Journal

Playing in the Dark, Toni Morrison

Bagaimana keberadaan dan persona yang-bukan-putih dan Afrikanisme dikonstruksi — diciptakan — dalam kehidupan dan kesusastraan Amerika? Tanpa bermaksud untuk mengklasifikasikan karya-karya yang rasis atau tidak rasis, apalagi menyudutkan penulisnya (seorang penulis secara pribadi tak berhubungan dengan tindakan karakter fiktifnya, meskipun ia bertanggung jawab atas mereka — begitu katanya) yang merupakan wilayah kritik lain, dengan jernih Toni Morrison melakukan pelacakan dalam monograf pendek ini. Selalu menarik menemukan seorang penulis fiksi juga menulis telaah tentang kesusastraan, terutama pada tema-tema yang merupakan pusat perhatiannya, seperti kebudayaan dan orang-orang kulit hitam Amerika bagi penulis ini. Tak hanya dalam esai-esai pendek, tapi terutama dalam satu buku utuh. Jelas Toni Morrison, sebagai perempuan kulit hitam, tampak sebagai antitesis bagi sejarah kesusastraan Amerika (yang begitu jelas sebagai sejarah kesusastraan lelaki-putih), dan dengan sadar ia menempatkan dirinya di sana, dengan kesadaran akan bias tersebut, dengan kemungkinan meromantisir yang-hitam daripada mengutuknya; atau mengaburkan yang-putih daripada membuatnya jelas. Playing in the Dark — Whiteness and the Literary Imagination awalnya merupakan bahan ceramah kuliahnya tentang sejarah peradaban Amerika yang kemudian disunting kembali menjadi monograf. Ia membukanya dengan sejenis sindiran betapa sejarah kesusastraan Amerika tak hanya mengabaikan narasi-narasi orang kulit hitam, tapi bahkan juga mengabaikan karya-karya orang kulit putih yang membicarakan orang atau kebudayaan orang kulit hitam. Sebagai contoh, karya-karya terakhir Faulkner yang banyak bicara tentang ras dan kelas, dianggap kritikus sebagai karya-karya minor. Saya rasa tinjauannya bisa dipergunakan untuk membaca kasus-kasus lain yang melibatkan kelompok-kelompok yang-tak-terepresentasikan di wilayah-wilayah geografi atau kebudayaan lainnya, dan bagi saya, itu sangat jelas terbayang bahkan ketika sambil membacanya. Toni Morrison menunjukkan, misalnya, lebih daripada pengabaian di dalam kesusastraan, bahkan ketika sebuah karya bicara tentang orang kulit hitam, kemungkinan besar karya itu ditujukan bukan buat mereka. Uncle Tom’s Cabin tidak ditujukan untuk pembaca seperti “Uncle Tom”, misalnya. (Apakah kesusastraan yang mencoba membela “yang tak bersuara” ditujukan untuk dibaca oleh orang-orang “yang tak bersuara” ini?, misal lain). Seperti umumnya buku yang baik dan telaah yang jernih, tanpa harus memaksanya, buku ini membawa saya ke mana-mana. Membuat saya bertanya-tanya bagaimana rasialisme bisa muncul — tak hanya sebagai sterotif tentang ras. Ia menunjukkan bahwa kadang perkara rasial ini dipergunakan penulis sebagai “strategi lingusitik” (yang buat saya, boleh jadi merupakan wujud kemalasan). Misal, dengan mengatakan seseorang sebagai “negro”, tak hanya itu merujuk kepada warna kulit, tapi juga stereotif kelas ekonomi. (Saya jadi ingat kampanye rasial selama pemilu gubernur Jakarta tahun lalu, di mana “Cina” juga berarti stereotif yang meliputi: kaya, asing, kafir, dan menjadikan label itu tak hanya sebagai warna kulit atau kesukuan belaka, tapi merupakan label umum yang menghilangkan persona individu). Tak cuma itu, ia juga menunjukkan (dengan cukup provokatif), “yang-hitam” tak hanya wujud kecurigaan tentang “yang liyan”, tapi juga merupakan strategi linguistik yang lain untuk mengekspresikan fetish, hasrat seksual maupun ketakutan erotis. Itu hanya sebagian dari hipotesis di buku ini. Pertanyaan yang sangat menggelitik, yang tentu saja saya sadar memiliki konteks yang berbeda dengan apa yang terjadi di kesusastraan Amerika dan hubungannya dengan narasi kulit-hitam, apakah argumen-argumen ini bisa diterapkan (atau diperbandingkan) dalam situasi yang lain? Tak hanya mengenai rasialisme di Indonesia, misalnya, tapi juga dalam problem-problem ketidakterwakilan gender, kelas, maupun keyakinan dalam kesusastraan kita.



Standard
Journal

The Saint-Fiacre Affair, Georges Simenon

Di lobi hotel itu ada perpustakaan kecil. Tak tertahankan, saya mendatanginya meskipun di sudut-sudut lain ada tawaran lain: komputer dengan internet gratis, permainan sepakbola meja, bahkan camilan. Tak banyak bukunya memang, mungkin sekitar seratus jilid. Sebagian besar berbahasa setempat. Jika ada yang berbahasa Inggris, biasanya novel klasik yang sangat tebal, tak mungkin dibaca sambil bersantai di lobi. Bahkan dibawa masuk ke kamar pun, mungkin membutuhkan waktu berhari-hari tanpa melakukan apa pun. The Saint-Fiacre Affair karya Georges Simenon tergeletak di sana, seperti bekas dibaca seseorang. Saya belum pernah membaca Simenon dan tokoh inspektur polisi rekaannya, Inspektur Maigret. Tapi saya tahu ia menulis novel-novel fiksi kriminal, dan ia penulis berbahasa Perancis asal Belgia. Seperti pelancong yang memutuskan untuk mengarungi setapak atau gang di tengah kota yang tak dikenalinya, saya mengambil buku itu, membawanya ke kamar dan mulai membacanya. Adakah cerita kriminal di mana inspektur polisinya nyaris enggak ngerjain apa-apa dan pelaku kejahatan akhirnya ketahuan dengan sendirinya? Setidaknya, novel ini salah satunya. Tapi itu bukan masalah. Setidaknya buat saya, fiksi kriminal yang ideal bukanlah terletak di jagonya sang detektif memecahkan kasus kriminal melalui tanda-tanda (dan betapa jagonya penulis mengecoh pembaca melalui tanda-tanda yang sama), melainkan terletak pada watak-watak di dalamnya. Watak-watak kriminal di mana setiap tersangka memiliki jejak kemungkinan untuk menjadi pelaku kejahatan, tak hanya karena motif, tempat dan waktu memungkinkan. Telaah mengenai watak manusia yang tampak dan tak tampak (atau hanya tampak dalam situasi tertentu, seperti menghadapi peristiwa kejahatan), bagi saya merupakan hal paling mengasyikan dari fiksi kriminal. Lagipula adegan “pembunuhannya” juga tidak normal: seorang perempuan setengah baya, mati mendadak di kursi gereja. Kata dokter, kena serangan jantung. Tak ada luka, tak ada bekas kekerasan. Satu-satunya petunjuk untuk Inspektur Maigret bahwa itu pembunuhan, hanyalah karena ia menerima surat yang meramalkan kematian perempuan itu beberapa hari sebelumnya, dan bahwa ia menemukan potongan berita palsu di buku doa perempuan itu, yang kemungkinan besar terbaca dan membuatnya kena serangan jantung. Pelaku yang edan sekaligus jenius, bukan? Bagian itu saja pasti bisa bikin pengadilannya menjadi ruwet, jika cerita berlanjut hingga pengadilan. Satu hal yang menarik dari Maigret, ia tak hanya ada di sana sebagai detektif yang dingin memecahkan masalah, tapi juga bagian dari persoalan cerita. Perjalanannya ke Saint-Fiacre tak hanya untuk mengungkapkan kasus kematian yang telah diramalkan, tapi juga perjalanan emosional dirinya: Saint-Fiacre merupakan masa lalunya. Saya tak tahu apakah hal yang sama bisa saya temukan di judul-judul lainnya (Simenon menulis 75 novel Maigret), saya akan coba membaca yang lain jika ada kesempatan. Yang jelas novel ini melebihi harapan saya mengenai fiksi kriminal, seperti hal-hal mengejutkan bisa saya temukan di gang asing yang dengan nekat saya masuki. Bahasanya yang ekspresif, bahkan awalnya agak aneh, seperti grafiti di dinding rumah yang awalnya terasa meneror tapi kemudian menjadi hiburan yang akrab. Misal penggunaan kalimat pasif yang saya jarang temukan di dalam bahasa Inggris: dari dalam kamar bahasa Inggris terdengar diucapkan (alih-alih dari dalam kamar terdengar mereka bicara dalam bahasa Inggris). Mungkin perkara terjemahan, mungkin memang gayanya seperti itu, tapi setelah terbiasa, saya menemukan keasyikan sendiri. Dan kembali soal bagaimana kasus ini terbuka dengan sendirinya: si inspektur polisi bukanlah dewa yang menentukan mana dan bagaimana kebenaran. Intinya novel ini merupakan drama pembunuhan, dan inspektur polisi hanyalah satu dari sekian bidak di dalam drama tersebut. Bidak dengan persoalannya sendiri, sebagaimana para tersangka pembunuhan: anak si perempuan, seorang pemuda yang merupakan sekretaris sekaligus simpanannya, pastor, manajer keuangannya, serta anak si manajer keuangan. Kadang-kadang mengasyikkan menyesatkan diri ke bacaan-bacaan yang terasa asing, baru, dan mungkin di luar radar pengetahuan kita. Lagipula, kalau William Faulkner dan André Gide saja membaca Simenon, masa saya tidak tertarik?



Standard
Journal

Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.



Standard
Journal

Menulis Aku

Semalam di forum kecil yang menghadirkan tiga orang penulis pemenang sebuah sayembara menulis novel, tiga orang juri yang memilih karya-karya mereka sebagai pemenang, dan beberapa teman bengis yang dengan cuek menimpali pembicaraan meskipun belum membaca karya-karya tersebut, kami ngobrol selama berjam-jam (ditemani soto dan kopi). Khusus saya, bahkan obrolan itu dilanjutkan di mobil selama hampir dua jam (karena kemacetan malam Sabtu di Jakarta yang sangat epik) bersama si pemenang pertama. Entah kenapa, satu hal yang menarik perhatian saya (mungkin juga kami), adalah tentang bagaimana menuliskan “aku”. Ya, yang saya maksud adalah menulis dengan sudut pandang orang pertama. Kita tahu tantangannya: dunia menjadi sempit, karena pengetahuan dan tangkapan inderawi si aku pasti terbatas. Juga tantangan yang lain: si aku bisa bicara apa saja yang dipikirkan, dan bagaimana kita harus mengendalikannya agar ia selaras dengan wataknya. Tantangan terbesar, dan saya rasa banyak novelis sangat tergoda melakukannya, adalah mengadirkan beberapa “aku” di dalam satu novel. Artinya, novel yang dibangun dengan beragam sudut pandang tokoh-tokoh yang berbeda, di mana mereka bicara masing-masing dengan sudut pandang pertama. Saya tak tahu siapa yang memulai cara seperti ini, tapi saya pertama kali membaca novel dengan pendekatan ini melalui karya William Faulkner, As I Lay Dying. Terakhir membaca novel semacam ini beberapa bulan lalu, Talking to Ourselves karya Andrés Neuman. Saya tak pernah menulis dengan cara seperti itu, dan rasanya tak berniat melakukannya di masa depan, tapi bukan berarti saya tak berniat untuk mengetahui triknya. Setidaknya, itu pasti berguna untuk dipergunakan di teknik yang lain. Menurut saya, tantangan terbesar dari menghadirkan beragam narator di satu karya tentu saja adalah bagaimana membedakan satu suara dengan suara lain. Realisme yang ekstrem akan mencoba menciptakan bangunan bahasa yang unik untuk masing-masing karakter, dengan asumsi, setiap watak tentu memiliki cara ungkap bahasa tersendiri. Hasrat untuk menjadikan setiap suara unik (penggunaan tatabahasa, diksi, bahkan dialek), sekaligus mempertahankan agar itu tetap konsisten sepanjang novel bukanlah pekerjaan mudah. Banyak penulis pemula berambisi mencapai realisme yang ekstrem ini dan banyak yang gagal (saya bercanda, mungkin novel tersebut perlu disisipi berkas audio untuk mendengar dialek si tokoh). As I Lay Dying saya rasa ditulis dengan pendekatan ini, meskipun saya rasa tidaklah ekstrem. Faulkner membedakan gaya atau pilihan kata satu tokoh dengan tokoh lain. Pendekatan yang gampang-gampang susah, menurut saya tentu saja mengambil risiko nekat dengan menghadirkan “suara” tunggal, suara si super-narator (yakni narator yang menceritakan para narator, sebab tokoh-tokoh yang tengah menceritakan diri mereka sendiri ini juga bisa dianggap sebagai narator untuk bagian mereka). Di novel Orhan Pamuk yang terkenal, My Name is Red, saya rasa Pamuk memakai pendekatan ini. Tak banyak perbedaan gaya dari satu tokoh ke tokoh lain (termasuk sosok anjing dan mayat), tapi tentu saja tak sesederhana ini. Yang membuat satu tokoh dengan tokoh lain berbeda, adalah cara dan kerangka mereka berpikir, serta tentu saja pandang dunia mereka. Kita tahu yang bicara si mayat karena cara berpikir dan pandangan dunia-nya tipikal si mayat, misalnya, meskipun bagian dia ditulis dengan cara yang sama dengan bagian tokoh-tokoh lain. Gampang-gampang susah: terasa gampang jika kita pikirkan bahwa itu bisa ditulis dengan cara yang sama, tapi jelas susah karena kita justru harus masuk ke bagian yang dalam dari sekadar susunan kalimat, yakni kerangka berpikir, psikologi dan pandang dunia si tokoh. Di novel Talking to Ourselves, saya menemukan gagasan yang saya rasa segar untuk memakai teknik ini dengan pendekatan yang berbeda. Ada usaha untuk membedakan gaya menulis dan kerangka berpikir tokoh-tokohnya, tentu saja, tapi bagian terbesar membedakan aku yang satu dan aku yang lain justru hadir melalui medium para aku ini bicara. Si ayah di cerita itu, bercerita ke alat perekam. Alat perekam ini menjadi sangat fungsional untuk memberi keunikan narasi si ayah, sekaligus penanda bagi pembaca. Si anak lebih bersifat monolog, seolah bicara dengan orang lain tapi pada dasarnya sendiri. Sementara si ibu menulis catatan harian. Yang pertama memiliki karakter lisan. Yang kedua, monolog-interior. Yang ketiga, bahasa tertulis. Tentu kita bisa menemukan strategi-strategi lain. Apa yang saya sebut bisa dibilang sebagai penyederhanaan juga. Itu teknik yang tidak gampang. Tapi siapa bilang menulis itu gampang?



Standard
Journal

Written Lives, Javier Marías

Pentingkah membaca riwayat hidup penulis? Orang bisa berdebat soal ini, tapi bagi saya, tulisan tentang apa pun asal ditulis dengan baik layak untuk dibaca. Jika kita bisa menikmati riwayat hidup seorang jenderal atau pemilik pabrik jamu, kenapa kita tak bisa menikmati riwayat hidup seorang penulis? Bahkan tanpa harus mengenal karya-karyanya sekali pun. Sayang sekali “biografi” sebagai sebuah genre sastra merupakan barang yang langka di Indonesia. Coba tengok, apakah sudah ada biografi otoritatif mengenai Pramoedya Ananta Toer? Saya yakin sampai lima tahun ke depan atau lebih, belum ada. Jangan sebut penulis-penulis lainnya. Oh, memang akhir-akhir ini ada banyak “biografi” di pasaran, tapi saya tak yakin saya minat membacanya. Kebanyakan dari pseudo-biografi ini isinya tak lebih dari omongan si tokohnya, sedikit mirip memoar tapi ditulis orang lain. Begini. Bagi saya, biografi yang baik pertama-tama harus menempatkan apa pun yang dikatakan si tokoh sebagai sumber sekunder, atau bahkan sumber kesekian. Sumber yang kebenarannya paling layak diragukan. Bukan lagi rahasia, tokoh apa pun cenderung bias bicara tentang dirinya. Yang kecil bisa dibesar-besarkan, yang memalukan bisa disembunyikan. Apa pun yang keluar dari si tokoh, hanya bisa dipegang jika bisa diverifikasi ke sumber lain. Ini yang jarang saya dapatkan di buku-buku pseudo-biografi. Saya memikirkan ini sambil membaca buku berjudul Written Lives karya Javier Marías. Buku yang menyenangkan, yang saya rasa memberi cakrawala tambahan mengenai genre biografi. Berisi riwayat hidup 20 penulis (plus dua tulisan tambahan mengenai beberapa penulis), yang disusun sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi cerita tersendiri, meskipun Marías meyakinkan kita bahwa tak ada apa pun di tulisannya yang dikarang-karang, dan semua yang ada di sana bisa dilacak sumbernya di tempat lain. Tentu saja ini bukan “biografi” yang ideal, dan sang penulis juga tidak bermaksud seperti itu, melainkan lebih menyerupai potret. Ya, potret: sekelumit bagian hidup seorang penulis, seringkali dalam bentuk close-up. Dengan mengacu sumber-sumber tertulis, ia “menciptakan” sosok-sosok para penulis ini dalam sudut pandang dia, dan hasilnya merupakan potret-potret penuh ironi dan kelucuan. Sebut misalnya potret mengenai Mishima dalam “Yukio Mishima in Death”. Ada bagian di mana pada tahun 1967 terdengar rumor bahwa seorang penulis Jepang akan memperoleh Nobel. Mishima, yang terkenal sangat narsis dan percaya diri, yang saat itu sedang berpergian, memutuskan pulang dan mengaturnya agar saat mendarat persis beberapa saat setelah pengumuman Nobel. Bahkan ia sudah menyewa ruangan VIP, mungkin untuk konferensi pers. Ketika pesawat mendarat, ia keluar dengan senyum mengembang. Ya, tentu saja tak ada wartawan atau fans yang menunggu dan mengelu-elukannya, sebab tahun itu yang memperoleh Nobel adalah penulis Guatemala (Miguel Ángel Asturias). Dari tulisan yang lain, “William Faulkner on Horseback” saya baru tahu bahwa Faulkner, salah satu penulis yang terkenal melarat (As I Lay Dying ditulis selama enam minggu di waktu istirahat saat ia harus kerja malam memasukkan batu-bara ke tungku), ternyata punya hasrat belanja yang agak tak terkendali untuk: pakaian mahal dan kuda! (Ehm, saya akan mengingat dia jika saya tak bisa menahan diri membeli t-shirt mahal). Sekali lagi ini bukan buku biografi seperti yang saya idealkan, dan lebih menyerupai potret. Tapi bahkan melalui potret-potret seperti ini, kita tahu ada hal-hal yang tak mungkin keluar dari mulut si tokoh. Senorak-noraknya Mishima, dia pasti berkilah soal menyewa ruang VIP di hari pengumuman Nobel. Meskipun mengaku gemar membeli kuda mahal, Faulkner diam-diam saja soal kecenderungan membeli baju mahal. Begitu pula James Joyce saya rasa (di tulisan “James Joyce in His Poses”), tak bakal terus-terang mengaku ia depresi selama dua tahun terakhir hidupnya, karena novel Finnegans Wake tak memperoleh sambutan meriah sebagaimana diharapkannya. Masih perlukah membaca riwayat hidup para penulis? Menurut saya perlu. Bagaimanapun mereka manusia yang pernah hidup dan cerita tentang mereka barangkali berguna untuk hidup kita. Terutama jika itu ditulis dengan baik, dan tidak berisi bualan-bualan membesar-besarkan diri si tokoh.





Standard
Journal

130 Tahun Huckleberry Finn

Selamat ulang tahun, Kawan. 130 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Saya tak tahu seperti apa keadaannya di hari itu, 10 Desember 1884, ketika The Adventures of Huckleberry Finn terbit pertama kali. Tapi hari ini saya masih membacanya kembali, melalui edisi yang saya beli dari toko buku loak di pinggiran Tokyo bernama Book-Off seharga 105 yen, dengan coretan-coretan huruf kanji dari seorang pembaca lokal yang mungkin tengah mempelajari bahasamu. Jika ada satu buku saya masih bertahan hingga setua itu dan masih ada yang membacanya, saya tak tahu apakah saya akan bahagia atau tidak: saya tak akan ada lagi di dunia ini untuk mengetahuinya. Tapi saya berharap kebahagiaan untuk penulismu. Ada orang-orang yang mengatakan kita menulis untuk keabadian. Saya meragukannya. Menurut saya, ini ilusi. Kenyataannya, 99,999999 persen buku di dunia ini akan lenyap ditelan gilasan roda zaman. Tak perlu menunggu 130 tahun, buku yang hari ini terbit banyak yang sudah dilupakan di tahun depan. Setidaknya 5 tahun sudah menjadi kertas tisue untuk cebok. Seperti dinosaurus dan harimau jawa, banyak gagasan dan buku yang akan punah. Kau harus percaya itu. Kau harus percaya Darwin, sebagaimana percaya Heraclitus yang mengatakan bahwa tak ada yang abadi kecuali perubahan. Kita, para penulis, menciptakan ilusi keabadian ini agar kita lupa dan tak sadar, bahwa sebagian besar yang kita tulis tak lebih dari sampah peradaban belaka. 130 tahun bukanlah waktu yang abadi. Selalu ada kemungkinan suatu hari kau akan lenyap, orang tak membutuhkanmu lagi, tak menginginkanmu lagi, dan kamu akan terlupakan. Tapi apa pedulinya dengan “suatu hari”? Dinosaurus barangkali tidak benar-benar punah. Kode-kode genetiknya diwariskan kepada kita, manusia, sebagaimana diwariskan kepada kodok dan cacing pita. Demikian pula buku: melebihi berapa ratus tahun sebuah buku bisa bertahan, jauh lebih penting bagaimana “kode genetik” buku-buku dan gagasan, diwariskan kepada buku-buku dan gagasan berikutnya. Sebagaimana dirimu memperoleh warisan berharga dari tradisi picaresque Spanyol, dari novel-novel anak-anak berandalan semacam Historia de la Vida del Buscón Don Pablos atau La Vida de Lazarillo de Tormes. Dan siapa tahu kau pun mewariskan sesuatu kepada novel lokal semacam Si Doel Anak Djakarta (sebelumnya Si Doel Anak Betawi)? “We said there warn’t no home like a raft, after all.” Kau mengatakan itu di bagian tengah buku, dan saya tak pernah tidak setuju. Hidup ini selalu merupakan perjalanan, terapung-apung di atas rakit, seperti kau lakukan di sepanjang sungai Mississippi. Kalimat itu, barangkali cukup satu kalimat saja dari ribuan kalimatmu, merupakan kode genetik yang merasuki kepala saya, dan izinkan menjadi bagian dari pikiran-pikiran saya. Saya tak tahu apakah penulismu merupakan penulis terbaik yang dilahirkan Amerika. Sejujurnya saya hanya membaca segelintir penulis Amerika. Selain penulismu, Mark Twain, saya membaca Herman Melville, Hemingway, Faulkner, Toni Morrison dan kurasa ini yang terbaik dari generasi kontemporer: Cormac McCarthy. Tapi saya rasa khayalan tentang Amerika akan sangat berbeda tanpa dirimu, tanpa petualangan Huckleberry Finn di sepanjang Mississippi, persahabatannya dengan Jim si budak, dan seperti novel-novel picaresque yang saya sukai, pertanyaan besar-kecil mengenai masyarakat orang dewasa dari kacamata seorang anak kecil. Ketika saya meninggalkan rumah dan sekolah, dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah saat umur belum juga genap 14, saya belum membacamu. Tapi ketika pertama kali membacamu, bertahun-tahun kemudian, saya melihat diri saya di wajahmu, sebagaimana sering kita temukan di karakter-karakter yang mengenangkan di novel-novel lain. Sekali lagi selamat ulang tahun. Saya tak bisa menyediakan 130 lilin, tapi lebih dari 500 kata tulisan ini barangkali cukup untuk ditiup, sebelum lenyap menjadi sampah peradaban yang lain.



Standard
Journal

Di Sini Monologue Intérieur Bermula

Mereka bilang di novel inilah monologue intérieur bermula. We’ll to the Woods No More. Edouard Dujardin. Ditulis di Paris tahun 1880an. Les lauriers sont coupés. Tanpa itu, tanpa teknik yang kemudian dikenal sebagai arus-kesadaran, novel ini mestinya hilang dari muka bumi. Terbit sekali kemudian dilupakan. Seperti jutaan buku lainnya. Omong kosong jika kau pikir menulis dan buku diciptakan untuk keabadian. Setiap hari orang menulis, setiap hari lahir buku baru, dan sebagian besar, 99,999999% akan hilang dari peradaban. Dilupakan. Percayalah. Survival the fittest, kata Darwin. Buku dan pemikiran tak ada bedanya dengan binatang. Ada yang punah, dan sedikit yang bertahan menghadapi ganasnya zaman. Penulis berusaha menulis sebaik-baiknya, berharap ia akan abadi, seperti seekor anjing mengharapkan kiriknya lahir sehat dan meneruskan spesies mereka. Alamlah yang akan menyiksa buku dan kirik ini, menghancurkannya dengan gila-gilaan. Menjadi artefak. Menjadi fosil. Novel ini, dengan caranya sendiri, memilih bertahan hidup. Bukan karena ia karya besar, bukan karena ia mengandung gagasan hebat, tapi semata-mata karena teknik yang dipergunakannya. Teknik, sayang. Pada akhirnya kesusastraan adalah keterampilan. Sebagaimana tukang kayu dihormati karena keterampilannya. Percuma memiliki gagasan besar jika kau tak terampil. Kau akan menjadi bahan tertawaan saja, Sayang. James Joyce membaca novel ini, tampaknya karena tak sengaja. Di perjalanan dari Paris ke Dublin tak lama setelah pergantian abad. 1902. Lama kemudian Joyce mencuri dari novel itu, si arus-kesadaran, untuk Ulysses. Ia mengakuinya, menyebut nama sang penemu. Dan Dujardin meledak gembira, karena novel kecil ini menjadi alas bagi satu novel besar. Menjadi dasar bagi satu gerakan besar. Di edisi setelahnya, Dujardin bahkan mendedikasikan novel ini untuk Joyce. Sebenarnya apa itu monolog interior? Tentu saja bukan sekadar monolog. Monolog, ngoceh sendiri, kemungkinan besar senantiasa dengan asumsi ada pendengar. Bahkan meskipun diri sendiri. Tidak demikian dengan monolog interior. Ia muncul seringkali tidak untuk didengarkan. Seringkali tanpa struktur. Seringkali merupakan kibasan-kibasan kesan. Jika kita menangkapnya dalam bentuk kata-kata, karena itu salah satu cara (yang sejujurnya lemah) untuk membuatnya ada. Monolog interior merupakan orkestra refleksi, abstraksi, kesan sejenak, mood, dibandingkan sebagai penceritaan aksi atau tindakan-tindakan. Kurang-lebih begitu menurut Dujardin. Saya yakin ia tak memikirkan itu ketika melakukannya. Ia mengatakan itu bertahun-tahun setelah novelnya terbit, bahkan setelah Ulysses juga terbit. Dan dalam novelnya, beberapa kali sejujurnya ia bocor. Si aku menceritakan tindakan-tindakan. Dan mengutip surat secara lengkap, alih-alih membiarkannya sebagai kenangan kacau. Tapi itulah gunanya membaca novel semacam ini. Kita bisa melakukannya jauh lebih baik, berabad-abad kemudian, setelah menemukan kesembronoannya. Bagi saya, monolog interior tak hanya ungkapan bagaimana pikiran bekerja, tapi terutama bagaimana dunia luar masuk ke dalam pikiran. Kadang-kadang ia runtut, seringkali tidak. Kadang-kadang logis, tak jarang tidak logis. Dunia luar masuk ke dalam pikiran, kemudian dikeluarkan kembali melalui kata-kata. Pembaca melihat dunia melalui apa yang ada di dalam pikiran. Begitulah. Monolog interior merupakan sejenis kode. Barangkali lebih menyerupai kode puisi daripada prosa. Tapi lupakan soal itu. Setiap orang berpikir dengan cara mereka sendiri. Dunia akan selalu berbeda di dalam pikiran setiap orang. Virginia Woolf memperlihatkan kepada kita dengan cara yang berbeda. William Faulkner juga. Dan novel ini … sejatinya saya menyukai ceritanya. Daniel Prince dan Leah. Oh. Seorang lelaki jatuh cinta kepada artis panggung. Diporotin. Berharap bisa tidur dengannya. Duitnya makin habis, dan ia belum juga menidurinya. Hingga kesempatan itu datang. Leah mengajaknya ke kamar. Tapi saat itulah ia berpikir, ia harus membuktikan cintanya. Cinta suci. Cinta murni, bukan cinta penuh nafsu. Ia akan menolak jika gadis itu mulai membuka pakaian. Tolol. Di dunia ini memang banyak lelaki tolol. Monolog interior mengajak kita masuk ke pikiran lelaki tolol, sebagaimana kita bisa masuk ke pikiran karakter macam apa pun. Tentu saja tak akan pernah sempurna. Bagaimanapun kata-kata tak akan pernah sempurna mewakili dunia. Dan pikiran manusia merupakan misteri gelap, yang kata-kata bahkan tak mungkin menaklukkannya.



Standard