Kicauan Tentang Knut Hamsun

  • Salah satu yang kupesan, edisi hardcover Hunger Knut Hamsun, dengan pengantar … Isaac Bashevis Singer. Bonus banget.
  • Pengantar Isaac Bashevis Singer utk Hunger judulnya: “Knut Hamsun, Artist of Skepticism”, memperbandingkan dengan Crime and Punishment Dostoyevsky.
  • Kata Singer: tokoh-tokoh Hamsun selain antisosial, juga enggak jelas asal-usul dan konteks sosialnya. Bener banget!
  • Tokoh Hunger kan, juga jeblug saja di kota Christiania. Enggak punya saudara, teman, masa lalu. Di pikirannya cuma ada satu hal: menulis.
  • Ketika Hamsun keluar dengan novel-novel awalnya, publik sastra Eropa langsung “gegar Hamsun”. Banyak yang pengin nulis kayak dia.
  • Hamsun disebut “bapak realisme modern”. ‘murid’nya enggak tanggung-tanggung: Thomas Mann, Gorky, Bashevis Singer, Fitzgerald, Hemingway.
  • Bahkan memunculkan istilah “Hamsunisme”, yakni usaha untuk menulis seperti Knut Hamsun.
  • Hamsun sendiri mulai terganggu dg “Hamsunisme” ini.
  • Hamsun mulai meninggalkan tulisan-tulisan lirisnya (Hunger, Pan, Mysteries, Victoria) dan beralih ke bentuk epik.
  • Novelnya mulai “tebal”, diawali dengan Growth of the Soil, terus The Women on the Pump, The Wanderers, dan lain-lain.
  • Mumu Aloha: Kenapa dunia lebih mengenal murid-muridnya ketimbang hamsun sendiri?
  • Hamsun enggak begitu dikenal di “dunia” Amerika, tapi top di Eropa.
  • Banyak peraih Nobel enggak dikenal, kasusnya hampir sama: enggak dikenal di “Amerika”, tapi ya dikenal di Eropa.
  • Begitu berpengaruhnya Hamsun di penulis Eropa, sampai disamakan dengan pengaruh Gogol di kesusastraan Rusia.
  • Yang rada ajaib, Hamsun juga sangat brpengaruh di penulis-penulis Hebrew dan Yiddish. Padahal Hamsun pernah ‘blunder’ berteman dengan Nazi.
  • Tapi jelas Hamsun sendiri “anak sah” dr kesusastraan Dostoyevsky.
  • Tokoh-tokoh Hamsun, yg “antisosial” itu, lebih sering bicara dan mendengarkan dirinya sendiri. Paling Letnan Glahn di Pan ngobrol sama anjing.
  • Pembukaan Hunger juga saya pikir salah satu yang terbaik: All of this happened while I was walking around starving in Christiania.
  • Ada dua penulis yang saya kagum melebihi yang lain-lain: Hamsun dan Kawabata. Saya pikir salam beberapa hal ada yg mirip di antara mereka.
  • Tokoh-tokoh Hamsun dan Kawabata relatif asyik dengan hasrat mereka sendiri, kan? Tapi, sekaligus mereka enggak histeris. Kalem-kalem saja seolah-olah bukan “hasrat”.
  • Hamsun banyak dikritik orang-orang kiri karena skeptisisme dia, sebaliknya dipuji Nazi. Begitulah dia miring ke Nazi.
  • Padahal apa ya, yang dicari Nazi dari Hamsun? Skeptisisme dia juga kayaknya bukan gaya Nazi?
  • Kalau kata Bashevis Singer (Yahudi pengagum Hamsun): skeptisismenya Hamsun itu pol, meragukan keraguan.
  • Orang-orang kiri jelas gampang mengkritik Hamsun: dia bicara “lapar” tapi enggak ngomong “rakyat yg lapar”.
  • Dalam hal itu Hamsun enggak terlalu “patriotik”. Ia berteman dg Nazi, tapi relatif enggak terlalu peduli. Ia lebih senang berkebun di desa.
  • Dekat dg Nazi, tapi para penulis Yahudi macam Bashevis Singer mengaguminya, itulah Hamsun.
  • Banyak dikritik orang-orang kiri, tapi dikagumi komunis macam Gorky, itu dia Hamsun.