Sastra dan Asal-usul Moral

Apa sesungguhnya yang bercokol di belakang seluruh perdebatan mengenai sastra? Tentu saja dengan sangat mudah kita bisa merujuk ke perubahan standar-standar moral yang berlaku di sebuah masa, serta kemudian terdapatnya berbagai standar moral tersebut yang hidup di masa yang sama. Dalam sejarah sastra Indonesia, polemik yang muncul dari generasi ke generasi, dari “polemik kebudayaan” hingga “manifes kebudayaan”, dari soal sastra kontekstual hingga meluncurnya Rancangan Undang-undang Anti-pornografi dan Pornoaksi, meskipun selalu memiliki bias politik, tentu saja selalu menempatkan moral sebagai ujung tombak penyerangan maupun lempeng perisai pertahanan. Ungkapan seperti “penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman” dalam Surat Kepercayaan Gelanggang, saya pikir juga merupakan ungkapan-ungkapan umum moralitas. Kenapa urusan moralitas ini selalu merupakan medan panas, yang melulu menimbulkan bara api, dan ujung-ujungnya pergesekan yang sengit? Karena pengalaman-pengalaman baru pada akhirnya membawa identitas moral yang baru pula. Di dalam sastra, pengalaman dan identitas moral ini selalu memiliki konsekuensi-konsekuensi kreatif. Saya pikir omong-kosong membayangkan karya kreatif tanpa melibatkan identitas moral yang bercokol di masing-masing kreator, meskipun kita bisa memisahkan hal itu dalam setiap pembacaan karya kreatif. Maka, jelas bukan sesuatu yang asing bahwa perdebatan sastra seringkali tak lagi melulu kreatif, bahkan lebih sering berada di wilayah moral, berada di medan “tugas-tugas dan tanggung jawab pengarang” dan “pengaruhnya kepada massa rakyat.” Para filsuf tradisional senantiasa membayangkan struktur moralitas dalam kerangka prinsip-prinsip moral, serta metode-metode pembenarannya, yang dengan susah-payah dikembangkan atau dijelaskannya. Dalam pandangan tradisional ini, melalui prinsip-prinsip moral itulah situasi dikategorikan sebagai bermoral atau tidak. Juga dalam tradisi ini, pengategorian juga meliputi lebih relevan atau tidak secara moral. Dengan kata lain, selain memperbedakan antara yang bermoral dan yang tidak, juga memberikan jenjang nilai terhadap superioritas dan inferioritas moral. Misalnya, kewajiban untuk “mengatakan kebenaran” dan “membahagiakan sekelompok orang” mungkin pada situasi yang berbeda bisa bertukar tempat dalam hal mana yang lebih relevan atau lebih bernilai. Mana yang lebih superior dan mana yang inferior. Dalam kasus yang sangat terkenal mengenai cerpen “Langit Makin Mendung” karya Ki Panjikusmin, misalnya, perseteruan itu meliputi mana yang lebih superior antara prinsip “kebebasan berkarya” dan “penodaan agama”. Siapa yang lebih patut dibela, manusia atau Tuhan? Siapa pun yang berada di pihak mana pun, berdiri dengan asumsi moralitasnya sendiri. Pengalaman-pengalaman baru, dengan ini, tak hanya menghasilkan prinsip-prinsip moralitas yang baru, tapi bisa juga dalam bentuk merevitalisasi standar moralitas yang lama, membuat yang inferior menjadi superior atau sebaliknya. Dalam posisi ini, sastra selalu berada dalam posisi: dikategorikan secara moral. Dipersengketakan sekaligus diperebutkan. Apa sebenarnya yang tersembunyi dari daftar perbedaan-perbedaan ini? Apakah ini melibatkan makna-makna yang berbeda? Perbedaan konsepsi? Ini membawa ke akhir yang selalu tak mengenakkan bahwa perdebatan moral, sesederhana pengategorian sastra ke dalam satu atau beberapa kategori moral, senantiasa melibatkan “motif-motif” yang bersifat pertahanan diri. Serangan terhadap sistem dan standar moral yang lain erat kaitannya dengan naluri kecemasan dengan keberadaan sesuatu “yang lain”, yang dianggapkan sebagai ancaman. Dalam kehidupan sehari-hari, kenyataannya itu berlangsung di permukaan maupun di bawah. Di dalam sastra, yang sejak kelahirannya selalu mencoba membebaskan dirinya dari apa pun, kenyataan ini menampakkan diri dalam bentuk sensor dan pelarangan, terang-terangan maupun terselubung serupa rating “khusus bacaan dewasa”.





2 thoughts on “Sastra dan Asal-usul Moral

  1. Bagi saya yang awam, kayakanya moralitas memang harus selalu mempertanyakan dirinya sendiri deh. Daripada membatu dalam struktur yang kaku, memang sebaiknya ia membuka diri pada paradoks-paradoks yang berlalu lalang di sekelilingnya…..

    Augh, sok banget gw yah.

    Salam kenal mas. Nice blog!

Comments are closed.