Shalimar the Clown, Salman Rushdie

“Jangan tinggalkan aku sekarang, atau aku tak akan memaafkanmu, dan aku akan membalas dendam, aku akan membunuhmu dan jika kau punya anak dari lelaki lain aku akan membunuh anak-anak itu juga,” demikian kata Shalimar sang pencinta Muslim di pertengahan Shalimar the Clown. Boonyi, sang kekasih Hindu, menjawab ancaman itu dengan enteng: “Betapa romantisnya kamu, mengatakan hal termanis!” Akhir tahun 2005 lalu, novel kesembilannya ini baru saja terbit. Berkisah mengenai pembunuhan duta besar Amerika untuk India oleh sopir pribadinya yang berdarah Kashmir, Rushdie kembali dengan tema favoritnya tersebut. Ditulis oleh orang yang telah mengalami sendiri teror atas nama agama jauh sebelum dunia mengalaminya, Shalimar the Clown disebut-sebut sebagai kelahirannya kembali, sebagai upayanya kembali ke tradisi awal kreatifnya, ke novel dengan kompleksitas cerita berskala saga, dalam situasi dunia yang diwarnai ketegangan Barat dan Islam selepas peristiwa 09/11. Banyak pembaca sering melihat karya Rushdie sebagai sejenis metafor. Saleem Sinai dalam Midnight’s Children sebagai metafor untuk India. Mahound dalam The Satanic Verses sebagai Nabi Muhammad. Maka pembunuhan duta besar Amerika oleh seorang sopir yang Muslim, tak pelak membuat orang menafsirkannya sebagai sejenis metafor pula. lihat saja, putri Maxmilian Ophuls sang duta besar, diberi nama India, sebelum kelak menggantinya sendiri dengan nama Kashmir. Pembunuhan itu sendiri sesungguhnya merupakan kisah cinta dan balas dendam yang sederhana. Tapi di balik itu, memang membentang konflik berkepanjangan, masa lalu maupun masa sekarang. Berawal di tahun 1991, bergerak maju dan mundur, berbaur dengan keajaiban, perang yang brutal, cinta terlarang antara pemuda Muslim dan gadis anak pendeta Hindu, dan perjalanan melintasi benua dari California ke Kashmir, Prancis, Inggris sebelum kembali ke California. Sebagaimana Milan Kundera yang selalu merayakan Ceko meski terusir dari sana, Rushdie juga mempergunakan ketercerabutannya untuk melihat akar secara lebih berjarak. Demikianlah dalam Shalimar the Clown, ia kembali menengok Kashmir. Bagian mengenai Kashmir, malah bisa dikatakan bagian yang paling indah dalam novel ini, dibandingkan misalnya, penelusuran jejak Max Ophuls yang cenderung garing. Dalam novel terbarunya ini, banyak tokoh tampak dipenuhi beban identitasnya. Shalimar kehilangan identitas pribadinya yang mandiri, dan harus terus-menerus diverifikasi sebagai seorang Muslim yang kemudian memperoleh identitas tambahan: fundamentalis. Demikian pula Max Ophuls: Yahudi Amerika, penguasa tanpa batas yang bisa merenggut apa pun. Tapi bagaimanapun, Rushdie mengembalikan apa yang luput dari perhatian orang dan halaman depan surat kabar: Kashmir. “Untuk kenangan indah kakek-nenek Kashmirku, Dr. Ataullah dan Amir un nissa Butt,” kata Rushdie. Kashmir, bagi Rushdie, ibarat sebuah surga yang hilang, sebuah urusan yang memang sangat personal. Berawal sebagai peristirahatan musim panas para koloni Inggris yang penuh kedamaian, neraka itu datang sejak masa Perpisahan di mana Kashmir mulai terbagi dua. Sebuah wilayah kecil dikuasai Pakistan, sementara wilayah paling besar, dikuasai India dalam keadaan terus bergejolak. Konflik sektarian mengoyak-oyak tempat itu, diperebutkan penduduk yang mayoritas Muslim dan pemerintahan Hindu. Meskipun begitu, kali ini Shalimar the Clown tidak ditulis orang yang barangkali menulis dalam keadaan ketika ia menulis Midnight’s Children atau bahkan The Satanic Verses. Hidup enam belas tahun di bawah fatwa mati Khomeini, yang pastinya tetap banyak dipegang teguh para fundamentalis, dan tinggal di Manhattan, Rushdie bukan lagi seorang penulis dari dunia ketiga. Novel ini menjadi sejenis satir orang Barat yang melihat langit runtuh di sebuah dunia yang jauh, meskipun Rushdie mencoba bijak dengan mengatakan: “Tempat mana pun merupakan bagian tempat lainnya. Rusia, Amerika, London, Kashmir. Hidup kita, cerita kita, mengalir ke satu dan lain tempat, yang tak lagi milik kita, pribadi, terpisah … Dunia tak lagi hening.”





2 thoughts on “Shalimar the Clown, Salman Rushdie

  1. I do enjoy reading all the contents here..I have always wanted to read your novel titled cantik itu luka..Keep up the good work
    *old neighbour from the past*

  2. “the moor’s last sight” juga cukup menarik dan “gila”. tapi memang puncak2 di kedua novel “midnight’s children” dan “satanic verses” masih menghantuiku sampai sekarang. i enjoy “haroun and the sea of stories” and i read it for my baby boy. rushdie bagiku salah satu novelis satir yang paling hilarious:)

Comments are closed.