Eka Kurniawan

Journal

Tag: William Shakespeare (page 1 of 2)

How Fiction Works, James Wood

Realisme hanyalah salah satu genre dalam fiksi, tak bisa dianggap lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan genre lain. James Wood menyodorkan satu (sub?) genre lain: realisme komersil, sebagai salah satu brand paling kuat saat ini dalam fiksi. “… brand ini secara ekonomi akan direproduksi, terus dan terus.” Realisme (seperti genre lain) tak lebih dari satu tata bahasa dan seperangkat aturan. Karena direproduksi terus-menerus, ia menjadi konvensi, lalu menjadi kebiasaan. Memberontak atas konvensi ini? Ia akan menciptakan konvensi baru, tentu saja. “Konvensi ini, seperti metafor, tidak mati tapi selalu sekarat. Seniman senantiasa mencoba mengakalinya.”

*

Kenapa Don Quixote butuh Sancho Panza? Menurut James Wood, salah satunya adalah agar ada teman ngobrol. Bagaimana jika tak ada teman ngobrol? Si tokoh akan bicara dengan Tuhan (berdoa), sebagaimana terjadi di teks-teks keagamaan. Dalam naskah untuk pertunjukan, si tokoh akan bicara dengan penonton. Bicara kepada Tuhan kemudian kepada penonton merupakan perkembangan yang signifikan dalam teknik monolog, hingga lahirlah novel yang memberi ruang sempurna untuk apa yang disebut: ngomong (kepada diri) sendiri. Demikianlah evolusi monolog dan lahirnya arus-kesadaran.

*



Di tahun 2006, para polisi di wilayah paling garang di Mexico City diminta untuk membaca sastra. Tak tanggung-tanggung daftar bacaan mereka: Don Quixote, Pedro Paramo, The Labyrinth of Solitude, One Hundred Years of Solitude, hingga karya-karya Agatha Christie dan Edgar Allan Poe. Tujuannya, seperti diutarakan kepala polisinya, “Satu, agar polisi memiliki kosa kata yang lebih luas; dua, memiliki pengalaman tak langsung banyak aspek keduniawian (ya, seperti kata banyak orang, buku adalah jendela dunia); dan ketiga, mempertaruhkan hidupmu demi hidup dan harta orang lain membutuhkan keyakinan yang dalam … kontak dengan sastra diharapkan membuat petugas polisi lebih berkomitmen atas nilai-nilai yang harus mereka pertahankan.”

Terlepas dari perdebatan apakah tujuan sastra memang sepraktis itu atau tidak, menurut saya sih menarik, ya. Meskipun benar, menyibukkan diri baca buku untuk “mengenal dunia” terdengar seperti satu paradoks.

*

Wittgenstein pernah mengeluh bahwa kiasan-kiasan Shakespeare “dalam arti umum, buruk”. Mungkin yang dimaksud adalah metafora Shakespeare: coba tengok “the moody frontier of a servant brow”, dari Henry IV. Kata James Wood, ada pembaca yang akan keberatan bahwa “brow cannot be a frontier, and that frontier cannot be moody.” Tapi, ia melanjutkan, perumpamaan Shakespeare lebih sering merupakan dunia spekulatif daripada mekanikal, di mana pembaca (penonton) diminta untuk mencampakkan perbandingan-perbandingan yang akrab/biasa.

Sekarang mari tengok metafora Thomas Hardy dalam Far From Madding Crowd: “a scarlet handful of fire”. Segenggang pasir sih, baiklah. Tapi segenggam api? Lagipula siapa mau menggenggam api? Kembali menurut James Wood: Inilah justru kekuatan metafora, membuat yang akrab menjadi asing. Atau sebaliknya, membuat yang asing menjadi akrab?

*

Saya rasa memang tak perlu memberi komentar banyak tentang buku ini, yang pada dasarnya juga merupakan komentar atas pembacaan panjang James Wood atas novel-novel sejak Don Quixote (yang paling tua) hingga Terrorist John Updike, kecuali mengutip beberapa bagiannya yang menarik (dan ini sulit, sebab rasanya ingin mengutip seluruhnya). Ia bicara tentang strategi-strategi naratif yang berkembang bersama evolusi novel (termasuk bagian paling menarik tentang narasi-tak-langsung). Seperti telah dikatakan banyak orang, ini buku pendamping untuk para pencinta novel (fiksi secara umum), sebab ia menantang kita untuk membaca dengan cara yang segar dan berbeda.

Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra

Saya membuat judul jurnal ini “Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra” biar banyak yang baca, sebab sepengalaman saya bertahun-tahun menulis jurnal di sini, orang cenderung tertarik hal-hal semacam itu. Siapa sih yang enggak doyan duit? Kalau ada artikel tentang menghasilkan uang hanya dengan tidur delapan jam sehari, saya juga tergoda untuk membacanya. Kenyataannya, memang judul itulah yang terpikirkan ketika membaca novel karya Marek Hlasko, berjudul Killing the Second Dog. Apakah ini novel tentang menghasilkan uang dengan cara membunuhi anjing? Tak bisa dibilang begitu juga, meskipun memang ada anjing yang dibunuh. Adegan yang, demi sopan-santun kepada semua anjing, hanya diceritakan sekilas saja. Itu pun hanya pembunuhan kedua. Pembunuhan pertama dan ketiga, atau kesekian lainnya, tak diceritakan, anggap pembaca mengerti saja. Yang lebih tepat, ini novel tentang menghasilkan uang melalui kesusastraan, atau lebih sederhananya lagi, melalui kemampuan berkisah. Sebelum saya membocorkan bagian-bagian mengenai cara menghasilkan uang melalui kesusastraan, karena saya yakin ini bagian paling menarik dari jurnal sok tahu ini, izinkan saya melipir dulu memuja-muji novel ini di bagian-bagian lainnya yang tak bisa saya abaikan. Gaya menulisnya bisa dibilang brutal, tapi penuh adegan dan dialog lucu, terutama jika mengetahui sedikit saja tentang sejarah kesusastraan dunia, sebab sesekali novel ini sedikit mengejek Shakespeare, atau Sartre, atau Chekhov, bahkan seni peran Stanislavsky. Berkisah mengenai dua lelaki, Robert dan Jacob, yang menggelandang di negara gersang dan panas (dan bisa dibilang enggak ramah) bernama Israel di sekitar tahun 1950an. Ya, tak lama setelah Perang Dunia II dan negara itu menjadi tujuan banyak orang, Yahudi maupun bukan. Mereka dua orang cerdas, tapi bisa dibilang pecundang. Kere. Keluar-masuk bui. Tak punya uang. Kelaparan. Dikejar-kejar kreditor, dan dicurigai polisi. Tak hanya itu, nasib apes juga mengekori mereka terus. Hingga mereka menemukan satu cara brilian untuk menghasilkan uang, tak hanya untuk hidup tapi juga untuk sedikit bersenang-senang, melalui kesusastraan. Dunia yang tak asing bagi mereka. Yang satu sarjana sastra Inggris, yang lain sutradara teater. Bagaimana caranya? Tunggu dulu. Saya perkenalkan dulu penulisnya. Marek Hlasko bisa dibilang tipikal penulis pemberontak: muncul nyaris mendadak (entah dari mana), bikin gempar, lalu mati muda. Ketika kesusastraan Polandia tampak lesu selepas perang, ia muncul dengan karya-karyanya yang memperlihatkan arus baru. Di novel ini, misalnya, kita bisa melihat gaya ala-ala novel hardboiled, tapi pada saat yang sama penuh alusi-alusi biblikal layaknya novel-novel klasik Eropa. Telaahnya terhadap jiwa dan psikologi manusia, meskipun dibawakan dengan ringan dan cenderung untuk meledek, bagi saya (yang membacanya bertahun-tahun kemudian setelah terbit), terasa tetap segar. Ada kesan getir generasi pasca perang, tapi dengan humor dan ekspresi-ekspresi yang apa adanya, juga memberi kesan gairah hidup yang menyala-nyala. Setidaknya dengan hidup yang berantakan dan dunia yang suram, melalui kesusastraan (yang meskipun tak mereka yakini, tapi mereka senangi), keduanya bisa memperoleh 700 dolar Amerika. Enggak banyak, tapi untuk ukuran Israel di zaman itu, kau bisa hidup foya-foya. Jadi bagaimana caranya menghasilkan duit dari kesusastraan? Saya memutuskan untuk tak menjawabnya. Mending baca sendiri novelnya dan belajar dari dua sosok gila bernama Robert dan Jacob itu.

Tips Bahagia untuk Penulis

Saya punya cara untuk hidup lebih bahagia. Buka Goodreads, lihat buku-buku karya penulis hebat (sebut saja Orhan Pamuk, Mo Yan atau Herta Müller, yang kalibernya sekalian Nobel Kesusastraan), dan baca ulasan yang memberi buku mereka cuma satu bintang. My Name is Red disebut “membosankan”, “dibuat untuk menyenang-nyenangkan penulisnya, bukan pembacanya”, “saya kesulitan dengan kualitas rendah buku ini”, dan “apa yang disebut misteri pembunuhan itu sangat dangkal sebab kita tak benar-benar tahu siapa pembunuh dan korbannya”. Bagaimana dengan Red Sorghum? “Saya enggak lihat novel ini indah maupun menggugah”, “tak ada otensitas dalam usahanya menggambarkan kengerian perang”, “karakter-karakternya tak punya simpati terhadap kehidupan manusia”. Dan The Land of Green Plums? “Halusinasi pikiran sakit”, “Gaya puitisnya menjauhkanku dari karakter”, “kenapa sastra bikin kita mual?”, “plot dan karakternya jauh dari menyenangkan”. Bahkan One Hundred Years of Solitude aja ada yang nyebut (tentu dengan memberinya satu bintang saja) “cuma kumpulan anekdot” dan “gaya berceritanya datar”. Membahagiakan membaca ulasan-ulasan semacam itu, kan? Saya tak tahu siapa-siapa saja mereka yang memberi komentar-komentar tersebut, yang jelas saya bahagia membayangkan orang menjadikan kanon-kanon kesusastraan global tersebut sebagai barang tak berguna. Orang-orang ini mulai mempertanyakan, kenapa sih seleraku berbeda dengan ahli-ahli sastra ini? Apakah otakku bermasalah? Hahaha. Saya sendiri tak tahu jawabannya. Mungkin otak ahli sastra memang bermasalah. Mungkin otak si pembaca yang tumpul. Kadang-kadang saya sendiri bertanya-tanya, ya ampun, kayaknya novel semacam ini mungkin memang bukan seleranya. Kenapa dia maksa membaca? Terpengaruh ulasan yang hips di jurnal sastra? Terpengaruh penghargaan yang diperoleh penulisnya? Ujung-ujungnya geli melihat emosi yang meledak-ledak, barangkali karena kesal kenapa dunia memuja War and Peace sedangkan dia menganggap buku itu buruk minta ampun? Novel itu disebut “kering dan membosankan”, “berapa banyak pohon ditumbangkan untuk mencetak sampah ini?” dan “buku ini menghancurkan mitos populer bahwa jika buku itu tua dan dari Rusia, pasti bagus”. Pembaca-pembaca yang memberi satu bintang dan sedikit ngomel-ngomel ini barangkali merasa tertipu dengan reputasi buku-buku tersebut, dan siapa pun yang tertipu di depan mata, kita senang menertawakannya, dan tawa seringkali membawa kita kebahagiaan. Persis seperti acara-acara gags dan jebakan di televisi, yang menjebak dan menipu seseorang lewat kamera tersembunyi. Si korban tampak menderita, dan kita tertawa ngakak melihat penderitaannya. Hidup ini kalau cuma mencari bahagia sederhana, kan? Lihat saja penderitaan orang lain, dan kita setidaknya bisa senyum. Melihat penderitaan seorang pembaca menghadapi buku yang tidak disukainya saya rasa tidak mencederai siapa pun, juga tidak mempermalukan siapa pun. Kita bisa tertawa sendiri, dan pembaca itu juga menderita sendiri. Kita hanya mengintip penderitaannya. Baiklah. Saya ingin sedikit menambah dosis kebahagiaan saya. Apa yang dikatakan pembaca satu bintang untuk William Shakespeare, pujangga agung itu? Romeo and Juliet adalah “Cerita yang bodoh”, “kedua remaja ini baru kenal 3 hari, enggak perlu seheboh ini, lah”, dan “medioker seutuhnya”. Hahaha. Lebok tah! (Subtitle: makan tuh sastra!)

Shakespeare di Brooklyn Botanical Garden

Salah satu “pelajaran” yang secara sadar saya lakukan ketika memutuskan menjadi penulis (dan selama menjadi penulis) adalah menghapal nama-nama benda. Saya membeli kamus, ensiklopedia, bahkan kadang melatih diri menjawab soal Teka-teki Silang, dan selalu percaya buku-buku itu merupakan perkakas penting bagi seorang penulis. Bagaimana mungkin seseorang dengan gagah-berani memutuskan menjadi penulis tapi abai terhadap nama-nama benda? Terutama bagi penulis Indonesia, yang sebagian besar berbahasa ibu bukan bahasa Indonesia (misalnya Jawa, Sunda, dll), hal itu menjadi semakin penting. Saya lumayan mengenal banyak nama-nama ikan, burung, bunga, pohon dalam bahasa Sunda, tapi tentu saja sering kesulitan ketika harus menuliskannya dalam bahasa Indonesia di mana saya tumbuh tidak dengan kosa-kata tertentu (pertanian, perkebunan, dll). Bahasa Indonesia tidak mengenal kata untuk “anak sapi”, misalnya, sebagaimana bahasa Sunda dan Jawa mengenal pedet atau kirik untuk “anak anjing”. Ada banyak nama jenis pisang (buah yang paling saya suka) dalam bahasa Sunda, tapi susah menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Kamus dan ensiklopedia sangat membantu hal ini. Selama di New York, sejujurnya saya tak punya banyak waktu untuk kelayapan. Tapi begitu ada kesempatan, saya mampir ke Brooklyn Botanical Garden. Selain pengin sedikit menyegarkan suasana (tempat tersebut lebih banyak dikunjungi pelancong lokal yang membawa anak atau sekadar berpacaran, layaknya Ancol atau Ragunan di Jakarta), siapa tahu juga bisa memperbaharui wawasan saya mengenai tanaman, meskipun tentu saja yang dipamerkan lebih banyak keanekaragaman botani dari wilayah Amerika utara (dan ada satu wilayah didedikasikan untuk tanaman-tanaman dari Jepang). Yang mengejutkan saya, ada satu wilayah di sana yang diberi nama “Shakespeare’s Garden”. Taman kecil itu kembali mengingatkan saya kepada pentingnya pengetahuan mengenai nama-nama benda untuk penulis. Taman itu didesain dengan gaya Elizabethian, gaya yang merujuk ke masa hidup sang penulis. Tapi terutama yang mengasyikan, di taman itu ada beraneka tanaman yang pernah disebut Shakespeare, lengkap dengan kutipan dari drama atau sonetanya yang menunjukkan di mana tanaman itu dikutip. Misalnya dari Macbeth, ada kutipan yang berbunyi “Gall of goat, and slips of yew/Sliver’d in the moon’s eclipse …/Make the gruel thick and slab.” Kutipan itu ditancapkan tak jauh dari gerumbul English Yew (Taxus baccata) dengan daun-daunnya yang menyerupai jarum. Dan kutipannya yang terkenal, “What’s in a name? That which we call a rose/By any other word would smell as sweet” (dari Romeo and Juliet), tentu saja ditancapkan tak jauh dari gerumbul mawar. Sangat menarik mengenal nama-nama tumbuhan asing melalui kutipan-kutipan dari seorang pujangga, sekaligus mengagumi pengetahuan sang pujangga mengenai detail semacam itu, dan secara langsung juga mengenal sedikit karya-karyanya. Seperti kata pepatah, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Lebih dari itu, nama benda-benda, terutama dalam karya sastra, sebenarnya secara tidak langsung juga memberi watak kebudayaan dari mana karya itu berasal. Sebab di balik nama-nama pohon, bunga, binatang, perkakas, juga makanan, terdapat sejarah panjang pembuatan nama-nama itu di rumpun kebudayaan tertentu, di mana seorang penulis biasanya berakar dalam di sana.

Charles Dickens Museum

Ruang makan keluarga itu tak terlalu besar, dengan meja makan kayu di tengah-tengahnya. Paling banter enam orang bisa duduk mengelilingi meja tersebut, dan sering kursi-kursi itu berisi teman-temannya sesama penulis atau seniman lainnya. Charles Dickens akan duduk di kepala meja, menghadap ke arah jendela. Kita bisa mendengar roda kereta kuda sesekali lewat, dan sais kereta yang meneriakkan sesuatu. Di dalam ruangan sendiri, bisa terdengar bunyi sendok atau pisau berbenturan dengan permukaan piring, diselingi suara percakapan di antara orang-orang. Begitulah kurang-lebih suasana salah satu ruangan di Charles Dickens Museum. Pengunjung seolah tak hanya dibawa masuk ke suasana rumah sang penulis besar (salah satu yang terbesar setelah Shakespeare), yang memang pernah tinggal di bangunan yang sama yang kini menjadi museum, tapi juga melemparkan kita ke banyak hal yang berbau era Victorian. Dilengkapi perangkat suara yang juga memberi ilustrasi “suara-suara” yang mungkin bisa kita dengar di masa Dickens hidup di ruangan tersebut. Seperti saya bilang, rumah yang jadi museum itu merupakan rumah tempat Dickens pernah tinggal (di masa-masa awal pernikahannya). Jadi di kiri-kanannya, saling menempel seperti perumahan yang orang Jakarta sering menyebutnya sebagai “town house”, tentu masih ada rumah-rumah lain, berpenghuni, dengan gaya yang saya yakin masih dipertahankan sejak masa yang lama. Papan namanya kecil saja di depan pintu masuk, dan tanpa papan nama itu, orang pasti tak akan mengira itu museum. Rumah Dickens terdiri dari empat lantai: bawah tanah, dasar, lantai satu dan lantai dua. Kehidupan Dickens (dan isterinya) sehari-hari lebih banyak dihabiskan di lantai dasar dan lantai satu. Lantai bawah, yang lebih rendah dari permukaan jalan, merupakan teritori para pelayan rumah tangga. Itu tempat dapur dan tempat cucian berada, juga tempat Dickens menyimpan tabungan anggur dan beragam minuman keras lainnya (bukan tipe pemabuk sebenarnya, tapi ia memang suka menjamu teman-temannya, dan minum pada tingkat yang moderat). Sementara lantai paling atas, merupakan teritori anak-anak dan pengasuh mereka. Sebagaimana orang-orang “kaya” era Victorian, kita harus membayangkan pengurus rumah tangga dan pengasuh anak ini tidak hanya satu, tapi beberapa. Mereka dipimpin oleh “kepala pelayan”, yang dalam kasus Dickens, dijabat oleh adik perempuan isterinya (ketika mereka bercerai, si adik ipar memilih tetap bersama Dickens sebagai kepala pelayan. Ini di zaman itu sempat memancing kehebohan, dan sang kakak mengirimi si adik cincin ular, sebagai tanda “pengkhianat”. Ada hubungan khusus Dickens dengan adik iparnya? Entahlah, tak ada penjelasan soal ini. Di akhir hidupnya, Dickens dekat dengan perempuan(-perempuan?) lain). Satu hal yang menarik, yang baru saya ketahui setelah mengunjungi museum tersebut, adalah kebiasaan Dickens untuk membacakan karya-karyanya di depan teman-temannya. Itu biasanya dilakukan di drawing room, yang bisa disulapnya menjadi ruang teater kecil. Ia menjadi satu-satunya aktor (dan saya rasa ia aktor yang berbakat). Di ruangan itu, kita bisa menikmati suasana bagaimana Dickens membaca potongan karyanya, dan tak salah jika saya menganggapnya sebagai rock star. Ia salah satu yang memelopori tradisi penulis membacakan karyanya, bahkan hingga menyeberang ke Amerika. Saya, yang punya sedikit rasa sentimentil untuk menganggap semua penulis lama yang saya kagumi sebagai “orang tua”, merasa kunjungan ini semacam kunjungan “mudik”. Saya memandangi bagian-bagian rumahnya, seolah mengingat kembali detail-detail rumah tempat tinggal saya yang diingat dari masa kecil (bedanya, saya mencoba mengingat detail rumah Dickens melalui apa yang dia tulis di buku-bukunya). Saking khusuknya, saya lama sekali di sana hingga tiga putaran pengunjung bahkan melewati saya, dan saya terlambat untuk berkunjung ke tempat satunya lagi yang saya rencanakan, Sherlock Holmes Museum. Tak apa, mudik sebaiknya ke satu rumah dalam satu waktu. Dan ketika meninggalkan rumah tersebut, saya memperoleh kesan bahwa tujuan utama museum itu rasanya berhasil tercapai, setidaknya untuk saya: saya jadi ingin membaca lebih banyak karya Dickens.

2015-20-Charles-Dickens-Museum_01

2015-20-Charles-Dickens-Museum_02

2015-20-Charles-Dickens-Museum_03

Tanya-Jawab: Apakah Kemampuan Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menciptakan Karya Penting?

Bernard Batubara: Naguib Mahfouz adalah novelis yang karyanya dianggap kontroversial dan masuk daftar buruan kelompok Islam fundamentalis di negaranya. Orhan Pamuk sangat kritis dan diperkarakan oleh kelompok nasionalis di Turki ke meja persidangan gara-gara di sebuah wawancara sempat berbicara tentang pembantaian kaum Armenia pada masa pemerintahan Ottoman. Pramoedya Ananta Toer ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru karena karya-karyanya ditentang oleh pemerintah Orde Baru. Pertanyaan saya: Apakah hanya dengan menjadi ‘berbahaya’ seseorang dapat menjadi pengarang besar? Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Apakah tidak ada tempat di dunia kesusastraan bagi penulis yang ingin hidup biasa-biasa saja dan tenang-tenang saja?

Jika yang kamu maksud ‘berbahaya’ adalah bermasalah dengan penguasa atau masyarakat, ya jelas tidak harus begitu. Banyak penulis besar, dengan karya besar, hidup relatif biasa-biasa saja. Franz Kafka, jika kita membaca biografinya, lebih sering bermasalah dengan ayahnya, pekerjaannya, dan tunangannya, daripada dengan negara maupun masyarakat, tapi kita tahu pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia bisa dikatakan sangat besar. Shakespeare dalam tingkat tertentu bahkan menikmati hidupnya sebagai penulis sekaligus selebritas, bisa dibilang kaya-raya dan diakui oleh kerajaan sehingga ia memperoleh gelar kebangsawanan. Hidupnya baik-baik dan tenang-tenang saja. Dan kita bisa sebut bahwa separuh penulis di dunia ini bernenek-moyang kepadanya. Dan Mo Yan, yang belum lama ini memperoleh Nobel Kesusastraan, saya kira juga menikmati hidup yang tenang-tenang saja. Memang ada karyanya yang pernah dilarang (The Garlic Ballads diterjemahkan melalui edisi Taiwan yang tidak disensor, seingat saya), tapi tetap saja ia bisa dibilang hidup tenang-tenang saja. Sebab kita tahu dia “pejabat” pemerintah dan hubungannya dengan kekuasaan cukup akrab. Daftar ini bisa sangat panjang, tentu. Hubungan tidak mesra antara penulis (dan intelektual secara umum) dengan kekuasaan dan masyarakat, selain itu, saya kira ada kaitan yang erat juga dengan faktor penerimaan lingkungan tertentu terhadap gagasan-gagasan baru ataupun yang berbeda. Ketika Jose Saramago menerbitkan The Gospel According to Jesus Christ, sudah jelas menimbulkan reaksi yang keras dari umat Katolik, tapi saya tak pernah mendengar ada “fatwa mati” ditujukan kepadanya, dan novel itu beredar dengan bebasnya. Hal ini berbeda ketika Salman Rushdie menerbitkan The Satanic Verses, yang kita tahu telah membuat penulisnya harus bersembunyi bertahun-tahun. Sebagai seorang muslim, saya menikmati novel itu, menganggapnya sebagai “inside joke” (sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh sesama muslim yang mengerti) tentang insiden ayat palsu yang diturunkan oleh setan, tanpa harus mengikis rasa hormat kepada Rasul (bahkan meskipun Rushdie bermaksud menghina, saya tak akan membiarkan diri saya terhasut olehnya). Jika semua muslim bisa menerima dengan cara seperti itu, ya barangkali Rushdie tak harus sembunyi ke mana-mana. Dan mari kita berandai-andai tentang Pamuk: seandainya ia penulis Amerika dan ia bilang, “Kaum kulit putih Amerika telah membantai orang-orang Indian hingga banyak suku-suku mereka punah,” apa yang akan terjadi? Saya yakin tak ada yang menggiringnya ke pengadilan. Saya tak bermaksud mengagung-agungkan orang Amerika, toh di bagian lain, mereka juga punya kekonyolannya sendiri. Dan tentang Pramoedya, dia relatif hidup tenang-tenang saja sebelum Soeharto berkuasa, dan baik-baik saja setelah Soeharto tumbang. Kita perlu bersyukur bahwa saat ini kita relatif bisa mengatakan banyak hal. Kita bisa bilang negara bertanggung jawab terhadap ratusan ribu (atau jutaan) simpatisan komunis yang dibantai. Kita juga bisa bilang, rakyat Papua berhak menentukan nasibnya sendiri. Meskipun ya, tampaknya kita masih tak akan aman sentosa berkeliaran di jalan dengan kaus bergambar palu dan arit. Yang perlu diingat, ada banyak penulis dibuang ke Pulau Buru bersama Pramoedya, tapi kenyataannya bisa dibilang hanya Pramoedya yang “dibaca”. Tapi mari kita bicara sesuatu yang lebih mendasar. Menurut saya, pada dasarnya semua penulis bisa dianggap berbahaya. Kenapa? Sebab tugas utama seorang penulis adalah menularkan gagasan dari dirinya ke orang lain. Dan gagasan yang tertanam ke pikiran orang lain, seringkali lebih permanen dan membahayakan melebihi virus yang menyusup ke tubuh. Tentu saja ini terlepas dari fakta bahwa ada gagasan yang sederhana dan ada gagasan yang kompleks, besar, revolusioner, aneh, dan macam-macam lainnya. Sebuah novel barangkali bisa mengubah seorang yang rasis menjadi toleran, sebuah puisi barangkali bisa mengubah sebaliknya, yang toleran menjadi homofobia, misalnya. Adakah yang lebih berbahaya daripada virus pikiran? Virus pikiran ini bisa berkembang dengan wajar di masyarakat yang bisa menerima gagasan baru dan perbedaan, dan menciptakan dialog yang sehat. Tapi di masyarakat atau komunitas yang tak siap, seringkali menciptakan benturan dan tak jarang menimbulkan kekerasan (penulis terpaksa eksil, dipenjara, dibunuh, karena gagasan mereka tak bisa diterima). Ketika benturan-benturan ini terjadi, hanya ada dua hal bisa dilakukan seorang penulis: tetap tegak dengan keyakinannya, atau merunduk dan menyerah kepada tekanan. Perbedaan keduanya akan menujukkan perbedaan kepribadian mereka, yang barangkali sedikit banyak juga memengaruhi kepada etos dan karya mereka. Sekali lagi, tentu saja seorang penulis bisa hidup biasa-biasa dan tenang-tenang saja, dan banyak contoh kehidupan seperti itu. Tapi di saat-saat tertentu, kita juga melihat ada penulis (dan kaum intelektual) menempuh tradisi Socrates, ketika ada yang harus dikatakan, mereka memilih untuk mengatakannya apa pun risikonya. Sekarang untuk pertanyaan tersisa, Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Saya ingin menjawabnya melalui analogi. Apakah kemampuan berenang saja tidak cukup untuk seekor ikan mencatatkan namanya di sejarah kelautan? Saya tak ingin menjawab dengan cukup atau tidak cukup, tapi satu hal jelas: ada miliaran ikan pandai berenang, seekor ikan harus “stand-out” untuk membuatnya terlihat. Dan percayalah, di dunia ini ada jutaan penulis yang bisa menulis bagus, mungkin jutaan yang lebih bagus dari kita. Dan ada jutaan karya yang bagus juga. Ini logika sederhana saja: di antara jutaan penulis yang bagus kemampuan menulisnya, apa yang bisa membuat seseorang dilihat/didengar? Saya rasa perbedaan mencoloknya terletak pada gagasan dan visi (termasuk gagasan/visi bagaimana sebuah cerita seharusnya ditulis), yang apa boleh buat, kadang-kadang membuat mereka terpaksa meletakkan dirinya dalam keadaan, yang kamu sebut “berbahaya”. Lagipula ujung-ujungnya, apa sih tujuanmu menulis? Ingin mencatat atau dicatat?

Dua Novel Bohumil Hrabal

Too Loud a Solitude. Biar keren, ia memutuskan untuk memiliki sandal. Ibunya merajutkan untuknya kaus kaki. Ia pun pergi ke lapangan dengan sandal dan kaus kaki, untuk melihat daftar nama pemain utama yang akan turun bermain sepakbola. Tiba-tiba ia merasa sebelah kakinya menginjak sesuatu yang basah dan lembek. Ia tak berani melihat ke bawah, matanya tetap tajam menatap papan pengumuman. Mencari namanya. Di daftar pemain utama, kemudian di daftar pemain cadangan. Setelah menemukan namanya, ia akhirnya menunduk. Ia menginjak tai anjing. Ia buru-buru menatap kembali papan pengumuman. Kembali mencari namanya, berharap satu keajaiban terjadi. Ia menemukan namanya, dan kembali menoleh ke bawah. Kakinya tetap terbenam di kubangan tai anjing. Kita bakal menemukan fragmen-fragmen pendek semacam itu di novel ini, dan saya kira di novel-novelnya yang lain. Bohumil Hrabal tak hanya “Penulis Ceko terbesar yang masih hidup (saat ini sudah meninggal)” sebagaimana dikatakan Milan Kundera, tetapi bisa dibilang master yang mampu mengendalikan humor dan tragedi dalam satu tendangan. Kisah Hanta yang bekerja di kantor polisi sebagai penghancur kertas (banyak di antaranya buku-buku langka dan terlarang), merupakan novel politik yang cerdas. Diam-diam Hanta sering menyelamatkan buku-buku penting dari mesin penghancurnya, membawanya pulang dan membacanya di waktu luang. Tidak tanggung-tanggung ia membaca Goethe, Schiller, Nietzsche, Kant dan memiliki repro karya-karya Rembrandt, Monet, Cézanne, hingga membuatnya “tak bisa membedakan mana pikiran yang datang dariku dan mana yang datang dari buku.” Ini novel tentang sensor dan bagaimana pengetahuan diselamatkan, dengan gaya jenaka. Tentang bagaimana pengetahuan dihancurkan, tapi diselamatkan di kepala manusia. Sementara buku-buku terus dihancurkan setiap hari, di malam hari, Hanta menemukan dirinya larut dalam dunia yang lain: ia melihat Yesus berdialog dengan Lao-tze, dan para filsuf membicarakan surga, berbaur dengan kenangannya atas gadis gipsi, dan pacarnya yang selalu sial namun akhirnya malah menjadi malaikat. Gaya berceritanya yang ekspresif, di tengah alur cerita kita seperti menemukan percikan-percikan fragmen warna-warni, kadang-kadang tentang filsafat, kadang sesepele tentang bir, lain kali tinjauan ringkas mengenai kaum Gypsy, di halaman lain ulasan sekelebat mengenai Hitler. Novelnya saya kira mendekati apa yang menurut saya merupakan novel ideal: bermain-main secara serius, atau keseriusan yang main-main. Kita bisa melihat filsafat, perang, agama, pengetahuan menjadi olok-olok yang menggelikan di novelnya, tapi pada saat yang bersamaan ia bisa membicarakan kehidupan sehari-hari, hal-hal banal semacam pita yang jatuh ke tumpukan kotoran manusia menjadi sesuatu yang penting. Lebih dari itu, Hrabal melakukannya dengan sangat padat dan ringkas, tanpa membuat novelnya menjadi sejenis sinopsis. Di bawah rezim komunis Ceko (dan pendudukan Sovyet, saya kira), kisah Hanta dengan mesin penghancur bukunya menjadi sejenis paradoks menggelikan sekaligus memilukan. Hanta yang bekerja dengan penuh gairah, yang merasa dirinya adalah apa yang dia kerjakan, dengan kedatangan mesin dan teknologi baru (yang diharapkan “membebaskan” manusia), justru merasa dirinya tercerabut. Terasing. “Seperti para pendeta yang, ketika mereka mengetahui Copernicus telah menemukan satu kumpulan hukum kosmik dan bahwa bumi tak lagi menjadi pusat semesta, memutuskan bunuh diri massal karena tak mampu membayangkan sebuah semesta yang berbeda dari yang pernah mereka diami.” Bahkan untuk hal semacam itu, Hrabal menyikutnya dengan humor. Sekaligus kepedihan.

***

Saya ingin membaca Hrabal sejak lama, lebih dari setahun lalu. Tapi selama 2014 saya memutuskan untuk lebih banyak membaca karya “klasik”. Orang bisa berdebat mengenai apa itu klasik. Klasik, bagi saya sesederhana karya dari abad 19 ke belakang. Dari Dostoyevsky, Tolstoy, hingga Shakespeare bahkan Homer. Masih banyak yang tertinggal dan masih ingin saya baca, tapi tahun ini bagaimanapun saya ingin bergerak. Akan lebih banyak membaca kesusastraan dari para penulis sekitar paruh pertama abad 20. Saya tak tahu siapa saja yang bisa saya temukan, tapi membaca dua novel Bohumil Hrabal di hari pertama tahun ini saya kira merupakan awal yang bagus. Setidaknya saya mengenal penulis Ceko lain setelah Milan Kundera dan Jaroslav Hašek.

***

Closely Observed Trains. Novel ini dibuka dengan adegan pesawat Jerman yang jatuh, dan bangkainya dipreteli penduduk kota. Salah satu yang sibuk mengangkuti kepingan-kepingan pesawat itu adalah ayah si tokoh. Ia seorang kolektor barang-barang tak berguna, yang karena kemampuan teknisnya, bisa mengubah barang-barang itu menjadi hal-hal yang berguna. Yang tentu saja bikin sirik banyak orang. Lalu kisah melipir ke kakek dan kakek-buyut, yang seperti si ayah, juga disiriki banyak orang karena “keberuntungan-keberuntungan” mereka. Si kakek-buyut kehilangan kakinya di front, dan gara-gara itu ia pensiun dini dan dapat gaji pensiunan bertahun-tahun lamanya, dan memakai uang itu untuk minum-minum sambil mengejek orang-orang yang harus bekerja keras demi sesuap nasi. Si kakek-buyut sering dipukuli orang yang kesal, tapi tak juga kapok. Si kakek punya kemampuan hipnotis, dan sekali waktu mencoba menghentikan tank Jerman dengan hipnotisnya. Gagal, dan malahan ia diseruduk tank hingga kepalanya lepas dan mengganjal laju tank. Mati, tapi jadi pahlawan. Kita akan mengira novel ini mengenai sejarah keluarga sialan penuh keberuntungan ini (meliputi kakek-buyut, kakek, ayah, dan anak), tapi dengan cerdik Hrabal mengecoh kita. Itu hanyalah pembukaan untuk memperkenalkan si tokoh utama, sebelum cerita berbelok tentang kisah si tokoh itu sendiri, seorang pegawai magang di stasiun kereta api, dan di sanalah kisah sesungguhnya terjadi. Dalam hal-hal seperti ini, gaya berceritanya mengingatkan saya kepada César Aira, tapi saya tak tahu apakah Aira membaca Hrabal atau tidak. Seperti novel yang sebelumnya saya sebut, novel ini juga sangat ekspresif, dan memperlihatkan kualitas Hrabal yang lain: kejeliannya kepada segala yang visual, dan humornya yang semakin menjadi-jadi. Ada adegan “mesum” di mana satu pegawai perempuan kepergok telanjang bulat bersama seorang pegawai lelaki di satu malam. Si pegawai lelaki bahkan mengecapi sekujur tubuh si perempuan dengan stempel stasiun. Tentu saja mereka disidang, tapi bukan karena mereka telah melakukan tindakan senonoh (sebab urusan moral semacam itu merupakan urusan pribadi belaka), tapi karena stempel yang dipakai mengandung bahasa Jerman! Itu penghinaan terhadap negeri Hitler. Hrabal hampir tak pernah gagal membuat kita tersenyum. Kisah utama novel ini adalah tentang kereta penuh amunisi milik Jerman, dan dua petugas stasiun (si tokoh utama, dan lelaki yang berbuat mesum) yang berniat meledakannya. Sejenis kisah “perjuangan”, tapi jangan salah kira. Apa yang disebut “kisah utama” itu sebenarnya ia ceritakan nyaris sekilas saja, dan baru kita ketahui menjelang akhir. Sebagian besar alurnya justru ke sana-kemari, termasuk kisah si bocah tokoh utama yang berusaha menjadi “dewasa”. Yang ia maksud dewasa adalah bisa meniduri perempuan dengan selayaknya, sebab terakhir ia mencobanya, ia mengalami apa yang disebut orang Jawa sebagai “peltu” (nempel metu, baru nempel sudah keluar). Dan peristiwa “peltu” itu makin membuatnya malu (sampai ia mengiris nadinya berharap mati) karena dilakukan di studio foto dengan semboyan “Lima Menit Selesai”. Ia merasa terhina karena bahkan tak sampai lima menit. Lagi-lagi humor ala Hrabal. Menggelikan, dan pedih.

Karakter-karakter Minor Shakespeare

Apa yang membuat Shakespeare terus dibaca, setidaknya terus disebut namanya? Kita tahu, ia memberdayakan bahasa Inggris dengan penuh gaya. Bahasa yang oleh para ilmuwan dan filsuf seringkali dianggap tak memadai (Francis Bacon lebih senang karya-karyanya diterjemahkan ke Latin), di tangan Shakespeare bahasa tersebut seolah menegaskan bahwa bahasa secara umum memang dilahirkan untuk para penyair (dan bukan untuk para filsuf). Borges menunjukkan salah satu kualitas bahasa Shakespeare adalah kecemerlangannya dalam memadukan akar Saxon (bahasa yang dianggap diciptakan para petani dan nelayan) dengan akar Latin (yang dianggap intelek) dalam bahasa Inggris menjadi bahasa pentas (baiklah, saya menulis jurnal ini gara-gara esai Borges berjudul “The Enigma of Shakespeare”, sebuah penelusuran gaya detektif mengenai benarkah karya-karya Shakespeare ditulis oleh Shakespeare “yang itu”?). Di luar perkara bahasa, saya rasa hal paling menarik dari karya-karya Shakespeare adalah karakter-karakternya. Saya lupa siapa yang mengatakan bahwa, kita bisa menemukan semua jenis karakter di karya-karya Shakespeare. Seolah-olah karya-karya itu, jika disatukan (seperti dalam Complete Works keluaran Royal Shakespeare Company yang saya pegang) merupakan ensiklopedia karakter manusia. Selain karena karyanya lumayan banyak (seringkali dikategorisasikan sebagai karya komedi, tragedi dan sejarah), hal penting dari klaim ensiklopedik ini terutama karena Shakespeare sangat memerhatikan semua karakter. Tak hanya karakter utama (Hamlet, Macbeth, Romeo, Juliet, King Lear, dan lainnya), tapi juga karakter-karakter minor yang bagi penulis lain barangkali hanya akan diperlakukan sebagai figuran yang numpang lewat saja. Tidak untuk Shakespeare. Untuknya, disebut minor hanya ditandai penampilannya yang sedikit, beberapa adegan atau beberapa halaman, tapi di luar itu mereka tetap karakter dengan beragam watak-wataknya, tak kalah penting dengan para tokoh utama. Tak ada sosok yang nyaris sia-sia, dan nyaris tak ada sosok tanpa kepribadian. Perhatikan misalnya tiga penyihir di Macbeth. Mereka selalu muncul bersamaan, dan seringkali bicara bersamaan. Sekilas dengan perlakuan semacam itu, ketiga penyihir seperti tri-tunggal: tiga orang tapi sebenarnya satu saja. Meskipun begitu, jika kita memerhatikan dialog-dialog mereka, kita bisa merasakan karakter ketiganya yang berbeda satu sama lain. Setidaknya, penyihir pertama selalu merupakan sosok yang bertanya. Ia seperti mewakili kepribadian yang gelisah, yang mendobrak. Kekacauan. Penyihir kedua, akan muncul sebagai pemberi jawaban. Sosok reaktif, perlambang konflik, dan dengan paradoks juga ketertiban. Sosok ketiga, seolah menyempurnakan dialektik di antara mereka, senantiasa muncul sebagai penengah, atau lebih tepatnya sebagai sosok bijak pembuat keputusan. Di atas kekacauan dan ketertiban. Saya membayangkan penyihir ketiga ini sebagai pemikir. Ia bicara di atas masalah dan konflik. Ia merupakan sosok yang mengatakan baris terkenal, “Fair is foul, and foul is fair.” Kita bisa menemukan contoh-contoh karakter minor lainnya di karya-karyanya yang lain. Satu hal yang jelas, bagi Shakespeare, karakter merupakan elemen terpenting yang membangun cerita-ceritanya. Setiap karakter, sekecil apa pun, ada di sana karena ia memang penting berada di sana. Dan karena penting, sekecil apa pun sebuah karakter, ia tetaplah karakter yang memiliki kepribadian, masa lalu, masa depan, kepentingan dan lain sebagainya (dan Shakespeare kadang hanya perlu membangun watak ini dalam beberapa baris dialog, karena pendeknya peran karakter-karakter minor ini). Meskipun karya-karyanya memiliki latar belakang yang beragam (baik waktu maupun tempat), keberagaman terpenting ada pada watak-watak karakternya. Dalam karya-karya sejarahnya, misal, waktu menjadi sesuatu yang tak penting-penting amat, sebab pada akhirnya watak manusialah yang utama dalam dunia Shakespeare. Dan watak manusia pulalah yang kita temui, apakah cerita tersebut berada di Verona atau Venice atau di tempat lain. Bagi saya, itulah kebiadaban Shakespeare yang mestinya paling mengintimidasi setiap penulis. Yang memberi mimpi buruk setiap kali membacanya.

Apa yang Harus Diajarkan di Kelas Menulis?

Setelah beberapa kali memberi kelas menulis, juga diundang untuk menyampaikan materi di workshop menulis yang sangat ringkas, saya sampai kepada satu kesimpulan bahwa sebenarnya, satu-satunya hal yang sangat perlu diajarkan di kelas menulis, bukanlah perkara bagaimana menulis. Terus apa, dong? Kita tahu, setiap anak yang menempuh pendidikan dasar, telah memperoleh paling tidak tiga keterampilan: berhitung, membaca dan menulis. Nah, mestinya semua dari kita sudah pernah memperoleh keterampilan menulis ini, kan? Ya, tapi ternyata kita tahu itu tidak cukup. Itu tak membuat semua orang yang lulus sekolah dasar bisa menulis. Tentu saja, sebagaimana kesimpulan saya, untuk bisa menulis memang yang diajarkan bukan persoalan bagaimana menulis yang kita pahami sekarang. Jadi apa, dong? Saya yakin, untuk semua orang yang ingin bisa menulis, satu-satunya pelajaran yang sangat penting dimiliki hanyalah: pelajaran berpikir. Apa? Berpikir? Saya yakin, ada persoalan besar dalam pendidikan dasar kita. Kita semua diasumsikan bisa menulis, diajarkan bagaimana menulis. Kita diajarkan bagaimana mengenali huruf, mengenal kata, menyusun kata menjadi kalimat. Tapi itu tak membuat kita bisa menulis. Itu hanya membuat kita menjadi tukang menyalin huruf, atau lebih canggih, hanya menjadikan kita tukang ketik. Menulis bukanlah sekadar menyusun kata-kata menjadi kalimat, bukan sekadar menyusun beberapa kalimat menjadi paragraf (yang bahkan seringkali banyak yang tak mampu), tapi terutama adalah sebagai disiplin berpikir. Bukankah pada dasarnya menulis merupakan perwujudan apa yang ada di dalam kepala kita ke dalam bentuk tulisan? Jika hasilnya ingin baik, maka perbaiki lebih dulu apa yang ada di dalam kepala. Jika ingin menjadi penulis yang baik, pertama-tama jadilah pemikir yang baik. Pendidikan dasar menulis, seharusnya sampai pada titik ini, titik di mana semua orang bisa berpikir dengan benar. Orang yang berpikir dengan benar, paling tidak ia tahu apa perkara yang dipikirkannya. Ia bisa merumuskan premis-premis pikirannya. Ia bisa mengembangkan premis-premis tersebut ke dalam berbagai kemungkinan. Ia mengambil hipotesa, ia mengambil kesimpulan. Perkara bagaimana mewujudkan apa yang ada di pikirannya ke dalam bentuk tulisan, meskipun seringkali juga sama sulitnya, merupakan masalah teknis. Di kelas-kelas menulis, kita terlalu sibuk mengurusi perkara-perkara teknis ini. Saya sadar, perkara teknis ini memang penting, tapi tentu saja jauh lebih penting sumber segalanya: pikiran. Saya sering menemukan manusia, yang bercita-cita ingin menjadi penulis, dengan segudang gagasan yang tumpah-tindih. Ketika diajukan pertanyaan sederhana, “Persoalan apa yang ingin kamu sampaikan?” ia tak mampu merumuskannya. Setidaknya tidak dalam bentuk tulisan, dan besar kemungkinan tidak dalam bentuk pikiran juga. Bagaimanapun kita hanya bisa tahu apa yang dipikirkan seseorang jika ia menuliskannya, atau mengatakannya. Sekali lagi itu urusan teknis. Orang yang jagi pidato, barangkali lebih senang mengatakannya. Orang yang sedikit pemalu, barangkali lebih baik menuliskannya. Tapi sebelum bisa mengetahuinya, sekali lagi, pertama-tama harus dibereskan dulu tata-cara berpikirnya. Bahasa, perkakas kita yang utama dalam menulis, pada dasarnya merupakan perkakas utama kita berpikir. Bahasa apa pun yang kita pergunakan, kita berpikir mempergunakan bahasa. Jika Anda berharap ingin belajar menulis, belajar sendiri atau belajar kepada orang lain, saya sarankan Anda belajar berpikir secara benar. Pahami tata-caranya. Pahami beberapa aspek logika. Juga pahami kelemahan-kelemahan perkakas kita. Jika kita belajar dari penulis lain, katakanlah dari Shakespeare, kita tengah mempelajari bagaimana ia berpikir, dan sadar tidak sadar, kita mencoba merumuskan sendiri pikiran kita. Ini kelas menulis ideal saya. Jika pendidikan dasar kita mencapai titik menulis adalah berpikir, dan membaca adalah menemukan pikiran orang lain, saya yakin kita tak butuh-butuh amat kelas menulis dan segala workshop. Kita dengan mudah menemukan diri kita menulis dengan gampang.

Dua Tradisi

Saya selalu membayangkan ada dua tradisi besar dalam bercerita/menulis novel (saya rasa sebenarnya dalam kesusastraan secara umum). Pertama, tradisi menulis dengan wadah; kedua tradisi menulis yang bebas mengalir. Saya tak yakin apakah istilah itu tepat atau tidak, tapi mari kita membayangkannya. Tradisi pertama, berawal atau berkembang dipengaruhi oleh tradisi panggung. Tradisi kedua, tentu saja berawal atau berkembang melalui tradisi mendongeng. Penyebutan pertama dan kedua ini bisa kita bolak-balik. Saya tak mengasumsikan yang satu lebih utama dari yang lain. Kenapa tradisi dari panggung ini saya bayangkan sebagai tradisi menulis dengan wadah? Ya bayangkan saja panggung sebagai wadah. Ada ruang terbatas sebesar panggung. Ada durasi waktu sebuah cerita akan dipentaskan. Jangan lupa, penonton juga dikondisikan di situasi tertentu: duduk di tempat penonton, memandang panggung dari sudut pandang yang tetap. Artinya, ada ruang-waktu yang secara ketat membatasi sejauh mana cerita akan disajikan. Keadaan ini secara langsung tentu saja sangat berpengaruh terhadap cara dan teknik bercerita. Saya melihatnya, tradisi ini menciptakan satu aturan-aturan dramatik yang sangat ketat. Jika kamu pernah dengar dari editormu, buang bagian yang tidak mengganggu cerita jika ia menghilang, maka saya yakin, editormu merupakan bagian dari aliran ini. Aliran yang menjunjung tinggi efisiensi. Aliran ini memerhatikan dengan ketat kapan sebuah karakter harus muncul, kapan permasalahan ditampilkan, di bagian mana konflik memuncak. Tentu saja dalam menulis novel, kita tidak membayangkan panggung. Meskipun begitu, bukan berarti tradisi ini, tradisi bercerita dengan wadah, tak terasa di novel. Bahkan saya melihat, pengaruhnya sangat kuat sekali. Saya bisa menyebut, Hemingway berada di tradisi ini. Kebanyakan sekolah menulis, akan mengajarkan aliran ini. Kita tak memerlukan panggung untuk membuat batasan-batasan ruang dan waktu, karena kita menciptakannya sendiri. Tentu saja bapak dari aliran ini, saya akan membayangkannya: Shakespeare. Aliran kedua, yang bersumber dari mendongeng, tentu bersifat sebaliknya. Ia mengasumsikan bebas ruang dan waktu (meskipun ya sebenarnya tidak). Sebagaimana layaknya dongeng, ia bisa diceritakan di mana dan kapan saja. Nyaris tak ada batasan durasi (bisa bersambung bermalam-malam layaknya Syahrazad di Hikayat Serbu Satu Malam). Pendengar dongeng juga bisa mendengarkan dongeng dengan cara apa saja, sambil tiduran, duduk di belakang pendongeng, atau di mana pun. Tak ada ruang dan waktu yang mengungkung, karena itu aturan-aturan ketat tangga dramatik tidak dikembangkan di sini. Yang berkembang adalah justru teknik “hipnotis”, teknik mencengkeram minat pendengar dongeng dengan apa pun tergantung situasi (karena situasinya tidak bisa dikendalikan, sebagaimana keadaan di ruang pertunjukan). Kadang-kadang pendongeng mengambil teknik dramatik panggung, tapi lain kali ia mungkin menyanyi untuk membuat pendengarnya betah, lain kali ia melantur dulu ke cerita yang lain. Disgresi, permainan kata, bunyi, berkembang di aliran ini yang bebas-merdeka selama pendongeng yakin bisa mempertahankan pendengarnya. Di aliran ini kita bisa menemukan kisah yang semena-mena, novel yang tak ke mana-mana (bayangkan If On A Winter’s Night A Traveler Italo Calvino), alur yang maju-mundur bertumpuk-tumpuk (bayangkan novel-novel Faulkner). Ada kesan aliran ini seenak udel sendiri, tapi saya rasa kesusastraan tak akan berkembang banyak tanpa mereka. Saya bayangkan editor harus bekerja keras melihat novel-novel seperti ini (dan mereka kadang tetap memakai ukuran “wadah” untuk mengatasinya). Aliran ini juga berkembang pesat. Ada Marquez. Ada Salman Rushdie. Ada James Joyce. Bapak dari semua penulis ini, tentu saja saya akan menyebut: Cervantes penulis Don Quixote. Saya menaruh hormat pada kedua kecenderungan ini (eh, jangan dilupakan para penulis yang kadang berada di area abu-abu keduanya), dan jauh di dalam hati kecil saya, saya selalu berpikir kondisi ideal menjadi penulis adalah menjadi Shakespeare dan Cervantes di waktu yang bersamaan. Berpikir tentang wadah sekaligus merasa mengalir bebas, atau sebaliknya. Itulah kenapa kita sering berpikir tentang aturan-aturan dalam menulis (seolah kita membayangkan menulis untuk ruang-waktu tertentu seperti panggung), sekaligus punya hasrat besar untuk melanggarnya (membebaskan diri sebagaimana pendongeng).

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑