The Memoir of an Anti-Hero, Kornel Filipowicz

Awalnya saya kira ia seorang pecundang biasa. Tidak, ia bukan pecundang. Sebagaimana seorang hero tak selalu menjadi seorang pemenang, seorang anti-hero seperti narator buku ini, juga tak perlu menjadi pecundang. Seorang pecundang, setidaknya, kita masih bisa bersimpati. Seorang pecundang mungkin pernah bertarung, tapi kemudian ia menjadi seorang yang kalah. Atau dunia, struktur dunia, telah membuatnya menjadi pecundang sejak lahir hingga mati, karena masyarakat tak pernah memberinya kesempatan untuk memenangi apa pun. Dilihiat dari hal semacam ini, tokoh kita jelas bukan seorang pecundang. Ia justru seorang pemenang, seorang yang bertahan hidup di masa sebelum perang, bertahan hidup di masa pendudukan Jerman, dan terus bertahan hidup di bawah pendudukan Sovyet. Bukan kemenangan yang gilang-gemilang, memang, tapi setidaknya ia mampu keluar dari derita perang dengan kepala menghirup udara laksana berdiri di alam kebebasan. Saya tak ingat persis berapa penulis Polandia yang pernah saya baca. Bukan karena saya sudah membaca banyak, tapi mungkin karena saya sering lupa dari mana seorang penulis berasal. Meskipun begitu, ada beberapa penulis Polandia, menulis dalam bahasa Polandia, yang terus menghantui saya sebab pernah memberi pengalaman membaca mengasyikkan. Pertama, saya bisa menyebutkan nama Bruno Schulz. Kedua, saya bisa menyebut nana Witold Gombrowicz. Dari kedua nama itu, yang kita tahu sudah menjadi nama-nama agung di belantara kesusastraan, sebenarnya saya tak ingat betul mana dulu yang terjumpai oleh saya. Keduanya memberi tawaran mengenai komedi manusia, yang mungkin tak membuatmu tertawa terbahak-bahak, tapi membuat isi kepalamu cengengesan tanpa bisa dijelaskan. Berikutnya, saya bertamu satu-satunya novel karya Andrzej Bursa. Ia memberi komedi jenis lain: kejenakaan di balik teror, di balik tindakan-tindakan brutal yang tak memiliki belas asih. Kejenakaan yang barangkali membuat kita tertawa sedih dengan betapa perihnya segala yang mungkin terjadi. Pernah sekali-dua saya merasa menyesal kenapa kita tak mempelajari Bahasa Polandia di sekolah, karena tampaknya mengasyikkan bisa membaca penulis-penulis ini di bahasa mereka sendiri, ditambah penulis-penulis yang “belum ditemukan”. Perasaan itu semakin menjadi-jadi ketika saya membaca buku ini, The Memoir of an Anti-Hero, karya Kornel Filipowicz. “Jerman telah kalah perang, tapi aku tidak.” Kalimat itu disebutnya di bagian agak akhir, dan saya merasa itulah perasaannya yang sesungguh-sungguhnya, perasaan kemenangannya. Jerman, dengan semua pasukan perangnya, keberingasannya, akhirnya mundur dan luluh-lantak, sementara “si aku”, lelaki tiga puluhan tahun dengan satu-satunya senjata yang pernah disebutnya (tapi tak pernah dipakai) adalah pisau, justru bisa bertahan dan bahkan “memenangi” perang. Bagaimana ia melakukannya? Tidak, ia tidak melakukannya dengan aksi-aksi kepahlawanan. Ia justru melakukannya dengan beragam kepengecutan, kelicikan, keegoisan, bahkan pernah juga dengan nyaris menumbalkan orang lain. Bangsat sekali, bukan? Ya, betul. Ia seorang bangsat tak terpuji. Orang yang dengan enteng mengaku Jerman jika dibutuhkan, lalu memaki-maki orang Jerman (atau orang Polandia) di waktu lain. Orang yang meniduri istri-istri kesepian, dan kemudian memperoleh keuntungan dari tindakannya itu, sehingga pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula jauh dari berlaku untuknya. Ia culas, dan ia beruntung. Lagi-lagi komedi manusia dalam seninya yang paling mengasyikkan. Ia seorang pemenang, tapi jelas bukan seorang pahlawan. Kita tahu, kita bisa melihat yang semacam ini. Di masa perang maupun damai.

The Wine of Solitude, Irène Némirovsky

Kesepian itu memang memabukkan. Pertama, kita lihat kesepian yang diderita oleh Bella. Ia lahir dari keluarga bangsawan miskin, begitu miskinnya sehingga ia tak bisa membayar mas kawin dan memilih pasangan yang diinginkannya. Ia akhirnya menikahi Boris Karol, seorang Yahudi yang dia yakin bisa menghasilkan uang. Ya, satu-satunya alasan adalah uang. Demikianlah ia terjebak dalam pernikahan yang tak membahagiakan, meskipun ia bisa membeli pakaian dan topi dan sepatu model terkini langsung dari pusat mode di Paris, yang di kota kecil Kiev langsung menjadi buah pergunjingan karena gaya hidupnya jauh di atas penghasilan suaminya. Kekayaan, ternyata tak sungguh-sungguh membuat jiwanya tenang dan memberi kebahagiaan. Ia selalu kesepian, karena satu hal yang sederhana: ia dibakar oleh amarah dendam masa lalu. Masa kecil dan remaja yang dililit kemiskinan. Masa kecil yang sering menjadi olok-olok keluarga besarnya yang lebih kaya, masa remaja yang tak berkesempatan menikmati pesta-pesta kaum bangsawan papan atas. Ia dendam pada masa kecil dan remaja yang tak dimilikinya. Demikianlah ia selalu ingin waktu berhenti di satu titik, di mana ia terus menyangkal umurnya yang menua, dan puncak kemabukannya bukan dari hidup poya-poya, tapi pada sosok seorang anak muda bernama Max, yang adalah keponakannya sendiri. Ia memelihara Max, bagaikan memelihara gigolo, dan hanya bisa bahagia dengan terus bersama Max, meskipun tetap tak bisa meninggalkan suami dan rumahnya. Kesepian kedua, tentu diderita oleh Boris Karol, sang suami. Ia mungkin memang mencintai istrinya, sebab sampai akhir ia selalu tutup mata terhadap segala desas-desus maupun bukti-bukti tak langsung yang menunjukkan ketidaksetiaan istrinya. Ia barangkali tahu, Bella tetap bersamanya hanya karena uang, dan sebab itulah ia terus berburu uang. Hidupnya hanya berburu uang dan mempermainkan uang. Ia pergi ke rumah judi untuk mempertaruhkan uang. Ia masuk ke Pasar Saham, juga untuk mempertaruhkan uang. Dan, seperti diduga Bella, ia orang yang mahir memperoleh uang. Bahkan ketika di akhir hayatnya saham-sahamnya berguguran, kita tahu ia telah menyimpan banyak uang atas nama istrinya agar mereka tak miskin, tapi ketika ia meminta uang itu ke istrinya dan Bella berbohong bahwa uang itu juga ikut jatuh di pasar saham, ia demikian percaya. Dalam ilusi kebahagiaannya, ketika anaknya mengecup keningnya di saat memejamkan mata, ia berpikir itu istrinya dan demikianlah ia bisa tertidur dengan senyum mengembang. Ia menutup lubang kesepian dengan ilusi bahwa istrinya akan tetap bersamanya, bersetia, sebab ia terus menghasilkan uang. Kesepian ketiga, diderita oleh anak mereka, Hélène, yang merasa masa kecilnya dihancurkan oleh ibu yang tak mencintainya, juga oleh hubungan ibu dan sepupunya, Max. Kesepian semakin dideritanya, ketika satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara, yang mengerti dirinya, sang pengasuh, mati. Ia memimpikan tak hanya kebahagiaan, tapi kebebasan, yang tak pernah diperolehnya hingga usia dewasa. Ia hidup dengan benih-benih kebencian kepada ibunya dan Max, kebencian yang terus berakar dan tumbuh. Puncaknya ketika ia telah menjadi “perempuan”, dan bukan lagi seorang gadis. Ia tahu bagaimana membalaskan dendam penderitaan masa kecilnya: ia bisa merebut Max dari ibunya dan membuat mereka menderita. Ya, itu puncak kemabukannya, rasa mabuk yang juga nyaris menghancurkannya. Dan, saya ikut dibuat mabuk novel ini, dihanyutkan oleh ombang-ambing perasaan si anak, yang menjadi protagonis sekaligus alat pembaca untuk melihat banyak kejadian. Dengan latar belakang Revolusi Rusia, pelarian ke Finlandia, kehidupan glamor Paris, semakin mengasingkan keluarga ini ke kesepian nyaris tanpa dasar. Ini novel yang benar-benar memabukkan, sebaiknya dibaca tidak dalam keadaan kesepian, karena efeknya mungkin bisa membuat hati dan otak berdarah-darah. The Wine of Solitude, judulnya, karya Irène Némirovsky.

Tyrant Banderas, Ramón del Valle-Inclán

Tyrant Banderas karya Ramón del Valle-Inclán tak hanya memberi anatomi brutal seorang tiran, tapi juga bagaimana ia pada saat yang sama menyebarkan wabah kebrutalan itu ke dunia yang didiaminya. Novel ini tak hanya merupakan salah satu pelopor kisah manusia yang haus kuasa, yang memberi pengaruh pada novel-novel sejenis (termasuk The Autumn of the Patriarch Gabriel García Márquez), tapi juga rangkaian kisah-kisah ganjil tentang ketidakberdayaan. Bagian terakhir itu, sungguh merupakan bagian paling menarik. Atau bisa dibilang, novel ini tak semata-mata berkisah mengenai sang tiran, tapi terutama mengenai bagaimana sekelompok orang, berkongsi maupun berkonspirasi untuk menggulingkan sang tiran dengan berbagai cara dan upaya. Dibuka dengan seorang kolonel desersi yang tengah mempersiapkan serangan pemberontakannya, novel ini jelas bukan bacaan yang gampang. Ia melompat dari satu tokoh ke tokoh lain, dalam sebuah rangkaian benang semacam jaring laba-laba, jika tak bisa dikatakan kusut. Tapi, jika kau membacanya untuk kedua kali, kau bisa menemukan keindahannya, serta bagian-bagian konyol yang bisa membuat mulutmu melebar dari satu telinga ke telinga lain. Sang tiran sendiri, yang seringkali menyebut dirinya sebagai Santos Banderas, atau Kid Santos, akan mengatakan sesuatu yang pasti bikin kita tertawa jengkel, “Bersumpah, hari paling membahagianku adalah hari ketika aku pensiun.” Semua tiran mengatakan hal serupa itu. Mungkin benar, karena pada dasarnya mereka tak pernah tahu kapan akan pensiun. Mereka pensiun hanya jika dipaksa, atau dibuat mati. “Aku bersumpah hatiku remuk ketika kutandatangani keputusan untuk mengeksekusi Zamalpoa. Aku tak bisa tidur selama tiga malam!” Ia mungkin berkata jujur, tapi tetap saja ia mengeksekusi para musuhnya, para pengkhianatnya, satu per satu. Seorang tiran bisa mengatakan apa pun yang ia ingin katakan, dan memaksa orang untuk menerimanya sebagai kebenaran, dan melakukan bahkan hal yang bertentangan dengan yang ia katakan, dan tetap memaksanya sebagai kenyataan yang harus dilakukan. Bicara tentang seorang tiran, sekali lagi, juga bicara tentang orang-orang tak berdaya di bawah kekuasaannya. Sebagian orang melawan, sebagian berusaha menjadi kolaborator, sebagian lagi menjadi penjilat, untuk bertahan hidup. Yang melawan saling mencurigai satu sama lain, dan pada saat yang sama, gamang merumuskan siapa musuh sebenarnya. Apakah kekuasaan itu memuncak pada sosok sang tiran, Santos Baderas sendiri, atau kekuasaan bersifat organik? Bahwa musuh orang Indian adalah orang kulit putih? Atau negeri leluhur, Spanyol? Atau para yankee dengan kepentingan mereka sendiri? Membaca novel ini, meskipun tak ekspilisit mengatakannya di negeri mana, tak hanya memberi gambaran tengil mengenai rejim-rejim diktator di Amerika Latin, tapi juga di banyak tempat: Afrika, Eropa, Asia. Dulu maupun sekarang. Ini jenis novel yang ideal menurut saya: bicara tentang individu-individu, pada saat yang sama menghamparkan konteks sosial yang sangat luas. Tak hanya pertarungan di antara berbagai faksi lokal, tapi juga beragam kepentingan internasional. Sikut-sikutan pula antara para revolusiner, pencari untung, hingga gereja. Valle-Inclán merupakan penulis yang menghibur, jika tahan membacanya, karena ia memiliki sinisme yang melimpah. Sang tiran memang brutal, tapi para musuhnya, juga tak kalah brutal. Dengan penuh kesinisan, ia menulis, setelah sang tiran ditembak mati, “kepalanya diletakkan di sebuah perancah dalam karung kuning selama tiga hari parade. Dektrit yang sama memutuskan tubuhnya dipotong empat dan disebar dari satu perbatasan ke perbatasan lain, dari satu pesisir ke pesisir lain.”

Angsa Liar, Mori Ōgai

Buku ini hasil kolaborasi banyak pihak. Awalnya tahun lalu dikompori Fajar dari percetakan Utama Offset agar saya bikin penerbitan dan menerbitkan buku. Dibantu adik ipar, saya pun bikin lembaganya. Lama terbengkalai, saya menghubungi ibu Ribeka Ota, apakah beliau bersedia menerjemahkan salah satu novel Jepang yang menyenangkan ini. Kemudian saya bertemu teman-teman Berdikari di Yogya, dan Marjin Kiri di Jakarta. Tentu dengan maksud agar mereka membantu menjualkan bukunya. Di luar itu ada yang membantu mengedit, juga melayout, dan terutama kasih semangat pantang menyerah. Sekarang sudah bisa dipesan di situs Berdikari dan Marjin Kiri. Untuk reseller, sila menghubungi kedua toko daring tersebut. 

Tokyo Ueno Station, Yu Miri

“Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Suara itu datang dari seorang gelandangan tua, yang menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di Taman Ueno, Tokyo, bersama tuna wisma lainnya. Ia hanya berusaha menyambung hidup dari hari ke hari, dengan sisa-sisa makanan yang disumbangkan dari restoran atau toko serbaada. Jika musim dingin atau badai menghantam, mereka hanya perlu berlindung di gedung-gedung museum, yang memberi ruang-ruang hangat bagi mereka. Saya pernah melihat sendiri gelandangan-gelandangan Tokyo ini, dan yang mengejutkan, mereka seringkali menjadi tuna wisma bukan karena tak punya rumah, tak (pernah) memiliki pekerjaan, atau bahkan tak punya keluarga yang mau mengurus (meskipun alasan-alasan itu bisa saja berlaku untuk beberapa di antara mereka). Seringkali mereka memilih menjadi gelandangan karena itu adalah pilihan yang paling masuk akal, sebab pilihan lain lebih tak tertanggungkan. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Ini juga merupakan suara novel ini secara keseluruhan, Tokyo Ueno Station karya Yu Miri. Kita bisa melihat kehidupan, terutama kehidupan pasca perang, menghajar habis seorang lelaki tanpa belas kasihan. Jepang selepas perang memang hanya sebentar saja merasakan masa suram. Ditandai oleh Olimpiade 1964, gelombang kebangkitan ekonomi merebak ke seluruh negeri, meski denyut terbesarnya berada di pusat: Tokyo. Anak-anak muda dari kampung-kampung terseret ke kota itu, demi membebaskan diri dari kemiskinan, demi uang dan hidup yang lebih baik. Mereka memang memperoleh apa yang mereka cari. Uang yang beberapa kali lipat dari yang bisa mereka hasilkan di daerah asal, selain bisa menopang hidup sendiri di kota, sebagian bisa dikirim ke rumah untuk membiayai hidup istri, anak-anak, bahkan orang tua dan adik-adik. Sekaligus mereka memperoleh kutukan dan siksaannya: kehilangan keintiman keluarga, tak melihat dan tak mengenal bagaimana anak-anak tumbuh. Mereka mesin, sekrup paling kecil yang bekerja paling keras. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Seorang gelandangan bernama Shige juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan seringkali jadi sia-sia dan tak berdaya di hadapan kejamnya hidup. Tokoh kita sering membayangkan Shige dulunya seorang guru, atau sejenisnya. Ia senang membaca. Ia mengumpulkan majalah dan buku bekas, dan mengumpulkannya di dalam tenda miliknya. Tak hanya itu. Ia sejenis perpustakaan berjalan. Ia tahu berbagai peristiwa, ia bisa memberi latar belakang mengenai berbagai monumen di kota itu, sebagaimana ia bisa menggambarkan peta dan lanskap kota, serta perkembangannya. Tapi, entah apa pun yang terjadi padanya, ia juga dihancurkan oleh hidup, yang menyeretnya tinggal di dalam tenda gelandangan hanya berteman seekor kucing, yang akhirnya harus ditinggalkannya juga ketika ajal kemudian menjemput. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Ketika kita pergi ke kota, pulang setahun sekali, kerja keras mengumpulkan uang demi istri, orang tua, dan anak-anak, hidup sementara mungkin memiliki tujuan. Tapi, apa yang terjadi jika kemudian anakmu mati di pondokannya, padahal ia baru saja meraih prestasi di kuliahnya? Lalu, satu malam, istrimu juga mati dalam tidurnya, di sampingmu? Apa makna hidup jika seseorang tak lagi memiliki alasan untuk itu? “Kau tidak beruntung,” kata ibunya, dan apakah itu cukup untuk menjelaskan hidup yang sial? Novel ini bagus, bukan karena memaksa kita melihat bengisnya sisi lain kehidupan, tapi karena ia memperlihatkan bahwa yang bengis itu justru dihasilkan oleh proses yang sama yang membuat kehidupan, di sisi yang ekstrem lain, demikian gemerlap. Atau jangan-jangan kehidupan ini memang tak lebih dari upaya menggelandang. Kita berharap bertahan hidup hari ini, agar besok bisa mengulangi perjuangan yang sama dalam upaya untuk kembali bertahan hidup.

Celestial Bodies, Jokha Alharthi

Dalam beberapa kali penerbangan ke Eropa, melintasi garis pantai semenanjung Arab bagian timur sambil memperhatikan peta di layar kecil depan tempat duduk pesawat, saya sering melihat titik sebuah kota bernama Muscat. Saya sering bertanya-tanya, kota macam apakah itu? Apakah penuh dengan gunung-gunung batu, padang gersang dengan diselingi petak kurma semacam Madinah atau Mekah? Atau serupa Dubai dan Abu Dhabi, yang gemerlapnya sering saya lihat di video? Melalui novel Celestial Bodies, karya Jokha Alharthi, saya bisa mengintip sekilas. Sekilas saja, karena novel ini justru berlatar lebih jauh lagi, ke sebuah kota pinggiran di negeri bernama Oman tersebut. Sebuah pembacaan yang membawa saya ke sebuah negeri asing, dengan lanskap yang asing, bahkan hubungan-hubungan sosial yang dalam tingkat tertentu juga terasa asing. Seasing membayangkan “kuburan gersang tanpa pepohonan”, sebab sejauh yang saya ingat, kuburan selalu merupakan tempat paling teduh. Saya membayangkan novel ini semacam ensiklopedia berbagai karakter perempuan (plus beberapa karakter lelaki, yang saya rasa lebih sebagai pendamping dan bumbu penyedap, meskipun salah satunya menjadi narator penting, Abdullah). Perempuan-perempuan yang terhubung satu sama lain oleh hubungan darah, perkawinan, seks, bahkan perbudakan. Dibuka dengan Mayya, anak pertama dari tiga bersaudara perempuan, yang di bagian-bagian awal kita tahu sering berdoa, “Tuhan, aku hanya ingin melihatnya,” (kita tak tahu siapa yang ditunggunya) kemudian dilamar oleh seorang lelaki anak saudagar kaya, Abdullah. Mereka menikah, tapi saat suaminya bertanya, “Apakah kau mencintaiku?” Mayya tak pernah menjawabnya. Pun, mereka memiliki anak, salah satunya London yang menurut bibi dan neneknya, “Macam mana memberi anak dengan nama kota orang-orang Kristen?” Kelak, kita tahu London memiliki hubungan asmara yang naif dengan seorang penyair gembel, berpendidikan tinggi dan calon dokter yang cemerlang, tapi dibutakan cinta. Adik Mayya yang kedua, Asma, merupakan gadis yang penuh rasa ingin tahu, dan teman terbaiknya adalah buku-buku klasik yang ditinggalkan kakeknya. Ia mencintai pengetahuan, penuh rasa ingin tahu, tapi akhirnya menerima lamaran seorang lelaki anak imigran, dari keluarga pelarian karena konflik perang saudara di Oman. Keluarganya mengungsi ke Mesir sebelum pulang kembali. Adik bungsunya, Khawla, barangkali yang paling tragis: sewaktu kecil ia berjanji dengan sepupunya bahwa mereka kelak akan menikah. Si sepupu malah pergi ke Kanada, dan si gadis tetap menunggu, menolak belasan lamaran. Sepupunya? Di Kanada ia punya pacar dan kumpul kebo. Ketika kehabisan uang, ia pulang dan akan memperoleh warisan, hanya jika ia mengawini Khawla. Ia memang menikahinya, tapi meninggalkannya lagi ke Kanada, balik ke pacarnya. Ia hanya pulang dua tahun sekali, hanya untuk menidurinya dan meninggalkannya dalam keadaan bunting. Sepuluh tahun menghasilkan lima anak. Sekali lagi, jangan terkejut jika menemukan begitu banyak karakter, terutama perempuan di novel ini, dan mereka memiliki kisahnya masing-masing. Beberapa berkelindan, yang lain berjalan sendiri. Ada kisah tentang perempuan Badui bernama Qamar, yang mencintai seorang lelaki beristri. Tidak, ia tak ingin merebut lelaki itu. Tak menuntutnya untuk dinikahi. Ia bahagia hanya menjadi kekasih tersembunyi. Tapi justru si lelaki yang menderita, merasa “tak memilikinya”. Kelar membaca novel ini, entah kenapa, memberi saya tidur yang tak nyaman hampir sepanjang malam. Berkali-kali saya merasa berada di hadapan perempuan-perempuan ini, juga para lelakinya, dan harus menghadapi problem-problem mereka, yang bagi saya terasa berat dan memberi efek depresif. Barangkali pengetahuan saya yang tak seberapa tentang adat kebudayaan Arab, sejarah Oman yang nyaris tak tahu apa-apa, dan kesusastraan mereka yang jauh dari radar, keterasingannya memberi saya rasa penasaran sekaligus ketidaknyamanan. Seperti salah satu fabel yang dikisahkan di tengah novel ini, saya seperti seekor serigala yang mengetuk kandang, berpura-pura jadi induk kambing. Dua anak kambing terperdaya dan saya memakannya, memakan isi novel ini, sebelum lelap tak berdaya dalam kekenyangan.