Tariq Ali, Pertemuan dan Beberapa Hal Lucu

Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal Indonesia. Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson, dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya. Tadi malam akhirnya kami bertemu tak jauh dari hotel tempatnya tinggal di daerah Kemang, dalam kunjungan singkatnya ke Jakarta. Saya ditemani Richard Oh, Mikael Johani, Rahung dan Reiner, ngobrol dan makan malam bersama dia. Malam itu kami lebih banyak bicara tentang situasi politik. Antara lain mengenai rencana buku berikutnya. Juga ngobrol soal kenapa para pemimpin Komunis Indonesia yang terbunuh sampai sekarang belum juga ditemukan kuburannya, padahal di negara-negara lain hal ini mulai terungkap. Sementara itu mengenai urusan dengan saya, ia cuma meminta beberapa kopi novel saya. Melalui penerbitnya, Verso, dua tahun lalu ia memang pernah meminta buku-buku itu, tapi entah kenapa kiriman kami tak pernah sampai ke tangannya. Akhirnya saya berjanji besok siang saya akan mampir ke hotelnya dan membawakannya kedua novel saya, serta beberapa manuskrip yang juga dia minta. Kami makan siang bersama di satu restoran Jepang, di Codefin Kemang. Tak terasa, akhirnya kami ngobrol lagi. Dan kali ini dia menceritakan berbagai hal-hal lucu dan konyol di negara-negara Komunis yang dia kunjungi. Salah satu negara yang diceritakannya, tentu saja Korea Utara. Kata dia, di negara itu, sopir yang mengantarnya ke sana-kemari sering berhenti selama beberapa waktu. Saat dia tanya untuk apa, si sopir jawab: untuk berpikir. Akhirnya Tariq bilang: sudah deh, kamu nggak usah berhenti-berhenti, aku enggak akan bikin laporan yang menyusahkan ke atasanmu. Si sopir akhirnya ketawa ngakak bebas. Dia juga bercerita tentang Museum Seni Nasional. Isinya? Di ruang pertama, ia melihat lukisan Kim Jong-il masih bayi. Ruang kedua, ada lukisan Kim Jong-il remaja. Ruang ketiga, ada lukisan Kim Jong-il sudah menikah, dan seterusnya. Garing banget, kan? Dan, nah ini yang paling lucu. Saat kami masuk ke Codefin, pandangan Tariq Ali tertuju pada pajangan suratkabar Koran Jakarta. Dengan tak percaya, ia menoleh dan bertanya: “Koran?” Awalnya kami tak menyadari apa yang salah dengan nama suratkabar itu, sampai kemudian saya tertawa. Buru-buru saya menjelaskan, “Bukan, bukan. Koran dalam bahasa Indonesia artinya suratkabar. Kalau kitab agama Islam, di sini ditulis dengan ‘Q’. Quran.” Tariq Ali akhirnya mengangguk-angguk dan ikut tertawa. Dia bilang, di Pakistan kayaknya enggak akan ada yang berani kasih nama suratkabar dengan nama “Koran”. Saya tertawa lagi. Untuk yang belum mengenal Tariq Ali, di luar buku-buku politiknya, ia menulis beberapa novel. Antara lain: Kitab Salahuddin, Seorang Sultan di Palermo, Perempuan Batu dan Bayang-bayang Pohon Delima. Keempatnya sudah tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia. Akhirnya, selepas makan siang kami berpisah, sambil berjanji untuk saling berhubungan. Tak lupa ia memberi saya salah satu novelnya, Fear of Mirrors. Di bukunya ia menulis pesan untuk kami, “Terima kasih untuk perkawanan dan solidaritas pada kunjungan pertamaku ke Jakarta.”