Journal

Under the Jaguar Sun, Italo Calvino

Bagaimana jika kau memiliki penciuman yang tajam, yang bisa membedakan satu aroma dari berbagai keriuhan aroma lainnya? Itulah yang terjadi pada si narator dalam cerita “The Name, The Nose”. Ia bertemu seorang perempuan dengan aroma parfum yang sangat khas, dan sebagian besar waktunya merupakan usaha mencari perempuan itu, dengan bantuan indera penciumannya, tentu. Ia keluar-masuk toko parfum, untuk mencari tahu aroma apa sebenarnya yang datang dari perempuan tersebut, demi melacaknya. Tapi berbagai parfum pernah dicobanya, tak ada yang mendekati aroma parfum si perempuan (yang barangkali sudah bercampur pula dengan aroma alami tubuhnya, pakaiannya). Kisah ini merupakan salah satu dari tiga cerita dalam buku Under the Jaguar Sun. Sebetulnya Italo Calvino merencanakan proyek yang lebih panjang untuk buku ini, yakni cerita-cerita yang berhubungan dengan panca indera. Jika kita percaya manusia memiliki lima indera, seharusnya ia menulis lima cerita. Bisa pula lebih jika Calvino berpikir tentang indera-indera lain yang (mungkin) ada. Yang jelas, hingga kematiannya, ia baru menyelesaikan tiga cerita yang kemudian menjadi buku ini. Cerita pertama, “Under the Jaguar Sun”, berhubungan dengan indera pengecap (lidah). Bisa terbayang, ini semacam cerpen kuliner. Tapi jangan bayangkan sebuah kisah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain kemudian dipenuhi komentar tentang “wah, enak sekali”, atau “tahu tidak, di balik masakan ini terdapat sejarah panjang blah blah blah”. Tidak seperti itu. Memang narator dan istrinya dalam sebuah perjalanan ke Meksiko, dan tentu saja mereka menikmati makanan lokal (sebab menikmati makanan lokal merupakan salah satu esensi dari perjalanan, yang tak tergantikan oleh gambar atau video, tidak pula oleh restoran mewah, begitu kata naratornya). Buat saya, ada dua hal yang menarik dari cerita ini. Pertama, bagaimana reaksi suami-istri atas makanan, juga cara mereka menghadapi makanan, memperlihatkan perbedaan karakter keduanya, yang jika saya tak salah tebak: seorang intropert dan seorang ekstropert. Sebuah eksperimen strategi literer yang menarik, sih. Kedua, bicara tentang ritual kuno tentang pengorbanan manusia untuk dewa. Setelah korban dibunuh, bangkainya dimakan. Pertanyaannya, dengan bumbu apa daging manusia itu dimasak, agar bisa “tertanggungkan”? Jujur, bagian itu membuat saya merasa dalam situasi horor, padahal hanya mempertanyakan bumbu, mempertanyakan kesanggupan lidah manusia. Cerpen kedua berjudul “A King Listens”, yang tentu saja mengenai pendengaran. Kisah seorang pembisik, yang membisikkan banyak hal kepada seorang raja. Saya merasa cerpen ini terutama jangan dibaca melulu isinya, tapi “bunyinya”. Sayang saya membaca dalam terjemahan Inggris. Mungkin akan terasa lebih merdu jika bisa membacanya langsung dalam bahasa Italia. Siapa tahu? Tapi setidaknya, terjemahannya pun memberi kesan bahwa cerita ini ada lebih untuk didengar, seolah-olah kita sang raja dan sang narator adalah si pembisik. Cerpen ketiga, tentang penciuman, sudah saya sebut di pembukaan. Entah apa yang akan ditulis lagi oleh Calvino seandainya ia berumur panjang. Setidaknya ia mesti menulis tentang indera peraba dan penglihatan. Mungkin juga ia menulis “panca budi indera”: tangan, kaki, mulut, anus, dan kelamin. Juga indera utama: pikiran. Yang jelas, Calvino memang penulis yang senang dengan eksperimen semacam ini, salah seorang penulis meta-fiksi yang paling berhasil. Atau seperti buku lainnya yang tak juga selesai, Six Memos for the Next Millenium (dia cuma menulis lima), ia meminta pembaca menyelesaikan yang tersisa?

Standard
Journal

Story of the Eye, Georges Bataille

Menghadapi novel ini, batas antara pornografi dan erotika bisa sekabur batas malam dan siang di waktu senja. Jika pornografi disederhanakan sebagai karya yang ditulis dengan tujuan untuk memberi rangsangan seksual, novel ini memenuhinya, tapi menyederhanakannya di titik itu saja tentu mengabaikan hal-hal lain yang terkandung di dalamnya. Seperti kisah-kisah fantasi, novel pornografi pada sudut tertentu bisa dilihat juga sebagai perayaan atas fantasi seksualitas, tentang dunia serba kemungkinan. Georges Bataille merupakan salah satu penyokong Surealisme Prancis (meski sempat berseteru dengan André Breton), dan novel Story of the Eye (terbit pertama kali 1928), saya rasa membiaskan juga hal itu. Dalam pornografi yang umum, akar realisme biasanya sangatlah kuat karena niatnya untuk mendekatkan diri kepada kenyataan, kepada fantasi yang mungkin dilakukan. Di novel ini kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan masih ada di sana, tapi sekaligus ia memberi ruang kepada wilayah-wilayah gelap ketidaksadaran. Sebelum ngalor-ngidul, saya ingin gambarkan dulu ini kisah tentang apa. Seperti umumnya novel pornografi, alur ceritanya ringkas saja. Seorang anak muda, sang narator, bertemu sepupu jauhnya, Simone. Mereka berdua di sebuah vila, si narator mulai tertarik kepadanya dan, “Aku mulai menyadari ia juga berbagi rasa gelisah yang sama denganku melihatnya, dan aku semakin merasa gelisah hari itu sebab aku berharap ia tak mengenakan apa-apa di balik pakaian luarnya.” Selanjutnya, dengan berlumuran susu di tubuh Simone, mereka larut dalam fantasi seksual masing-masing, berkahir dengan, “Kami mencapai orgasme hampir di waktu bersamaan tanpa menyentuh satu sama lain.” Petualangan masturbasi pertama itu terus terjadi hingga muncul tokoh lain, Marcelle. Mereka bercinta, kadang masturbasi, bertiga. Marcelle menjadi fantasi mereka yang lain, yang tanpa kehadirannya, fantasi seksual itu terasa basi. Terbayang? Itu baru separoh jalan. Akan muncul dua tokoh lain yang penting: orang Inggris yang (saya rasa) hasrat seksualnya terdapat pada hasrat melihat aktivitas seks orang lain, dan satu sosok tragik-komik, seorang pendeta. Di antara mereka, obsesi seksual Simone merupakan hal paling menarik. Ia menyiratkan sejenis simbolisme, yang pastinya perlu ditelaah lebih jauh. Pertama, ia tergila-gila kepada telur. Ia bisa sangat terangsang dengan meletakkan telur-telur rebus (dengan atau tanpa cangkang) di antara kedua pahanya, digelindingkan, mendekati kemaluannya. Apakah ini sejenis simbol feminitas? Perempuan dan telur? Mungkin. Ketika mereka menonton pertunjukan adu banteng, Simone juga terobsesi untuk memperoleh biji kemaluan banteng yang kalah. Biasanya itu diperebutkan untuk dijadikan menu makan malam, lambang persitisius sebagai penghormatan penonton kaya untuk petarung. Tapi di tangan Simone, sepasang biji kemaluan banteng itu merupakan alat rangsangan sesksual yang lain. Seperti telur-telurnya, ia meletakkan kedua biji kemaluan banteng itu di nampan dan mendudukinya, tentu tanpa celana dalam. Obsesi terhadap sperma jantan? Atau karena bentuknya, ia juga menyimbolkan telur? Puncaknya adalah hubungan ganjil dan mengerikan antara seks dan kematian. “Kau tahu bahwa lelaki yang digantung atau dicekik-jerat akan memiliki burung yang mengacung keras sesaat setelah pernapasannya terputus, hingga mereka ejakulasi …” kata Sir Edmund, si orang Inggris kepada si pendeta. Anda bisa bayangkan apa yang mereka lakukan kepada si pendeta di hadapan Simone? Ya, membunuhnya, agar … (bayangkan saja sendiri, meskipun di novel digambarkan sangat jelas). Apakah ini pornografi atau erotika?Membaca novel ini, saya semakin yakin kedua istilah itu hanya ada untuk menegaskan sejenis hirarki. Bahwa pornografi adalah sampah, bahwa erotika itu memiliki mutu. Novel ini saya rasa memorakporandakan hirarki seperti itu.

Standard
Journal

Barthes Mengajari Saya Memahami Bahasa Kucing

Image Music Text, Roland Barthes

Saya memelihara seekor kucing persia pemberian seorang teman. Konon, kucing akan mengeong dengan bunyi serta ekspresi yang berbeda kepada orang yang berbeda, seperti kita punya panggilan yang berbeda kepada orang yang berbeda. Mungkin benar. Setidaknya saya sering merasa tahu jika ia mengeong untuk saya (Anda bisa juga menganggap saya sok merasa tahu saja). Tapi lama-kelamaan, saya toh terpaksa belajar “bahasa” kucing, setidaknya bahasa Si Puspita (nama kucing saya, jika bahasa yang dipergunakannya ternyata berbeda dengan bahasa kucing lain). Saya bisa tahu persis jika ia mengeong dengan suara tertentu, ditambah gerakan-gerakan tertentu di dekat pintu kamar mandi, artinya “Aku ingin minum, ambilin air, dong!” Nah, ketika saya membaca buku Roland Barthes berjudul Image Music Text, terpikir juga oleh saya, barangkali buku ini bisa membantu saya memahami bahasa kucing, atau membuat saya mengerti kenapa saya paham bahasa kucing (dalam hal ini, Si Puspita). Kenapa tidak? Membaca buku ini saya merasa diajak untuk kembali belajar membaca. Ya: belajar membaca. Belajar memahami bahasa, tak melulu sebagai ekspresi linguistik, tapi juga sebagai ekspresi narasi. Bahwa “Bond saw a man about fifty” (dari Goldfinger, Ian Fleming) tak semata-mata informasi yang tersurat, tapi juga memiliki fungsi tentang deskripsi seseorang yang ditandai dengan perkiraan umur, dan informasi bahwa Bond tak begitu kenal orang tersebut, sesuatu yang akan bermakna dalam novel itu. Bahwa “meong” bukan sekadar suara seekor kucing, sebab bisa juga berarti “Aku boleh lompat ke pangkuanmu, enggak?” Buku ini merupakan kumpulan esai terpilih Barthes. Bagi banyak orang mungkin yang paling populer adalah esai berjudul “The Death of the Author” yang begitu sering dikutip (dan sering pula disalah-pahami), jadi terasa basi dan saya tak akan menyinggung-nyinggungnya lagi. Esai paling menarik menurut saya adalah “Introduction to the Structural Analysis of Naratives”. Esai itu seperti merangkum seluruh esai di buku ini, dan secara ringkas bisa dikatakan sebagai esai tentang “belajar membaca”. Begini lho cara membaca kalimat. Begini lho cara membaca wacana. Begini lho cara membaca cerita. Dan kalau ilmu dari esai itu bisa saya pakai untuk belajar membaca novel-novel James Bond, kenapa saya tak mencoba pakai untuk membaca meong-meong kucing saya? Jadi meskipun Barthes mengaku bahwa bentuk-bentuk narasi di dunia ini tak terhitung, dan mustahil meneliti semuanya untuk menemukan sejenis “kesimpulan”, ia toh mencoba mengorek-ngorek strukturnya, memotong-motongnya. Dan menurut saya, ini sungguh mengasyikkan. Saya sudah sebutkan bahwa “meong” bukan semata-mata “meong”. Ada berlapis-lapis tingkatan makna di baliknya. Setidaknya ada berlapis-lapis tingkatan deskripsi dalam setiap narasi. Yang tadi saya sebut baru tingkat fungsi. “Fifty” dalam “Bond saw a man about fifty” memiliki fungsi untuk menciptakan karakter juga. Luntang-lantung Si Puspita di depan pintu kamar mandi memiliki fungsi untuk menjelaskan bahwa ia ingin minum. Dan fungsi ini, tanpa harus diterang-jelaskan, juga merujuk ke suatu makna lain yang lebih kompleks: saya harus membuka pintu kamar mandi, ambil air dengan gayung, meletakkan gayung berisi air di lantai agar kucing saya bisa minum. Anda mungkin berpikir apakah kucing saya secerdas itu sampai bisa menyampaikan pesan sekompleks demikian kepada saya? Tidak. Kucing saya tidak secerdas itu. Dalam beberapa hal dia tolol. Dia sering tak bisa mengukur jarak, melompat tak tepat sasaran hingga jatuh atau terbentur. Pokok soalnya bukan itu. Pokok soalnya adalah bagaimana kita (saya) membaca pesan si kucing. Membaca tak hanya di tingkat harafiah, apalagi sekadar bunyi dan aksi (kucing luntang-lantung di depan pintu kamar mandi), tapi membaca tingkat-tingkat makna narasi lainnya. Baiklah, Barthes mungkin tak pernah memaksudkan esainya ini untuk dipergunakan balajar membaca atau memahami meong si kucing. Tapi apa pedulinya? Saya membaca bukunya, dan terserah saya lah menarik makna dan mempergunakan pengertian saya untuk apa. Ya, kan? (Iya, pernyataan terakhir itu terpaksa merujuk ke esainya yang lain, apa boleh buat).

Standard
Journal

Misreadings, Umberto Eco

Di satu malam di satu lorong kota Bologna, seorang profesor dihadang seseorang yang tanpa basa-basi langsung memukulnya jatuh, menendangnya, dan ketika mencoba bangkit, dipukul lagi. Setelah dibawa ke rumah sakit oleh dua biarawati yang kebetulan lewat dan melihatnya tergeletak, diketahui profesor tersebut adalah Umberto Eco. Si penyerang baru diketahui beberapa hari kemudian setelah berhasil ditangkap oleh polisi. Ia seorang penulis muda bernama Dante Alighieri. Rupanya Dante kesal atas komentar sang profesor, yang diperkerjakan oleh penerbit untuk menyaring naskah dan membuat ulasan ringkas, atas karyanya yang berjudul The Divine Comedy. Sang profesor antara lain bilang, “Alighieri merupakan tipikal penulis sambilan.” Kemudian, meskipun mengakui kualitas teknisnya, ia menyarankan penerbit untuk menolak buku tersebut, sebab menurutnya buku ini terlalu posmo, ditulis dengan dialek Florence yang berat. Kalau mau menerbitkannya secara luas, harus menerbitkan versi dialek Milan dan lainnya. “Itu pekerjaan penerbit kecil.” Profesor Eco memang sering menulis di Il Verri, kadang ulasan ringkas atas karya yang akan atau telah terbit, kadang esai tentang beberapa isu, tapi gayanya yang nyeleneh dan seringkali kasar, tak urung memancing emosi banyak orang. Masih untung jika hanya mendapat sanggahan yang sama kerasnya di majalah sastra, seperti sudah ditulis di muka, kadang ia memperoleh serangan fisik. Kasus pemukulan oleh Dante jelas bukan yang pertama. Sebelumnya, sekelompok (atau seseorang?) yang menamakan dirinya sebagai Anonymous juga menghadangnya, tepat di depan apartemennya ketika ia baru pulang dari kampus agak larut malam. Polisi tak pernah berhasil mengusut siapa Anonymous ini, mereka hanya curiga, “Mungkin sekelompok hacker internet yang berusaha cari perhatian dengan cita-cita meruntuhkan tatanan lama yang telah bobrok”. Tapi tak ada klaim apa pun di internet oleh Anonymous ini mengenai penyerangan atas Profesor Eco. Apa yang terjadi, sepenuhnya bersumber dari satu sisi, sang profesor sendiri. Semuanya bermula dari ulasannya mengenai buku The Bible, yang menurut profesor ditulis oleh Anonymous. Sebenarnya profesor memuji naskah tersebut dengan bilang, “Beberapa ratus halaman pertama benar-benar mencengkeramku. Penuh aksi, memiliki segala yang diinginkan pembaca kiwari dalam sebuah cerita yang baik. Ada seks (banyak, termasuk perzinahan, sodomi, inses), juga pembunuhan, perang, pembantaian, dan lain sebagainya.” Tapi kemudian ia curiga buku tersebut sebenarnya antologi banyak penulis, terlalu banyak puisi, dan ungkapan-ungkapan yang membosankan. Segalanya ada. “Buku ini seperti hendak menyenangkan semua orang, tapi akhirnya tak membuat senang siapa pun.” Bahkan sang profesor menyarankan, buku itu harus dipenggal, terbit bagian depannya saja. Cukup lima bab. Selain itu harus ganti judul. Anonymous menyerangnya dengan kesal, mengata-ngatainya tak tahu apa-apa soal sastra dan, bahwa buku tersebut memiliki nilai jauh melebihi sekadar cerita. “Kamu salah baca,” kata Anonymous. Profesor Eco, kemudian tak yakin apakah yang menyerangnya satu orang atau beberapa orang. Ia ditemukan pagi hari dalam keadaan babak belur dan tak sadarkan diri. Di luar itu, ia juga pernah membuat kesal sekelompok sutradara film, karena membocorkan resep mereka dalam membuat cerita. Resep yang disimpan dalam lemari terkunci di studio, tapi entah bagaimana Profesor Eco berhasil mendapatkannya. Ia diadukan ke pengadilan oleh Antonioni, Jean-Luc Godard, Luchino Visconti dan beberapa yang lain dengan tuduhan, “Membocorkan rahasia hak cipta pola menulis cerita film”. Ia kalah di pengadilan dan harus membayar denda yang membuatnya nyaris bangkrut. Untunglah tak lama selepas itu, novel sang profesor, The Name of the Rose, meledak tak hanya di Italia tapi di seluruh dunia, membuat kondisi finansialnya membaik, bahkan melebihi sebelumnya. Rupanya kasus pengadilan itu tak membuatnya kapok, ia terus menulis ulasan dan esai di majalah sastra Il Verri, dan terus membuat masalah dengan banyak orang. Ia mengomentari Justine karya Sade sebagai terlalu banyak filosofi. “Pembaca sekarang mau lebih banyak seks, seks, dan seks.” The Trial, karya seorang bujangan bernama Franz Kafka dikatainya sebagai “seolah ditulis di bawah rezim otoriter” dan harus diedit, sementara Finnegans Wake karya James Joyce dianggapnya tidak jelas ditulis dalam bahasa apa, yang jelas bukan bahasa Inggris. Tapi kasus yang mungkin merusak reputasinya adalah ketika Porfesor Eco menerbitkan cerita (masih di majalah yang sama) berjudul “Granita”. Banyak orang langsung menuduhnya melakukan plagiat atas novel berjudul Lolita. Memang tak sama persis. Di cerita yang ditulisnya, Eco mengganti si gadis kecil Lolita dengan seorang nenek bernama Granita. Ya, ini tentang seorang lelaki yang tergila-gila kepada perempuan yang sudah tua. Meskipun ada perbedaan tersebut, orang tetap menganggapnya melakukan plagiat. Coba lihat pembukaan ceritanya: “Granita. Bunga masa remajaku, derita malam-malamku. Akankah aku melihatmu lagi? Granita. Granita. Gran-i-ta.” Bahkan akhirnya Vladimir Nabokov menyeretnya ke pengadilan. Ini pengadilan kedua untuk Profesor Eco. Kali ini, dengan pembelaan yang penuh semangat dan melibatkan begitu banyak referensi, Eco berhasil meyakinkan hakim tentang perbedaan plagiat dan parodi. Pengadilan membebaskan Eco dalam kasus tersebut. Meskipun begitu, banyak mahasiswanya yang dipenuhi jiwa-jiwa muda yang membara, tetap merasa kecewa. Mereka mulai mempertanyakan reputasinya sebagai profesor, dan berombongan meninggalkan kuliah-kuliah semiotiknya, beralih ke kuliah teologi yang menurut mereka lebih memberi kepastian mengenai bagaimana menafsir segala sesuatu. Dengan berbagai kasus tersebut (tidak semuanya ditulis di sini), Profesor Eco akhirnya berhenti menulis di Il Verri. Tapi ketika namanya sebagai novelis maupun profesor semiotik semakin moncer, penerbit berniat untuk menerbitkan tulisan-tulisan tersebut dalam sejilid buku. Meski awalnya ragu, akhirnya Profesor Eco setuju. Tapi untuk menghindari masalah-masalah lebih lanjut, terutama serangan mematikan di jalanan dari penulis atau orang yang kecewa, dan teringat kepada Anonymous, Profesor Eco memberi judul buku tersebut sebagai Misreadings.

Standard
Journal

Noli Me Tangere, José Rizal

Setelah beberapa lama cuma niat, akhirnya kesampaian juga membaca novel ini. Awalnya karena hendak membicarakan buku Benedict Anderson, Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial, saya merasa harus membaca setidaknya satu (dari dua) novel José Rizal, sebab buku tersebut hampir sepertiganya bicara tentang sang revolusioner Filipina. Demikianlah akhirnya saya membaca Noli Me Tangere (saya membaca versi terjemahan Inggris lawas, yang judulnya jadi The Social Cancer, sementara edisi yang baru mempergunakan judul asli dengan terjemahan Inggris di dalam kurung sebagai: Touch Me Not). Ini sebuah novel dengan latar masa kolonial Spanyol di Filipina, dan bisa juga disebut sebagai novel epik Filipina, tak hanya karena isinya, tapi juga efek yang diciptakan oleh penerbitan novel ini. Membaca beberapa bab awal, kita sudah disajikan dengan kebrutalan kekuasaan kolonial. Dikisahkan Crisóstomo Ibarra, sang tokoh utama, selepas bertahun-tahun mengembara di daratan Eropa akhirnya pulang ke Filipina hanya untuk menemukan ayahnya sudah meninggal (dan selama itu tak ada yang memberitahunya). Ia kemudian tahu bahwa ayahnya telah dihukum mati oleh konspirasi penguasa-penguasa lokal, yang meliputi penguasa kolonial serta para pemimpin gereja. Tak hanya itu, ketika ia mencari kuburannya, Ibarra tak menemukan kuburan itu. Ia akhirnya bertemu seseorang yang memberitahu: mayat ayahnya telah digali dan dibuang ke danau. Di sinilah ia mulai terlecut, kemarahannya kepada kekuasaan kolonial mulai membara, tapi ternyata kebrutalan tersebut belum cukup sampai di sana. Apa yang membuat kekejian kolonialisme terasa menyayat, terutama karena di novel ini, José Rizal berhasil membawa masalah sosial tersebut menjadi kisah-kisah individu. Kisah cinta Ibarra dan María Clara memiliki porsi yang sangat signifikan di sini, di mana kisah cinta mereka harus berakhir tragis lagi-lagi oleh konspirasi jahat antek-antek kolonial dan gereja. Di titik ini, pembaca Indonesia mungkin akan teringat kepada novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer (dengan kisah Minke dan Annelisnya), setidaknya saya merasakan sejenis bayang-bayang tersebut. Mungkin Pram terinspirasi novel ini (Noli Me Tangere terbit 1887, hampir satu abad sebelum novel Pram)? Dan sekuelnya, El Filibusterismo mungkin juga membayangi Anak Semua Bangsa, terutama dalam konteks “globalisasi”-nya. Selain kisah cinta dua anak muda yang berakhir tragis dipisahkan oleh kuasa kolonial, ada hal-hal yang juga bisa diperbandingkan: baik Minke maupun Ibarra sama-sama bisa dibilang “elit lokal”, yang sama-sama memperoleh pendidikan kolonial (Ibarra lebih dari itu, ia bisa sekolah ke luar negeri, dan dalam tubuhnya juga mengalir darah Basque, ia seorang mestizo). Tapi tentu saja ada beberapa perbedaan mencolok. Bumi Manusia bisa dibilang roman sejarah, sementara novel ini justru bisa dilihat mendahului gerakan-gerakan revolusioner Filipina. Ia semacam inspirasi bagi kaum revolusioner Filipina untuk bangkit melawan, dan José Rizal sendiri, beberapa tahun kemudian, tak hanya diasingkan, tapi juga dihukum mati sebagai pahlawan bangsanya (dan banyak yang mengaitkan dirinya sebagai Ibarra). Selain itu, dua hal mencolok dalam novel Rizal: kebrutalannya (tak hanya hukuman mati, mayat digali, tapi juga penggantungan di muka umum, bahkan seorang anak dipenggal kepalanya dan digantung di muka rumah ibunya), juga keterlibatan kekuasaan gereja yang membuat rakyat Filipina seperti dijajah dari kiri dan kanan, di mana di-ekskomunikasi oleh gereja sama menakutkannya daripada dipenjara. Di luar itu, novel ini juga memberi sejenis keajaiban seperti dicatat Ben Anderson: Di Republik Kesusastraan Global, novel ini lahir dari pinggiran. Ia tak hanya merupakan novel modern paling awal yang menggetarkan Asia Tenggara, tapi juga mendahului banyak novel besar di Asia (ya, bahkan terbit duluan sebelum Max Havelaar, meskipun kemudian José Rizal juga mengagumi novel ini). Untuk memahami kenapa bisa seperti itu, buku Ben Anderson di awal tulisan ini mungkin perlu dibaca, sebagai pengantar yang menarik sebelum menikmati novel ini, terutama bagi yang tak terlampau akrab dengan sejarah Filipina atau konteks zaman di abad sembilan belas.

Standard
Journal

The Encyclopedia of the Dead, Danilo Kiš

Simon Magus bisa jadi sejenis olok-olok tentang kisah para nabi, rasul, orang suci, santa, wali dan sejenisnya yang penuh dengan mukjizat dan pengorbanan. Seperti para rasul, dia juga berkeliling untuk berkhotbah (tujuh belas tahun setelah kematian Yesus dari Nazareth), tapi dia meyakinkan orang-orang bahwa, “Aku bukan rasul.” Ya, benar. “Mereka menjanjikan keselamatan abadi, aku menawarkan pengetahuan dan keheningan.” Hingga ia mengejek omong-omong tentang mukjizat, yang membuat berang Peter yang kemudian menantangnya untuk menampilkan mukjizat sendiri. Kisah ini juga memperlihatkan kearoganan orang-orang yang merasa dirinya saleh, pengikut juru selamat (digambarkan melalui Peter dan murid-muridnya). Simon Magus memperlihatkan kepada mereka bahwa ia bisa terbang, meskipun kemudian ia harus jatuh dan remuk. Tapi itu tak membuktikan kelemahannya sebagai “manusia biasa” yang “bukan rasul” itu. Dalam kisah ini, itu membuktikan ajarannya bahwa “hidup manusia membusuk dan binasa, dan dunia berada di tangan tiran. Dikutuk oleh yang terbesar dari semua tiran, Elohim.” Itu merupakan cerita pertama dalam kumpulan cerita Danilo Kiš, The Encyclopedia of the Dead. Jika membayangkan ia seorang penulis yang mengolah sejarah, mitos, tradisi kesusastraan, yang terobsesi dengan politik dan membalutnya dengan fantasi, jelas itu salah khususnya mengenai fantasi. Ia tak percaya fantasi, meskipun dalam cerpen-cerpennya tampak pengaruh kuat dari Borges maupun Bruno Schulz. “Definisiku tentang kesusastraan,” katanya, “merupakan suatu usaha atas visi umum realitas dan kehancurannya yang berkesinambungan.” Kisah hidup penulisnya sendiri barangkali sama ajaibnya dengan fiksi-fiksinya. Ia lahir tahun 1935 di Yugoslavia, negeri yang sudah terhapus oleh sejarah (di Wikipedia, saya melihat wajahnya dicetak di prangko Serbia juga Montenegro), dan menulis dalam bahasa Serbo-Kroasia, yang dipergunakan di beberapa negara tapi mereka lebih suka menamainya dengan nama masing-masing dan kemudian memiliki standarnya masing-masing. Ia seperti ditakdirkan untuk “terkubur”, tapi seperti bayi-bayi agung yang mengawali hidupnya dengan cara yang menyedihkan, penulis ini dan buku-bukunya, terutama setelah kematiannya di tahun 1989, mulai memperoleh pembaca di mana-mana. Cerpennya yang lain, yang menjadi judul kumpulan ini, barangkali semakin mengingatkan kita pada Borges. Itu merupakan ensiklopedi orang-orang yang sudah mati. Semua orang yang sudah mati, kecuali orang itu ditulis di ensiklopedi yang lain (jadi ini ensiklopedi khusus orang-orang biasa). Beberapa saat setelah kematian ayahnya, si narator menemukan buku ini di satu perpustakaan di Swedia dan ia membaca entri tentang ayahnya. Kisah hidup orang biasa yang barangkali mewakili sebagian besar orang biasa. Tapi berbeda dengan Borges, Kiš tak tertarik dengan metafisika maupun spekulasi filsafat. Ia lebih tertarik kepada keajaiban yang ditawarkan oleh kehidupan sehari-hari, oleh realitas yang “lebih ajaib dari fiksi”. Demikianlah cerpen-cerpennya menjadi sejenis kisah realis biasa yang digempur oleh berbagai keajaiban tanpa harus menjadikannya fantasi maupun fantastik. Hanya ada sembilan cerpen di dalamnya, tapi saya kira ini merupakan salah satu buku yang harus ditengok berkali-kali, terutama bagi penggemar cerita pendek, terutama karena Kiš memang tak menerbitkan banyak karya. Sangat layak berada di tempat yang sama dengan Ficciones Borges maupun The Street of Crocodiles Bruno Schulz, sebagaimana juga berjejer bersama cerpen-cerpen karya Cortazar.

Standard
Journal

The Wretched of the Earth, Frantz Fanon

Beberapa hari terakhir ini pekerjaan saya menunggui rumah sambil mengurus dua makhluk: anak perempuan saya dan kucing persia pemberian teman. Tak ada soal. Tinggal memastikan makanan mereka terpenuhi. Masalah suka muncul ketika saya memasak sesuatu, membuka pintu dapur, kemudian seekor kucing kampung (baru melahirkan dua anak) tiba-tiba nyelonong masuk. Lebih sialnya lagi, dia seperti sudah tahu harus ke mana: masuk dengan cepat ke arah tempat makan kucing kami, dan memakan pakan kucing. Kesel? Tentu saja. Saya merasa dirampok di depan mata saya sendiri. Naluri saya segera mengejarnya, menghardiknya, dan memaksanya keluar rumah. Tapi begitu dia sudah di luar pintu, memandang saya dengan tatapan memohon, apalagi dua anaknya bergabung, hati saya runtuh. Kenapa saya memberi makan persia saya dengan begitu melimpah, sementara si kucing kampung malah saya hardik? Saya sedang mempraktekan rasialisme? Saya akhirnya masuk, meraup makanan kucing kami dan memberikannya kepada si kucing kampung yang segera makan dengan lahap. Saya bahkan memeriksa lemari, mengumpulkan sisa-sisa makan sahur (sisa ayam atau ikan) dan memberikannya juga. Semua kejadian itu terjadi, sementara saya dengan sok intelek membaca buku tentang kolonialisme, rasialisme, kekerasan, perbudakan. “Dua abad lalu, satu bekas koloni Eropa memutuskan untuk mengejar Eropa. Ia berhasil begitu gemilang membuat Amerika Serikat menjadi sejenis monster, di mana noda-noda, penyakit dan kebiadaban Eropa telah tumbuh ke arah dimensi yang mengerikan. Kawan, tak punyakah kita pekerjaan lain selain menciptakan Eropa ketiga?” Frantz Fanon dalam bukunya The Wretched of the Earth sedang bicara tentang dosa Eropa, dosa yang sisa-sisanya bahkan masih tersisa hingga hari ini di sebagian besar permukaan bumi: kolonialisasi. Dan kolonialisasi jelas bukan semata-mata datangnya pasukan Eropa ke Afrika, Asia dan Amerika lalu menguasai tempat-tempat tersebut, di sana ada pemaksaan nilai-nilai, perampokan sumber daya alam, rasialisme yang berujung kepada perbudakan. Di dalam banyak aspek, kolonialisme telah menjadikan manusia biadab, manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Tentu saja sangat jomblang dan keterlaluan membandingkan kolonialisasi dan perbudakan manusia dengan pengalaman mengurus kucing ras dan menghardik kucing kampung. Tapi pada saat yang sama, buku itu dengan gamblang menunjukkan banyak hal tentang asal-usul kekerasan yang melekat di kita, prasangka ras dan kelas, dan ketimpangan tak hanya ekonomi tapi juga pendidikan. Saya tak memungkiri kadang punya prasangka atas kucing kampung: kotor, tukang rampok, tukang kawin, dan intinya: savage. Lalu berpikir: kucing kampung juga kalau dipelihara dengan baik dan diberi makan makanan yang baik, tentu juga akan baik (dari perilaku, kebersihan, bahkan mungkin gambaran kita tentang kecantikan). Tapi jelas itu penyederhanaan, dan mungkin penuh bias. Sama seperti penyederhaan jika orang Afrika (atau Asia) seharusnya diberi pendidikan Eropa, tinggal di Eropa, makan makanan Eropa, baju Eropa, agar ia menjadi seperti orang Eropa. Buku yang benar-benar menggedor tak hanya nalar kita, tapi juga nurani. Bagian paling menariknya, karena selain aktivis dan simpatisan kemerdekaan Aljazair, Fanon juga seorang dokter dengan spesialisasi psikiatri, ia bisa bicara dari sudut pandang penyakit-penyakit mental, baik individu maupun sosial. Kolonialisme jelas telah mewariskan banyak masalah sosial, juga masalah mental. Tak hanya di negara jajahan, tapi di negeri-negeri Eropa. Dalam hal ini, bolehlah juga saya curiga, cara pandang kita terhadap kucing peliharaan dan kucing kampung juga sebenarnya dosa manusia yang telah berumur panjang: sejak masa kita mendomestikasikan kucing. Benarkah kucing kampung ingin dipelihara? Jangan-jangan perilaku kucing kampung, yang suka merampok, tukang kawin, dan kotor itu juga “diciptakan” manusia? Sebagaimana para penjajah sering menyebut panduduk negeri jajahan sebagai “pemalas” (dan juga “tukang kawin”?), dan julukan ini juga akhirnya diadopsi sebagian penduduk bekas negeri jajahan (kelas borjuasi kecil yang naik peringkat, dan merasa sudah meng-Eropa) untuk mengata-ngatain rekan sebangsanya yang tidak beruntung. Saya tak tahu apa yang dipikirkan kucing kami ketika ia melongok di jendela dan melihat kucing kampung bergelung di trotoar pinggir jalan. Ada yang mau nulis sehebat Fanon tapi dengan tema kucing? Monggo.

Standard
Journal

The White Castle, Orhan Pamuk

Saya belum pernah pergi ke Istanbul, kecuali transit beberapa kali di bandaranya yang super sibuk dan luas sekali. Saking sibuk dan luasnya, transit di bandara itu sudah seperti momok: waktu transit yang pendek harus membuat saya berlari-lari dari satu gerbang ke gerbang lain, sementara arus para penumpang yang juga memburu penerbangan berikut salip-menyalip. Bahkan meskipun baru bisa mengenal kota itu melalui bandaranya, saya sadar sejarah panjangnya sebagai titik pertemuan dari berbagai penjuru, yang jika dibikin lebih sederhana, itu merupakan pertemuan Timur dan Barat. Dan itu pula yang sering saya temukan di novel-novel Orhan Pamuk, yang memang banyak berkisah tentang kota ini. Salah satunya novel The White Castle, novelnya yang paling terakhir saya baca (meskipun sebenarnya novel ketiga dia, dan novel pertama yang terbit dalam bahasa Inggris), dan tampaknya bakal menjadi salah satu novel favorit saya darinya. Sebagaimana pertemuan, terutama perjumpaan dengan sesuatu yang asing, selalu merupakan hal menarik, di sana kita menemukan ada kecemasan, ada rasa ingin tahu, ada bentrokan yang bisa jadi berdarah-darah, ada pertukaran budaya dan pengetahuan, menciptakan tragedi, dan di novel ini, juga menimbulkan komedi yang bikin saya berkali-kali nyengir. Saya tak tahu banyak mengenai sejarah Turki, tapi itu tak menghalangi saya untuk menikmati novel ini, yang membawa saya ke masa Mehmet IV, ketika laut mediterania masih dilayari para bajak laut, dan orang bisa ditangkap sebelum dijadikan budak. Demikianlah seorang sarjana Italia yang sedang dalam pelayaran, mendadak disergap kapal Turki, ditangkap dan dijual sebagai budak kepada seorang pasha. Belakangan sang pasha memberikan budak ini kepada sarjana setempat bernama Hoja. Yang lucu, ini benar-benar bagian yang lucu dan menjadi pengikat sepanjang novel, Hoja dan si budak Italia ini berwajah mirip. Kebayang bukan, tuan dan budak, satu Italia dan satu Turki, tinggal serumah, dan mereka bagaikan sepasang kembar? Tentu tak hanya itu. Seperti saya bilang, novel ini tentang perjumpaan. Si orang Italia yang Kristen terpana dengan keyakinan Islam setempat, si tuan Turki penuh penasaran bertanya tentang kemajuan-kemajuan teknologi yang telah dicapai negara-negara di bagian barat. Ini juga tentang ambisi manusia: awalnya hanya disuruh untuk membuat kembang api bagi sebuah pesta, kemampuan si budak didorong untuk menciptakan senjata. Yang menyukai bagian-bagian sejarahnya, kita akan dibawa untuk melihat kehidupan kesultanan Otoman di masa itu: dengan arena perburuan sang sultan, posisi juru nujum yang sangat penting (dan diperebutkan), dan lain sebagainya. Dalam beberapa kali perjalanan ke Eropa, saya lebih sering transit di bandara lain. Meskipun begitu, sambil melihat layar kecil di kursi pesawat yang menampilkan peta dunia dan posisi pesawat, saya selalu menantikan saat pesawat berada tepat di wilayah Turki, sambil menebak-nebak di sebelah mana Istanbul dengan menjadikan selat Bosphorus sebagai penanda. Kenapa? Bagi saya sederhana: itu semacam penanda bahwa saya mulai memasuki dunia barat, atau ketika penerbangan pulang, saya merasa sudah kembali ke dunia timur. Membaca novel-novel Orhan Pamuk, sebagaimana novel yang ini, mengingatkan saya pada perasaan seperti itu. Perasaan menyeberang. Kadang seperti sebuah keberangkatan untuk menemukan hal-hal baru yang asing dan memberi rasa waswas, lain kali memberi perasaan rindu yang meluap-luap akan dunia yang begitu dikenali.

Standard
Journal

Dua Buku Roland Barthes

A Lover’s Discourse. Jika ada buku terakhir yang ingin dibaca seseorang yang sedang jatuh cinta, mungkin inilah buku itu. Setidaknya saya tak akan membaca buku ini karena jatuh cinta kepada seseorang. Benar dong, jatuh cinta, pencinta, cemburu, surat cinta, mestinya untuk dirasakan dan dialami, bukan untuk dijadikan wacana. Roland Barthes pasti nganggur banget sampai menjadikan urusan ini wacana, tapi ya suka-suka dia, lah. Untunglah dia tak mencoba mendeskripsikan, menerangkan ini dan itu. “Deskripsi wacana pencinta telah diganti oleh simulasinya, dan untuk itu wacana telah memulihkan persona fundamentalnya, sang aku, dalam rangka menampilkan suatu ungkapan, bukan suatu analisis.” Demikian ia memformulasikan bangunan buku ini. Sekali lagi, jangan kuatir. Ini tentang ungkapan-ungkapan sang pencinta. Apa yang dia ungkapkan tentang “dia yang tak hadir”, kekasih yang tak ada di sini seperti sering kita dengar di lagu? “Ketidakhadiran hanya ada sebagai konsekuensi dari yang lain; yang lain itulah yang pergi, aku yang tinggal. Yang lain dalam kondisi keberangkatan abadi, perjalanan; sang lain, menurut pekerjaannya, merupakan migran, pelarian.” Dan apa kata sang pencinta tentang “penantian”? “Seorang perempuan menunggu kekasihnya, di malam, di hutan; aku tak sedang menunggu apa pun kecuali panggilan telepon, tetapi kegelisahannya sama saja.” Dan tentang cemburu: “Sebagai seorang lelaki yang cemburu, aku menderita empat kali: sebab aku cemburu, sebab aku menyalahkan diriku sendiri karena itu, sebab aku takut kecemburuanku akan menyakiti orang lain, sebab aku membiarkan diri menjadi satu subyek banalitas: aku menderita karena dikecualikan, karena agresif, karena gila, dan karena biasa-biasa saja.” Tentu tidak hanya itu. Sang pencinta bicara dari dan tentang berbagai hal. Salah satu hal yang menarik, bagaimana ia merujuk perasaan maupun pengalamannya kepada para pemikir maupun kisah lain di novel. Merujuk Sartre, Freud, Zen, Lacan, Symposium, dan lain-lain. Sebagian orang ingin memikirkan dirinya sebagai sang pencinta, sebagian lain cuma ingin menjalani perannya, sebagian lagi tak memikirkan maupun menjalani. Kamu termasuk yang mana?

Camera Lucida. “Kuamati bahwa selembar foto dapat menjadi objek tiga praktek […] Sang Operator adalah si Fotografer. Sang Spectator adalah kita semua yang melirik koleksi-koleksi foto […] Dan seseorang atau sesuatu yang difoto, sang rujukan […] yang saya ingin menyebutnya sang Spectrum Fotografi […] Salah satu dari praktek ini tak terdapat pada saya dan tak akan saya investigasi; saya bukan seorang fotografer, bahkan bukan fotografer amatir: terlalu tak sabaran untuk itu.” Wah, kalau Roland Barthes menulis ini di zaman sekarang, mungkin dia sudah dirundung banyak orang. Bukan fotografer ngapain kamu ngomongin fotografi? Untunglah dia filsuf, jadi bolehlah dia ngomongin apa saja, dan tak ada yang melarangnya untuk penasaran pada hal ini. Rasa penasaran yang bisa diungkapkan dalam satu kalimat: apa sih Fotografi sebagai “dirinya sendiri”? Sesuatu yang tanpa “itu”, tak bisa dibilang sebagai Fotografi. Ia mencoba mengulitinya perlahan-lahan, seperti seorang paleontologis menyapukan kuas pada tulang-belulang tua. Dalam sapuan pertama, ia menemukan bahwa, satu foto tertentu, memberi efek, tak pernah terbedakan dengan rujukannya. Seperti kamu melihat foto dirimu, kamu akan berkata, “Itu saya.” Foto itu selalu membawa rujukannya (dirimu) kapan pun dan ke mana pun. Di sapuan berikutnya … Ingin tahu lebih banyak? Ya, mending baca sendirilah. Masa saya harus merangkumnya di sini. Bagi saya, yang juga bukan seorang fotografer (bahkan untuk level amatiran sekali pun), tapi senang mengintip foto-foto bagus di Instagram orang, buku ini sangat mengasyikan untuk memahami apa yang tengah terjadi antara saya, foto yang saya sedang lihat, dan tentu saja orang yang mengambil foto itu. Itu satu hal. Hal lainnya, sambil membaca ini, saya juga membayangkan hal-hal lain. Apa sih Film sebagai “dirinya sendiri”? Apa sih Novel sebagai “dirinya sendiri”? Apa Cinta sebagai “dirinya sendiri”? Sesuatu yang tanpa “itu”, mereka tak bisa disebut demikian. Hal terbaik dari satu wacana adalah kemampuannya untuk menggiring pembaca memikirkan wacana lain. Buku ini tempat yang gokil untuk tersesat dan melantur, setidaknya bagi saya.

Standard
Journal

Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire

“Pembebasan harus merupakan suatu kondisi permanen, dialog merupakan satu aspek berkesinambungan dari aksi pembebasan,” kata Paulo Freire dalam buku Pedagogy of the Oppressed. Buku ini seperti tersurat dari judulnya memang bicara banyak tentang pendidikan (lebih mengerucut lagi tentang pendidikan kaum tertindas), tapi saya rasa akar utamanya terletak dalam hubungan manusia dan manusia. Setiap ada lebih dari satu manusia, maka akan tercipta relasi sosial, dan relasi ini mungkin saja jatuh kepada hubungan yang timpang: yang dominan dan subdominan, yang menindas dan tertindas. Dalam konteks tersebut, saya pikir buku ini bahkan bisa dibaca luas melewati perkara-perkara pedagogi, tapi juga untuk meneropong secara kritis masalah-masalah dalam relasi antar manusia dalam berbagai bentuknya. Bahkan dalam hubungan asmara dua orang, selalu dimungkinkan hubungan tak imbang. Bagaimana menciptakan hubungan yang sehat, yang membebaskan? Seperti di kutipan awal, dialog terus-menerus merupakan jalan yang sehat untuk merawat hubungan yang saling membebaskan, yang terbebas dari kehendak untuk saling menguasai. Dialog memang merupakan inti dari pedagogi Freire, yang disebutnya sebagai “suatu fenomena manusia”, dan esensi dari dialog adalah “kata”. Agar kata bersifat autentik, agar kata sanggup mentranformasikan dunia, kata harus merupakan refleksi sekaligus aksi. Tanpa aksi, kata hanya akan menjadi verbalisme, dan tanpa refleksi kata hanya akan menjadi aktivisme. Saya ingin membayangkannya dalam konteks yang gampang: kembali ke hubungan asmara. Ya, hubungan yang sehat seharusnya saling membebaskan, melalui dialog terus-menerus. Tapi dialog jelas bukan melulu omongan, yang diejek Freire sebagai verbalisme tadi. Dialog juga harus bersifat aksi. Refleksi dan aksi untuk menciptakan (dan terus menciptakan) dunia (anggap hubungan dua manusia ini sebagai “dunia”). Kenapa? Sebab setiap masalah yang muncul memiliki peluang untuk diselesaikan dengan cara yang salah, yang akhirnya menciptakan kepuasan di satu pihak dan kekecewaan di pihak lain, dalam kondisi seperti ini, hubungan menjadi timpang. Hubungan (dunia) harus segera diciptakan kembali, melalui refleksi dan aksi, agar keadaan mendominasi dan terdominasi tidak tercipta. Betul, kan? Bahkan dalam hubungan asmara semacam ini, dua manusia terus belajar, dan pedagodi memang tak melulu perkara bangku sekolah. Pertanyaan paling pentingnya, apa itu kebebasan? Apa itu pembebasan? Bagaimana dialog (bersifat refleksi dan aksi) terus-menerus bisa menciptakan hubungan yang membebaskan? Pertama-tama, dialog hanya mungkin jika ada kepercayaan bersama. Saling percaya. Kedua, “Tak ada kebebasan tanpa otoritas.” Ini bagian paling menarik dari paparan Freire. Otoritas? Bagaimana otoritas bisa berjalan beriringan dengan kebebasan? Freire segera mengingatkan, “Tapi juga tak ada otoritas tanpa kebebasan.” Lebih jauh ia menjabarkan, “Semua kebebasan mengandung kemungkinan bahwa di bawah satu kondisi khusus (dan di tingkat eksistensial yang berbeda) ia menjelma menjadi otoritas. Kebebasan dan otoritas tak bisa dipisahkan, tapi harus dibayangkan satu sama lain berhubungan.” Otoritas yang dimaksud bukanlah penyerahan kekuasaan, tapi pendelegasian kepatuhan, yang tentu saja timbul karena saling percaya. Karena pedagogi, sekali lagi, tak melulu urusan bangku sekolah (guru dan murid), selain membayangkan hubungan asmara, bisa pula membaca buku ini sambil membayangkan hubungan keluarga (orangtua dan anak), negara (pemerintah dan warganya) atau bahkan hubungan yang mungkin lebih abstrak: penulis dan pembaca. Menarik, kan?

Standard