Bukan Sinema, Bukan Sastra, Juga Bukan Kopi

Tempo hari sutradara papan atas Hollywood, Martin Scorsese, membuat heboh dengan pernyataannya bahwa film-film Marvel bukan ’’sinema’’. Mereka lebih mirip wahana taman hiburan, sambungnya dalam opini di New York Times (4/11/2019).

Gampang diduga, banyak yang protes. Ada yang menganggapnya sebagai si tua yang gamang menghadapi perubahan zaman. Ada juga yang membela film-film Marvel, bilang film-film itu juga menyajikan hal-hal serius untuk dipikirkan, tak hanya dipenuhi atraksi hiburan dan drama yang diformulasikan.

Kasus semacam itu pada dasarnya sangat umum. Ada banyak penulis, misalnya, yang menganggap novel-novel remaja atau romansa sebagai ”bukan sastra”. Novel-novel itu lebih banyak mengeksploitasi mimpi daripada membentangkan kenyataan, bahkan pada zaman dulu banyak yang menyebutnya picisan.

Atau, coba pergi ke kedai-kedai kopi kecil yang sedang menjamur di berbagai kota. Di tengah kesibukan barista yang mahir mengisahkan berbagai kopi koleksi kedainya, kadangkala kita mendengar kritik terhadap kedai-kedai kopi waralaba: ”Mereka bukan kopi. Itu cuma susu penuh gula dengan rasa kopi.”

Sekilas, kita tengah melihat pertempuran memperebutkan definisi. Maka dengan mudah para pendukungnya saling membela diri, merasa siapa pun berhak atas definisi-definisi tersebut. Film superhero sah disebut sinema, sebagaimana novel romansa sah disebut sastra. Tentu, kedai kopi waralaba internasional pun tetap mengaku menyajikan kopi.

Sebagai seorang pembaca, dengan mudah saya juga akan membela banyak jenis-jenis novel sebagai karya sastra. Tak hanya novel romansa, tapi juga cerita silat, novel horor, atau cerita detektif. Seperti film-film Marvel, novel-novel itu juga tak hanya bisa dinikmati sebagai sensasi hiburan semata, tapi juga bisa menjadi pintu diskusi intelektual.

Pokok soalnya saya kira, perebutan klaim soal definisi ini malah menenggelamkan kritik Scorsese yang lebih penting. Kritiknya terutama ditujukan ke bagaimana film-film waralaba itu diproduksi. Sebelum membuat film, mereka melakukan riset pasar, tes penonton, diperiksa, dimodifikasi, diperiksa lagi sampai siap dikonsumsi.

Mungkin ada orang yang bertanya, memangnya apa yang salah dengan sistem semacam itu di bidang perfilman, perbukuan, atau bahkan kuliner? Atau bidang lainnya? Dari sudut pandang bisnis, tampaknya, memang wajar-wajar saja.

Setiap perusahaan yang telah berinvestasi banyak, mau tak mau, berpikir ke sana. Kalau mereka tahu film apa yang akan ditonton, novel apa yang akan dibaca, atau minuman kopi apa yang bakal laku, tentu mereka akan membuatnya. Di sinilah saya kira kritik Scorsese perlu direnungkan dan tak hanya berlaku di dunia film, tapi bahkan di bidang apa pun.

Kecenderungan melihat film semata-mata sebagai produk industrial, dengan kekuatan kapital di belakangnya, jelas secara langsung menciptakan film-film formula. ”Namanya bisa saja sekuel, tapi secara spirit sebetulnya pembuatan ulang,” tulis Scorsese. Dengan kata lain, ia hendak bilang juga: judul boleh beda, isinya sama saja.

Formula ini menciptakan pola produksi, dan karena mereka juga menguasai distribusi dan bioskop, akhirnya menciptakan pola selera penonton. Yang menjadi ancaman jelas keanekaragaman perfilman. Semakin terancam jika distribusi film juga tak memberikan ruang untuk film-film alternatif, dan semakin parah jika selera konsumen akhirnya terbentuk pada formula tertentu.

Keanekaragaman juga yang terancam jika industri perbukuan hanya didominasi bacaan sejenis. Yang harusnya diperdebatkan memang bukan apakah itu sastra atau bukan, tapi bagaimana kekuatan hegemoni kapital penerbit besar maupun toko buku tidak menciptakan bacaan yang nyaris seragam.

Hal yang sama tentu berlaku bagi kopi: jangan sampai suatu masa, satu generasi hanya mengenal kopi tak lebih dari ”campuran susu penuh gula berasa kopi”. Jika ini terjadi, keanekaragaman sumber kopi (dari mana kopi berasal), cara memperlakukan kopi, cara mengolah, hingga cara menyajikan, jelas bisa terancam.

Kritik Scorsese jika dilihat sebatas ”sinema” dan ”bukan sinema” memang tampak emosional. Ujung-ujungnya, orang bisa jatuh pada apologi ”perbedaan selera”. Kita sering lupa, selera juga dibentuk. Industri besar dengan kapital dan distribusi luas memiliki kekuatan yang besar untuk menciptakan selera, menyeragamkan konsumsi. Di film, di sastra, di sajian kopi.

Scorsese hanya menekan tombol alarm. Kita bisa memilih untuk waspada atau terus terlelap.

Diterbitkan di Jawa Pos, 16 November 2019.

Menghormati Manusia dan Kerja-Kerjanya

Kerja, kerja, kerja. Setelah memerintah selama lima tahun, Joko Widodo rupanya sadar, mantra ’’kerja, kerja, kerja’’ saja tak cukup.

Butuh manusia yang melakukannya, yang bekerja. Bahkan juga butuh manusia untuk menikmati hasil kerja-kerja tersebut.

Tentu saja kalau sekadar manusia, kita punya banyak. Ada seperempat miliar lebih manusia yang tinggal di negeri ini.

Bikin infrastruktur di mana-mana, butuh manusia untuk membangunnya. Ingin pariwisata maju, ya butuh manusia yang terampil pula di bidangnya. Ingin perekonomian digital mengatasi kesenjangan sekaligus menciptakan pertumbuhan, tetap saja butuh jago-jago coding dan teknologi informasi.

Sekarang bayangkan, setelah terbentang jalan di mana-mana, siapa yang akan mempergunakannya? Ya, manusia. Bagaimana jika ia tak punya kendaraan? Ya, beli mobil atau motor. Kalau tak punya uang? Ya, harus bekerja dan berpenghasilan. Kalau tak punya keterampilan? Ya dilatih, dibikin pintar di sekolah.

Kalau sekolah tak bikin manusianya terampil ataupun pintar? Ya, akhirnya kosonglah bentangan jalan-jalan tersebut. Infrastruktur jalan pada akhirnya bukan untuk kura-kura lewat. Bukan pula sekadar objek foto-foto cantik.

Sekarang kita punya jaringan tulang punggung internet yang membentang menaungi seluruh wilayah negeri. Siapa yang bisa memanfaatkannya? Tentu saja manusia.

Problemnya, untuk memanfaatkan infrastruktur seperti internet, kita tak sesederhana bisa memberikan seperangkat komputer kepada seseorang. Dibutuhkan prasyarat, baik ekonomi maupun budaya.

Dan, di situlah memang jebakannya. Teknologi, sejak awal mula ditemukannya, serta hasil-hasilnya, selalu memiliki dua sisi yang berseberangan untuk manusia.

Pertama, teknologi mampu membantu pekerjaan-pekerjaan manusia. Kedua, sialnya, teknologi juga mampu merebut pekerjaan-pekerjaan tersebut juga dari manusia.

Manusia harus dipersiapkan tak hanya untuk menciptakan teknologi, demi membantu kerja-kerjanya. Manusia juga harus dipersiapkan untuk menghadapi segala macam dampak teknologi agar sebisa mungkin tidak merugikan kehidupannya.

Setelah pembangunan, sebagian besar bersifat fisik, sangat masif selama lima tahun terakhir, kesadaran akan pentingnya manusia mungkin terdengar sangat terlambat. Tapi, seperti orang bijak bilang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Pertanyaannya, pembangunan manusia macam apa yang dibayangkan oleh pemerintahan Joko Widodo?

Ketika naik ke pucuk kepemimpinan nasional tahun 2014, ia diantar oleh harapan yang membuncah. Rakyat bahkan turun ke jalan dalam suasana karnaval di hari pelantikannya.

Di tahun ini, ketika ia akan melanjutkan kepemimpinannya lima tahun ke depan, pelantikannya diwarnai oleh penjagaan ketat tentara dan polisi. Ia tidak diantar oleh euforia penuh harapan, malahan diselimuti awan kelabu kerisauan.

Dan, menurut saya, itu ada hubungannya dengan kegagalan pemerintahannya mengurusi manusia. Jika ia gagal melakukannya di lima tahun pertama, bagaimana ia bisa memberikan optimisme di lima tahun kedua?

Kenapa saya bilang gagal?

Pertama-tama, bicara tentang manusia tak bisa dilepaskan dari hal paling fundamental tentang manusia: hak-hak asasinya. Lima tahun terakhir, hak asasi manusia merupakan salah satu bidang dalam pemerintahannya yang bernilai buruk, merah, jika kita harus memberikan rapor kepadanya. Bahkan bisa dibilang sebagai bidang yang paling terabaikan.

Memang tak semata-mata kesalahan pemerintahan Joko Widodo seorang. Beberapa kasus hak asasi manusia merupakan warisan lama, yang membentang bahkan ke pemerintahan presiden-presiden sebelumnya. Tapi, Joko Widodo sendiri pernah menjanjikan penyelesaian beberapa kasus, dan sampai akhir periode pertama, kasus-kasus itu tak juga tersentuh.

Ngomong-ngomong, sebetulnya apa hubungan antara penyelesaian kasus hak asasi manusia dan kehendak pemerintah untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia? Tentu saja ada, dan untuk saya, itu sangat mendasar.

Coba kita kembali bayangkan: untuk apa membangun bandara superluas jika harus mencerabut petani dari sawahnya? Merebut manusia dari pekerjaannya? Tanpa pekerjaan, ia tak berpenghasilan. Tanpa penghasilan, ia tak mampu beli tiket pesawat, dan tanpa penumpang, bandara tak ada gunanya?

Bayangkan pula, pembangunan besar-besaran mungkin menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang baik. Keluarga sejahtera, anak-anak bisa sekolah. Pada saat yang sama, ketika mereka merasa perlu bersyukur atas nikmat dunia tersebut, mereka dihadapkan pada kenyataan: tempat ibadah tak tersedia. Tempat ibadahnya digusur karena ditolak oleh tetangga-tetangganya.

Sangat mustahil membayangkan penguatan sumber daya manusia jika hak-hak dasar mereka dicerabut. Petani takut tanahnya dirampas. Seniman takut sensor. Intelektual takut dirundung ormas. Menulis disertasi takut menyinggung umat beragama. Dan, kita tahu, itu semua terjadi dalam lima tahun pemerintahan Joko Widodo.

Jika Joko Widodo berharap meningkatkan sumber daya manusia, Ia harus menyelesaikan utang-utangnya terhadap berbagai kasus hak asasi manusia. Utang masa lalu maupun utang dari pemerintahannya, tanpa pilih-pilih.

Ia harus mulai menghormati manusia Indonesia dan kerja-kerjanya. Petani dari tanahnya, nelayan dari lautnya. Intelektual dari buku-bukunya. Buruh dari alat-alat produksinya. Ia harus membebaskan manusia Indonesia dari rasa takut ketika mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menghidupinya.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 26 Oktober 2019.

Pertanyaan tentang Manusia, Pengantar untuk Dua Buku S. Rukiyah

“Cinta itu cerita lama,” kata seorang tokoh di novel Kejatuhan dan Hati, S. Rukiyah. Dengan berbagai variasi, ia mengulang hal itu di banyak tempat, meskipun sesekali juga ditambahkan bahwa cinta lama bisa dibuat menjadi cinta yang baru.

Di permukaan, kisah ini tampak sejenis romansa biasa. Tentang cinta yang tak disetujui, cinta yang tak berkembang kemudian menjadi patah hati, cinta yang terlanjur, tanggung jawab, penyesalan, kebohongan dan rasa terombang-ambing. Tapi di balik semua itu, dan inilah kelebihan S. Rukiyah, terdapat berlapis-lapis kisah, pengamatan yang tajam tak hanya hati dan prasangka manusia, tapi juga masalah-masalah sosial.

Pertama-tama kita melihat sejenis arsitektur kekuasaan dalam bentuk sebuah keluarga kecil. Di puncak kekuasaan adalah sang ibu, dan ini jelas keluar dari stereotif tentang ayah-yang-berkuasa. Saya tak melihat ini sebagai indikasi struktur keluarga yang matriarki, karena bagi saya, si ibu di novel ini sesederhana sebuah perlambang mengenai kekuasaan yang tak hanya bengis (marah-marah dan mengatur), tapi juga hegemonik (pikirannya sanggup menerobos memengaruhi anggota keluarga), membuat aneka macam reaksi yang ditimbulkan olehnya.

Dari keluarga kecil inilah, kemudian kita mempelajari berbagai macam watak manusia ketika ia harus dihadapkan dengan kekuasaan. Si ibu jelas sewenang-wenang, dengan ukuran-ukuran nilainya sendiri (dalam hal ini, baik dan benar untuknya diukur dengan segala hal yang bersifat benda dan keduniawian).

Ia memiliki tiga anak perempuan dan masing-masing memiliki reaksinya masing-masing. Yang pertama berdiri di ekstrem yang jauh: memberontak terhadap nilai-nilai si ibu. Ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup sendiri. Ia harus tercerabut, atau dengan kata lain: terbebaskan. Ia berada di luar orbit kekuasaan. Anak kedua, seorang penurut yang memperoleh imbalan melimpah: dipuja dan dijadikan anak kesayangan oleh sang ibu. Ia pewaris sejati nilai-nilai keluarga ini, dan dapat dipastikan yang akan menjadi penerus nilai-nilai tersebut.

Anak bungsu, si narator, ada di tengah-tengah mereka. Terombang-ambing di antara kehendak untuk memberontak dan hasrat untuk takluk dan membuat senang ibunya. Justru si anak inilah yang hidupnya penuh warna: lari dari rumah, bergabung dengan palang merah, ikut dalam pergumulan revolusi, mendengar dan membaca gagasan-gagasan besar, tapi pada saat yang sama terus disiksa oleh perasaan cinta yang puritan, kerinduan kepada perlindungan rumah dan ibu, serta harapan akan sebuah keluarga. Hidupnya merupakan sejenis tragedi, yang di tangan S. Rukiyah tampak tanpa tedeng aling-aling, seperti sengaja dijerumuskan ke sana.

Dan si ayah merupakan sosok lain lagi yang tak kalah menarik, yang saya rasa tak perlu diceritakan lebih jauh di sini.

***

S. Rukiah merupakan salah satu perempuan penulis yang menghasilkan karya dalam berbagai genre sekaligus. Tak hanya novel, ia juga menulis puisi dan cerita pendek, semisal yang diterbitkan dalam Tandus (sajak-sajak dan kisah-kisah).

Seperti dalam novelnya yang di atas, S. Rukiyah tajam melihat nasib-nasib manusia di tengah gelombang sejarah yang bergerak dan berderak. Sementara di sisi lain ia memiliki harapan besar atas sejarah yang tengah bergulung-gulung ini, pada saat yang sama ia juga menaruh simpatinya yang meluap-luap kepada berbagai watak yang harus tergulung.

Watak-wataknya seringkali merupakan sosok-sosok lugu, yang bahkan tak tahu apa itu “raja” atau “presiden”. Juga tak mengerti benar dengan keberadaan kumpeni maupun tentara pendudukan Jepang. Ini bisa dilihat misalnya dalam sosok Mak Esah di cerpen dengan judul yang diambil dari sosok ini, “Mak Esah”. Ia hanyalah seorang perempuan tua, yang hanya tahu soal bagaimana hidup dengan baik dan berbuat baik dengan sesama. Ia percaya, jika ia berbuat baik, Tuhan akan selalu melindunginya. Hubungannya dengan kekuasaan di luar dirinya hanya dimengerti melalui uang bergambar presiden. Demikian lugunya, ia bahkan tetap tak mengerti kenapa rumahnya harus dibakar dan segala yang dimilikinya harus lenyap dalam sekejap.

Hal yang sama bisa dilihat di cerpen “Istri Prajurit”. Siti barangkali lebih berpendidikan daripada Mak Esah. Ia setidaknya pernah pergi sekolah dan bisa menjahit. Meskipun begitu, tetaplah ia hanya buih dari sebuah gelombang dahsyat perubahan masyarakat, yang terombang-ambing ke sana-kemari dan tak tahu kenapa itu terjadi. Bahkan meskipun ia seorang istri seorang prajurit sekalipun.

Apakah mereka merupakan sosok-sosok korban revolusi? Meskipun benar seringkali sosok-sosok dalam novel maupun cerpen S. Rukiyah habis dihajar arus peradaban (dari kolonialisme, pendudukan Jepang, revolusi, hingga perang saudara), ada karakter yang khas dalam sosok-sosok ini. Mereka seperti rumput yang digilas badai dan gelombang. Terayun-ayun ke sana-kemari dengan keluguan dan ketidaktahuan. Tapi pada saat yang sama, mereka tak pernah tercerabut. Tak pernah pula terbawa arus.

Mereka dihajar terus-terusan, tapi liat dan lentur.

Kita masih bisa menemukan hal-hal semacam itu di cerpen-cerpennya yang lain, yang seringkali diselipi dengan komentar-komentar yang tegas tentang keadaan sosial di masa itu. Ejekan tentang demikian banyaknya partai, hingga semua orang mabuk partai (di cerpen “Ceritanya Sesudah Kembali”), atau sindiran seorang perempuan atas prasangka yang membeda-bedakan perempuan dan lelaki (juga di cerpen yang sama).

Kisah-kisah ini, selain merupakan telaah yang tekun atas watak-watak manusia dan hubungannya dengan tali-temali serta karut-sengkarut perkara sosial-politik, bisa juga dilihat sebagai catatan sosial yang pentin dari satu waktu dan satu tempat: utamanya masa-masa sebelum dan setelah revolusi kemerdekaan. Kita tak hanya menengok kembali tatanan sosial, tapi juga jargon-jargon dan alam pikiran manusia Indonesia di masa itu.

***

Hidup?
Adakah hidup bahagia,
jika dipaksa hidup menghamba?

Seperti kutipan dari puisi “Pahlawan”, kisah-kisah ini dan juga puisi-puisinya tak semata-mata sebuah pernyataan, tapi yang terpenting adalah sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan tentang manusia orang per orang, dan pertanyaan tentang manusia sebagai kemanusiaan dan peradaban serta alam pikiran yang menyelimutinya.

Saya tak bisa berpikir lebih banyak lagi kecuali meyakini, melalui karya-karyanya, S. Rukiyah jelas salah satu penulis kita yang terpenting dilihat dari beragam sisi mana pun.

Diterbitkan pertama kali sebagai pengantar untuk dua buku karya S. Rukiyah, Kejatuhan dan Hati dan Tandus (sajak-sajak dan kisah-kisah), diterbitkan oleh Ultimus, 2018.

Teman Ngobrol, Pengantar untuk “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”

Apa yang ditawarkan oleh sebuah cerita, selain kabar dari tempat-tempat yang berbeda dan waktu-waktu yang berlainan? Bagi saya sudah sangat pasti: sebuah percakapan. Cerita dalam bentuk cerita pendek maupun novel, bahkan dalam bentuk laporan jurnalistik, surat, catatan perjalanan, senantiasa membawa kabar dari ruang yang lain. Kabar tersebut bisa jadi berupa laporan pandangan mata, bisa jadi sesederhana paparan sebuah gagasan, dan di lain waktu, ia berupa ekspresi perasaan sang penulis. Dalam titik ini kita menangkap kesan satu komunikasi satu arah. Satu pihak melaporkan atau menyampaikan sesuatu, dan pihak lain menerimanya. Setidaknya dalam cerita pendek maupun novel sesungguhnya tidak berlaku demikian. Membaca cerita pendek atau novel, kita bisa membayangkan satu percakapan intim antara penulis dan pembaca, dan percakapan ini memberi kita akibat yang sangat penting: bahwa dalam satu cerita, mungkin saja terdapat setidaknya dua narasi yang berbeda. Narasi yang ditulis dan narasi yang terbaca, yang berjalan beriringan tanpa kehendak untuk mengubur yang lainnya. Bahwa kebenaran, kesimpulan, kata akhir, atau apa pun istilahnya, tak harus bersifat tunggal.

Seorang penulis seperti Umar Kayam tak hanya seorang pendongeng yang melaporkan satu keping pertistiwa kepada pembacanya, tapi jauh lebih penting adalah seorang teman bicara. Teman ngobrol.

Bayangkan para pendongeng-pendongeng tradisional di masyarakat kita. Perempuan tua yang duduk di beranda rumah dan dikelilingi gadis-gadis muda, barangkali sambil mencari kutu di rambut rekannya satu sama lain. Kita tahu di masyarakat tradisional, kisah-kisah dituturkan melalui perempuan tua semacam ini. Ia yang mengetahui sejarah leluhur orang-orang desa, nama-nama tempat beserta mitos-mitos yang menyertainya. Kita tahu melalui dongeng-dongeng semacam itu, nilai-nilai pedesaan dilestarikan dari satu generasi ke generasi, demikian pula rasa bangga, haru, ketakutan, kecemasan, kebijaksanaan disampaikan. Akan tetapi, pada saat yang sama, selalu ada ruang bagi para pendengarnya untuk menyelinap ke dalam cerita. Bertanya, membantah, atau meminta si pendongeng melipir menceritakan hal lain. Dalam peristiwa mendongeng semacam ini, kita menemukan si pendongeng tak lebih sebagai teman bicara.

Di warung kopi atau di pos ronda, atau di tempat jagongan, atau di mana pun ketika orang-orang memiliki kesempatan untuk berkumpul, kita menemukan sesuatu yang jauh lebih jelas lagi. Di sini, sang pendongeng biasanya tidak seorang diri, muskipun selalu ada kemungkinan satu atau dua orang menjadi sosok menonjol, barangkali karena kemampuan bicara dan berceritanya maupun keluasan pengetahuan dan pengalamannya melebihi yang lain. Umumnya, pendongeng ganti-berganti di antara anggota kelompok ini. Satu orang bisa jadi berkisah mengenai pertemuannya dengan binatang buas ketika berladang, orang lain mengiyakan dan ia ganti bercerita dari sudut pandangnya mengenai peristiwa yang sama. Orang ketiga lalu membantah bahwa binatang buas itu tak semembahayakan yang mereka kira, sebab ia sendiri telah berjumpa dengan binatang tersebut di waktu yang berbeda. Mereka merupakan para pendongeng, dan pendongeng alamiah bagi saya merupakan teman ngobrol yang membuka ruang percakapan.

Saya memikirkan para pendongeng-pendongeng tradisional semacam ini ketika mengingat nama Umar Kayam. Kesan itu akan terasa ketika kita membaca cerpen-cerpennya, bahkan ketika membaca kolom-kolomnya sekalipun, di mana saya memperoleh kemewahan semacam itu ketika masih tinggal di Yogyakarta dan membaca koran lokal di mana ia menulis, dari mana saya sejujurnya pertama kali mengenalnya sebagai penulis.

***

Di masyarakat urban dan modern, masihkan orang membutuhkan percakapan dan mencari teman ngobrol? Saya yakin kita masih membutuhkannya. Tak hanya membutuhkannya, bahkan tanpa sadar kita terus melakukannya, sebab itu menjadi satu bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan kita.

Saya sering memikirkan mengapa koran-koran di Indonesia, setidaknya di puncak kejayaan mereka sebelum digerogoti oleh revolusi dunia maya, cerita pendek dihadirkan? Tak cuma mereka menerbitkan cerita pendek di halamannya, biasanya di akhir pekan, tapi bisa dibilang juga dalam beberapa dekade, kesusastraan Indonesia didorong dan dihidupi oleh koran-koran ini, baik nasional maupun lokal. Untuk menjawabnya, kita harus melihat sejenak kepada karakteristik berita di koran-koran itu, yang secara langsung kita bicara mengenai jurnalisme secara umum. Seperti cerita rekaan dalam bentuk cerpen atau novel, kita tahu berita juga menyampaikan kabar. Dalam hal ini tak ada bedanya. Ia juga menawarkan percakapan, mungkin tak seintim cerpen atau novel, antara wartawan dan pembacanya. Akan tetap dalam berita, kita dibatasi oleh fakta-fakta yang demikian kaku, yang tak bisa diubah seenak hati. Jika fakta itu salah, berita bisa memperbaikinya sendiri, melalui berita yang lain. Intinya, narasi dengan dua bahan atau lebih yang berbeda rasanya menjadi tidak mungkin. Percakapan menjadi tertatih-tatih.

Koran, sebagaimana buku, merupakan produk masyarakat modern, hasil dari revolusi mesin cetak. Ia jelas berbeda dengan cara kerja para pendongeng tradisional, yang bisa disanggah oleh pendengarnya di pertengahan cerita. Meskipun begitu, bukan berarti hasrat untuk bercakap-cakap, untuk menemukan teman ngobrol lantas menghilang begitu saja. Demikianlah saya kira, kenapa di surat kabar, kita tak hanya menemukan cerita dalam makna berita, tetapi juga ada ruang-ruang untuk pembaca berkomentar, ada ruang bagi suara yang lain dalam bentuk kolom, dan akhirnya bahkan ada ruang untuk cerita pendek. Ini hal menarik sebab melalui cerita pendek, kita bisa menghidupkan percakapan yang mungkin tak diberikan berita. Ia tak selalu memedulikan fakta, ia bahkan bisa tak memedulikan realita. Ia bisa mengawang-awang, bisa menjungkir-balikkan apa yang ditulis di berita bahkan di hari yang sama. Itu membuat koran, dan masyarakat pembacanya, berada dalam ruang percakapan yang luas.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat urban, kita masih melihat manusia terus bercakap-cakap. Di ruang tunggu dokter gigi, mereka akan saling menyapa meskipun tak saling kenal, dimulai dengan basa-basi tentang keadaan gigi mereka, kemudian tentang cuaca, hingga sesuatu yang lebih serius mengenai kesehatan dan bahkan politik. Demikian pula kita melihat orang bercakap-cakap di kafe, di muka bioskop. Bahkan di layar televisi, acara bercakap-cakap yang merupakan acara paling murah dalam skala produksi penyiaran, merupakan program acara yang umum. Mereka bercakap-cakap tentang pernikahan dan perceraian selebritas, mereka bercakap tentang kebijakan pemerintah, mereka bercakap tentang tuntutan dan tutunan beragama, mereka bahkan bercakap tentang pertandingan sepakbola di negeri yang jauh.

Dan di ruang-ruang pribadi kita juga bercakap-cakap. Tak hanya di Jakarta, misalnya, tapi juga di ruang-ruang pribadi di satu apartemen di Manhattan, New York. Bisa saja mereka mempercakapkan hal yang sama juga seperti di layar televisi, bisa juga sesuatu hal yang lebih pribadi. Tentang mantan suami atau istri yang menunggu di rumah. Atau bahkan tentang hal konyol seperti warna bulan di langit dan kelap-kelip lampu dari jendela gedung-gedung pencakar langit. Segala hal di percakapkan, sebab manusia tetap dan akan selalu membutuhkan hal ini.

***

Dalam cerpen-cerpen Umar Kayam kita bisa melihat bahkan percakapan-percakapan itu demikian nyata. Ia tak hanya mengajak kita, pembacanya, untuk bercakap-cakap, tapi juga mengajak dan membiarkan tokoh-tokohnya juga bercakap-cakap. Kita bisa melihat atau merasakan betapa gentingnya kebutuhan mereka untuk melakukan perbincangan, penuh hasrat untuk menemukan teman ngobrol, dan kita ada untuk memberikan diri sendiri sebagai pendengar sekaligus menciptakan narasi sendiri melalui cerita mereka.

Percakapan ini tak hanya menyiratkan keberadaan hubungan sosial antara satu manusia dengan manusia lain, tapi juga mewakili begitu banyak hal.

Dalam percakapan antara Marno dan Jane, kita tahu itu tak semata-mata menyiratkan hubungan di antara mereka, tapi juga menyangkut istri Marno dan Tommy, mantan suami Jane. Percakapan tak hanya merujuk kepada orang-orang yang melakukan percakapan, tetapi juga apa dan siapa yang mereka percakapkan. Tak hanya itu juga, percakapan juga membawa atau mengungkapkan emosi dan pikiran tertentu. Rasa sentimental kepada masa lalu, rasa sesal maupun harapan, dan pada saat yang sama, juga menyiratkan sesuatu yang tak terkatakan, yang menuntut pembaca untuk mengisinya, mengajaknya menjadi bagian dari percakapan tersebut. Teman ngobrol yang lain. Jadi bagi Jane, ia membutuhkan Marno tak hanya sebagai teman di mana percakapan bisa terjadi (demikian pula sebaliknya), yang tak kalah penting adalah kebutuhan untuk mengeluarkan sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang harus dikatakan, bahkan tanpa perlu menimbang akibat-akibatnya. Bisa jadi mengatakan sesuatu bisa membuat percakapan menjadi menyenangkan, bisa pula berakhir menjadi percakapan yang dingin dan berakhir dengan perpisahan yang hambar sebagaimana terjadi pada Jane dan Marno. Sesuatu harus dikeluarkan dan dibutuhkan seseorang untuk mendengarkan, meskipun untuk itu tak hanya diperlukan kata-kata, tapi juga scotch dan martini.

Bayangkan tentang sepasang suami istri yang meninggalkan negerinya dan terdampar di kota sibuk macam New York. Sang suami sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya sementara si istri hanya menunggui anak di rumah, tanpa kesibukan lainnya. Ia bisa saja mengisi waktu dengan berjalan-jalan ke taman, memasak, atau tidur, tapi kebutuhan untuk memiliki teman ngobrol jelas sesuatu yang tak terelakkan untuk sebagian besar orang. Manusia bisa menghadapi tembok-tembok menjulang, sekat-sekat bernama dinding dan pintu, lorong-lorong kosong, tapi ketiadaan percakapan saya kira merupakan dinding tebal dan lorong kosong sekaligus, yang lebih mengimpit dan menciutkan. Dalam keadaan begitu sangatlah wajar menemukan seseorang mengetuk pintu rumah tetangga, seperti menyapa orang asing di jalan, bahkan dengan mencari-cari alasan sesepele meminjam beberapa sendok gula, hanya agar memperoleh teman ngobrol. Tak penting apa yang akan diperbicangkan, yang terpenting menemukan seseorang terlebih dahulu, dan selebihnya bisa mengeluarkan apa yang harus dikeluarkan dari dalam kepalanya.

Demikianlah kita bisa bertemu dengan manusia macam Madamme Schlitz. Ia memang punya seekor anjing peliharaan kepada siapa ia bisa bicara, tapi kepada manusia ia tak hanya bicara, tapi juga mendengar, dan menciptakan percakapan. Bahkan meskipun apa yang dikatakannya, cerita yang disampaikannya, hanya dianggap bualan atau kegilaan.

***

Hasrat untuk menyampaikan sesuatu jelas bukan satu-satunya alasan manusia melakukan percakapan. Tak kalah penting adalah kebutuhan untuk memenuhi rasa ingin tahu, keinginan untuk membuka tabir misteri. Dalam kerumunan orang di masyarakat tradisional di mana seorang pendongeng menyampaikan kisahnya, orang-orang itu jelas menunggu dan mendengar dengan perasaan ingin tahu. Kisah apa yang akan disampaikan? Apa yang terjadi di tempat lain atau di masa lampau? Apa yang telah dilihat dan dialami sang pendongeng? Apa pula pendapatnya tentang hal-hal yang dilihat dan dialaminya itu? Perasaan ingin tahu pada akhirnya akan mendorong seseorang untuk bertanya, dan pertanyaan barangkali akan memperoleh tanggapan, demikianlah sebuah cerita sekali lagi merupakan percakapan.

Di masyarakat modern dan urban, tentu saja hal ini juga berlaku. Kita membaca koran setiap pagi (atau di masa sekarang, membuka lini masa di dunia maya) karena kita juga didorong oleh rasa ingin tahu mengenai apa yang tengah terjadi, atau bagaimana kelanjutan dari peristiwa yang telah terjadi. Hal ini juga berlaku kepada siapa pun yang membaca cerita pendek atau novel. Ia ingin tahu, seperti istri si mahasiswa yang terperangkap di kota sibuk New York yang bagaikan raksasa tak pernah kenyang ingin tahu siapa Madam Schiltz, kenapa ia bernama seperti itu, kenapa ia tinggal sendiri, dan kenapa ia tiba-tiba menghilang.

Kita bisa bicara tentang rasa ingin tahu sebagai ciri khas yang sangat manusiawi, yang membawa manusia ke berbagai peradaban, yang membuat manusia menciptakan atau menemukan berbagai hal. Tanpa rasa ingin tahu kita hanya akan menjadi pendengar yang pasif, yang tidak peduli, dan teman bicara kita hanya akan menyampaikan sejenis monolog yang tak ada gunanya, sebab ia hanya mengalir dan mungkin memuaskan hasrat si penceritanya saja tanpa imbal balik yang semestinya. Tanpa rasa ingin tahu, cerpen maupun novel tak akan ada yang membaca, sebagaimana koran, majalah atau apa pun yang tercetak. Kita hanya memandang deretan huruf-huruf, dan huruf-huruf itu tak lebih dari kontras warna dan bentuk saja.

Tentu saja rasa ingin tahu tak harus selalu melekat kepada hal-hal besar, terhadap penemuan-penemuan dan kabar penting maupun genting dari satu tempat dan satu masa. Kita ingin tahu bagaimana seorang kakek bisa memperoleh kuda-kudaan putih dari seorang anak di taman bermain. Apakah ia akan merebutnya? Apakah ia akan membujuknya? Jika ia membujuknya, dengan cara apa ia akan melakukannya? Apakah si anak bisa dibujuk hingga merelakan kuda-kudaan putihnya kepada si kakek? Lagipula kenapa si kakek masih mau bermain kuda-kudaan yang seharusnya menjadi permainan anak-anak? Kita ingin tahu, betapa sepele pun hal itu, atau tak ada artinya bagi hidup kita atau hidup masyarakat secara umum, dan semata-mata hanya karena ingin tahu. Didorong hal itu kita membaca kisah kakek ini, dan tirai-tirai samar pun terkuak. Kita mungkin tak akan menemukan jawaban yang kita inginkan, tapi apa pedulinya? Dalam hidup kita, satu misteri seringkali membawa kita ke misteri yang lain, dan manusia tak berhenti memenuhi rasa ingin tahunya. Sebab dengan cara seperti itulah manusia terus berbincang, dan pada saat yang sama peradaban terus-menerus diciptakan.

***

Kita bisa melipir sejenak kepada cerpen Umar Kayam yang lain, “Bawuk” yang tak terdapat di kumpulan ini.

Bawuk bisa kita anggap sebagai contoh yang baik dari seorang pendongeng, sebagai teman ngobrol. Bahkan sejak kecil, ketika mereka bersama-sama pergi ke sekolah menaiki dokar, Bawuk merupakan orang yang menghidupkan percakapan di antara dirinya dan kakak-kakaknya. Ia yang bertanya, yang pertanyaannya menuntut tanggapan hingga ia mengerti, dan jika ia tidak bertanya, ia akan menyampaikan ceritanya sendiri, segala pengalaman di kelasnya. Ia sosok lain dari perempuan tua yang duduk di teras rumah mengisahkan legenda-legenda desa, atau seorang musafir yang membagikan pengalamannya di warung kopi yang disinggahinya. Hidupnya berputar tak hanya oleh gerak tubuh dan perilaku, tapi oleh kata-kata yang dikatakan dan didengarnya.

Bahkan ketika ia menulis, dalam hal ini surat-surat yang dikirimkan ke ibunya setelah menikah dan pergi, menunjukkan dirinya sebagai si teman ngobrol. Sebagaimana kesaksian ibunya, Bawuk merupakan perempuan yang “murah dengan kata-kata”. Surat-suratnya tak hanya berisi kabar, cerita yang ingin disampaikan olehnya kepada yang kelak akan membaca suratnya, tapi juga dihiasi cerita-cerita tambahan yang kadang tak ada perlu dan kepentingannya, segala omong-kosong yang tak ada sangkut-pautnya dengan inti surat. Tapi bukankah begitu obrolan di warung kopi, sebagaimana kita tahu demikian pula obrolan-obrolan di tempat lain. Bawuk sangat sadar bahwa bercerita, ngobrol, tak melulu menyampaikan sesuatu (dalam hal ini kabar), tapi juga usaha untuk memikat pembacanya, teman ngobrolnya. Dalam obrolan di warung kopi atau pendongeng tradisional, upaya memikat itu bisa dibantu oleh gerak tubuh, intonasi suara, ekspresi wajah, bahkan alat peraga lain, selain inti kisahnya sendiri. Tapi dalam kisah yang dituliskan, si pendongeng atau teman ngobrol, semata-mata harus mengandalkan kepada susunan kata-katanya dan apa yang bisa disampaikannya. Bawuk memilih nada yang riang, yang membuat ibunya terpikat untuk membaca dan menjadi teman ngobrol, juga melakukannya dengan cerita-cerita sampiran, tentang tetangga, makanan dan jajanan.

Maka ketika Bawuk mengirimkan surat yang sangat pendek, terdiri dari hanya tiga kalimat dan kalimat-kalimat itu juga pendek, daya pikatnya sebagai sebagai pendongeng lenyap. Ia meninggalkan ruang yang lebar, gerowong yang tak dikenali, yang disebut ibunya tak hanya sebagai “aneh” tapi juga “asing”. Ya, tentu saja ini meninggalkan misteri, dan misteri membawa kita kepada rasa ingin tahu yang mengangga. Rasa ingin tahu ini meminta untuk dipuaskan, dengan kata lain, ia meminta Bawuk untuk kembali menjadi teman ngobrol sesungguhnya. Kita tahu, ketika ia akhirnya datang ke rumah ibunya sebagaimana dijanjikan di surat yang sangat pendek tersebut, ia akan ditagih untuk bercerita. Untuk menuntaskan rasa ingin tahu. Untuk mengembalikan Bawuk sebagai teman ngobrol, sang pendongeng.

Melalui Bawuk, kita tahu kata-kata dan cerita yang dibawakannya memiliki kekuatan daya pikat, sejenis sihir yang mengisap perhatian orang. Percakapan merupakan sejenis upaya untuk saling memikat di antara para pelakunya, dan jika daya pikat ini tidak ada, gugur pula biasanya percakapan tersebut. Dan ketika cerita menghilang, daya pikat melemah, yang tersisa hanyalah misteri yang meminta dibongkar dan dikuak. Tanpa cerita, kita hanya melihat pertunjukan wayang dengan lampu-lampu yang dipadamkan dan sosok-sosok wayang dimasukkan ke dalam kotak. Sebuah pertanda bahwa orang harus pulang, kembali ke dunia kenyataan sehari-hari.

***

Saya baru saja bicara tentang pertunjukan yang usai dan orang kembali ke kehidupan hariannya, semata-mata untuk mengingatkan bahwa cerita merupakan dunia lain. Ketika kita bertemu seseorang dan percakapan membuat kita menjadi seorang pendongeng, pada dasarnya kita tengah menciptakan sebuah dunia yang lain. Dunia lain ini bisa saja dunia rekaan seperti di kisah-kisah tragedi Yunani, dunia rekaan tempat peri, jin, dedemit bisa hidup, atau para pahlawan ajaib bertarung di negeri antah-berantah. Sekaligus bisa saja dunia lain itu adalah dunia yang benar-benar ada, di tempat dan waktu yang berbeda, dibawa oleh si pendongeng ke hadapan kita melalui cerita.

Riverside Park di New York pada satu ketika yang gerimis mungkin benar-benar kejadian sebagaimana dilihat si narator “Mitsuh”, sebagaimana peristiwa pencopetan yang dilakukan seorang Negro atas seorang perempuan yang cuma terdengar suaranya meneriakkan “Heeeeelp! Heeeelp!”. Tapi ketika itu datang kepada kita melalui kisah yang disampaikan Umar Kayam, kita sadar itu dunia yang lain. Dunia yang diciptakan secara bersama-sama oleh penulis dan pembacanya. Dunia hasil sebuah percakapan. Pada saat yang sama, meskipun dunia yang terbentuk dari percakapan penulis dan pembaca ini semu belaka, tapi juga kita bisa bersepakat bahwa itu merujuk ke sebuah dunia yang nyata, bahkan meskipun jauh dari akurat.

Dalam cerita “There Goes Tatum” ini, kita tengok sejenak ketika si “Mitsuh” ini sedang melintasi taman hendak pergi ke kampus dan dihadang seorang Negro yang awalnya menampilkan diri sebagai gembel pengemis (setidaknya begitulah yang tergambar oleh saya sebagai pembaca dari percakapan mereka). Si gembel pengemis hanya meminta lima puluh sen, yang konon bisa untuk membeli sepotong hero-sandwich salami. Kita tahu pertemuan mahasiswa dan gembel itu adalah rekaan sang penulis, bahkan meskipun peristiwa itu mungkin pernah terjadi atas satu tokoh mahasiswa atau lainnya. Pembaca mereka ulang bagaimana “Mitsuh” berdialog dengan si gembel, memperlihatkan recehan tapi tidak langsung memberikannya, untuk sedikit mempermainkannya. Bahkan ketika si gembel pengemis ternyata tak hanya mengemis, tapi dengan haya yang sopan namun penuh ancaman ternyata juga seorang perampok, kita masih bisa mendengar percakapan mereka. Kita membayangkan semua itu dalam dunia yang abstrak, tapi pada saat yang sama kita bisa memahami sensasinya sebagaimana itu bisa terjadi di dunia nyata. Termasuk bisa memahami stereotif ras, juga tentang pendapat mengenai ketidakmampuan orang Amerika membuat jam tangan.

Demikianlah saya kira manusia, melalui percakapan, melalui cerita pendek atau novel, sanggup mereka dunia yang abstrak, tapi pada saat yang sama terus terhubung dengan dengan kenyataan. Dunia abstrak itu bisa sebuah peristiwa, bisa pula gagasan-gagasan yang rumit. Melalui cerita kita bisa memahami bagaimana peristiwa di masa lalu bisa diungkapkan sesederhana sebagai pembagian nasi bungkus untuk demonstran, misalnya. Tentu saja ada banyak penyederhanaan, bagaimanapun cerita bukanlah dunia yang sebenarnya, tapi pada saat yang sama dengan cara itulah manusia mencoba memahami dunia. Saya tak tahu apakah binatang memiliki kemampuan semacam itu, apakah mereka bergelut dengan bahasa yang pasti tidak kita pahami, tapi yang jelas manusia mampu melakukannya. Manusia menjalani pengalaman atau mendengar orang menjalani pengalaman, lalu menceritakan pengalaman itu dengan satu dan lain cara. Cerita itu bisa saja demikian dekat dengan keseharian si pencerita dan pendengar, tapi bisa pula demikian mengawang-awang tanpa juntrungannya, tapi kita tetap bisa menerimanya, meski dengan penerimaan yang berbeda-beda. Itulah kenapa manusia bisa bercakap-cakap dan bercerita. Karena dengan cara itulah kita menghadirkan kembali dunia yang tidak bisa dihadirkan, karena jarak maupun waktu, atau lainnya.

***

Membaca cerpen-cerpen Umar Kayam, sekali lagi kita berjumpa dengan teman berbincang. Dan sebagaimana perbincangan, kita barangkali hanya berenang di permukaan dan terombang-ambing ke sana-kemari, terhanyut oleh arus yang pelan sekalipun. Ia seperti bunyi “klik” si gembel pengemis di Riverside Park dari pisau yang tengah dicobanya pada janggutnya, suatu suara dan tindakan ringan tapi memberi pesan yang jauh berbeda dari apa yang terlihat.

Seperti obrolan, kadang kita benar-benar terhanyut oleh si juru dongeng hingga kita tak lagi bisa mengingat dari mana sebuah cerita berawal dan akan dibawa ke mana, tapi seringkali pula kita dibuat terhenyak dan memikirkan berbagai kedalaman dari dongeng yang sekilas tampak ngalor-ngidul. Tentu diperlukan perbincangan yang intim antara pihak-pihak yang terlibat obrolan, sebagaimana hubungan yang intim antara penulis dan pembaca melalui cerita, untuk membuka berbagai kemungkinan yang ada, yang tak tersurat dalam kata-kata. Kita mungkin menemukan berbagai cabang cerita yang tak terjelajahi, yang dalam percakapan sehari-hari, barangkali akan menuntun kita untuk bertanya.

Cerpen-cerpen Umar Kayam memiliki begitu banyak jebakan-jebakan cecabang cerita semacam itu, jalan-jalan setapak yang tak terjelajahi yang kemudian menjelma misteri yang merangsang rasa ingin tahu pembaca. Lubang-lubang misteri itu bisa jadi ada hubungannya dengan psikologi manusia, sebagaimana saya bertanya-tanya apa yang ada di pikiran Marto ketika meninggalkan Jane. Bisa pula itu berupa pandangan dunia. Ruang-ruang pertanyaan itu membuktikan bahwa rasa ingin tahu kita tak pernah mati, dan sebaiknya memang tak pernah mati hingga kita akan terus-menerus mencari teman ngobrol, dan para pendongeng dilahirkan dari satu generasi ke generasi lain.

Ada hal-hal yang saya yakin jauh lebih menarik ketika kita membicarakan cerpen-cerpen ini (kita tahu, satu obrolan akan menghasilkan obrolan lain). Ada aspek-aspek filosofis, psikologi, budaya maupun sosial-politik yang melingkupi cerpen-cerpennya, dan tentu saja memerlukan tempat dan obrolan tersendiri untuk membedah dan mengulitinya. Tapi menempatkan Umar Kayam dan cerpen-cerpennya dalam bingkai pembicaraan mengenai pendongeng sebagai seorang teman ngobrol saya rasa sama pentingnya untuk ditengok. Demikian pula menempatkan cerpen-cerpennya tak semata-samata sebagai alat untuk menyampaikan kabar, tapi terutama untuk menyentuh pembacanya.

Terutama di masa ketika budaya “ngobrol” memperoleh momentumnya kembali saat ini, dengan ledakan dunia digital. Cerita bukan lagi semata-mata tentang apa yang disampaikan, tetapi bagaimana cerita itu bisa menyentuh, baik secara emosi maupun keyakinan. Tradisi berbincang jelas setua peradaban manusia itu sendiri, kita hanya seringkali terkejut melihat kemunculannya yang demikian terang-benderang. Tapi seharusnya itu tak perlu dianggap mencengangkan sama sekali, jika saja kita bersedia melihat para penulis atau pendongeng, melalui cerita mereka, sebagai teman ngobrol.

Kita butuh dan selalu mencari sosok semacam itu, kita hanya berharap keberuntungan membawa kita ke teman ngobrol yang menyenangkan di mana pun. Mungkin seperti “Mitsuh” berjumpa dengan si gembel pengemis sekaligus perampok. Hubungan mereka timpang, antara seseorang yang mengancam dan diancam, yang merampok dan dirampok. Tapi bahkan mereka bisa menciptakan obrolan yang menyenangkan, bukan?

Jakarta, 2018

Diterbitkan pertama kali sebagai pengantar untuk buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam, edisi Pojok Cerpen, 2018.

20 Catatan Tentang Kesusastraan di Asia Tenggara

  1. Mari kita bicara secara langsung saja: masalah terbesar dari kesusastraan di Asia Tenggara ini adalah, kita tidak membaca satu sama lain. Orang Indonesia tak membaca novel-novel dari Thailand, orang Malaysia tak membicarakan kesusastraan Filipina, sebagaimana orang Vietnam tak tahu banyak kesusastraan Singapura.
  2. Beberapa tahun lalu, saya memang pernah membaca novel Jose Rizal yang terkenal, The Social Cancer. Belum lama saya juga membaca cerita-cerita pendek Prabda Yoon, penulis Thailand. Atau, bisa jadi Anda menemukan novel-novel Pramoedya Ananta Toer di toko buku bandara di Kuala Lumpur dan membacanya. Bukankah itu membuktikan bahwa kita membaca satu sama lain?
  3. Dalam skala kecil, bisa jadi benar. Tapi, jika kita melihatnya lebih seksama, kita akan tahu penulis-penulis tersebut dibaca di kawasan ini, terutama karena ketersediaan karya-karya mereka dalam terjemahan bahasa Inggris. Karya-karya mereka tersedia melalui jaringan toko-toko buku impor dan penerbit-penerbit di New York maupun London.
  4. Memang kita tak bisa mengelak dengan fakta sederhana bahwa bahasa Inggris tak hanya merupakan bahasa komunikasi dunia saat ini, tapi juga bahasa kesusastraan secara global. Sebagian besar orang hanya mengenal kesusastraan asing melalui bahasa tersebut, sebagaimana kesusastraan dunia dibentuk oleh selera para penerbit dan pembaca berbahasa Inggris.
  5. Dengan kata lain, kawasan Asia Tenggara merupakan wilayah yang terasing satu sama lain, setidaknya jika kita menganggap kesusastraan merupakan jiwa suatu bangsa. Saya mungkin hanya memerlukan penerbangan kurang dari lima jam dari Jakarta ke Manila, akan tetapi, novel-novel saya memerlukan perjalanan yang jauh lebih panjang untuk bisa dibaca di sini, dalam bahasa yang bukan bahasa ibu penulis maupun pembacanya.
  6. Belum lama ini saya datang menghadiri sebuah festival sastra di Yogyakarta dan bertemu dengan banyak penulis. Mereka dengan fasih bisa bicara tentang karya-karya kesusastraan global. Dari penulis klasik semacam Dostoyevsky atau Kafka, hingga penulis kontemporer semacam Haruki Murakami atau Neil Gaiman. Saya yakin percakapan sejenis bisa didengar di komunitas-komunitas penulis di Manila, Kuala Lumpur, Bangkok maupun Hanoi.
  7. Tentu saja mereka juga akrab dan dengan bersemangat bicara tentang para penulis Indonesia lainnya, yang lama maupun baru. Sebagaimana para penulis Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan lainnya bisa bicara tentang kesusastraan dan para penulis mereka sendiri. Sekali lagi, tanpa kemampuan untuk membaca kesusastraan satu sama lain.
  8. Di sini, kita terjerumus dalam dua keadaan yang tak terelakkan. Pertama, saya sering menyebutnya sebagai inses kebudayaan. Kita hanya membaca di antara sesama penulis di dalam wilayah kebudayaan yang sama. Seperti perkawinan sedarah, perkawinan di dalam satu kebudayaan hanya akan menciptakan generasi-generasi yang secara kultur mengalami kemunduran.
  9. Kedua, jika kita berusaha keluar dari perkawinan sedarah semacam itu, kita terpaksa mengkonsumsi bacaan global yang juga telah dibudidayakan dalam satu kultur tunggal: yakni kultur pembaca berbahasa Inggris. Kebudayaan semacam apa yang bisa diharapkan dari tradisi membaca yang seragam, dari London hingga Yogyakarta, dari Buenos Aeros hingga Manila?
  10. Kita, setidaknya kesusastraan Indonesia yang saya kenal, dan barangkali keadaannya sama saja di negara-negara Asia Tenggara lainnya, justru semakin mengekalkan keadaan semacam itu secara sadar. Kita berlomba menerjemahkan karya-karya terbaik kita ke bahasa-bahasa Eropa, tapi seringkali lupa memperkenalkan diri ke tetangga-tetangga terdekat kita.
  11. Gagasan tentang komunitas negara-negara di Asia Tenggara sangat menarik perhatian saya. Barangkali berbeda dengan kawasan-kawasan lainnya di dunia, wilayah ini merupakan peleburan berbagai kebudayaan yang sangat dinamis, menciptakan suatu wajah kebudayaan yang begitu beraneka warna, sekaligus memberi tantangan yang luar-biasa menantang.
  12. Pengaruh-pengaruh yang datang dari jauh bertumpang-tindih di sini. Agama membawa pengaruh China, India, Arab, hingga Eropa. Kolonialisme membawa pengaruh bahasa Spanyol, Portugis, Inggris, Perancis, Belanda. Perdagangan dan campur-aduk itu semua membangun budaya kuliner yang beraneka-pula.
  13. Secara geografi, tak terelakkan Asia Tenggara memang merupakan tempat perjumpaan berbagai tradisi. Seperti busa, kita merupakan wilayah yang sangat mudah menerima pengaruh-pengaruh tersebut, kemudian membentuknya atau menciptakannya kembali menjadi sesuatu yang bisa kita klaim sebagai milik kita sendiri.
  14. Sialnya, peleburan itu menciptakan tak hanya sebuah wilayah dengan keanekaragaman yang mengagumkan, tetapi juga membuatnya terasing satu sama lain. Asia Tenggara terpisahkan oleh agama-agama mayoritas yang dianut masing-masing penduduknya. Asia Tenggara terpisahkan oleh sejarah kolonialisme yang berbeda satu sama lain. Dan dalam problem kesusastraan, Asia Tenggara juga terpisahkan oleh bahasa-bahasa nasional yang berbeda satu sama lain, dan tak dimengerti satu sama lain.
  15. Asia Tenggara, bisa dikatakan merupakan wilayah yang selama berabad-abad tumbuh dengan kemampuan menyerap berbagai pengaruh asing, yang datang dari jauh. Akan tetapi, pada saat yang sama, gagap terhadap tetangga-tetangga dekatnya. Kita dipersamakan oleh banyak hal, sekaligus terpisahkan oleh dinding-dinding tebal yang kokoh.
  16. Bahasa merupakan tantangan terbesar dalam usaha agar kita bisa saling membaca satu sama lain. Bahkan antara Indonesia dan Malaysia, yang memiliki akar bahasa yang sama, masih terdapat jurang lebar antara pembaca dan karya sastra dari kedua negara tersebut. Bahasa, yang pada dasarnya menghubungkan satu manusia dengan manusia lain, malahan telah menjadi pagar pembatas.
  17. Kesusastraan seharusnya bisa menjadi alat pembobol pagar-pagar pembatas. Alih-alih menunggu sebuah novel dalam bahasa Tagalog atau Melayu diterjemahkan ke bahasa Inggris dan dijual di toko buku bandara, kenapa komunitas-komunitas kesusastraan kita tak mulai menerjemahkan karya-karya satu sama lain, di antara negara-negara Asia Tenggara sendiri?
  18. Negara-negara di Amerika Latin barangkali beruntung, mereka dipersatukan oleh bahasa kolonial mereka, Spanyol dan Portugis, yang memungkinkan kesusastraan dan solidaritas di antara mereka terbentuk. Hal yang sama barangkali terjadi di Afrika. Meskipun mereka memiliki begitu banyak bahasa, pada akhirnya terhubungkan oleh bahasa kolonial Inggris dan Perancis.
  19. Di Timur-Tengah, dengan berbagai konflik politik di antara mereka, setidaknya kebudayaan dan kesusastraan mereka dipersatukan oleh bahasa Arab, memanjang dari Maroko hingga Oman. Demikian pula di Eropa, mereka terbentuk oleh blok-blok bahasa yang berkerabat dekat, yang memungkinkan mereka saling membaca satu sama lain.
  20. Asia Tenggara tak harus disatukan oleh bahasa yang sama. Kita hanya memerlukan jembatan-jembatan yang menghubungkan aneka warna komunitas ini. Kita bisa memiliki jembatan kultural berupa kesusastraan, yang diterjemahkan dan dibaca satu sama lain. Sebab hanya dengan cara itulah kita terbebas dari komodifikasi kesusastraan global yang homogen, sekaligus ketertutupan kesusastraan nasional kita sendiri.
Catatan ini disampaikan sebagai pidato kunci pada Kongres PEN Internasional, Manila, 3 Oktober 2019.

“Get in the Ring”, Sebuah Pengantar

Sebagai pendengar musik alakadarnya dari sebuah kota kecil yang tak memiliki toko kaset besar dan tidak pernah dilewati konser grup band paling papan bawah sekalipun, saya tak pernah terpikirkan ada yang namanya “jurnalisme musik” atau bahkan “kritik musik” sampai saya mendengar lagu “Get in the Ring”.

Itu lagu dari Guns N’ Roses di album Use Your Illusions II, dan isinya penuh dengan caci maki terhadap jurnalis maupun kritikus musik. Lirik lagu itu secara eksplisit menyebut nama-nama mereka: Mick Wall dari Kerrang!, Bob Guiccone Jr. dari Spin, Andy Secher dari Hit Parader. Dari judulnya, kita tahu apa yang mereka inginkan dari jurnalis atau kritikus-kritikus itu: mending kita duel saja di atas ring! Konon, ajakan dari lagu itu disanggupi oleh Bob Guiccone Jr. Sayang duel di atas ring tersebut tak pernah terjadi, mungkin karena mereka sadar Bob Guiccone Jr. pernah berlatih tinju selama sembilan tahun.

Saya bisa mengerti kemarahan Axl, Slash dan Duff pencipta lagu itu. Entah kenapa, di masa itu (saya masih remaja enam belasan tahun ketika album itu muncul) saya lebih bersimpati kepada para rocker daripada para jurnalis musik. Dan dari pengertian semacam itu pula, saya rasa tak akan mengherankan jika ada band atau musisi yang jengkel dan dongkol dengan Nuran Wibisono selepas membaca artikel-artikel di buku Nice Boys Don’t Write Rock N Roll.

Bayangkan saja Mike Tramp sudah repot-repot bikin Remembering White Lion, disebut Nuran “sama sekali tak menarik”. Atau John Frusciante yang dijunjung dengan komentar “cukup menyenangkan untuk disimak”, lalu dibanting dengan “walau tak sampai meninggalkan kesan yang mendalam”. Itu belum seberapa. Collective Soul jelas-jelas disebut sebagai band “medioker”, yang bahkan bikin gerah bininya, yang ternyata penggemar band tersebut. Lebih ngeri lagi komentarnya mengenai boyband atau girlband macam SM*SH yang menurutnya, “tak hanya mempermalukan diri mereka sendiri. Mereka juga turut mempermalukan kawan dan bahkan keluarga mereka sendiri.” (Saya jadi bertanya-tanya apa pendapatnya tentang girlband Korea kesayangan saya: So Nyuh Shi Dae alias SNSD alias Girls’ Generation, ya?)

Membacanya sampai akhir, kita bisa bikin daftar lebih panjang siapa yang pantas mengajak Nuran duel di atas ring.

Ada pepatah lama yang mengatakan pena adalah pedang. Bagi para bintang rock ini, pedang itu jelas bermata dua. Para jurnalis dan kritikus musik seringkali menjadi kawan yang membantu mengangkat mereka ke tangga kepopuleran, di sisi lain bisa juga menjadi pembunuh paling bangsat. Mereka mungkin akan menggerutu, “mentang-mentang bisa nulis, punya pengetahuan ini dan itu, punya akses menerbitkannya di media yang tersebar luas, kalian seenaknya menulis (hal buruk) tentang kami.” Banyak bintang menanggapinya dengan aksi tutup mulut bagi jurnalis, jika mereka sudah sedemikian kesal. Guns N’ Roses menanggapinya dengan cara yang kreatif, menulis lagu, menyanyikannya dan memasukkannya ke salah satu album terlaris di dunia. Lagu itu dan nama-nama jurnalis musik yang dimaki, abadi di sana. 

Tanpa harus berakhir dengan adu jotos.

Bersama berlalunya waktu, sebagai penikmat musik (dalam kasus penulis buku ini, saya juga memiliki kesamaan, penggemar rock n roll dengan berbagai turunannya), saya bisa tumbuh lebih dewasa. Saya tak lagi melihat bintang-bintang rock ini sebagai “idol” (dalam makna yang sebenarnya, berhala), tapi menempatkan mereka pada definisi yang lebih tepat: “si jenius”. Kita bisa berdebat banyak soal kejeniusan ini, dan itulah titik pokoknya. Si jenius bisa diperdebatkan, berhala tidak.

Pergeseran cara pandang ini, atau pendewasaan ini, banyak dibantu oleh bacaan. Dalam hal musik, tentu itu datang dari para jurnalis dan kritikus musik. Sebagai penikmat musik, kita mulai membuat jarak antara kenikmatan mendengar musik dan para jenius di belakangnya, dan saya rasa para bintang rock yang tumbuh dengan sehat, juga akan dibikin dewasa dengan cara yang sama, melalui mereka.

Saya, misalnya, bisa lebih mengerti selepas membaca buku ini, kenapa di akhir masa remaja obsesi saya terhadap musik (secara keseluruhan) tiba-tiba pudar setelah kematian Kurt Cobain. Kalau mau jujur, saya lebih ngefans Guns N’ Roses atau bahkan Pearl Jam daripada Nirvana, meskipun saya juga memiliki seluruh album studio mereka dan terus mendengarkan lagu-lagunya. Lalu Kurt mati. Saya merasa ada yang hilang selepas itu, dan saya kehilangan napsu mendengar musik. Segala jenis musik, seolah hidup saya berakhir.

Tapi dari kematian itulah lama setelahnya hidup sesuatu yang baru. Saya mulai mencoba mendengarkan musik yang berbeda. Saya belajar mendengarkan The Drifters, The Hollies, dan belakangan melebar ke mana-mana: Via Vallen hingga Blackpink. Tapi itu cerita lain.

Hubungan fans dan bintang rock yang awalnya tampak serupa cinta posesif, dengan kehadiran jurnalis maupun kritikus musik, berkembang menjadi cinta segitiga yang dinamis. Kadang jurnalis dan kritikus musik muncul menyuarakan si jenius untuk para pendengar (tentang album Dr. Feelgood, Nuran menulis, “mereka memasukkan kisah hidup ke dalam lagu, energi baru setelah berhasil melewati berbagai drama hidup yang macam rollercoaster, serta kombinasi yang komplit antara citra dan musik.”), lain kali ia bicara persis seperti apa yang ingin diteriakkan para pendengar kepada para bintang (“Konsistensi memang penting, Bung. Apalagi jika kamu adalah seorang musisi,” tulis Nuran untuk Ahmad Dhani). Tapi yang menarik adalah ketika mereka hadir dengan suara tak terduga, mengganggu hubungan yang seolah-olah baik-baik saja. Ia membenturkan para pendengar musik dengan pendengar musik lain, atau para jenius dengan jenius lain.

Nuran jelas melakukannya:

“Yang membuat saya menilai album Appetite for Destruction itu lebih unggul ketimbang Nevermind adalah kerja band secara keseluruhan. Appetite for Destruction digarap dengan cara keroyokan. Semua anggota band punya andil pada setiap lagu. Sedangkan Nevermind, nyaris semua lagunya ditulis oleh Kurt Cobain. Dari fakta ini saja jelas Guns N’ Roses lebih unggul sebagai sebuah grup band, ketimbang Nirvana yang nyaris seperti one man show.”

Lalu mengenai Sting dan The Police:

“Album itu menunjukkan ‘cinta­belum­kelar’ Sting pada musik jazz,” tulis Nuran, tapi, “Terlepas dari pencapaian artistik yang tampak lebih baik, kita tak bisa memungkiri bahwa Sting sebagai musisi solo belum bisa menandingi dirinya sendiri ketika masih bersama The Police.”

Jurnalisme dan kritik musik adalah “ring tinju” yang sebenarnya, di mana kemarahan, gagasan, keputusasaan, harapan, dan segala tetek-bengek tentang musik berjumpa. Terutama di masa sekarang, ketika musik yang mengejutkan (juga yang paling sampah) bisa ditemukan berdampingan di belantara Youtube, di mana mendengarkan lagu baru semata-mata mengikuti rekomendasi Spotify, perbincangan ini menjadi jauh lebih perlu. Dunia tentu terus berubah, trend dan bahkan cara para jenius musik memperoleh uang dari pekerjaan mereka juga berubah, tapi satu hal tetap sama: kita senang bercerita, dan kita butuh seseorang menceritakan kepada kita, termasuk tentang musik.

2019

Tulisan ini diterbitkan pertama kali sebagai pengantar untuk buku Nice Boys Don’t Write Rock N Roll karya Nuran Wibisono.

Manusia Global dan Runtuhnya Batas-Batas

Setidaknya ada dua kontroversi yang menyelimuti Nobel Kesusastraan yang dianugerahkan bersamaan kepada Olga Tokarczuk (2018) dan Peter Handke (2019) Kamis lalu (10/10).

Pertama, kritik terhadap ”lagi-lagi Eropa-Amerika”. Meskipun setelah skandal pemerkosaan yang membuat penghargaan tahun lalu ditunda sempat ada janji untuk melihat dunia secara luas dan beraneka.

Sejak 2013, penghargaan itu selalu dimenangi penulis Eropa-Amerika. Termasuk Kazuo Ishiguro (2017) yang meskipun kelahiran Jepang, menulis dalam bahasa Inggris dan berkewarganegaraan Inggris.

Kedua, Peter Handke dianggap dekat dan jadi pendukung Slobodan Milosevic yang dituduh sebagai penjahat perang. PEN Amerika bahkan mengungkapkan kekecewaan atas pilihan Akademi Swedia terhadap penulis Austria yang menulis dalam bahasa Jerman itu.

Di luar itu, membaca novel Flights karya Olga Tokarczuk, barangkali, bisa sedikit meredam dua kontroversi tersebut. Dipilihnya Olga memang tak terlalu mengejutkan, kendati namanya tak terlalu banyak diunggulkan. Terutama setelah tahun lalu novel tersebut memperoleh Booker Prize Internasional.

”Hidup? Tak ada hal seperti itu; aku hanya melihat jalur-jalur, pesawat dan tubuh, dan perubahan mereka di dalam waktu. Waktu, sementara itu, tampak serupa perangkat sederhana untuk mengukur perubahan kecil, penggaris sekolah dengan skala sederhana — hanya memiliki tiga titik: lalu, kini, dan akan.”

Novel penulis Polandia itu memang bisa diringkas sebagai kisah tentang ketercerabutan manusia, yang tempat tinggal mereka hanyalah tempat-tempat persinggahan. Fragmen-fragmennya seperti penjelasan tentang keterserakan ini. Rumah hanyalah salah satu tempat singgah, sebagaimana bandara, tempat wisata, dan tentu saja lambung pesawat.

Buku itu bagi kebanyakan orang mungkin membingungkan. Apakah itu sebuah novel? Tak ada alur tunggal yang jelas, seperti novel konvensional umumnya. Apakah itu kumpulan cerita pendek? Sulit juga dikatakan demikian.

Meskipun bagian-bagiannya berjudul, sering kali tak ada cerita di sana, hanya deskripsi atau refleksi tentang sesuatu. Dari tendon achilles hingga tari perut, dari ulasan tentang pulau hingga kereta untuk para pengecut.

Pada saat yang sama, bisa jadi justru kekacauan itu sangat akrab bagi pembaca masa kini. Bayangkan kita membuka lini masa media sosial. Kita menelusuri banyak kisah, omelan, petatah-petitih, provokasi, informasi, iklan, percakapan, apa pun dalam campur aduk yang tak beraturan. Kekacauan, yang anehnya, bisa dinikmati banyak orang.

Itulah kenapa dalam kutipan yang saya catut, saya menerjemahkannya dari versi Inggris, ia mengatakan hidup hanya ditandai oleh waktu. Persis media sosial: Segala hal patuh pada lini masa dan tak memerlukan kerunutan dan kemanunggalan pembicaraan.

Jika pembicaraan di media sosial, terutama Twitter, Instagram, dan Facebook, dibayangkan sebagai ekspresi terbaik zaman sekarang, saya bisa membayangkan bahwa Flights bisa menangkap hal itu. Novel tersebut, sengaja atau tidak, seperti bicara dengan bahasa yang berlaku di masa kini.

Dengan cara seperti itulah novel tersebut juga menangkap ekspresi lain dari zamannya. Ketika ide tentang dinding pembatas yang memisahkan satu negara dengan negara lain memuncak, ketika imigrasi dipandang sebagai malapetaka, ketika yang asing dipandang sebagai musuh, novel tersebut mencerahkan karena menjadi antitesis.

Sekali lagi, novel itu mungkin agak mengganggu bagi kebanyakan pembaca konvensional. Akan tetapi, coba bayangkan mengenai arah perkembangan kesusastraan di zaman modern, yang trennya tak mengenal wilayah bahasa maupun kultural. Bayangkan tentang novel yang isinya menceritakan perjalanan, jalan kaki, mengelilingi Kota Dublin. Itu Ulysses karya James Joyce.

Setelah itu, bayangkan cerita pendek, yang isinya berisi telaah buku yang sesungguhnya tak pernah ada. Itu cerita pendek “Pendekatan untuk Al-Mu’tasim” karya Jorge Luis Borges, yang menyebut karya itu sebagai setengah hoax setengah esai. Kemudian, cobalah baca sebuah novel tentang seorang pembaca yang hendak membaca novel. Itu novel If on a Winter’s Night a Traveler karya Italo Calvino.

Jika kita mengikuti arus tren novel-novel itu, kita akan merasakan sejenis eksperimen yang semakin menjauhi bentuk-bentuk kisah konvensional, yang menyiratkan drama dengan pembukaan, isi, dan penutup. Novel-novel tersebut keluar dari konvensi-konvensi begini.

Akan tetapi, barangkali itulah ekspresi kita hari ini. Ekspresi di mana antitesis berlaku. Saat dinding perbatasan didirikan, kita bicara dan mengintip pembicaraan lintas negara. Kita adalah manusia terbang, secara fisik maupun mental. Terbang pula dari satu pembicaraan ke pembicaraan lain.

Diterbitkan di Jawa Pos, 12 Oktober 2019.

Kita, Tetangga, dan Papua

Ketika ibu hendak menikahkan adik perempuan saya, untuk kali pertama ia berpikir menyewa gedung. Selain karena ia sudah tua, terlalu lelah untuk mempersiapkan pesta dan segala sesuatunya, adik perempuan saya juga tak mau ribet.

Protes justru datang dari tetangga-tetangga kami. Sebagian di antara mereka telah bekerja kepada almarhum ayah saya, juga kepada adik saya, selama bertahun-tahun. Mereka bertanya kepadanya, “Jadi, Ibu tidak mau berbagi kebahagiaan dengan kami? Tidak lagi mau mempekerjakan kami?”

Memang seperti itulah cara orang-orang di lingkungan rumah ibu saya biasanya mengajukan protes. Blak-blakan, tapi juga dengan setengah bercanda setengah menyindir. Mereka bukan orang-orang yang terbiasa datang ke gedung pernikahan, dengan kode pakaian tertentu, pada jam yang telah ditetapkan pula.

Di luar itu, tentu saja pernikahan di gedung umumnya mempergunakan jasa katering. Di sini mereka juga keberatan, karena merasa tak ikut dilibatkan bekerja di dapur. Tidak, sebenarnya tak ada upah bagi para tetangga yang ikut membantu memasak di dapur atau mempersiapkan berbagai tetek bengek pesta. Buat mereka, bisa memberikan tenaga kepada salah satu di antara mereka yang punya hajat merupakan kehormatan tersendiri.

Setelah berdiskusi dengan adik perempuan saya, akhirnya ibu saya mengambil jalan tengah. Pernikahan tetap di gedung, tapi tak jauh dari rumah. Hanya berjalan kaki lima menit. Artinya, masih di lingkungan perkampungan kami. Jasa katering hanya dipakai sebagian, terutama untuk camilan yang diinginkan adik saya. Sisanya, tetap ada masak di dapur yang melibatkan para tetangga.

Solusi itu berjalan lumayan baik. Para tetangga bisa ikut berbahagia dalam pesta pernikahan tersebut. Mereka datang di waktu yang longgar karena dekat. Mereka juga gembira bisa ikut susah payah menanak nasi, memotong sayur, memasak rendang, dan lain sebagainya.

Saya teringat pesta pernikahan beberapa tahun lalu itu saat membaca berbagai kabar tentang Papua. Bukankah hubungan antartetangga di lingkungan perkampungan, dengan berbagai konflik maupun pengertiannya, juga bisa dipakai cara membaca di level hidup berbangsa?

Isu tentang Papua selalu berakhir dengan tuntutan mereka untuk menentukan nasib sendiri. Juga gugatan tentang sejarah bagaimana Papua menjadi bagian dari Indonesia. Lalu, menghadapi tuntutan itu, reaksi Jakarta juga selalu tak jauh berbeda: penangkapan dan pengiriman polisi maupun tentara yang lebih banyak ke Papua.

Di sini saya tak ingin masuk ke perdebatan mengenai hak menentukan nasib sendiri. Saya justru ingin menengok ke dalam hubungan Indonesia (atau bagian Indonesia lainnya) dan Papua. Kita bisa melihat betapa hubungan itu memang bermasalah sejak lama. Dan, tak pernah ada peta jalan untuk memperbaikinya.

Jika hubungan Papua dan daerah-daerah lain diibaratkan hubungan bertetangga di kampung, sudahkah kita berbagi kebahagiaan maupun duka bersama? Sudahkah orang-orang Papua menjadi realitas sehari-hari dalam kehidupan, katakanlah orang-orang di Jakarta? Saya rasa jauh dari itu.

Setiap kali saya pergi ke toko swalayan atau warung makan, masih mungkin saya bertemu orang sebagai pelayan maupun pemilik warung yang berasal dari Padang, Aceh, Bugis, dan Bali. Tapi, tak pernah saya bertemu orang Papua. Jika kamu bekerja di sebuah kantor, seberapa kemungkinannya kolega kerjamu orang Papua?

Kita dengan mudah menimpakan masalah-masalah itu semata-mata sebagai ketimpangan ekonomi dan pendidikan. Tentu saja itu benar, sebagian. Reaksi pemerintah, selain reaksi keamanan, sering kali material, seperti pembangunan yang masif di tanah Papua di masa pemerintahan Joko Widodo. Itu juga perlu, tapi tak cukup.

Sekali lagi, seperti kisah tetangga-tetangga ibu saya, mereka ingin membantu tanpa mengharapkan upah. Mereka ingin hadir, menjadi bagian dari sebuah kehidupan komunal. Bahkan, tak jarang mereka tak hanya memberikan tenaga, tapi malah memberikan bahan makanan untuk orang yang punya hajat.

Selama puluhan tahun, Papua nyaris tak hadir dalam kehidupan komunal Indonesia. Ya, mereka memang hadir di sepak bola atau pameran-pameran kebudayaan. Tapi, realitas sehari-hari jelas sangat tak terlihat dan itu merupakan problem yang seharusnya diperbaiki sejak awal.

Pernahkah ke toko buku dan melihat sebuah novel karya penulis Papua? Pergi ke bioskop, berapa tahun sekali Anda melihat film dengan bintang utama orang Papua? Jika Anda pemilik toko, seberapa besar kemungkinan Anda merekrut orang Papua menjadi karyawan?

Jika jawaban kemungkinannya mendekati angka nol, kita memang punya masalah dalam hubungan sosial dengan orang Papua. Dan pemerintah dengan keras kepala terus mencoba menyelesaikannya dengan senjata dan gelontoran uang, yang semakin membuat kita terasing satu sama lain.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 7 September 2019.

Toni Morrison dan Dunia yang Tidak Tunggal

Sekali waktu Toni Morrison, yang meninggal dalam usia 88 tahun pada 5 Agustus lalu, ditanya seorang wartawan, “Apakah nanti akan menulis tentang orang kulit putih?” Selama beberapa saat ia terdiam, sebelum menjawab, “Kamu tak sadar ya betapa rasis pertanyaan itu?”.

Dalam bawah sadar, manusia sering berpikir bahwa dirinya merupakan pusat segala sesuatu, pusat semesta. Segala hal mesti tentang dirinya. Jika ia bagian dari kelompok, perasaan itu akan dibawa ke logika kelompok. Bahwa kelompoknya harus menjadi pusat kisah semesta.

Yang menjadi problem adalah ketika kelompok yang kuat, mayoritas, memaksakan narasi kelompoknya kepada kelompok lain. Memaksa kelompok lain berada di pinggiran. Atau bahkan menghapuskannya dari peta.

“Aku tak pernah meminta Tolstoy menulis untuk seorang gadis berwarna yang lahir di Ohio,” kata Toni Morrison di kesempatan lain. “Aku juga tak pernah meminta James Joyce untuk tidak menulis tentang Katolik dan orang-orang Dublin.”

Ia mengatakan itu untuk melawan orang-orang yang menganggap karya-karyanya sangat sempit: menceritakan pengalaman orang-orang kulit hitam dan diceritakan untuk orang kulit hitam. Dengan kata lain, ia menggugat, memangnya kenapa kalau hanya menulis tentang orang kulit hitam? Toh, penulis kulit putih juga sering kali menulis kisah orang kulit putih dan diceritakan dengan cara pandang orang kulit putih pula?

Rasisme muncul ketika seseorang atau sekelompok orang menolak (ras) yang lain untuk berbagi pusat. Pertanyaan si wartawan mengindikasikan terus-menerus menceritakan orang kulit hitam sebagai hal aneh atau tak patut dan ia menuntut dengan pertanyaan, kapan Toni Morrison menulis tentang orang kulit putih.

Padahal, bukankah kesusastraan global, setidaknya dalam tiga ratus tahun terakhir, dipenuhi narasi yang menempatkan orang-orang kulit putih di pusat penceritaan? Memangnya ada yang meminta Tolstoy menulis tentang orang kulit hitam? Memangnya tak boleh orang kulit hitam berada di tengah narasi?

Sekilas, orang mungkin berpendapat bahwa Toni Morrison tampaknya anti terhadap kesusastraan kulit putih. Lebih tepatnya: putih dan lelaki. Tengok semua novelnya, selain menempatkan orang kulit hitam sebagai pusat narasi, ia juga menempatkan perempuan di sana. Sethe di Beloved atau si gadis kecil yang bernama Pecola di The Bluest Eye.

Tidak. Toni Morrison bahkan berkali-kali menyebut William Faulkner, seorang penulis lelaki dan berkulit putih, sebagai orang yang berpengaruh dalam kesusastraannya. Ia bahkan belajar dari penulis semacam Faulkner, terutama bagaimana Faulkner berhasil untuk tetap menempatkan karya sastranya dalam regionalisme.

Bagi Toni Morrison, itu sangat penting. Faulkner hanya bercerita tentang orang-orang selatan, lebih spesifik lagi di wilayah fiktif yang bernama Yoknapatawpha. Ia bercerita dengan cara pandang orang selatan, dan tampaknya untuk orang selatan pula. “Kenyataannya, seluruh dunia tetap bisa membaca Faulkner,” kata Toni Morrison.

Dari Faulkner, ia belajar bahwa menceritakan lingkup yang regional sangatlah mungkin dan sangatlah bisa tak terbatas. Bicara tentang pengalaman perempuan-perempuan kulit hitam Amerika, bisa sama luasnya, baik tema maupun persoalan, dengan penulis lain mengisahkan ras-ras manusia lainnya.

Kematian Toni Morrison menjadi kehilangan yang besar, bukan hanya bagi kesusastraan, tapi terutama di tengah situasi di mana politik identitas merebak di mana-mana. Kekerasan politik, baik verbal maupun fisik, di mana orang atau kelompok saling mendesak untuk menjadi pusat narasi.

Kita tahu, Toni Morrison tak hanya mengubah lanskap kesusastraan Amerika, tapi juga ikut mengubah lanskap masyarakatnya. Ia telah menampilkan wajah Amerika yang sejati, justru dengan menuliskan narasi yang selama itu hilang. Narasi pengalaman hidup orang kulit hitam.

Itu tak hanya penting bagi orang kulit hitam sendiri, sebagaimana itu penting bagi aneka ras di Amerika, bahkan pengaruhnya meluas hingga di luar Amerika. Toni Morrison telah mengajari dunia bahwa pusat-pusat narasi itu tidak tunggal. Juga fakta sederhana bahwa jika tidak diceritakan, sebuah kelompok sosial akan “hilang” dan kelompok sosial lain merasa berhak sewenang-wenang karena berpikir mereka hidup sendiri.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 10 Agustus 2019.

‘Hanya Mengingatkan’

Aktif di media sosial, sering kali, berarti ada banyak orang yang mengingatkanmu untuk segala hal. Kelompok orang saleh akan mengingatkanmu untuk menutup aurat dan aktivis kesehatan akan mengingatkanmu akan bahaya merokok.

Teman saya bahkan diingatkan agar jangan terlalu banyak mempertontonkan belah dadanya, oleh orang yang tak begitu dikenal. Yang lain akan diingatkan polisi bahasa bagaimana cara menulis “di” yang benar.

Dirjen Pajak dengan sigap mengingatkan seorang selebritas yang berhasil menjual ribuan potong kerudung akan kewajiban pajaknya. Demikian pula perusahaan, semacam maskapai penerbangan, akan diingatkan penumpang jika tak memberikan layanan yang baik.

Bagi saya, fenomena itu sudah melampaui apa yang dibayangkan George Orwell di novel 1984. Ini situasi yang bisa dibilang sebagai pasca-Orwellian.

Di dunia Orwellian, kita menemukan diri menjadi objek pengawasan. Tindakan, kata-kata, bahkan pikiran kita terus dipantau. Tak hanya oleh perkakas semacam telescreen, tapi juga oleh polisi pikiran dan mata-mata.

Pusat pengawasan itu berakhir di Saudara Besar, yang bisa berupa sosok atau mungkin sistem. Jika seseorang tepergok melanggar aturan-aturan atau nilai-nilai, ia bisa diciduk. Dibikin hilang atau semacam direindoktrinasi.

Tidak. Situasi masyarakat media sosial tidak persis seperti itu. Tak ada sosok maupun sistem tunggal bernama “Saudara Besar”. Yang ada adalah masyarakat, negara, kapital, atau siapa pun, saling mengawasi satu sama lain.

Dengan kata lain, yang kita hadapi bukanlah kekuasaan terpusat yang sangat kuat, tapi kekuasaan yang memencar dan terus-menerus mencari perimbangan dalam dirinya. Sebagian merupakan kelompok-kelompok kuat, baik karena jumlah, uang, maupun teknologi.

Kelompok-kelompok kecil pun bukan berarti gampang dihadapi. Sering kali mereka lebih berisik, mengganggu. Mati satu tumbuh seribu.

Penyebaran ini tak hanya menyangkut siapa yang mengawasi siapa, juga tidak berhenti di siapa mengingatkan siapa, tapi sering kali berakhir dengan kekerasan. Verbal maupun fisik. Kekerasan verbal seorang warga negara kepada kekuasaan bisa berakhir dengan kekerasan fisik atau penahanan.

Jika harus dibayangkan, dunia Orwellian itu seperti dunia di mana moncong senapan ada di mana-mana, dikendalikan kekuasaan. Dunia sekarang, kita seperti menghadapi situasi di mana semua orang diberi senapan dan senapan-senapan itu bisa mengarah ke siapa pun.

Dalam konteks warga negara menghadapi negara atau kekuasaan yang terpusat, situasinya mungkin jauh lebih mudah dipetakan, meskipun tak bisa dibilang mudah. Solidaritas warga bisa sama-sama melawan atau menghadapi kekuasaan serupa itu.

Yang merepotkan adalah jika seorang warga harus menghadapi sekelompok warga lain. Kasus bagaimana seseorang yang memutuskan berpindah agama, kemudian dirundung banyak orang, bisa menjadi gambaran. Orang tak lagi hanya mengingatkan, tapi banyak juga yang menghujat, atas nama keyakinan dan nilai-nilainya sendiri.

1984 mengajari kita bagaimana kekuasaan Saudara Besar bisa mengatur dengan siapa kita boleh menikah, seks semacam apa yang harus dilakukan, dan sejarah mana yang boleh dianggap benar. Dunia Orwellian ini percaya keyakinan bisa diciptakan, melalui berbagai cara: persuasi maupun teror.

Di dunia kita hari ini, banyak orang (jika tak bisa mengatakan semua orang) masing-masing merasa sebagai Saudara Besar. Percaya bisa menjejalkan keyakinan kepada orang lain, dengan berbagai cara. Mereka merasa berhak untuk menjadi pengawas, untuk menjadi mata-mata yang melaporkan, dan dalam kasus-kasus tertentu menjadi polisi yang melakukan penindakan.

Media sosial di dunia pasca-Orwellian pada dasarnya sedang mengajari kita, semua orang, bagaimana rasanya memiliki “kekuasaan”. Itu kata magis yang di masa lalu hanya dinikmati orang-orang terpilih.

Seperti orang-orang di masa lalu, kekuasaan sering terlalu liar bagi pemiliknya.

Siapa pun bisa merasa menjadi ahli arsitektur dan membuat tafsir tentang bentuk sebuah masjid. Bisa pula merasa menjadi ahli ekonomi dan membaca data dengan caranya sendiri.

Di media sosial, siapa pun kamu, kamu adalah Saudara Besar. Yang risi melihat orang pamer belah dada. Risi orang Jakarta ngomong keminggris. Tanpa sadar, orang juga risi dengan kelakuanmu dan terus mengawasimu. Saya hanya mengingatkan.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 20 Juli 2019.