The Wind-up Bird Chronicle, Murakami Haruki

Pernah membaca Murakami Haruki? Salah satu cerpennya saja? Dia sekarang ini mungkin pengarang hebat yang masih hidup dan rajin menerbitkan buku. Tidak sembarang buku, tapi buku yang asyik. Tahun lalu saya membaca bukunya yang paling baru After Dark. Kejadiannya cuma semalam (ini biasa), tentang orang yang tidur enggak bangun-bangun (nah, yang ini gayanya Murakami, kira-kira seperti menyeret kisah al-kahfi si manusia gua yang tidur lama itu, ke latar modern di Jepang). Seperti pembaca yang malas, saya membaca Murakami Haruki awalnya melalui cerpen-cerpennya. Lumayan pendek untuk dibaca sambil makan donat, meskipun enggak bisa dibilang lebih pendek dari cerpen kebanyakan di Indonesia. Jadi, apa boleh buat, saya baru membaca buku-buku tebalnya agak lebih belakangan. Yang paling terakhir, ini dia, The Wind-up Bird Chronicle. Sepertinya ini bukunya yang paling tebal. Dua bulan saya baca, sebelum dan setelah bangun tidur, sebab di siang hari saya harus mengerjakan hal lain. Nah ngomong-ngomong, saya terkagum-kagum dengan si tokoh Toru Okada yang bisa nyaman tinggal di sumur. Ini lagi yang aneh dari Murakami. Jujur saja, awalnya saya agak mencari-cari bagian yang ngeseks-ngeseks. Biasa, Murakami jagonya soal beginian. Ternyata enggak banyak … tapi ada. Yang paling seru adalah mimpi basahnya. Si Toru Okada ini suatu hari, dua atau tiga kali, nyemprot basah gara-gara dia mimpi bercinta dengan seorang perempuan yang beberapa kali datang ke rumahnya untuk jadi semacam cenayang. Eh, ternyata si perempuan ini tahu kalau Toru Okada memimpikannya, bahkan sampai ejakulasi. Ah, bayangkan, pasti memalukan, ya? Ternyata perempuan itu mengaku sebagai pelacur dalam pikiran. Ya, ia sengaja datang ke dalam mimpimu untuk membuatmu “keluar”. Bangsat. Sebenarnya novel ini jauh lebih berat daripada yang saya coba bayangkan … tapi tahu sendirilah, saya lebih tertarik bagian-bagian yang asyiknya. Salah satunya tentang kebiasaan Toru Okada masuk sumur. Saya enggak tahu darimana Murakami dapat gagasan semacam itu. Seorang lelaki yang ditinggal istrinya, masuk ke “dunia lain” dengan cara duduk di dalam sumur kering sambil menggenggam tongkat bisbol. Dipikir-pikir, apakah ada hubungannya dengan kecenderungan pendekar Jawa yang suka semadi di gua untuk mencari ilmu, ya? Eh, bukankah Nabi pun memperoleh wahyu pertama dengan menyepi di gua? Nah … maksud saya itu. Sebenarnya itu kan, ritual yang sudah biasa dari zaman ke zaman … tapi menjadi sangat lain ketika dibawa kembali ke satu sudut kota Tokyo. Kita tahu, tak ada yang baru di kolong langit, tapi itulah, bagaimana sesuatu yang sudah kita akrabi menjadi sesuatu yang unik dan berbeda. Di novel, apa yang membuat Murakami asyik adalah: apa yang sebenarnya klise dia bikin menjadi sesuatu yang tak lagi basi. Contohnya ya itu, manusia sumur. Jangan tanya karakter-karakter lain semacam pecandu komputer yang bisa memecahkan berbagai kode. Selain itu, tema-tema ceritanya, juga latarnya, adalah dunia keseharian urban kota, tepatnya Tokyo, yang saya yakin dialami oleh kebanyakan orang di dunia global ini. Salah satunya lagi, adalah mimpi basah yang sudah saya ceritakan. Berapa banyak novel yang menceritakan mimpi basah? Barangkali semua novel menyinggung persetubuhan, tapi mimpi basah? Padahal itu kan, pengalaman umum. Buat saya ini jadi semacam tantangan: bagaimana menemukan sesuatu yang saking biasanya, tak pernah terpikirkan oleh orang lain. Kira-kira … apa, ya?





9 thoughts on “The Wind-up Bird Chronicle, Murakami Haruki

  1. saya juga ngefans tuan Murakami, mas. Tapi baru baca yang edisi indonesia-nya, Norwegian Wood dan Kafka on the Shore. Salut sama penulis hebat ini. Katanya After Dark bakal diterjemahin juga ya? kapan ya?

  2. waaahh.. senengnya bs nemuin para penggemar Haruki Murakami. aq lagi mulai nulis skripsi dari Novel Norwegian Wood’y nih…Rencananya sih mw nagmbil Aspek Erotismenya…Ada yang bsa bantu?????!!!

  3. emang mantap mas eka, buku-bukune haruki…wah aku kudu hunting dulu ke gramed jogja dari purwokerto demi bisa membaca (dan akhirnya membeli) buku haruki…..susahnya cari buku-bukunya kalo ga ke kota besar langsung……

  4. Waduuuuh baru tau Haruki Jagoan soal menceritakan sesuatu yang ngeseks-ngeseks segala. Kirain selama ini cuma jago surrealisme saja. :)

  5. saya suka banget dengan cara haruki murakami menceritakan adegan seks. Nggak norak gitu, diceritakan dengan cool dan dingin

Comments are closed.