10 Tahun “Corat-coret di Toilet”

Pada satu hari, saya pikir tahun 1997, saya membaca novel Knut Hamsun berjudul Lapar. Novel itu entah bagaimana membuat saya ingin menjadi penulis. Meskipun saya sudah memutuskan akan menjadi penulis, saat itu saya masih belum mengetahui apa yang akan saya tulis. Saya pernah menulis cerpen-cerpen remaja, bahkan pernah mencoba menulis novel (dalam beberapa genre: silat, horor, remaja), tapi saya merasa apa yang sudah saya tulis tidak lagi memenuhi bayangan saya mengenai karya yang seharusnya saya tulis. Hingga saya berkenalan dengan novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Saya memutuskan untuk menulis skripsi berdasarkan novel-novelnya (kemudian terbit tahun 1999 berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis). Selepas lulus kuliah, alih-alih menulis lamaran kerja, dari Juli tahun 1999 itu saya malah menghabiskan waktu menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke koran. Saya bertaruh dengan diri sendiri: menulis cerpen dan dimuat di koran, atau saya sama sekali tak punya karir apa pun untuk dibanggakan. Dan cerpen pertama yang saya tulis saat itu berjudul “Hikayat Si Orang Gila”. Jujur saja, teknik dan gayanya rada-rada terpengaruh Maxim Gorky. Cerpen itu dimuat di Bernas, koran lokal Yogya. Dengan penuh rasa percaya diri, saya menulis lebih banyak cerpen lagi, percaya jika saya tidak menulis, saya akan miskin dan mati kelaparan (iya, ini memang berlebihan). Kemudian saya membayangkan, bagaimana jika saya menulis cerpen di majalah remaja (pikiran saya ketika itu adalah Hai), tapi dengan tema yang lebih serius. Saat itulah saya menulis cerpen berjudul “Teman Kencan”. Sebenarnya itu cerita cinta remaja juga: tapi saya balut dengan latar kejatuhan Presiden Soeharto, serta komentar-komentar politik alakadarnya. Ternyata Hai mau memuatnya. Saya semakin yakin, bahwa saya telah menempuh jalan yang benar. Akhirnya saya mulai berani untuk mengirimkan cerpen ke koran nasional. Cerpen ketiga yang saya tulis dan kemudian dimuat di Media Indonesia, berjudul “Corat-coret di Toilet”. Saya mulai merasa telah menjadi seorang penulis, dan menulis semakin banyak. Hingga akhirnya Aksara Indonesia yang menerbitkan skripsi saya, menawari penerbitan kumpulan cerpen. Karir penulisan saya baru setahun. Saya pikir itu terlalu cepat, tapi kesempatan mungkin tak akan datang dua kali. Saya nekat. Namun menimbang-nimbang kemampuan diri sendiri, saya hanya menginginkan sebuah buku tipis. Lagipula saya tak punya cerpen banyak. Maka kemudian, saya pilih sepuluh cerpen. Bukunya tidak sampai 100 halaman. Begitulah buku cerpen pertama saya lahir, judulnya Corat-coret di Toilet (2000). Buku ini tak menimbulkan kehebohan apa pun. Tapi, bagi saya penerbitan Corat-coret di Toilet bagaikan sebuah pos singgah sebelum saya mencoba mendaki kembali. Begitulah, dengan modal satu buku dari skripsi dan satu kumpulan cerpen, saya mulai proyek ambisius saya: menulis novel. Novel tersebut terbit dua tahun kemudian: Cantik itu Luka. Dua tahun lagi setelah itu, saya menulis novel lain: Lelaki Harimau. Kembali ke cerpen, pada tahun 2008, cerpen “Corat-coret di Toilet” diterjemahkan oleh Benedict Anderson menjadi “Graffiti in the Toilet“, dan diterbitkan di Jurnal Indonesia, terbitan Cornell University. Saya tak pernah mengira, cerpen yang nyaris tak memperoleh perhatian siapa pun, rupanya menarik perhatiannya. Sepuluh tahun kini sudah berlalu sejak buku itu terbit. Saya masih menulis cerita pendek, tapi mungkin apa yang saya pikir tentang cerita pendek sudah jauh berubah (dan pasti akan terus berkembang). Masih banyak yang ingin saya tulis dan terbitkan. Satu hal saya pikir masih: dalam menulis, saya masih terus mencari, masih mencoba menaklukkan sesuatu yang saya sendiri tak bisa mengatakannya apa. Begitulah menulis. Jika kita sudah merasa berhasil, kita mungkin akan berhenti menulis.





4 thoughts on “10 Tahun “Corat-coret di Toilet”

  1. Corat-coret di Toilet itu mengesankan waktu saya baca pertama kali. Ia bikin saya geli, sedikit jijik, dan terbahak. Haha. Saya beruntung menemukan buku itu di Shopping sekitar tahun 2006, harganya miring pula. Buku ini wajib dimiliki pembaca setia EK.

Comments are closed.