Menulis Novel Bersama Mario Vargas Llosa

Hari ini, 10 Desember 2010, Mario Vargas Llosa memperoleh anugerah Nobel Kesusastraan dari Akademi Swedia. Saya ingin berbagi bacaan saya atas bukunya, Letters to a Young Novelist. Di masa awal karirnya, Llosa sangat ingin menulis surat kepada sastrawan-sastrawan besar yang dikaguminya: Faulkner, Hemingway, Malraux, Dos Passos, Camus, Sartre. Tentu saja ia ingin meminta nasihat: bagaimana menjadi seorang penulis? Ia tak pernah memiliki keberanian mengirimkan surat kepada mereka. Ia menyadari banyak penulis muda mengalami hal seperti dia. Maka ketika ada seseorang yang memiliki keberanian mengirim surat dengan pertanyaan semacam itu, Llosa dengan senang hati membalasnya. Bagian pertama dibuka dengan surat berjudul “Parabel Cacing Pita”. Llosa mengingatkan siapa pun yang memutuskan untuk memasuki dunia kesusastraan, ia harus bersiap masuk ke dunia pelayanan, yang tak lebih dari perbudakan. Ia bercerita tentang seorang perempuan Paris tahun 60an bernama Jose Maria. Perempuan ini, demi menjaga agar tubuhnya tetap langsing, ia memutuskan untuk memakan cacing pita. Cacing ini menyatu dengan tubuhnya, hidup dan berkembang biak. Jose Maria tetap makan dan minum (terutama susu), tapi itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk si cacing pita. Kesusastraan tak lebih dari seekor cacing pita bagi seorang penulis. Penulis harus siap diperbudak olehnya. Ia menjalani hidup, membaca buku, menonton teater, berjam-jam mendiskusikan politik, film, teman. Untuk siapa? Bukan untuk dirinya, melainkan pada akhirnya untuk kesusastraan yang telah dipilihnya. Surat kedua berjudul “Catoblepas”, dan menjawab pertanyaan pendek, “Darimana cerita datang?” dan “Bagaimana novelis memperoleh gagasan mereka?” Jawabannya sederhana: semua cerita berakar di kehidupan orang yang menuliskannya; pengalaman merupakan sumber aliran fiksi. Ini bukan berarti novel selalu merupakan biografi telanjang; yang sering terjadi, di setiap fiksi, bahkan yang sangat imajinatif, sangatlah sulit untuk menguak titik awalnya, titik rahasia yang terhubung ke pengalaman si penulis. Menulis novel serupa pekerjaan penari striptis dengan arah yang berkebalikan. Penari striptis, perlahan-lahan menanggalkan pakaiannya, sampai akhirnya mempertontonkan ketelanjangannya di panggung. Penulis novel melakukannya dengan cara terbalik: ketelanjangan (pengalamannya/biografinya), perlahan-lahan dibungkus sedikit demi sedikit dalam balutan fiksi. Hingga hasil akhirnya (novel), mungkin orang tak lagi bisa melihat napas biografis di karya tersebut. Penulis novel kurang-lebih seperti “catoblapes”. Itu binatang mistik yang memakan dirinya sendiri. Binatang ini muncul di karya Flaubert, The Temptation of Saint Anthony dan di karya Borges Book of Imaginary Beings. Kurang-lebih seperti itulah penulis: menguras cerita dari pengalaman hidupnya sendiri. Memakan dirinya sendiri, kalau perlu sampai habis. Surat ketiga berjudul “Kekuatan Persuasi”. Llosa mengingatlah, sangatlah sulit memisahkan isi dan bentuk novel, terutama di novel yang baik. Novel yang buruk, memang bisa tampak begitu terpisah, dan itulah mengapa novel itu buruk. Mungkin jika kamu diberitahu bahwa “The Metamorphosis” adalah cerita tentang pemuda aneh yang berubah jadi kecoa, kamu tak akan tertarik dan menganggap itu cerita aneh. Tapi karena kamu membacanya dengan cara “Kafka bercerita”, kamu tiba-tiba terhanyut oleh cerita itu. Di sinilah yang dimaksud Llosa bahwa isi dan bentuk di novel yang baik, tak terpisahkan. Di sinilah kemudian penulis harus memiliki apa yang disebut “kekuatan persusasi”. Untuk melengkapi sebuah novel dengan “kekuatan persuasi”, sangat diperlukan kamu bercerita sehingga hampir semua pengalaman personal implisit di dalam plot dan karakternya, dan pada saat yang sama menyalurkan kepada pembaca ilusi otonomi dari kehidupan nyata yang didiaminya. Dengan kata lain, cerita di dalam novel harus bisa mandiri, otonom, bergerak dalam dunianya sendiri. Tentu saja “otonomi” ini hanya ilusi saja. Otonomi ini bagian dari fiksi juga. Dengan cara ini, sebuah novel yang baik, membuat pembaca “hidup di dalamnya”. Saya tak hendak mengutip seluruhnya, karena barangkali itu hanya membuat kamu malas membaca bukunya. Ingat baik-baik, kamu harus bersiap-siap memberi makan kepada kesusastraan di dalam dirimu.





7 thoughts on “Menulis Novel Bersama Mario Vargas Llosa

  1. Ingat baik-baik, menjadi seorang penulis, kamu harus bersiap-siap memberi makan kepada kesusastraan di dalam dirimu. –> memberi makan ini dalam artian banyak membaca, kan, mas Eka? atau ada cara lain?

    apakah buku Llosa itu udah diterjemahkan ke bahasa Indonesia? hehe.. :D

    • @Vira
      Membaca, salah satunya. Hehe. Saya belum tahu apakah sudah ada edisi bahasa Indonesia atau belum. Tapi kayaknya nggak lama lagi buku ini pasti diterjemahkan.

  2. Saya dapat kabar dari seorang kawan, sebentar lagi ( kira-kira awal tahun 2011) salah satu novel Llosa terbit. Penerbitnya Komodo Books.

    Salam Hangat

  3. Mas Eka,
    Sugeng enjang. Menurut saya novel Llosa ini nakal sekeren novelnya
    Stephen King On Writing.
    Saran saya bagaimna kalau mas eka yang terjemahin?

Comments are closed.