Belajar Menulis Melalui Penerjemahan

  • Dulu, demi belajar menulis (karena enggak ada kelas penulisan dan enggak kenal penulis senior), saya suka menerjemahkan karya-karya yang saya suka.
  • Jujur menerjemahkan itu pekerjaan senang-senang saja. Awalnya pengin ngerasain gimana menulis cerita kata per kata mengikuti si penulis asli. Ternyata beberapa teman berminat menerbitkannya.
  • Sudah agak lupa menerjemahkan apa aja. Yang paling ingat, The Metamorphosis Kafka. Itu yang pertama saya terjemahkan soalnya. Hasilnya entahlah, saya tak pernah menengoknya lagi.
  • Trus menerjemahkan cerpen-cerpen Maxim Gorky dari Tales of Italy. Belakangan saya lihat diterbitkan lagi sama satu penerbit yang enggak ngomong ke aku!
  • Saya juga menerjemahkan Cannery Row John Steinbeck, dan banyak belajar gokil dr dia.
  • Yang lain lupa apa saja yang pernah saya terjemahkan. Kalau cuma cerita pendek, banyak lagi. Terbit maupun tidak.
  • Eh, juga menerjemahkan Love and Other Demons Gabriel García Márquez dan Growth of the Soil Knut Hamsun (yang ini cuma sebagian). keduanya belum terbit, cuma teman yang baca saja.
  • Tapi rasanya saya jauh dari ukuran penerjemah profesional. Saya melakukannya karena suka dan niat belajar menulis. Jadi belakangan tak terlalu niat menerbitkannya.
  • Pernah mencoba menerjemahkan Faulkner, yang saya pikir paling gampang: As I Lay Dying. Enggak rampung. Bikin pening aja.
  • Selain menerjemahkan, untuk belajar menulis, kerjaan iseng saya yang lain adalah merangkum novel. sejenis menulis ulang dengan versi ringkas.
  • Yang paling saya ingat, tentu Song of Solomon Toni Morrison. Saya rangkum dapat satu buku tulis. Lumayan belajar untuk membuat plot.




7 thoughts on “Belajar Menulis Melalui Penerjemahan

  1. ternyata belajar menulis gak sekadar banyak baca ya.. bisa dari nerjemahin dan mereview atau merangkum.. jd pengen nyoba. sanggup gak yaaaaaa nerjemahin???

Comments are closed.