Bagaimana Penulis Mendaur-Ulang Cerita Penulis Lainnya Menjadi Kisah Baru yang Memikat

Yang saya maksud dengan “mendaur ulang” bukanlah menuliskan kisah lama dalam bentuk yang lebih baru. Misalnya, saya menuliskan kembali kisah mengenai legenda Ajisaka dalam format cerpen untuk dimuat di koran (saya pernah melakukannya dalam cerpen “Ajal Sang Bayangan”). Atau Pramoedya Ananta Toer menuliskan kembali kisah Mangir (ya, dalam karya berjudul Mangir). Bukan, bukan itu maksud saya. Juga bukan dalam arti kita menulis cerita baru dengan meminjam karakter dari cerita yang sudah ada. Misalnya, saya pernah menulis cerpen berjudul “Assurancetaurix” (ya, karakter tersebut dan karakter-karakter lainnya saya pinjam dari seri komik “Asterix” karya Goscinny dan Uderzo). Yang seperti itu lebih tepat disebut “fansfiction”. Mendaur-ulang di sini lebih saya maksudkan sebagai, meminjam (atau mencuri) plot cerita yang sudah ada, untuk karya yang baru. Ceritanya boleh jadi hampir sama, tapi nama karakter, setting (waktu dan tempat), dan gaya boleh jadi sudah berubah (biasanya lebih modern). “Pencurian” ini buat orang kebanyakan, nyaris tak terlihat. Bisa jadi karena kebanyakan orang tak tahu sumber yang dicuri. Bisa juga karena yang dicuri adalah plot (anggaplah itu tulang punggung), jadi tak tampak di permukaan. Apakah hal ini sah saja, dan tidak dianggap “plagiat”? Ini isu yang rumit dan butuh diskusi para ahli. Tapi, beberapa penulis besar melakukannya, dan mereka baik-baik saja dalam arti tidak dianggap plagiat, bahkan diapresiasi kemampuan mereka “mendaur ulang” cerita-cerita tersebut. Saya ingin menengok dua karya saja. Pertama, The Alchemist karya Paulo Coelho. Kedua, The Bad Girl karya Mario Vargas Llosa. Terkejut? Kedua nama itu bukan nama penulis “biasa-biasa”. Paula Coelho penulis banyak novel best seller, The Alchemist hanya salah satunya. Mario Vargas Llosa? Ia peraih Nobel Kesusastraan 2010. Baiklah, apa sih kisah sesungguhnya dari The Alchemist? Bisa diringkas sebagai berikut: seorang bocah gembala bernama Santiago, suatu hari tidur di gereja tua di perdesaan Andalusia. Di sana ia memimpikan satu harta karun, yang sayangnya berada jauh di bawah piramida di Mesir. Sepanjang novel, dikisahkan perjalanan Santiago menyeberangi benua (Eropa ke Afrika) dengan berbagai kesulitan, hingga akhirnya ia tiba di Mesir. Di sana ia tak menemukan harta karunnya, malah bertemu seseorang yang menertawakannya. Orang ini menertawakan kekonyolannya karena mau-maunya melakukan perjalanan jauh mengikuti mimpi. Orang ini bilang, ia memimpikan hal yang kurang lebih sama, bahwa ia memimpikan harta karun tapi tempatnya jauh. Di sebuah gereja tua di perdesaan Andalusia. Orang tersebut tak mau melakukan perjalanan konyol dari Mesir ke Andalusia. Saat itulah Santiago sadar, harta karunnya berada di tempat ia memulai perjalanan. Bagi penggemar atau yang pernah membaca Hikayat Seribu Satu Malam atau orang Barat lebih mengenalnya sebagai Arabian Nights, pasti mengenal satu cerita berjudul “A Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream” (muncul dalam versi terjemahan Richard Burton). Kisahnya? Tentang lelaki kaya yang bangkrut. Dalam kesusahan, ia memimpikan harta karun di satu tempat. Ia pergi ke tempat yang disebut di mimpinya, dan tidak menemukan harta karun. Ia malah bertemu seseorang yang juga memimpikan hal yang sama tapi tak mau pergi. Bedanya, orang ini melihat harta karunnya di satu tempat, yang segera diketahui tokoh kita sebagai rumahnya. Ia kembali ke rumahnya, menggali di halaman, dan menemukan harta karun tersebut. Sama? Ya, sama persis. Bedanya, kisah dalam Hikayat Seribu Satu Malam diceritakan dengan sangat ringkas, hanya sekitar 2-3 halaman. Lebih serupa cerpen. Paulo Coelho mengembangkannya menjadi novel sekitar 200 halaman. Plot dasarnya persis sama, tapi tentu saja dalam bentuk novel, Coelho mengembangkannya lebih kaya. Ada kisah cinta (pertama antara Santiago dengan anak pedagang wol, kemudian dengan gadis gurun bernama Fatimah). Kisah ini sebenarnya bisa dibilang fabel. Barangkali yang muncul di Hikayat Seribu Satu Malam juga tidak orisinal. Bisa ditemukan di berbagai tradisi dongeng di tempat lainnya. Yang sangat terlihat dari kisah semacam ini tentu saja “pelajaran- pelajaran” yang bisa dipetik pembaca. Istilah normatifnya: “pelajaran moral”. Cerita dalam Hikayat Seribu Satu Malam tak menyampaikan “pesan moral” ini secara eksplisit. Ia lebih membiarkan pembaca untuk menafsirkannya, atau bahkan menerimanya sebagai kisah lelucon sederhana. Dalam The Alchemist, Coelho justru memperlihatkan bahwa kisah ini, antara fabel dan alegori, penuh “pelajaran moral”. Ia tak segan- segan berceramah di sepanjang novel. Bagian ini, di satu pihak, membuat The Alchemist malah jadi inferior dibandingkan versi yang lebih tua. Tapi di sisi lain, barangkali malah lebih disukai jutaan orang (memang, banyak di antara kita senang dinasihati, diberi pelajaran, diberi “pesan moral” secara eksplisit). Di antara Hikayat Seribu Satu Malam dan The Alchemist, Jorge Luis Borges juga pernah mendaur ulang kisah ini dalam salah satu bukunya, dengan judul The Story of the Two Dreamers. Ah, sebenarnya versi Borges bisa dibilang “terjemahan” versi Hikayat Seribu Satu Malam. Ia hanya menambahkan satu baris kalimat di muka, yang membuatnya jadi terasa “Borgesian” (semoga tahu maksud saya). Bagaimanapun, The Alchemist bolehlah dianggap kisah sukses mendaur ulang kisah tua menjadi fabel modern. Ngomong-ngomong, karena mempelajari alur perjalanan cerita dari “A Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream” ke The Alchemist, saya akhirnya menulis cerpen dengan kerangka yang sama. Sebuah percobaan yang saya pikir mengasyikan. Cerpen itu berjudul “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi”. Beberapa waktu lalu, cerpen ini dimuat di Koran Tempo. Novel lain yang ingin saya bicarakan adalah The Bad Girl karya Mario Vargas Llosa. Ceritanya bisa diringkas seperti ini: ada seorang bocah yang jatuh cinta sama seorang gadis (nakal). Si bocah selalu cinta dan sayang kepada gadis ini, tapi si gadis malah membalasnya dengan segala hal yang menyakitkan. Pertama mereka bertemu di sekolah menengah. Si gadis mau saja dibawa nonton bioskop atau jalan-jalan. Tapi, setiap si bocah mengajaknya untuk jadi pacar, si gadis menolaknya. Mereka bertemu lagi di Paris. Si bocah (kini bujangan) masih mencintainya. Si gadis mau kencan dengannya, tidur dengannya, tapi ketika diajak serius, si gadis malah pergi dengan diplomat Prancis. Seumur hidup si bocah mencintai gadis ini, tapi si gadis selalu menolaknya, dan lebih memilih gonta-ganti pacar (dan suami), mengejar orang- orang kaya, kemasyhuran, dan petualangan. Berkali-kali si gadis mengkhianati si bocah, tapi si bocah selalu menerimanya kembali, sebab ia selalu sayang dan cinta kepadanya. Yang pernah membaca Madame Bovary Gustave Flaubert, pasti mengingat kisah tersebut. Si gadis merupakan karakter modern dari Emma Bovary. Tentu saja Vargas Llosa memang kenal betul dengan Bovary, ia bahkan menulis satu buku khusus mengenai itu, The Perpetual Orgy. Vargas Llosa memindahkan latar novel ke Peru (lalu melintasi benua ke Paris, London, Tokyo, Barcelona). Seperti The Alchemist, versi baru Madame Bovary ini tentu menjadi lebih kaya. Sudut pandang narasi memang dari si bocah (bernama Ricardo). Kisah The Bad Girl, selain melintasi tempat-tempat yang lebih luas, juga ditandai dengan pergeseran politik dan budaya bersama berjalannya waktu. Novel ini sekaligus menjadi komentator untuk kemenangan Revolusi Kuba, kemunculan generasi bunga di London, dan banyak hal lagi. Selebihnya silakan baca karya-karya itu untuk melihat perbandingan-perbandingan lebih detail. Satu hal yang jelas, kasus ini barangkali bisa menjadi ajang para penulis untuk belajar: bagaimana menjadi pencuri yang baik.

Bagaimana Sebagai Penulis Pemula, Saya Menerbitkan Karya Pertama Kali?

Saya sering membaca keluhan (di media sosial, di obrolan), betapa sulitnya penulis pemula menembus penerbitan (media massa, buku). Mereka selalu berpikir, editor atau redaktur terlalu memberi tempat untuk penulis terkenal. Dalam hal itu ada benarnya. Jika saya seorang editor/redaktur, karya penulis terkenal memberi saya rasa tenang: Mereka punya jam terbang, tulisannya hampir pasti rapi, dan tentu saja rata- rata di atas standar layak pemuatan. Mereka mempermudah pekerjaan editor/redaktur. Tapi, jika editor/redaktur tak memperhatikan penulis pemula, mereka juga sama saja dengan bunuh diri perlahan-lahan. Setiap industri, termasuk penerbitan, membutuhkan regenerasi. Dari mana regenerasi ini mereka peroleh? Dari para penulis pemula. Dari asumsi tersebut, banyak penulis pemula merasa bahwa mengenal secara pribadi editor/redaktur seperti menjadi hal penting untuk karyanya diterbitkan. Saya ingin berbagi cerita, mengenai awal mula saya menulis dan bagaimana karya-karya saya diterbitkan. Percayalah, tak ada yang aneh. Saya melakukan sesuatu yang saya rasa dilakukan sebagian besar penulis di awal karier mereka, dan tentu bisa ditiru oleh penulis pemula lainnya, atau diabaikan jika tak berfaedah. Karya saya yang pertama kali diterbitkan adalah sebuah (kemudian beberapa) puisi, yang saya tulis ketika kelas 2 SMP. Umur saya mungkin 11 tahun. Puisi anak-anak dan dimuat di majalah anak-anak. Kenapa saya sampai terpikir mengirimkan puisi ke majalah tersebut? Gampang saja. Saya memang membaca majalah tersebut (ayah saya berlangganan untuk kami). Di salah satu halaman, tertera tulisan kecil: redaksi menerima kiriman cerita pendek atau puisi, dikirimkan ke alamat redaksi … Saya rasa anak kelas 2 SMP bisa dengan cepat paham arti pengumuman kecil tersebut tanpa harus bertanya kepada orang dewasa, atau penulis besar, bagaimana mengirimkan karya ke media. Maka saya pun mengambil mesin tik, menulis beberapa puisi, dan mengirimkannya ke alamat yang tertera. Saya tak kenal redakturnya, tak pernah berkorespondensi sebelumnya, tak kenal penulis lain yang pernah melakukan hal itu sebelumnya. Saya hanya melakukan hal sederhana yang saya ketahui dari satu pengumuman kecil yang biasanya ada di bagian bawah boks redaksi. Beberapa edisi kemudian, puisi saya dimuat. Memang saya tak memperoleh honor, tapi saya memperoleh kiriman majalah gratis. Dan, sedikit kepopuleran yang saya peloreh di sekolah. Itu sudah membuat saya senang. Cara tersebut saya lakukan juga ke majalah lain. Ketika remaja saya mengirim naskah ke majalah remaja, juga dengan cara yang sama. Demikian juga ketika saya mengirimkannya ke surat kabar. Di semua media, selalu tercantum alamat redaksi. Dan, ke alamat tersebutlah semua naskah memang seharusnya dikirimkan. Di boks masthead media massa, biasanya memang ada beberapa alamat. Ada alamat tata usaha, alamat redaksi, alamat sirkulasi. Jangan salah, naskah harus dikirim ke alamat redaksi. Bukan alamat yang lain. Zaman itu, saya masih mengirimkan naskah dalam bentuk hasil ketikan. Tentu saja dikirim via pos, kadang disisipi prangko untuk pengembalian jika memang tak layak dimuat. Tahun 2000-an, keadaan menjadi jauh lebih mudah dengan terbiasanya media massa menerima naskah dalam bentuk surel. Alamat surel redaksi media massa pun mudah ditemukan di boks redaksi. Jujur, saya suka bingung jika ada yang bertanya, “Kalau mau mengirimkan cerpen ke Kompas atau ke Koran Tempo, alamat surelnya apa, ya?” Saya rasa, jika seseorang serius ingin menulis dan menerbitkan cerpen, orang tersebut harus membeli dan membaca koran-koran itu. Bukan hanya untuk mengetahui selera koran tersebut, tapi lebih panting lagi: untuk tahu alamat mereka. Memang akan lebih mudah jika kamu mengetahui alamat surel pribadi editornya. Naskahmu tak akan terlalu berputar-putar dari sekretaris redaksi, ke desk kebudayaan, ke redaktur penjaga rubrik. Tapi mengirimkan surel ke redaksi tetap merupakan cara yang formal, dan tak akan menghalangi naskahmu dimuat jika memang layak. Pengalaman saya, cerpen-cerpen saya dimuat di Media Indonesia sebelum saya mengenal editornya. Begitu pula dengan Kompas. Tentu saja masih ada kemungkinan kamu berhadapan dengan redaktur pemalas. Redaktur yang hanya melirik karya-karya penulis terkenal. Jika naskahmu layak muat, tapi diabaikan redaktur karena namamu belum dikenal, coba saja ke tempat lain. Saya percaya banyak redaktur yang memahami pentingnya penulis pemula untuk kelangsungan hidup bisnis mereka. Saya bukan pengamat cerpen-cerpen setiap minggu di koran atau majalah. Tapi, sekilas saja saya bisa tahu, dari tahun ke tahun penulis pemula selalu bermunculan. Itu fakta sederhana, bahwa tak mungkin satu industri menutup pintu untuk para pemula. Bagaimana dengan buku? Saya rasa sama saja. Di setiap buku yang saya baca, terutama buku dalam negeri, dengan mudah saya menemukan alamat penerbit. Biasanya ada di sampul belakang, atau di halaman hak cipta. Kirimkan naskahmu ke alamat itu, dan tunggu. Percayalah, editor di penerbitan juga tak mungkin menutup diri kepada penulis pemula. Mereka sangat haus dengan bakat-bakat baru. Saya sering mendengar teman saya yang editor, menjerit-jerit histeris, jika ia menemukan penulis baru yang menjanjikan. Ingat, semua penulis terkenal dan tua, berawal dari penulis muda dan pemula.

3 Novel (Buku) yang Aku Berharap Aku yang Menuliskannya

1. Don Quixote, Cervantes

Jika aku yang menuliskan novel keren ini, Don Quixote (mungkin namanya akan berubah), akan berada di Tanah Jawa di sekitar abad 16. Menjelang atau di masa-masa para pendatang Eropa datang ke sini. Ia seorang bangsawan dari satu keraton kecil, tentu saja, dan ia merasa dirinya seorang pendekar. Ia hanya mempelajari hal ihwal kependekaran dari lontara-lontara keraton, juga dari dongeng-dongeng yang didengarnya. Tapi, ia merasa dirinya pendekar. Dalam situasi dunia yang tak menentu (kerajaan-kerajaan besar rontok dan kerajaan-kerajaan kecil berperang satu sama lain), ia merasa terpanggil untuk mengembalikan tatanan. Sebagai seorang pendekar, ia memutuskan untuk keluar dari keraton dan berkelana. Ia ditemani seorang abdi dalem kepercayaannya, tentu. Dan, mereka menunggang kuda dan keledai, benar. Mereka akan menemukan petualangan seru. Mereka akan bertemu jin-jin jahat, perempuan penyihir, kapal laut tanpa penumpang, dugong yang mengajak bercinta, dan segala yang ajaib dan tak masuk akal. Kisahnya kuharap sangat quixotic.

2. Hikayat Seribu Satu Malam, Anonim

Kisahnya akan berupa cerita-cerita menakjubkan dari beberapa tempat di Nusantara. Ya, aku akan memindahkan tempat ceritanya dari negeri-negeri Arab dan Persia ke tanah-tanah di Nusantara. Tentu saja cerita-ceritanya juga akan berubah, meskipun beberapa mungkin mirip. Akan ada cerita tentang anak yang ingin mengawini ibunya, atau perempuan yang ingin mengawini anjing. Akan ada kisah mengenai raja yang bermimpi dirinya di satu tempat merupakan seorang gembel, dan seorang gembel di satu tempat bermimpi dirinya seorang raja (aku suka ide tentang mimpi ini, sangat khas kisah seribu satu malam, dan tentu saja sangat Borgesian). Mengenai Syahrazad versi Nusantara, mungkin ia seorang gadis pintar yang mendongeng di depan raja yang mengawininanya. Ia melakukan ini bukan karena sang raja akan membunuhnya (maka ia harus terus bercerita agar terus mengulur waktu pembunuhan), tapi karena si gadis tak ingin bercinta dengan si raja. Katakanlah raja ini memang kejam, dan punya sejenis penyakit kelamin. Ia gemar meniduri gadis-gadis perawan di kerajaannya. Si gadis berhasil selamat dari persetubuhan karena kisah-kisah yang diceritakannya.

3. The Trial, Kafka

Kubayangkan Joseph K adalah seorang pemuda biasa, karyawan kantor yang biasa-biasa, di satu perusahaan biasa-biasa di satu sudut Jakarta (tentu saja, kenapa aku harus menuliskan kisah di Praha?). Satu hari, tanpa ia tahu kenapa, Densus 88 menangkapnya. Tuduhannya tak main-main: Ia terlibat terorisme. Ia diduga ingin mendirikan Negara Islam, terlibat pemboman di beberapa tempat, pernah membunuh seorang turis Australia. Si pemuda biasa-biasa tak merasa pernah melakukan itu semua. Ia berkata, bahwa ia bukan orang yang religius. Ia hanya bisa membaca Quran dengan terbata-bata, sering bolong salat dan sering tidak ikut Jumatan. Hampir tak pernah membayar zakat dan tak punya cita-cita pergi ke Makkah untuk naik haji. Tentu saja, ia percaya Allah merupakan Tuhannya, dan Muhammad merupakan utusan Allah, tapi apakah itu bisa menjadi alasan bagi Densus 88 menangkap dan menuduhnya teroris? Semua pembelaannya sia-sia. Semua jalur telah ia pergunakan untuk membebaskan dirinya dari tuduhan tak masuk akal tersebut. Mereka sendiri tak bisa membuktikan semua tuduhan, tapi ia tetap ditahan, sebab mereka menganggap ia berbahaya jika dilepaskan di luar. Satu-satunya hal yang bisa menyelesaikan masalah ini, tentu saja dengan membawa si pemuda biasa-biasa ke satu parit kosong dan menggorok lehernya.

Mo Yan, Nobel Kesusastraan 2012

Ah, salah satu penulis favorit saya, Mo Yan, dianugerahi Nobel Kesusastraan! Meskipun setiap tahun, di sekitar pertengahan Oktober saya selalu mengintip siapa yang memperoleh penghargaan ini, tak pernah saya merasa seantusias hari ini. Saya ingin menulis sedikit catatan soal Mo Yan. Sedikit saja. Mo Yan merupakan salah satu penulis yang menarik minat saya sejak lama. Saya masih di Yogya, awal tahun 2000-an, ketika menemukan novel The Garlic Ballads. Di sampul buku, Ōe Kenzaburō berkomentar, “Jika saya boleh memilih pemenang Nobel, saya akan memilih Mo Yan.” 11 Oktober 2012, Akademi Swedia mengumumkan, Nobel Kesusastraan diberikan kepada penulis ini. Nama aslinya Guan Moye, ia memakai nama pena Mo Yan yang artinya “Tutup Mulut”. Saya sudah tergila-gila dengannya sejak The Garlic Ballads itu. Bahasanya relatif kasar, konyol, dan adegan-adegannya cenderung brutal. Tabrak sana, tabrak sini, seperti jurus pendekar mabuk. Ia seperti tak suka bermanis-manis. Prosa “The Garlic Ballads” seperti para petani yang diceritakannya: lugu, berlepotan. Di masa ketika saya masih terpesona oleh kesusastraan Amerika Latin, dengan bahasa yang indah dan prosa yang magis, membaca Mo Yan seperti menjungkirbalikkan semua selera itu. Kebanyakan orang barangkali akan mengingat novelnya yang paling terkenal, Red Sorghum. Kisah epik ini, terutama mencuat setelah adaptasi filmnya oleh sutradara Zhang Yimou (diperankan oleh Gong Li) memperoleh sambutan luar biasa di dunia. Film itu seperti membuka pintu bagi sutradara, artis, dan juga penulis novelnya. Tapi bagi saya, Red Sorghum barangkali epik biasa saja. Ada gaya realisme magis di sana, yang barangkali dicomot dari para penulis Amerika Latin atau dari William Faulkner. Saya tetap memuja Mo Yan, justru karena The Garlic Ballads. Bukan karena itu kisah perjuangan para petani bawang melawan para pejabat korup, bukan karena itu kisah sepasang anak muda yang dimabuk cinta, tapi karena apa yang disebut saya sebelumnya: novel ini menyajikan bahasa dan prosa yang “meracau”. Sesuatu yang saya pikir, itulah yang membuat Mo Yan menarik.

NTT: Perjalanan ke Amarasi, Boti, dan Pulau Semau

Pergi ke Nusa Tenggara Timur, saya mengunjungi beberapa tempat. Pertama, saya bersama beberapa teman hanya berkeliling di sekitar kota Kupang. Mengunjungi satu komunitas, bertemu kepala adat yang menyuguhi kami dengan daun sirih dan buah pinang. Kami pergi ke Amarasi, sebuah kerajaan kecil di pinggiran Kupang, dan bertemu dengan rajanya.

Tentang Amarasi, saya baru menyadari betapa banyak kerajaan (dan raja serta istana/keraton mereka) yang masih bertahan hingga saat ini. Sebelum ini, saya hanya ingat Yogyakarta dan Surakarta, yang memang tampaknya dua kerajaan besar di zaman republik ini. Tapi kita tahu, keraton di Cirebon masih berdiri. Ketika berkunjung ke Ternate, kesultanan Ternate juga masih ada. Dan kini, saya berkesempatan bertemu raja Amarasi dan istana kecilnya. Tentu saja kerajaan-kerajaan itu tak lagi memiliki kekuasaan seperti umumnya kerajaan berdaulat. Mereka tampak lebih seperti cagar budaya, tak lebih.

Continue reading

Kicauan Tentang Roberto Bolaño

  • Busyet, sekarang semua yg ditulis Roberto Bolaño dan ditemukan, kayaknya bakal diterbitkan.
  • Salah satu buku Roberto Bolaño yg paling baru The Secret of Evil, isinya cerita-cerita dan sketsa-sketsa yg mereka temukan di komputernya.
  • Roberto Bolaño nasibnya hampir mirip Franz Kafka. karya-karyanya diterjemahkan dan diperhatikan, setelah mereka meninggal.
  • Yang agak menyedihkan dengan Roberto Bolaño: ini terjadi di abad 21.
  • Saya baru membaca satu novel Roberto Bolaño, 2666, serta beberapa cerpennya yg dimuat di The New Yorker. Awalnya rada aneh sih, emang.
  • Bagian satu 2666 awalnya saya kira Borgesian. Tentang pencarian seorang penulis oleh beberapa kritikus. Eh, sekarang malah ada istilah baru: Bolañoesque.
  • 2666 itu terdiri dari lima bagian. Tiap bagian kayak novel tersendiri, tapi ya enggak tamat juga. Satu sama lain sambungannya tipis-tipis saja.
  • Dalam hal-hal tertentu Bolaño kayak Murakami. Ngalor-ngidul seenak udel. Tapi, Bolaño lebih gila lagi, sampai-sampai kita bisa tanya “cerita apa, sih?”
  • Ngomong-ngomong salah satu yg berperan besar men”dunia”kan penulis-penulis Amerika Latin namanya Carmen Balcells.
  • Carmen Balcells itu literary-agent untuk penulis-penulis berbahasa Spanyol. Dia yang bawa penulis-penulis Latin ke pasar berbahasa Inggris.
  • Betapa pentingnya nama si Carmen Balcells ini, Gabriel García Márquez mempersembahkan novel Of Love and Other Demons untuk dia.
  • Nah, betapa telatnya orang mengenali Roberto Bolaño, bahkan Carmen Balcells pun baru pegang rights karya-karyanya tahun 2006. Bolaño meninggal 2003.
  • Gara-gara telat mewakili Roberto Bolaño, Carmen Balcells yang sudah pensiun memutuskan balik lagi untuk kerja. Dia merasa kecolongan.

Belajar Menulis Melalui Penerjemahan

  • Dulu, demi belajar menulis (karena enggak ada kelas penulisan dan enggak kenal penulis senior), saya suka menerjemahkan karya-karya yang saya suka.
  • Jujur menerjemahkan itu pekerjaan senang-senang saja. Awalnya pengin ngerasain gimana menulis cerita kata per kata mengikuti si penulis asli. Ternyata beberapa teman berminat menerbitkannya.
  • Sudah agak lupa menerjemahkan apa aja. Yang paling ingat, The Metamorphosis Kafka. Itu yang pertama saya terjemahkan soalnya. Hasilnya entahlah, saya tak pernah menengoknya lagi.
  • Trus menerjemahkan cerpen-cerpen Maxim Gorky dari Tales of Italy. Belakangan saya lihat diterbitkan lagi sama satu penerbit yang enggak ngomong ke aku!
  • Saya juga menerjemahkan Cannery Row John Steinbeck, dan banyak belajar gokil dr dia.
  • Yang lain lupa apa saja yang pernah saya terjemahkan. Kalau cuma cerita pendek, banyak lagi. Terbit maupun tidak.
  • Eh, juga menerjemahkan Love and Other Demons Gabriel García Márquez dan Growth of the Soil Knut Hamsun (yang ini cuma sebagian). keduanya belum terbit, cuma teman yang baca saja.
  • Tapi rasanya saya jauh dari ukuran penerjemah profesional. Saya melakukannya karena suka dan niat belajar menulis. Jadi belakangan tak terlalu niat menerbitkannya.
  • Pernah mencoba menerjemahkan Faulkner, yang saya pikir paling gampang: As I Lay Dying. Enggak rampung. Bikin pening aja.
  • Selain menerjemahkan, untuk belajar menulis, kerjaan iseng saya yang lain adalah merangkum novel. sejenis menulis ulang dengan versi ringkas.
  • Yang paling saya ingat, tentu Song of Solomon Toni Morrison. Saya rangkum dapat satu buku tulis. Lumayan belajar untuk membuat plot.

Kicauan Tentang Knut Hamsun

  • Salah satu yang kupesan, edisi hardcover Hunger Knut Hamsun, dengan pengantar … Isaac Bashevis Singer. Bonus banget.
  • Pengantar Isaac Bashevis Singer utk Hunger judulnya: “Knut Hamsun, Artist of Skepticism”, memperbandingkan dengan Crime and Punishment Dostoyevsky.
  • Kata Singer: tokoh-tokoh Hamsun selain antisosial, juga enggak jelas asal-usul dan konteks sosialnya. Bener banget!
  • Tokoh Hunger kan, juga jeblug saja di kota Christiania. Enggak punya saudara, teman, masa lalu. Di pikirannya cuma ada satu hal: menulis.
  • Ketika Hamsun keluar dengan novel-novel awalnya, publik sastra Eropa langsung “gegar Hamsun”. Banyak yang pengin nulis kayak dia.
  • Hamsun disebut “bapak realisme modern”. ‘murid’nya enggak tanggung-tanggung: Thomas Mann, Gorky, Bashevis Singer, Fitzgerald, Hemingway.
  • Bahkan memunculkan istilah “Hamsunisme”, yakni usaha untuk menulis seperti Knut Hamsun.
  • Hamsun sendiri mulai terganggu dg “Hamsunisme” ini.
  • Hamsun mulai meninggalkan tulisan-tulisan lirisnya (Hunger, Pan, Mysteries, Victoria) dan beralih ke bentuk epik.
  • Novelnya mulai “tebal”, diawali dengan Growth of the Soil, terus The Women on the Pump, The Wanderers, dan lain-lain.
  • Mumu Aloha: Kenapa dunia lebih mengenal murid-muridnya ketimbang hamsun sendiri?
  • Hamsun enggak begitu dikenal di “dunia” Amerika, tapi top di Eropa.
  • Banyak peraih Nobel enggak dikenal, kasusnya hampir sama: enggak dikenal di “Amerika”, tapi ya dikenal di Eropa.
  • Begitu berpengaruhnya Hamsun di penulis Eropa, sampai disamakan dengan pengaruh Gogol di kesusastraan Rusia.
  • Yang rada ajaib, Hamsun juga sangat brpengaruh di penulis-penulis Hebrew dan Yiddish. Padahal Hamsun pernah ‘blunder’ berteman dengan Nazi.
  • Tapi jelas Hamsun sendiri “anak sah” dr kesusastraan Dostoyevsky.
  • Tokoh-tokoh Hamsun, yg “antisosial” itu, lebih sering bicara dan mendengarkan dirinya sendiri. Paling Letnan Glahn di Pan ngobrol sama anjing.
  • Pembukaan Hunger juga saya pikir salah satu yang terbaik: All of this happened while I was walking around starving in Christiania.
  • Ada dua penulis yang saya kagum melebihi yang lain-lain: Hamsun dan Kawabata. Saya pikir salam beberapa hal ada yg mirip di antara mereka.
  • Tokoh-tokoh Hamsun dan Kawabata relatif asyik dengan hasrat mereka sendiri, kan? Tapi, sekaligus mereka enggak histeris. Kalem-kalem saja seolah-olah bukan “hasrat”.
  • Hamsun banyak dikritik orang-orang kiri karena skeptisisme dia, sebaliknya dipuji Nazi. Begitulah dia miring ke Nazi.
  • Padahal apa ya, yang dicari Nazi dari Hamsun? Skeptisisme dia juga kayaknya bukan gaya Nazi?
  • Kalau kata Bashevis Singer (Yahudi pengagum Hamsun): skeptisismenya Hamsun itu pol, meragukan keraguan.
  • Orang-orang kiri jelas gampang mengkritik Hamsun: dia bicara “lapar” tapi enggak ngomong “rakyat yg lapar”.
  • Dalam hal itu Hamsun enggak terlalu “patriotik”. Ia berteman dg Nazi, tapi relatif enggak terlalu peduli. Ia lebih senang berkebun di desa.
  • Dekat dg Nazi, tapi para penulis Yahudi macam Bashevis Singer mengaguminya, itulah Hamsun.
  • Banyak dikritik orang-orang kiri, tapi dikagumi komunis macam Gorky, itu dia Hamsun.

Beberapa Tesis Tentang Judul Novel

Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis “brand”, di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa “Warung Ice” tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.

Judul yang asyik memiliki karakter filosofis, puitis, kiasan, tapi juga deskriptif mengenai isi novel, serta mengakomodir tujuan praktis: memancing rasa ingin tahu pembaca. Judul paling asyik yang pernah saya baca, ditulis oleh Milan Kundera: The Unbearable Lightness of Being. Saya pikir judul tersebut merepresentasikan hal yang telah saya maksud di atas.

Continue reading

Menciptakan Karakter

Saya selalu mengingat resep dari Koike Kazuo, komikus Jepang yang terkenal dengan manga Lone Wolf and Cub mengenai keberhasilannya menulis komik: “Character that stands out.” Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Minke dalam Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), Mishkin dalam The Idiot (Dostoyevsky), Kakek dalam “Robohnya Surau Kami” (A.A. Navis), atau Gregor Samsa dalam “The Metaporphosis” (Franz Kafka), seolah-olah tokoh-tokoh tersebut nyata dan kita kenali.

Pertanyaan pentingnya, tentu saja, bagaimana menciptakan karakter-karakter semacam itu? Karakter-karakter yang tak hanya “memorable”, tapi juga terasa nyata?

Continue reading