Senyap yang Lebih Nyaring: Blog 2012-2014

Buku pertama yang saya terbitkan merupakan sebuah karya non-fiksi berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Buku itu awalnya merupakan skripsi di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, dan terbit pada 1999. Kini, dua puluh tahun kemudian, saya kembali menerbitkan karya non-fiksi. Seperti yang pertama, awalnya tidak diniatkan sebagai buku. Ini merupakan tulisan-tulisan tentang berbagai hal, terutama buku yang saya baca, yang secara (hampir) rutin saya terbitkan di blog ini. Sementara tulisan-tulisan itu mungkin pernah Anda baca di sini, membacanya dalam edisi tercetak di atas kertas dengan judul Senyap yang Lebih Nyaring: Blog 2012-2014 tercetak di sampulnya, barangkali bisa memberi pengalaman berbeda. Buku ini bisa diperoleh di berbagai toko buku daring:

Unbreakable, Split, Glass

Beragam pertanyaan muncul setelah menonton tiga film M. Night Shyamalan. Elijah Price di film Unbreakable yakin bahwa komik, terutama komik superhero, juga merupakan “catatan” penting mengenai sejarah manusia dan apa yang bisa mereka lakukan. Dengan kata lain, kisah tentang manusia bisa terbang, manusia yang bisa menghilang, dan dalam kasus film ini, manusia yang tak bisa dihancurkan, bukanlah dongeng omong-kosong. Jika cerita-cerita rakyat dipenuhi dengan manusia-manusia berkekuatan dewa, demikian pula karya-karya klasik penuh dengan pahlawan-pahlawan berkekuatan luar biasa, dan mereka memberi banyak pengaruh kepada peradaban manusia, kenapa buku komik tidak? Buku komik jelas merupakan lanjutan tak terputus dari “catatan” tersebut. Bahkan meskipun kita bisa yakin bahwa apa yang dikisahkan hanya fantasi, hanya dunia spekulasi manusia, setidaknya fantasi dan spekulasi ini berkesinambungan. Jika dari zaman lampau hingga industri komik ala Marvel dan DC mereka terus dilahirkan, tentu mestinya ia menjadi bagian dari kesadaran manusia, di luar konteks industrinya sekalipun. Film ini jelas bukan sekadar film tentang superhero, lebih penting dari itu, ini film tentang hubungan manusia dengan kisah superhero, dan juga tentang di mana letak buku komik dalam peradaban manusia. Di film berikutnya, yang dirilis tujuh belas tahun kemudian, Split (2017), mencoba membacanya seperti saya membaca film sebelumnya, saya membayangkan film ini sebagai penjelajahan manusia dengan fiksi sains. Memang film ini tidak bicara tentang fiksi sains (berbeda dengan film sebelumnya yang jelas memperkenalkan kita kepada pemujaan industri buku komik), tapi cerita dan pendekatan film ini mengingatkan saya kepada fiksi sains. Terutama tentang bagaimana kejahatan tercipta dan sains seringkali tak sanggup mengatasinya, setidaknya orang yang berada di belakang sains malah jadi korban. Salah satu yang sering menjadi kritik dan perbincangan mengenai fiksi sains, di luar keakuratan, adalah representasi, terutama jika yang dimunculkan adalah sosok jahat seperti berbagai kepribadian yang dimiliki Kevin Wendell Crumb. Banyak yang keberatan bahwa penganut DID akan cenderung melakukan kekerasan dan berubah menjadi monster, dan film macam begini hanya memperburuk stigma terhadap penderita mental disorder. Masalahnya, sains fiksi seringkali menjadi sains fiksi justru ketika ia melebih-lebihkan apa yang kita ketahui mengenai obyek sainsnya. Bahkan film tentang dinosaurus, tentang hiu pemangsa manusia, juga banyak dikritik para ilmuwan karena menciptakan imaji buruk tentang binatang-binatang tersebut. Pertanyaannya, mengapa kita selalu kembali ke sana? Selalu kembali kepada dunia spekulatif bahwa sesuatu (ia bisa manusia penderita DID, bisa ikan hiu ganas, bisa pula ular raksasa di hutan Amazon) bisa menjadi monster jahat? Apakah sosok jahat, sebagaimana manusia super, merupakan obsesi manusia yang terus dilahirkan sejak dari tradisi dongeng rakyat (atau bahkan lukisan gua) hingga industri film Hollywood? Di luar pertanyaan itu, film ini merupakan suguhan beragam ketegangan yang mencengkeram. Jika kamu terseret oleh pertanyaan-pertanyaan tersebut ketika menonton kedua film, mungkin kamu tak akan memperolehnya ketika melihat film ketiga, Glass (2019). Setidaknya tidak terjadi pada saya. Ia kehilangan misteri dan spekulasinya, dan meninggalkannya sebagai film superhero ditambah thriller psikologi yang sudah dijelajah sangat dalam di dua film sebelumnya. Kita hanya bertemu penjahat super, yang bukan hal baru dalam film-film sejenis, di mana sejenis pepatah seolah berkata, di atas langit kejahatan masih ada langit kejahatan lainnya.

In French

Three of my novels are already available in French translation. All of them translated by Etienne Naveau and published by Sabine Wespieser Editeur. Also available in pocket editions from Folio. Left to right in original titles: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), Lelaki Harimau (2004), and Cantik Itu Luka (2002). Bonne lecture!

Intelektual Publik

Apa rasanya jika kamu telah menyelesaikan pendidikan bertahun-tahun di bidang tertentu, kemudian pandanganmu didebat habis-habisan oleh orang awam yang bahkan belum lulus sekolah?

Apa rasanya jika kamu seorang ahli penuh pengalaman di pekerjaan tertentu, tapi keputusan-keputusanmu dipertanyakan oleh orang yang bahkan penganggur?

Jika pandangan mereka memang menantang nalar atau memberi sudut pandang baru, mungkin kita akan tercengang. Akan tetapi, yang lebih sering terjadi, kadang-kadang pendapat itu tak hanya ngawur, bahkan tak memiliki dasar argumen yang kuat, tak memiliki referensi yang dipercaya, tapi orangnya ngeyel tak mau kalah. Saya yakin, dalam situasi kedua itu, kita lebih sering jengkel dan mungkin frustrasi untuk menjelaskan panjang lebar.

Apa boleh buat, kita telah, tengah, dan akan terus menghadapi hal seperti itu di masa kita, terutama dengan penetrasi luar biasa media sosial. Pendidikan, pengalaman, dan bahkan kepakaran seseorang tiba-tiba terasa tidak ada artinya.

Yang lebih penting, tampaknya, siapa yang bisa lebih ribut dan kemudian memiliki pendukung lebih banyak. Mereka menciptakan kor untuk semakin ribut dan akhirnya menenggelamkan suara ahli.

Bayangkan pula, suatu hari tiba-tiba seseorang bicara di akun media sosialmu. Mungkin itu kenalan jauhmu atau teman lamamu. Dia mengajakmu untuk hijrah, untuk beribadah lebih sering, untuk menutup auratmu lebih rapat, sementara kamu tahu hidupnya juga tak saleh-saleh amat. Ketika kamu merasa tak nyaman dengan khotbahnya, dia hanya akan berkata, “Maaf, cuma mengingatkan.”

Sementara itu, seseorang yang benar-benar memiliki kapasitas di bidang hukum, sosial, atau agama ketika mencoba mengingatkan sesuatu dengan mudah diledek sebagai SJW. Social justice warrior. Meskipun istilah itu mungkin baik, ledekan tersebut lebih sering merupakan upaya membungkam dan meremehkan.

Sekali lagi, sialnya, hal itu tak terelakkan. Internet dengan berbagai produk terkininya menciptakan dunia yang lebih terbuka. Nyaris tanpa sekat. Selama memiliki akses terhadap layanannya, siapa pun bisa bertemu di sana. Tanpa memandang kelas ekonomi, suku, bangsa, agama, dan tentu saja tingkat keilmuan.

Situasi itu pada dasarnya anugerah. Jika di dunia nyata orang terkotak-kotak oleh kategori-kategori itu (kecil kemungkinan seorang janitor di sebuah perusahaan berdebat dengan direktur utama, bahkan mengenai kebersihan toilet sekalipun), internet memungkinkan kita menghapus sekat-sekat tersebut. Siapa pun bisa bicara.

Saya mengatakan anugerah karena di bidang lain, ruang itu menampilkan wajah yang hampir sama tapi dengan efek yang berbeda. Jika media sosial diganti dengan layanan pasar bersama semacam Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak, hasilnya: Pedagang rumahan kadang bisa bersaing serius dengan pemilik brand ternama. Bahkan, beberapa perusahaan ritel mulai menutup banyak toko karena serbuan pemain-pemain kecil di pasar daring.

Bisa dibayangkan para pemain besar itu juga jengkel sebagaimana para pakar. Mereka sudah berinvestasi bertahun-tahun di sebuah produk, melakukan riset yang lama, tiba-tiba industri rumahan hanya dengan modal kecil dan coba-coba malah menggerus omzet mereka. Biaya iklan yang jor-joran tiba-tiba terasa tiada artinya.

Tentu saja korban pemain kecil juga berlimpah. Para penjual pulsa telepon merupakan orang-orang yang menjerit oleh kemudahan membeli pulsa melalui ATM maupun layanan toko digital. Demikian juga ojek pangkalan, kena hantam layanan berbasis aplikasi. Pasar hotel tergerus layanan Airbnb, di mana kamar rumah pun bisa disewakan.

Di bidang ekonomi itu, internet membuat para pemain besar maupun kecil bisa berjaya sekaligus bisa tumbang. Pokok soalnya, menurut saya, ada di lingkungan yang berubah. Ada yang beradaptasi dengan baik, ada yang tidak.

Ibu rumah tangga di kompleks rumah saya salah satu yang beradaptasi dengan baik. Tanpa punya warung, kini dia bisa berjualan pempek. Pelanggannya datang dari radius 10 kilometer hanya karena aplikasi layanan antar.

Bagaimana dengan dunia media sosial, dengan kejengkelan para pakar menghadapi gerombolan orang-orang awam yang ribut dan sok tahu? Pertama, bisa saja para pakar itu merupakan pemain lama yang juga kaget dengan lingkungan baru. Seperti perusahaan-perusahaan besar yang brand-nya tak lagi dilirik karena orang beralih untuk berbelanja di toko daring.

Kedua, meskipun kejengkelan mereka bisa dimengerti, seperti di bidang ekonomi, bukankah dunia internet dan digital juga memungkinkan kita memperoleh gagasan-gagasan baru dan hebat yang datang bukan dari “pakar” secara tradisional? Persis sebagaimana kita menemukan penjual kue pisang di layanan antar, yang enak luar biasa meskipun tak punya merek?

Kita tak bisa melupakan kenyataan bahwa tak semua orang memiliki akses terhadap pendidikan sebagaimana tak semua orang punya akses pada modal. Yang terpenting justru bagaimana memperbaiki situasi ini.

Sebagaimana komunitas ekonomi (pemerintah, bank, bahkan konsumen) bahu-membahu mendidik pelaku ekonomi kecil untuk meningkatkan kualitas produk dan akses pasar, komunitas intelektual bisa melakukan hal yang sama. Pendidikan dan para pakar tak lagi harus dijalankan dan dihasilkan melalui sekolah maupun perguruan tinggi.

Seperti banyak bisnis, artis, selebriti, bermunculan melalui dunia internet dan digital. Saya yakin dunia intelektual juga seharusnya demikian. Apa yang disebut sebagai intelektual publik, yakni intelektual atau pakar yang tidak berasal dari lingkungan akademis, justru sangat mungkin lahir dalam kultur tersebut.

Orang bisa belajar pemrograman dan bahkan merakit mesin melalui internet. Jadi, kenapa tidak belajar sosial, politik, agama, juga filsafat? Sekarang pokok soalnya, bagaimana kita menciptakan pakar-pakar baru sama baiknya melalui perguruan tinggi maupun YouTube atau layanan lain. Itu seharusnya menjadi tantangan baru dunia intelektual kita.

Diterbitkan di Jawa Pos, 6 April 2019.

Sastra yang Mendefinisikan Indonesia

Diskusi panas terjadi mengiringi pernyataan yang ditulis Pamela Allen dan diterbitkan National Center for Writing, Inggris, berjudul ”Where are all the Indonesian writers?”.

Esai itu diterbitkan dalam rangka menyambut Indonesia sebagai Market Focus dalam perhelatan London Book Fair yang berlangsung minggu depan. Ia antara lain menulis:

“Bahkan sejak ‘permulaan’ kesusastraan Indonesia modern pada awal abad ke-20, para penulis terlibat dengan proyek menciptakan dan mendefinisikan identitas Indonesia, sebuah upaya yang berkembang dari gerakan nasionalis. Kesusastraan dipandang tak sekadar produk konsumsi dan hiburan, tapi juga bagian penting dari proyek pembangunan nasional.”

Esai tersebut sebetulnya sudah terbit beberapa waktu di jurnal In Other Words dengan judul berbeda. Selepas memancing polemik dan mengundang beberapa esai bantahan, entah kenapa, National Center for Writing menghapus esai tersebut dari lamannya semula.

Tulisan itu kurang lebih mencoba menjawab kenapa kesusastraan Indonesia tak begitu tampil di dunia. Melanjutkan pernyataan di atas, ia mencoba menjawab, “… apresiasi penuh atas banyak karya sastra Indonesia bergantung pada pemahaman atas konteks sosial-politik”, yang akhirnya, “untuk beberapa pembaca, ‘keliyanan budaya’ ini terlalu menantang, terlalu kompleks, atau memang terlalu sulit.”

Di sinilah saya kira masalahnya muncul. Pertama, adakah yang salah dengan proyek menciptakan dan mendefinisikan identitas nasional? Hampir sebagian besar kesusastraan negara-bangsa di dunia, langsung tidak langsung, terlibat dalam proyek semacam ini.

Amerika tak hanya dibangun oleh para pemburu emas, tapi juga oleh Huckleberry Finn dan Moby Dick. Bahkan Cien años de soledad tak hanya disebut memberikan imajinasi bagi Kolombia, tapi bahkan bagi Amerika Latin.

Kedua, apakah “keliyanan budaya” membuat sebuah karya jadi sulit dibaca? Tentu saja saya akan sedikit bersusah payah untuk membaca Shakespeare dengan konteks sosial dan bahasa Inggris abad ke-16.

Saya juga harus susah payah membaca novel-novel Hungaria, Ceko, atau Polandia pada masa cengkeraman komunisme, sesuatu yang tak terpikirkan oleh pembaca Indonesia di mana orang-orang komunis justru dibantai habis.

Dengan segala kesusahpayahan tersebut, apakah kedongkolan harus ditujukan kepada Shakespeare, László Krasznahorkai, Bohumil Hrabal, atau Witold Gombrowicz beserta kesusastraan nasional mereka? Saya kira tidak.

Setiap karya sudah pasti memberikan tantangan bagi pembaca. The Tin Drum karya Günter Grass sudap pasti berkaitan erat dengan Jerman di antara dua Perang Dunia. Demikian pula Midnight’s Children Salman Rushdie memiliki keterkaitan dengan sejarah dan nasionalisme India.

Kita tak hanya menghadapi keliyanan budaya, tapi juga kelas, sejarah, agama, termasuk gender. Dalam tingkat tertentu, semua karya bisa menyulitkan bagi sembarang pembaca. Justru di situlah salah satu fungsi kesusastraan, untuk menjembatani dinding-dinding pemisah keliyanan tersebut.

Ketiga, tanpa menampik keberadaan “keliyanan budaya” yang sama, kita juga sebaiknya curiga dengan apa itu proyek penciptaan dan pendefinisian identitas Indonesia ini. Kenapa ia cenderung mengabaikan kesusastraan yang “sekadar” produk konsumsi dan hiburan? Lihat, misalnya, bagaimana periodisasi kesusastraan Indonesia secara umum sejalan dengan lini masa peristiwa sosial-politik besar.

Banyak hal menarik dalam esai Pamela Allen. Satu hal yang menjadi perdebatan panas adalah kenapa pertanyaan mengenai kesusastraan Indonesia itu justru dijawab pengamat luar -meski ia telah sangat lama mempelajari dan menerjemahkan karya sastra Indonesia.

Saya tak akan masuk ke pembicaraan tersebut, yang telah banyak diperbincangkan para penulis dengan baik, dan akan kembali ke masalah proyek menciptakan dan mendefinisikan identitas Indonesia.

Telaah-telaah semacam Novel Populer Indonesia karya Jacob Sumardjo, misalnya, seberapa sering memperoleh tempat yang baik? Juga karya-karya yang dibahasnya, di mana tempatnya dalam kesusastraan Indonesia?

Proyek-proyek penerjemahan karya sastra, sebagaimana mengiringi perhelatan semacam Frankfurt dan London Book Fair, lebih sering meng-kelas-dua-kan mereka.

Tentu banyak masalah di luar sana. Dalam konteks kesusastraan global, rezim dan selera penerbit-penerbit asing yang bisa jadi sangat “Barat” merupakan satu masalah. Dominasi bahasa Inggris adalah masalah lain. Mentalitas kolonialisme sebagai struktur dunia, yang pengaruhnya tetap kuat hampir seabad setelah Perang Dunia II, juga menjadi catatan.

Namun, jejaring-jejaring di dalam kesusastraan Indonesia sendiri, saya rasa, perlu memperoleh sorotan. Jejaring seperti Lontar Foundation jelas memberikan banyak pengaruh kuat terhadap ilusi mengenai identitas Indonesia dalam karya sastra ini. Tentu beserta akibatnya: pengabaian terhadap kecenderungan-kecenderungan kesusastraan yang lain.

Pengaruh itu bisa jadi karena posisi mereka dalam distribusi karya sastra maupun kekuatan kapital yang mampu menggerakkan aktivitas mereka secara berkesinambungan. Lontar, sebagai salah satu contoh, memperoleh momentum yang penting di antara pergelaran Frankfurt dan London Book Fair, di mana karya-karya sastra Indonesia dalam terjemahan menjadi produk yang dipamerkan.

John McGlynn, editor penerbit Lontar, dalam wawancara dengan The Jakarta Post pada 2017 mengatakan, “Penerbit (asing) tak mencarimu, mereka mencari Indonesia.”

Jika dia percaya dengan apa yang dikatakannya, lantas seperti apa “Indonesia” yang dia maksud? Bukankah dia tak perlu mencari genius-genius kesusastraan? Dia hanya perlu mencari para penulis yang cocok dengan bayangannya tentang Indonesia –dan tepat di titik seperti inilah salah satu masalah kesusastraan Indonesia berawal.

Diterbitkan di Jawa Pos, 9 Maret 2019.

Membaca Cerita-cerita Isaac Babel

Isaac Babel merupakan salah satu yang tersisa dari era Sovyet. “Ditemukan” oleh Maxim Gorky, dan konon terus dimentori olehnya sampai Gorky sendiri mati. Salah satu penulis cemerlang berbahasa Rusia (awalnya ia menulis dalam bahasa Prancis), seorang revolusioner, yang harus berkahir tragis ditembak mati polisi rahasia Stalin. Permohonan terakhirnya sebelum dieksekusi hanya, “Izinkan aku menyelesaikan tulisanku.” Meskipun banyak karyanya dihancurkan, dan namanya sempat dilupakan (sebelum direhabilisasi oleh rezim Sovyet kemudian), beruntunglah kita masih bisa bersua cerita-ceritanya. “Old Shloyme”. Cerpen pendek (konon karya pertamanya) tentang bangsatnya menjadi tua dan harus berubah. Ngilu. Bisa juga dibaca sebagai satir, tentang enaknya duduk di pojok hangat dan tak mau hengkang. “At Grandmother’s”. Kali ini seorang perempuan tua, dihajar rasa nyeri pada dunia yang tak adil. Di mana kebaikan dan rasa belas-kasih hanya menjadi santapan kerakusan. Ia marah dan berharap cucunya bisa berdiri merampas dunia. “Belajarlah, dan kau akan memperoleh segalanya. Kekayaan dan kejayaan!” Dan jangan percaya pada orang, pada teman. Jangan berikan uangmu, jangan berikan hatimu. Cerita yang penuh kemarahan. Tapi semarah apa pun, rumah seorang nenek tetaplah tempat tidur terbaik untuk seorang cucu. “Elya Isaakovic and Margarita Prokofievna”. Bisa jadi ini kisah seorang pelacur (dan pelanggannya) termanis yang pernah saya baca. Mereka dipertemukan oleh dua kebutuhan. Si pelacur tentu saja butuh uang untuk hidup dan sewa kamar. Si pelanggan butuh tempat berbaring, tubuh untuk dipeluk, teman untuk berbincang di kala sarapan. Mereka sadar hubungan itu hanya transaksional saja, tapi mereka tahu bagaimana mengakhiri dua malam itu dengan cara yang manis. “Mama, Rimma, and Alla”. Tentang seorang ibu dengan dua gadisnya, sementara di rumah juga ada para perjaka, mahasiswa yang menyewa kamar. Si gadis sulung ingin pergi dari rumah, bebas merdeka. Si gadis bungsu tak berkata apa-apa, sampai ketahuan bunting. Seperti mentornya, Gorky, cerita-cerita Babel penuh dengan problem-problem masyarakat jelata dengan keseharian mereka, dan selalu memiliki cara tersendiri bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. “The Public Library”. Sebuah sketsa tentang perpustakaan. Sedikit meromantisir kehidupan perpustakaan, meskipun kemudian disikat dengan pernyataan, di luar jendela … kehidupan tengah bermekaran. “Nine”. Ini semacam studi tentang karakter, tentang sembilan orang tamu yang berkunjung menemui seorang editor majalah. Entahlah, tiba-tiba saya membayangkan tujuh orang samurai dalam film Kurosawa. “Odessa”. Sebuah sketsa tentang kota dan para penghuninya, di satu sisi, dan studi tentang bagaimana para penulis lain (Turgenev, Dostoyevsky, Gogol, Gorky) menggambarkan kota mereka. Kenapa Gorky begitu mencintai matahari? “The Aroma of Odessa”. Masih sebuah sketsa tentang Odessa, kali ini dilihat melalui apa yang ditulis di halaman majalah, dan bagaimana ia dibentuk oleh kaum pendatangnya. Sangat jarang menemukan sketsa-sketsa semacam ini di tangan penulis-penulis kontemporer. Setidaknya mereka jarang menerbitkannya, barangkali kita terlalu terobsesi kepada sesuatu yang dramatik. “Inspiration”. Baiklah, ini lelucon kuno tentang inspirasi, tentang penulis pemula yang meledak-ledak dan merasa memiliki gagasan hebat, tapi kau tahu, yang bicara terlalu bawel dan keras biasanya tak ada isinya. Ada peribahasa soal itu, kita semua tahu. “Doudou”. Perasaan saya agak campur-aduk. Cerpen ini barangkali bisa diringkas dengan satu perkataan Doudou, si gadis yang dijadikan judul setelah ia memberikan tubuhnya kepada prajurit yang sekarat: “Ia kedinginan, ia sekarat, ia sendirian, ia memintaku, akankah kukatakan tidak?” Cerpen berikut, “Shabos-Nakhamu”, merupakan kisah komedi tentang Yahudi yang menipu sesamanya, menipu seolah ia merupakan utusan Tuhan dari dunia lain untuk memberi kabar kepada manusia. Seperti membaca sejenis kisah dari Seribu Satu Malam yang konyol. “On The Field of Honor”. Merupakan tiga kisah horor dari medan perang, tentang tiga kematian. Percayalah, tak ada yang lebih horor kecuali mati di medan perang bukan oleh musuh, tapi oleh tangan-tangan kawan sendiri, langsung tidak langsung. Terutama oleh kelemahan diri sendiri. “The Sin of Jesus”. Seorang perempuan berlumur dosa, menemui Jesus memecahkan masalah hidupnya. Jesus bertanya, bagaimana jika kau menempuh jalan yang suci saja? Jawab si perempuan: Kau pikir setiap orang harus berhenti hidup? Kau masih saja menyanyikan lagu usang! “An Evening with The Empress”. Bukan dengan ratu sebenarnya, tentu. Ini sketsa tentang sebuah perpustakaan, yang kebetulan memperoleh nama dari sang ratu. Dikisahkan oleh seorang gembel kelaparan yang mencari tempat bernaung dan tidur. “Chink”. Tentang seorang Cina, pelacur dan lelaki tua. Si Cina menawar si pelacur. Si pelacur mau, asal mereka boleh menampung lelaki tua gembel. Apa yang akan terjadi ketika ketiga orang itu ada di kamar? Saya rasa ini cerpen paling brutal dari Babel, sejauh ini. “A Tale About A Woman”. Seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya di medan perang, dan kemudian disia-siakan orang-orang di sekelilingnya. Dalam kisah-kisah Babel, kemudian saya sadar, saya sering menemukan nasib-nasib malang manusia, kontras dengan alam yang cemerlang dan indah. Terasa nyeri jadinya. “The Bathroom Window”. Seorang bocah yang membayar demi bisa menaiki tangga dan mengintip pelacur lewat jendela. Lucu, tentu saja. “Bagrat-Ogly and The Eyes of His Bull”. Tentang seorang anak yang kehilangan sapinya, dibunuh oleh tetangganya karena cemburu. Si narator mencoba melihat rasa marah ini, yang terpantul lewat mata si sapi, untuk melihat kemarahan sosial yang lebih luas. “Line and Color”. Dalam sebuah tradisi parabel, tentang kisah kebijaksanaan. Mana yang lebih berharga, dunia imajinasi yang lebih kaya atau kenyataan yang mungkin menyakitkan? “You Missed The Boat, Captain!” Dalam cerpen-cerpen Babel yang sebagian besar sangat ringkas, saya sering membayangkan bahwa kisah-kisah ini adalah penggalan dari sebuah epik yang jauh lebih luas. Katakanlah cerpen ini, kita bisa memulai sebuah novel tentang para pelaut. Babel menulis dengan begitu detail, telaten, seolah ia hendak menulis ratusan halaman, meskipun apa yang tertulis hanya dua atau tiga halaman. “The End of St. Hypatius”. Sebuah biara yang berakhir menjadi apartemen kaum buruh, tentu selepas revolusi yang berhasil. “A Story”. Ini merupakan versi yang lebih awal dari cerpen “The Bathroom Window”. Mungkin menarik untuk membandingkannya, sekaligus menelaah semua cerpen-cerpen ini sebagai titik berangkat Babel, sebab cerpen-cerpen di atas merupakan karya-karya awal dari sang penulis.

The Collected Stories of Isaac Babel terbitan W.W. Norton disebut-sebut yang paling komplet menghimpun cerita-cerita Babel dalam bahasa Inggris. Sejauh ini, saya melihat kisah-kisah ini dipenuhi gembel dan bajingan, diselingi sketsa-sketsa kasar tentang beberapa hal. Ia memiliki empati pada tokoh-tokohnya, juga lanskapnya, meskipun kadang dengan kejam juga menertawakan nasib mereka. Cerpen-cerpen berikutnya, diambil dari masa-masa Odessa. Cerpen-cerpen tentang kehidupan di kota tersebut, terutama para bajingannya. Saya merasa cerpen-cerpen ini mulai memperlihatkan darah dan daging yang lebih nyata dibandingkan kisah-kisah di awal karirnya. “The King”. Bayangkan sebuah fragmen dari sebuah film mafia. Dibuka dengan lanskap pesta pernikahan. Yang menjadi pengantin adalah adik perempuan si mafia, yang dipanggil Raja, dan sang Raja sendiri ada di sana. Pada saat yang sama, polisi distrik baru saja memperoleh kepala polisi yang baru dengan program kerja hari pertama: memberangus gerombolan bajingan pimpinan Raja di hari pernikahan adiknya. Apa yang terjadi? Sang Raja tentu saja mendahului apa yang ada dipikiran polisi. Ini merupakan perkenalan pertama dengan Benya Krik, sang raja gangster dari Odessa. “Justice In Parentheses”. Kali ini kita berhadapan dengan sesorang (yang kebetulan narator kisah ini, “si aku”), dan bagaimana akibatnya bermain-main, lebih tepatnya mempermainkan Benya Krik. Sebenarnya bukan bermaksud mempermainkannya, tapi tak lebih dari sekadar mengambil risiko, demi memberi makan keluarga. Katakanlah si aku ini mendengar seseorang bicara tentang “celah keamanan” sebuah toko koperasi yang uniknya bernama “Keadilan”. Masalahnya, celah keamanan itu bocor tentu saja memang untuk mengundang perampok masuk. Diam-diam si aku mengirimkan informasi celah keamanan ini kepada Benya. Sial. Pada hari yang sama, Benya dan gerombolannya menggeruduk toko koperasi itu, di tempat yang sama ada gerombolan perampok lain juga tengah bekerja. Benya merasa dipermalukan, harga dirinya terluka. “Keadilan” akan datang untuk si aku, meskipun pada akhirnya toh ia masih juga bertahan hidup. “How Things Were Done In Odessa”. Di cerpen inilah, kemudian kita tahu kenapa Benya Krik dipanggil “Raja”. Bukan semata karena teror yang diciptakannya, tapi bagaimana ia menegakkan hukum jalanan dengan caranya sendiri, tanpa kompromi. Ada banyak bajingan di Odessa, tapi kemudian Benya yang memperoleh sebab itu, bahkan meskipun asal-usulnya menjadi bajingan karena ia memperoleh restu dari para bajingan lain: untuk merampok seorang saudagar paling kaya di Odessa. Saudagar yang pernah coba dirampok sembilan kali oleh kelompok bajingan itu dan semuanya gagal. Benya melakukan yang kesepuluh dan berhasil. Tapi bukan itu yang membuatnya jadi raja. Bukan. Di saat melakukan perampokan, satu anak buahnya mabok dan tanpa sengaja menembak mati si penjaga toko, anak satu-satunya seorang perempuan setengah baya. Di situlah ia memunculkan dirinya menjadi raja. Tentang bagaimana ia bersikap atas kematian si penjaga toko, dan hukuman apa yang harus diterapkannya kepada si anak buah mabuk. Satu hal yang paling menarik dari kisah ini adalah bagaimana Benya bisa menjadikan kematian si penjaga toko sebagai sebuah tragedi kelas, ketika ia berpidato di pemakamannya: “Apa yang telah dilihat Josif kita tersayang dalam kehidupan? Satu omong kosong besar. Apa yang dilakukannya untuk hidup? Ia menghitung uang orang lain. Untuk apa ia mati? Ia mati untuk seluruh kelas pekerja.”

Tentu ini perjalanan yang baru beberapa langkah dalam menjelajahi cerita-cerita Babel, tapi saya putuskan berhenti dulu di sini, meninggalkan rasa penasaran yang semestinya kepada khalayak ramai.

Menyapu Sampah ke Bawah Permadani

Apa yang terjadi jika saya duduk di warung rokok, lewatlah seorang gadis yang pada dasarnya tidak saya kenal, kemudian saya memanggilnya, ”Neng, temenin sini, dong,” atau ”Hey, kamu manis, deh”?

Si gadis mungkin melengos dan bapak penjual rokok di warung akan tertawa atau malah ikut menggoda. Peristiwa itu dianggap kejadian biasa. Sebab, saya lelaki, tak peduli dengan apa pun yang dirasakan si gadis.

Sekarang bayangkan saya penulis terkenal, lalu seorang mahasiswi sastra ingin belajar atau sekadar penasaran karena dia kagum pada tulisan saya. Saya pergunakan kesempatan itu untuk mengajaknya bicara siang dan malam.

Di satu titik, saya membujuknya datang ke kamar dan menidurinya, kalau perlu dengan cekokan minuman sambil mengintimidasi, “Masak anak sastra enggak berani?”

Apa yang akan terjadi? Sangat mungkin masyarakat akan bilang, “Salah si cewek. Ngapain dia datang ke kamar buaya?” Sebab, saya lelaki, punya sedikit kuasa, tidak apa-apa jadi buaya pemangsa.

Skenario ketiga. Saya mahasiswa KKN dan teman mahasiswi saya terjebak hujan di pondokan saya. Saya mengizinkannya tidur di kamar. Bukannya tidur di kursi atau menjagai dia, saya malah ikut masuk ke kamar.

Saat dia tidur, saya mulai meraba tubuhnya. Teman saya terbangun dan marah. Ketika dia bersuara, apa yang akan terjadi?

Kampus sangat mungkin akan memanggil kami, menyuruh kami berdamai. Sebab, saya lelaki, dan kampus yang dipenuhi lelaki tak pernah mau berpikir bahwa lelaki memang bisa sebrengsek dan sejahat itu. Mereka akan mendorongnya menjadi tindak asusila.

Kasus-kasus semacam itu bukan kisah khayalan, juga bukan omong-kosong. Yang terkini terjadi pada seorang mahasiswi UGM bernama Agni (bukan nama sebenarnya) dan rektorat UGM malah memilih jalan damai.

Sebuah insentif dari institusi pendidikan bagi para predator seks. Sebuah keputusan memalukan bagi institusi pendidikan yang seharusnya berada di garis terdepan untuk melindungi civitas academica-nya dari segala jenis kekerasan.

Permakluman atas para predator seks, yang umumnya lelaki ini, memang sangat mengkhawatirkan di tengah masyarakat yang masih memuja maskulinitas, bahkan machoisme, di dalam budaya patriarki. “Kamu lelaki keren kalau kamu bisa memangsa perempuan”, “Ikan asin di meja, wajar dimakan kucing garong.”

Korban kekerasan seksual, umumnya perempuan, sering kali bungkam juga karena tekanan budaya semacam itu. Tekanan bahkan bisa datang dari sesama perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan #MeToo yang dipelopori para perempuan penyintas bangkit melawan budaya kekerasan seksual ini. Gerakan tersebut merebak dari Amerika, Asia, Eropa, dan tentu termasuk Indonesia meski situasinya masih tertatih-tatih.

Mengikuti gerakan tersebut, jelas kita tahu bukan hal mudah bagi para penyintas untuk bersuara. Dari sana kita juga bisa belajar satu hal yang sangat penting: mereka tak hanya menghadapi pelaku, tapi juga masyarakat yang buta dan penuh permakluman. Sering kali para lelaki, meskipun bukan predator, menjadi beban tambahan karena kita memutuskan diam, didera rasa sungkan yang tak patut.

Lihat, misalnya, kasus di Akademi Swedia. Pada awalnya mereka berusaha menutupi kasus pelecehan seksual yang dilakukan Jean-Claude Arnault, yang memiliki kerja sama dengan akademi. Bayangkan, bahkan anggota akademi itu sebagian adalah perempuan, termasuk istri si pelaku.

Pertemuan-pertemuan berakhir buntu, sebagian mungkin karena solidaritas sesama budayawan. Hal itu membuat beberapa anggota yang kritis akhirnya memutuskan keluar.

Perlu desakan masyarakat, termasuk kepada institusi-institusi otoritatif, untuk mengakhiri kekerasan seksual ini. Akademi Swedia bahkan akhirnya memutuskan tindakan ekstrem tidak menganugerahkan Nobel Kesusastraan tahun lalu. Itu dilakukan untuk membereskan dan mendefinisikan ulang peran-perannya sebagai institusi.

Kita juga bisa belajar dari tindakan Gereja Katolik beberapa hari terakhir. Rumor tentang perbudakan seks atas para biarawati sudah menjadi konsumsi publik bertahun-tahun lamanya. Bisa dibayangkan betapa sulitnya para biarawati bicara tentang hal ini, sebagaimana sulitnya bagi Gereja Katolik membuka kenyataan tersebut. Ini tak hanya menyangkut reputasi lembaga, tapi bahkan kesuciannya.

Meskipun begitu, Paus Fransiskus akhirnya berdiri di depan dan secara terbuka mengakui masalah ini. Itu langkah yang sangat besar bagi Gereja Katolik dan lebih besar bagi para korban serta penyintas secara umum.

Maka melihat apa yang dilakukan rektorat UGM atas kasus Agni, saya anggap sebagai kemunduran, terutama jika melihat tren yang sangat baik di belahan dunia lain. Ketika institusi-institusi berusaha berdiri bersama para korban dan penyintas, UGM justru memberikan insentif buruk bagi pelaku. UGM terkesan menyembunyikan sampah di bawah permadani indah, memastikan kampus sebagai tempat damai dengan segala perdamaiannya.

Jika kamu mahasiswa dan memukuli adik angkatanmu hingga babak belur, jangan khawatir, rektorat mungkin akan mengusahakan perdamaian. Jika kamu dilecehkan atau diperkosa, sebaiknya kamu diam tak bersuara. Hal-hal seperti inikah yang ingin dibangun UGM atau mungkin kampus-kampus lain di Indonesia?

“Benar,” kata Paus Fransiskus, “Ada pastor dan uskup yang melakukannya.” Sikap demikianlah yang seharusnya ditiru Rektorat UGM, sebab mengatakan kebenaran mestinya menjadi darah daging di lembaga intelektual semacam universitas.

Diterbitkan di Jawa Pos, 9 Februari 2019

Tempat Terbaik Bagi Buku

Di manakah tempat terbaik untuk menyimpan buku? Di rak buku? Rak buku tempat yang sangat terbatas, kecuali rumahmu bisa terus berkembang. Seiring bertambah jumlah bukumu, rak bukumu akan menjadi tempat yang sempit, dan buku-buku mulai menjajah meja kerjamu, sofa tempatmu bersantai, bahkan tempat tidurmu.

Bicara tentang rak buku, bahkan rak-rak di toko buku yang ada sekarang seringkali tak sanggup menampung kedatangan buku-buku baru dari penerbit. Toko buku bukannya semakin meluas untuk mengakomodasi pendatang-pendatang baru, yang ada semakin menyempit, berbagi dengan alat-alat tulis dan pertokoan.

Rak di toko buku bahkan mulai dilihat sebagai aset properti. Luasnya, atau daya tampungnya, harus dihitung dengan berapa banyak yang bisa dihasilkan dari sana per bulan atau per tahun. Maka buku-buku yang dianggap lambat menghasilkan, dengan cepat digusur oleh buku-buku yang dianggap lebih cepat laku. Rak di toko buku bukan gudang, apalagi lemari arsip.

Kondisi ini memang sangat menjengkelkan untuk banyak penerbit, terutama penerbit-penerbit kecil. Apalagi jika penerbit-penerbit itu menerbitkan buku yang serius, atau agak serius, yang tak terjual cepat dalam satu-dua bulan. Memangnya buku penting macam The Origin of Species karya Charles Darwin bisa mendadak bestseller? Demikian pula buku macam biografi pelukis Basoeki Abdullah?

Untunglah kesulitan kadang memberi peluang bagi jiwa-jiwa yang kreatif. Iklim yang tidak menguntungkan bagi perkembangan literasi ini didobrak oleh munculnya toko-toko buku alternatif. Pertama, tentu saja toko-toko daring di internet. Mereka tak dihadapkan oleh sewa tempat yang mencekik rekening usaha mereka yang tak seberapa. Ini membuat mereka bisa menampung segala jenis buku, dari yang super laris hingga buku yang pembacanya mungkin hanya puluhan orang.

Toko-toko buku daring ini bisa dimiliki nyaris siapa pun. Ada yang benar-benar serius berbisnis, bahkan dengan mendirikan perusahaan secara resmi. Mereka tak hanya membuka situs penjualan, tapi juga hadir dalam bentuk aplikasi. Ada pula ibu rumah tangga, atau mahasiswa, yang melakukannya secara sambilan. Berjualan melalui laman media sosial mereka seperti Facebook atau Instagram.

Kedua, saya rasa imbas dari menjamurnya toko buku daring, juga bermunculan toko-toko buku kecil secara fisik. Mereka mungkin tak ditemukan di mal-mal yang benderang, tapi di lingkungan kampus atau komunitas-komunitas. Sama seperti toko buku daring, toko-toko ini juga menjadi tempat lain, bahkan lebih baik, bagi banyak jenis buku menunggu pembelinya. Mereka menjadi berkah bagi banyak penerbit, dan akhirnya bagi literasi di negeri ini.

Akan tetapi keadaan yang penuh optimisme ini dirusak oleh beberapa peristiwa razia buku yang datang beruntun. Pertama terjadi di Kediri, disusul peristiwa serupa di Padang. Terakhir, juga terjadi di Tarakan.

Ketiganya dilakukan oleh prajurit TNI, juga dengan kesamaan alasan: menyita buku-buku yang diduga mengandung ajaran komunisme. Dengan menduga-duga, jelas mereka belum membaca buku-buku itu. Terbukti bahkan buku-buku Soekarno, salah satu proklamator kita, juga ikut disita. Mereka mengabaikan hukum yang melarang pengambilan paksa buku tanpa izin dari pengadilan.

Ada yang mencoba berspekulasi razia ini ada hubungannya dengan politik menjelang pemilu. Apakah itu benar atau tidak, yang jelas ini merupakan pukulan bagi dunia literasi. Peristiwa-peristiwa itu menciptakan rasa takut. Takut menerbitkan buku, takut menjual buku, dan akhirnya takut membaca buku. Bahkan saking ketakutannya, dan mungkin rasa frustasi, penjual buku di Padang memutuskan mengobral bukunya dalam rangka menutup toko.

Salah satu cita-cita fundamental kita sebagai bangsa, tercantum dalam UUD 1945, adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bagaimana kita bisa mencerdaskan bangsa, jika kita didera rasa takut berhubungan dengan buku? Beberapa dekade lalu, di bawah Orde Baru, buku-buku tak hanya dilarang. Orang yang tertangkap menjualnya bahkan masuk penjara. Apakah kita akan kembali ke masa itu?

Bagi saya, jelas itu bukan pilihan. Ketakutan ini harus dilawan, dan cara melawannya adalah persis melakukan apa yang mereka tak ingin kita melakukannya. Razia buku, sebagaimana pelarangan dan sensor, merupakan puncak dari ekspresi “kalian jangan membaca buku”. Maka untuk melawannya, ya baca buku-buku itu. Undang-undang paling tinggi di negara ini menjamin hak kita untuk cerdas, antara lain melalui buku.

Tentu saja teror bagi pembaca buku mungkin tak akan berakhir begitu saja. Razia dari toko-toko buku itu mungkin hanya awal. Diskusi-disukusi buku beberapa kali digerebek. Hal lebih buruk mungkin akan terjadi: buku ditarik dari toko. Orang yang menjual buku tertentu ditangkap. Dari sejarah runtuhnya peradaban, kita bahkan tahu, perpustakaan pun bisa dibakar.

Akan tetapi, sekali kita membaca sebuah buku, buku memperoleh tempat terbaiknya. Buku bisa dirampas, bisa lapuk, bisa dibakar, bisa dipinjam, dan bisa hilang, tapi gagasan yang tertanam di kepala hanya bisa dihapus oleh gagasan yang lain. Bagi kekuasaan yang menghendaki bangsa yang bodoh, buku menjadi berbahaya karena ia mengandung gagasan. Mereka takut gagasan itu masuk ke kepala pembaca.

Lawanlah, dengan menyimpan buku-buku itu di kepalamu. Dengan membacanya.

Diterbitkan di Jawa Pos, 12 Januari 2019.

Max Havelaar dan Dosa Kolektif

Kenapa novel seperti Max Havelaar begitu penting, terutama dalam konteks kolonialisme Belanda di Indonesia? Pertama, tentu karena novel itu memberi sejenis inspirasi kaum pribumi. Kedua, sebenarnya ini kekuatan terbesarnya: Ia juga memberi pengaruh besar bagi pembaca Belanda sendiri.

Setidaknya itulah yang saya sadari beberapa waktu lalu, ketika duduk satu meja dengan seorang Belanda. Dia lelaki berumur enam puluhan tahun. Mengaku pernah jadi diplomat, jadi penulis, bekerja sebagai bos penerbitan, dan pernah belajar kesusastraan Belanda.

“Terutama kesusastraan yang ada hubungannya dengan Hindia.”

Saat itulah dia bicara tentang novel-novel kesukaannya. Dari novel karya Hella Haasse, De Stille Kracht karya Louis Couperus yang versi panggungnya selalu terjual habis dalam setiap pementasan di Amsterdam, dan berakhir dengan membicarakan Max Havelaar karya Multatuli. Dia menyebutnya sebagai karya terbesar kesusastraan Belanda.

Satu jilid novel itu bahkan selalu tersimpan di gedung parlemen, dan itu bukan tanpa arti sama sekali. Menurut dia, “Novel itu membuka kesadaran kami bahwa kami melakukan kesalahan di tanah kolonial.”

Tentu tidak sekaligus, tapi bisa dibilang novel tersebut membuka kesadaran seperti keran air. Makin lama semakin membesar dan menguat.

Perbincangan tersebut kembali mengingatkan saya kepada sejenis keyakinan lama tentang karya yang hebat. Sebuah karya menjadi sangat berarti tak semata-mata karena ia membuka realitas, katakanlah memperlihatkan ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan. Banyak novel atau karya lain melakukan itu, termasuk Max Havelaar.

Ada kekuatan dahsyat lain yang terkandung di dalamnya. Apa? Menurut saya, kekuatan untuk membuka borok diri. Kekuatan yang membuat si pembaca sadar betapa brengsek dirinya, betapa jahat bangsanya. Sebuah refleksi diri bahwa untuk ketidakadilan, penindasan, dan kesewenang-wenangan itu, salah satu pelakunya adalah kita sendiri.

Itulah kehebatan novel itu, kata kawan saya. Kekuatan yang membuatnya jadi cermin. Kekuatan yang menerbitkan rasa malu tak terkira, tapi juga membuat banyak orang Belanda bersedia melewati perasaan tersebut. Tidak semua seperti itu, memang. Namun, para pembaca Max Havelaar atau De Stille Kracht yang tersadarkan juga tidak sedikit.

Lantas, apa arti kisah pertemuan saya dengan orang Belanda dan omong-omongan kami tentang kesusastraan Belanda di Hindia untuk Indonesia di masa sekarang?

Saya punya sedikit kenangan kecil bertahun lampau dengan sebuah buku. Judulnya Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma. Sampai hari ini saya masih menganggap buku itu sebagai kumpulan cerpen terbaik di Indonesia. Selain karena kisah-kisahnya, gaya menulisnya, terutama karena pengaruhnya (sastra maupun politik) terhadap saya pribadi.

Seperti banyak orang tahu, buku tersebut berisi cerita-cerita tentang pendudukan (militer) Indonesia di Timor Leste. Terutama selepas insiden Santa Cruz, Dili, 1991.

Jujur saja, sebelum membaca buku itu, saya tak tahu-menahu tentang Timor Timur (nama yang kita kenal waktu itu). Dan, menganggapnya sebagai provinsi bungsu (ke-27) yang sah. Timor Timur merupakan bagian dari Indonesia.

Namun, selepas membaca buku tersebut ketika masih mahasiswa, pikiran saya perlahan mulai berubah. Yang sangat mengganggu saya terutama bukan para klandestin yang disiksa, kepala manusia yang ditancapkan di pagar depan rumah, melainkan orang-orang yang melakukan penyiksaan itu.

Kenapa? Sebab, saya melihat wajah sendiri. Kita. Tentu kita tak melakukannya langsung. Namun, bagaimanapun, mereka mewakili kita: Indonesia.

Saya yakin banyak mahasiswa naif seperti saya terbuka matanya dengan buku tersebut, setidaknya di masa sebelum 1998. Tuntutan turunnya Soeharto berkelindan waktu itu dengan simpati dan dukungan untuk kemerdekaan Timor Leste. Saya rasa, penting bagi kita mengakui kebiadaban diri, didera rasa malu karena pengakuan itu, dan melewatinya.

Dengan mengingat pengalaman itu, saya bisa mengerti penjelasan kawan saya mengenai pengaruh Max Havelaar bagi pembaca Belanda di masa lalu. Bukan hanya itu, saya yakin ini bisa juga berlaku untuk dosa-dosa kolektif kita lainnya sebagai sebuah bangsa.

Bahkan, mungkin kita tak perlu menunggu ada buku dahsyat semacam buku-buku itu. Daya gugah tersebut bisa kita peroleh dari mana pun: film, berita, buku penelitian, atau lainnya. Yang terpenting adalah kehendak untuk membuka diri, kemudian mengakui kesalahan-kesalahan kolektif kita, bahkan meskipun kita tak terlibat secara langsung.

Maukah kita, misalnya, mengakui dosa-dosa kita sebagai bangsa atas penculikan dan penghilangan aktivis di masa reformasi, sebagaimana pembunuhan Munir juga dosa kita? Dan barangkali sama sulitnya dengan yang lain-lain bagi sebagian besar bangsa Indonesia, bersediakah mengakui dosa-dosa kita di Papua?

Dalam sejarah banyak negeri, pengakuan sebuah bangsa secara kolektif atas dosa-dosa mereka akan menjadi penggedor bagi langkah-langkah besar mereka di masa selanjutnya. Para elite politik sering kali merupakan orang terakhir yang memiliki rasa malu atas dosa-dosa mereka. Namun, sekumpulan warga biasa bisa bergerak lebih dulu untuk kemudian memaksa mereka. Mulailah membaca tentang reformasi, Munir, dan Papua sekarang juga. Itu akan mempermalukan kita, memang, seperti orang Belanda merasa malu saat membaca Max Havelaar. Tapi, kita harus melewatinya.

Diterbitkan di Jawa Pos, 15 Desember 2018.

Under the Jaguar Sun, Italo Calvino

Bagaimana jika kau memiliki penciuman yang tajam, yang bisa membedakan satu aroma dari berbagai keriuhan aroma lainnya? Itulah yang terjadi pada si narator dalam cerita “The Name, The Nose”. Ia bertemu seorang perempuan dengan aroma parfum yang sangat khas, dan sebagian besar waktunya merupakan usaha mencari perempuan itu, dengan bantuan indera penciumannya, tentu. Ia keluar-masuk toko parfum, untuk mencari tahu aroma apa sebenarnya yang datang dari perempuan tersebut, demi melacaknya. Tapi berbagai parfum pernah dicobanya, tak ada yang mendekati aroma parfum si perempuan (yang barangkali sudah bercampur pula dengan aroma alami tubuhnya, pakaiannya). Kisah ini merupakan salah satu dari tiga cerita dalam buku Under the Jaguar Sun. Sebetulnya Italo Calvino merencanakan proyek yang lebih panjang untuk buku ini, yakni cerita-cerita yang berhubungan dengan panca indera. Jika kita percaya manusia memiliki lima indera, seharusnya ia menulis lima cerita. Bisa pula lebih jika Calvino berpikir tentang indera-indera lain yang (mungkin) ada. Yang jelas, hingga kematiannya, ia baru menyelesaikan tiga cerita yang kemudian menjadi buku ini. Cerita pertama, “Under the Jaguar Sun”, berhubungan dengan indera pengecap (lidah). Bisa terbayang, ini semacam cerpen kuliner. Tapi jangan bayangkan sebuah kisah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain kemudian dipenuhi komentar tentang “wah, enak sekali”, atau “tahu tidak, di balik masakan ini terdapat sejarah panjang blah blah blah”. Tidak seperti itu. Memang narator dan istrinya dalam sebuah perjalanan ke Meksiko, dan tentu saja mereka menikmati makanan lokal (sebab menikmati makanan lokal merupakan salah satu esensi dari perjalanan, yang tak tergantikan oleh gambar atau video, tidak pula oleh restoran mewah, begitu kata naratornya). Buat saya, ada dua hal yang menarik dari cerita ini. Pertama, bagaimana reaksi suami-istri atas makanan, juga cara mereka menghadapi makanan, memperlihatkan perbedaan karakter keduanya, yang jika saya tak salah tebak: seorang intropert dan seorang ekstropert. Sebuah eksperimen strategi literer yang menarik, sih. Kedua, bicara tentang ritual kuno tentang pengorbanan manusia untuk dewa. Setelah korban dibunuh, bangkainya dimakan. Pertanyaannya, dengan bumbu apa daging manusia itu dimasak, agar bisa “tertanggungkan”? Jujur, bagian itu membuat saya merasa dalam situasi horor, padahal hanya mempertanyakan bumbu, mempertanyakan kesanggupan lidah manusia. Cerpen kedua berjudul “A King Listens”, yang tentu saja mengenai pendengaran. Kisah seorang pembisik, yang membisikkan banyak hal kepada seorang raja. Saya merasa cerpen ini terutama jangan dibaca melulu isinya, tapi “bunyinya”. Sayang saya membaca dalam terjemahan Inggris. Mungkin akan terasa lebih merdu jika bisa membacanya langsung dalam bahasa Italia. Siapa tahu? Tapi setidaknya, terjemahannya pun memberi kesan bahwa cerita ini ada lebih untuk didengar, seolah-olah kita sang raja dan sang narator adalah si pembisik. Cerpen ketiga, tentang penciuman, sudah saya sebut di pembukaan. Entah apa yang akan ditulis lagi oleh Calvino seandainya ia berumur panjang. Setidaknya ia mesti menulis tentang indera peraba dan penglihatan. Mungkin juga ia menulis “panca budi indera”: tangan, kaki, mulut, anus, dan kelamin. Juga indera utama: pikiran. Yang jelas, Calvino memang penulis yang senang dengan eksperimen semacam ini, salah seorang penulis meta-fiksi yang paling berhasil. Atau seperti buku lainnya yang tak juga selesai, Six Memos for the Next Millenium (dia cuma menulis lima), ia meminta pembaca menyelesaikan yang tersisa?