Eka Kurniawan

Journal

Tag: Vincent van Gogh

Den Haag, Setelah Sepuluh Tahun

Pertama kali pergi ke luar negeri, saya pergi ke Den Haag tahun 2006 untuk menghadiri festival Winternachten (dan itu pula alasan pertama saya akhirnya punya paspor). Meskipun ada beberapa penulis Indonesia lainnya saat itu (A.S. Laksana dan Dinar Rahayu), kami jalan sendiri-sendiri dengan jadwal penerbangan yang berbeda. Jadi bisa dibayangkan betapa gelisahnya saya selama belasan jam di pesawat. Bagaimana kalau nanti tak ada yang jemput, atau tak bertemu yang jemput di bandara Schiphol? Tidur di mana? Hubungin siapa (zaman itu telepon genggam belum secanggih sekarang, lah)? Bagaimana kalau nyasar? Ya, terdengar norak. Untunglah apa yang saya kuatirkan tak terjadi, meskipun bukan berarti tak ada kekonyolan. Malam pertama saya di kamar hotel merupakan sejenis penderitaan karena saya kedinginan, harus menimbun diri di balik selimut dan penutup kasur, hanya karena saya tak tahu bagaimana menghidupkan penghangat ruangan. Hahaha. Yang membuat saya diundang ke festival itu adalah sebuah cerpen berjudul “Kutukan Dapur”. Saya pikir, mungkin karena cerpen itu sedikit lucu dan ada Belandanya, dan kebetulan ada versi terjemahan Inggrisnya, jadi mereka bisa mengerti. Waktu itu novel Cantik Itu Luka, yang berkisah tentang seorang indo sejak akhir kolonial hingga Indonesia kemarin sore, tentu sudah terbit. Tapi bisa dibilang tak ada yang menyinggung soal novel tersebut. Novel itu hanya tersedia dalam bahasa Indonesia (dan Jepang), jadi bisa dimaklumi jika tak diketahui, kecuali oleh orang-orang yang secara khusus menaruh minat kepada kesusastraan Indonesia (dan kebetulan menemukan novel saya). Tentu saja selama rentang waktu itu sempat ada pembicaraan tentang kemungkinan menerjemahkan novel itu ke bahasa Belanda, sayang sekali tak menemukan penerbit. Padahal dulu saya pikir, jika novel tersebut diterjemahkan ke bahasa asing, ke bahasa Belanda merupakan kemungkinan paling besar dan pertama. Alasannya sederhana. Indonesia dan Belanda memiliki ikatan sejarah, dan mungkin emosional; novel itu juga menyinggung pendudukan Belanda di Indonesia; selain itu faktanya ada beberapa karya sastra Indonesia diterbitkan di Belanda. Ternyata itu tak terjadi, dan saya sadar: saya naif. Hingga akhirnya tahun ini diterbitkan oleh Lebowski dengan judul Schoonheid is een Vloek, diterjemahkan oleh Maya Liem dan Sven Aalten. Yang sedikit menyedihkan (atau tak perlu sedih? Kenaifan saya enggak sembuh-sembuh), editor dari penerbit ini tahu novel tersebut bukan dari edisi Indonesia (tidak pula dari orang Indonesia), tapi dari edisi bahasa Inggris, diperkenalkan oleh editor saya di Amerika (bahkan akhirnya memakai sampul yang sama dengan versi New Directions). Kadang-kadang jalan memang harus memutar. Karena buku itu, akhirnya saya datang kembali, dan ketika tiba di bandara Schiphol, baru saya sadar tentang jeda sepuluh tahun itu. Gara-gara delay lama, sekarang saya malah benar-benar ditinggal penjemput sehingga harus naik taksi sendiri ke hotel, tapi tak apa-apa. Sudah pernah terlunta-lunta di bandara negeri orang, bahkan ditinggal kereta, jadi lebih siap mental. Bahkan pernah masuk detention room berjam-jam (meskipun akhirnya dilepas tanpa interogasi apa pun), di masa ketika pengamanan bandara sedang gila-gilanya. Sepuluh tahun, rasanya lama sekali. Selain akan ngobrol soal novel tersebut, saya ingin menebus apa yang tak saya lakukan sepuluh tahun lalu: pergi ke Amsterdam dan mengunjungi salah satu pelukis kesayangan saya. Vincent van Gogh. Tentu, museumnya. Dan kali ini saya tak perlu pusing mencari di mana tombol penghangat ruangan kamar hotel. Musim panas sudah datang menjelang.

Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑