Gruppe 47 dan Grass

Selain sebagai novelis, Günter Grass merupakan seorang penyair, penulis naskah drama, pematung dan desainer grafis. Gambar si kecil Oskar sedang membawa genderang kaleng yang berwarna hitam-merah di sampul The Tin Drum, kalau enggak salah, dia sendiri yang buat. Selain dikenal dengan cerita-ceritanya yang fantastik (sering disejajarkan dengan Gabriel García Márquez, misalnya cerita si Oskar yang bisa menggerakkan benda-benda dari kejauhan (dalam The Tin Drum), ia juga dikenal dengan gaya fabelnya (lihat novel From the Diary of a Snail). Ia lahir di Gdansk, Polandia (dekat Danzig, Jerman) yang merupakan latar bagi kebanyakan novel-novelnya. Pada tahun 1930 ia bergabung dengan barisan Pemuda Hitler dan masuk angkatan perang pada umur 16 tahun, terluka tahun 1945, dan ditangkap serta dipenjara oleh Sekutu di Marienbad, Cekoslowakia. Ia bebas tahun 1946 dan bekerja di perkebunan. Tahun 1948 ia belajar melukis dan patung, namun di sisi lain ia merasa menulis menjadi sesuatu yang penting. Ia mulai menulis puisi dan naskah drama, yang pada suatu hari ia membacakannya di radio dan menarik perhatian Hans Werner Richter, pimpinan Gruppe 47, yang saat itu sangat berpengaruh. Ia mengundang Grass membacakan sajak-sajaknya di kelompok tersebut. Lantas, apakah Gruppe 47 itu? Kita kembali ke situasi Jerman pasca kekalahan di Perang Dunia II. Jerman hancur-lebur. Kota-kotanya menjadi puing. Orang-orangnya, Yahudi ataupun bukan, banyak yang mati (mencapai puluhan juta), dan sisanya harus mengungsi meninggakan tanah airnya. Apa yang diharapkan dari sastra negara dalam keadaan seperti itu? Nazi telah membakar banyak buku karya bangsa Jerman sendiri, apalagi karya penulis luar, dan perang membuat orang lapar akan bacaan. Karya-karya Heinrich Mann, Bertolt Brecht hanya bisa ditemukan di pasar gelap. Penulis-penulis muda berdatangan, tapi modal mereka cuma romantisme belaka. Bagaimanapun sejarah sastra Jerman diputus dengan paksa oleh perang. Pemuda-pemuda potensial tak sempat mempelajari sastra, sehingga ketika mereka mencoba menulis, hasilnya hancur-hancuran. Dengan latar belakang seperti itu, tahun 1947 muncul Gruppe 47. Orang-orang yang datang dari generasi tersebut, yang memiliki kerpihatinan mendalam atas keadaan sastra Jerman, serta memiliki semangat yang meluap, mencoba berkumpul untuk mengolah satu literatur baru. Mereka sangat kritis, dan menyadari bahasa sudah menjadi “alat” propaganda Nazi. Di sisi lain, intelektual-intelektual yang takut pada Hitler juga mempergunakan bahasa secara “kabur” yang mereka sebut sebagai bahasa “budak”. Kelompok ini mencoba melepaskan diri dari kedua bahasa tersebut. Maka mereka memulai suatu ritual baru “pembantaian” terhadap karya yang harus dijalani oleh semua pengarang kelompok itu. Setiap penulis harus duduk di depan teman-temannya, dan membacakan karyanya. Setiap kalimat diperiksa. Jika ada kata-kata yang bergaya propaganda model Nazi, atau kabur bergaya penulis penakut, mereka akan langsung mengkritiknya dan membantainya. Si pengarangnya tak boleh ikut diskusi, dan bahkan tak boleh memberi reaksi berlebihan. Yang merasa tersinggung dengan cra seperti itu tak akan diundang di sidang berikutnya. Konon beberapa pengarang sampai keluar ruangan sambil menangis (bisa dibayangkan, mungkin seperti “penghajaran” skripsi mahasiswa S1 oleh dosen-dosennya; yang berbeda, penggojlokan ini dilakukan oleh sesama pengarang). Salah satu referensi mereka adalah Hemingway, yang memang banyak mempergunakan kata-kata serta kalimat-kalimat yang efektif. Yang berhasil melalui sidang-sidang mengerikan semacam itu, biasanya kemudian muncul sebagai pengarang berbobot. Salah satunya adalah Günter Grass. Ia konon tak hanya sekedar menulis, di kelompok tersebut ia termasuk kritikus yang “kejam”. Ya, itulah yang sedikit saya ketahui tentang Günter Grass dan Gruppe 47. Saya harap, di antara lebih dari dua ratus juta orang Indonesia, ada beberapa yang seperti Tuan Grass ini.