Aditya Ghozali (Pertanyaannya panjang, tapi saya penggal untuk hal yang saya pikir esensial saja): Dan kata mereka [penerbit], fiksi saya bukanlah bacaan fiksi yang populer. Susah sekali menembus penerbit yang di kuasai pasar buku pop. Apakah usaha, waktu, pikiran dan tenaga yang saya kuras tidak manfaat, dan sebaiknya saya berhenti atau tetap melanjut? Bagaimana cara mas Eka dahulu berjuang dan adakah penerbit yang masih mencari naskah berbau sastra?

Pertama-tama, lupakan saja pikiran soal berbau sastra atau tidak. Penerbit yang (mengaku) hanya menerbitkan karya sastra pun bisa menolak karya yang (dipikir penulisnya) berbau sastra. Penerbit punya alasan masing-masing untuk menerbitkan sebuah naskah. Penulis bisa mengikuti kemauan mereka, bisa pula tidak. Novel pertama saya ditolak banyak penerbit, tapi saya pikir itu bukan cerita penting. Sebagian besar penulis mengalaminya. Kamu bukan satu-satunya orang yang dikacangin penerbit. Tak perlu kesal soal itu, juga tak perlu bangga. Pertanyaanmu yang paling penting adalah, “Sebaiknya saya berhenti atau tetap melanjut”? Dan yang bisa menjawab hanya kamu. Jawabanmu akan menunjukkan penulis macam apa dirimu, sekarang dan kelak.

(dari Tanya dan Jawab)