Let The Right One In: Vampir Sebagai Bukan Liyan

Vampir, tak bisa disangkal merupakan penemuan kesusastraan yang aduhai. Saya penggemar cerita-cerita bagus tentang vampir, meskipun saya tak tahu sejak kapan makhluk ini muncul dalam kesusastraan. Tentu saja banyak novel dan film tentang vampir yang jelek. Novel terbaru tentang vampir yang baru saya selesaikan baca, berjudul Let the Right One in, karya John Ajvide Lindqvist, seorang penulis Swedia. Kita tahu dalam kisah vampir klasik, mereka itu hantu. Momok yang menakutkan. Dosa yang perlu dihadapi oleh salib dan pendeta. Vampir merupakan makhluk yang “tak ada”, dan meskipun kemudian dia “ada”, ia mesti datang dari dunia lain. Dalam kasus Dracula: dia datang dari Transilvania yang misterius, dari masa lalu yang jauh. Dia merupakan “yang liyan”, yang kemunculannya jelas mengganggu. Karena karakter gangguan inilah, vampir berhasil menjadi alat untuk menakut-nakuti pembaca. Mari kita lihat Eli, si vampir kecil dalam Let the Right One In. Tentu saja Eli tetap tipikal vampir yang sudah dikenal orang, sekaligus ia membedakan diri. Eli tidak hidup dalam “ketuaannya/kemasalaluannya”. Justru tekanannya ada pada kekinian: “Umurku 12 tahun”, sebab ia memang vampir yang terjebak di tubuh anak dua belas tahun. Memang ia hidup di dunia yang berbeda: ia hidup dengan minum darah. Tapi, Eli hidup di lingkungan yang diasumsikan bahwa semua orang sudah tahu apa itu vampir. Ia minum darah, tak lebih aneh daripada seekor kuda makan rumput. Semua orang tahu itu, maka ia bukan “yang liyan”. Maka ketika si bocah Oskar, si tokoh utama yang berteman dengan Eli, melihat si vampir minum darah yang menetes dari tangannya, Oskar bertanya dengan dingin, “Kamu vampir?” Vampir sebagai realitas yang tak lagi “liyan”, diperlihatkan juga oleh Virginia. Perempuan ini suatu malam digigit oleh Eli, dan darahnya mulai terinfeksi. Perubahan dirinya menjadi vampir berjalan dengan cepat. Ia mulai gampang terbakar begitu terkena sinar matahari. Ia tak lagi tertarik dengan makanan, dan mulai nafsu mencium darah. Virginia, perlahan-lahan menyadari perubahan di dirinya. Persis seperti seseorang menyadari ia terkena flu. Virginia seolah berkata kepada dirinya sendiri: “Anak kecil itu menginfeksiku … aku kini vampir.” Kesadaran bahwa dirinya vampir itu pula yang kemudian membuat Virginia memutuskan untuk membakar dirinya dengan sinar matahari. Bunuh diri ala vampir. Menurut saya, strategi yang sama bisa dipakai dalam berbagai literatur untuk mengangkat isu-isu “liyan”. Di masyarakat yang masih menganggap lesbian, orang kafir, difabel, atau apa pun sebagai “liyan”, strategi ini bisa dipakai. Mereka mungkin berbeda. Mereka mungkin bukan mayoritas. Tapi melalui kesusastraan, dengan “perkara teknis” ini, bisa menjadikan mereka bukan “liyan”. Sehingga, sekali waktu adalah hal umum orang bertanya tanpa justifikasi, “Kamu lesbian?” atau “Kamu tak percaya Tuhan?” Lebih dari itu, saya sarankan buat kamu yang menyukai literatur vampir, boleh baca novel ini. Kalau kamu sekadar mencari novel yang akan membuatmu takut, novel ini akan memberikannya. Tentu saja novel ini lebih dari itu. Terlepas dari apa yang sudah saya tulis di atas, hal yang pada dasarnya terlintas begitu saja di pikiran saya, kamu juga bisa membaca novel ini tak melulu sebagai novel vampir. Seperti novel vampir yang lain yang bagus, novel ini lebih dari sekadar ngomongin soal peminum darah.





One thought on “Let The Right One In: Vampir Sebagai Bukan Liyan

  1. berarti kevampiran jadi semacam di film blade atau di serial true blood begitu ya? pingin baca juga. beberapa waktu lalu saya baca kisah vampir yang sangat meliyankan vampir, sampai-sampai orang-orang lain di dunia itu tidak tahu yang namanya vampir. judulnya fledgling, penulisnya octavia butler. dan yg lebih bikin si vampir ini liyan adalah vampir yang jadi fledgling, si anak bawang di kalangan vampir ini adalah KULIT HITAM. jadi ya. yang liyan di antara yang liyan. makasih postingannya

Comments are closed.