Tidore: Melipir ke Desa Topo

Di tempat yang baru, biasanya saya mengandalkan peta untuk orientasi ruang. Sayang sekali hingga hari kedua, saya tak juga menemukan peta kota Ternate. Lobi hotel bersih-bersih saja dari benda semacam itu. Maka andalan kedua bisa diambil, ngelayap tanpa tahu tujuan, hanya mengandalkan rasa iseng menangkap pesan-pesan di sekeliling.

Berdua dengan Hilmar Farid, kami memutuskan untuk menyelinap ke Tidore. Seperti kita tahu, Tidore merupakan pulau tetangga Ternate. Hubungan kedua pulau itu dari dulu pasang-surut. Bersaing dan bersahabat. Jika kita perhatikan gambar uang kertas seribu rupiah, gunung besar di latar belakang adalah Tidore, yang kecil di latar depan adalah Mestara, dan kemungkinan besar gambar tersebut diambil dari Ternate.
Continue reading

Ternate: Ujung Dunia

Ini gara-gara percakapan saya dengan sopir taksi yang mengantar ke bandara. Ketika ia tahu jam penerbangan saya pukul setengah satu malam, komentarnya adalah: “Terbang ke ujung, ya?” Ternyata yang ia maksud sebagai “ujung” adalah kota-kota seperti Manado, Ternate, Sorong, Jayapura. Kota-kota itu terdapat di “ujung” timur dan utara Indonesia, bentangan jaraknya barangkali memang yang paling jauh dari Jakarta. Karena memang saya mau ke Ternate, saya mengiyakan.

Mungkin juga gara-gara beberapa minggu terakhir di meja saya tergeletak tiga novel yang bagian judulnya memiliki frasa “The End of the World” (karya Antonio Lobo Antunes, Murakami Haruki dan Mario Vargas Llosa), secara semena-mena saya langsung mengingat “ujung dunia”. Tapi jujur saja, meskipun pernah lama tinggal di pinggir pantai (Pangandaran), pada dasarnya saya “anak darat”. Anak yang lebih sering melakukan perjalanan darat. Maka ketika mendarat pertama kali di Ternate, yang hanya pulau kecil dengan satu gunung menjulang dan kota di kakinya, perasaan berada di “ujung dunia” itu benar-benar saya rasakan. Maksudnya, saya merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi.
Continue reading

Twilight of the American Idols

BEBERAPA MAKSIM

1

“Amerika merupakan negara demokrasi.” Tidakkah itu merupakan kebohongan ganda?

2

“Impian Amerika”, selamanya merupakan impian.

3

Pepatah militer Amerika. Apa yang tidak membuat Osama bin Laden hancur, hanya akan membuat dia semakin kuat.

4

Di Amerika, Anda minum Coca Cola atau Pepsi. Pilihan lain sangatlah kecil, yakni: Anda tidak minum sama sekali – menjadi orang miskin.

Continue reading

Tariq Ali, Pertemuan dan Beberapa Hal Lucu

Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal Indonesia. Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson, dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya. Tadi malam akhirnya kami bertemu tak jauh dari hotel tempatnya tinggal di daerah Kemang, dalam kunjungan singkatnya ke Jakarta. Saya ditemani Richard Oh, Mikael Johani, Rahung dan Reiner, ngobrol dan makan malam bersama dia. Malam itu kami lebih banyak bicara tentang situasi politik. Antara lain mengenai rencana buku berikutnya. Juga ngobrol soal kenapa para pemimpin Komunis Indonesia yang terbunuh sampai sekarang belum juga ditemukan kuburannya, padahal di negara-negara lain hal ini mulai terungkap. Sementara itu mengenai urusan dengan saya, ia cuma meminta beberapa kopi novel saya. Melalui penerbitnya, Verso, dua tahun lalu ia memang pernah meminta buku-buku itu, tapi entah kenapa kiriman kami tak pernah sampai ke tangannya. Akhirnya saya berjanji besok siang saya akan mampir ke hotelnya dan membawakannya kedua novel saya, serta beberapa manuskrip yang juga dia minta. Kami makan siang bersama di satu restoran Jepang, di Codefin Kemang. Tak terasa, akhirnya kami ngobrol lagi. Dan kali ini dia menceritakan berbagai hal-hal lucu dan konyol di negara-negara Komunis yang dia kunjungi. Salah satu negara yang diceritakannya, tentu saja Korea Utara. Kata dia, di negara itu, sopir yang mengantarnya ke sana-kemari sering berhenti selama beberapa waktu. Saat dia tanya untuk apa, si sopir jawab: untuk berpikir. Akhirnya Tariq bilang: sudah deh, kamu nggak usah berhenti-berhenti, aku enggak akan bikin laporan yang menyusahkan ke atasanmu. Si sopir akhirnya ketawa ngakak bebas. Dia juga bercerita tentang Museum Seni Nasional. Isinya? Di ruang pertama, ia melihat lukisan Kim Jong-il masih bayi. Ruang kedua, ada lukisan Kim Jong-il remaja. Ruang ketiga, ada lukisan Kim Jong-il sudah menikah, dan seterusnya. Garing banget, kan? Dan, nah ini yang paling lucu. Saat kami masuk ke Codefin, pandangan Tariq Ali tertuju pada pajangan suratkabar Koran Jakarta. Dengan tak percaya, ia menoleh dan bertanya: “Koran?” Awalnya kami tak menyadari apa yang salah dengan nama suratkabar itu, sampai kemudian saya tertawa. Buru-buru saya menjelaskan, “Bukan, bukan. Koran dalam bahasa Indonesia artinya suratkabar. Kalau kitab agama Islam, di sini ditulis dengan ‘Q’. Quran.” Tariq Ali akhirnya mengangguk-angguk dan ikut tertawa. Dia bilang, di Pakistan kayaknya enggak akan ada yang berani kasih nama suratkabar dengan nama “Koran”. Saya tertawa lagi. Untuk yang belum mengenal Tariq Ali, di luar buku-buku politiknya, ia menulis beberapa novel. Antara lain: Kitab Salahuddin, Seorang Sultan di Palermo, Perempuan Batu dan Bayang-bayang Pohon Delima. Keempatnya sudah tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia. Akhirnya, selepas makan siang kami berpisah, sambil berjanji untuk saling berhubungan. Tak lupa ia memberi saya salah satu novelnya, Fear of Mirrors. Di bukunya ia menulis pesan untuk kami, “Terima kasih untuk perkawanan dan solidaritas pada kunjungan pertamaku ke Jakarta.”

José Saramago, Dongeng Gajah Melintasi Eropa

Kali ini José Saramago menawarkan kisah tentang seekor gajah yang dibawa dari Lisbon ke Vienna di tahun 1551 dalam novel The Elephant Journey. Gajah jelas bukan binatang yang umum di Eropa barat, bahkan sekarang ini pun barangkali mereka cuma melihatnya di sirkus atau kebun binatang. Satu malam, Saramago pergi makan bersama rekannya di sebuah restoran bernama “Gajah”. Di dalamnya ada ukiran kayu berderet, yang ternyata berupa bangunan-bangunan dari berbagai negara Eropa, yang menyiratkan sejenis jalur perjalanan. Saramago kemudian diberitahu rekannya, itu perupakan ilustrasi perjalanan seekor gajah di abad enam belas dari Lisbon ke Vienna. Seketika otak pendongengnya bekerja: pasti ada sesuatu yang bisa diceritakan dari perjalanan gajah tersebut. Di sinilah dengan jeli bagaimana ia merajut kisah perjalanan seekor gajah melintasi benua Eropa menjadi “kisah yang lain”. Yakni tentang kisah seorang asing di negeri asing (pawang si gajah bernama Subhro, dibawa langsung dari India, negeri asal si gajah); Tentang hamba dan rajanya (Subhro dan raja Portugis, kemudian Subhro dengan bangsawan Austria, kepada siapa gajah itu diberikan); kisah mengenai ekspedisi militer (ya, rombongan gajah itu dikawal oleh satu pasukan tentara); dan tentu saja kisah hubungan manusia dan binatang. Bahkan kisah ini pun menyeret wilayah politik agama, bahkan perbenturan agama Hindu dan Katolik, serta kemudian antara Katolik dan Protestan. Dikisahkan, di tengah perjalanan, Subhro bercerita tentang makna gajah bagi orang India kepada komandan pasukan. Subhro tentu saja bilang, bahwa gajah di India berarti Ganesha, salah satu dewa mereka. Rupanya hal ini dianggap bidah oleh penduduk yang mendengar bahwa seekor gajah dianggap dewa/tuhan. Urusan ini dengan segera sampai ke telinga pastor gereja lokal. Situasi cerita ini di tengah zaman Inkuisisi. Artinya: bidah dan sejenisnya, ancamannya jelas tak cuma ditangkap, mungkin juga dibakar layaknya penyihir. Menganggap seekor gajah sebagai tuhan, tentu tak ada tempat di masyarakat Eropa masa itu. Demikianlah si gajah bahkan sudah terancam jauh sebelum sampai tempat tujuan. Tapi di tempat lain, si gajah justru kali ini berhasil dimanfaatkan gereja Katolik. Kemampuannya untuk mengikuti perintah sang pawang, dimanfaatkan untuk melewati dan menghormat di depan patung seorang santa. Kelakuan ini dengan cepat dianggap sebagai mukjizat. Dalam hal ini, gereja Katolik sedang membutuhkan lebih banyak mikjizat dalam rangka menghadapi gerakan Protestan yang semakin meluas di Eropa. Sebagaimana biasa, di tangan Saramago, kisah mengenai perjalanan seekor gajah tak semata-mata menjadi “kisah mengenai perjalanan seekor gajah”. Selalu lebih dari itu. Hal lain yang menarik perhatian saya, dan dungunya saya baru menyadarinya sekarang setelah membaca beberapa novelnya, adalah gaya narasinya yang seringkali melantur. Maksud saya, jika ia sedang menceritakan sesuatu, kemudian sampai pada obyek A, ia akan melantur dulu menceritakan A, sebelum kembali ke arus utama cerita. Awalnya saya selalu menganggap ini sebagai sejenis gangguan ketika membaca novel-novelnya (di luar kalimat dan paragrafnya yang panjang-panjang). Tapi, kemudian saya sadar, itu strateginya untuk memperlihatkan bahwa sang narator tengah bicara langsung dengan pendengar/pembacanya. Dan lanturan itu diperlukan seringkali untuk memberi konteks yang lebih luas. Lihat saja bagian pembukanya. Pada dasarnya ia ingin mengabarkan bahwa ide memberikan hadiah gajah itu datang dari permaisuri. Tapi Saramago berputar dulu mengisahkan (atau berceramah) mengenai pentingnya “ranjang kerajaan” dalam berbagai hal kebijakan. Narator ini sengaja memberi jarak yang ketara dengan ceritanya. Katakanlah cerita novel ini bersetting tahun 1551, tapi si narator sengaja tak mencoba berada di tempat yang sama dengan cerita, melainkan memilih berada di tempat yang sama dengan pembaca dengan mengatakan: “Sayang sekali fotografi belum ditemukan di abad enam belas …” Seperti orang mendongeng, benar-benar mendongeng secara lisan, yang kebetulan saja dituliskan. Seperti itulah saya kira novel (dan novel-novelnya yang lain) Saramago ini.

Bebek Hijau dan Pelajaran Mendongeng dari Bayi yang Hendak Tidur

Sekali waktu, seorang teman bertanya, apakah setelah punya bayi saya masih punya waktu untuk menulis dan mengarang cerita? Jawaban saya: masih. Bahkan saya seringkali memperoleh ide justru saat terpaksa harus menidurkan Kidung Kinanti, anak saya yang sekarang berumur 7 bulan. Sejak Kinan (begitu nama panggilan anak saya) masih umur sebulan, saya beberapa kali memperoleh kesempatan untuk menidurkannya. Terutama jika Kinan sedang rewel, dan ibunya sedang capek, pada akhirnya saya harus membopongnya. Dan Kinan hanya akan diam kalau saya (seolah-olah) bicara dengannya.

Nah, daripada saya ngobrol ngalor-ngidul tak jelas hanya agar tetap bersuara dan Kinan terbuai sampai tertidur di pundak saya, saya memutuskan untuk mengarang-ngarang cerita. Di sinilah saya kembali belajar hal mendasar dari mendongeng. Persis seperti bagaimana Syahrazad melakukannya: tugas saya adalah terus mendongeng sampai anak tertidur. Jika belum tertidur, saya harus menemukan berbagai cara agar dongeng terus berlanjut. Begitulah, sambil menidurkan anak, saya terus melatih teknik-teknik tertentu untuk mendongeng.

Saya kutipkan dongeng yang tadi malam saya dongengkan ke Kinan. Tak terlalu panjang, sebab ternyata Kinan kali ini lebih mudah dibikin tidur. Mari kita kasih judul “Bebek Hijau” saja:

Continue reading

Umberto Eco, Bacaan dan Percik Ingatan

Didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novel Umberto Eco. The Mysterious Flame of Queen Loana jadi korban pertama saya. Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya. Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi, ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan “mysterious flame” di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman.  Meskipun tentu saja beda maksud dan tujuan, bagian-bagian tertentu novel ini mengingatkan saya pada film Cinema Paradiso. Ganti filmnya dengan buku dan komik, maka akan jadi novel ini. Tentu tidak persis seperti itu. Saya teringat hal itu karena novel dan film sama-sama berlatar Italia, dengan kisah mengenai lelaki tua yang mengenang kembali masa lalunya. Ingatan semacam itu tentu sah, sebab kenangan tak lebih merupakan “sejarah personal”. Setiap benda selalu memercikan api sejarah, tapi sejarah yang terkuak barangkali berbeda dari satu orang ke orang lain. Untuk pembaca yang semata-mata menginginkan cerita dan petualangan, drama maupun roman, bagian kedua novel ini (yang merupakan bagian paling panjang), mungkin akan terasa membosankan. Isinya melulu bercerita tentang buku, komik, majalah, dan sesekali musik, dengan referensi ke sana-kemari. Tapi sebagaimana melalui esai-esainya, Eco mencacah bacaan-bacaan itu menjadi percik-percik, tak hanya sejarah kehidupan masa kecil dan masa remaja Yambo, tapi juga sejarah Italia dan Fasisme yang diingat Yambo. Melalui bacaan semacam Micky Tikus dan Donal Bebek, kita diajak berkelana pada sejarah industri buku, budaya penerjemaan, proses adaptasi budaya, bahkan politik yang pasang-surut antara Italia dan Amerika. Beberapa buku yang dibahas barangkali kita kenal karena merupakan “bacaan dunia”, tapi beberapa barangkali asing dan hanya dimengerti oleh pembaca Italia (atau paling tidak Eropa). Sepanjang membaca novel ini, jujur saya malah berkelana sendiri membayangkan saya dalam posisi Yambo. Bacaan saya tentu jauh berbeda dengan Yambo, tapi menarik juga melacak masa lalu sendiri (dan negeri kita) melalui bacaan. Pertama barangkali saya akan membaca ulang novel-novel serial Wiro Sableng yang saya baca pada umur belasan, dan mencoba mencari tahu, “percik ingatan” macam apa yang saya peroleh dari sana. Mungkin saya akan membaca kembali majalah Bobo dari tahun 80an awal, membaca Paman Kikuk, Husin dan Asta. Membaca Si Janggut. Semakin besar saya membaca komik-komik silat, membaca cersil Kho Ping Hoo, kisah-kisah misteri Abdullah Harahap. Zaman jatuh cinta pertama kali kepada seorang gadis, saya sedang membaca serial Lupus. Apakah kita bisa membaca politik negeri ini melalui bacaan-bacaan populer semacam itu? Saya yakin, sebagaimana Umberto Eco melakukannya melalui novel ini, bisa dilakukan. Tapi tentu saja membutuhkan ketekunan, dan kejelian “membaca” dan menafsir. Melalui penjelajahan bacaan-bacaan masa kecilnya pula, Yambo mengenang kembali sejarah negerinya di bawah fasisme. Ini bagian paling menarik di bagian kedua buku itu. Kita tahu, fasisme memiliki kecenderungan untuk menyeragamkan makna. Tapi mungkinkah tafsir orang atas sesuatu sama? Tentu saja mungkin, jika pikiran kita terpenjara. Tapi Yambo, yang baru bangun dari koma, dan sebagian ingatannya bermasalah, menunjukkan bahwa pikiran yang bebas bisa membawanya ke mana pun. Dan “percik misterius” di dalam ingatan, seperti mesin waktu yang akan melemparkan kita entah ke mana.

Dua Novel Isaac Bashevis Singer

Sekali waktu ada film berjudul Yentl di televisi. Setelah mencari tahu ceritanya secara singkat, saya langsung membayangkan, “Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.” Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering saya baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, melainkan tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, Yentl berasal dari salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya. Kesempatan itu datang bersamaan dengan sampainya pesanan dua novelnya, The Slave dan Shosha. Benarlah memang, gayanya mendekati cara Hamsun menulis. Seperti banyak ditulis kritikus, Hamsun sering bermain di wilayah ego karakter utamanya; demikian juga Singer bermain di wilayah itu, yang berbenturan dengan tuntutan sosial agama/komunitas Yahudi. The Slave menyiratkan hal itu. Dengan latar Polandia abad ketujuh belas, kisah berputar mengenai Jacob, seorang anak rabi yang saleh. Setelah kota tempatnya tinggal diserbu bangsa Cossack, dan banyak orang Yahudi dibunuh, diperkosa, Jacob dijual sebagai budak kepada seorang petani desa. Di sanalah ia bertemu dengan anak si petani, Wanda seorang janda, yang jatuh cinta kepadanya. Di tengah padang rumput, di tengah ancaman kematian (orang-orang di desa itu menganggap Yahudi sebagai penyakit yang bisa membawa petaka), dikelilingi gunung-gunung dan bukit-bukit, kisah cinta mereka terajut. Jacob tak menyangkal memiliki hasrat berahi kepada Wanda, tapi ia tak berani berbuat lebih jauh, dan hanya memendam saja hasrat itu. Ia punya istri dan dua anak yang entah di mana (saat itu ia belum tahu mereka termasuk korban pembantaian Cossack). Tapi yang lebih penting lagi, ia tak berani memenuhi hasrat berahinya karena sadar, zina merupakan dosa. Bahkan jika ia berpikir tentang pernikahan, juga dosa jika ia menikahi perempuan kafir (Wanda seorang Kristen, tapi digambarkan bahwa penghuni desa itu meskipun secara legal beragama Kristen, tapi masih banyak yang percaya kepada adat/agama/ritual penyembah berhala). Ketiga, bahkan jika Wanda bersedia menjadi “anak Israel”, juga terlarang jika ia menjadi Yahudi karena cinta, dan bukan karena percaya kepada Tuhan. Di sinilah Jacob terlibat pertarungan antara hasrat daging-tubuhnya, dan ikatan moral-jiwanya. Dan di sini pulalah, perjalanan perdebatan antara hukum-hukum agama yang mengikat, dan tafsir yang mencoba membebaskan diri dari ikatan tersebut. Jika Jacob merupakan gambaran sosok saleh yang harus melakukan perbuatan dosa dan bagaimana ia mencari pembenaran atas tindakannya, hal sebaliknya terjadi pada Aaron dalam novel Shosha (dengan latar tahun-tahun sebelum penyerbuan Hitler ke Polandia). Aaron, meskipun sama-sama anak rabi, sejak awal digambarkan sudah tidak saleh. Ia tak lagi melakukan ritual agama, ia juga kumpul kebo dengan pacarnya, meniduri dua perempuan temannya, dan meniduri pelayan di kamar pondokannya. Intinya, ia agak bejat. Tapi, ketika ia bertemu dengan Shosha, gadis masa kecilnya, ia mencoba menjadi saleh. Di kedua novel, agama alih-alih merupakan hubungan antara manusia dan Tuhan, tak lebih menjadi syarat dan prasyarat dalam hubungan berkomunitas. Sekaligus pada titik lain, kisah cinta Aaron kepada Shosha dan Jacob kepada Wanda, justru memperlihatkan sesuatu yang tampak ilahiah: tak terelakkan, sejenis takdir, di luar rasio, di luar ikatan-ikatan sosial. Perjalanan kisah cinta mereka seperti perjalanan spiritual. Bahkan Wanda digambarkan sebagai orang suci (sejenis santa atau wali). Demikian pula gambaran Shosha sejak awal: tanpa dosa. Benarlah apa kata orang, pada dasarnya inti dari agama, adalah cinta? Dan cinta paling mudah digambarkan melalui hubungan antara lelaki dan perempuan, juga melibatkan nafsu daging-tubuh, selain dorongan jiwa yang tak terjelaskan.

Perpustakaan

Bayangan perpustakaan yang asyik di benak saya, barangkali mirip seperti yang ada di novel Kafka on the Shore, Murakami Haruki. Si bocah bernama Kafka itu, sekali waktu kabur dari rumah dan pergi ke kota kecil, dan terdampar di sebuah perpustakaan. Perpustakaan itu sebenarnya milik pribadi, milik seorang penulis (kalau tak salah ingat), tapi kemudian dibuka untuk umum. Ruangannya kecil saja, dengan seorang pengurus, dan orang asing boleh masuk untuk membaca di ruangan baca. Di Indonesia, sebenarnya banyak juga perpustakaan semacam itu. Yang paling terkenal barangkali perpustakaan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin. Tak hanya berupa perpustakaan, tempat itu bahkan menyerupai museum, dengan naskah-naskah langka milik para penulis. Kita tahu awalnya itu merupakan perpustakaan pribadi kritikus dan penulis H.B. Jassin. Setelah ia meninggal, perpustakaan tersebut berada di bawah tanggung jawab Pemda Jakarta dan menempati satu ruangan di pojok Taman Ismail Marzuki. Perpustakaan kecil milik pribadi yang kemudian dibuka untuk umum, senantiasa memberi kejutan kecil atas koleksinya. Berbeda dengan perpustakaan besar, yang bagai swalayan, di perpustakaan kecil semacam ini kita menghadapi sebuah “seleksi” karya yang dilakukan pemiliknya. Kita seperti masuk ke pameran buku, tapi buku yang dipajang telah dikurasi oleh pemiliknya. Perpustakaan semacam ini bukannya tanpa dilema. Setelah pemiliknya meninggal, barangkali tak ada penerusnya yang peduli untuk memelihara koleksi warisan. Jika pemiliknya merupakan tokoh, barangkali koleksinya dipertahankan, ruangannya disediakan, tapi tak ada yang peduli untuk merawatnya. Dalam satu hal, PDS H.B. Jassin barangkali beruntung: Pemda Jakarta mau mengambil alih pendanaannya. Tapi itu pun, seperti kita tahu di kabar belakangan hari, anggaran untuk mereka terus berkurang dari tahun ke tahun, hingga perpustakaan terancam ditutup karena kekurangan dana operasional. Tengoklah warisan wakil presiden pertama kita, Perpustakaan Bung Hatta di Yogyakarta. Tak hanya terbengkalai, bahkan mahasiswa di Yogyakarta sebagian besar mungkin tak tahu perpustakaan itu pernah ada. Saya tak tahu persis kabarnya sekarang. Dulu ada rencana UGM akan mengakuisisi buku-buku itu, dan membuat Hatta Collection di salah satu ruangan perpustakaannya. Tentu itu salah satu solusi yang baik, meskipun saya tetap menganggap, perpustakaan kecil dengan koleksi terbatas tetap lebih memberi keintiman yang berbeda. Ketika kasus terpangkasnya dana operasional PDS H.B. Jassin menyeruak, kita disadarkan oleh satu hal: publik masih peduli keberadaan perpustakaan. Orang ramai memberikan sumbangan untuk menyelamatkan perpustakaan itu. Satu konser yang melibatkan musisi dan seniman lainnya diadakan untuk penggalangan dana. Para penulis menerbitkan bungarampai yang seluruh royalti mereka disumbangkan ke perpustakaan tersebut. Gubernur Jakarta pun datang ke PDS dan meminta maaf atas keteledoran tersebut. Tiba-tiba saya ingat tentang sumbangan Palang Merah Indonesia yang sering kita berikan di loket bioskop. Ingat dengan kotak infaq untuk pembangunan masjid di warung Padang. Bahkan LSM dan lembaga besar seperti Greenpeace dan Unicef tak malu-malu meminta sumbangan kepada para pejalan kaki di jembatan penyeberangan. Kenapa kita tidak memberikan sumbangan untuk kelestarian perpustakaan-perpustakaan yang ada di negeri ini? Sehingga kita bisa berharap, semakin banyak perpustakaan, besar-kecil, di sudut-sudut negeri ini. Bagi saya, perpustakaan kecil yang asyik itu seperti toko buku loak di sudut kota. Saya berjalan-jalan di kota asing. Bosan dengan toko-toko suvenir dan jajanan, saya menemukan perpustakaan kecil atau toko buku loak. Saya masuk dan serasa menemukan sebuah tempat penuh timbunan harta karun. Bayangkan duduk sekitar dua jam di perpustakaan kecil yang asing di kota asing, dan membaca terjemahan novel Kawabata Yasunari, atau sekadar membaca dongeng rakyat setempat. Permasalahannya, bagaimana mempertahankan tempat-tempat seperti itu tetap ada di kota-kota yang tak terduga?

Orhan Pamuk, Sudut Pandang Allah dan Manusia

Setelah Snow dan The Museum of Innocence, akhirnya saya memutuskan untuk membaca My Name is Red. Meskipun saya masih lebih menikmati The Museum of Innocence, saya pikir ada hal menarik dari novel ini untuk diperbincangkan. Terutama satu hal yang jelas tampak sejak bab-bab pertama: novel ini pada dasarnya merupakan esai panjang mengenai seni. Yang diperbincangkan memang khususnya seni miniatur (menghias buku) dan ilustrasi, tapi saya pikir bisa diterapkan ke semua genre kesenian. Dengan cerdik, Orham Pamuk membungkus perbincangan panjang mengenai seni ini dalam balutan kisah misterius pembunuhan seorang miniaturis, serta kisah cinta yang ruwet antara Black dan Shekure. Sementara kita diajak untuk mencari tahu siapa pembunuh sang miniaturis, kita dipaparkan oleh bukti-bukti, motif-motif, yang semuanya justru mengacu ke perdebatan mengenai seni. Utamanya, perdebatan mengenai seni barat dan seni timur. Pemisahan seni barat dan seni timur ini tentunya sulit ditarik garis tegas, meskipun bolehlah dalam versi novel ini disederhanakan dengan cara: seni timur mengacu kepada “apa yang dilihat Allah”, sementara seni barat mengacu kepada “apa yang dilihat manusia’. Apa yang dilihat oleh Allah, pada dasarnya penjelasan filosofis atas “idealisme”. Seniman melukis kuda atau pohon sebagai “ide mengenai kuda” atau “ide mengenai pohon”. Sementara apa yang dilihat oleh manusia, bisalah kita rujuk kepada “materialisme”. Seniman melukis kuda atau pohon, sebagaimana “mereka melihat kuda” atau “mereka melihat pohon.” Salah satu yang paling menonjol dalam perbedaan ini tentu saja: sudut pandang dan keunikan setiap obyek. Sekali lagi, membedakan barat sebagai “materialis” dan timur sebagai “idealis”, tentu terlalu menyederhanakan. Dalam hal ini, Pamuk akhirnya mengeluarkan kutipan singkat, yang malah jadi sejenis olok-olok untuk para seniman yang tengah berdebat hingga saling bunuh itu, bahwa “Kepunyaan Allah apa yang di barat dan di timur.” Kita tahu, itu kutipan dari Al-Quran, Al-Baqoroh 115. Oh ya, stuktur novel ini ditulis dari berbagai sudut pandang tokoh-tokohnya. Termasuk dari sudut pandang orang mati dan seekor anjing. Ah, ini sih, tidak istimewa. Saya pikir William Faulkner melakukannya lebih keren di novel As I Lay Dying. Tapi barangkali ada maksudnya juga Orhan Pamuk melakukan ini: ia ingin bicara tentang sudut pandang. Sebab memang itulah tema besar dalam diskusi seni di novel ini. Ceritanya, sang sultan ingin dilukis dengan cara orang-orang barat dilukis: mirip, detail, dan terutama: bagaikan dilihat oleh manusia. Sehingga ketika orang melihatnya, serasa mereka melihat sang sultan sendiri. Nah, melukis dengan sudut pandang manusia inilah yang dianggap subversif, mengancam sudut pandang Allah. Tak hanya subversif, tapi mungkin sudah penistaan. Itulah awal mula motif pembunuhan ini. Di luar itu, tentu lebih banyak detail mengenai kedua mazhab idealis dan materialis ini. Sebagian besar Pamuk ceritakan melalui fabel-fabel, atau kisah para miniaturis terdahulu. Saya ingin mengutip salah satunya, mengenai “style” dan “signature”. Atau “gaya” dan “tandatangan”. Melalui tiga parabel mengenai hal itu, disimpulkan bahwa pertama, “gaya” merupakan “ketidaksempurnaan”. Kedua, lukisan yang “sempurna” tak memerlukan “tandatangan”. Maka, ketiga, “tandatangan” dan “gaya” tak lebih merupakan perayaan “ketidaksempurnaan”. Baiklah, seperti pengulas yang tahu diri pada umumnya, saya tak perlu membocorkan terlalu banyak isi buku ini.