Journal

Misreadings, Umberto Eco

Di satu malam di satu lorong kota Bologna, seorang profesor dihadang seseorang yang tanpa basa-basi langsung memukulnya jatuh, menendangnya, dan ketika mencoba bangkit, dipukul lagi. Setelah dibawa ke rumah sakit oleh dua biarawati yang kebetulan lewat dan melihatnya tergeletak, diketahui profesor tersebut adalah Umberto Eco. Si penyerang baru diketahui beberapa hari kemudian setelah berhasil ditangkap oleh polisi. Ia seorang penulis muda bernama Dante Alighieri. Rupanya Dante kesal atas komentar sang profesor, yang diperkerjakan oleh penerbit untuk menyaring naskah dan membuat ulasan ringkas, atas karyanya yang berjudul The Divine Comedy. Sang profesor antara lain bilang, “Alighieri merupakan tipikal penulis sambilan.” Kemudian, meskipun mengakui kualitas teknisnya, ia menyarankan penerbit untuk menolak buku tersebut, sebab menurutnya buku ini terlalu posmo, ditulis dengan dialek Florence yang berat. Kalau mau menerbitkannya secara luas, harus menerbitkan versi dialek Milan dan lainnya. “Itu pekerjaan penerbit kecil.” Profesor Eco memang sering menulis di Il Verri, kadang ulasan ringkas atas karya yang akan atau telah terbit, kadang esai tentang beberapa isu, tapi gayanya yang nyeleneh dan seringkali kasar, tak urung memancing emosi banyak orang. Masih untung jika hanya mendapat sanggahan yang sama kerasnya di majalah sastra, seperti sudah ditulis di muka, kadang ia memperoleh serangan fisik. Kasus pemukulan oleh Dante jelas bukan yang pertama. Sebelumnya, sekelompok (atau seseorang?) yang menamakan dirinya sebagai Anonymous juga menghadangnya, tepat di depan apartemennya ketika ia baru pulang dari kampus agak larut malam. Polisi tak pernah berhasil mengusut siapa Anonymous ini, mereka hanya curiga, “Mungkin sekelompok hacker internet yang berusaha cari perhatian dengan cita-cita meruntuhkan tatanan lama yang telah bobrok”. Tapi tak ada klaim apa pun di internet oleh Anonymous ini mengenai penyerangan atas Profesor Eco. Apa yang terjadi, sepenuhnya bersumber dari satu sisi, sang profesor sendiri. Semuanya bermula dari ulasannya mengenai buku The Bible, yang menurut profesor ditulis oleh Anonymous. Sebenarnya profesor memuji naskah tersebut dengan bilang, “Beberapa ratus halaman pertama benar-benar mencengkeramku. Penuh aksi, memiliki segala yang diinginkan pembaca kiwari dalam sebuah cerita yang baik. Ada seks (banyak, termasuk perzinahan, sodomi, inses), juga pembunuhan, perang, pembantaian, dan lain sebagainya.” Tapi kemudian ia curiga buku tersebut sebenarnya antologi banyak penulis, terlalu banyak puisi, dan ungkapan-ungkapan yang membosankan. Segalanya ada. “Buku ini seperti hendak menyenangkan semua orang, tapi akhirnya tak membuat senang siapa pun.” Bahkan sang profesor menyarankan, buku itu harus dipenggal, terbit bagian depannya saja. Cukup lima bab. Selain itu harus ganti judul. Anonymous menyerangnya dengan kesal, mengata-ngatainya tak tahu apa-apa soal sastra dan, bahwa buku tersebut memiliki nilai jauh melebihi sekadar cerita. “Kamu salah baca,” kata Anonymous. Profesor Eco, kemudian tak yakin apakah yang menyerangnya satu orang atau beberapa orang. Ia ditemukan pagi hari dalam keadaan babak belur dan tak sadarkan diri. Di luar itu, ia juga pernah membuat kesal sekelompok sutradara film, karena membocorkan resep mereka dalam membuat cerita. Resep yang disimpan dalam lemari terkunci di studio, tapi entah bagaimana Profesor Eco berhasil mendapatkannya. Ia diadukan ke pengadilan oleh Antonioni, Jean-Luc Godard, Luchino Visconti dan beberapa yang lain dengan tuduhan, “Membocorkan rahasia hak cipta pola menulis cerita film”. Ia kalah di pengadilan dan harus membayar denda yang membuatnya nyaris bangkrut. Untunglah tak lama selepas itu, novel sang profesor, The Name of the Rose, meledak tak hanya di Italia tapi di seluruh dunia, membuat kondisi finansialnya membaik, bahkan melebihi sebelumnya. Rupanya kasus pengadilan itu tak membuatnya kapok, ia terus menulis ulasan dan esai di majalah sastra Il Verri, dan terus membuat masalah dengan banyak orang. Ia mengomentari Justine karya Sade sebagai terlalu banyak filosofi. “Pembaca sekarang mau lebih banyak seks, seks, dan seks.” The Trial, karya seorang bujangan bernama Franz Kafka dikatainya sebagai “seolah ditulis di bawah rezim otoriter” dan harus diedit, sementara Finnegans Wake karya James Joyce dianggapnya tidak jelas ditulis dalam bahasa apa, yang jelas bukan bahasa Inggris. Tapi kasus yang mungkin merusak reputasinya adalah ketika Porfesor Eco menerbitkan cerita (masih di majalah yang sama) berjudul “Granita”. Banyak orang langsung menuduhnya melakukan plagiat atas novel berjudul Lolita. Memang tak sama persis. Di cerita yang ditulisnya, Eco mengganti si gadis kecil Lolita dengan seorang nenek bernama Granita. Ya, ini tentang seorang lelaki yang tergila-gila kepada perempuan yang sudah tua. Meskipun ada perbedaan tersebut, orang tetap menganggapnya melakukan plagiat. Coba lihat pembukaan ceritanya: “Granita. Bunga masa remajaku, derita malam-malamku. Akankah aku melihatmu lagi? Granita. Granita. Gran-i-ta.” Bahkan akhirnya Vladimir Nabokov menyeretnya ke pengadilan. Ini pengadilan kedua untuk Profesor Eco. Kali ini, dengan pembelaan yang penuh semangat dan melibatkan begitu banyak referensi, Eco berhasil meyakinkan hakim tentang perbedaan plagiat dan parodi. Pengadilan membebaskan Eco dalam kasus tersebut. Meskipun begitu, banyak mahasiswanya yang dipenuhi jiwa-jiwa muda yang membara, tetap merasa kecewa. Mereka mulai mempertanyakan reputasinya sebagai profesor, dan berombongan meninggalkan kuliah-kuliah semiotiknya, beralih ke kuliah teologi yang menurut mereka lebih memberi kepastian mengenai bagaimana menafsir segala sesuatu. Dengan berbagai kasus tersebut (tidak semuanya ditulis di sini), Profesor Eco akhirnya berhenti menulis di Il Verri. Tapi ketika namanya sebagai novelis maupun profesor semiotik semakin moncer, penerbit berniat untuk menerbitkan tulisan-tulisan tersebut dalam sejilid buku. Meski awalnya ragu, akhirnya Profesor Eco setuju. Tapi untuk menghindari masalah-masalah lebih lanjut, terutama serangan mematikan di jalanan dari penulis atau orang yang kecewa, dan teringat kepada Anonymous, Profesor Eco memberi judul buku tersebut sebagai Misreadings.

Standard
Journal

Mythologies, Roland Barthes

Kadang saya pengin nulis esai tentang fenomena-fenomena di sekitar saya. Katakanlah soal pesugihan yang membuat pelakunya harus merenovasi rumah terus-menerus, yang orang Jawa menyebutnya sebagai kandang bubrah. Atau para penjual roti keliling di pagi hari yang berebut perhatian dan pelanggan dengan lagu jingle masing-masing. Atau lembaga swadaya masyarakat yang menyebar sukarelawannya untuk mencegat orang-orang lewat di mal atau di jembatan penyeberang sambil berkata, “Boleh minta waktu sebentar, lima menit saja?”, yang ujung-ujungnya tak jauh berbeda dengan sales parfum, perumahan, atau asuransi untuk menodong isi dompet kita. Kadang pengin juga nulis tentang jalan raya di daerah saya, yang semakin macet justru di hari libur. Tapi cukup membaca buku macam Mythologies karya Roland Barthes, dan keinginan saya dengan segera rontok, serontok-rontoknya. Orang macam ini, sebagaimana esais macam Walter Benjamin atau yang lebih muda dari mereka, Umberto Eco, telah membuat aktivitas menafsir berbagai fenomena kebudayaan (populer) tampak seperti sejenis pengulangan dan tiru-tiruan belaka. Paling banter, kalaupun saya nekat melakukannya, hanya akan menjadi tiruan pemikiran kualitas kesekian, dengan omong-kosong tentang tanda dan apa yang saya pikir diwakilkan oleh tanda tersebut. Bayangkan di buku yang hanya merangkum sebagian saja esai-esainya ini, Barthes menulis dari mulai gaya rambut dan keringat orang-orang Romawi di film hingga soal liburan para penulis yang dianggapnya sebagai memproletarkan diri (liburan awalnya hak anak sekolah, kemudian hak kaum pekerja). Memang, terutama Barthes bicara tentang mitos-mitos modern di belakang berbagai hal yang bahkan tampaknya banal. Potongan rambut seorang santa, misalnya, tak hanya merefleksikan ketaatan beragama tapi juga kekuasaan gereja; sebagaimana janggut lebat mencitrakan manusia bebas (karena tak harus mengikuti norma masyarakat yang harus bercukur setiap pagi). Saya jadi membayangkan para pendeta Buddha yang plontos sebagaimana orang-orang muslim yang saleh memanjangkan jenggotnya tanpa berkumis dengan dahi yang menghitam. Barthes mungkin tak membahas hal-hal itu, sebagaimana dia tak sempat melihat orang bekerja di cafe dengan laptop bergambar apel kroak, atau berjalan bergegas di trotoar sambil memegang gelas sekali pakai bergambar putri duyung hijau, tapi apa bedanya? Dia bisa membaca semua itu dan membaurkannya dengan mitos-mitos masyarakat modern. Mitos yang pada dasarnya dari abad ke abad tetap sama tapi direproduksi terus-menerus secara berbeda. Atau mungkin kita bisa menulis esai dengan sedikit berbeda, tak hanya menafsir dan mereka-reka makna di balik benda-benda, tapi juga memberikan kritik (kalau perlu yang pedas) atasnya. Aha, Barthes sudah melakukannya. Ia tak hanya menafsir Chaplin, tapi juga mengkritiknya sebagai menyederhanakan kaum ploretar sebagai kaum miskin. Juga mengejek cara pandang majalah Elle: kalian bicara bahwa perempuan bisa melakukan apa saja, tapi jangan lupa tugas kalian adalah bunting dan bikin anak (untuk lelaki). Sial bener, bukan? Atau bagaimana selain menafsir dan membuat kritik yang tajam, juga membuat perbandingan? Ini akan mengasyikkan, di mana kita bisa menciptakan hubungan fiktif yang gila-gilaan. Katakanlah arisan sebenarnya merupakan ritus pemujaan baru, atau sepakbola sebenarnya pesta orgy. Percayalah, Barthes sudah melakukannya. Di satu esai, ia membayangkan adegan striptease sebagai eksorsisme, sementara mobil dianggap sebagai katedral di zaman modern. Dan di esai lain, ia bicara tentang kandidat politikus yang mempergunakan potret diri mereka sebagai alat kampanye, dan saya merasa betapa esai itu bahkan masih berlaku sampai sekarang, termasuk di negeri ini. Apa yang tersisa untuk penulis payah macam saya, kecuali kemudian menganggap manusia macam Barthes adalah mitos itu sendiri. Kenapa saya membacanya? Mungkin biar dianggap keren? Pembuktian diri sebagai anggota masyarakat kelas borjuis kecil (sebab kaum proletar kemungkinan besar tak membacanya sebagaimana mereka kemungkinan tak membaca Marx juga)? Entahlah, buku macam begini, meskipun mental borjuis saya bisa sedikit terhibur, tapi juga sekaligus menjengkelkan. Membuat saya jadi bertanya-tanya, memangnya apa lagi yang bisa diperbuat dengan semiotika dan segala ilmu tanda serta tafsir ini?

Standard