Cinta Tak Ada Mati

Kumpulan Cerita Pendek
Diterbitkan oleh: Gramedia Pustaka Utama, 2005 (reissued: 2018)
Tulis dan Baca Review di Goodreads

Kematian perempuan itu sama sekali tak menghentikan cintanya, sebaliknya cinta itu semakin menjadi-jadi. Setelah menjadi bangkai, tiba-tiba perempuan itu menjadi setengah dewa, dan ia semakin memujanya, la menghabiskan tiga malam penuh insomnia, di mana setelah bertahun-tahun ia menangis begitu menyedihkan dan berdoa dengan serampangan agar Tuhan mengembalikan perempuan itu ke dunia, dengan cara apa pun. la tahu itu tak mungkin, kecuali akan menjadi teror bagi orang yang hidup, tapi ia bersikeras perempuan itu bisa hidup kembali didorong oleh cintanya yang meluap-luap. la memimpikannya dalam tidur-tidur yang sejenak, dan membayangkannya di waktu-waktu terjaga yang menyiksa. Kadang-kadang ia berharap perempuan itu muncul di sudut kamarnya, tak peduli yang muncul adalah hantu.

Daftar Isi

  1. Kutukan Dapur (2003)
  2. Lesung Pipit (2004)
  3. Cinta Tak Ada Mati (2003)
  4. Persekot (2017)
  5. Surau (2004)
  6. Mata Gelap (2002)
  7. Ajal Sang Bayangan (2004)
  8. Penjaga Malam (2004)
  9. Caronang (2005)
  10. Bau Busuk (2002)
  11. Pengakoean Seorang Pemadat Indis (2005)
  12. Jimat Sero (2009)
  13. Tak Ada yang Gila di Kota Ini (2011)

“Cerita-cerita ini ditulis dengan suatu bakat dan semangat pencanggihan yang tinggi, yang pada masa lalu merupakan ruang kosong dalam satra Indonesia. Dengan kata lain, kita pantas meletakkan harapan atas masa depan sastra Indonesia kepada para penulis muda seperti Eka Kurniawan. Itulah kesan saya setelah membaca cerita-cerita di dalam buku ini.”
– Seno Gumira Ajidarma

“Menelan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, pembaca dibelai oleh teror yang mengepung pikiran tokoh-tokohnya. Teror yang menyakitkan, penuh luka, borok, tetapi indah. Sebuah realisme-magis khas Indonesia. Bukankah selama menjadi manusia Indonesia kita selalu dihidangkan mitos, legenda, dongeng, dan kebohongan yang tidak pernah selesai. Itulah carut-marut di dalam pertumbuhan phsikis manusia kita. Potret itu kita temukan di dalam tokoh-tokoh fiktif Eka. Membaca cerpen-cerpen ini orgasme pembaca tidak akan terpenuhi tanpa menyantap Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau.”
– Oka Rusmini

“Kurniawan is consciously subverting, dissecting, uncovering and looking at things in new ways, which only a new language can do. Thus it has the potential to lead somewhere towards a ‘stage of genius’.”
– Stefan Danarek, The Short Story Genre in Indonesia

“Seperti juga di novel-novelnya, saya selalu menemukan Eka Kurniawan berhasil mengubah semua hal yang dia baca menjadi miliknya—dengan caranya sendiri.”
– Aan Mansyur

Judul Lainnya: