Merasa Benar dan Merasa Salah

Ketika saya berkunjung ke Ho Chi Minh tempo hari, saya melihat lalu lintas di kota itu jauh lebih semrawut daripada Jakarta. Tapi, pada saat bersamaan, jarang saya mendengar keributan karena kekacauan itu.

Saking semrawutnya, pernah taksi daring yang saya pakai terjebak di pertigaan.

Lalu lintas terkunci karena dari semua arah kendaraan saling menyerobot. Sepeda motor naik ke trotoar, juga terjebak saling berhadap-hadapan dengan sesamanya yang melawan arus.

Dari balik kaca mobil, saya memandangi kesemrawutan itu dengan takjub. Tak ada pengemudi yang keluar dan ngomel-ngomel ke mobil di depannya. Hanya satu dua yang memijit klakson, itu pun terdengar malas. Tak ada pak ogah maupun polisi yang datang untuk mengurai keadaan.

Taksi daring saya berhasil keluar dari jebakan tersebut dengan memutar ke kanan, melawan arus, padahal niatnya belok ke kiri. Itu pun nyaris serempetan dengan bus. Sopir bus tetap melajukan busnya dengan pelan. Taksi daring saya pun tetap melaju, hanya menyisakan cukup ruang untuk kaca spion saja.

Penasaran, saya bertanya kepada si pengemudi taksi daring itu, ”Kenapa kalian tidak marah? Ada orang menyerobot lampu merah. Ada yang melawan arus. Ada yang naik trotoar. Saya heran kenapa kalian tenang-tenang saja?”

Jawaban sopir taksi daring itu mengejutkan saya, meskipun dikatakannya sambil tertawa: ”Karena semua orang tahu dirinya salah.”

Tiba-tiba saya membayangkan skenario yang berbeda. Bayangkan jika para pengemudi itu semuanya merasa benar. Yang bergerak selepas lampu hijau akan keluar dari mobil dan memaki mobil yang menerobos lampu merah. Tapi, si penerobos lampu merah merasa benar juga, karena lampunya ”terlalu cepat ganti”.

Perang mulut dan perang klakson akan terjadi. Bahkan gebrak-gebrakan di kaca mobil. Itu sering saya lihat di jalanan Jakarta, di mana mantra baru diciptakan: ”Lo yang salah, lo yang marah.”

Kalau dipikir-pikir, betul juga. Konflik sering kali terjadi ketika dua pihak atau lebih sama-sama merasa benar, atau mengklaim diri/kelompoknya lebih benar dari yang lain. Klaim kebenaran sering kali tak memerlukan bukti, tapi orang bisa memperjuangkannya, mengorbankan apa pun, demi klaim tersebut.

Mereka bersedia adu jotos di jalanan, jika menyangkut orang per orang. Atau saling lempar rudal, jika itu terjadi antarnegara.

Di kisah Mahabharata, konflik antara keluarga Pandawa dan Kurawa juga bisa disederhanakan karena kedua pihak sama-sama mengklaim kebenaran versi masing-masing. Keluarga Kurawa merasa berhak sebagai ahli waris kerajaan karena ayah mereka adalah raja. Keluarga Pandawa juga merasa berhak karena ayah keluarga Kurawa buta dan tak berhak jadi raja.

Siapa yang lebih benar? Mereka harus memutuskannya dalam perang besar yang penuh tragedi dan pertumpahan darah. Sebuah perang yang nyaris menyerupai perang dunia, karena melibatkan begitu banyak sekutu di kedua pihak.

Begitu juga dalam kisah legenda dua murid Aji Saka. Kedua muridnya bertengkar karena sama-sama merasa benar. Yang pertama merasa benar karena bersikukuh pada perintah sang guru untuk diam menjaga pusaka. Yang kedua merasa benar karena juga bersikukuh pada perintah sang guru untuk pergi menemui guru mereka. Keduanya akhirnya bertarung hingga maut menjemput.

Siapa di antara mereka yang benar? Bahkan jika ternyata keduanya berada dalam kebenaran masing-masing, apa gunanya ketika keduanya sudah berkalang tanah? Kematian mereka pada akhirnya menjadi sejenis tragedi, yang tentu disesali sang guru. Perkelahian mereka, saya rasa, tak akan terjadi jika keduanya merasa bersalah.

Tapi, tunggu. Sikap merasa bersalah mungkin akan mengurangi banyak konflik atau pertengkaran, bahkan peperangan. Kita sering mendengar di perbincangan sesama kawan atau pasangan, ”Sudahlah, kita sama-sama salah.” Lalu, perdamaian tercipta. Atau, setidaknya mereka sama-sama terdiam dan menyesali kesalahan masing-masing.

Meskipun begitu, sikap untuk selalu sama-sama merasa salah seperti yang saya saksikan di pertigaan Ho Chi Minh adalah kesemrawutan. Kesalahan dinormalisasi. Orang menjadi permisif kepada kesalahan. Orang merasa bebas berbuat salah, karena tahu orang lain juga berbuat salah, dan tak ada yang merasa berhak untuk memperbaikinya.

Saya tak merasa sikap merasa salah merupakan antitesis yang baik untuk sikap merasa benar.

Dalam hal ini, kita bisa belajar dari tradisi dan praktik keilmuan di mana sikap merasa benar dan salah diberlakukan bersamaan. Tanpa sikap merasa benar, kita tak akan menemukan perdebatan sengit saling merontokkan argumen. Tapi, tanpa sikap merasa salah, kita juga tak akan menyaksikan ilmu pengetahuan terus mengoreksi dirinya sendiri, menguji dan mengumpulkan bukti-bukti pendukung argumennya.

Merasa benar dan salah hanya bisa terjadi dengan sehat jika ia memiliki batas. Dan batas itu sangat sederhana: sebuah kerendahan hati untuk berhenti di titik ”jika terbukti sebaliknya”. Silakan merasa benar, sampai terbukti sebaliknya. Silakan merasa salah, juga sampai terbukti sebaliknya.

Dengan begitu, kita tak juga perlu menciptakan mantra baru, ”Gue yang bener, gue yang minta maaf.”

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 1 Februari 2020.

Kisah Sukses

Sekali waktu saya ingin mengganti ban mobil yang sudah pecah-pecah. Saya mencari toko ban di sekitar rumah dan menemukannya. Tokonya komplet dengan peralatan bengkel yang canggih. Saya disambut pemiliknya: sepasang suami istri berumur awal 30-an.

Bagaimana pasangan semuda itu menguasai seluk-beluk bengkel dan jual beli ban? Mereka berani memasang tarif lebih murah dari pesaingnya yang lebih besar, membuat tokonya ramai. Tak perlu lama bagi saya untuk mengetahui rahasianya.

Tak jauh dari toko ban itu, ada toko lain dengan nama yang sama. Toko itu milik orang tua si istri. Rahasia sukses membuka bengkel dan toko ban adalah… punya keluarga yang terjun di bidang yang sama!

Apakah saya sedang bercanda? Tidak. Ingin jadi politikus sukses hingga menjadi ketua DPR? Akan lebih mudah jika ibumu Megawati dan kakekmu Soekarno. Punya ambisi jadi wali kota Solo? Lebih mudah jika ayahmu Joko Widodo.

Ingin jadi anak band dan pintar main musik? Jalanmu jauh lebih mudah jika ayahmu Ahmad Dhani dan ibumu Maia Estianty. Rahasianya di sini: Dari bayi, kamu sudah melihat gitar, piano, drum. Dari kecil, telingamu terbiasa mendengarkan musik, bermain ke studio, dan melihat konser.

Lantas, bagaimana cara orang kebanyakan tanpa latar belakang lingkungan dan keluarga macam begitu meraih sukses di bidang itu? Sialnya, buku-buku yang saya baca, saya menyukai kesusastraan, umumnya tak mengajarkan saya kesuksesan.

Saya baru saja membaca cerpen Alexander Pushkin, The Queen of Spades. Itu bercerita tentang anak muda yang berharap memperoleh rahasia kesuksesan di meja judi.

Satu sosok hantu perempuan memberinya rahasia itu. Sukses? Boro-boro. Hantu itu rupanya merupakan gambaran ketamakannya belaka, yang justru sukses mengirimkannya ke rumah sakit jiwa.

Ingat juga Lapar karya Knut Hamsun. Itu kisah seorang pemuda yang berambisi menjadi penulis hebat. Cocok. Saya juga ingin jadi penulis. Alih-alih memperoleh kemasyhuran, si tokoh malah menghadapi susahnya jadi penulis. Penuh derita dan perut keroncongan. ”Lebih baik jadi kelasi kapal saja.” Begitu kira-kira pesannya.

Kadang saya mengintip latar belakang penulis untuk mencari tahu kenapa mereka sukses. Lihat Mary Shelley, penulis Frankenstein. Ternyata dia datang dari keluarga intelektual, bahkan sejak kecil diajari ayahnya berbagai bahasa asing agar bisa membaca banyak buku.

Apakah itu seperti pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Tak persis seperti itu. Jika sejak kecil sudah membaca buku dalam berbagai bahasa, peluang menjadi intelektual memang lebih besar; sebagaimana jika sejak kecil hidup di lingkungan garong, peluang jadi perampok juga besar.

Sekali lagi, jadi bagaimana jika keluargamu tak punya tradisi intelektual, tapi pengin jadi penulis dan pemikir? Bagaimana jika di keluargamu tak ada gitar atau piano, tapi pengin jadi anak band?

Saya rasa, di titik inilah berbagai kisah sukses masuk dan bagaimana orang-orang menyukainya. Ia memberi harapan. Sebab, tanpa harapan, apalah artinya hidup? Barack Obama, anak separo kulit hitam, bukan keluarga Kennedy atau Bush, toh bisa jadi presiden Amerika.

Masalahnya, kebanyakan kisah sukses, di novel maupun di film, di televisi maupun di obrolan warung kopi, terus mengglorifikasi pencapaian individu semacam itu. Semacam kisah tentang perjuangan hidup, keteguhan hati, dan keyakinan pasti membawamu ke keberhasilan.

Ngomong-ngomong soal semangat untuk terus berjuang, saya malah teringat Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway. Sudah berhari-hari dia tak berhasil menangkap ikan, tapi dia tetap melaut. Tetap berjuang dan yakin bisa menangkap ikan. Apakah dengan modal perjuangan dan keyakinan dia berhasil?

Ya, dia berhasil menangkap seekor marlin besar. Tapi, marlinnya habis dirampok ikan-ikan hiu. Tanpa harus dikatakan di novel itu, saya bisa membayangkan, menangkap ikan jauh lebih mudah jika kamu punya kapal besar dengan belasan kru terlatih.

Sejujurnya, saya lebih senang membicarakan kisah sukses yang jauh lebih nyata: untuk sukses membuka bengkel dan toko ban, memang lebih mudah jika punya orang tua dalam bisnis itu. Tak perlu sungkan untuk mengatakan bahwa seseorang berhasil menjadi CEO start-up ya karena keluarganya juga memiliki perusahaan besar.

Itu menjadi penting justru untuk menyadarkan kita bahwa selain urusan kerja keras, motivasi, keteguhan pribadi, ada hal yang jauh lebih penting: akses. Untuk jadi anak band, kamu harus punya akses terhadap alat dan pengetahuan musik, juga melihat dan mendengar musik. Untuk jadi pengusaha, kamu harus akrab dan memiliki akses terhadap jejaring bisnis.

Dan, yang menyediakan akses itu tak selalu harus orang tua. Di sinilah negara dan masyarakat seharusnya hadir. Jadi penulis? Tak perlu punya orang tua yang juga penulis. Cukup punya akses terhadap bacaan bermutu dan tradisi berpikir yang bebas, sehat, dan terbuka di masyarakat.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 4 Januari 2020.

Orientalisme Balzac

Buku ini barangkali bisa menjadi contoh yang baik mengenai orientalisme Eropa abad kedelapan belas. Pertama, ia ditulis oleh Balzac. Betul, Honoré de Balzac yang “itu”. Penulis masyhur Prancis, yang ouvre karya-karyanya “dipaketkan” menjadi “Komedi Manusia” masih dibaca orang hingga kini. Kedua, ia menulis tentang Jawa. Negeri Jawa, yang menurut kata-katanya sendiri sebagai “jiwa Asia”.

“Sebagai orang Eropa, aku bersumpah, terutama sebagai seorang penyair, tak ada negeri yang begitu sedap sebagaimana Pulau Jawa.” Demikian ia menulis, tapi segera mengingatkan kepada rekan-rekan senegerinya, “Di Paris kau hidup sebagaimana kau mau: bermain, bercinta, mabuk sesukanya — dan rasa bosan yang datang dengan cepat. Tapi, di Jawa, maut menggantung di udara. Maut melayang di sekitarmu dalam bentuk senyum seorang perempuan …”

Yang paling menarik, adalah penggambarannya, atau imajinasinya yang luar biasa mengenai perempuan Jawa. Mungkin juga semacam imajinasi seksual lelaki Eropa mengenai perempuan oriental yang jauh dan asing. Balzac menggambarkan perempuan Jawa sebagai: “putih dan halus bagaikan kertas … bibir mereka pucat, telinga dan cuping hidung mereka — semua putih, hanya alis mereka yang hitam pekat dan mata coklat mereka membentuk kontras atas wajah pucat ajaib ini.”

Tidak cuma itu: “Sebagian besar perempuan ini kaya, banyak di antaranya janda. Segera setelah datang, seorang lelaki Eropa bisa langsung kawin, menjadi kaya sebagaimana mereka impikan di malam-malam panjang dan dingin di negeri sendiri.”

Begitulah impiannya tentang perempuan Jawa.

Tentu ada hal-hal lain. Imajinasi maupun prasangka. Tentang lelaki Jawa yang sekali kena candu bisa mengamuk, run amok. Tentang pohon upas yang tumbuh di titik bekas gunung berapi yang telah punah, dan betapa beracunnya pohon itu hingga kriminal yang dihukum mati hanya perlu disuruh membacok batang pohon tersebut. Hanya tiga atau empat dari sepuluh kriminal berhasil lolos. Dan, yang bertahan hidup bisa tumbuh keberanian. Dengan modal keris, ia bisa menghadapi harimau, bagaikan orang Eropa menghadapi kucing.

Buku ini sendiri, judulnya My Journey from Paris to Java — dalam bahasa Prancis Voyage de Paris à Java, terbit pertama kali 1832.

Ini mungkin sedikit menjengkelkan, atau perlu dirayakan sebagai lelucon: bahwa Balzac sendiri tak pernah datang ke Jawa. Tak pernah! Bahkan tak pernah berkelana ke negeri mana pun di “timur jauh” ini. Ia hanya mendengar tentang Jawa dari seseorang, atau beberapa orang. Apakah orang yang berkisah kepadanya, atau Balzac sendiri yang liar berfantasi, buku ini saya rasa merekam dengan baik imajinasi Eropa tentang Orient — khususnya Jawa, setidaknya pada abad kedelapan belas dan awal sembilan belas.

Kitchen Curse, Librairie Drawn & Quarterly’s Staff Picks 2019

I knew this collection of short stories was just the thing when I opened it and came across the most sensitive depiction of a public toilet I’ve ever read. In the service of emphasizing the innate strangeness of human interactions ‘crass’ subject matter (public urination, infidelity, fistfights and so on) is dealt with in an original and expansive way.

Librairie Drawn & Quarterly

Ms Ice Sandwich, Kawakami Mieko: Mengucapkan Selamat Tinggal itu Enteng, Kecuali …

Ada satu adegan yang terus menari di kepala saya ketika membaca Ms Ice Sandwich karya penulis Jepang, Kawakami Mieko. Dikisahkan sang narator, anak sekolah dasar, diajak temannya untuk nonton film di rumah. Temannya ini tinggal berdua saja dengan ayahnya, yang memang punya koleksi video “dari lantai sampai langit-langit”. Ditemani sang ayah temannya (yang langsung tertidur ngorok di sofa), kedua anak itu pun menonton film. Sebuah film Hollywood penuh aksi tembak-tembakan. Si narator dengan cepat merasa bosan, berkali-kali bertanya, film apa, sih? Hingga di satu titik, temannya mendadak menekan tombol pause, lalu memutar film kembali ke belakang. Ke satu adegan tembak-tembakan yang seru. Ia meminta sang narator memerhatikan adegan yang menurutnya keren. Saking kerennya, si teman bersedia berdiri di antara sofa dan pesawat televisi, lalu menirukn adegan (dan dialog) di film it. Sama persis, dan bahkan dengan peniruan akting yang membuat sang narator tiba-tiba ikut terseret ke dalam adegan. Hingga di ujung adegan, tanpa sadar ia sudah melorot ke lantai dengan tangan teracung ke atas, seolah meminta ampun jangan ditembak. Selepas itu, si teman mengantar si narator pulang ke titik tengah antara rumah mereka. Waktu sudah hampir tengah malam. Ketika hendak berpisah, si teman melambaikan tangan sambil berseru, “Al Pacino!” Si narator, dengan lugu menganggap “al-pacino” merupakan ungkapan baru, sebagai pengganti “dadah” atau “selamat tinggal”. Maka ia pun membalas, “Al-Pacinoooooo!”. Si teman tertawa, dan membetulkan, “Itu nama aktor di film tadi.” Tapi gagasan memakai sahutan “al-pacino” sebagai ungkapan “selamat tinggal” sudah terlanjur menarik hati mereka, hingga berkali-kali mereka mempergunakannya. Memang, tampaknya novel ini bercerita tentang bagaimana mengucapkan selamat tinggal dengan enteng, belajar banyak kepada anak-anak. Dari mulai tentang bagaimana teman datang dan pergi, yang bisa dilalui dengan sekadar bertanya-tanya, hingga perpisahan yang jauh lebih berat. Si narator tinggal bersama ibu dan neneknya. Ayahnya sudah meninggal, dan neneknya itu merupakan ibu dari ayahnya. Ibunya mengabdikan diri untuk mengurus si ibu mertua, sekaligus si anak. Kita tahu, neneknya mulai sakit-sakitan. Ia merekamnya dengan baik, dari mulai jalan yang tak lagi sesehat dulu. Kemudian hanya tinggal di rumah, kemudian hanya tinggal di tempat tidur, hingga akhirnya hanya makan dan menggerakkan mata. Si bocah kecil selalu datang ke neneknya, membicarakan banyak hal yang dialaminya di sekolah, terutama tentang Ms. Ice Sandwich yang menarik perhatiannya di pusat perbelanjaan. Ia tak banyak bicara tentang “masa depan” si nenek, tapi kita tahu, di luar yang sering kita bayangkan tentang anak-anak, ia sangat siap menghadapi “selamat tinggal” kepada neneknya. Selamat tinggal yang begitu tenang, sebab ia tak terelakkan. Selamat tinggal yang bisa diganti dengan “al-pacino, Nenek!” Di atas segalanya, tentu ada Ms. Ice Sandwich, penjaga kios sandwich yang menurut gambaran si narator, mestinya sosok biasa-biasa saja. Saking tak pentingnya, ia bisa dimaki-maki pelanggan di depan banyak orang. Tapi hal yang buat orang lain biasa itulah yang menarik perhatian si bocah, hingga setiap hari ia bisa membayangkan wajahnya, lalu menggambarnya. Ketika si Ms. Sandwich tak lagi muncul di kedainya, dan kemudian ia tahu penjual itu akan pindah (menikah dan pindah kota), ia mulai merasakan artinya kehilangan. Ia menemuinya, memberinya kado (gambar yang ia buat). Di sana kita tahu, si bocah bisa enteng menghadapi kematian neneknya, karena ia tahu kematian merupakan hal yang biasa. Ia telah bersiap dengan itu. Tapi, Ms Sandwich jelas bukan “orang biasa”. Ia pernah mengikat perhatian si bocah. Berhari-hari, siang dan malam, dalam terjaga dan tertidur. Orang lain mungkin tak akan kehilangannya, tapi kepergiannya meninggalkan ruang kosong bagi si bocah. Mengucapkan selamat tinggal selalu enteng, seenteng berseru “al-pacinoooo”, kecuali … isi saja sendiri, deh.

Lelaki Malang, Kenapa Lagi?, Hans Fallada

Ini buku kedua dari proyek Moooi Pustaka (buku pertama kami, Angsa Liar karya penulis Jepang, Mori Ōgai). Hans Fallada merupakan salah satu penulis Jerman terkemuka, dan novel ini, Lelaki Malang, Kenapa Lagi? merupakan salah satu novel terpentingnya, yang pertama membawanya ke puncak kepopuleran.

Secara ringkas, ini kisah tentang sepasang kekasih, bersama anak mereka yang kemudian lahir, harus menghadapi dunia yang tak bersahabat. Ekonomi yang memburuk, sentimen anti-Yahudi yang meningkat, kebangkitan Nazi, pertentangan kaum komunis dengan polisi, mereka harus menghadapi itu semua. Sebagai pekerja kelas menengah, mereka harus menghadapi ejekan para buruh proletar yang lebih progresif dan berani, sekaligus harus menghadapi tekanan para majikan yang tak ada ampun. Dipecat dari pekerjaan, kabur dari rumah ibu sendiri yang meminta sewa kamar, menyewa ruangan yang tak layak, hingga terusir ke gubuk musim panas tanpa pekerjaan, sanggupkah keluarga kecil ini menghadapi dunia, dengan keadaan sosial-politik yang semakin menegangkan? Apakah cinta mereka bisa menyelamatkan hidup ketiganya?

Kalau tertarik dengan novel ini, sila menghubungi toko daring marjinkiri.com atau berdikaribook.red. Bisa juga menghubungi kontak Moooi Pustaka di: 0821 3357 5877 (WhatsApp).

The Memoir of an Anti-Hero, Kornel Filipowicz

Awalnya saya kira ia seorang pecundang biasa. Tidak, ia bukan pecundang. Sebagaimana seorang hero tak selalu menjadi seorang pemenang, seorang anti-hero seperti narator buku ini, juga tak perlu menjadi pecundang. Seorang pecundang, setidaknya, kita masih bisa bersimpati. Seorang pecundang mungkin pernah bertarung, tapi kemudian ia menjadi seorang yang kalah. Atau dunia, struktur dunia, telah membuatnya menjadi pecundang sejak lahir hingga mati, karena masyarakat tak pernah memberinya kesempatan untuk memenangi apa pun. Dilihiat dari hal semacam ini, tokoh kita jelas bukan seorang pecundang. Ia justru seorang pemenang, seorang yang bertahan hidup di masa sebelum perang, bertahan hidup di masa pendudukan Jerman, dan terus bertahan hidup di bawah pendudukan Sovyet. Bukan kemenangan yang gilang-gemilang, memang, tapi setidaknya ia mampu keluar dari derita perang dengan kepala menghirup udara laksana berdiri di alam kebebasan. Saya tak ingat persis berapa penulis Polandia yang pernah saya baca. Bukan karena saya sudah membaca banyak, tapi mungkin karena saya sering lupa dari mana seorang penulis berasal. Meskipun begitu, ada beberapa penulis Polandia, menulis dalam bahasa Polandia, yang terus menghantui saya sebab pernah memberi pengalaman membaca mengasyikkan. Pertama, saya bisa menyebutkan nama Bruno Schulz. Kedua, saya bisa menyebut nana Witold Gombrowicz. Dari kedua nama itu, yang kita tahu sudah menjadi nama-nama agung di belantara kesusastraan, sebenarnya saya tak ingat betul mana dulu yang terjumpai oleh saya. Keduanya memberi tawaran mengenai komedi manusia, yang mungkin tak membuatmu tertawa terbahak-bahak, tapi membuat isi kepalamu cengengesan tanpa bisa dijelaskan. Berikutnya, saya bertamu satu-satunya novel karya Andrzej Bursa. Ia memberi komedi jenis lain: kejenakaan di balik teror, di balik tindakan-tindakan brutal yang tak memiliki belas asih. Kejenakaan yang barangkali membuat kita tertawa sedih dengan betapa perihnya segala yang mungkin terjadi. Pernah sekali-dua saya merasa menyesal kenapa kita tak mempelajari Bahasa Polandia di sekolah, karena tampaknya mengasyikkan bisa membaca penulis-penulis ini di bahasa mereka sendiri, ditambah penulis-penulis yang “belum ditemukan”. Perasaan itu semakin menjadi-jadi ketika saya membaca buku ini, The Memoir of an Anti-Hero, karya Kornel Filipowicz. “Jerman telah kalah perang, tapi aku tidak.” Kalimat itu disebutnya di bagian agak akhir, dan saya merasa itulah perasaannya yang sesungguh-sungguhnya, perasaan kemenangannya. Jerman, dengan semua pasukan perangnya, keberingasannya, akhirnya mundur dan luluh-lantak, sementara “si aku”, lelaki tiga puluhan tahun dengan satu-satunya senjata yang pernah disebutnya (tapi tak pernah dipakai) adalah pisau, justru bisa bertahan dan bahkan “memenangi” perang. Bagaimana ia melakukannya? Tidak, ia tidak melakukannya dengan aksi-aksi kepahlawanan. Ia justru melakukannya dengan beragam kepengecutan, kelicikan, keegoisan, bahkan pernah juga dengan nyaris menumbalkan orang lain. Bangsat sekali, bukan? Ya, betul. Ia seorang bangsat tak terpuji. Orang yang dengan enteng mengaku Jerman jika dibutuhkan, lalu memaki-maki orang Jerman (atau orang Polandia) di waktu lain. Orang yang meniduri istri-istri kesepian, dan kemudian memperoleh keuntungan dari tindakannya itu, sehingga pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula jauh dari berlaku untuknya. Ia culas, dan ia beruntung. Lagi-lagi komedi manusia dalam seninya yang paling mengasyikkan. Ia seorang pemenang, tapi jelas bukan seorang pahlawan. Kita tahu, kita bisa melihat yang semacam ini. Di masa perang maupun damai.