Journal

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

Standard
Journal

All The Pretty Horses, Cormac McCarthy

Setelah membaca The Road, saya memutuskan untuk membaca novel lain karya Cormac McCarthy. Kali ini saya melanjutkannya dengan All The Pretty Horses. Kadang-kadang, jika saya menemukan penulis baru dan saya menyukainya, antusiasme saya seperti anak kecil. Saya ingin melakukan maraton membaca semua, atau paling tidak beberapa karyanya berurutan. Penulis baru? Beberapa orang mungkin akan berkata, Kemana saja kamu selama ini baru membaca Cormac McCarthy? Baiklah, saya tidak kemana-mana. Ada ratusan atau bahkan ribuan penulis di dunia ini yang karyanya layak dibaca. Saya yakin banyak di antara mereka dengan mudah terlewatkan. Itulah hal menarik dari menyukai kesusastraan. Hal terbaik dari kegemaran membaca novel dan cerita pendek, serta puisi, bahkan esai. Hal yang sama barangkali tak jauh berbeda dengan membaca buku-buku filsafat (yang sering saya lakukan, juga untuk kesenangan). Jika umur kita cukup panjang pun, katakanlah seratus tahun, karya-karya terbaik dari penulis-penulis terbaik di dunia tak akan selesai kita lahap semua. Dengan cara itulah, dari tahun ke tahun kita akan menemukan penulis-penulis dan karya-karya baru, meskipun kenyataannya sudah lama. Kembali ke Cormac McCarthy, saya mengenalnya karena menonton film No Country for Old Men. Meskipun belum membaca novel itu, saya memutuskan untuk mulai membaca novelnya. Sekilas saja kita segera tahu, karya-karyanya banyak terpengaruh oleh tradisi kesusastraan western (untuk menyebut tradisi cerita koboi). Tak hanya penuh petualangan, tapi bahkan penuh adegan kekerasan, kebrutalan, dan kehidupan yang liar dan kasar. Dalam The Road, kita memang tak dihadapkan pada petualangan para koboi. Novel ini bercerita di waktu dunia (Amerika?) selepas “kiamat”. Dua orang ayah dan anak melakukan perjalanan sepanjang jalan, berbekal satu pistol dan kemudian satu peluru untuk melindungi diri, mencari pantai untuk memulai kehidupan baru. Bukan cerita koboi dengan kuda dan topi laken memang, tapi tema itu tak jauh berbeda dengan kisah para koboi yang menyeberangi dataran Amerika untuk mencari tambang emas, bukan? Di No Country for Old Men, kita menemukan polisi tua yang harus berhadapan dengan jaringan narkoba perbatasan Amerika-Meksiko. Si polisi, tentu saja memakai topi laken bergaya koboi. Hingga akhirnya saya menemukan koboi sungguhan di All the Pretty Horses. John Grady Cole (anak remaja yang bahkan belum selesai sekolah) merasa dirinya dilahirkan sebagai koboi, dilahirkan untuk hidup di hamparan padang rumput bersama ternak dan kuda. Ketika ia merasa tercerabut dari peternakan keluarganya, ditemani seorang teman dan seorang teman lagi yang ditemuinya di perjalanan, ia memutuskan untuk naik kuda dan menyeberang perbatasan. Saya penggemar film koboi (sebagaimana saya menyukai film-film wuxia), tapi bisa dibilang tak pernah membaca novel-novel koboi (saya masih bisa membaca novel-novel wuxia, yang banyak disadur ke dalam kesusastraan Indonesia). Baiklah, dalam karya McCarthy, kita memang tak menemukan koboi sebagaimana di film-film. Bahkan ia memindahkan tempat yang biasanya berada di barat ke selatan. Maka jangan heran, di kisah-kisah koboinya, kita juga menemukan aroma selatan sebagaimana bisa kita temui dalam karya-karya Faulkner. Ia mencampur petualangan, plot yang penuh kekerasan, dengan paparan mendalam tentang psikologi. Tentang mimpi, harapan, dan bahkan ketakutan. Dalam satu tinjauan tentang novelnya yang lain, Blood Meridian, Roberto Bolaño bahkan menyebut lanskap novel McCarthy sebagai lanskap (Marquis) de Sade: satu lanskap yang haus dan tak acuh yang dikendalikan oleh hukum aneh yang meliputi rasa sakit dan anestesia. Saya sudah lama tak membaca sastra Amerika. Setelah generasi emas Faulkner, Hemingway, Fitzgerald, dan kemudian Steinbeck, tak banyak lagi yang menjulang setinggi mereka. Tapi kini, satu nama saya pikir sangat perlu untuk diperhatikan: Cormac McCarthy.

Standard
Journal

Ini atau Itu?

“Nike atau Adidas?” Sekali waktu mungkin pernah mendengar pertanyaan semacam itu. Ini sejenis permainan dimana kita memilih satu di antara dua pilihan (seringkali keduanya mewakili sejenis persaingan di bidang tertentu), menjawabnya dengan cepat tanpa memikirkannya lebih dulu, dan konon dari situ bisa ditebak kepribadian atau selera kita. Pertanyaan itu akan berlanjut dengan, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Tapi jika kepada saya diajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis dalam bidang kesusastraan, dengan senang hati saya akan menjawabnya. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih. Hemingway atau Faulkner? Sudah jelas saya akan memilih Faulkner. Saya senang dengan sosoknya yang lebih kalem, tapi novel-novelnya memperlihatkan keliaran yang seringkali malah susah dipahami. Kawabata atau Mishima? Saya akan memilih Kawabata. Mishima seringkali terlalu mengerikan buat saya. Membaca Kawabata seperti duduk di taman selama berjam-jam hanya untuk melihat bunga-bunga sakura, tanpa kehilangan perasaan menderita dan sedih. Cervantes atau Shakespeare? Saya memilih Cervantes, meskipun saya cuma membaca satu novelnya, dibandingkan beberapa naskah drama Shakespeare yang saya baca. Saya merasa Cervantes lebih banyak menertawakan diri sendiri, sementara Shakespeare menertawakan dunia. Camus atau Sartre? Saya akan memilih Camus. Camus tampak lebih mendekati sosok novelis, sementara Sartre lebih mendekati sosok filsuf. Camus juga (sosok maupun karyanya) memberi saya gambaran mengenai pembangkang yang senyap. Gabriel García Márquez atau Mario Vargas Llosa? Jika pertanyaan ini diajukan sepuluh tahun lalu, saya akan memilih García Márquez; jika pertanyaan ini diajukan sekarang, saya memilih Vargas Llosa. Vargas Llosa terasa lebih modern bagi saya daripada García Márquez. Tolstoy atau Dostoyevsky? Saya memilih Dostoyevsky. Saya lebih suka penulis yang hampir mati dieksekusi, penuh utang karena judi dan doyan mabuk daripada penulis yang arif-bijaksana hingga nyaris menjadi sejenis nabi. Haruki Murakami atau Don DeLillo? Tentu Haruki Murakami. Saya lebih suka sastra Jepang daripada sastra Amerika. Miss Marple atau Poirot? Saya lebih suka Miss Marple, karena saya pikir, perempuan tua yang lebih banyak tinggal di rumah dan memecahkan banyak kasus kriminal terasa lebih keren daripada detektif swasta yang berkeliaran ke sana-kemari seperti Poirot. Agatha Christie atau Sir Arthur Conan Doyle? Saya memilih Sir Arthur Conan Doyle, dengan sedikit rasa humornya, yang hampir bisa dibilang tak ada di karya-karya Agatha Christie. The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde atau The Curios Case of Benjamin Button? Sudah tentu saya memilih The Curious Case of Benjamin Button, sebab saya lebih suka cerita yang lebih ke arah fantasi daripada ke arah fiksi sains, meskipun kedua genre bisa sangat bersinggungan satu sama lain. Michael Crichton atau Sydney Sheldon? Saya memilih Sydney Sheldon, dengan plotnya yang seringkali rumit dan karakter-karakternya yang mencengangkan. Novel-novel silat China atau novel-novel koboi Amerika? Mungkin saya akan menyukai kedua-duanya, tapi sayang sekali saya jarang membaca novel koboi, sementara novel silat China banyak disadur ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga dengan mudah saya memilih novel silat. Times New Roman atau Arial? Saya lebih senang menulis dengan Times New Roman, dan bisa dibilang tak pernah menulis dengan jenis huruf lainnya.

Standard
Journal

Pasarmalam

Sekali waktu saya membawa Kidung Kinanti, anak perempuan saya, ke pasarmalam. Seperti biasa, dengan mudah ia tergoda untuk naik ke bianglala dan komidi putar. Ia tetap senang meskipun permainan itu, terutama bianglala, sering membuatnya terdiam penuh ketegangan. Entahlah, apa yang dipikirkan seorang anak berumur dua tahun. Ayahnya, lebih banyak melihat orang lalu-lalang, dan terutama para pekerja dan pedagang yang merupakan bagian dari rombongan pasarmalam tersebut. Pasarmalam terakhir yang kami kunjungi, berada di Lapangan Merdeka, tepat di depan rumah ibu saya di Pangandaran. Seperti adik saya bilang, semua pekerja permainan dan para pedagang (mainan, pakaian, makanan, bahkan DVD dan CD bajakan), merupakan rombongan yang berpindah dari satu lapangan ke lapangan lain, dari satu kota ke kota lain. “Orang-orang gipsi ini mencuci baju di sini,” kata adikku, yang memiliki usaha pencucian baju kiloan. Entah darimana ia memperoleh gagasan menyebut mereka sebagai gipsi. Barangkali memang benar, jika kenyataannya gaya hidup yang mereka pilih berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Saya membayangkan kepala rombongan pasarmalam ini seorang lelaki tua seperti Melquíades di novel One Hundred Years of Solitude Gabriel García Márquez. Mereka tak memamerkan es atau magnet yang bisa menarik perkakas dapur sepanjang jalan. Dari apa yang saya dengar, mereka memamerkan mumi dari letusan Gunung Merapi. Mungkin anak domba atau burung atau binatang liar yang mati mendadak tersapu awan panas. Kadang-kadang ada orang yang mau membayar untuk melihat hal-hal seperti itu. Tapi tentu saja yang paling banyak menarik perhatian adalah rumah hantu. Tempat orang membayar untuk ditakut-takuti. Mereka sengaja memamerkan suara-suara menyeramkan melalui pengeras suara, yang bagi saya terdengar seperti cuplikan dari film-film Suzanna. Suara perempuan yang tertawa melengking. Percayalah, kebanyakan dari kita tak terlalu takut mendengar suara lelaki, tapi akan terkencing-kencing mendengar suara tawa perempuan yang melengking tinggi. Ketidakadilan gender sudah ada jauh di dalam pikiran. Kembali ke pasarmalam ini, saya selalu berpikir bahwa bekerja di pasarmalam sangat cocok untuk penulis. Dulu setiap kali Holiday Circus dengan rombongan pasarmalamnya mampir di kota kami (di lapangan yang sama), saya kadang membayangkan kabur dari rumah dan mengikuti mereka. William Faulkner sekali waktu pernah bilang, tempat terbaik untuk penulis adalah rumah pelacuran. Kita bisa menemukan banyak teman, untuk ngobrol dan minum, dan seks tentu saja, di malam hari. Tapi gersang seperti gurun di siang hari, yang baik untuk membaca dan menulis, serta melamun. Saya kira keadaannya sama dengan rombongan sirkus atau pasarmalam. Selain itu, tentu saja berpergian ke banyak tempat merupakan nilai tambah untuk seorang penulis. Tapi kenyataannya saya tak pernah kabur untuk bergabung dengan rombongan sirkus ataupun pasarmalam. Saya tak punya keberanian yang memadai untuk melakukannya. Dan tiba-tiba saya juga teringat kepada satu novel Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam. Itu salah satu novel terbaiknya, dan salah satu novel terbaik yang disediakan oleh kesusastraan Indonesia. Kadang-kadang saya bertanya-tanya, kenapa ia memberi judul novel itu sebagai Bukan Pasarmalam. Novel itu berkisah mengenai hubungan ayah dan anak, tapi terutama tentang hidup dan mati. Tidak seperti pasarmalam, katanya, kita datang ke dunia ini satu-satu. Juga pergi satu-satu. Tetapi kenapa harus pasarmalam? Saya melihat bahwa, di luar perkara kedatangan dan kepergian (yang tentu saja tak ada yang melarang datang ke pasarmalam sendiri-sendiri, dan pulang sendiri-sendiri), hidup banyak menyerupai pasarmalam. Orang datang untuk bersenang-senang, untuk dihibur oleh sesuatu yang mereka tahu palsu, dan tentu saja memiliki harapan pulang ke rumah dengan senyum lebar, ditambah perut kenyang. Bukankah, seperti Tuhan bilang di dalam Al-Quran, seperti pasarmalam, “Kehidupan di dunia ini hanyalah senda-gurau dan main-main belaka?”

Standard
Journal

Seberapa Tua Penulis di Rak Buku Saya?

Hal pertama yang terpikirkan ketika membaca novel-novel Roberto Bolaño adalah, betapa sedikitnya saya membaca karya para penulis dari generasinya. Ia lahir 1953. Saya membaca esai-esainya, yang dikumpulkan di buku berjudul Between Parentheses, dan terkejut oleh kenyataan ia membaca karya-karya penulis yang selama ini kurang-lebih (lebih banyak) saya baca. Oh, tentu banyak penyair dan penulis berbahasa Spanyol yang saya tak akrab, tapi lupakan bagian itu. Ia bicara tentang Borges, tentang Cortazar, dan beberapa yang juga saya baca. Tapi ia lahir 1953, dan saya lahir 1975. Jarak 22 tahun di antara dua pembaca, saya rasa seperti ribuan tahun cahaya. Seharusnya bacaan saya jauh lebih segar daripadanya. Seharusnya saya membaca lebih banyak Bolaño dan segenerasinya. Saya pergi ke rak buku, membuka halaman biografi singkat di beberapa novel, mencari siapa saja yang lahir di tahun 50an. Saya berharap bacaan segar saya tak sekering yang saya duga. Apa boleh buat, di sana lebih banyak mumi-mumi tua. Hemingway, Faulkner, Kawabata, Hamsun. Lebih bangkotan lagi, ada Tolstoy, Dostoyevsky, Chekhov. Bahkan Shakespeare dan Cervantes. Seharusnya nama-nama itu sudah selesai dibaca sebelum lulus sekolah menengah, sehingga di umur menjelang 40, barangkali bacaan saya jauh lebih segar. Saya kembali memeriksa tahun-tahun kelahiran penulis-penulis yang ada di rak buku saya, paling tidak yang saya suka. Syukurlah, saya menemukan bahwa Haruki Murakami lahir 1949. Mo Yan 1956. Herta Muller 1953. Orhan Pamuk 1952. Bahkan saya menemukan yang lebih muda dari tahun-tahun itu. Tak banyak memang, tapi saya pikir tak terlalu menyedihkan. Yang perlu saya lakukan barangkali berkunjung lebih sering ke toko buku. Saya tak terlalu yakin apakah ada gunanya pergi ke perpustakaan untuk tujuan semacam ini. Perpustakaan di sini lebih sering seperti museum berisi hantu-hantu penulis, daripada galeri cantik penuh nama-nama kontemporer. Saya mungkin perlu memberi perhatian pada nama-nama yang lebih muda. Saya pikir tak akan banyak yang bisa saya peroleh dari penulis generasi saya. Mereka belum banyak menerbitkan buku, dan di antara yang belum banyak itu, lebih sedikit yang menonjol, dan lebih sedikit lagi yang diterjemahkan (jika ia penulis dari bahasa yang asing untuk saya). Tapi mungkin saya bisa memperoleh banyak dari generasi penulis yang lahir tahun 50an. Akhir 40an paling tidak. Sangat bagus jika 60an. Oh, tak ada maksud aneh dari omongan saya tentang ini. Saya hanya merasa perlu bacaan yang lebih segar. Karya-karya yang memberi kejutan-kejutan kecil sebagaimana telah dilakukan karya-karya yang lebih tua. Seperti Bolaño bilang, dan saya setuju sehingga saya merasa perlu mengutipnya dan menjadikannya kata-kata saya sendiri, “Saya lebih menikmati membaca daripada menulis.” Dan di atas generasi saya, ada banyak buku-buku yang berangkali perlu ditengok. Buku-buku yang tak lagi membicarakan Perang Dunia II. Buku-buku yang tak lagi membicarakan jamuan teh di rumah tradisional Jepang. Tapi buku-buku yang mengisahkan orang-orang yang mungkin mampir ke 7Eleven, yang mendengarkan musik melalui iPod (ah, bahkan mendengarkan musik lewat Walkman pun terasa sudah usang sekarang ini). Tapi sambil memikirkan hal ini, sambil tergila-gila dengan apa pun yang ditulis Bolaño, rasanya saya tak bisa meninggalkan apa-apa yang telah ditulis oleh para pendahulu Bolaño. Para penulis yang lahir di tahun 30an, atau 20an, atau bahkan beribu tahun cahaya lebih tua dari itu. Karya-karya mereka, orang-orang pintar akan mengatakannya sebagai, klasik. Dan seperti dikatakan Italo Calvino di Why Read the Classics?, “Membaca karya-karya klasik itu lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.” Saya rasa itu alasan yang sangat bagus, sebagaimana membaca karya-karya kontemporer juga lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.

Standard