Bisikan Arwah, Abdullah Harahap

Tak terasa sudah hampir tujuh bulan proyek “Tribut untuk Abdullah Harahap” berlangsung. Ini pembacaan saya atas novel Bisikan Arwah. Novel itu bisa menjadi kasus untuk bagian telaah saya: tentang arwah, dendam, dan konteks sosialnya. Novel dibuka dengan tokoh Iwan, pengantin baru yang saat itu sedang cuti menikah, berada di desa tempat istrinya, Mira. Di desa itu, ia bertemu dengan arwah Parta yang menyerupai siluman ular. Parta kemudian mempergunakan Iwan untuk membalas dendam. Dendam pertama Parta ditujukan kepada Sukarya, kemudian kepada seorang perempuan bernama Eka (ah!). Baiklah, kita mundur sejenak ke masa lalu Parta. Parta tinggal di desa itu sebagai pemuda gembala miskin. Ia sudah jatuh cinta sejak masa remaja kepada Eka, yang merupakan “kembang desa”. Rupanya Eka tak pernah sekalipun menanggapi cinta Parta, malahan ia bergonta-ganti banyak lelaki. Semua lelaki itu umumnya orang-orang kaya di desa. Merasa kekayaan bisa menaklukkan hati Eka, Parta mendatangi seorang dukun yang menjadi perantaranya untuk berhubungan dengan siluman ular. Parta dijanjikan kekayaan, tentu dengan syarat-syarat. Singkat cerita, Parta menjadi kaya dan berhasil menaklukkan hati Eka. Salah satu syarat itu ialah ia tak boleh menikah, maka mereka hanya melakukan kumpul kebo. Eka yang pada dasarnya hanya mau berhubungan dengan Parta karena kekayaan, diam-diam juga menjalin hubungan asmara dengan lelaki lain. Hingga akhirnya mereka mengetahui rahasia masing-masing: Parta tahu dirinya dikhianati Eka, sementara Eka tahu Parta memperoleh kekayaan dengan bersekutu kepada siluman ular. Penduduk desa pun membunuh Parta, dipimpin oleh Sukarya. Sangat jelas motif balas dendam Parta kepada Sukarya dan Eka. Yang satu karena membunuhnya, yang lain karena mengkhianatinya. Ini beberapa catatan yang saya buat atas novel tersebut: Pertama, arwah dalam novel ini (dan pada dasarnya dalam sebagian besar novel Abdullah Harahap) memerlukan mediasi untuk menjalankan laku balas dendamnya. Ini menyiratkan kepercayaan atas dualime tubuh-jiwa, sebagaimana dianut dalam teologi Islam/Kristen. Dalam hal ini, arwah yang mati menyisakan jiwa (yang tetap hidup). Namun ketika jiwa ini berhubungan dengan dunia, ia memerlukan “tubuh”. Dalam hal novel ini, arwah Parta mempergunakan tubuh Iwan sebagai medium untuk menjalani misinya di dunia. Ada pertanyaan yang kemudian agak mengganggu: di antara dualisme tubuh-jiwa ini, kemudian ada “siluman ular”. Siluman tampaknya bisa keluar masuk antara jiwa dan tubuh. Ia bisa berhubungan baik di dunia jiwa (arwah), maupun di dunia tubuh. Dalam hal ini mungkin harus mencari referensi ke alam mitologi Arab dengan membandingkannya dengan “jin”, atau Cina (“siluman”), mengingat karakteristiknya di novel ini mirip. Kedua, adalah kebiasaan memunculkan binatang buruk rupa sebagai nama siluman: ular, babi, srigala, monyet. Dalam hal ini, mungkin sudah agak berbeda dari karakter siluman di Cina (ya, siluman ular di Cina digambarkan cantik dan baik hati, bukan?). Fakta ini barangkali hanya menunjukkan bahwa siluman sebagai antagonis “jahat”, tapi mungkin juga … ada hubungannya dengan seksualitas? Siluman-siluman ini, paling tidak dalam novel ini, juga memperlihatkan hasrat seksual. Siluaman ular (Parta) memerkosa Mira, meskipun mempergunakan tubuh Iwan. Ketiga, siluman sebagai “harapan”. Manusia yang tertindas, baik melalui pengucilan masyarakat maupun kemiskinan, mencari harapan singkat dengan bersekutu dengan siluman. Siluman juga dipercaya sebagai jalan lain mengembalikan tatanan yang pincang itu, melalui mekanisme dendam. Baiklah, catatan ini masih merupakan catatan kasar, tapi setidaknya cukup untuk sebuah pembacaan ringkas.