Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi

Beberapa malam lalu, saya memperoleh surel dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad: mereka mengajak saya membuat proyek kecil menyangkut hal yang barangkali tak pernah dilirik kebanyakan penulis (apalagi kritikus): Tribut untuk Abdullah Harahap. Tak hanya girang, bisa dibilang saya tersanjung dengan ajakan itu. Abdullah Harahap! Bertahun-tahun saya bergaul dengan para penulis, hampir bisa dikatakan tak pernah bertemu orang yang bisa memperbincangkan penulis ini dengan antusias. Jika saya tak salah ingat, saya membaca novel-novel Abdullah Harahap pertama kali di masa SMP. Itu berarti di akhir tahun 80an. Sejujurnya, saya membaca novel-novel itu awalnya karena memang tak ada lagi yang bisa saya baca. Sekadar mengingatkan, di masa itu saya tinggal di Pangandaran. Bahkan sampai hari ini, tak ada toko buku di kota itu. Ada toko buku bekas tempat turis menukar novel John Grisham dengan Nora Roberts, tapi tak pernah lebih dari itu. Intinya, itu bukan kota yang layak untuk seorang kutu buku, dan tempat yang pasti menyedihkan untuk seorang calon penulis. Satu-satunya surga saya adalah sebuah taman bacaan tak jauh dari terminal bis. Di sanalah saya mengenal “sastra”: Abdullah Harahap, Kho Ping Hoo, Bastian Tito, juga mengenal komik. Dari merekalah saya mengenal “sastra”, dan ketika kemudian ingin jadi penulis, novel-novel seperti itulah yang pertama-tama saya bayangkan. Ketika akhirnya saya memutuskan untuk kuliah Filsafat di UGM, dua tahun pertama benar-benar merupakan tahun-tahun yang sangat menyiksa. Bagaimana tidak: referensi bacaan saya benar-benar tidak nyambung dengan iklim bacaan di universitas. Jangankan Albert Camus, Jean-Paul Sartre, Hegel atau Derrida, saat itu saya bahkan belum pernah membaca Mochtar Lubis atau Pramoedya Ananta Toer. Tak hanya minder, saya bahkan mulai merasa menjadi penulis tampaknya bukan cita-cita yang tepat. Tapi, setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan dua hal: menyelesaikan kuliah dan membaca buku apa pun yang bisa saya peroleh. Saya mulai mendatangi perpustakaan-perpustakaan yang bisa saya kunjungi. Menjelang akhir kuliah, saya telah membaca karya-karya Knut Hamsun, Kawabata Yasunari, Gabriel Garcia Marquez dan William Faulkner — nama-nama yang membuat saya bergairah kembali dengan sastra. Akan tetapi, harus saya akui, apa yang saya bayangkan tentang sebuah karya tak banyak beranjak dari apa yang saya bayangkan di masa kios taman bacaan dulu. Barangkali karena saya merasa tak berada di lingkaran kesusastraan yang semestinya, saya juga mulai menciptakan benteng. Maksudnya, jika saya tak bisa masuk ke sebuah dunia (kesusastraan), paling tidak saya memiliki dunia sendiri. Dengan cara itulah saya terus melanjutkan selera saya. Tapi, bersama bertambahnya waktu, saya mulai menyadari dua hal. Pertama, ternyata saya tak sendirian; kedua, tak ada alasan untuk menganggap bacaan-bacaan saya sebagai bacaan kelas dua. Surel dari Intan dan Ugo membuktikan bahwa saya tak sendirian. Perhatian mereka terhadap Abdullah Harahap juga membuktikan, sejarah kesusastraan merupakan sesuatu yang personal. Bagi seseorang, Abdullah Harahap bisa jauh lebih berarti daripada penulis mana pun. Kesadaran inilah yang akhir-akhir ini membuat saya merasa layak menghidupi kesusastraan personal saya. Juga nyaman dengan beragam selera pribadi saya yang lain. Sebab tak ada alasan menjadi orang lain, sebab tak ada alasan harus menerima standar orang lain meskipun atas nama mayoritas, sebab dunia adalah apa yang saya hadapi sendiri. Termasuk nyaman menulis di blog, satu penemuan dunia yang hebat, yang tak sempat dinikmati James Joyce, apalagi Miguel de Cervantes. Yang barangkali untuk sebagian penulis saat ini pun masih dilihat sebagai sampah peradaban. Tak apalah. Saya tak bermaksud membangun menara Babel, apalagi bersinggasana di atasnya. Saya hanya seorang penulis yang berbahagia dengan hidup saya sendiri, dengan pilihan-pilihan 





10 thoughts on “Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi

  1. “….Sebab tak ada alasan menjadi orang lain, sebab tak ada alasan harus menerima standar orang lain meskipun atas nama mayoritas, sebab dunia adalah apa yang saya hadapi sendiri”

    Kutipan diatas adalah sebuah pernyataan yang selama ini saya cari hampir dari 2/3 kehidupan saya, sampai saat inipun masih demikian. Selalu ada ketakutan untuk menjadi marginal dan tidak menjadi bagian dari mayoritas. Membaca tulisan ini setidaknya menambah bobot keyakinan saya bahwa menjadi diri sendiri adalah lebih baik dari menjadi orang lain bagaimanapun hebatnya orang lain tersebut.

    Salam dari Cibinong.

  2. erizaldi:
    terima kasih. mengetahui orang lain memiliki problem yang sama, menambah keyakinan saya untuk mempercayai pilihan2 sendiri. Pilihan2 ini mungkin bukan pilihan bebas. Pilihan2 ini hanyalah pilihan terbatas dari sejarah hidup seseorang, yang personal dan beda satu sama lain, tapi itu pun tetap layak dihargai.

  3. Kemarin saya nemu buku-bukunya Abdullah Harahap di soping dijual 7ribuan, sempat tertarik tapi nggak jadi beli karena ilustrasi depannya “menggoda”, bisa bahaya kalau ditemu simbok. Kalau bicara selera, saya sering merasa tidak berselera dengan karya-karya yang lagi populer, tapi malah tertarik sama yang agak “murahan” atau ndeso.

  4. halooo kakkkkkk…gimana kabarnya ugoran prasad???.saya pingin tahu email dia, tapi tanyain dia dulu berkenan gak ngasih ke saya. kan budaya tulis, tahu beda privat dan publik.he3.bilang ma dia, passwordnya : Cowok Keren dan goris keraf. kalau tetep gak boleh ya gak papa.kalau boleh, tolong diemailin ke email saya ya emailnya ugoran prasad. saya gak tahan nahan kangen kak..kan dia lama gak nulis di koran.

    sarastia:
    ini email ugo: souperugo[at]gmail.com, kata dia, ini email publik, jadi oke2 aja kamu kontak dia.
    (ekakurniawan)

  5. sejak sebulan lalu saya getol melongok situs ini. menarik….tulisan-tulisannya selalu menginspirasi. salam kenal, saya aris. nama belakang kita sama. nama yang sangat pasaran memang.
    tentang “tak ada alasan menjadi orang lain,” benarkah? aku selalu merasa menjadi orang lain. setiap bertemu dengan orang berbeda aku menjadi orang lain…..aku tidak tahu apakah bahagia atau menderita dengan menjadi orang lain…..apa benaar ada alasan menjadi tidak seperti orang lain?

    aris:
    sebenarnya menjadi diri sendiri atau orang lain mungkin sama kaburnya definisi itu. paling tidak yang terpenting buat saya: saya menghargai ukuran-ukuran sendiri, bahkan seandainya itu berbeda dengan ukuran umum.
    salam kenal,
    (ekakurniawan)

  6. Wah wah wah.
    Baru hari ini saya ngubek2 blog ini. Pertama2 saya udah senang dengan ilustrasi Alice in Wonderlandnya. Sesuatu yang klasik. Tak lekang oleh jaman. Abadi.

    Kedua, tentang cerita soal selera baca di halaman ini. Kisahnya mirip aku. Kehausan baca di masa kecil, menjadikan bacaan karya abdullah harahap, motinggo busye, mira w, marga t, s mara gd, terjemahan stephen king (masih stensilan) sudah jadi ‘makanan’ sejak SD. Dan itu hasil merelakan uang jajan demi menyewa novel2 itu dari kios sewa buku dekat sekolah.

    Sepertinya Mas Eka ini seumuranku, deh. Lahir thn 75? 76?

    salam

    clara:
    saya lahir akhir 1975. salam kenal.
    (ekakurniawan)

  7. Mas Eka suka baca komik dan suka baca dan nulis novel, kenapa gak bikin novel grafis aja?

    Tomy:
    saya membuat buku komik waktu kuliah, bareng dua teman saya. tapi hanya diterbitkan terbatas. Kapan2 kalo saya sempat men-scan, saya hendak menampilkannya di blog ini. Novel grafisnya ditunggu, kali :)

  8. Halo Eka,

    Aku pernah ketemu dirimu di Goethe Haus waktu temenku si Mumu jadi Moderator launching salah satu buku barunya GPU.

    Sungguh menarik tulisanmu ini, aku setuju bahwa tiap individu harusnya memiliki ukuran-ukuran tersendiri dalam hidupnya, tidak harus mengikuti standar hidup orang lain, karena memang dunia adalah apa yang kita hadapi sendiri.

    Nice post.

Comments are closed.