Journal

Utopia, Thomas More

Rada aneh membaca sebuah novel tentang pembunuh bayaran, pada saat bersamaan juga membaca Utopia karya Thomas More: saya tiba-tiba membayangkan diri sebagai seorang pembunuh bayaran, dan pada saat bersamaan terdampar di Republik Utopia. Sudah jelas keahlian saya tak berguna di sana, sebab tak seorang pun akan menyewa saya untuk melenyapkan nyawa manusia lain. Memang bisa saja pemerintah setempat menyewa saya jadi prajurit bayaran, tapi apa boleh buat, sudah lama mereka tak mengenal perang dan tampaknya akan butuh waktu lama perang berikutnya terjadi antara mereka dan negeri lain. Pada saat yang sama, saya juga tak bisa berleha-leha di sana sebagaimana turis di negeri-negeri lain, sebab mereka menganggap bermalas-malasan merupakan tindakan kriminal (meskipun mereka juga melarang memaksa orang bekerja di luar batas. Waktu kerja mereka cuma enam jam sehari). Negeri itu sebenarnya terbuka untuk pelancong, selama kalian bisa menyumbangkan keahlian. Tidak, mereka tak butuh uang. Tidak pula butuh emas atau perak (besi lebih berguna untuk mereka, dan mereka punya cadangan besi yang melimpah). Tapi, sekali lagi, keahlian mengirim manusia ke dunia lain sama sekali tak berguna di sini. Jadi apa yang bisa dilakukan seorang pembunuh bayaran di Utopia? Saya bisa melamar jadi tukang jagal, sebab umumnya tak ada penduduk negeri itu yang bersedia membunuh hewan yang bisa mengikis sifat kemanusiaan mereka. Menyembelih hewan merupakan tugas budak dan dilakukan di luar permukiman. Tapi menyembelih hewan bagi seorang pembunuh bayaran, kemerosotan bukan, sih? Lagipula saya tak mau jadi budak (di negeri ini, orang asing yang sukarela menjadi budak diterima dengan tangan terbuka, dan bisa pergi kapan saja, berbeda dengan budak yang berasal dari warga hukuman). Ada profesi lain sebenarnya yang mungkin cocok dengan saya, dan secara umum legal. Jadi di Utopia, kalau ada orang sakit menahun dan memperlihatkan gejala tak bakal sembuh, para perawat tak akan menghiburmu dengan basabasi, melainkan akan bilang terus-terang bahwa, “Hadapilah, kau tak akan bisa menjalani kehidupan yang normal. Kau hanya jadi gangguan untuk orang lain dan beban untuk dirimu sendiri […] Karena kehidupan menderitakanmu, kenapa tidak mati saja?” Jika si orang sakit ngotot ingin tetap hidup, penduduk Utopia dengan sukacita akan merawatnya terus. Jika ia memilih mati, nah, bukankah dibutuhkan algojo? Tapi lagi-lagi, rasanya dokter yang bisa membunuh dengan tanpa rasa sakit lebih dibutuhkan daripada seorang pembunuh bayaran. Ini memang negeri yang aneh. Jika kau sempat melancong ke sana, kau tahu apa yang saya maksud sebagai aneh. Terutama jika kau berniat untuk mencari peruntungan di sana. Mau berdagang? Jangan ngarep. Meskipun tak ada yang melarang kau melakukan sesuatu, menawarkan dagangan, kemungkinan besar orang-orang Utopia tak akan datang ke tokomu dan membeli sesuatu dari sana. Selain mereka tak pegang uang, mereka praktis sudah terpenuhi kebutuhannya oleh toko pemerintah di mana mereka bisa ambil apa saja yang mereka butuhkan di sana. Ambil apa saja? Ya. Dan jangan kuatir, penduduk Utopia tak akan mengambil banyak-banyak. Untuk apa? Untuk ditimbun di rumah? Ngapain nimbun? Mereka bisa memperoleh barang itu kapan pun mereka butuh. Mau makan sekenyang-kenyangnya? Kapasitas perutmu juga ada batasnya. Gagasan berjualan dan mencari laba lalu menumpuknya, pasti akan dilihat sebagai sesuatu yang norak dan menggelikan untuk penduduk Utopia. Kau juga akan heran melihat batu permata berserakan di pantai. Orang Utopia tak peduli dengan benda-benda kecil berkilauan, “Selama kau memiliki bintang-bintang di langit untuk dilihat.” Kalau Thomas More berharap banyak hal yang berlaku di Republik Utopia juga diterapkan di negeri-negeri Eropa, saya ngarep ada orang punya duit menjadikan Republik Utopia sebagai taman bermain, untuk menyaingi Disneyland dan Universal Studio. Salah satu wahana yang boleh dicoba adalah, tempat ibadah di mana semua orang apa pun agama dan keyakinannya, bisa datang ke sana dan beribadah kepada Tuhan masing-masing (yang menurut mereka, sebenarnya sama saja). Atau wahana ini: sebagaimana ditiru dari adat istiadat Utopia, kalau ada pasangan yang mau menikah, telanjangi mereka dan perlihatkan satu sama lain. Ketika kau memilih sesuatu (katakanlah kuda), kau memeriksanya dengan seksama. Tapi, menurut orang Utopia, “Ketika kau memilih istri (atau suami), sesuatu untuk hal baik maupun buruk akan berlaku sepanjang hidupmu, kau anehnya sangat ceroboh.” Ya, jangan ceroboh pilih pasangan. Telanjangi dan periksa baik-baik. Itu di Republik Utopia, entahlah bisa berlaku di republik lain atau tidak. Meskipun aneh, saya rasa masuk akal sebenarnya.

Standard