Eka Kurniawan

Journal

Tag: Toni Morrison

“People tend to associate me with foreign writers,” Kurniawan says. “Of course I read Gabriel Garcia Marquez and Toni Morrison but what people forget is I also read Indonesian stories, books and comics.” A profile from The Sydney Morning Herald.

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.

Homer

The Iliad adalah kemarahan, sementara The Odyssey adalah perjalanan. Yang pertama ditulis konon ketika ia di puncak kematangannya sebagai penyair, yang kedua ditulis di masa ketika ia lebih tua, yang barangkali artinya ia jauh lebih bijak. Saya tak tahu mana kualitas terbaik yang harus dimiliki seorang penulis: kemarahan atau kebijaksanaan. Kisah kemarahan Achilles di The Iliad merupakan salah satu yang menurut saya paling mengerikan. Ada beberapa “kemarahan” di kisah-kisah yang saya baca, yang terus mengganggu saya (dan mungkin banyak pembaca). Kemarahan Sethe di Beloved Toni Morrison, ketika ia membunuh anaknya, merupakan salah satu yang terus menghantui pikiran saya. Di novel Knut Hamsun, Pan, saya teringat kemarahan Letnan Thomas Glahn yang menembak mati anjingnya sendiri, Aesop. Bangkai si anjing ia kirim ke rumah Edvarda, gadis yang menghancurkan hatinya. Dan jangan dilupakan kemarahan Kapten Ahab terhadap paus raksasa yang memutus kakinya, di novel Moby-Dick. Meskipun begitu, kemarahan Achilles kepada Hector saya rasa tak ada tandingannya. Di buku kedua puluh dua puisi epik ini, setelah Achiles mengalahkan Hector (yang membunuh Patroclus, sahabat Achilles) dalam pertempuran, Achilles menyeret mayat Hector di tanah berdebu. “So his whole head was dragged down in the dust, and now his mother began to tear her hair …” (kutipan dari terjemahan Robert Fagles, sang jenius Homer menderetkan dua baris, dua adegan di dua tempat yang berbeda, untuk memperlihatkan rasa marah di satu sisi, dan rasa perih di sisi lainnya). Perang Troya sendiri, yang merupakan panggung utama The Iliad, lahir dari satu kemarahan setelah Paris dari Troy menculik Helena, memancing amarah orang-orang Achaea. Pasukan Achaea yang dipimpin oleh Agamemnon (kakak Menelaus, suami Helena) pun melancarkan perang atas Troya, dan Achilles dengan kemarahannya menjadi roh penting dari perang bertahun-tahun ini. Menurut tradisi, The Odyssey ditulis Homer setelah The Iliad, bahkan banyak yang yakin itu ditulis di masa tuanya. Kisah yang meliputi The Odyssey pun, pada dasarnya merupakan “sekuel” dari The Iliad, yakni perjalanan Odysseus (atau Ulysses dalam tradisi Latin, salah satu komandan pasukan Achaea) seusai perang Troya, pulang ke rumahnya di Ithaca. Perjalanan ini merupakan “perang” tersendiri, dan meliputi waktu bertahun-tahun yang sama lamanya dengan perang Troya. Perjalanan, saya rasa merupakan tema klasik dalam banyak literatur, tak hanya di Barat (tempat The Odyssey memberi pengaruh yang sangat luas terhadap kesusastraan klasik maupun modern), tapi juga di Timur. Journey to the West, salah satu kanon klasik Cina yang mengisahkan perjalanan Sun Gokong dan pendeta Buddha ke Barat (India) untuk memperoleh kitab, juga merupakan kisah perjalanan. Demikian pula dalam novel-novel kontemporer, dengan mudah kita bisa menemukannya: tahun lalu saya membaca Traveller of the Century karya Andrés Neuman. Meskipun merupakan novel gagasan, novel itu berkisah mengenai satu perjalanan (dan perhentian). Seperti ditulis dalam pembukaan The Odyssey, kisah perjalanan menurut saya selalu merupakan “Many cities of men he saw and learn their mind” (juga terjemahan Robert Fagles). Kisah perjalanan pada dasarnya merupakan kisah gagasan, kisah memperoleh kebijaksanaan. Tentu saja ada pertarungan, ada drama: istri Odysseus, Penelope yang menunggu kepulangannya, dirongrong ratusan pemuda yang menginginkan dirinya menjadi istri. Tapi yang terpenting, membaca The Odyssey sering membuat saya yakin, perjalanan paling panjang dan menderitakan, adalah perjalanan pulang ke rumah. Pelampiasan dendam Achilles pada akhirnya membawanya kepada kematiannya sendiri. The Iliad seperti mengatakan bahwa pertarungan merupakan perjalanan yang pendek. Singkat dan ringkas. Sementara itu, The Odyssey seperti bilang perjalanan dan petualangan merupakan kemarahan yang panjang, dendam yang berlarut-larut.

130 Tahun Huckleberry Finn

Selamat ulang tahun, Kawan. 130 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Saya tak tahu seperti apa keadaannya di hari itu, 10 Desember 1884, ketika The Adventures of Huckleberry Finn terbit pertama kali. Tapi hari ini saya masih membacanya kembali, melalui edisi yang saya beli dari toko buku loak di pinggiran Tokyo bernama Book-Off seharga 105 yen, dengan coretan-coretan huruf kanji dari seorang pembaca lokal yang mungkin tengah mempelajari bahasamu. Jika ada satu buku saya masih bertahan hingga setua itu dan masih ada yang membacanya, saya tak tahu apakah saya akan bahagia atau tidak: saya tak akan ada lagi di dunia ini untuk mengetahuinya. Tapi saya berharap kebahagiaan untuk penulismu. Ada orang-orang yang mengatakan kita menulis untuk keabadian. Saya meragukannya. Menurut saya, ini ilusi. Kenyataannya, 99,999999 persen buku di dunia ini akan lenyap ditelan gilasan roda zaman. Tak perlu menunggu 130 tahun, buku yang hari ini terbit banyak yang sudah dilupakan di tahun depan. Setidaknya 5 tahun sudah menjadi kertas tisue untuk cebok. Seperti dinosaurus dan harimau jawa, banyak gagasan dan buku yang akan punah. Kau harus percaya itu. Kau harus percaya Darwin, sebagaimana percaya Heraclitus yang mengatakan bahwa tak ada yang abadi kecuali perubahan. Kita, para penulis, menciptakan ilusi keabadian ini agar kita lupa dan tak sadar, bahwa sebagian besar yang kita tulis tak lebih dari sampah peradaban belaka. 130 tahun bukanlah waktu yang abadi. Selalu ada kemungkinan suatu hari kau akan lenyap, orang tak membutuhkanmu lagi, tak menginginkanmu lagi, dan kamu akan terlupakan. Tapi apa pedulinya dengan “suatu hari”? Dinosaurus barangkali tidak benar-benar punah. Kode-kode genetiknya diwariskan kepada kita, manusia, sebagaimana diwariskan kepada kodok dan cacing pita. Demikian pula buku: melebihi berapa ratus tahun sebuah buku bisa bertahan, jauh lebih penting bagaimana “kode genetik” buku-buku dan gagasan, diwariskan kepada buku-buku dan gagasan berikutnya. Sebagaimana dirimu memperoleh warisan berharga dari tradisi picaresque Spanyol, dari novel-novel anak-anak berandalan semacam Historia de la Vida del Buscón Don Pablos atau La Vida de Lazarillo de Tormes. Dan siapa tahu kau pun mewariskan sesuatu kepada novel lokal semacam Si Doel Anak Djakarta (sebelumnya Si Doel Anak Betawi)? “We said there warn’t no home like a raft, after all.” Kau mengatakan itu di bagian tengah buku, dan saya tak pernah tidak setuju. Hidup ini selalu merupakan perjalanan, terapung-apung di atas rakit, seperti kau lakukan di sepanjang sungai Mississippi. Kalimat itu, barangkali cukup satu kalimat saja dari ribuan kalimatmu, merupakan kode genetik yang merasuki kepala saya, dan izinkan menjadi bagian dari pikiran-pikiran saya. Saya tak tahu apakah penulismu merupakan penulis terbaik yang dilahirkan Amerika. Sejujurnya saya hanya membaca segelintir penulis Amerika. Selain penulismu, Mark Twain, saya membaca Herman Melville, Hemingway, Faulkner, Toni Morrison dan kurasa ini yang terbaik dari generasi kontemporer: Cormac McCarthy. Tapi saya rasa khayalan tentang Amerika akan sangat berbeda tanpa dirimu, tanpa petualangan Huckleberry Finn di sepanjang Mississippi, persahabatannya dengan Jim si budak, dan seperti novel-novel picaresque yang saya sukai, pertanyaan besar-kecil mengenai masyarakat orang dewasa dari kacamata seorang anak kecil. Ketika saya meninggalkan rumah dan sekolah, dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah saat umur belum juga genap 14, saya belum membacamu. Tapi ketika pertama kali membacamu, bertahun-tahun kemudian, saya melihat diri saya di wajahmu, sebagaimana sering kita temukan di karakter-karakter yang mengenangkan di novel-novel lain. Sekali lagi selamat ulang tahun. Saya tak bisa menyediakan 130 lilin, tapi lebih dari 500 kata tulisan ini barangkali cukup untuk ditiup, sebelum lenyap menjadi sampah peradaban yang lain.

Apa yang Saya Pikir tentang Penyuntingan?

Beberapa kali saya bertemu buku dengan label “restored edition”, yang artinya, itu buku diterbitkan persis seperti manuskrip yang ditulis (atau kehendak) penulisnya (bukan berdasarkan edisi pertama yang telah disunting), seperti dalam kasus A Clockwork Orange, Anthony Burgess. Dalam kasus A Movable Feast Ernest Hemingway, “restored edition” ini justru malah sering dipertanyakan “keaslian”nya, karena banyaknya campur-tangan penyunting, yang adalah cucu si penulis. Alternatif lain, buku edisi reguler (yang sudah melalui penyuntingan), tapi juga disisipi appendix berupa bagian-bagian “asli” merujuk ke manuskrip sang penulis. Saya jadi bertanya-tanya, jadi apa fungsi penyunting, jika buku-buku itu malah dikembalikan ke “aslinya”? Dunia perbukuan tanpa peran penyunting dan kerja penyuntingan, tentu saja merupakan kekacauan, meskipun ya, dunia akan terus berputar tanpa mereka. Sebagai penulis, saya menerima dengan baik pekerjaan ini, dan selalu terbuka untuk setiap penyuntingan. Tapi beberapa kali bertemu dengan orang yang mengaku sebagai penyunting/editor, dan berkata atau berkomentar tentang sebuah karya “seharusnya begini, seharusnya begitu”, tak jarang membuat saya sebal. Begini: seperti dalam hidup, dunia penulisan juga senantiasa berada dalam ketegangan dua kutub: yang diidealkan dan yang dijalankan. Aturan dan praktek. Kita tahu ada aturan-aturan berbahasa. Saya yakin para penulis di dunia paham bahwa tanpa aturan berbahasa, semua karya tulis (novel, cerita pendek, esai, puisi) menjadi sampah omong-kosong karena tak akan ada yang mengerti. Tapi seperti para penjahat gadungan, para penulis yang punya nyali juga memiliki hasrat meluap-luap untuk keluar dari aturan-aturan ini. Saya rasa, ketegangan inilah yang membuat keberadaan sosok seorang penyunting menjadi penting. Untuk apa? Untuk mengendalikan para perusuh yang ingin melanggar aturan dan mengembalikan mereka ke tatanan? Tunggu. Toni Morrison pernah berkata (saya lupa di mana, tapi kutipan ini sering berseliweran di mana-mana), “Peran penyunting itu mirip psikiater. Jika kamu merasa cocok dengannya, lanjut. Jika tidak, urus sendiri barangkali lebih baik.” (Kutipannya mungkin tak persis seperti itu, tapi kurang-lebih begitu). Jika kita membandingkan dunia penulisan ini dengan dunia kesehatan mental, saya yakin di dunia ini tak ada orang yang benar-benar “normal”. Jadi dalam tingkat yang berbeda-beda, kita semua membutuhkan psikiater, dan tugas psikiater bukanlah menjadikan kita normal (karena tidak ada). Lebih cocok bila saya bayangkan tugas mereka adalah untuk membuat kita nyaman dalam masyarakat, atau meminimalisir penyakit kita menjadi gangguan. Ya, psikiater tentu punya bekal pengetahuan, ilmu yang pernah dipelajarinya. Tapi saya yakin, mereka bekerja tidak semata-mata mengatur pasen mengikuti apa yang telah dipelajarinya. Jauh lebih penting daripada bertahun-tahun mempelajari kesehatan mental, saya yakin hal terpenting yang harus dimiliki seorang psikiater adalah empati yang besar terhadap pasennya. Dengan cara yang sama, kita bisa melihat hubungan penyunting dan penulisnya. Penyunting (melalui sekolah maupun pengalaman kerja), tentu memiliki pengetahuan yang memadai bagaimana menulis yang semestinya, mereka juga paham aturan-aturan berbahasa, bahkan selalu siap-sedia merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi yang jauh lebih penting untuk mereka miliki, tentu saja empati terhadap penulisnya. Kembali ke soal “normal”, sebagaimana tak ada yang benar-benar normal, apakah dalam penulisan ada yang benar-benar “seharusnya”? Sekali lagi, saya bukan penulis yang anti penyunting maupun penyuntingan. Tapi bisa dibilang, saya anti terhadap kecenderungan kebenaran tunggal dalam penyuntingan, seolah hanya ada satu kondisi “normal” di mana semua penulisan harus merujuk ke sana. Bagi saya, setiap kerja penyuntingan membawa sebuah paradigma dalam prosesnya. Jika sebuah tulisan disunting agar sesuai dengan aturan berbahasa, mempergunakan bahasa baku, kita bisa menyebutnya sebagai salah satu paradigma. Paradigma positivisme, barangkali. Tapi juga harus diasumsikan bahwa ada banyak paradigma dan sudut pandang. Paradigma itu bisa bisnis, bisa politis, moralis, bisa pula estetis. Saya rasa bukan tugas seorang penyunting untuk mengakomodasi satu paradigma, tapi justru untuk mengenali sebanyak-banyaknya. Dengan kesadaran bahwa kerja penyuntingan membawa suatu paradigma (yang bukan kebenaran tunggal), maka sangat dimungkinkan sebuah karya, kelak akan disunting kembali (dengan paradigma baru), atau bahkan dikembalikan ke manuskripnya, seperti dalam kasus “restored edition” (yang artinya, ini juga paradigma yang lain). Kerja penyuntingan, kurang-lebih sama seperti penerjemahan atau pengalihrupaan. Itu pekerjaan yang memiliki irisan dengan penafsiran. Jika ada asumsi kebenaran di sana, maka itu hanya kebenaran sementara. Itulah gunanya memiliki empati terhadap penulis, meskipun saya sadar, barangkali sedikit saja penulis yang peduli terhadap ini. Seperti psikiater memahami keadaan pasennya, jika penyunting memahami penulisnya, ia tak akan berkata “seharusnya begini seharusnya begitu” seolah-olah ada kebenaran tunggal dalam penulisan. Bagi penyunting, kitab EYD dan Kamus Besar memang penting. Logika juga penting. Tapi jauh lebih penting adalah pemahaman Anda tentang penulis yang Anda hadapi. Saya percaya, penyunting bisa mengkhianati EYD, Kamus Besar bahkan logika, demi penulis. Anda tidak sedang membuat donat yang Anda harapkan rasanya sama, siapa dan kapan pun dimakan. Anda sedang membuat buku, dengan rasa yang seharusnya berbeda dari satu buku ke buku lain, dari satu penulis ke penulis lain. Tapi jangan lupakan, pandangan saya tentang penyuntingan ini pun hanya salah satu paradigma saja. Satu sudut pandang saja.

Umur Berapa Seorang Penulis Menghasilkan Karya Pentingnya?

Gara-gara ada yang bercanda soal umur, saya jadi ingin menulis soal umur berapa seorang penulis menerbitkan karya pentingnya. Ya, ini salah satu keisengan saya. Pertama, mari kita ngobrol soal Günter Grass. Seperti kita tahu, ia bagian dari kelompok penulis/seniman Gruppe 47, kelompok penulis muda (sebenarnya tidak muda, kecuali ukurannya peraturan ormas kepemudaan di Indonesia, hehehe) Jerman yang baru pulang dari perang. Novel pertama Grass, dan saya rasa yang terpenting, The Tin Drum diterbitkan tahun 1959, ketika ia berumur 32 tahun. Berapa umurmu sekarang? Jika hampir atau telah lewat 40 dan belum menghasilkan karya sekelas The Tin Drum, lupakan saja untuk bersaing dengannya. Setelah itu, karya terpenting lainnya menurut saya adalah The Flounder yang terbit ketika ia berumur 50 tahun. Baiklah, jangan terlalu pesimis. Sekarang kita tengok penulis lain, misalnya Gabriel García Márquez. Ia memang menulis cerpen dan novela sejak awal umur dua puluhan, tapi awalnya tak ada yang memerhatikan. Hingga akhirnya, kita tahu, ia merilis One Hundred Years of Solitude. Kapan novel itu pertama kali terbit? 1967, ketika ia berumur 40. Nah, sekali lagi berapa umurmu sekarang? Jika masih 30-an, apalagi 20-an, sila mulai berhitung. Bisakah menghasilkan novel sekelas itu ketika mencapai umur 40? Sejak saat itu, Márquez relatif konstan menerbitkan karya-karya yang unggul. Mungkin aneh menghubung-hubungkan umur penulis dengan karya pentingnya, tapi saya rasa, itu bisa menjadi ukuran informal untuk melihat karir di dunia kesusastraan.Untuk mengukur daya tahan penulis, mengukur perkembangan mental sekaligus intelektual, dan juga keterampilan. Tapi bagaimana jika Anda baru berminat secara serius menulis ketika umur sudah berlipat? Jangan kuatir. Saya punya contoh yang baik: Jose Saramago. Ia baru menulis serius justru setelah lewat umur 40-an. Dan tahun berapa karya penting pertamanya, Baltazar and Blimunda terbit? Tahun 1982, ketika ia berumur 60 tahun! Ada harapan untuk Anda yang telah berumur setengah abad untuk mengikuti jejaknya. Tapi jangan lupa, Saramago juga sebenarnya telah menulis sejak umur 20-an. Ia menerbitkan beberapa karya, bahkan ada yang baru terbit setelah ia meninggal. Yang pati, ia tak buru-buru serius menjadi penulis karena ia bekerja sebagai jurnalis. Juga sebagai aktivis. Setelah Baltazar and Blimunda, ia secara gila menulis sangat produktif dan semuanya karya yang bagus, bahkan sampai hari-hari terakhir hidupnya. Novelnya yang paling saya suka, The Year of the Death of Ricrado Reis terbit ketika ia berumur 62. Sementara itu Toni Morrison baru menerbitkan novel pertamanya, The Bluest Eye tahun 1970, ketika ia berumur 39. Meskipun begitu, baru melalui Song of Solomon ia menarik perhatiakn para pengamat sastra, yang terbit tahun 1977 ketika ia berumur 46. Dan Beloved terbit sepuluh tahun kemudian setelah itu. Artinya? Memang tak ada patokan umur kapan seorang penulis melahirkan karya yang menjadi titik-tolak karirnya. Karya penting pertama yang dihasilkannya. Seorang penulis bisa saja menghasilkan karya penting di usia muda, tapi seperti kita lihat, ada yang baru merilis karya pentingnya di umur 40, bahkan 60. Meskipun begitu, saya rasa tetap saja ada satu pola. Karya-karya penting itu secara umum ditulis atau diterbitkan di usia muda “karir menulis” mereka. Günter Grass langsung melahirkan The Tin Drum setelah ia pulang dari perang dan memutuskan menjadi penulis. Márquez menerbitkan One Hundred Years of Solitude setelah ia mencoba menulis Leaf Storm dan In Evil Hour (yang tak bisa dibilang buruk). Saramago dan Morrison mungkin baru menghasilkan karya penting di usia tua, tapi harus dicatat, mereka juga memulainya di usia tua. Bagaimana dengan penulis yang lebih muda? Novel Orhan Pamuk yang pertama kali menarik perhatian, The White Castle terbit tahun 1985, ketika ia berumur 33 tahun (novel pertamanya terbit di umur 30). Setelah itu, bisa dibilang novelnya penting semua (semuanya hanya delapan novel) termasuk My Name is Red yang terbit ketika ia berumur 46. Baiklah, sekali lagi tulisan ini barangkali tidak penting. Anda bisa menulis kapan pun, dan menghasilkan karya penting kapan pun. Tak ada yang mengharuskan Anda menulis sehebat karya-karya itu. Tentu kecuali jika Anda termasuk yang berhitung tak akan adu lari cepat di Olimpiade kecuali yakin memiliki kecepatan mendekati Usain Bolt.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑