Eka Kurniawan

Journal

Tag: Walter Benjamin

Sesuatu untuk Diceritakan

“Orang-orang yang berpergian, memiliki sesuatu untuk diceritakan,” kata pepatah Jerman, yang saya kutip dari satu esai Walter Benjamin. Tentu saja, meskipun dalam kasus saya, seringkali saya terlalu malas untuk menceritakan kembali apa yang saya lihat atau alami (termasuk malas memotret). Saya termasuk jenis manusia yang lebih menikmati pengalaman jalan-jalan saat itu terjadi, membiarkan otak saya memilah mana yang penting untuk diingat dan mana yang tidak. Jika suatu ketika keluar kembali dalam bentuk tulisan, mungkin otak saya menganggap itu menarik. Tapi sesekali saya keluar dari kebiasaan itu, dan menuliskan sesuatu sementara ingatan tersebut masih segar, termasuk pengalaman perjalanan saya ke beberapa kota di Eropa akhir bulan lalu hingga awal bulan Oktober ini. Kunjungan saya ke kota-kota itu sebenarnya perkara sederhana: untuk membantu penerbit-penerbit mempromosikan novel saya yang terbit di sana. Saya bicara di depan forum atau bertemu dan menjawab pertanyaan wartawan. Itu saja. Tapi kunjungan kali ini menawari saya satu pengalaman untuk melihat gejolak politik Eropa dari sudut-sudutnya, yang meskipun jauh di sana, barangkali denyut-denyutnya bersilangan pula dengan peristiwa-peristiwa politik di negeri sendiri. Ketika tahu saya akan berpartisipasi di satu pameran buku di kota Goteberg, kota terbesar kedua di Swedia, seorang penulis kenalan memberitahu saya bahwa banyak penulis Swedia (juga internasional termasuk Ngũgĩ wa Thiong’o) memboikot pameran tersebut. Tentu ada pula yang tetap datang (seperti Arundhati Roy). Masalah utama dari aksi boikot tersebut adalah keputusan panitia pameran buku memberi tempat kepada kelompok media sayap kanan. Kenalan saya tak bertanya apa pun tentang keputusan saya dengan informasi itu. Tapi bukan penulis jika bisa melarikan diri dari tuntutan-tuntutan ekspresi politis: semua wartawan yang saya temui di Goteberg, meskipun diawali dengan “Anda tak perlu menjawab jika tak nyaman”, akan menanyakan perihal itu. Bagi saya jelas, saya tak punya masalah kelompok mana pun, termasuk sayap kanan, untuk ambil bagian di pameran buku. Itu bukan tindakan kriminal. Mengikuti Voltaire, saya bisa tak sependapat, tapi saya akan membela haknya untuk mengungkapkan hak (atau berada di pameran tersebut). Tapi tentu saja saya juga menghormati para penulis yang memutuskan untuk memboikot, yang barangkali memiliki alasan-alasan yang lebih memadai yang tidak saya ketahui. Saya kemudian bercerita kepada wartawan-wartawan itu tentang keputusan pemerintah Indonesia membubarkan organisasi yang tak sesuai dengan ideologi negara (HTI, dalam hal ini). Saya tak sependapat dengan pandangan-pandangan organisasi ini, tapi membubarkannya jelas saya juga tak sependapat. Pembubaran satu organisasi akan menjadi alasan (dan tabiat) untuk membubarkan organisasi apa pun yang tak sejalan dengan politik pemerintah di lain waktu dan tempat. Hal yang sama bisa diterapkan: melarang satu pihak ambil bagian di pameran, bisa jadi awal dari (tabiat) pelarangan pihak-pihak lain yang juga tak sejalan. Seolah menjadi ilustrasi bagi perdebatan soal boikot dan tidak boikot ini, di hari kedua pameran, kami tak bisa keluar dari hotel dan tempat pameran. Gara-garanya ada demonstrasi besar-besaran kelompok sayap kanan. Saya tak tahu isu apa yang mereka bawakan, yang jelas, demonstrasi ini memancing kelompok-kelompok anti fasis (antifa) dari berbagai kota Eropa berdatangan. Membuat demonstrasi tandingan. Polisi berjaga-jaga di setiap sudut jalan. Dari jendela hotel, saya hanya sanggup melihat kerumunan orang-orang ini. Pemandangan kecil tentang gejolak politik di Eropa. Kebangkitan sayap kanan, dan kalau mau jujur, wajah kelompok kiri yang tergagap-gagap setelah beberapa dekade barangkali lebih asyik bicara dan berdebat ketimbang membangun kekuatan nyata.

Dari Goteberg, dengan menyeret koper yang saya usahakan seringkas mungkin agar bisa dibawa ke kabin, saya melanjutkan perjalanan ke Spanyol. Di kamar kecil pesawat, saya mencopot satu lapis pakaian yang saya kenakan. Saya yakin Spanyol lebih hangat, sehingga tak perlu pakaian berlapis-lapis. Di negara itu saya akan mengunjungi dua kota: Madrid dan Barcelona. Orang yang mengatur perjalanan saya sudah mewanti-wanti, “Mungkin situasinya kurang tepat: sedang ada ketegangan politik di sini. Atau barangkali justru tepat: kamu bisa melihat apa yang sedang terjadi.” Ya, situasi politik yang “tak enak” itu adalah referendum wilayah Katalunya untuk memisahkan diri dari Spanyol. Pemungutan suara tepat terjadi di hari saya sedang terbang. Hasilnya mayoritas penduduk Katalunya ingin berpisah, dan tentu saja pemerintah pusat tak mengabulkannya. Jika mengikuti berita, kita tahu polisi nasional didatangkan ke sana (Katalunya juga memiliki polisi sendiri), dan terjadi bentrokan. Sebagai orang asing, saya mencoba memandang ketegangan politik itu secara santai. Membayangkannya sebagai perseteruan el-clasico antara Real Madrid dan Barcelona. Atau membayangkan novel-novel Javier Marias dan membandingkannya dengan novel-novel Enrique Vila-Matas. Di Madrid, orang-orang yang saya temui rata-rata menanggapi referendum itu dengan serba tidak enak. Sangat bisa dipahami. Mereka hanyalah warga biasa. Beberapa mungkin berasal dari Katalunya, atau punya kerabat dan teman di sana. Dan seperti di Swedia, dengan pengantar yang sama “Anda tak perlu menjawab jika merasa tak nyaman”, para wartawan meminta saya memberi komentar tentang situasi politik Spanyol ini. Di akhir jawaban saya, mereka akan memastikan kembali, “Boleh dikutip?” Tentu saja boleh. Pendapat saya adalah pendapat saya, bisa membuat senang orang atau sebaliknya. Saya tak lama tinggal di Madrid. Dengan mempergunakan kereta, saya pergi ke Barcelona. Perjalanan yang menyenangkan, sebab saya bisa melihat hamparan padang-padang rumput yang begitu luas melalui kaca jendela kereta, yang sebelumnya cuma bisa saya bayangkan ketika membaca Don Quixote (dan itu pun karya dari beberapa abad lampau!). Tiba di Barcelona, tentu saja keadaan sangat kontras berbeda. Hampir semua orang begitu bersemangat membicarakan referendum. Beberapa di antaranya bahkan demikian yakin bahwa mereka akan merdeka, bahwa deklarasi kemerdekaan akan diumumkan dalam waktu yang tak lama (ketika catatan ini saya tulis, deklarasi kemerdekaan itu sudah ditandatangani). Saya bisa keluar dari hotel, menonton reli pendukung kemerdekaan yang membuat kota menjadi lumpuh (kantor-kantor libur, transportasi tak bergerak, bahkan restoran cepat saji memilih tutup agar karyawannya bisa ikut ambil bagian, bukan karena takut rusuh seperti di Indonesia). Dan seperti di Madrid, wartawan setempat juga meminta pendapat saya tentang peristiwa ini. Tentu saja pendapat seorang penulis dari negeri jauh seperti saya sebenarnya tak penting-penting amat, juga tak mengubah apa pun. Tapi pada saat yang sama, barangkali ini semacam kesepakatan umum, bahwa seorang penulis sepatutnya punya pendapat tentang situasi sosial-politik tertentu, betapa pun jauhnya. Untuk urusan ini, baik untuk wartawan di Madrid maupun di Barcelona, saya menjawab dengan jawaban yang sama. Tentu saja konyol jika saya menjawabnya berbeda. Pengetahuan saya tentang hubungan Katalunya dan Spanyol tentu saja jauh dari pengetahuan seorang ahli, dan saya tak bermaksud sok tahu (meskipun umumnya penulis memang sok tahu). Untuk para wartawan ini, saya memutuskan untuk memberi analogi. “Menjawab pertanyaan Anda perkara ketegangan antara Katalunya dan Spanyol, lebih baik saya bercerita tentang negeri saya sendiri.” Saya kemudian bercerita tentang Papua. Sebuah negeri yang tanpa lelah mencoba memerdekan diri dari Indonesia. Anda bisa memiliki ungkapan yang berbeda untuk menceritakan bagaimana Papua menjadi bagian dari Indonesia, tergantung dari sisi mana Anda melihat: dicaplok, menggabungkan diri, pendudukan, merebut kembali. Satu hal yang penting, sebagai orang Indonesia, tentu saya berharap semuanya baik-baik saja. Kami bisa menjadi saudara, bergandengan tangan bersama-sama dalam sebuah komunitas bernama Indonesia. Tapi pada saat yang sama, jika mereka ingin memisahkan diri, saya bisa mengerti. Sangat mengerti. Kenapa? Situasinya sudah jelas rumit, tapi bisa juga disederhanakan: Indonesia memperlakukan mereka, tanah mereka, dengan sangat buruk. “Saya tahu ini berbeda, tapi setidaknya itu yang bisa saya bayangkan ketika Anda bertanya tentang Katalunya dan Spanyol.” Bahwa yang paling mendasar adalah, saya bisa mengerti kehendak mereka. Dan memberi dukungan jika itu sudah menjadi kehendak mereka. Apa pun afiliasi politiknya, wartawan di Madrid maupun di Barcelona tampaknya bisa menerima jawaban saya dengan senang hati. Sisi lainnya, saya belajar satu hal yang saya pikir sangat berguna. Memiliki pandangan politik itu satu hal, tapi mencari cara mengungkapkannya merupakan hal lain. Seringkali serumit menuliskan sebuah cerita, agar ia menjadi jelas sekaligus merangkum konteks jika ada.

Saya akhirnya terbebas dari hingar-bingar politik setelah tiba di Paris. Dan setelah lebih dari seminggu tak bertemu, di kedutaan besar Indonesia, saya akhirnya berjumpa nasi. Tapi rupanya saya tak benar-benar terbebas dari pembicaraan politik. Di waktu makan malam, saya sendiri yang menyeret pembicaraan ke arah politik lagi, dengan bertanya, “Apa kabar Macron?” Tuan rumah yang mengundang makan malam menjawab, “Saya tak suka dia. Tapi suami saya merasa dia baik-baik saja. Macron memang enggak kanan, tapi apa bedanya? Dia kerja untuk orang kaya, bukan untuk orang-orang gembel.”

The Man In The High Castle, Philip K. Dick

Di mana letak keindahan sebuah obyek, katakanlah benda seni? Di mana terletak keistimewaannya, nilainya? Di mana letak kesejarahan dari sepucuk senjata yang telah mengarungi banyak peperangan? “Di pikiran. Bukan di pistol itu,” kata Wyndam-Matson salah satu tokoh dalam The Man In The High Castle karya Philip K. Dick. Sebenarnya novel ini berkisah tentang sebuah andai-andai: jika Perang Dunia II ternyata dimenangi oleh Jerman dan Jepang, dan Amerika harus dibagi di antara kedua negara itu. Di masa seperti itulah kemudian muncul novel yang malah menceritakan andai-andai sebaliknya: Ternyata Sekutu menang (dan dunia dibagi di antara pengaruh Amerika dan Sovyet). Lelucon-lelucon politik dan ideologinya mengasyikkan, tapi sempilan-sempilannya tentang seni yang sebenarnya tak banyak, malah menarik perhatian saya. Seperti yang sudah saya buka di atas, di sana-sini kita bisa menemukan pembicaraan tentang seni, kadang sampai tingkat yang lumayan filosofis, kadang dalam tingkat ejekan atas selera seni kaum fasis (juga kapitalistik dengan produksi massalnya). Untuk membuktikan pernyataannya, Wyndam-Matson memperlihatkan dua geretan Zippo yang serupa. Satu di antaranya ada di saku Franklin D. Roosevelt ketika ia dibunuh. Bisa diketahui yang mana? Menurutnya, tidak. Sebab tak ada “penampakan lapisan mistis” atau “aura” dari benda itu. Kita sendiri yang menciptakan “aura” tersebut. Isu ini selalu menarik perhatian saya, tentang bagaimana sebuah karya memiliki nilai tertentu, dan benda lain dianggap sampah. Dan kita tahu, nilai-nilai itu bisa berubah, tak hanya karena yang menilai berbeda, tapi juga karena ruang dan waktu yang berbeda. Maka saya kira, eksploitasi karya seni (untuk tujuan apa pun), pada dasarnya merupakan eksploitasi pikiran manusia. Bentuklah pikiran manusia, satu generasi atau satu bangsa, maka akan terbentuk pula “selera” mereka mengenai seni seperti apa yang baik dan bagus, atau sampah. Bayangkan misalnya kesusastraan Indonesia. Saya sering curiga, kita tergila-gila dengan kesusastraan yang menampilkan watak-watak pahlawan. Sosok yang mau berjuang dan bahkan berkorban untuk orang lain, untuk kebenaran, atau untuk sebuah nilai. Sosok yang bisa jadi panutan. Saya yakin pikiran ini tentu saja dibangun oleh wacana yang barangkali sejarahnya jauh ke belakang, entah di mana. Karena itulah sangat jarang, bukannya tak ada, kita menemukan watak-watak yang sebaliknya: yang brengsek, sampah, tak membela apa-apa kecuali nafsu bejatnya sendiri. Padahal saya yakin, kesusastraan tak hanya membutuhkan model ideal, tapi juga cermin untuk melihat kebusukan, kelemahan dan sisi gelap manusia. Kembali ke novel ini, ada ejekan menarik mengenai selera kaum fasis Jerman, yang diucapkan karakter yang lain: “Aku suka Verdi dan Puccini. Apa yang kita dapatkan di New York hanyalah musik Jerman yang berat dari Wagner dan Orff yang bombastis, dan setiap minggu kita harus pergi ke pertunjukan dramatik Partai Nazi Amerika yang klise di Taman Madison Square, dengan bendera-bendera, genderang, terompet dan kembang api.” Tentu saja Nazi memang menyukai tontonan macam begitu. Seperti dikatakan Walter Benjamin (izinkan melipir sedikit, dengan mengutip dari esai “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), “Kaum fasis mengestetikkan kehidupan politik.” Atau jika boleh mempergunakan kata-kata sendiri, kaum fasis menciptakan aura dengan cara seperti itu, cara yang jitu untuk menggiring massa ke dalam politik, tapi pada saat yang sama membutakan mereka dari politik itu sendiri. Dibutakan oleh “aura”. (Saya bahkan yakin, kumis Hitler yang seperti itu juga memang sengaja sebagai upaya “mengestetikkan kehidupan politik”). Bayangkan orang-orang lapar, yang terpinggirkan secara sosial dan politik. Bukannya berpikir kritis, mengorganisir diri dan melawan secara politik, mereka malah silau oleh aura yang dibangun dalam kerangka “mengestetikkan kehidupan politik” ini: oleh jargon, oleh pawai-pawai (dengan sepeda motor tanpa helm?), emblem-emblem di baju seragam, bahkan oleh cara berpakaian Pemimpin Besar. Membawa pentungan, bahkan pedang, seolah sedang mempertunjukan sebuah teater. Mereka masuk ke dalam barisan, merasa bagian dari “aura” tersebut. Tak perlu jauh-jauh ke masa Perang Dunia II, gejala semacam itu bisa kita lihat hari-hari ini di mana-mana. Di sini, di barat maupun di timur. Ketergila-gilaan kepada aura ini bahkan bisa menciptakan sentimen yang absurd. Ketika si orang Jepang di novel ini mengusulkan si tokoh utama, Childan, untuk memproduksi massal (dengan cetakan) perhiasan logam (yang diciptakan oleh “artis” Amerika dengan tangan satu per satu), ia merasa tersinggung. Nasionalismenya terluka. Mental negeri jajahannya terbakar. Saya benar-benar tertawa di bagian ini, terutama karena Amerika yang kita kenal merupakan negeri yang dipenuhi “produksi massal”. Mungkin itu cara Philip K. Dick mengejek negerinya. Bagaimana melawan bias “aura” ini, yang tentu saja dikendalikan oleh sejenis otoritas (baik karena ideologi seperti kaum fasis, atau sekadar alasan komersial dari para pedagang)? Walter Benjamin punya jawabannya, alih-alih mengestetikkan politik, lebih baik “mempolitikkan seni.” Kata Benjamin, itu jawaban kaum komunis terhadap selera estetis fasisme. Hm, novel ini membawa saya ke mana-mana, ternyata.

Ludmilla Petrushevskaya

Membaca cerita-cerita Ludmilla Petrushevskaya seperti membaca berita koran lampu merah. Diceritakan dengan cara tutur yang dingin (tapi kocak), yang mengingatkan saya pada narator acara infotainmen di televisi. Pada dasarnya membaca kisah-kisah domestik, tapi dengan satu dan lain cara, pasti bisa membuat merah padam muka para penguasa dan pemegang kebijakan. Kisah-kisahnya berpusar pada masalah-masalah keluarga, hubungan suami-isteri, pacar dan kekasih, selingkuhan, nasib orang-orang jomblo, dan tak pernah sekali pun secara eksplisit bicara tentang politik atau bobroknya pemerintahan; tapi justru dengan cara seperti itulah ia menyodorkan cermin buram wajah politik negerinya (Sovyet dan kemudian Rusia). Petrushevskaya lahir dari tradisi kesusastraan Rusia yang panjang, yang melahirkan maestro-mastero penulis cerita pendek besar: Nikolai Gogol (saya rasa ia tak hanya bapak kesusastraan Rusia, tapi moyang bagi banyak penulis di dunia), Anton Chekhov, Nikolai Leskov (yang cerpen-cerpennya mendorong Walter Benjamin menulis esai yang sulit dilupakan itu, “The Storyteller”), hingga Isaac Babel (penulis cerpen brilian, komunis yang loyal, tapi harus mati muda karena didor Stalin). Saya yang pada dasarnya selalu menganggap setiap karya merupakan pernyataan politik, langsung atau tidak langsung, sangat menikmati cerita-ceritanya. Dalam kumpulan There Once Lived a Girl Who Seduced Her Sister’s Husband, and He Hanged Himself, kita bertemu rakyat jelata yang tinggal di apartemen-apartemen sempit dengan beragam persoalan rumah tangga mereka. Yang menarik, Petrushevskaya tak pernah mencoba meromantisir kehidupan jelata ini, malahan lebih sering Petrushevskaya mengolok-olok bahkan menyiksa tokoh-tokohnya tanpa ampun, dan dengan gaya yang sangat dingin, tanpa simpati dan empati. Tapi dengan cara seperti itulah ia membuka persoalan-persoalan negerinya, seperti seorang ilmuwan membuka fakta-fakta obyek pengetahuannya. Wangi ataupun busuk. Bagaimana ia melakukannya? Di cerpen “A Murky Fate”, misalnya, ia bercerita tentang seorang perempuan lajang yang mencoba “mengusir” ibunya semalam dari apartemen studio mereka agar bisa membawa pulang seorang lelaki. Tak lebih. Ia “hanya” menceritakan betapa susahnya bagi seorang perempuan bahkan sekadar menemukan tempat bercinta. Tapi perkaranya bukan itu, tentu saja. Secara tak langsung ia menyentil kebijakan perumahan, yang membuat ruang-ruang pribadi (di bawah rezim Sovyet) menjadi hilang atau nyaris tak ada. Hal seperti ini menjadi semakin ketara dalam cerita “Give Her to Me”, tentang dua orang seniman (aktris dan komponis), yang harus hidup di sebuah masyarakat yang tampaknya tak peduli dengan bakat-bakat seperti mereka. Sekali lagi, cerpen-cerpen ini ditulis dengan gaya koran kriminal lampu merah (meskipun ceritanya hampir tak berisi kasus-kasus kriminal). Kebanyakan kisah perempuan lajang yang mencoba mencari pasangan, dan lelaki yang beristri yang bosan dengan rumah tangganya, lalu mencari mangsa gadis-gadis muda. Mereka memiliki anak, dan seringkali nasib berputar pada anak itu. Bahkan ada kisah seorang lelaki yang diceraikan isterinya, menggelandang, dan “dipelihara” perempuan berumur tujuh puluhan yang mau mendengar ocehannya tentang filsafat, sementara perempuan tua itu memperlakukannya sebagai anaknya yang tak pernah hidup. Tak hanya bahasanya yang “nyantai”, bahkan struktur ceritanya pun dituturkan seperti dongeng ibu-ibu yang menggosip di taman. Satu cerpen bahkan ditulis dengan nomor, dari 1 hingga 45. Judul kumpulannya yang lain, juga ditulis dengan gaya koran lampu merah: There Once Lived a Mother Who Loved Her Children, Until They Moved Back In. Oh, ada satu lagi, kali ini cerita-cerita “menakutkan” (Petrushevskaya menyukai Edgar Allan Poe), There Once Lived a Woman Who Tried to Kill Her Neighbour’s Baby. Cerpen dewasa ini barangkali tidak “searus-utama” novel dalam kesusastraan, tetapi membaca cerpen-cerpen yang menyegarkan seperti karya-karya Petrushevskaya, senantiasa membuat saya jatuh cinta berkali-kali kepada kesusastraan.

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (1)

(1) Para pendongeng, sejatinya merupakan pengumpul kisah. Ia mendengar sebuah kisah dari orang lain, yang mungkin mengalami peristiwa di dalam kisah tersebut, atau mendengarnya dari orang lain lagi yang mengalaminya, lalu si pendongeng menyampaikan kisah tersebut dengan caranya sendiri. Kadang-kadang si pendongeng mencampurkan kisah dari satu orang dengan kisah dari orang lain, yang mungkin tak berhubungan sama sekali, sehingga menjadi satu kisah yang lain. Walter Benjamin pernah menyinggung soal ini ketika bicara mengenai penulis Rusia, Nikolai Leskov, dalam esai terkenal berjudul “The Storyteller”. Hal ini benar pula menyangkut Pu Songling, penulis Strange Tales from a Chinese Studio (1766). (2) Apa yang disebut cerita aneh adalah, kisah dimana hal-hal yang tidak wajar, hal-hal yang asing, menunggangi hal-hal yang kita anggap wajar atau kita akrabi. Misalnya dalam kisah mengenai lelaki bangsawan yang mata-ke-ranjang, “Talking Pupils”, yang karena menggoda seorang calon pengantin, disembur debu yang telah dijampi-jampi. Sejak saat itu, matanya jadi tak bisa melihat. Tapi di dalam matanya tinggal dua makhluk asing, yang ngomel-ngomel karena mereka juga tak bisa keluar melihat dunia. Akhirnya kedua mahkluk itu tinggal di satu mata dan membuat jendela, atau pintu, agar bisa jalan-jalan keluar. Si sosok bangsawan akhirnya bisa melihat kembali dan tobat. Makhluk kecil di dalam mata merupakan elemen yang tidak wajar, apalagi sampai bicara. Tapi membuat jendela atau pintu dari selaput yang menutupi merupakan elemen yang mudah dimengerti. Jika hal-hal tidak wajar melakukan tindakan-tindakan yang juga tidak wajar, itu tak akan menjadi kisah aneh, sebab kita dengan sadar menempatkan diri ke dunia yang berbeda. (3) Teori-teori cerita-rekaan modern seringkali memperumit masalah dengan menuntut banyak hal: perkembangan karakter, dramatisasi, sudut pandang, dan lain sebagainya. Pu Songling menunjukan betapa bercerita bisa sangat sederhana. Betapa cerita bisa disampaikan dalam beberapa paragraf, dengan karakter yang datar (hanya disebutkan siapa dan bagaimana tokoh tersebut). Yang terpenting adalah apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan bagaimana akhirnya. Plot. Ini berlaku untuk banyak cerita Jorge Luis Borges, dan kita tak heran mengapa penulis Argentina ini merupakan salah satu penggemar garis keras Pu Songling. (4) Cerita yang baik, saya rasa merupakan peristiwa, atau beberapa peristiwa, yang bisa dilihat dengan lebih dari satu cara pandang. Dalam kisah “The Painted Wall”, Zhu terpesona oleh gambar bidadari di dinding kuil sehingga ia terperosok masuk ke kahyangan dan bercinta dengan bidadari itu. Selama kepergiannya ke kahyangan, ia menghilang dari hadapan temannya di dunia nyata, yang mencari-carinya. Setelah biksu di kuil tersebut mengetuk dinding kuil, kembalilah Zhu ke dunia nyata. Ia menceritakan pengalaman anehnya kepada biksu dan temannya, dan bertanya sebenarnya apa yang sesungguhnya terjadi. Sang biksu hanya berkata: “Sumber ilusi berada di dalam manusia sendiri. Siapa aku untuk menerangkan hal seperti ini?” Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda atas peristiwa, itulah mengapa peristiwa menjadi cerita. (5) Yang aneh, seringkali sekaligus merupakan sesuatu yang lucu. Kisah “A Fatal Joke” merupakan contoh terbaik mengenai hal ini. Seorang lelaki bernama ‘X’, terbunuh oleh gerombolan bandit. Tapi ketika keluarga hendak menguburnya, lelaki itu masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Keluarga akhirnya menutup luka sayatan pedang di tubuhnya dan merawatnya hingga sembuh. Sepuluh tahun kemudian, seorang temannya menceritakan kisah lucu, dan ia tertawa terbahak-bahak, hingga bekas lukanya terbuka kembali. Darah menyembur deras dan ia mati. Ayahnya memutuskan untuk menuntut si pembuat lelucon atas pembunuhan itu. (6) Seringkali plot pun bahkan sama sekali tak perlu. Yang kita perlukan hanyalah menggambarkan saja apa yang terlihat. Seorang pendongeng kadangkala hanyalah seorang pelapor satu pemandangan. Misalnya ia pernah melihat seorang pengamen dengan kodok-kodoknya yang bisa memainkan bunyi layaknya orkestra, dan ia hanya menuliskan bagaimana pengamen itu membuat kodok-kodoknya berbunyi. Ini mengajarkan kita satu hal: kekuatan suatu karya sastra, pertama dan terutama, ada di elemen paling mendasar. Kata dan bagaimana kita mempergunakan kata-kata.

Baca: Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (2)

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑