Dua Novel Isaac Bashevis Singer

Sekali waktu ada film berjudul Yentl di televisi. Setelah mencari tahu ceritanya secara singkat, saya langsung membayangkan, “Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.” Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering saya baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, melainkan tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, Yentl berasal dari salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya. Kesempatan itu datang bersamaan dengan sampainya pesanan dua novelnya, The Slave dan Shosha. Benarlah memang, gayanya mendekati cara Hamsun menulis. Seperti banyak ditulis kritikus, Hamsun sering bermain di wilayah ego karakter utamanya; demikian juga Singer bermain di wilayah itu, yang berbenturan dengan tuntutan sosial agama/komunitas Yahudi. The Slave menyiratkan hal itu. Dengan latar Polandia abad ketujuh belas, kisah berputar mengenai Jacob, seorang anak rabi yang saleh. Setelah kota tempatnya tinggal diserbu bangsa Cossack, dan banyak orang Yahudi dibunuh, diperkosa, Jacob dijual sebagai budak kepada seorang petani desa. Di sanalah ia bertemu dengan anak si petani, Wanda seorang janda, yang jatuh cinta kepadanya. Di tengah padang rumput, di tengah ancaman kematian (orang-orang di desa itu menganggap Yahudi sebagai penyakit yang bisa membawa petaka), dikelilingi gunung-gunung dan bukit-bukit, kisah cinta mereka terajut. Jacob tak menyangkal memiliki hasrat berahi kepada Wanda, tapi ia tak berani berbuat lebih jauh, dan hanya memendam saja hasrat itu. Ia punya istri dan dua anak yang entah di mana (saat itu ia belum tahu mereka termasuk korban pembantaian Cossack). Tapi yang lebih penting lagi, ia tak berani memenuhi hasrat berahinya karena sadar, zina merupakan dosa. Bahkan jika ia berpikir tentang pernikahan, juga dosa jika ia menikahi perempuan kafir (Wanda seorang Kristen, tapi digambarkan bahwa penghuni desa itu meskipun secara legal beragama Kristen, tapi masih banyak yang percaya kepada adat/agama/ritual penyembah berhala). Ketiga, bahkan jika Wanda bersedia menjadi “anak Israel”, juga terlarang jika ia menjadi Yahudi karena cinta, dan bukan karena percaya kepada Tuhan. Di sinilah Jacob terlibat pertarungan antara hasrat daging-tubuhnya, dan ikatan moral-jiwanya. Dan di sini pulalah, perjalanan perdebatan antara hukum-hukum agama yang mengikat, dan tafsir yang mencoba membebaskan diri dari ikatan tersebut. Jika Jacob merupakan gambaran sosok saleh yang harus melakukan perbuatan dosa dan bagaimana ia mencari pembenaran atas tindakannya, hal sebaliknya terjadi pada Aaron dalam novel Shosha (dengan latar tahun-tahun sebelum penyerbuan Hitler ke Polandia). Aaron, meskipun sama-sama anak rabi, sejak awal digambarkan sudah tidak saleh. Ia tak lagi melakukan ritual agama, ia juga kumpul kebo dengan pacarnya, meniduri dua perempuan temannya, dan meniduri pelayan di kamar pondokannya. Intinya, ia agak bejat. Tapi, ketika ia bertemu dengan Shosha, gadis masa kecilnya, ia mencoba menjadi saleh. Di kedua novel, agama alih-alih merupakan hubungan antara manusia dan Tuhan, tak lebih menjadi syarat dan prasyarat dalam hubungan berkomunitas. Sekaligus pada titik lain, kisah cinta Aaron kepada Shosha dan Jacob kepada Wanda, justru memperlihatkan sesuatu yang tampak ilahiah: tak terelakkan, sejenis takdir, di luar rasio, di luar ikatan-ikatan sosial. Perjalanan kisah cinta mereka seperti perjalanan spiritual. Bahkan Wanda digambarkan sebagai orang suci (sejenis santa atau wali). Demikian pula gambaran Shosha sejak awal: tanpa dosa. Benarlah apa kata orang, pada dasarnya inti dari agama, adalah cinta? Dan cinta paling mudah digambarkan melalui hubungan antara lelaki dan perempuan, juga melibatkan nafsu daging-tubuh, selain dorongan jiwa yang tak terjelaskan.