Kalau Mau Tembak, Tembaklah

Akhir-akhir ini muncul kisah lama tentang malapetaka dan pertolongan Tuhan, yang dibagiulangkan untuk banyak orang. Salah satunya seperti ini.

Ada seorang imam yang daerahnya kebanjiran. Datanglah tukang perahu untuk menolong, tapi ia tak mau. Ia memutuskan naik ke atas bukit sambil berkata, ”Tuhan akan menolongku.” Banjir makin besar, perahu datang lagi, tapi ia ngeyel dan terus naik ke puncak.

Akhirnya banjir menenggelamkannya dan ia mati. Sang imam protes kepada Tuhan, ”Kenapa Engkau tak menolongku?” Dengan tenang Tuhan berkata, ”Kan sudah Aku kirim tukang perahu dan perahunya?”

Tentu saja kisah itu dibagiulangkan di berbagai jejaring media sosial untuk mengingatkan orang tentang pentingnya melakukan ikhtiar, melengkapi tawakal kepada Tuhan. Terutama di tengah wabah virus korona seperti sekarang.

Meskipun begitu, saya juga jadi tergelitik untuk melanjutkan dialog sang imam dengan Tuhan. Saya membayangkan sang imam tetap protes. ”Bagaimana aku tahu itu perahu kiriman-Mu?” tanya sang imam sambil mengingatkan Tuhan tentang orang Troy yang menerima pemberian hadiah perdamaian berupa kuda kayu raksasa.

Bukannya memberi kedamaian, ternyata malah membawa bala tentara musuh. Bagaimana jika perahu itu malah membawa petaka?

Ketakutan adalah hal yang alamiah, sebagaimana hidup akan selalu menghadapi berbagai ancaman. Dari ancaman sepele hingga ancaman yang bisa berujung kematian. Dalam menghadapi ketakutan, otak manusia terbiasa bereaksi dengan dua cara. Melawan atau lari. Untuk menentukan apakah ia melawan atau lari, tentu ia harus berhitung.

Permasalahannya, bagaimana cara seseorang berhitung? Apakah ia bisa menghitung besar kecilnya ancaman? Apakah ia juga mampu menghitung kekuatan dirinya menghadapi ancaman tersebut.

Kita mungkin cenderung akan menertawakan sang imam. Sebagian akan menganggapnya sebagai orang yang beragama, tapi tak mempergunakan isi kepalanya. Bagi kita, dengan akal pikiran, melihat air yang terus naik, melompat ke perahu jelas lebih mungkin untuk selamat.

Masalahnya, akal pikiran kadang kala tak berjalan dengan baik di tengah ketakutan. Saya sering melihat orang yang berlari panik menjerit-jerit hanya karena melihat ulat. Kenapa ia harus berlari? Kenapa harus menjerit? Kita tahu ulat tak akan bisa mengejarnya.

Faktor lain yang sering kali melipatgandakan ketakutan, sekaligus menumpulkan akal pikiran, adalah kebingungan. Seseorang tak bisa membuat perhitungan, dan pada akhirnya tak bisa membuat keputusan yang tepat. Naik ke atas bukit dan berharap mukjizat Tuhan atau menerima pertolongan tukang perahu yang ada di depan mata?

Varian terbaru virus korona tak banyak dikenali kebanyakan orang. Bahkan, sampai hari ini, manusia belum menemukan vaksin maupun antivirusnya. Pada saat yang sama, kasusnya di berbagai negara memberi gambaran mengerikan. Tak hanya kematian, tapi juga penutupan kota dan negara.

Bagi saya ketakutan atas wabah ini nyata. Orang-orang mulai mencuci tangan lebih sering. Saya menyuruh anak untuk mencuci tangan bahkan sambil menyanyikan lagu “Happy Birthday”, untuk memastikan dia mencucinya lama. Di situasi terburuk, orang memborong mi instan. Masker menghilang dari toko-toko.

Saya yakin orang lain juga sama khawatirnya. Tapi, kenapa masih banyak orang berlalu-lalang? Masih banyak yang kumpul-kumpul? Bahkan ada anggota DPRD yang dengan pongah menolak diperiksa tim kesehatan ketika pulang dari perjalanan luar kota.

Kenapa kita tidak bisa satu barisan, bersama-sama melawan ketakutan, melawan wabah yang tak hanya memorak-porandakan tubuh, tapi juga jiwa (lelah, cemas), serta kehidupan sosial (curiga, renggang)?

Saya jadi teringat satu dialog dari film koboi lawas karya Sergio Leone berjudul The Good, The Bad and The Ugly: ”When you have to shoot, shoot! Don’t talk!

Di banyak film, kalau ada seorang bocah atau tokoh yang lemah menodongkan pistol ke penjahat, penjahatnya akan terus ngoceh, mengalihkan perhatiannya. Membuatnya bingung, membuatnya tak bisa mengambil keputusan dengan tepat.

Di tengah kecemasan menghadapi wabah ini, kita juga melihat rakyat yang bingung, gagap membuat keputusan penting untuk mereka sendiri. Di rumah saja atau tetap keluar demi sesuap nasi? Pergi Jumatan atau salat di rumah?

Mereka seperti bocah dengan pistol yang tak tahu harus menembak atau tidak, sementara para pemimpin malah membuatnya tambah bingung. Di awal wabah, Presiden Jokowi masih mempromosikan diskon hotel agar pariwisata tetap tumbuh. Menteri kesehatan? Ia bilang, korona penyakit yang bisa sembuh sendiri.

Bahkan, sampai sekarang, kita tak tahu apakah penjarakan sosial merupakan imbauan serius? Toh, orang masih keluar rumah tanpa ada sanksi.

Saya ingin mengingatkan kembali akan dialog film koboi tadi untuk para pemimpin kita. Ketika harus menembak, segera tembak! Terlalu banyak omong, malah kita ditembak duluan. Itu aturan penting di dunia koboi, dan saya pikir aturan penting juga di masa krisis, di dunia nyata.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 28 Maret 2020.

Balzac dan Fantasi Global

Honoré de Balzac, salah satu penulis besar Prancis, pernah menulis sebuah catatan perjalanan berjudul Voyage de Paris à Java. Perjalanan dari Paris ke Jawa, tanpa pernah sekali pun menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Lho, maksudnya?.

Yang mengaku pernah pergi ke Hindia Belanda di masa itu, di abad kedelapan belas, adalah temannya. Balzac hanya mendengarnya. Mungkin temannya mengarang bebas alias ngibul atau Balzac sendiri yang berfantasi gila-gilaan.

Bagaimana tidak. Di dalam bukunya, ia berkisah tentang pohon upas yang tumbuh di tanah Jawa. Pohon beracun yang tumbuh di bekas gunung berapi. Saking beracunnya, kriminal yang dihukum mati hanya perlu disuruh membacok batang pohon itu.

Tak lupa fantasi seksual lelaki Eropa atas perempuan Jawa yang ”semua putih, hanya alis mereka yang hitam pekat dan mata cokelat mereka membentuk kontras atas wajah pucat ajaib ini”. Dan menambahkan, ”Sebagian besar perempuan ini kaya, banyak di antaranya janda.”

Di luar konteks soal watak orientalismenya, saya justru bertanya-tanya: kenapa orang senang berfantasi? Bahkan tiga abad kemudian, ketika kita di tanah Jawa membaca buku ini dan tahu isinya agak berlebihan, kita masih bisa terhibur oleh fantasinya.

Saya rasa itu alasan yang sama kenapa kita membaca novel-novel Jules Verne. Kita senang, mungkin juga penasaran, bagaimana rasanya bertualang ke perut bumi. Bagaimana rasanya berkeliling dunia dengan balon udara.

Fantasi, jelas berguna dalam urusan melemparkan diri kita dari kenyataan yang ada. Katakanlah dalam bayangan Balzac, ”Segera setelah datang, seorang lelaki Eropa bisa langsung kawin (dengan janda Jawa), menjadi kaya sebagaimana mereka impikan di malam-malam panjang dan dingin di negeri sendiri.”

Di luar itu, fantasi juga membantu manusia melakukan simulasi bagaimana dunia di waktu dan tempat yang berbeda. Barangkali terpesona oleh buku Balzac ini, penyair Prancis Arthur Rimbaud sampai mendaftar jadi tentara Belanda dan dikirim ke Jawa.

Apakah Jawa yang dialaminya sama dengan Jawa yang dibacanya, itu soal lain. Yang jelas, fantasi bisa menggerakkan manusia untuk menggapai apa yang ada dalam fantasinya. Tak hanya membebaskan diri dari kepahitan, tapi juga keluar dari kenyamanan hidup.

Di tengah suasana penuh kecemasan karena merebaknya virus korona hampir di seluruh dunia, saya teringat novel Jose Saramago, Blindness. Kita bisa menempatkan novel ini juga sebagai fantasi, ia menyimulasikan bagaimana jika terjadi wabah?

Di novel itu yang dimaksud adalah wabah kebutaan, yang dengan cepat menular dari satu manusia ke manusia lain. Penyakitnya dalam tingkat tertentu mungkin bisa diganti, tapi yang jelas, ia menggambarkan apa yang bakal terjadi dalam situasi seperti itu.

Mencoba menahan persebaran, pemerintah berusaha bertangan besi, menyeret siapa pun yang terkena wabah ke karantina. Korban memperoleh stigma. Masyarakat menjadi keos, panik. Makanan jadi rebutan, petugas kewalahan.

Bukankah itu yang terjadi sekarang? Pasta menghilang di supermarket beberapa kota di Australia. Barang-barang menghilang di toko-toko kelontong Kota Milan. Ibadah umrah dihentikan di Arab Saudi. Kota Wuhan, sumber wabah korona, sudah berminggu-minggu dikunci.

Novel-novel semacam itu, atau film-film sejenis, jelas (atau seharusnya) mengajari kita bagaimana bereaksi jika hal demikian terjadi dalam kehidupan nyata. Kita sudah membayangkannya, melakukan simulasi, dan itu sisi baik dari fantasi.

Saya ingin kembali ke buku Balzac. Selain menggambarkan eksotisme dunia Timur yang asing, saya rasa buku ini juga merupakan bagian dari fantasi tentang dunia global. Tentang petualangan ke negeri-negeri asing, membuka batas-batas. Tentang pertemuan.

Fantasi itu telah menjadi kenyataan hari ini. Orang dengan mudah bepergian dari satu negeri ke negeri lain. Barang yang kita miliki didesain di California, dirakit di Vietnam, dan bahan bakunya dari Nigeria. Anak saya bisa ”berjalan-jalan” ke Menara Eiffel dengan Street View Google berkat jaringan serat optik lintas benua.

Fantasi yang dibawa buku semacam Voyage de Paris à Java telah membawa dunia sejauh ini. Sekaligus pada akhirnya ia membawa kecemasan baru. Gerakan anti-imigran merebak di mana-mana, diikuti politik identitas yang sektarian, hingga di beberapa tempat menjurus ke kekerasan.

Tentu ia juga memberi kita kejutan, yang tak terbayangkan sebelumnya, termasuk wabah korona yang menyebar dalam skala global. Persebaran luas ini hanya bisa terjadi karena adanya pergerakan manusia dan barang lintas negara, lintas benua. Apakah kita harus mengutuk fantasi Balzac? Tidak.

Kita hanya perlu memiliki fantasi lain, harapan lain, rasa penasaran lain dan tergerak olehnya. Setidaknya dari Blindness, kita bisa mencegah wabah tak berujung menjadi situasi anarkistis di mana, siapa yang punya uang lebih, bisa memborong masker dan mi instan lebih banyak.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 7 Maret 2020.

Lempar Kuasa

”Kalau itu terjadi pada adik perempuanku, akan kucari anak-anak itu. Kugampar bersama bapaknya sekalian.” Begitu seseorang berkomentar mengenai video perundungan tiga anak lelaki atas satu anak perempuan.

Memang bikin kesal, bahkan emosi, melihat video, berita, atau bahkan sekadar omong-omong perundungan, terutama yang menyangkut anak-anak di sekolah. Setiap orang tua atau kakak pasti memahami rasa kesal sekaligus kecemasan semacam itu.

Perundungan hanya terjadi terutama jika pihak yang melakukannya merasa memiliki kuasa lebih daripada korbannya. Lihat video peristiwa perundungan yang dialami seorang siswi SMP di Purworejo. Tiga anak lelaki menghadapi satu anak perempuan.

Itu merupakan pertunjukan kekuasaan. Kekuasaan dengan dasar machoisme, yakni kekuasaan fisik yang lebih kuat atas yang lemah. Juga kekuasaan secara kuantitas, pengeroyokan. Dalam gerombolan, seorang pengecut sekalipun akan merasa punya kuasa lebih.

Bahkan dengan merekam adegan perundungan itu, secara sadar mereka ingin memperlihatkan pertunjukan kekuasaan tersebut ke wilayah lebih luas. Meskipun tentu saja rekaman yang sama malah bisa menjadi serangan balik untuk mereka.

Yang menarik adalah bagaimana pertunjukan kuasa itu kerap kali juga dilawan dengan pertunjukan kuasa lain. Ya, kuasa mengenal hierarki. Jika tiga lelaki merasa berkuasa atas satu anak perempuan, jumlah pengguna media sosial yang tak terhitung bisa jauh merasa lebih kuasa atas tiga anak lelaki itu.

Demikianlah dengan mudah kita menemukan ancaman-ancaman kekerasan seperti itu. Media sosial memungkinkan kita merasa memiliki kuasa lebih. Terutama karena jumlah dan distribusi.

Sisi baiknya, kita menemukan bahwa kuasa di media sosial bisa dipergunakan untuk memberikan tekanan kepada praktik-praktik penyalahgunaan kuasa. Sebagaimana kasus perundungan akhirnya menarik perhatian polisi, bahkan gubernur.

Pertunjukan kuasa juga bisa terjadi di wilayah birokrasi. Kita tentu mengenal lelucon lama, ”Jika bisa dibikin susah, kenapa dibikin mudah?” Saya rasa itu muncul dari mentalitas merasa berkuasa. Korupsi salah satu bagiannya. Ia merasa berkuasa, maka ia merasa berhak atas sesuatu yang sebenarnya bukan haknya.

Franz Kafka merupakan salah satu novelis yang sangat cerdas memperlihatkan parabel tentang pertunjukan kuasa itu. Terutama, bagi saya, terlihat di novel terakhirnya yang tak terselesaikan, The Castle.

Dikisahkan, K seorang juru ukur tanah datang ke sebuah kastil untuk melakukan survei atau pengukuran. Sebagai orang asing, dia dipermainkan oleh pemilik penginapan. Ketika tahu bahwa dia diundang oleh kastil, pemilik penginapan langsung mengkeret, apalagi ketika datang anak pegawai kastil. Kini kuasa berada di tangan si anak pegawai kastil, yang kemudian merasa berhak merundung K.

Yang terjadi, K dirundung oleh sebuah kekuasaan, terbebaskan dengan cara jatuh ke perundungan kekuasaan yang lebih besar. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering mengalaminya?

Berapa kali dalam hidup kita dibuat repot oleh urusan di rumah pak RT hanya untuk dilempar dan dibuat repot di kantor kelurahan? Kemudian dilempar dan dibikin repot lagi di kantor kecamatan? Dilempar ke kantor kependudukan?

Dalam tingkat tertentu, disrupsi kuasa itu kadang muncul dalam bentuk yang aneh. Belum lama beredar pula video viral petugas polisi lalu lintas memperoleh ancaman fisik dari pengemudi yang kena tilang. Itu aneh dalam dua tingkat.

Pertama, polisi merupakan alat negara yang berhak menggunakan kekerasan. Jika terancam, dia seharusnya melawan balik dan langsung memborgol si penyerang. Kedua, si pengemudi akhirnya ditangkap selepas video itu menyebar. Bahkan polisi pun menunggu dukungan kuasa masyarakat?

Banyak orang akhirnya mengapresiasi kesabaran polisi. Apakah polisi lebih mementingkan apresiasi kesabaran daripada penindakan atas sebuah ancaman fisik?

Jelas saya malah khawatir kita sudah terjerumus ke sikap, jika urusan satu hal bisa dilemparkan ke warga internet di media sosial, kenapa harus diurus sendiri? Jika itu dilakukan oleh korban yang tak berdaya, kita bisa mengerti.

Tapi, jika dilakukan oleh mereka yang memiliki kuasa formal? Jangan-jangan, selain mempertunjukkan kuasa, ternyata pura-pura tak berkuasa kadang ada enaknya juga, lho.

Diterbitkan sebelumnya di Jawa Pos, 15 Februari 2020.

Merasa Benar dan Merasa Salah

Ketika saya berkunjung ke Ho Chi Minh tempo hari, saya melihat lalu lintas di kota itu jauh lebih semrawut daripada Jakarta. Tapi, pada saat bersamaan, jarang saya mendengar keributan karena kekacauan itu.

Saking semrawutnya, pernah taksi daring yang saya pakai terjebak di pertigaan.

Lalu lintas terkunci karena dari semua arah kendaraan saling menyerobot. Sepeda motor naik ke trotoar, juga terjebak saling berhadap-hadapan dengan sesamanya yang melawan arus.

Dari balik kaca mobil, saya memandangi kesemrawutan itu dengan takjub. Tak ada pengemudi yang keluar dan ngomel-ngomel ke mobil di depannya. Hanya satu dua yang memijit klakson, itu pun terdengar malas. Tak ada pak ogah maupun polisi yang datang untuk mengurai keadaan.

Taksi daring saya berhasil keluar dari jebakan tersebut dengan memutar ke kanan, melawan arus, padahal niatnya belok ke kiri. Itu pun nyaris serempetan dengan bus. Sopir bus tetap melajukan busnya dengan pelan. Taksi daring saya pun tetap melaju, hanya menyisakan cukup ruang untuk kaca spion saja.

Penasaran, saya bertanya kepada si pengemudi taksi daring itu, ”Kenapa kalian tidak marah? Ada orang menyerobot lampu merah. Ada yang melawan arus. Ada yang naik trotoar. Saya heran kenapa kalian tenang-tenang saja?”

Jawaban sopir taksi daring itu mengejutkan saya, meskipun dikatakannya sambil tertawa: ”Karena semua orang tahu dirinya salah.”

Tiba-tiba saya membayangkan skenario yang berbeda. Bayangkan jika para pengemudi itu semuanya merasa benar. Yang bergerak selepas lampu hijau akan keluar dari mobil dan memaki mobil yang menerobos lampu merah. Tapi, si penerobos lampu merah merasa benar juga, karena lampunya ”terlalu cepat ganti”.

Perang mulut dan perang klakson akan terjadi. Bahkan gebrak-gebrakan di kaca mobil. Itu sering saya lihat di jalanan Jakarta, di mana mantra baru diciptakan: ”Lo yang salah, lo yang marah.”

Kalau dipikir-pikir, betul juga. Konflik sering kali terjadi ketika dua pihak atau lebih sama-sama merasa benar, atau mengklaim diri/kelompoknya lebih benar dari yang lain. Klaim kebenaran sering kali tak memerlukan bukti, tapi orang bisa memperjuangkannya, mengorbankan apa pun, demi klaim tersebut.

Mereka bersedia adu jotos di jalanan, jika menyangkut orang per orang. Atau saling lempar rudal, jika itu terjadi antarnegara.

Di kisah Mahabharata, konflik antara keluarga Pandawa dan Kurawa juga bisa disederhanakan karena kedua pihak sama-sama mengklaim kebenaran versi masing-masing. Keluarga Kurawa merasa berhak sebagai ahli waris kerajaan karena ayah mereka adalah raja. Keluarga Pandawa juga merasa berhak karena ayah keluarga Kurawa buta dan tak berhak jadi raja.

Siapa yang lebih benar? Mereka harus memutuskannya dalam perang besar yang penuh tragedi dan pertumpahan darah. Sebuah perang yang nyaris menyerupai perang dunia, karena melibatkan begitu banyak sekutu di kedua pihak.

Begitu juga dalam kisah legenda dua murid Aji Saka. Kedua muridnya bertengkar karena sama-sama merasa benar. Yang pertama merasa benar karena bersikukuh pada perintah sang guru untuk diam menjaga pusaka. Yang kedua merasa benar karena juga bersikukuh pada perintah sang guru untuk pergi menemui guru mereka. Keduanya akhirnya bertarung hingga maut menjemput.

Siapa di antara mereka yang benar? Bahkan jika ternyata keduanya berada dalam kebenaran masing-masing, apa gunanya ketika keduanya sudah berkalang tanah? Kematian mereka pada akhirnya menjadi sejenis tragedi, yang tentu disesali sang guru. Perkelahian mereka, saya rasa, tak akan terjadi jika keduanya merasa bersalah.

Tapi, tunggu. Sikap merasa bersalah mungkin akan mengurangi banyak konflik atau pertengkaran, bahkan peperangan. Kita sering mendengar di perbincangan sesama kawan atau pasangan, ”Sudahlah, kita sama-sama salah.” Lalu, perdamaian tercipta. Atau, setidaknya mereka sama-sama terdiam dan menyesali kesalahan masing-masing.

Meskipun begitu, sikap untuk selalu sama-sama merasa salah seperti yang saya saksikan di pertigaan Ho Chi Minh adalah kesemrawutan. Kesalahan dinormalisasi. Orang menjadi permisif kepada kesalahan. Orang merasa bebas berbuat salah, karena tahu orang lain juga berbuat salah, dan tak ada yang merasa berhak untuk memperbaikinya.

Saya tak merasa sikap merasa salah merupakan antitesis yang baik untuk sikap merasa benar.

Dalam hal ini, kita bisa belajar dari tradisi dan praktik keilmuan di mana sikap merasa benar dan salah diberlakukan bersamaan. Tanpa sikap merasa benar, kita tak akan menemukan perdebatan sengit saling merontokkan argumen. Tapi, tanpa sikap merasa salah, kita juga tak akan menyaksikan ilmu pengetahuan terus mengoreksi dirinya sendiri, menguji dan mengumpulkan bukti-bukti pendukung argumennya.

Merasa benar dan salah hanya bisa terjadi dengan sehat jika ia memiliki batas. Dan batas itu sangat sederhana: sebuah kerendahan hati untuk berhenti di titik ”jika terbukti sebaliknya”. Silakan merasa benar, sampai terbukti sebaliknya. Silakan merasa salah, juga sampai terbukti sebaliknya.

Dengan begitu, kita tak juga perlu menciptakan mantra baru, ”Gue yang bener, gue yang minta maaf.”

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 1 Februari 2020.

Kisah Sukses

Sekali waktu saya ingin mengganti ban mobil yang sudah pecah-pecah. Saya mencari toko ban di sekitar rumah dan menemukannya. Tokonya komplet dengan peralatan bengkel yang canggih. Saya disambut pemiliknya: sepasang suami istri berumur awal 30-an.

Bagaimana pasangan semuda itu menguasai seluk-beluk bengkel dan jual beli ban? Mereka berani memasang tarif lebih murah dari pesaingnya yang lebih besar, membuat tokonya ramai. Tak perlu lama bagi saya untuk mengetahui rahasianya.

Tak jauh dari toko ban itu, ada toko lain dengan nama yang sama. Toko itu milik orang tua si istri. Rahasia sukses membuka bengkel dan toko ban adalah… punya keluarga yang terjun di bidang yang sama!

Apakah saya sedang bercanda? Tidak. Ingin jadi politikus sukses hingga menjadi ketua DPR? Akan lebih mudah jika ibumu Megawati dan kakekmu Soekarno. Punya ambisi jadi wali kota Solo? Lebih mudah jika ayahmu Joko Widodo.

Ingin jadi anak band dan pintar main musik? Jalanmu jauh lebih mudah jika ayahmu Ahmad Dhani dan ibumu Maia Estianty. Rahasianya di sini: Dari bayi, kamu sudah melihat gitar, piano, drum. Dari kecil, telingamu terbiasa mendengarkan musik, bermain ke studio, dan melihat konser.

Lantas, bagaimana cara orang kebanyakan tanpa latar belakang lingkungan dan keluarga macam begitu meraih sukses di bidang itu? Sialnya, buku-buku yang saya baca, saya menyukai kesusastraan, umumnya tak mengajarkan saya kesuksesan.

Saya baru saja membaca cerpen Alexander Pushkin, The Queen of Spades. Itu bercerita tentang anak muda yang berharap memperoleh rahasia kesuksesan di meja judi.

Satu sosok hantu perempuan memberinya rahasia itu. Sukses? Boro-boro. Hantu itu rupanya merupakan gambaran ketamakannya belaka, yang justru sukses mengirimkannya ke rumah sakit jiwa.

Ingat juga Lapar karya Knut Hamsun. Itu kisah seorang pemuda yang berambisi menjadi penulis hebat. Cocok. Saya juga ingin jadi penulis. Alih-alih memperoleh kemasyhuran, si tokoh malah menghadapi susahnya jadi penulis. Penuh derita dan perut keroncongan. ”Lebih baik jadi kelasi kapal saja.” Begitu kira-kira pesannya.

Kadang saya mengintip latar belakang penulis untuk mencari tahu kenapa mereka sukses. Lihat Mary Shelley, penulis Frankenstein. Ternyata dia datang dari keluarga intelektual, bahkan sejak kecil diajari ayahnya berbagai bahasa asing agar bisa membaca banyak buku.

Apakah itu seperti pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Tak persis seperti itu. Jika sejak kecil sudah membaca buku dalam berbagai bahasa, peluang menjadi intelektual memang lebih besar; sebagaimana jika sejak kecil hidup di lingkungan garong, peluang jadi perampok juga besar.

Sekali lagi, jadi bagaimana jika keluargamu tak punya tradisi intelektual, tapi pengin jadi penulis dan pemikir? Bagaimana jika di keluargamu tak ada gitar atau piano, tapi pengin jadi anak band?

Saya rasa, di titik inilah berbagai kisah sukses masuk dan bagaimana orang-orang menyukainya. Ia memberi harapan. Sebab, tanpa harapan, apalah artinya hidup? Barack Obama, anak separo kulit hitam, bukan keluarga Kennedy atau Bush, toh bisa jadi presiden Amerika.

Masalahnya, kebanyakan kisah sukses, di novel maupun di film, di televisi maupun di obrolan warung kopi, terus mengglorifikasi pencapaian individu semacam itu. Semacam kisah tentang perjuangan hidup, keteguhan hati, dan keyakinan pasti membawamu ke keberhasilan.

Ngomong-ngomong soal semangat untuk terus berjuang, saya malah teringat Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway. Sudah berhari-hari dia tak berhasil menangkap ikan, tapi dia tetap melaut. Tetap berjuang dan yakin bisa menangkap ikan. Apakah dengan modal perjuangan dan keyakinan dia berhasil?

Ya, dia berhasil menangkap seekor marlin besar. Tapi, marlinnya habis dirampok ikan-ikan hiu. Tanpa harus dikatakan di novel itu, saya bisa membayangkan, menangkap ikan jauh lebih mudah jika kamu punya kapal besar dengan belasan kru terlatih.

Sejujurnya, saya lebih senang membicarakan kisah sukses yang jauh lebih nyata: untuk sukses membuka bengkel dan toko ban, memang lebih mudah jika punya orang tua dalam bisnis itu. Tak perlu sungkan untuk mengatakan bahwa seseorang berhasil menjadi CEO start-up ya karena keluarganya juga memiliki perusahaan besar.

Itu menjadi penting justru untuk menyadarkan kita bahwa selain urusan kerja keras, motivasi, keteguhan pribadi, ada hal yang jauh lebih penting: akses. Untuk jadi anak band, kamu harus punya akses terhadap alat dan pengetahuan musik, juga melihat dan mendengar musik. Untuk jadi pengusaha, kamu harus akrab dan memiliki akses terhadap jejaring bisnis.

Dan, yang menyediakan akses itu tak selalu harus orang tua. Di sinilah negara dan masyarakat seharusnya hadir. Jadi penulis? Tak perlu punya orang tua yang juga penulis. Cukup punya akses terhadap bacaan bermutu dan tradisi berpikir yang bebas, sehat, dan terbuka di masyarakat.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 4 Januari 2020.

Bukan Sinema, Bukan Sastra, Juga Bukan Kopi

Tempo hari sutradara papan atas Hollywood, Martin Scorsese, membuat heboh dengan pernyataannya bahwa film-film Marvel bukan ’’sinema’’. Mereka lebih mirip wahana taman hiburan, sambungnya dalam opini di New York Times (4/11/2019).

Gampang diduga, banyak yang protes. Ada yang menganggapnya sebagai si tua yang gamang menghadapi perubahan zaman. Ada juga yang membela film-film Marvel, bilang film-film itu juga menyajikan hal-hal serius untuk dipikirkan, tak hanya dipenuhi atraksi hiburan dan drama yang diformulasikan.

Kasus semacam itu pada dasarnya sangat umum. Ada banyak penulis, misalnya, yang menganggap novel-novel remaja atau romansa sebagai ”bukan sastra”. Novel-novel itu lebih banyak mengeksploitasi mimpi daripada membentangkan kenyataan, bahkan pada zaman dulu banyak yang menyebutnya picisan.

Atau, coba pergi ke kedai-kedai kopi kecil yang sedang menjamur di berbagai kota. Di tengah kesibukan barista yang mahir mengisahkan berbagai kopi koleksi kedainya, kadangkala kita mendengar kritik terhadap kedai-kedai kopi waralaba: ”Mereka bukan kopi. Itu cuma susu penuh gula dengan rasa kopi.”

Sekilas, kita tengah melihat pertempuran memperebutkan definisi. Maka dengan mudah para pendukungnya saling membela diri, merasa siapa pun berhak atas definisi-definisi tersebut. Film superhero sah disebut sinema, sebagaimana novel romansa sah disebut sastra. Tentu, kedai kopi waralaba internasional pun tetap mengaku menyajikan kopi.

Sebagai seorang pembaca, dengan mudah saya juga akan membela banyak jenis-jenis novel sebagai karya sastra. Tak hanya novel romansa, tapi juga cerita silat, novel horor, atau cerita detektif. Seperti film-film Marvel, novel-novel itu juga tak hanya bisa dinikmati sebagai sensasi hiburan semata, tapi juga bisa menjadi pintu diskusi intelektual.

Pokok soalnya saya kira, perebutan klaim soal definisi ini malah menenggelamkan kritik Scorsese yang lebih penting. Kritiknya terutama ditujukan ke bagaimana film-film waralaba itu diproduksi. Sebelum membuat film, mereka melakukan riset pasar, tes penonton, diperiksa, dimodifikasi, diperiksa lagi sampai siap dikonsumsi.

Mungkin ada orang yang bertanya, memangnya apa yang salah dengan sistem semacam itu di bidang perfilman, perbukuan, atau bahkan kuliner? Atau bidang lainnya? Dari sudut pandang bisnis, tampaknya, memang wajar-wajar saja.

Setiap perusahaan yang telah berinvestasi banyak, mau tak mau, berpikir ke sana. Kalau mereka tahu film apa yang akan ditonton, novel apa yang akan dibaca, atau minuman kopi apa yang bakal laku, tentu mereka akan membuatnya. Di sinilah saya kira kritik Scorsese perlu direnungkan dan tak hanya berlaku di dunia film, tapi bahkan di bidang apa pun.

Kecenderungan melihat film semata-mata sebagai produk industrial, dengan kekuatan kapital di belakangnya, jelas secara langsung menciptakan film-film formula. ”Namanya bisa saja sekuel, tapi secara spirit sebetulnya pembuatan ulang,” tulis Scorsese. Dengan kata lain, ia hendak bilang juga: judul boleh beda, isinya sama saja.

Formula ini menciptakan pola produksi, dan karena mereka juga menguasai distribusi dan bioskop, akhirnya menciptakan pola selera penonton. Yang menjadi ancaman jelas keanekaragaman perfilman. Semakin terancam jika distribusi film juga tak memberikan ruang untuk film-film alternatif, dan semakin parah jika selera konsumen akhirnya terbentuk pada formula tertentu.

Keanekaragaman juga yang terancam jika industri perbukuan hanya didominasi bacaan sejenis. Yang harusnya diperdebatkan memang bukan apakah itu sastra atau bukan, tapi bagaimana kekuatan hegemoni kapital penerbit besar maupun toko buku tidak menciptakan bacaan yang nyaris seragam.

Hal yang sama tentu berlaku bagi kopi: jangan sampai suatu masa, satu generasi hanya mengenal kopi tak lebih dari ”campuran susu penuh gula berasa kopi”. Jika ini terjadi, keanekaragaman sumber kopi (dari mana kopi berasal), cara memperlakukan kopi, cara mengolah, hingga cara menyajikan, jelas bisa terancam.

Kritik Scorsese jika dilihat sebatas ”sinema” dan ”bukan sinema” memang tampak emosional. Ujung-ujungnya, orang bisa jatuh pada apologi ”perbedaan selera”. Kita sering lupa, selera juga dibentuk. Industri besar dengan kapital dan distribusi luas memiliki kekuatan yang besar untuk menciptakan selera, menyeragamkan konsumsi. Di film, di sastra, di sajian kopi.

Scorsese hanya menekan tombol alarm. Kita bisa memilih untuk waspada atau terus terlelap.

Diterbitkan di Jawa Pos, 16 November 2019.

Menghormati Manusia dan Kerja-Kerjanya

Kerja, kerja, kerja. Setelah memerintah selama lima tahun, Joko Widodo rupanya sadar, mantra ’’kerja, kerja, kerja’’ saja tak cukup.

Butuh manusia yang melakukannya, yang bekerja. Bahkan juga butuh manusia untuk menikmati hasil kerja-kerja tersebut.

Tentu saja kalau sekadar manusia, kita punya banyak. Ada seperempat miliar lebih manusia yang tinggal di negeri ini.

Bikin infrastruktur di mana-mana, butuh manusia untuk membangunnya. Ingin pariwisata maju, ya butuh manusia yang terampil pula di bidangnya. Ingin perekonomian digital mengatasi kesenjangan sekaligus menciptakan pertumbuhan, tetap saja butuh jago-jago coding dan teknologi informasi.

Sekarang bayangkan, setelah terbentang jalan di mana-mana, siapa yang akan mempergunakannya? Ya, manusia. Bagaimana jika ia tak punya kendaraan? Ya, beli mobil atau motor. Kalau tak punya uang? Ya, harus bekerja dan berpenghasilan. Kalau tak punya keterampilan? Ya dilatih, dibikin pintar di sekolah.

Kalau sekolah tak bikin manusianya terampil ataupun pintar? Ya, akhirnya kosonglah bentangan jalan-jalan tersebut. Infrastruktur jalan pada akhirnya bukan untuk kura-kura lewat. Bukan pula sekadar objek foto-foto cantik.

Sekarang kita punya jaringan tulang punggung internet yang membentang menaungi seluruh wilayah negeri. Siapa yang bisa memanfaatkannya? Tentu saja manusia.

Problemnya, untuk memanfaatkan infrastruktur seperti internet, kita tak sesederhana bisa memberikan seperangkat komputer kepada seseorang. Dibutuhkan prasyarat, baik ekonomi maupun budaya.

Dan, di situlah memang jebakannya. Teknologi, sejak awal mula ditemukannya, serta hasil-hasilnya, selalu memiliki dua sisi yang berseberangan untuk manusia.

Pertama, teknologi mampu membantu pekerjaan-pekerjaan manusia. Kedua, sialnya, teknologi juga mampu merebut pekerjaan-pekerjaan tersebut juga dari manusia.

Manusia harus dipersiapkan tak hanya untuk menciptakan teknologi, demi membantu kerja-kerjanya. Manusia juga harus dipersiapkan untuk menghadapi segala macam dampak teknologi agar sebisa mungkin tidak merugikan kehidupannya.

Setelah pembangunan, sebagian besar bersifat fisik, sangat masif selama lima tahun terakhir, kesadaran akan pentingnya manusia mungkin terdengar sangat terlambat. Tapi, seperti orang bijak bilang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Pertanyaannya, pembangunan manusia macam apa yang dibayangkan oleh pemerintahan Joko Widodo?

Ketika naik ke pucuk kepemimpinan nasional tahun 2014, ia diantar oleh harapan yang membuncah. Rakyat bahkan turun ke jalan dalam suasana karnaval di hari pelantikannya.

Di tahun ini, ketika ia akan melanjutkan kepemimpinannya lima tahun ke depan, pelantikannya diwarnai oleh penjagaan ketat tentara dan polisi. Ia tidak diantar oleh euforia penuh harapan, malahan diselimuti awan kelabu kerisauan.

Dan, menurut saya, itu ada hubungannya dengan kegagalan pemerintahannya mengurusi manusia. Jika ia gagal melakukannya di lima tahun pertama, bagaimana ia bisa memberikan optimisme di lima tahun kedua?

Kenapa saya bilang gagal?

Pertama-tama, bicara tentang manusia tak bisa dilepaskan dari hal paling fundamental tentang manusia: hak-hak asasinya. Lima tahun terakhir, hak asasi manusia merupakan salah satu bidang dalam pemerintahannya yang bernilai buruk, merah, jika kita harus memberikan rapor kepadanya. Bahkan bisa dibilang sebagai bidang yang paling terabaikan.

Memang tak semata-mata kesalahan pemerintahan Joko Widodo seorang. Beberapa kasus hak asasi manusia merupakan warisan lama, yang membentang bahkan ke pemerintahan presiden-presiden sebelumnya. Tapi, Joko Widodo sendiri pernah menjanjikan penyelesaian beberapa kasus, dan sampai akhir periode pertama, kasus-kasus itu tak juga tersentuh.

Ngomong-ngomong, sebetulnya apa hubungan antara penyelesaian kasus hak asasi manusia dan kehendak pemerintah untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia? Tentu saja ada, dan untuk saya, itu sangat mendasar.

Coba kita kembali bayangkan: untuk apa membangun bandara superluas jika harus mencerabut petani dari sawahnya? Merebut manusia dari pekerjaannya? Tanpa pekerjaan, ia tak berpenghasilan. Tanpa penghasilan, ia tak mampu beli tiket pesawat, dan tanpa penumpang, bandara tak ada gunanya?

Bayangkan pula, pembangunan besar-besaran mungkin menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang baik. Keluarga sejahtera, anak-anak bisa sekolah. Pada saat yang sama, ketika mereka merasa perlu bersyukur atas nikmat dunia tersebut, mereka dihadapkan pada kenyataan: tempat ibadah tak tersedia. Tempat ibadahnya digusur karena ditolak oleh tetangga-tetangganya.

Sangat mustahil membayangkan penguatan sumber daya manusia jika hak-hak dasar mereka dicerabut. Petani takut tanahnya dirampas. Seniman takut sensor. Intelektual takut dirundung ormas. Menulis disertasi takut menyinggung umat beragama. Dan, kita tahu, itu semua terjadi dalam lima tahun pemerintahan Joko Widodo.

Jika Joko Widodo berharap meningkatkan sumber daya manusia, Ia harus menyelesaikan utang-utangnya terhadap berbagai kasus hak asasi manusia. Utang masa lalu maupun utang dari pemerintahannya, tanpa pilih-pilih.

Ia harus mulai menghormati manusia Indonesia dan kerja-kerjanya. Petani dari tanahnya, nelayan dari lautnya. Intelektual dari buku-bukunya. Buruh dari alat-alat produksinya. Ia harus membebaskan manusia Indonesia dari rasa takut ketika mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menghidupinya.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 26 Oktober 2019.

Pertanyaan tentang Manusia, Pengantar untuk Dua Buku S. Rukiyah

“Cinta itu cerita lama,” kata seorang tokoh di novel Kejatuhan dan Hati, S. Rukiyah. Dengan berbagai variasi, ia mengulang hal itu di banyak tempat, meskipun sesekali juga ditambahkan bahwa cinta lama bisa dibuat menjadi cinta yang baru.

Di permukaan, kisah ini tampak sejenis romansa biasa. Tentang cinta yang tak disetujui, cinta yang tak berkembang kemudian menjadi patah hati, cinta yang terlanjur, tanggung jawab, penyesalan, kebohongan dan rasa terombang-ambing. Tapi di balik semua itu, dan inilah kelebihan S. Rukiyah, terdapat berlapis-lapis kisah, pengamatan yang tajam tak hanya hati dan prasangka manusia, tapi juga masalah-masalah sosial.

Pertama-tama kita melihat sejenis arsitektur kekuasaan dalam bentuk sebuah keluarga kecil. Di puncak kekuasaan adalah sang ibu, dan ini jelas keluar dari stereotif tentang ayah-yang-berkuasa. Saya tak melihat ini sebagai indikasi struktur keluarga yang matriarki, karena bagi saya, si ibu di novel ini sesederhana sebuah perlambang mengenai kekuasaan yang tak hanya bengis (marah-marah dan mengatur), tapi juga hegemonik (pikirannya sanggup menerobos memengaruhi anggota keluarga), membuat aneka macam reaksi yang ditimbulkan olehnya.

Dari keluarga kecil inilah, kemudian kita mempelajari berbagai macam watak manusia ketika ia harus dihadapkan dengan kekuasaan. Si ibu jelas sewenang-wenang, dengan ukuran-ukuran nilainya sendiri (dalam hal ini, baik dan benar untuknya diukur dengan segala hal yang bersifat benda dan keduniawian).

Ia memiliki tiga anak perempuan dan masing-masing memiliki reaksinya masing-masing. Yang pertama berdiri di ekstrem yang jauh: memberontak terhadap nilai-nilai si ibu. Ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup sendiri. Ia harus tercerabut, atau dengan kata lain: terbebaskan. Ia berada di luar orbit kekuasaan. Anak kedua, seorang penurut yang memperoleh imbalan melimpah: dipuja dan dijadikan anak kesayangan oleh sang ibu. Ia pewaris sejati nilai-nilai keluarga ini, dan dapat dipastikan yang akan menjadi penerus nilai-nilai tersebut.

Anak bungsu, si narator, ada di tengah-tengah mereka. Terombang-ambing di antara kehendak untuk memberontak dan hasrat untuk takluk dan membuat senang ibunya. Justru si anak inilah yang hidupnya penuh warna: lari dari rumah, bergabung dengan palang merah, ikut dalam pergumulan revolusi, mendengar dan membaca gagasan-gagasan besar, tapi pada saat yang sama terus disiksa oleh perasaan cinta yang puritan, kerinduan kepada perlindungan rumah dan ibu, serta harapan akan sebuah keluarga. Hidupnya merupakan sejenis tragedi, yang di tangan S. Rukiyah tampak tanpa tedeng aling-aling, seperti sengaja dijerumuskan ke sana.

Dan si ayah merupakan sosok lain lagi yang tak kalah menarik, yang saya rasa tak perlu diceritakan lebih jauh di sini.

***

S. Rukiah merupakan salah satu perempuan penulis yang menghasilkan karya dalam berbagai genre sekaligus. Tak hanya novel, ia juga menulis puisi dan cerita pendek, semisal yang diterbitkan dalam Tandus (sajak-sajak dan kisah-kisah).

Seperti dalam novelnya yang di atas, S. Rukiyah tajam melihat nasib-nasib manusia di tengah gelombang sejarah yang bergerak dan berderak. Sementara di sisi lain ia memiliki harapan besar atas sejarah yang tengah bergulung-gulung ini, pada saat yang sama ia juga menaruh simpatinya yang meluap-luap kepada berbagai watak yang harus tergulung.

Watak-wataknya seringkali merupakan sosok-sosok lugu, yang bahkan tak tahu apa itu “raja” atau “presiden”. Juga tak mengerti benar dengan keberadaan kumpeni maupun tentara pendudukan Jepang. Ini bisa dilihat misalnya dalam sosok Mak Esah di cerpen dengan judul yang diambil dari sosok ini, “Mak Esah”. Ia hanyalah seorang perempuan tua, yang hanya tahu soal bagaimana hidup dengan baik dan berbuat baik dengan sesama. Ia percaya, jika ia berbuat baik, Tuhan akan selalu melindunginya. Hubungannya dengan kekuasaan di luar dirinya hanya dimengerti melalui uang bergambar presiden. Demikian lugunya, ia bahkan tetap tak mengerti kenapa rumahnya harus dibakar dan segala yang dimilikinya harus lenyap dalam sekejap.

Hal yang sama bisa dilihat di cerpen “Istri Prajurit”. Siti barangkali lebih berpendidikan daripada Mak Esah. Ia setidaknya pernah pergi sekolah dan bisa menjahit. Meskipun begitu, tetaplah ia hanya buih dari sebuah gelombang dahsyat perubahan masyarakat, yang terombang-ambing ke sana-kemari dan tak tahu kenapa itu terjadi. Bahkan meskipun ia seorang istri seorang prajurit sekalipun.

Apakah mereka merupakan sosok-sosok korban revolusi? Meskipun benar seringkali sosok-sosok dalam novel maupun cerpen S. Rukiyah habis dihajar arus peradaban (dari kolonialisme, pendudukan Jepang, revolusi, hingga perang saudara), ada karakter yang khas dalam sosok-sosok ini. Mereka seperti rumput yang digilas badai dan gelombang. Terayun-ayun ke sana-kemari dengan keluguan dan ketidaktahuan. Tapi pada saat yang sama, mereka tak pernah tercerabut. Tak pernah pula terbawa arus.

Mereka dihajar terus-terusan, tapi liat dan lentur.

Kita masih bisa menemukan hal-hal semacam itu di cerpen-cerpennya yang lain, yang seringkali diselipi dengan komentar-komentar yang tegas tentang keadaan sosial di masa itu. Ejekan tentang demikian banyaknya partai, hingga semua orang mabuk partai (di cerpen “Ceritanya Sesudah Kembali”), atau sindiran seorang perempuan atas prasangka yang membeda-bedakan perempuan dan lelaki (juga di cerpen yang sama).

Kisah-kisah ini, selain merupakan telaah yang tekun atas watak-watak manusia dan hubungannya dengan tali-temali serta karut-sengkarut perkara sosial-politik, bisa juga dilihat sebagai catatan sosial yang pentin dari satu waktu dan satu tempat: utamanya masa-masa sebelum dan setelah revolusi kemerdekaan. Kita tak hanya menengok kembali tatanan sosial, tapi juga jargon-jargon dan alam pikiran manusia Indonesia di masa itu.

***

Hidup?
Adakah hidup bahagia,
jika dipaksa hidup menghamba?

Seperti kutipan dari puisi “Pahlawan”, kisah-kisah ini dan juga puisi-puisinya tak semata-mata sebuah pernyataan, tapi yang terpenting adalah sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan tentang manusia orang per orang, dan pertanyaan tentang manusia sebagai kemanusiaan dan peradaban serta alam pikiran yang menyelimutinya.

Saya tak bisa berpikir lebih banyak lagi kecuali meyakini, melalui karya-karyanya, S. Rukiyah jelas salah satu penulis kita yang terpenting dilihat dari beragam sisi mana pun.

Diterbitkan pertama kali sebagai pengantar untuk dua buku karya S. Rukiyah, Kejatuhan dan Hati dan Tandus (sajak-sajak dan kisah-kisah), diterbitkan oleh Ultimus, 2018.

Teman Ngobrol, Pengantar untuk “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”

Apa yang ditawarkan oleh sebuah cerita, selain kabar dari tempat-tempat yang berbeda dan waktu-waktu yang berlainan? Bagi saya sudah sangat pasti: sebuah percakapan. Cerita dalam bentuk cerita pendek maupun novel, bahkan dalam bentuk laporan jurnalistik, surat, catatan perjalanan, senantiasa membawa kabar dari ruang yang lain. Kabar tersebut bisa jadi berupa laporan pandangan mata, bisa jadi sesederhana paparan sebuah gagasan, dan di lain waktu, ia berupa ekspresi perasaan sang penulis. Dalam titik ini kita menangkap kesan satu komunikasi satu arah. Satu pihak melaporkan atau menyampaikan sesuatu, dan pihak lain menerimanya. Setidaknya dalam cerita pendek maupun novel sesungguhnya tidak berlaku demikian. Membaca cerita pendek atau novel, kita bisa membayangkan satu percakapan intim antara penulis dan pembaca, dan percakapan ini memberi kita akibat yang sangat penting: bahwa dalam satu cerita, mungkin saja terdapat setidaknya dua narasi yang berbeda. Narasi yang ditulis dan narasi yang terbaca, yang berjalan beriringan tanpa kehendak untuk mengubur yang lainnya. Bahwa kebenaran, kesimpulan, kata akhir, atau apa pun istilahnya, tak harus bersifat tunggal.

Seorang penulis seperti Umar Kayam tak hanya seorang pendongeng yang melaporkan satu keping pertistiwa kepada pembacanya, tapi jauh lebih penting adalah seorang teman bicara. Teman ngobrol.

Bayangkan para pendongeng-pendongeng tradisional di masyarakat kita. Perempuan tua yang duduk di beranda rumah dan dikelilingi gadis-gadis muda, barangkali sambil mencari kutu di rambut rekannya satu sama lain. Kita tahu di masyarakat tradisional, kisah-kisah dituturkan melalui perempuan tua semacam ini. Ia yang mengetahui sejarah leluhur orang-orang desa, nama-nama tempat beserta mitos-mitos yang menyertainya. Kita tahu melalui dongeng-dongeng semacam itu, nilai-nilai pedesaan dilestarikan dari satu generasi ke generasi, demikian pula rasa bangga, haru, ketakutan, kecemasan, kebijaksanaan disampaikan. Akan tetapi, pada saat yang sama, selalu ada ruang bagi para pendengarnya untuk menyelinap ke dalam cerita. Bertanya, membantah, atau meminta si pendongeng melipir menceritakan hal lain. Dalam peristiwa mendongeng semacam ini, kita menemukan si pendongeng tak lebih sebagai teman bicara.

Di warung kopi atau di pos ronda, atau di tempat jagongan, atau di mana pun ketika orang-orang memiliki kesempatan untuk berkumpul, kita menemukan sesuatu yang jauh lebih jelas lagi. Di sini, sang pendongeng biasanya tidak seorang diri, muskipun selalu ada kemungkinan satu atau dua orang menjadi sosok menonjol, barangkali karena kemampuan bicara dan berceritanya maupun keluasan pengetahuan dan pengalamannya melebihi yang lain. Umumnya, pendongeng ganti-berganti di antara anggota kelompok ini. Satu orang bisa jadi berkisah mengenai pertemuannya dengan binatang buas ketika berladang, orang lain mengiyakan dan ia ganti bercerita dari sudut pandangnya mengenai peristiwa yang sama. Orang ketiga lalu membantah bahwa binatang buas itu tak semembahayakan yang mereka kira, sebab ia sendiri telah berjumpa dengan binatang tersebut di waktu yang berbeda. Mereka merupakan para pendongeng, dan pendongeng alamiah bagi saya merupakan teman ngobrol yang membuka ruang percakapan.

Saya memikirkan para pendongeng-pendongeng tradisional semacam ini ketika mengingat nama Umar Kayam. Kesan itu akan terasa ketika kita membaca cerpen-cerpennya, bahkan ketika membaca kolom-kolomnya sekalipun, di mana saya memperoleh kemewahan semacam itu ketika masih tinggal di Yogyakarta dan membaca koran lokal di mana ia menulis, dari mana saya sejujurnya pertama kali mengenalnya sebagai penulis.

***

Di masyarakat urban dan modern, masihkan orang membutuhkan percakapan dan mencari teman ngobrol? Saya yakin kita masih membutuhkannya. Tak hanya membutuhkannya, bahkan tanpa sadar kita terus melakukannya, sebab itu menjadi satu bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan kita.

Saya sering memikirkan mengapa koran-koran di Indonesia, setidaknya di puncak kejayaan mereka sebelum digerogoti oleh revolusi dunia maya, cerita pendek dihadirkan? Tak cuma mereka menerbitkan cerita pendek di halamannya, biasanya di akhir pekan, tapi bisa dibilang juga dalam beberapa dekade, kesusastraan Indonesia didorong dan dihidupi oleh koran-koran ini, baik nasional maupun lokal. Untuk menjawabnya, kita harus melihat sejenak kepada karakteristik berita di koran-koran itu, yang secara langsung kita bicara mengenai jurnalisme secara umum. Seperti cerita rekaan dalam bentuk cerpen atau novel, kita tahu berita juga menyampaikan kabar. Dalam hal ini tak ada bedanya. Ia juga menawarkan percakapan, mungkin tak seintim cerpen atau novel, antara wartawan dan pembacanya. Akan tetap dalam berita, kita dibatasi oleh fakta-fakta yang demikian kaku, yang tak bisa diubah seenak hati. Jika fakta itu salah, berita bisa memperbaikinya sendiri, melalui berita yang lain. Intinya, narasi dengan dua bahan atau lebih yang berbeda rasanya menjadi tidak mungkin. Percakapan menjadi tertatih-tatih.

Koran, sebagaimana buku, merupakan produk masyarakat modern, hasil dari revolusi mesin cetak. Ia jelas berbeda dengan cara kerja para pendongeng tradisional, yang bisa disanggah oleh pendengarnya di pertengahan cerita. Meskipun begitu, bukan berarti hasrat untuk bercakap-cakap, untuk menemukan teman ngobrol lantas menghilang begitu saja. Demikianlah saya kira, kenapa di surat kabar, kita tak hanya menemukan cerita dalam makna berita, tetapi juga ada ruang-ruang untuk pembaca berkomentar, ada ruang bagi suara yang lain dalam bentuk kolom, dan akhirnya bahkan ada ruang untuk cerita pendek. Ini hal menarik sebab melalui cerita pendek, kita bisa menghidupkan percakapan yang mungkin tak diberikan berita. Ia tak selalu memedulikan fakta, ia bahkan bisa tak memedulikan realita. Ia bisa mengawang-awang, bisa menjungkir-balikkan apa yang ditulis di berita bahkan di hari yang sama. Itu membuat koran, dan masyarakat pembacanya, berada dalam ruang percakapan yang luas.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat urban, kita masih melihat manusia terus bercakap-cakap. Di ruang tunggu dokter gigi, mereka akan saling menyapa meskipun tak saling kenal, dimulai dengan basa-basi tentang keadaan gigi mereka, kemudian tentang cuaca, hingga sesuatu yang lebih serius mengenai kesehatan dan bahkan politik. Demikian pula kita melihat orang bercakap-cakap di kafe, di muka bioskop. Bahkan di layar televisi, acara bercakap-cakap yang merupakan acara paling murah dalam skala produksi penyiaran, merupakan program acara yang umum. Mereka bercakap-cakap tentang pernikahan dan perceraian selebritas, mereka bercakap tentang kebijakan pemerintah, mereka bercakap tentang tuntutan dan tutunan beragama, mereka bahkan bercakap tentang pertandingan sepakbola di negeri yang jauh.

Dan di ruang-ruang pribadi kita juga bercakap-cakap. Tak hanya di Jakarta, misalnya, tapi juga di ruang-ruang pribadi di satu apartemen di Manhattan, New York. Bisa saja mereka mempercakapkan hal yang sama juga seperti di layar televisi, bisa juga sesuatu hal yang lebih pribadi. Tentang mantan suami atau istri yang menunggu di rumah. Atau bahkan tentang hal konyol seperti warna bulan di langit dan kelap-kelip lampu dari jendela gedung-gedung pencakar langit. Segala hal di percakapkan, sebab manusia tetap dan akan selalu membutuhkan hal ini.

***

Dalam cerpen-cerpen Umar Kayam kita bisa melihat bahkan percakapan-percakapan itu demikian nyata. Ia tak hanya mengajak kita, pembacanya, untuk bercakap-cakap, tapi juga mengajak dan membiarkan tokoh-tokohnya juga bercakap-cakap. Kita bisa melihat atau merasakan betapa gentingnya kebutuhan mereka untuk melakukan perbincangan, penuh hasrat untuk menemukan teman ngobrol, dan kita ada untuk memberikan diri sendiri sebagai pendengar sekaligus menciptakan narasi sendiri melalui cerita mereka.

Percakapan ini tak hanya menyiratkan keberadaan hubungan sosial antara satu manusia dengan manusia lain, tapi juga mewakili begitu banyak hal.

Dalam percakapan antara Marno dan Jane, kita tahu itu tak semata-mata menyiratkan hubungan di antara mereka, tapi juga menyangkut istri Marno dan Tommy, mantan suami Jane. Percakapan tak hanya merujuk kepada orang-orang yang melakukan percakapan, tetapi juga apa dan siapa yang mereka percakapkan. Tak hanya itu juga, percakapan juga membawa atau mengungkapkan emosi dan pikiran tertentu. Rasa sentimental kepada masa lalu, rasa sesal maupun harapan, dan pada saat yang sama, juga menyiratkan sesuatu yang tak terkatakan, yang menuntut pembaca untuk mengisinya, mengajaknya menjadi bagian dari percakapan tersebut. Teman ngobrol yang lain. Jadi bagi Jane, ia membutuhkan Marno tak hanya sebagai teman di mana percakapan bisa terjadi (demikian pula sebaliknya), yang tak kalah penting adalah kebutuhan untuk mengeluarkan sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang harus dikatakan, bahkan tanpa perlu menimbang akibat-akibatnya. Bisa jadi mengatakan sesuatu bisa membuat percakapan menjadi menyenangkan, bisa pula berakhir menjadi percakapan yang dingin dan berakhir dengan perpisahan yang hambar sebagaimana terjadi pada Jane dan Marno. Sesuatu harus dikeluarkan dan dibutuhkan seseorang untuk mendengarkan, meskipun untuk itu tak hanya diperlukan kata-kata, tapi juga scotch dan martini.

Bayangkan tentang sepasang suami istri yang meninggalkan negerinya dan terdampar di kota sibuk macam New York. Sang suami sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya sementara si istri hanya menunggui anak di rumah, tanpa kesibukan lainnya. Ia bisa saja mengisi waktu dengan berjalan-jalan ke taman, memasak, atau tidur, tapi kebutuhan untuk memiliki teman ngobrol jelas sesuatu yang tak terelakkan untuk sebagian besar orang. Manusia bisa menghadapi tembok-tembok menjulang, sekat-sekat bernama dinding dan pintu, lorong-lorong kosong, tapi ketiadaan percakapan saya kira merupakan dinding tebal dan lorong kosong sekaligus, yang lebih mengimpit dan menciutkan. Dalam keadaan begitu sangatlah wajar menemukan seseorang mengetuk pintu rumah tetangga, seperti menyapa orang asing di jalan, bahkan dengan mencari-cari alasan sesepele meminjam beberapa sendok gula, hanya agar memperoleh teman ngobrol. Tak penting apa yang akan diperbicangkan, yang terpenting menemukan seseorang terlebih dahulu, dan selebihnya bisa mengeluarkan apa yang harus dikeluarkan dari dalam kepalanya.

Demikianlah kita bisa bertemu dengan manusia macam Madamme Schlitz. Ia memang punya seekor anjing peliharaan kepada siapa ia bisa bicara, tapi kepada manusia ia tak hanya bicara, tapi juga mendengar, dan menciptakan percakapan. Bahkan meskipun apa yang dikatakannya, cerita yang disampaikannya, hanya dianggap bualan atau kegilaan.

***

Hasrat untuk menyampaikan sesuatu jelas bukan satu-satunya alasan manusia melakukan percakapan. Tak kalah penting adalah kebutuhan untuk memenuhi rasa ingin tahu, keinginan untuk membuka tabir misteri. Dalam kerumunan orang di masyarakat tradisional di mana seorang pendongeng menyampaikan kisahnya, orang-orang itu jelas menunggu dan mendengar dengan perasaan ingin tahu. Kisah apa yang akan disampaikan? Apa yang terjadi di tempat lain atau di masa lampau? Apa yang telah dilihat dan dialami sang pendongeng? Apa pula pendapatnya tentang hal-hal yang dilihat dan dialaminya itu? Perasaan ingin tahu pada akhirnya akan mendorong seseorang untuk bertanya, dan pertanyaan barangkali akan memperoleh tanggapan, demikianlah sebuah cerita sekali lagi merupakan percakapan.

Di masyarakat modern dan urban, tentu saja hal ini juga berlaku. Kita membaca koran setiap pagi (atau di masa sekarang, membuka lini masa di dunia maya) karena kita juga didorong oleh rasa ingin tahu mengenai apa yang tengah terjadi, atau bagaimana kelanjutan dari peristiwa yang telah terjadi. Hal ini juga berlaku kepada siapa pun yang membaca cerita pendek atau novel. Ia ingin tahu, seperti istri si mahasiswa yang terperangkap di kota sibuk New York yang bagaikan raksasa tak pernah kenyang ingin tahu siapa Madam Schiltz, kenapa ia bernama seperti itu, kenapa ia tinggal sendiri, dan kenapa ia tiba-tiba menghilang.

Kita bisa bicara tentang rasa ingin tahu sebagai ciri khas yang sangat manusiawi, yang membawa manusia ke berbagai peradaban, yang membuat manusia menciptakan atau menemukan berbagai hal. Tanpa rasa ingin tahu kita hanya akan menjadi pendengar yang pasif, yang tidak peduli, dan teman bicara kita hanya akan menyampaikan sejenis monolog yang tak ada gunanya, sebab ia hanya mengalir dan mungkin memuaskan hasrat si penceritanya saja tanpa imbal balik yang semestinya. Tanpa rasa ingin tahu, cerpen maupun novel tak akan ada yang membaca, sebagaimana koran, majalah atau apa pun yang tercetak. Kita hanya memandang deretan huruf-huruf, dan huruf-huruf itu tak lebih dari kontras warna dan bentuk saja.

Tentu saja rasa ingin tahu tak harus selalu melekat kepada hal-hal besar, terhadap penemuan-penemuan dan kabar penting maupun genting dari satu tempat dan satu masa. Kita ingin tahu bagaimana seorang kakek bisa memperoleh kuda-kudaan putih dari seorang anak di taman bermain. Apakah ia akan merebutnya? Apakah ia akan membujuknya? Jika ia membujuknya, dengan cara apa ia akan melakukannya? Apakah si anak bisa dibujuk hingga merelakan kuda-kudaan putihnya kepada si kakek? Lagipula kenapa si kakek masih mau bermain kuda-kudaan yang seharusnya menjadi permainan anak-anak? Kita ingin tahu, betapa sepele pun hal itu, atau tak ada artinya bagi hidup kita atau hidup masyarakat secara umum, dan semata-mata hanya karena ingin tahu. Didorong hal itu kita membaca kisah kakek ini, dan tirai-tirai samar pun terkuak. Kita mungkin tak akan menemukan jawaban yang kita inginkan, tapi apa pedulinya? Dalam hidup kita, satu misteri seringkali membawa kita ke misteri yang lain, dan manusia tak berhenti memenuhi rasa ingin tahunya. Sebab dengan cara seperti itulah manusia terus berbincang, dan pada saat yang sama peradaban terus-menerus diciptakan.

***

Kita bisa melipir sejenak kepada cerpen Umar Kayam yang lain, “Bawuk” yang tak terdapat di kumpulan ini.

Bawuk bisa kita anggap sebagai contoh yang baik dari seorang pendongeng, sebagai teman ngobrol. Bahkan sejak kecil, ketika mereka bersama-sama pergi ke sekolah menaiki dokar, Bawuk merupakan orang yang menghidupkan percakapan di antara dirinya dan kakak-kakaknya. Ia yang bertanya, yang pertanyaannya menuntut tanggapan hingga ia mengerti, dan jika ia tidak bertanya, ia akan menyampaikan ceritanya sendiri, segala pengalaman di kelasnya. Ia sosok lain dari perempuan tua yang duduk di teras rumah mengisahkan legenda-legenda desa, atau seorang musafir yang membagikan pengalamannya di warung kopi yang disinggahinya. Hidupnya berputar tak hanya oleh gerak tubuh dan perilaku, tapi oleh kata-kata yang dikatakan dan didengarnya.

Bahkan ketika ia menulis, dalam hal ini surat-surat yang dikirimkan ke ibunya setelah menikah dan pergi, menunjukkan dirinya sebagai si teman ngobrol. Sebagaimana kesaksian ibunya, Bawuk merupakan perempuan yang “murah dengan kata-kata”. Surat-suratnya tak hanya berisi kabar, cerita yang ingin disampaikan olehnya kepada yang kelak akan membaca suratnya, tapi juga dihiasi cerita-cerita tambahan yang kadang tak ada perlu dan kepentingannya, segala omong-kosong yang tak ada sangkut-pautnya dengan inti surat. Tapi bukankah begitu obrolan di warung kopi, sebagaimana kita tahu demikian pula obrolan-obrolan di tempat lain. Bawuk sangat sadar bahwa bercerita, ngobrol, tak melulu menyampaikan sesuatu (dalam hal ini kabar), tapi juga usaha untuk memikat pembacanya, teman ngobrolnya. Dalam obrolan di warung kopi atau pendongeng tradisional, upaya memikat itu bisa dibantu oleh gerak tubuh, intonasi suara, ekspresi wajah, bahkan alat peraga lain, selain inti kisahnya sendiri. Tapi dalam kisah yang dituliskan, si pendongeng atau teman ngobrol, semata-mata harus mengandalkan kepada susunan kata-katanya dan apa yang bisa disampaikannya. Bawuk memilih nada yang riang, yang membuat ibunya terpikat untuk membaca dan menjadi teman ngobrol, juga melakukannya dengan cerita-cerita sampiran, tentang tetangga, makanan dan jajanan.

Maka ketika Bawuk mengirimkan surat yang sangat pendek, terdiri dari hanya tiga kalimat dan kalimat-kalimat itu juga pendek, daya pikatnya sebagai sebagai pendongeng lenyap. Ia meninggalkan ruang yang lebar, gerowong yang tak dikenali, yang disebut ibunya tak hanya sebagai “aneh” tapi juga “asing”. Ya, tentu saja ini meninggalkan misteri, dan misteri membawa kita kepada rasa ingin tahu yang mengangga. Rasa ingin tahu ini meminta untuk dipuaskan, dengan kata lain, ia meminta Bawuk untuk kembali menjadi teman ngobrol sesungguhnya. Kita tahu, ketika ia akhirnya datang ke rumah ibunya sebagaimana dijanjikan di surat yang sangat pendek tersebut, ia akan ditagih untuk bercerita. Untuk menuntaskan rasa ingin tahu. Untuk mengembalikan Bawuk sebagai teman ngobrol, sang pendongeng.

Melalui Bawuk, kita tahu kata-kata dan cerita yang dibawakannya memiliki kekuatan daya pikat, sejenis sihir yang mengisap perhatian orang. Percakapan merupakan sejenis upaya untuk saling memikat di antara para pelakunya, dan jika daya pikat ini tidak ada, gugur pula biasanya percakapan tersebut. Dan ketika cerita menghilang, daya pikat melemah, yang tersisa hanyalah misteri yang meminta dibongkar dan dikuak. Tanpa cerita, kita hanya melihat pertunjukan wayang dengan lampu-lampu yang dipadamkan dan sosok-sosok wayang dimasukkan ke dalam kotak. Sebuah pertanda bahwa orang harus pulang, kembali ke dunia kenyataan sehari-hari.

***

Saya baru saja bicara tentang pertunjukan yang usai dan orang kembali ke kehidupan hariannya, semata-mata untuk mengingatkan bahwa cerita merupakan dunia lain. Ketika kita bertemu seseorang dan percakapan membuat kita menjadi seorang pendongeng, pada dasarnya kita tengah menciptakan sebuah dunia yang lain. Dunia lain ini bisa saja dunia rekaan seperti di kisah-kisah tragedi Yunani, dunia rekaan tempat peri, jin, dedemit bisa hidup, atau para pahlawan ajaib bertarung di negeri antah-berantah. Sekaligus bisa saja dunia lain itu adalah dunia yang benar-benar ada, di tempat dan waktu yang berbeda, dibawa oleh si pendongeng ke hadapan kita melalui cerita.

Riverside Park di New York pada satu ketika yang gerimis mungkin benar-benar kejadian sebagaimana dilihat si narator “Mitsuh”, sebagaimana peristiwa pencopetan yang dilakukan seorang Negro atas seorang perempuan yang cuma terdengar suaranya meneriakkan “Heeeeelp! Heeeelp!”. Tapi ketika itu datang kepada kita melalui kisah yang disampaikan Umar Kayam, kita sadar itu dunia yang lain. Dunia yang diciptakan secara bersama-sama oleh penulis dan pembacanya. Dunia hasil sebuah percakapan. Pada saat yang sama, meskipun dunia yang terbentuk dari percakapan penulis dan pembaca ini semu belaka, tapi juga kita bisa bersepakat bahwa itu merujuk ke sebuah dunia yang nyata, bahkan meskipun jauh dari akurat.

Dalam cerita “There Goes Tatum” ini, kita tengok sejenak ketika si “Mitsuh” ini sedang melintasi taman hendak pergi ke kampus dan dihadang seorang Negro yang awalnya menampilkan diri sebagai gembel pengemis (setidaknya begitulah yang tergambar oleh saya sebagai pembaca dari percakapan mereka). Si gembel pengemis hanya meminta lima puluh sen, yang konon bisa untuk membeli sepotong hero-sandwich salami. Kita tahu pertemuan mahasiswa dan gembel itu adalah rekaan sang penulis, bahkan meskipun peristiwa itu mungkin pernah terjadi atas satu tokoh mahasiswa atau lainnya. Pembaca mereka ulang bagaimana “Mitsuh” berdialog dengan si gembel, memperlihatkan recehan tapi tidak langsung memberikannya, untuk sedikit mempermainkannya. Bahkan ketika si gembel pengemis ternyata tak hanya mengemis, tapi dengan haya yang sopan namun penuh ancaman ternyata juga seorang perampok, kita masih bisa mendengar percakapan mereka. Kita membayangkan semua itu dalam dunia yang abstrak, tapi pada saat yang sama kita bisa memahami sensasinya sebagaimana itu bisa terjadi di dunia nyata. Termasuk bisa memahami stereotif ras, juga tentang pendapat mengenai ketidakmampuan orang Amerika membuat jam tangan.

Demikianlah saya kira manusia, melalui percakapan, melalui cerita pendek atau novel, sanggup mereka dunia yang abstrak, tapi pada saat yang sama terus terhubung dengan dengan kenyataan. Dunia abstrak itu bisa sebuah peristiwa, bisa pula gagasan-gagasan yang rumit. Melalui cerita kita bisa memahami bagaimana peristiwa di masa lalu bisa diungkapkan sesederhana sebagai pembagian nasi bungkus untuk demonstran, misalnya. Tentu saja ada banyak penyederhanaan, bagaimanapun cerita bukanlah dunia yang sebenarnya, tapi pada saat yang sama dengan cara itulah manusia mencoba memahami dunia. Saya tak tahu apakah binatang memiliki kemampuan semacam itu, apakah mereka bergelut dengan bahasa yang pasti tidak kita pahami, tapi yang jelas manusia mampu melakukannya. Manusia menjalani pengalaman atau mendengar orang menjalani pengalaman, lalu menceritakan pengalaman itu dengan satu dan lain cara. Cerita itu bisa saja demikian dekat dengan keseharian si pencerita dan pendengar, tapi bisa pula demikian mengawang-awang tanpa juntrungannya, tapi kita tetap bisa menerimanya, meski dengan penerimaan yang berbeda-beda. Itulah kenapa manusia bisa bercakap-cakap dan bercerita. Karena dengan cara itulah kita menghadirkan kembali dunia yang tidak bisa dihadirkan, karena jarak maupun waktu, atau lainnya.

***

Membaca cerpen-cerpen Umar Kayam, sekali lagi kita berjumpa dengan teman berbincang. Dan sebagaimana perbincangan, kita barangkali hanya berenang di permukaan dan terombang-ambing ke sana-kemari, terhanyut oleh arus yang pelan sekalipun. Ia seperti bunyi “klik” si gembel pengemis di Riverside Park dari pisau yang tengah dicobanya pada janggutnya, suatu suara dan tindakan ringan tapi memberi pesan yang jauh berbeda dari apa yang terlihat.

Seperti obrolan, kadang kita benar-benar terhanyut oleh si juru dongeng hingga kita tak lagi bisa mengingat dari mana sebuah cerita berawal dan akan dibawa ke mana, tapi seringkali pula kita dibuat terhenyak dan memikirkan berbagai kedalaman dari dongeng yang sekilas tampak ngalor-ngidul. Tentu diperlukan perbincangan yang intim antara pihak-pihak yang terlibat obrolan, sebagaimana hubungan yang intim antara penulis dan pembaca melalui cerita, untuk membuka berbagai kemungkinan yang ada, yang tak tersurat dalam kata-kata. Kita mungkin menemukan berbagai cabang cerita yang tak terjelajahi, yang dalam percakapan sehari-hari, barangkali akan menuntun kita untuk bertanya.

Cerpen-cerpen Umar Kayam memiliki begitu banyak jebakan-jebakan cecabang cerita semacam itu, jalan-jalan setapak yang tak terjelajahi yang kemudian menjelma misteri yang merangsang rasa ingin tahu pembaca. Lubang-lubang misteri itu bisa jadi ada hubungannya dengan psikologi manusia, sebagaimana saya bertanya-tanya apa yang ada di pikiran Marto ketika meninggalkan Jane. Bisa pula itu berupa pandangan dunia. Ruang-ruang pertanyaan itu membuktikan bahwa rasa ingin tahu kita tak pernah mati, dan sebaiknya memang tak pernah mati hingga kita akan terus-menerus mencari teman ngobrol, dan para pendongeng dilahirkan dari satu generasi ke generasi lain.

Ada hal-hal yang saya yakin jauh lebih menarik ketika kita membicarakan cerpen-cerpen ini (kita tahu, satu obrolan akan menghasilkan obrolan lain). Ada aspek-aspek filosofis, psikologi, budaya maupun sosial-politik yang melingkupi cerpen-cerpennya, dan tentu saja memerlukan tempat dan obrolan tersendiri untuk membedah dan mengulitinya. Tapi menempatkan Umar Kayam dan cerpen-cerpennya dalam bingkai pembicaraan mengenai pendongeng sebagai seorang teman ngobrol saya rasa sama pentingnya untuk ditengok. Demikian pula menempatkan cerpen-cerpennya tak semata-samata sebagai alat untuk menyampaikan kabar, tapi terutama untuk menyentuh pembacanya.

Terutama di masa ketika budaya “ngobrol” memperoleh momentumnya kembali saat ini, dengan ledakan dunia digital. Cerita bukan lagi semata-mata tentang apa yang disampaikan, tetapi bagaimana cerita itu bisa menyentuh, baik secara emosi maupun keyakinan. Tradisi berbincang jelas setua peradaban manusia itu sendiri, kita hanya seringkali terkejut melihat kemunculannya yang demikian terang-benderang. Tapi seharusnya itu tak perlu dianggap mencengangkan sama sekali, jika saja kita bersedia melihat para penulis atau pendongeng, melalui cerita mereka, sebagai teman ngobrol.

Kita butuh dan selalu mencari sosok semacam itu, kita hanya berharap keberuntungan membawa kita ke teman ngobrol yang menyenangkan di mana pun. Mungkin seperti “Mitsuh” berjumpa dengan si gembel pengemis sekaligus perampok. Hubungan mereka timpang, antara seseorang yang mengancam dan diancam, yang merampok dan dirampok. Tapi bahkan mereka bisa menciptakan obrolan yang menyenangkan, bukan?

Jakarta, 2018

Diterbitkan pertama kali sebagai pengantar untuk buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam, edisi Pojok Cerpen, 2018.

20 Catatan Tentang Kesusastraan di Asia Tenggara

  1. Mari kita bicara secara langsung saja: masalah terbesar dari kesusastraan di Asia Tenggara ini adalah, kita tidak membaca satu sama lain. Orang Indonesia tak membaca novel-novel dari Thailand, orang Malaysia tak membicarakan kesusastraan Filipina, sebagaimana orang Vietnam tak tahu banyak kesusastraan Singapura.
  2. Beberapa tahun lalu, saya memang pernah membaca novel Jose Rizal yang terkenal, The Social Cancer. Belum lama saya juga membaca cerita-cerita pendek Prabda Yoon, penulis Thailand. Atau, bisa jadi Anda menemukan novel-novel Pramoedya Ananta Toer di toko buku bandara di Kuala Lumpur dan membacanya. Bukankah itu membuktikan bahwa kita membaca satu sama lain?
  3. Dalam skala kecil, bisa jadi benar. Tapi, jika kita melihatnya lebih seksama, kita akan tahu penulis-penulis tersebut dibaca di kawasan ini, terutama karena ketersediaan karya-karya mereka dalam terjemahan bahasa Inggris. Karya-karya mereka tersedia melalui jaringan toko-toko buku impor dan penerbit-penerbit di New York maupun London.
  4. Memang kita tak bisa mengelak dengan fakta sederhana bahwa bahasa Inggris tak hanya merupakan bahasa komunikasi dunia saat ini, tapi juga bahasa kesusastraan secara global. Sebagian besar orang hanya mengenal kesusastraan asing melalui bahasa tersebut, sebagaimana kesusastraan dunia dibentuk oleh selera para penerbit dan pembaca berbahasa Inggris.
  5. Dengan kata lain, kawasan Asia Tenggara merupakan wilayah yang terasing satu sama lain, setidaknya jika kita menganggap kesusastraan merupakan jiwa suatu bangsa. Saya mungkin hanya memerlukan penerbangan kurang dari lima jam dari Jakarta ke Manila, akan tetapi, novel-novel saya memerlukan perjalanan yang jauh lebih panjang untuk bisa dibaca di sini, dalam bahasa yang bukan bahasa ibu penulis maupun pembacanya.
  6. Belum lama ini saya datang menghadiri sebuah festival sastra di Yogyakarta dan bertemu dengan banyak penulis. Mereka dengan fasih bisa bicara tentang karya-karya kesusastraan global. Dari penulis klasik semacam Dostoyevsky atau Kafka, hingga penulis kontemporer semacam Haruki Murakami atau Neil Gaiman. Saya yakin percakapan sejenis bisa didengar di komunitas-komunitas penulis di Manila, Kuala Lumpur, Bangkok maupun Hanoi.
  7. Tentu saja mereka juga akrab dan dengan bersemangat bicara tentang para penulis Indonesia lainnya, yang lama maupun baru. Sebagaimana para penulis Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan lainnya bisa bicara tentang kesusastraan dan para penulis mereka sendiri. Sekali lagi, tanpa kemampuan untuk membaca kesusastraan satu sama lain.
  8. Di sini, kita terjerumus dalam dua keadaan yang tak terelakkan. Pertama, saya sering menyebutnya sebagai inses kebudayaan. Kita hanya membaca di antara sesama penulis di dalam wilayah kebudayaan yang sama. Seperti perkawinan sedarah, perkawinan di dalam satu kebudayaan hanya akan menciptakan generasi-generasi yang secara kultur mengalami kemunduran.
  9. Kedua, jika kita berusaha keluar dari perkawinan sedarah semacam itu, kita terpaksa mengkonsumsi bacaan global yang juga telah dibudidayakan dalam satu kultur tunggal: yakni kultur pembaca berbahasa Inggris. Kebudayaan semacam apa yang bisa diharapkan dari tradisi membaca yang seragam, dari London hingga Yogyakarta, dari Buenos Aeros hingga Manila?
  10. Kita, setidaknya kesusastraan Indonesia yang saya kenal, dan barangkali keadaannya sama saja di negara-negara Asia Tenggara lainnya, justru semakin mengekalkan keadaan semacam itu secara sadar. Kita berlomba menerjemahkan karya-karya terbaik kita ke bahasa-bahasa Eropa, tapi seringkali lupa memperkenalkan diri ke tetangga-tetangga terdekat kita.
  11. Gagasan tentang komunitas negara-negara di Asia Tenggara sangat menarik perhatian saya. Barangkali berbeda dengan kawasan-kawasan lainnya di dunia, wilayah ini merupakan peleburan berbagai kebudayaan yang sangat dinamis, menciptakan suatu wajah kebudayaan yang begitu beraneka warna, sekaligus memberi tantangan yang luar-biasa menantang.
  12. Pengaruh-pengaruh yang datang dari jauh bertumpang-tindih di sini. Agama membawa pengaruh China, India, Arab, hingga Eropa. Kolonialisme membawa pengaruh bahasa Spanyol, Portugis, Inggris, Perancis, Belanda. Perdagangan dan campur-aduk itu semua membangun budaya kuliner yang beraneka-pula.
  13. Secara geografi, tak terelakkan Asia Tenggara memang merupakan tempat perjumpaan berbagai tradisi. Seperti busa, kita merupakan wilayah yang sangat mudah menerima pengaruh-pengaruh tersebut, kemudian membentuknya atau menciptakannya kembali menjadi sesuatu yang bisa kita klaim sebagai milik kita sendiri.
  14. Sialnya, peleburan itu menciptakan tak hanya sebuah wilayah dengan keanekaragaman yang mengagumkan, tetapi juga membuatnya terasing satu sama lain. Asia Tenggara terpisahkan oleh agama-agama mayoritas yang dianut masing-masing penduduknya. Asia Tenggara terpisahkan oleh sejarah kolonialisme yang berbeda satu sama lain. Dan dalam problem kesusastraan, Asia Tenggara juga terpisahkan oleh bahasa-bahasa nasional yang berbeda satu sama lain, dan tak dimengerti satu sama lain.
  15. Asia Tenggara, bisa dikatakan merupakan wilayah yang selama berabad-abad tumbuh dengan kemampuan menyerap berbagai pengaruh asing, yang datang dari jauh. Akan tetapi, pada saat yang sama, gagap terhadap tetangga-tetangga dekatnya. Kita dipersamakan oleh banyak hal, sekaligus terpisahkan oleh dinding-dinding tebal yang kokoh.
  16. Bahasa merupakan tantangan terbesar dalam usaha agar kita bisa saling membaca satu sama lain. Bahkan antara Indonesia dan Malaysia, yang memiliki akar bahasa yang sama, masih terdapat jurang lebar antara pembaca dan karya sastra dari kedua negara tersebut. Bahasa, yang pada dasarnya menghubungkan satu manusia dengan manusia lain, malahan telah menjadi pagar pembatas.
  17. Kesusastraan seharusnya bisa menjadi alat pembobol pagar-pagar pembatas. Alih-alih menunggu sebuah novel dalam bahasa Tagalog atau Melayu diterjemahkan ke bahasa Inggris dan dijual di toko buku bandara, kenapa komunitas-komunitas kesusastraan kita tak mulai menerjemahkan karya-karya satu sama lain, di antara negara-negara Asia Tenggara sendiri?
  18. Negara-negara di Amerika Latin barangkali beruntung, mereka dipersatukan oleh bahasa kolonial mereka, Spanyol dan Portugis, yang memungkinkan kesusastraan dan solidaritas di antara mereka terbentuk. Hal yang sama barangkali terjadi di Afrika. Meskipun mereka memiliki begitu banyak bahasa, pada akhirnya terhubungkan oleh bahasa kolonial Inggris dan Perancis.
  19. Di Timur-Tengah, dengan berbagai konflik politik di antara mereka, setidaknya kebudayaan dan kesusastraan mereka dipersatukan oleh bahasa Arab, memanjang dari Maroko hingga Oman. Demikian pula di Eropa, mereka terbentuk oleh blok-blok bahasa yang berkerabat dekat, yang memungkinkan mereka saling membaca satu sama lain.
  20. Asia Tenggara tak harus disatukan oleh bahasa yang sama. Kita hanya memerlukan jembatan-jembatan yang menghubungkan aneka warna komunitas ini. Kita bisa memiliki jembatan kultural berupa kesusastraan, yang diterjemahkan dan dibaca satu sama lain. Sebab hanya dengan cara itulah kita terbebas dari komodifikasi kesusastraan global yang homogen, sekaligus ketertutupan kesusastraan nasional kita sendiri.
Catatan ini disampaikan sebagai pidato kunci pada Kongres PEN Internasional, Manila, 3 Oktober 2019.