Eka Kurniawan

Journal

Tag: Thomas Mann

Aib dan Martabat, Dag Solstad

Hal paling absurd dalam hidup saya adalah ketika didatangi seorang ibu dan “mengkritik” saya dengan nada pedas dan kata-kata: “Sebagai orang Indonesia, kenapa mas Eka nulis novel dalam bahasa Inggris, enggak dalam bahasa Indonesia saja?” Saya hampir mati berdiri mendengarnya. Dunia memang kejam. Ketidakpedulian itu kunci bertahan hidup, Kawan. Mari membaca penulis Norwegia yang untungnya “menulis” dalam bahasa Indonesia saja, dan semoga dia juga dimaki-maki orang se-Norwegia dengan kata-kata, “Kenapa tidak menulis dalam bahasa ibumu, yang sudah membesarkan orang dari Ibsen hingga Hamsun?” Ya, semoga ada yang memaki Dag Solstad, si penulis Aib dan Martabat seperti itu. Biar saja dia mati berdiri. Dan ketika saya membaca halaman-halaman awal novel itu, tiba-tiba terbersit deretan pertanyaan ini: Apa pentingnya ngajarin sastra untuk anak sekolah kelas terakhir (juga apa pentingnya ngajarin sastra kepada orang tua yang tak peduli)? Mau membuat mereka jadi ahli sastra yang sanggup menganalisis dengan brilian drama Itik Liar? Itu sama saja dengan menghina Henrik Ibsen! Lo pikir sang penulis susah-payah bikin karya besar semacam itu untuk dengan mudah dipahami dan dipecahkan anak SMA? (Sebagian besar pertanyaan itu sebenarnya diajukan si tokoh di novel). Saya senang dengan tokoh di novel ini, seorang guru sastra Norwegia bernama Elias Rukla. Dia hidup dalam paradoksnya sendiri. Di satu sisi, sebagai guru sastra, ia memuja intelektualitasnya. Ia melihat kesusastraan sebagai salah satu bentuk pencapaian peradaban manusia, dan hatinya bergetar hanya karena mendengar seorang guru matematika (Matematika, Sobat!) satu hari berkata, “Aku merasa agak seperti Hans Castorp hari ini.” Bayangkan, seorang guru matematika menyebut nama Hans Castorp, yang bahkan orang-orang yang sok mengaku mencintai sastra atau bahkan mengakui sebagai sastrawan pun belum tentu mengetahui siapa Hans Castrop. Itu hanya memberi satu penjelasan: orang ini pernah membaca The Magic Mountain karya Thomas Mann. Hanya orang yang tabah dan punya banyak waktu bisa melahap novel itu, dan si guru matematika mungkin melakukannya. Tapi di sisi lain, di luar antusiasmenya terhadap keluhuran peradaban yang diciptakan sastra, Elias juga merasakan kesia-siaannya. Lihat anak-anak itu: membaca drama Ibsen berulang-ulang, yang ada hanyalah tatapan penuh kebencian kepada gurunya, rasa bosan yang tak terperi. Dan jika penulis mati? Percayalah tak akan menjadi tajuk utama di halaman depan koran! Sastra itu kesia-siaan, seperti bagaimana ia menyia-nyiakan hidupnya yang puluhan tahun mengajarkan sastra dan sejarahnya kepada anak-anak SMA. Anak-anak itu dengan penuh suka cinta akan berhamburan begitu bel istirahat berbunyi. Benar, bukan? Tidakkah kita gelisah melihat bagaimana hasil budaya dan peradaban umat manusia (termasuk Itik Liar Ibsen atau apa pun) terus dielap-elap sampai mengilap, tapi pada saat yang sama mungkin tak memberi arti penting buat hidup hari ini. Tak usahlah bicara karya sastra semacam itu. Dengan agak mengolok-olok, ditampilkan juga sosok Johan Corneliussen, seorang filsuf dan marxis cemerlang. Tafsirnya atas filsafat Immanuel Kant digadang-gadang bakal menggemparkan Eropa. Tidakkah ini menggelisahkan, bahwa marxisme dari tahun ke tahun, dari dekade ke dekade, terus dielap-elap, dikutip, dibedah, dianalisis, digunting, dibongkar-pasang, padahal seperti kata Marx: yang penting mengubahnya (dunia)! Johan akhirnya takluk oleh mimpi-mimpinya, pergi meninggalkan anak dan istrinya, dan secara sarkasme berkata untuk “perjalanan dinas kapitalisme”. Untuk Elias, kesia-siaan ini menjadi sempurna: ia memiliki seorang istri yang cantik jelita dan sangat dicintai, tapi tak pernah sekalipun berkata cinta kepadanya. Saya rasa tragedi hidupnya merupakan metafora paling jitu untuk segala sampah peradaban ini. Semua karya tersebut barangkali diciptakan karena rasa cinta yang mendalam, entah untuk apa pun, yang sialnya merasa tak perlu membalas. Mungkin untuk hal ini kita juga bisa tak peduli. Kita tetap mengerjakan apa yang kita cintai. Sebab sekali lagi, ketidakpedulian itu kunci untuk bertahan hidup.

NB: Aib dan Martabat diterjemahkan oleh Irwan Syahrir, diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑