direhabilisasi oleh rezim Sovyet kemudian), beruntunglah kita masih bisa bersua cerita-ceritanya. “Old Shloyme”. Cerpen pendek (konon karya pertamanya) tentang bangsatnya menjadi tua dan harus berubah. Ngilu. Bisa juga dibaca sebagai satir, tentang enaknya duduk di pojok hangat dan tak mau hengkang. “At Grandmother’s”. Kali ini seorang perempuan tua, dihajar rasa nyeri pada dunia yang tak adil. Di mana kebaikan dan rasa belas-kasih hanya menjadi santapan kerakusan. Ia marah dan berharap cucunya bisa berdiri merampas dunia. “Belajarlah, dan kau akan memperoleh segalanya. Kekayaan dan kejayaan!” Dan jangan percaya pada orang, pada teman. Jangan berikan uangmu, jangan berikan hatimu. Cerita yang penuh kemarahan. Tapi semarah apa pun, rumah seorang nenek tetaplah tempat tidur terbaik untuk seorang cucu. “Elya Isaakovic and Margarita Prokofievna”. Bisa jadi ini kisah seorang pelacur (dan pelanggannya) termanis yang pernah saya baca. Mereka dipertemukan oleh dua kebutuhan. Si pelacur tentu saja butuh uang untuk hidup dan sewa kamar. Si pelanggan butuh tempat berbaring, tubuh untuk dipeluk, teman untuk berbincang di kala sarapan. Mereka sadar hubungan itu hanya transaksional saja, tapi mereka tahu bagaimana mengakhiri dua malam itu dengan cara yang manis. “Mama, Rimma, and Alla”. Tentang seorang ibu dengan dua gadisnya, sementara di rumah juga ada para perjaka, mahasiswa yang menyewa kamar. Si gadis sulung ingin pergi dari rumah, bebas merdeka. Si gadis bungsu tak berkata apa-apa, sampai ketahuan bunting. Seperti mentornya, Gorky, cerita-cerita Babel penuh dengan problem-problem masyarakat jelata dengan keseharian mereka, dan selalu memiliki cara tersendiri bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. “The Public Library”. Sebuah sketsa tentang perpustakaan. Sedikit meromantisir kehidupan perpustakaan, meskipun kemudian disikat dengan pernyataan, di luar jendela … kehidupan tengah bermekaran. “Nine”. Ini semacam studi tentang karakter, tentang sembilan orang tamu yang berkunjung menemui seorang editor majalah. Entahlah, tiba-tiba saya membayangkan tujuh orang samurai dalam film Kurosawa. “Odessa”. Sebuah sketsa tentang kota dan para penghuninya, di satu sisi, dan studi tentang bagaimana para penulis lain (Turgenev, Dostoyevsky, Gogol, Gorky) menggambarkan kota mereka. Kenapa Gorky begitu mencintai matahari? “The Aroma of Odessa”. Masih sebuah sketsa tentang Odessa, kali ini dilihat melalui apa yang ditulis di halaman majalah, dan bagaimana ia dibentuk oleh kaum pendatangnya. Sangat jarang menemukan sketsa-sketsa semacam ini di tangan penulis-penulis kontemporer. Setidaknya mereka jarang menerbitkannya, barangkali kita terlalu terobsesi kepada sesuatu yang dramatik. “Inspiration”. Baiklah, ini lelucon kuno tentang inspirasi, tentang penulis pemula yang meledak-ledak dan merasa memiliki gagasan hebat, tapi kau tahu, yang bicara terlalu bawel dan keras biasanya tak ada isinya. Ada peribahasa soal itu, kita semua tahu. “Doudou”. Perasaan saya agak campur-aduk. Cerpen ini barangkali bisa diringkas dengan satu perkataan Doudou, si gadis yang dijadikan judul setelah ia memberikan tubuhnya kepada prajurit yang sekarat: “Ia kedinginan, ia sekarat, ia sendirian, ia memintaku, akankah kukatakan tidak?” Cerpen berikut, “Shabos-Nakhamu”, merupakan kisah komedi tentang Yahudi yang menipu sesamanya, menipu seolah ia merupakan utusan Tuhan dari dunia lain untuk memberi kabar kepada manusia. Seperti membaca sejenis kisah dari Seribu Satu Malam yang konyol. “On The Field of Honor”. Merupakan tiga kisah horor dari medan perang, tentang tiga kematian. Percayalah, tak ada yang lebih horor kecuali mati di medan perang bukan oleh musuh, tapi oleh tangan-tangan kawan sendiri, langsung tidak langsung. Terutama oleh kelemahan diri sendiri. “The Sin of Jesus”. Seorang perempuan berlumur dosa, menemui Jesus memecahkan masalah hidupnya. Jesus bertanya, bagaimana jika kau menempuh jalan yang suci saja? Jawab si perempuan: Kau pikir setiap orang harus berhenti hidup? Kau masih saja menyanyikan lagu usang! “An Evening with The Empress”. Bukan dengan ratu sebenarnya, tentu. Ini sketsa tentang sebuah perpustakaan, yang kebetulan memperoleh nama dari sang ratu. Dikisahkan oleh seorang gembel kelaparan yang mencari tempat bernaung dan tidur. “Chink”. Tentang seorang Cina, pelacur dan lelaki tua. Si Cina menawar si pelacur. Si pelacur mau, asal mereka boleh menampung lelaki tua gembel. Apa yang akan terjadi ketika ketiga orang itu ada di kamar? Saya rasa ini cerpen paling brutal dari Babel, sejauh ini. “A Tale About A Woman”. Seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya di medan perang, dan kemudian disia-siakan orang-orang di sekelilingnya. Dalam kisah-kisah Babel, kemudian saya sadar, saya sering menemukan nasib-nasib malang manusia, kontras dengan alam yang cemerlang dan indah. Terasa nyeri jadinya. “The Bathroom Window”. Seorang bocah yang membayar demi bisa menaiki tangga dan mengintip pelacur lewat jendela. Lucu, tentu saja. “Bagrat-Ogly and The Eyes of His Bull”. Tentang seorang anak yang kehilangan sapinya, dibunuh oleh tetangganya karena cemburu. Si narator mencoba melihat rasa marah ini, yang terpantul lewat mata si sapi, untuk melihat kemarahan sosial yang lebih luas. “Line and Color”. Dalam sebuah tradisi parabel, tentang kisah kebijaksanaan. Mana yang lebih berharga, dunia imajinasi yang lebih kaya atau kenyataan yang mungkin menyakitkan? “You Missed The Boat, Captain!” Dalam cerpen-cerpen Babel yang sebagian besar sangat ringkas, saya sering membayangkan bahwa kisah-kisah ini adalah penggalan dari sebuah epik yang jauh lebih luas. Katakanlah cerpen ini, kita bisa memulai sebuah novel tentang para pelaut. Babel menulis dengan begitu detail, telaten, seolah ia hendak menulis ratusan halaman, meskipun apa yang tertulis hanya dua atau tiga halaman. “The End of St. Hypatius”. Sebuah biara yang berakhir menjadi apartemen kaum buruh, tentu selepas revolusi yang berhasil. “A Story”. Ini merupakan versi yang lebih awal dari cerpen “The Bathroom Window”. Mungkin menarik untuk membandingkannya, sekaligus menelaah semua cerpen-cerpen ini sebagai titik berangkat Babel, sebab cerpen-cerpen di atas merupakan karya-karya awal dari sang penulis.

The Collected Stories of Isaac Babel terbitan W.W. Norton disebut-sebut yang paling komplet menghimpun cerita-cerita Babel dalam bahasa Inggris. Sejauh ini, saya melihat kisah-kisah ini dipenuhi gembel dan bajingan, diselingi sketsa-sketsa kasar tentang beberapa hal. Ia memiliki empati pada tokoh-tokohnya, juga lanskapnya, meskipun kadang dengan kejam juga menertawakan nasib mereka. Cerpen-cerpen berikutnya, diambil dari masa-masa Odessa. Cerpen-cerpen tentang kehidupan di kota tersebut, terutama para bajingannya. Saya merasa cerpen-cerpen ini mulai memperlihatkan darah dan daging yang lebih nyata dibandingkan kisah-kisah di awal karirnya. “The King”. Bayangkan sebuah fragmen dari sebuah film mafia. Dibuka dengan lanskap pesta pernikahan. Yang menjadi pengantin adalah adik perempuan si mafia, yang dipanggil Raja, dan sang Raja sendiri ada di sana. Pada saat yang sama, polisi distrik baru saja memperoleh kepala polisi yang baru dengan program kerja hari pertama: memberangus gerombolan bajingan pimpinan Raja di hari pernikahan adiknya. Apa yang terjadi? Sang Raja tentu saja mendahului apa yang ada dipikiran polisi. Ini merupakan perkenalan pertama dengan Benya Krik, sang raja gangster dari Odessa. “Justice In Parentheses”. Kali ini kita berhadapan dengan sesorang (yang kebetulan narator kisah ini, “si aku”), dan bagaimana akibatnya bermain-main, lebih tepatnya mempermainkan Benya Krik. Sebenarnya bukan bermaksud mempermainkannya, tapi tak lebih dari sekadar mengambil risiko, demi memberi makan keluarga. Katakanlah si aku ini mendengar seseorang bicara tentang “celah keamanan” sebuah toko koperasi yang uniknya bernama “Keadilan”. Masalahnya, celah keamanan itu bocor tentu saja memang untuk mengundang perampok masuk. Diam-diam si aku mengirimkan informasi celah keamanan ini kepada Benya. Sial. Pada hari yang sama, Benya dan gerombolannya menggeruduk toko koperasi itu, di tempat yang sama ada gerombolan perampok lain juga tengah bekerja. Benya merasa dipermalukan, harga dirinya terluka. “Keadilan” akan datang untuk si aku, meskipun pada akhirnya toh ia masih juga bertahan hidup. “How Things Were Done In Odessa”. Di cerpen inilah, kemudian kita tahu kenapa Benya Krik dipanggil “Raja”. Bukan semata karena teror yang diciptakannya, tapi bagaimana ia menegakkan hukum jalanan dengan caranya sendiri, tanpa kompromi. Ada banyak bajingan di Odessa, tapi kemudian Benya yang memperoleh sebab itu, bahkan meskipun asal-usulnya menjadi bajingan karena ia memperoleh restu dari para bajingan lain: untuk merampok seorang saudagar paling kaya di Odessa. Saudagar yang pernah coba dirampok sembilan kali oleh kelompok bajingan itu dan semuanya gagal. Benya melakukan yang kesepuluh dan berhasil. Tapi bukan itu yang membuatnya jadi raja. Bukan. Di saat melakukan perampokan, satu anak buahnya mabok dan tanpa sengaja menembak mati si penjaga toko, anak satu-satunya seorang perempuan setengah baya. Di situlah ia memunculkan dirinya menjadi raja. Tentang bagaimana ia bersikap atas kematian si penjaga toko, dan hukuman apa yang harus diterapkannya kepada si anak buah mabuk. Satu hal yang paling menarik dari kisah ini adalah bagaimana Benya bisa menjadikan kematian si penjaga toko sebagai sebuah tragedi kelas, ketika ia berpidato di pemakamannya: “Apa yang telah dilihat Josif kita tersayang dalam kehidupan? Satu omong kosong besar. Apa yang dilakukannya untuk hidup? Ia menghitung uang orang lain. Untuk apa ia mati? Ia mati untuk seluruh kelas pekerja.”

Tentu ini perjalanan yang baru beberapa langkah dalam menjelajahi cerita-cerita Babel, tapi saya putuskan berhenti dulu di sini, meninggalkan rasa penasaran yang semestinya kepada khalayak ramai.

Under the Jaguar Sun, Italo Calvino

Bagaimana jika kau memiliki penciuman yang tajam, yang bisa membedakan satu aroma dari berbagai keriuhan aroma lainnya? Itulah yang terjadi pada si narator dalam cerita “The Name, The Nose”. Ia bertemu seorang perempuan dengan aroma parfum yang sangat khas, dan sebagian besar waktunya merupakan usaha mencari perempuan itu, dengan bantuan indera penciumannya, tentu. Ia keluar-masuk toko parfum, untuk mencari tahu aroma apa sebenarnya yang datang dari perempuan tersebut, demi melacaknya. Tapi berbagai parfum pernah dicobanya, tak ada yang mendekati aroma parfum si perempuan (yang barangkali sudah bercampur pula dengan aroma alami tubuhnya, pakaiannya). Kisah ini merupakan salah satu dari tiga cerita dalam buku Under the Jaguar Sun. Sebetulnya Italo Calvino merencanakan proyek yang lebih panjang untuk buku ini, yakni cerita-cerita yang berhubungan dengan panca indera. Jika kita percaya manusia memiliki lima indera, seharusnya ia menulis lima cerita. Bisa pula lebih jika Calvino berpikir tentang indera-indera lain yang (mungkin) ada. Yang jelas, hingga kematiannya, ia baru menyelesaikan tiga cerita yang kemudian menjadi buku ini. Cerita pertama, “Under the Jaguar Sun”, berhubungan dengan indera pengecap (lidah). Bisa terbayang, ini semacam cerpen kuliner. Tapi jangan bayangkan sebuah kisah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain kemudian dipenuhi komentar tentang “wah, enak sekali”, atau “tahu tidak, di balik masakan ini terdapat sejarah panjang blah blah blah”. Tidak seperti itu. Memang narator dan istrinya dalam sebuah perjalanan ke Meksiko, dan tentu saja mereka menikmati makanan lokal (sebab menikmati makanan lokal merupakan salah satu esensi dari perjalanan, yang tak tergantikan oleh gambar atau video, tidak pula oleh restoran mewah, begitu kata naratornya). Buat saya, ada dua hal yang menarik dari cerita ini. Pertama, bagaimana reaksi suami-istri atas makanan, juga cara mereka menghadapi makanan, memperlihatkan perbedaan karakter keduanya, yang jika saya tak salah tebak: seorang intropert dan seorang ekstropert. Sebuah eksperimen strategi literer yang menarik, sih. Kedua, bicara tentang ritual kuno tentang pengorbanan manusia untuk dewa. Setelah korban dibunuh, bangkainya dimakan. Pertanyaannya, dengan bumbu apa daging manusia itu dimasak, agar bisa “tertanggungkan”? Jujur, bagian itu membuat saya merasa dalam situasi horor, padahal hanya mempertanyakan bumbu, mempertanyakan kesanggupan lidah manusia. Cerpen kedua berjudul “A King Listens”, yang tentu saja mengenai pendengaran. Kisah seorang pembisik, yang membisikkan banyak hal kepada seorang raja. Saya merasa cerpen ini terutama jangan dibaca melulu isinya, tapi “bunyinya”. Sayang saya membaca dalam terjemahan Inggris. Mungkin akan terasa lebih merdu jika bisa membacanya langsung dalam bahasa Italia. Siapa tahu? Tapi setidaknya, terjemahannya pun memberi kesan bahwa cerita ini ada lebih untuk didengar, seolah-olah kita sang raja dan sang narator adalah si pembisik. Cerpen ketiga, tentang penciuman, sudah saya sebut di pembukaan. Entah apa yang akan ditulis lagi oleh Calvino seandainya ia berumur panjang. Setidaknya ia mesti menulis tentang indera peraba dan penglihatan. Mungkin juga ia menulis “panca budi indera”: tangan, kaki, mulut, anus, dan kelamin. Juga indera utama: pikiran. Yang jelas, Calvino memang penulis yang senang dengan eksperimen semacam ini, salah seorang penulis meta-fiksi yang paling berhasil. Atau seperti buku lainnya yang tak juga selesai, Six Memos for the Next Millenium (dia cuma menulis lima), ia meminta pembaca menyelesaikan yang tersisa?

Story of the Eye, Georges Bataille

Menghadapi novel ini, batas antara pornografi dan erotika bisa sekabur batas malam dan siang di waktu senja. Jika pornografi disederhanakan sebagai karya yang ditulis dengan tujuan untuk memberi rangsangan seksual, novel ini memenuhinya, tapi menyederhanakannya di titik itu saja tentu mengabaikan hal-hal lain yang terkandung di dalamnya. Seperti kisah-kisah fantasi, novel pornografi pada sudut tertentu bisa dilihat juga sebagai perayaan atas fantasi seksualitas, tentang dunia serba kemungkinan. Georges Bataille merupakan salah satu penyokong Surealisme Prancis (meski sempat berseteru dengan André Breton), dan novel Story of the Eye (terbit pertama kali 1928), saya rasa membiaskan juga hal itu. Dalam pornografi yang umum, akar realisme biasanya sangatlah kuat karena niatnya untuk mendekatkan diri kepada kenyataan, kepada fantasi yang mungkin dilakukan. Di novel ini kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan masih ada di sana, tapi sekaligus ia memberi ruang kepada wilayah-wilayah gelap ketidaksadaran. Sebelum ngalor-ngidul, saya ingin gambarkan dulu ini kisah tentang apa. Seperti umumnya novel pornografi, alur ceritanya ringkas saja. Seorang anak muda, sang narator, bertemu sepupu jauhnya, Simone. Mereka berdua di sebuah vila, si narator mulai tertarik kepadanya dan, “Aku mulai menyadari ia juga berbagi rasa gelisah yang sama denganku melihatnya, dan aku semakin merasa gelisah hari itu sebab aku berharap ia tak mengenakan apa-apa di balik pakaian luarnya.” Selanjutnya, dengan berlumuran susu di tubuh Simone, mereka larut dalam fantasi seksual masing-masing, berkahir dengan, “Kami mencapai orgasme hampir di waktu bersamaan tanpa menyentuh satu sama lain.” Petualangan masturbasi pertama itu terus terjadi hingga muncul tokoh lain, Marcelle. Mereka bercinta, kadang masturbasi, bertiga. Marcelle menjadi fantasi mereka yang lain, yang tanpa kehadirannya, fantasi seksual itu terasa basi. Terbayang? Itu baru separoh jalan. Akan muncul dua tokoh lain yang penting: orang Inggris yang (saya rasa) hasrat seksualnya terdapat pada hasrat melihat aktivitas seks orang lain, dan satu sosok tragik-komik, seorang pendeta. Di antara mereka, obsesi seksual Simone merupakan hal paling menarik. Ia menyiratkan sejenis simbolisme, yang pastinya perlu ditelaah lebih jauh. Pertama, ia tergila-gila kepada telur. Ia bisa sangat terangsang dengan meletakkan telur-telur rebus (dengan atau tanpa cangkang) di antara kedua pahanya, digelindingkan, mendekati kemaluannya. Apakah ini sejenis simbol feminitas? Perempuan dan telur? Mungkin. Ketika mereka menonton pertunjukan adu banteng, Simone juga terobsesi untuk memperoleh biji kemaluan banteng yang kalah. Biasanya itu diperebutkan untuk dijadikan menu makan malam, lambang persitisius sebagai penghormatan penonton kaya untuk petarung. Tapi di tangan Simone, sepasang biji kemaluan banteng itu merupakan alat rangsangan sesksual yang lain. Seperti telur-telurnya, ia meletakkan kedua biji kemaluan banteng itu di nampan dan mendudukinya, tentu tanpa celana dalam. Obsesi terhadap sperma jantan? Atau karena bentuknya, ia juga menyimbolkan telur? Puncaknya adalah hubungan ganjil dan mengerikan antara seks dan kematian. “Kau tahu bahwa lelaki yang digantung atau dicekik-jerat akan memiliki burung yang mengacung keras sesaat setelah pernapasannya terputus, hingga mereka ejakulasi …” kata Sir Edmund, si orang Inggris kepada si pendeta. Anda bisa bayangkan apa yang mereka lakukan kepada si pendeta di hadapan Simone? Ya, membunuhnya, agar … (bayangkan saja sendiri, meskipun di novel digambarkan sangat jelas). Apakah ini pornografi atau erotika?Membaca novel ini, saya semakin yakin kedua istilah itu hanya ada untuk menegaskan sejenis hirarki. Bahwa pornografi adalah sampah, bahwa erotika itu memiliki mutu. Novel ini saya rasa memorakporandakan hirarki seperti itu.

Barthes Mengajari Saya Memahami Bahasa Kucing

Image Music Text, Roland Barthes

Saya memelihara seekor kucing persia pemberian seorang teman. Konon, kucing akan mengeong dengan bunyi serta ekspresi yang berbeda kepada orang yang berbeda, seperti kita punya panggilan yang berbeda kepada orang yang berbeda. Mungkin benar. Setidaknya saya sering merasa tahu jika ia mengeong untuk saya (Anda bisa juga menganggap saya sok merasa tahu saja). Tapi lama-kelamaan, saya toh terpaksa belajar “bahasa” kucing, setidaknya bahasa Si Puspita (nama kucing saya, jika bahasa yang dipergunakannya ternyata berbeda dengan bahasa kucing lain). Saya bisa tahu persis jika ia mengeong dengan suara tertentu, ditambah gerakan-gerakan tertentu di dekat pintu kamar mandi, artinya “Aku ingin minum, ambilin air, dong!” Nah, ketika saya membaca buku Roland Barthes berjudul Image Music Text, terpikir juga oleh saya, barangkali buku ini bisa membantu saya memahami bahasa kucing, atau membuat saya mengerti kenapa saya paham bahasa kucing (dalam hal ini, Si Puspita). Kenapa tidak? Membaca buku ini saya merasa diajak untuk kembali belajar membaca. Ya: belajar membaca. Belajar memahami bahasa, tak melulu sebagai ekspresi linguistik, tapi juga sebagai ekspresi narasi. Bahwa “Bond saw a man about fifty” (dari Goldfinger, Ian Fleming) tak semata-mata informasi yang tersurat, tapi juga memiliki fungsi tentang deskripsi seseorang yang ditandai dengan perkiraan umur, dan informasi bahwa Bond tak begitu kenal orang tersebut, sesuatu yang akan bermakna dalam novel itu. Bahwa “meong” bukan sekadar suara seekor kucing, sebab bisa juga berarti “Aku boleh lompat ke pangkuanmu, enggak?” Buku ini merupakan kumpulan esai terpilih Barthes. Bagi banyak orang mungkin yang paling populer adalah esai berjudul “The Death of the Author” yang begitu sering dikutip (dan sering pula disalah-pahami), jadi terasa basi dan saya tak akan menyinggung-nyinggungnya lagi. Esai paling menarik menurut saya adalah “Introduction to the Structural Analysis of Naratives”. Esai itu seperti merangkum seluruh esai di buku ini, dan secara ringkas bisa dikatakan sebagai esai tentang “belajar membaca”. Begini lho cara membaca kalimat. Begini lho cara membaca wacana. Begini lho cara membaca cerita. Dan kalau ilmu dari esai itu bisa saya pakai untuk belajar membaca novel-novel James Bond, kenapa saya tak mencoba pakai untuk membaca meong-meong kucing saya? Jadi meskipun Barthes mengaku bahwa bentuk-bentuk narasi di dunia ini tak terhitung, dan mustahil meneliti semuanya untuk menemukan sejenis “kesimpulan”, ia toh mencoba mengorek-ngorek strukturnya, memotong-motongnya. Dan menurut saya, ini sungguh mengasyikkan. Saya sudah sebutkan bahwa “meong” bukan semata-mata “meong”. Ada berlapis-lapis tingkatan makna di baliknya. Setidaknya ada berlapis-lapis tingkatan deskripsi dalam setiap narasi. Yang tadi saya sebut baru tingkat fungsi. “Fifty” dalam “Bond saw a man about fifty” memiliki fungsi untuk menciptakan karakter juga. Luntang-lantung Si Puspita di depan pintu kamar mandi memiliki fungsi untuk menjelaskan bahwa ia ingin minum. Dan fungsi ini, tanpa harus diterang-jelaskan, juga merujuk ke suatu makna lain yang lebih kompleks: saya harus membuka pintu kamar mandi, ambil air dengan gayung, meletakkan gayung berisi air di lantai agar kucing saya bisa minum. Anda mungkin berpikir apakah kucing saya secerdas itu sampai bisa menyampaikan pesan sekompleks demikian kepada saya? Tidak. Kucing saya tidak secerdas itu. Dalam beberapa hal dia tolol. Dia sering tak bisa mengukur jarak, melompat tak tepat sasaran hingga jatuh atau terbentur. Pokok soalnya bukan itu. Pokok soalnya adalah bagaimana kita (saya) membaca pesan si kucing. Membaca tak hanya di tingkat harafiah, apalagi sekadar bunyi dan aksi (kucing luntang-lantung di depan pintu kamar mandi), tapi membaca tingkat-tingkat makna narasi lainnya. Baiklah, Barthes mungkin tak pernah memaksudkan esainya ini untuk dipergunakan balajar membaca atau memahami meong si kucing. Tapi apa pedulinya? Saya membaca bukunya, dan terserah saya lah menarik makna dan mempergunakan pengertian saya untuk apa. Ya, kan? (Iya, pernyataan terakhir itu terpaksa merujuk ke esainya yang lain, apa boleh buat).