Menulis Novel Itu Seperti Ngeseks

Saya memikirkan ini ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Pola bait lagu ini: A-A-B-A-B-C-A-B-D, dengan B sebagai refrain lagu dan C sebagai bridge dan D sebagai outro. Bayangkan pola bait lagu ini sebagai aktivitas seks, dengan refrain sebagai titik orgasme. Pertanyaannya, kenapa di awal ada pola A-A-B? Inilah bayangan saya: refrain lagu ini enak sekali. Menggelora. Meledak. Jika itu orgasme, kita ingin menahannya dulu, agar ia meledak lebih keras. Begitulah lagu ini dibuka dengan A-A (tahan) lalu B (refrain). Setelah merasakan orgasme, kita ingin mengulangnya. Kita tak perlu mengulur waktu lebih lama, sebab jika terlalu lama, percintaan barangkali akan jatuh menjadi membosankan. Maka cukup A-B. Selepas itu, para pecinta akan lelah. Bridge. Ia memerlukan pola nada yang sedikit berbeda, dengan tempo yang lebih turun. Saling manja, saling mengambil napas, saling mencoba membangkitkan kembali gairah. Dan akhirnya mulai bercinta lagi. A lagi. Dan kembali orgasme. B. Refrain. Setelah itu outro, saling cium, saling peluk, dengan napas tersengal. Sebelum tidur kelelahan. Bayangkan penulis novel yang buruk, pasti sama dengan pecinta yang buruk. Barangkali kita tak memperoleh orgasme. Barangkali orgasme keceplosan di tempat salah. Pola-nya barangkali B-C. Buka celana-langsung-ceprot. Saya bayangkan, novel yang baik minimal seperti percintaan A-A-B-A-B-C-A-B-D tadi. Tentu pencipta lagu jenius bisa mengacak-acak pola ini. Lebih tak terduga. Tapi mari bayangkan pola tadi saja. Kita akan membuka dengan pola A: ada masalah menggemaskan di antara tokoh-tokoh novel. Lalu ada tokoh lain yang akan membuka kedok-kedok permasalahan itu. Di sini kita tahan dan pola A diulang: kedatangan tokoh baru itu malah menambah permasalahan. Kita semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya salah satu tokoh merasa harus membuka kedok. Ledakkan. Pola B: ketika satu kedok dibuka, kedok-kedok tokoh lain mulai terbuka. Mereka saling gasak. Karena kedok-kedok itu sudah kebuka, muncul masalah lain. Pola A kembali. Konflik mereka semakin dalam, tapi jangan ditahan terlalu lama. Nanti membosankan. Satu tokoh tak tahan menghadapi masalah di antara mereka. Ia mengambil pistol dan menembak kepalanya. Meledak. Pola B. Yang lain mulai saling menyalahkan. Saling cabik. Mereka semua terkapar berdarah-darah. Di sini kita perlu bridge. Pola C. Kita perlu menurunkan tempo. Kita barangkali flashback untuk mencari tahu latar belakang masalah mereka sebenarnya. Mencari latar belakang tokoh-tokohnya. Seperti pecinta saling bercanda, saling meraba untuk membangkitkan gairah kembali. Ketika badan sudah mulai hangat, ciuman mulai kembali bergelora. Kembali ke pola A: Mereka mulai mencari cara menyelesaikan persoalan. Tapi, karena cara pandang yang berbeda , pencarian mereka malah menimbulkan keruwetan baru. Tak ada jalan. Buntu. Hingga salah satu tokoh, sentral konflik, tahu bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Klimaks terakhir. Pola B. Si tokoh berjalan ke tengah rel. Lokomotif menabraknya. Selesai. Tinggal tokoh-tokoh yang tersisa menangisi kepergiannya, atau menertawakannya. Outro. Pola D. Memang adakalanya kita perlu bercinta cepat. A-A-B. A-B-C-B. Banyak alasan untuk bercinta cepat. Mungkin kamu membayar pasanganmu di tempat pelacuran dan harus selesai dalam satu jam. Mungkin kamu ngebet ingin bercinta di bandara, dan melakukannya buru-buru di toilet. Percintaan yang pendek bisa tetap berkualitas, tergantung bagaimana kamu memainkannya. Demikianlah banyak novel-novel pendek juga adidaya: The Old Man and the Sea Hemingway. As I Lay Dying Faulkner. Bisa juga kita bercinta panjang. Multi-orgasme. Untuk yang ini, kita bisa melirik ke karya macam Anna Karenina Tolstoy. Atau In Search of Lost Time Proust. Itu seni. Seni mengelola waktu, emosi, impuls. Seni mengetahui kapan partner kita mulai hangat dan kapan saat yang tepat untuk ejakulasi.





5 thoughts on “Menulis Novel Itu Seperti Ngeseks

  1. Koreksi judul ya…

    “Menulis Novel itu Seperti Seks” menurut saya salah. Seharusnya “Menulis Novel itu Seperti Berhubungan Seks”, karena seks itu berarti alat kelamin. Lucu kan kalau dipahami: “Menulis Novel itu Seperti Alat Kelamin” :D

    Pada dasarnya saya setuju dengan perspektif Anda. Menulis buku/novel memang seperti “berhubungan alat kelamin” karenanya harus dengan penuh cinta. Mungkin itu ya sebabnya beberapa penulis menyebut bukunya sebagai seorang anak?

    • @vic
      Hehehe.. Benar! Trims koreksinya. Tapi, sex (dlm bhs inggris) = alat kelamin, seks (dlm bhs indonesia, mengacu ke “Kamus Umum” Badudu-Zaim), artinya (1) alat kelamin, (2) yg berhubungan dg alat kelamin/persetubuhan/sanggama.

  2. Aiih…saya setuju banget !. Komentar saya tentang tulisan anda..positif !, pas kebetulan saya juga penikmat music sekaligus pembikin novel yang nggak bosen-bosennya saya baca sendiri berulang kali, soalnya di novel aku ada sesuatu yang menurutku sedahsyat fantasi seks dalam kehidupanku.

Comments are closed.