Eka Kurniawan

Journal

Tag: Yasunari Kawabata

Tsukuru yang Tidak Berwarna

Tak terasa sudah lebih dari setahun saya tak membaca novel Haruki Murakami. Dibandingkan 1Q84, saya lebih menikmati novelnya yang baru, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage. Novel itu mengingatkan saya kepada novel-novel terbaiknya (menurut saya), novel-novel yang pendek. Seperti biasa, judul novel merujuk pada sebuah lagu/komposisi, yang di novel itu sering dimainkan dengan piano oleh salah satu tokohnya. Bisa dibilang novelnya tak seabsurd di novel-novel tebalnya, terutama yang paling garing 1Q84, kecuali kisah tentang kota kucing. Kisah tentang Tsukuru lebih realis, meskipun tentu saja kita akan menemukan hal-hal magis di beberapa tempat (misal tentang mimpi Tsukuru, atau kisah tentang ayah temannya bertemu dengan orang yang tahu kapan akan mati). Sambil mengingat novel-novelnya yang lain, saya rasa hal terbaik dari Murakami adalah, ia bisa menjadikan hal-hal sepele, atau hal-hal umum yang kita temui sehari-hari, menjadi sesuatu yang penuh-tafsir. Perhatikan di novel ini: ia bisa membawa kita membicarakan tentang makna stasiun kereta, tentang makna orang-orang Jepang yang berjejalan masuk ke MRT, bahkan tentang apa artinya memakai mobil Lexus. (Di novel-novelnya yang lain, kita bahkan bisa diajak untuk setidaknya berpikir apa maknanya memasak spagheti sendirian, apa artinya mencari kucing hilang, dan lain-lain). Tentu saja kaum pengamat budaya populer sudah biasa melakukan hal ini, dan Murakami saya kira salah satu penulis yang memang sangat sadar tentang budaya populer ini. Ada satu hal lain yang saya baru menyadarinya: tokoh-tokoh Murakami umumnya masih muda. Jika bukan lajang, biasanya baru menikah atau menikah dan tidak punya anak. Ini sedikit mengingatkan saya pada tokoh-tokoh Knut Hamsun. Apalagi tokoh-tokoh kedua penulis ini biasanya juga bisa dikatakan terasing di masyarakat. Tentu dengan sedikit perbedaan: tokoh-tokoh Hamsun biasanya memang aneh, secara sadar membuat jarak dari masyarakat. Sementara itu tokoh-tokoh Murakami menjadi aneh karena terpental dari masyarakat. Di novel ini, misalnya, Tsukuru yang awalnya biasa-biasa saja (anak sekolah, dengan teman-teman dan cita-cita), harus terpental dari masyarakat karena tiba-tiba keempat teman dekatnya memutuskan “tak mau ditelepon dan berbicara dengannya lagi.” Masyarakat (dalam hal ini keempat temannya), menendang dan mengasingkannya. Membandingkan tokoh-tokoh Murakami dengan Hamsun saya kira bisa menjadi tinjauan lebih jauh yang menarik, terutama karena kedua penulis memiliki akar pengaruh yang sama: Dostoyevsky. Apalagi ketiganya memiliki kecenderungan untuk masuk ke kejiwaan tokoh-tokohnya secara mendalam. Meskipun begitu, saya melihat ada juga perbedaan Murakami dari Dostoyevsky. Di karya-karya Dostoyevsky, dengan tokoh-tokoh yang “terasing” dari masyarakat (yang paling terkesan oleh saya selalu Prince Mishkin di The Idiot), tokoh-tokoh itu ada di sana untuk mengolok-olok sistem masyarakat (moral, politik, budaya). Dalam novel-novel Murakami, termasuk novel Tsukuru ini, justru sebaliknya: Murakami lebih senang mengolok-olok individu melalui kaca mata “sistem masyarakat”. Kita menertawakan Tsukuru yang dibuat hancur oleh “persahabatan”, misalnya. Atau bagaimana sistem industri, kapitalis, melalui sistem kereta Tokyo, menertawakan kaum pekerja yang pulang-pergi rumah-tempat kerja dengan luyu. Tentu saja telaah lebih mendalam mengenai tokoh-tokoh mereka perlu dilakukan, tapi setidaknya itulah yang terlintas oleh saya (anggap saja ini sebagai spekulasi). Kembali ke Murakami dan bagaimana ia menafsir hal-hal keseharian, tentu saja pada dasarnya apa yang dilakukan Murakami dilakukan banyak penulis lain. Setiap novel pada dasarnya, selain bicara tentang tokoh dan peristiwa, juga bicara mengenai benda-benda dan momen-momen. Di novel-novel Kawabata, selain menemukan tokoh-tokoh yang diliputi hasrat seksual, kita juga menemukan benda-benda dan momen-momen: motif burung bangau di kain, upacara minum teh, dan lain-lain. Benda-benda dan momen-momen itu merupakan wilayah tafsir di mana kita bisa masuk ke kejiawaan tokoh (atau bahkan masyarakat, generasi, peradaban). Murakami melakukannya juga tapi dengan benda-benda dan momen-momen yang awalnya tampak tak seksi karena terlalu biasa (karena sifatnya yang barangkali global): lagu pop, Google, Facebook, atau bahkan kaus bergambar band rock. Meskipun begitu, membayangkan Murakami melulu dengan benda-benda dan momen-momen keseharian itu saya rasa mengalihkan kualitas sesungguhnya dari karya-karyanya: kisah mengenai watak-watak. Dan novel ini sebagaimana novelnya yang lain, tetap saja bicara tentang manusia dan wataknya (dan bagaimana watak ini memengaruhi kisah hidupnya). Terutama di novel ini, melebihi novel-novelnya yang lain, ia memperlihatkan salah satu tokoh yang barangkali desain wataknya paling menonjol: Tsukuru yang tidak berwarna.

Gabriel García Márquez, Obituari

Bangun tidur dan melihat berita ringkas: raksasa kesusastraan abad 20, Gabriel García Márquez wafat pada umur 87 tahun (17 April 2014). Seharusnya itu tak mengejutkan. Ia sudah uzur, dan beberapa hari lalu masuk rumah sakit, dan alam semesta seperti juga manusia menciptakan segala sesuatu tidak untuk terus hidup abadi. Tapi bahkan dengan kesadaran seperti itu, serasa ada lubang menganga dalam peta kesusastraan di benak saya. Bagi saya, ia melebihi apa yang sering disematkan kepadanya: peraih Nobel Kesusastraan, patriarch fenomena el-boom, maskot realisme magis. Bagi saya, ia sesederhana raksasa kesusastraan abad 20 dengan sedikit pesimisme, barangkali kesusastraan dunia tak akan pernah menghasilkan manusia semacam ini lagi. Bagi saya, hanya sedikit raksasa pernah dilahirkan dan dikenal. William Shakespeare dan Miguel de Cervantes merupakan raksasa yang menandai suatu era kesusastraan modern. Setelah itu, saya ingin menyebut Herman Melville, yang terlihat seperti anak kandung dari perkawinan tak sah Shakespeare dan Cervantes. Abad 19 merupakan abad yang barangkali paling gegap-gempita, manusia mulai menengok wilayah yang selama ini seringkali diabaikan: di dalam dirinya. Era ini ditandai dua raksasa dari Rusia: Tolstoy dan Dostoyevsky. Di luar nama-nama itu, ada nama-nama penulis, ratusan atau bahkan ribuan. Mereka penulis-penulis hebat, besar, mengagumkan, tapi saya rasa kesusastraan dunia sebelum abad 20 hanya perlu dipatoki oleh lima nama itu saja. Anda bisa berdebat soal ini, tapi saya yakin kelima nama tersebut tak akan ke mana-mana. Mereka dengan penuh kepongahan telah mengencingi hampir seluruh karya kesusastraan yang diciptakan umat manusia. Abad 20 datang, dengan sisa-sisa kolonialisme yang renta, dua perang dunia, revolusi di mana-mana, negera-negara baru diciptakan, globalisasi merekatkan mereka. Penulis lahir di setiap sudut dunia, mereka hebat dan melahirkan karya-karya besar; tapi seperti sebelumnya, semua itu hanya perlu diberi tanda sederhana: abad ini melahirkan raksasa tunggal. Gabriel García Márquez. Gurunya orang-orang hebat, yang menyiapkan bahu mereka untuk pijakan raksasa ini dengan kerendahan hati: Hemingway, Faulkner, Kawabata, Kafka. Baru beberapa hari lalu saya membicarakannya dengan seorang teman, terutama mengenai esainya, yang saya rasa merupakan esai paling cemerlang tentang teknik menulis berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Hemingway”. Esai itu pendek saja, bercerita tentang pertemuan Márquez muda di jalanan Paris bersama Hemingway dan isterinya. Sebenarnya bukan pertemuan: si penulis melihat Hemingway di seberang jalan dan berteriak serta melambaikan tangan ke arahnya. Teman saya berkomentar pendek, sesuatu yang saya rasa sangat penting untuk diperhatikan sebab ini merupakan sedikit kunci untuk mengenali cara kerja menulisnya. “Bisa saja pertemuan dengan Hemingway itu bohong, tapi ia menuliskannya seolah-olah itu benar terjadi.” Jujur, komentar teman saya membuat saya sedikit terpaku. Selama bertahun-tahun membaca dan mengagumi esai itu, saya tak pernah terpikir oleh kemungkinan tersebut. Seluruh klaim pertemuan Márquez dengan Hemingway itu hanya datang dari si penulis sendiri, tapi peduli setan, esai itu tak banyak membicarakan pertemuan tersebut. Esai itu kemudian lebih banyak bicara tentang perbedaan cara menulis Hemingway dan Faulkner, yang saya rasa pendapatnya benar. Ia sendiri pernah berkata, satu fakta meyakinkan dari sebuah cerita, akan membuat seluruh cerita tersebut meyakinkan. Di esainya, ia membuktikan hal itu. Kecemerlangan gagasannya mengenai kepenulisan Hemingway dan Faulkner, membuat klaim pertemuan dirinya dengan sang maestro di jalanan Paris membuat itu juga tampak demikian meyakinkan. Kita tak lagi peduli benar atau salah. Seperti kebanyakan fans, saya membaca hampir seluruh karyanya. Juga wawancara dan biografi tentangnya. Juga ulasan orang tentang karya-karyanya. Satu yang saya ingat, Salman Rushdie pernah bicara tentang karya-karyanya, yang saya lupa di esai mana. Tapi saya ingat, Rushdie bicara tentang pola. Márquez selalu memulai cerita dari tengah, kemudian maju, lalu mundur, maju lagi, mundur lagi. Tapi bagi saya, itu tak sesederhana plot yang dibuka di tengah lalu maju lalu mundur. Márquez, ia seorang jurnalis dan belajar banyak dari dunianya, sadar sekali bahwa hakikat dari para pendongeng adalah memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Dalam jurnalisme, pembaca ingin tahu terhadap satu peristiwa dan reporter atau penulis berita menyuguhkan apa yang ingin diketahui itu. Dalam penulisan fiksi, sebagaimana dalam dongeng, si penulis menciptakan sendiri rasa ingin tahu tersebut. Di sinilah, menurut saya, Márquez mempergunakan teknik yang akan membuatnya banyak dikenang: foreshadow, peramalan, pembocoran cerita. Jauh sebelum terjadi, ia sudah membocorkan mengenai Kolonel Aureliano Buendia akan berdiri di depan sederet regu tembak, bahkan sejak di kalimat pertama novel One Hundred Years of Solitude. Dan puncak teknik ini, bagi saya terletak di karya pendeknya, Chronicle of a Death Foretold. Peramalan ini tak hanya ia lakukan di pembukaan cerita, tapi terus ia lakukan di sepanjang cerita. Itulah kenapa, seperti Rushdie bilang, ada kesan bahwa alur plotnya maju-mundur. Tidak. Saya merasa ia melakukan cara bercerita yang relatif konvensional dengan alur maju, tapi dengan sisipan foreshadow. Sekali lagi, Anda bisa memperdebatkan ini. Dan saya yakin, perdebatan apa pun hanya akan menegaskan ia sebagai penulis jauh melampaui para penulis dari generasinya. Ia raksasa tak hanya untuk Amerika Latin. Ia telah mengencingi hampir seluruh karya di belahan dunia mana-mana. Saya tak tahu di abad 21, atau setidaknya di masa kita hidup, kita akan menyaksikan kelahiran raksasa lain atau tidak. Dan karya-karyanya, hampir sebagian besar, akan berada di rak dengan label pasti. Klasik. Selamat jalan, Patriarch.

PS: Ini beberapa tulisan saya tentang Gabo di arsip, barangkali tertarik juga membaca:

Kritik

Kemarin sore, saya ngobrol dengan Maman S. Mahayana. Ia akademisi, kadang orang menyebutnya juga sebagai kritikus. Ia yang saya sebut menganjurkan “kritik sastra khas Indonesia” di tulisan saya sebelumnya di jurnal ini. Saya membaca soal itu di esainya, yang bisa ditemukan di internet dengan mudah. Dalam obrolan kami (ada Linda Christanty juga di antara kami), saya mencoba menangkap gagasan besarnya mengenai hal ini. Menurutnya, kritik sastra “barat” (sejujurnya saya tak terlalu suka istilah “barat” ini) seringkali tak cocok untuk menelaah karya sastra timur. Ia bercerita tentang kesusastraan Korea, tentang cerpen-cerpen mereka, yang tampak “berbeda”. Tak ada konflik, hampir tak ada fokus, dan kegemaran untuk menyimpang (digresi), tapi tetap saja sebuah cerita (saya tak paham kesusastraan Korea, jadi tak bisa berkomentar banyak). Juga pengaruh tradisi lisan yang sangat kuat. Baiklah, sementara mencoba memahami argumen dan gagasannya, saya perlu mengungkapkan pendapat saya sedikit lebih jelas. Pertama, membedakan barat dan timur dalam dikotomi tradisi tulis dan tradisi lisan, bagi saya merupakan penyederhanaan berlebihan. Meskipun perlu diperdebatkan, novel pertama yang kita kenal selamat sampai hari ini berasal dari Jepang: Tales of Genji, dari abad ke-11. Don Quixote (dari Spanyol) saja baru muncul beberapa abad kemudian. Dan ingat: kertas ditemukan di Cina. Dan tradisi lyric di barat, jelas menunjukkan karya yang akan dinyanyikan, artinya diucapkan, bukan dituliskan. Jadi siapa pemilik tradisi tulis dan lisan? Barat atau timur? Kedua, mengenai gaya bercerita yang nyaris tanpa konflik, senang melakukan digresi (yang mungkin dipengaruhi tradisi lisan, sekadar mengobrol), benarkah merupakan “kekhasan” sastra timur? (Saya sambil mengingat Kawabata, Murakami, dan tentu saja karya-karya klasik kita). Itu juga penyederhanaan berlebihan. Sangat mudah menemukan karya-karya “barat” yang melakukan hal itu. Memangnya apa konflik di novel One Hundred Years of Solitude? Novel itu cuma menceritakan sejarah sebuah keluarga saja, kok. Dan digresi? Bahkan Jacques the Fatalist, bisa disebut novel yang sangat merayakan digresi, melantur kemana-mana. Dan bagaimana dengan Tristram Shandy? Ketiga, selalu ada jurang antara teori dan kenyataan. “Teori sastra barat” saya yakin, jika urusannya cocok atau tidak cocok, juga tak selalu cocok untuk sastra barat sendiri. Maka demikian pula, jika kita ngotot menciptakan “teori sastra timur”, atau apa pun istilahnya. Teori, bagaimanapun, alat untuk mencoba memahami subyek. Seperti kita memilih kapak untuk membelah kayu dan pisau untuk memotong tomat. Kita menciptakan teori baru, karena merasa teori lama tak lagi memadai untuk memahami subyek. Dengan premis-premis saya di atas, bukan “kritik (atau bahkan teori) sastra khas Indonesia” yang kita butuhkan, melainkan “kritik (atau teori) sastra”. Jika teori yang ada itu tak memadai, kita coba membuat teori baru. Jika masalahnya kita merasa “ilmuwan barat” gagal memahami pantun, misalnya, maka kita sodorkan cara baru untuk memahaminya. Bukan karena kita orang Indonesia dan dengan begitu mengerti lebih baik tentang pantun, tapi karena argumen kita lebih kuat. Dan jika masalahnya kita terlalu terlena mempergunakan Strukturalisme (Prancis?) untuk menelaah karya sastra (Indonesia?), kita bisa mempergunakan alat lain, kok. Itu perkara memilih kapak atau pisau, memilih melempar pakai batu atau pakai botol. Nah, dengan asumsi itu, sebelum benar-benar menciptakan sebuah teori baru, pertama-tama kita harus melakukan hal yang sangat penting: kritik atas teori. Saya percaya, tradisi menciptakan teori tentu saja harus dibangun. Ini satu tradisi yang tak sekadar milik dunia sastra: itu merupakan bagian dari tradisi berpikir. Saya tak keberatan mengenai diciptakannya teori baru. Pada dasarnya kita harus membiasakan diri berpikir. Tapi pertama-tama, kita harus kritis terhadap latar-belakangnya. Dan tradisi menciptakan teori ini, sekali lagi saya kira harus dibangun melalui tradisi kritik atas teori. Nah, sebelum benar-benar menciptakan teori baru, pernahkan kita benar-benar melakukan kritik atas Strukturalisme Prancis, misalnya? Pernah melakukan kritik atas Formalisme Rusia? Pernah melakukan kritik atas Orientalisme? Poskolonialisme? Jangan cuma memakai teori-teori yang sudah ada, tapi kritik juga teori-teori itu, siapa tahu teori-teori tersebut hanya sampah buangan saja? Itu saya rasa pertanyaan mendasar yang muncul dari perdebatan pendek ini, pertanyaan mendasar untuk tradisi berpikir kita. Dan yang paling penting: kita menciptakan teori, bukan karena kita “timur” (atau Indonesia) dan mereka “barat”, tapi karena kita merasa memiliki argumen yang lebih baik, itu saja soalnya. Dan argumen ini, tentu saja tak hanya bisa meyakinkan orang-orang Indonesia saja, tapi semestinya bisa meyakinkan orang Ghana atau Eskimo sekalipun.

Beberapa Penulis Hendak Menguasai Dunia

Bar itu sepi saja. Ada desas-desus tempat itu sudah dipesan oleh beberapa penulis yang hendak membicarakan upaya mereka menguasai dunia. Di tempat parkir, mata-mata CIA, KGB dan Mossad berkeliaran. Selain si bartender, yang menggigil ketakutan, sementara itu hanya ada dua orang duduk terpisahkan meja, sambil menonton siaran langsung El-Clasico di layar TV. Di sebelah kiri, seorang Madridista bernama Javier Marías. Di seberangnya, si orang Catalan bernama Enrique Vila-Matas. Keduanya tampak tegang melihat ke arah lapangan di TV (saya tak ingat, pertandingan itu di Santiago Bernabéu atau di Camp Nou). Sebentar lagi bakal ada adu jotos, pikir si bartender. “Sangat ironis melihat cara kedua klub bermain,” komentar si bartender untuk mencairkan suasana. “Barcelona penuh nafsu untuk menguasai bola. Fasis dan seperti Franco. Sementara Madrid liar tak jelas, anarkis dari kepala ke kaki.” Kedua penulis menoleh dan melotot ke arah si bartender, dan mengumpat bersamaan: “Tutup mulutmu!” Tak berapa lama masuk seorang lelaki dengan napas ngos-ngosan. Ia mengenakan training, sepatu jogging, dengan t-shirt bergambar The Doors. “Bartender itu benar,” kata lelaki itu menenangkan keduanya. “Lihat cara kalian menulis. Kau orang Madrid, menulis dengan gaya Madrid. A Heart So White itu benar-benar novel untuk para ningrat, untuk para penakluk. Sementara Bartleby & Co. lebih tepat dibaca para gembel yang tiduran di emper stasiun sambil mengkhayal bisa meniduri model di iklan Banana Republic.” Yang baru datang itu penulis bernama Haruki Murakami, orang Jepang yang gelisah dengan bangsanya. Yang bosan dengan apa pun yang ditinggalkan Kawabata dan Mishima. Tak hanya bosan, ia membenci mereka. Itulah alasannya ia mau datang ke bar itu, untuk bersama-sama memikirkan cara menaklukkan dunia, menciptakan tatanan dunia yang baru, yang meleburkan Barat dan Timur. “Lagipula Liga Spanyol itu membosankan,” kata Murakami lagi. “Aku lebih suka melihat Liga Inggris.” Huh, kedua penulis Spanyol mendengus (oh, salah satu dari mereka mungkin tak begitu suka disebut penulis Spanyol, meskipun menulis dalam bahasa itu). “Itu karena Liga Inggris mau memakai pemain Jepang,” kata Vila-Matas. Murakami tertawa, bagaimanapun ia tak bisa membantah itu. “Kalian selalu senang dengan Barat. Kalian senang melihat Shinji Kagawa bermain untuk Manchester United, meskipun sebenarnya ia agak payah. Orang Korea yang beberapa tahun lalu itu jauh lebih baik. Hahaha, jangan melotot, Murakami-san. Aku tahu kalian benci orang Korea. Benci semua orang Korea, kecuali, yeah, Nona Kim Taeyeon dan Im Yoona dan beberapa temannya.” Vila-Matas kembali menambahkan, “Lihat tokoh-tokohmu. Semua makan spagheti. Semua novelmu bercerita tentang spagheti.” Dan kucing, Marías menambahkan. Murakami hendak membuka mulut, tapi pintu bar terbuka dan seorang gaucho masuk. Ia mengaku gaucho, tapi tampangnya tak mirip gaucho sama sekali, meskipun benar ia orang Argentina. Ia duduk di samping mereka dan Murakami melotot ke arahnya, “Bagaimana bisa orang ini, César Aira, ada di antara kita?” Memangnya kenapa? tanya Si Catalan. “Orang ini tak bisa dipercaya. Orang yang menulis novel berjudul The Literary Conference tapi malah menceritakan kloning dan ulat raksasa, dan menulis novel berjudul How I Became a Nun tapi tak ada cerita tentang suster, tak bisa dipercaya. Ia orang pertama yang bisa menjadi pengkhianat kelompok ini.” Sabar, Ronin, kata Aira kalem. Ronin dan gaucho mestinya bersahabat. “Untuk menaklukkan dunia, kita tak hanya membutuhkan penulis-penulis berani seperti kalian, tapi juga butuh penipu licik sepertiku. Aku pewaris sejati penipu licik sejati. Borges.” Semakin malam, bar mulai sedikit ramai. Berturut-turut muncul Orhan Pamuk dan Michel Houellebecq. Pamuk serta merta mengambil remote TV dan memindahkan saluran, yang segera mengundang protes Vila-Matas dan Marías. “Aku mau menonton Fenerbahçe melawan Galatasaray,” kata Pamuk. Tapi ia tak menemukan satu pun saluran yang menayangkan pertandingan itu. Marías tertawa dan berkata, “Hahaha, Liga Turki tak ditayangkan di TV sini. Hanya Liga Eropa ditayangkan di TV.” Pamuk protes, “Tapi aku kan juga Eropa?” Kali ini Vila-Matas yang tertawa, juga Houellebecq. “Ya, ya, Eropa. Separo Eropa. Makanya siaran sepakbolanya cuma siaran separo saja, nyangkut di satelit.” Mereka semua tertawa dan Pamuk kesal, mengambil telepon genggam dan mengirim pesan singkat untuk pacarnya, Kiran Desai, “Orang-orang Eropa ini menyebalkan, Sayang. Aku lebih suka berteman dengan orang Asia. Maksudku, pacaran dengan orang Asia.” Akhirnya Houellebecq yang mengambil alih TV, mengeluarkan DVD dan memasukkan satu cakram sambil berkata, “Sudah, kita mulai saja. Sebagaimana kujanjikan, aku akan presentasi bagaimana cara kita menguasai dunia.” Seseorang entah siapa terdengar bergumam, Dasar orang Prancis, senangnya presentasi. Ketika DVD itu menyala, ternyata itu video porno. Seorang perempuan tengah digauli dua lelaki. Mereka semua terkejut. Houellebecq buru-buru mematikannya. “Maaf, maaf, salah DVD. Itu tadi …” Jangan bilang itu bahan risetmu. Bilang saja kamu doyan nonton video porno, kata Vila-Matas. “Atomised dan Platform itu isinya seks doang. Semua tentang seks,” kata Pamuk. Houellebecq berdiri, mencoba membela diri. “Itu bukan seks. Itu tentang cinta. Aku menulis tentang cinta dengan cara Dostoyevsky menulis tentang Tuhan di novel-novelnya.” Murakami nyeletuk, “Seperti judul novelmu, Whatever!” Bartenderlah yang kemudian mencoba menenangkan keributan kecil ini. Houellebecq mengganti cakram DVD dan siap meneruskan presentasinya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang berkata dari sudut bar yang remang, “Tunggu, kita masih menunggu satu orang.” Semua menoleh. Entah sejak kapan ia ada di sana. Mereka berbisik satu sama lain, “Si Orang Hungaria. László Krasznahorkai.” Kehadiran lelaki ini membuat bar seketika menjadi dingin, dan udara terasa pekat. Semua kata-kata seperti tertahan di kepala. Keadaan yang kurang lebih sama seperti jika pemimpin gangster masuk ke ruangan. Yeah, pikir Murakami. Hungaria satu ini memang seperti gangster. Sosok maupun tulisannya. Tapi akhirnya mereka setuju untuk menunggu satu anggota lagi, sambil minum bir dan kentang goreng. Ia berdiri di pintu bar dengan sedikit kebingungan, lalu mencoba tersenyum menghampiri mereka sambil berkata, “I am sorry, I am late. I am from Indonesia. Writer Indonesia, eh, Indonesian writer. My name is …” Seseorang berkata, “Pakai saja bahasamu sendiri. Kita semua punya peradaban yang bernama penerjemahan.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk, duduk di salah satu kursi dan kembali memperkenalkan namanya. Eka Kurniawan. Yang lain saling pandang. “Enggak pernah dengar namanya,” gumam mereka. Si penulis Indonesia tersenyum dan kembali berkata, “Maaf, saya memang belum dikenal. Kalau boleh tahu, kalian siapa?” Maka masing-masing memperkenalkan nama: “Enrique Vila-Matas,” “Javier Marías”, “Haruki Murakami”, “Michel Houellebecq”, “László Krasznahorkai”, “dan aku César Aira.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk dan kembali bergumam, “Wah, sama. Kalian juga belum terkenal, ya? Saya juga belum pernah dengar nama kalian.” Sialan, gumam Houellebecq, aku selebriti tapi ternyata ada orang di kolong dunia belum mengenal namaku. Ia ingin mencekiknya. Dan si gangster László ingin menembak kepalanya.

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

Ini atau Itu?

“Nike atau Adidas?” Sekali waktu mungkin pernah mendengar pertanyaan semacam itu. Ini sejenis permainan dimana kita memilih satu di antara dua pilihan (seringkali keduanya mewakili sejenis persaingan di bidang tertentu), menjawabnya dengan cepat tanpa memikirkannya lebih dulu, dan konon dari situ bisa ditebak kepribadian atau selera kita. Pertanyaan itu akan berlanjut dengan, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Tapi jika kepada saya diajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis dalam bidang kesusastraan, dengan senang hati saya akan menjawabnya. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih. Hemingway atau Faulkner? Sudah jelas saya akan memilih Faulkner. Saya senang dengan sosoknya yang lebih kalem, tapi novel-novelnya memperlihatkan keliaran yang seringkali malah susah dipahami. Kawabata atau Mishima? Saya akan memilih Kawabata. Mishima seringkali terlalu mengerikan buat saya. Membaca Kawabata seperti duduk di taman selama berjam-jam hanya untuk melihat bunga-bunga sakura, tanpa kehilangan perasaan menderita dan sedih. Cervantes atau Shakespeare? Saya memilih Cervantes, meskipun saya cuma membaca satu novelnya, dibandingkan beberapa naskah drama Shakespeare yang saya baca. Saya merasa Cervantes lebih banyak menertawakan diri sendiri, sementara Shakespeare menertawakan dunia. Camus atau Sartre? Saya akan memilih Camus. Camus tampak lebih mendekati sosok novelis, sementara Sartre lebih mendekati sosok filsuf. Camus juga (sosok maupun karyanya) memberi saya gambaran mengenai pembangkang yang senyap. Gabriel García Márquez atau Mario Vargas Llosa? Jika pertanyaan ini diajukan sepuluh tahun lalu, saya akan memilih García Márquez; jika pertanyaan ini diajukan sekarang, saya memilih Vargas Llosa. Vargas Llosa terasa lebih modern bagi saya daripada García Márquez. Tolstoy atau Dostoyevsky? Saya memilih Dostoyevsky. Saya lebih suka penulis yang hampir mati dieksekusi, penuh utang karena judi dan doyan mabuk daripada penulis yang arif-bijaksana hingga nyaris menjadi sejenis nabi. Haruki Murakami atau Don DeLillo? Tentu Haruki Murakami. Saya lebih suka sastra Jepang daripada sastra Amerika. Miss Marple atau Poirot? Saya lebih suka Miss Marple, karena saya pikir, perempuan tua yang lebih banyak tinggal di rumah dan memecahkan banyak kasus kriminal terasa lebih keren daripada detektif swasta yang berkeliaran ke sana-kemari seperti Poirot. Agatha Christie atau Sir Arthur Conan Doyle? Saya memilih Sir Arthur Conan Doyle, dengan sedikit rasa humornya, yang hampir bisa dibilang tak ada di karya-karya Agatha Christie. The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde atau The Curios Case of Benjamin Button? Sudah tentu saya memilih The Curious Case of Benjamin Button, sebab saya lebih suka cerita yang lebih ke arah fantasi daripada ke arah fiksi sains, meskipun kedua genre bisa sangat bersinggungan satu sama lain. Michael Crichton atau Sydney Sheldon? Saya memilih Sydney Sheldon, dengan plotnya yang seringkali rumit dan karakter-karakternya yang mencengangkan. Novel-novel silat China atau novel-novel koboi Amerika? Mungkin saya akan menyukai kedua-duanya, tapi sayang sekali saya jarang membaca novel koboi, sementara novel silat China banyak disadur ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga dengan mudah saya memilih novel silat. Times New Roman atau Arial? Saya lebih senang menulis dengan Times New Roman, dan bisa dibilang tak pernah menulis dengan jenis huruf lainnya.

Tentang Terjemahan

Jika bisa, tentu saya ingin membaca Hiyakat Seribu Satu Malam dalam Bahasa Arab. Jika bisa, tentu saya juga ingin membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol, membaca novel-novel Kafka dalam Bahasa Jerman, membaca Kisah Tiga Kerajaan dalam Bahasa Cina, dan membaca semua novel Kawabata dalam Bahasa Jepang. Apa boleh buat, saya hanya bisa membaca dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Oh, saya juga bisa membaca dalam Bahasa Sunda dan Jawa, dengan sedikit terbata-bata, tapi tak banyak yang bisa saya baca dari kedua bahasa tersebut. Saya bukan polyglot, itu hampir mendekati keniscayaan. Saya pernah belajar Bahasa Belanda dan Prancis, hasilnya bisa dibilang sangat menyedihkan. Sangat tidak berbakat. Baiklah, kita bisa sedikit mengkhayal kesusastraan dunia (weltliteratur, kata Goethe) yang ideal ditulis dalam satu bahasa yang sama, atau semua manusia bisa memahami bahasa-bahasa yang berbeda satu sama lain. Keduanya terdengar absurd. Pilihan pertama akan membuat seluruh kesusastraan dalam tahap tertentu menjadi sejenis kemonotonan. Pilihan kedua akan membuat gagasan bahasa yang berbeda-beda menjadi sesuatu yang nonsens. Kedua pilihan mengingatkan kita, betapa perbedaan dan ketidakpahaman seringkali terasa lebih menyenangkan. Dalam hal ini, siapa tahu saya memang lebih menikmati One Hundred Years of Solitude daripada Cien Años de Soledad. Lebih menikmati Lapar daripada Sult atau Hunger. Tak ada jaminan membaca sesuatu dalam bahasa aslinya memberi kenikmatan yang lebih daripada terjemahannya, bahkan ketika kita menguasai kedua bahasa. Sekali lagi, tentu saja Anna Karenina dalam terjemahan Bahasa Inggris bukan karya yang sama dengan Anna Karenina yang ditulis Tolstoy dalam Bahasa Rusia. Tapi apa masalahnya? Saya tak harus menjadi Borges yang merasa menyesal mati tanpa sempat membaca Alf Layla wa Layla. Saya tak tahu rujukan ini tepat atau tidak, tapi Immanuel Kant kurang-lebih mengatakan, di dunia ini kita tak pernah bisa mengetahui sesuatu yang sejatinya. Sesuatu di dalam dirinya. Ding an sich. Yang kita tahu hanyalah yang tampak, yang disebut fenomena. Anggap saja karya-karya terjemahan sebagai fenomena. Kita dikutuk untuk tak pernah mengetahui yang sejati dari terjemahan itu. Memang, kita bisa belajar Bahasa Prancis untuk membaca L’Étranger (saya melakukannya, membacanya baris per baris dengan bantuan kamus dan The Stranger), tapi bahkan itu pun tak menjamin kita benar-benar tahu apa yang sesungguhnya ingin disampaikan Albert Camus. Lagi-lagi yang kita peroleh hanyalah fenomena. Mari kita bayangkan hal lainnya. Musik, misalnya: belakangan saya senang mendengarkan lagu-lagu (dan menonton) Girls’ Generation. Mereka bernyanyi dalam Bahasa Korea, atau Jepang. Saya tak tahu apa yang mereka nyanyikan. Saya tak peduli. Saya menikmati apa yang saya lihat dan saya dengar. Itu sudah cukup. Atau film: saya tak pernah berhasil menyelesaikan Les Misérables Victor Hugo. Novel itu penuh klise dan melodrama. Tapi saya menikmati filmnya (produksi 1998 dimana Uma Thurman menjadi Fantine). Kita bisa menikmati lirik lagu asing tanpa harus mengerti bahasa itu. Kita menikmati bahasa tersebut dalam interpretasi musik maupun ekspresi atau tarian penyanyinya. Kita juga bisa menikmati film adaptasi tanpa harus membaca novelnya. Saya rasa, hal ini berlaku juga untuk karya terjemahan. Saya ingat sekali waktu (seseorang menceritakannya kepada saya) ada sedikit lelucon soal terjemahan. Yang menjadi kasus adalah istilah “jalan tikus” yang diterjemahkan menjadi “road that full of rats” (kurang lebih begitu). Kita tahu, terjemahan itu salah. Seratus persen salah dan menyesatkan. Tapi mari kita lihat dari sudut pandang pembaca yang tak tahu: alih-alih membayangkan seseorang yang melewati lorong-lorong untuk memperoleh jalan pintas, ia membayangkan seseorang melewati jalanan penuh dengan tikus. Ia tak tahu yang sebenarnya (lorong-lorong jalan pintas), ia hanya memperoleh apa yang terbaca, fenomena (jalanan penuh tikus). Barangkali itu tak menjadi masalah. Ia bisa tetap menikmati karya itu, dan mungkin dengan lebih menyenangkan. Bagaimanapun, bagi saya melintasi jalanan penuh tikus terdengar lebih seru dan penuh petualangan daripada sekadar melintasi lorong-lorong jalan pintas. Saya tak tahu berapa banyak ketersesatan terjemahan seperti itu saya peroleh dalam karya-karya terjemahan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang saya baca. Tapi apa pedulinya? Pertama, saya tak tahu bahasa aslinya. Kedua, sejauh ini kenyataannya saya menikmati “kesalahan-kesalahan” tersebut. Bahkan mungkin belajar banyak dari hal-hal salah tersebut. Dan kita boleh sedikit membuat hipotesis: sebagian besar dari kita membaca kesusastraan dalam terjemahan dan kesusastraan dunia pada akhirnya dibangun oleh kesalahan-kesalahan terjemahan yang tak terhitung. Tapi percayalah, itu tak akan membuat kita sakit atau lebih buruk, dan kita akan baik-baik saja, sebagaimana kesusastraan yang belajar dari terjemahan-terjemahan yang salah barangkali menghasilkan para jeniusnya tersendiri.

Seberapa Tua Penulis di Rak Buku Saya?

Hal pertama yang terpikirkan ketika membaca novel-novel Roberto Bolaño adalah, betapa sedikitnya saya membaca karya para penulis dari generasinya. Ia lahir 1953. Saya membaca esai-esainya, yang dikumpulkan di buku berjudul Between Parentheses, dan terkejut oleh kenyataan ia membaca karya-karya penulis yang selama ini kurang-lebih (lebih banyak) saya baca. Oh, tentu banyak penyair dan penulis berbahasa Spanyol yang saya tak akrab, tapi lupakan bagian itu. Ia bicara tentang Borges, tentang Cortazar, dan beberapa yang juga saya baca. Tapi ia lahir 1953, dan saya lahir 1975. Jarak 22 tahun di antara dua pembaca, saya rasa seperti ribuan tahun cahaya. Seharusnya bacaan saya jauh lebih segar daripadanya. Seharusnya saya membaca lebih banyak Bolaño dan segenerasinya. Saya pergi ke rak buku, membuka halaman biografi singkat di beberapa novel, mencari siapa saja yang lahir di tahun 50an. Saya berharap bacaan segar saya tak sekering yang saya duga. Apa boleh buat, di sana lebih banyak mumi-mumi tua. Hemingway, Faulkner, Kawabata, Hamsun. Lebih bangkotan lagi, ada Tolstoy, Dostoyevsky, Chekhov. Bahkan Shakespeare dan Cervantes. Seharusnya nama-nama itu sudah selesai dibaca sebelum lulus sekolah menengah, sehingga di umur menjelang 40, barangkali bacaan saya jauh lebih segar. Saya kembali memeriksa tahun-tahun kelahiran penulis-penulis yang ada di rak buku saya, paling tidak yang saya suka. Syukurlah, saya menemukan bahwa Haruki Murakami lahir 1949. Mo Yan 1956. Herta Muller 1953. Orhan Pamuk 1952. Bahkan saya menemukan yang lebih muda dari tahun-tahun itu. Tak banyak memang, tapi saya pikir tak terlalu menyedihkan. Yang perlu saya lakukan barangkali berkunjung lebih sering ke toko buku. Saya tak terlalu yakin apakah ada gunanya pergi ke perpustakaan untuk tujuan semacam ini. Perpustakaan di sini lebih sering seperti museum berisi hantu-hantu penulis, daripada galeri cantik penuh nama-nama kontemporer. Saya mungkin perlu memberi perhatian pada nama-nama yang lebih muda. Saya pikir tak akan banyak yang bisa saya peroleh dari penulis generasi saya. Mereka belum banyak menerbitkan buku, dan di antara yang belum banyak itu, lebih sedikit yang menonjol, dan lebih sedikit lagi yang diterjemahkan (jika ia penulis dari bahasa yang asing untuk saya). Tapi mungkin saya bisa memperoleh banyak dari generasi penulis yang lahir tahun 50an. Akhir 40an paling tidak. Sangat bagus jika 60an. Oh, tak ada maksud aneh dari omongan saya tentang ini. Saya hanya merasa perlu bacaan yang lebih segar. Karya-karya yang memberi kejutan-kejutan kecil sebagaimana telah dilakukan karya-karya yang lebih tua. Seperti Bolaño bilang, dan saya setuju sehingga saya merasa perlu mengutipnya dan menjadikannya kata-kata saya sendiri, “Saya lebih menikmati membaca daripada menulis.” Dan di atas generasi saya, ada banyak buku-buku yang berangkali perlu ditengok. Buku-buku yang tak lagi membicarakan Perang Dunia II. Buku-buku yang tak lagi membicarakan jamuan teh di rumah tradisional Jepang. Tapi buku-buku yang mengisahkan orang-orang yang mungkin mampir ke 7Eleven, yang mendengarkan musik melalui iPod (ah, bahkan mendengarkan musik lewat Walkman pun terasa sudah usang sekarang ini). Tapi sambil memikirkan hal ini, sambil tergila-gila dengan apa pun yang ditulis Bolaño, rasanya saya tak bisa meninggalkan apa-apa yang telah ditulis oleh para pendahulu Bolaño. Para penulis yang lahir di tahun 30an, atau 20an, atau bahkan beribu tahun cahaya lebih tua dari itu. Karya-karya mereka, orang-orang pintar akan mengatakannya sebagai, klasik. Dan seperti dikatakan Italo Calvino di Why Read the Classics?, “Membaca karya-karya klasik itu lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.” Saya rasa itu alasan yang sangat bagus, sebagaimana membaca karya-karya kontemporer juga lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑