Eka Kurniawan

Journal

Tag: Tariq Ali

Obituari: Benedict Anderson (1936-2015)

Read English version, translated by Stephen J. Epstein, here: “Uncle Ben Remembered: An Obituary by Eka Kurniawan for Benedict Anderson”

Kami baru bertemu beberapa hari lalu, Rabu, untuk makan malam. Saya bahkan menyempatkan diri berfoto bersamanya, hal yang tak pernah saya lakukan selama beberapa kali bertemu dengannya. Ia makan nasi goreng seafood. Bobot tubuhnya jauh berkurang dari pertemuan terakhir kami (di tempat yang sama, di daerah Tebet). Beberapa kali ia terbatuk-batuk. Saya bahkan sudah merasa, itu akan jadi pertemuan terakhir kami. Tapi tetap tak menyangka akan secepat itu.

Saya memanggilnya Om Ben, sebab dia sendiri menyebutnya begitu sejak pertama kali kami berkenalan. Di masa Orde Baru, ia dilarang masuk ke Indonesia, membuatnya mengalihkan perhatian studi-nya ke negara-negara Asean lain, terutama Thailand dan banyak menghabiskan waktu di sana. Tahun 1999, setelah Soeharto jatuh, ia diperbolehkan untuk datang kembali. Baru beberapa tahun kemudian, 2007, seorang staf perpustakaan Cornell University (yang saya sudah beberapa kali ngobrol di forum internet) mengirim surel, bilang sang profesor akan berkunjung ke Jakarta di bulan November, dan ingin bertemu. Itulah kali pertama saya bertemu dengannya, di apartemen satu kamar di daerah Benhil, tempat saya tinggal di masa itu. Saya hanya menyuguhkan Teh Botol (untunglah dia suka), dan kami ngobrol ngalor-ngidul, terutama tentang daerah-daerah yang pernah dan ingin ia kunjungi di Jawa bagian selatan.

Ada tempat-tempat yang ia rekomendasikan untuk saya kunjungi, dan saya belum memenuhinya. Sebuah pulau di tengah situ, di daerah Tasikmalaya, yang dipenuhi ular dan kalong raksasa, misalnya. Juga kuburan seorang aulia yang ramai dikunjungi peziarah. Minatnya luar biasa, dan dia selalu penuh antusias untuk membaginya.

Ketika saya di Australia bulan Agustus lalu, saya bertemu dengan salah satu sahabatnya, Tariq Ali. Tariq bertanya satu hal yang membuat saya waswas sejak itu, “Apa yang terjadi dengan Ben?” Awalnya saya tak tahu apa maksud pertanyaan itu. Kemudian ia bergumam, “Aku kuatir. Bagaimanapun ini akan terjadi. Akan terjadi padanya, akan terjadi padaku.” Saya mulai mengerti apa yang dibicarakannya. Terutama ketika Tariq bercerita tentang keluarga Ben, yang menurutnya luar biasa. Tentu saja termasuk Perry (Anderson), salah satu editor New Left Review. Perasaan waswas saya semakin menjadi-jadi ketika bulan berikutnya saya pergi ke Amerika, dan sempat bertanya kepadanya, apakah bisa berjumpa di sana. Ia bilang tidak bisa. Dokter menyuruhnya istirahat selama sebulan. Saya merasa itu sesuatu yang serius, tapi ia menyangkalnya dengan mengatakan, kata dokter semua organ tubuhnya berfungsi dengan baik. “Aku hanya tua, harus beristirahat.” Menghormatinya, saya memutuskan tidak menemuinya.

Mungkin saya harus mengingatkan bahwa ia merupakan salah satu orang penting dalam perjalanan kepenulisan saya. Setahun sejak pertemuan pertama kali, di edisi 86 jurnal Indonesia terbitan Cornell, ia menerjemahkan “Corat-coret di Toilet”. Ia ingin pembaca bahasa Inggris membaca apa yang saya tulis. Ia melakukannya lagi dengan cerpen “Jimat Sero”, untuk jurnal Indonesia edisi 89. Ia mengaku ingin menerjemahkan novel saya, tapi tak sanggup mengingat stamina yang dibutuhkan, dan senang bisa melakukannya dengan cerpen-cerpen saya. Bahkan sebenarnya ia sempat berpikir untuk menerbitkan beberapa cerpen saya dalam satu buku. Tapi yang ia lakukan jauh dari itu. Ia memperkenalkan novel-novel saya kepada banyak orang, termasuk memberi jalan untuk saya bertemu dengan penerbit Verso Books, yang di tahun ini menerbitkan Man Tiger, terjemahan Lelaki Harimau. Ia bahkan berbaik hati menulis pengantar untuk buku tersebut. Setidaknya ia sudah melihat buku itu terbit, yang sudah ia singgung sejak perbincangan kami di tahun 2007 lalu itu.

Di pertemuan terakhir itu, ia mengaku sedang menulis otobiografi. Kita berharap bisa membacanya. Setidaknya, ada banyak orang yang bisa menceritakan kisah hidupnya, juga pergulatan intelektualnya. Di makan malam terakhir itu, saya sempat tergoda untuk membawa buku-bukunya, dalam bahasa Inggris maupun terjemahan Indonesia, untuk ditandatanganinya. Tapi di detik akhir saya mengurungkan niat tersebut, segan untuk mengganggunya. Saya hanya ingin bertemu, makan malam, dan berbincang santai. Buat saya, peninggalan Om Ben yang paling berarti tetaplah apa yang saya ingat tentangnya. Terutama segala yang pernah dilakukannya.

Selamat jalan, Om Ben.

Berjumpa Tariq di Soho

Melihat Tariq Ali, saya tak pernah berhasil untuk tidak berpikir mengenai generasi 60an: kehidupan bohemian, pikiran radikal, tapi juga hidup di alam kreatif yang penuh daya. Untuk kali kedua saya bertemu dengannya. Pertama kali terjadi di Jakarta, beberapa tahun lalu (kami makan siang di satu restoran Jepang di Kemang); kini saya berada di kotanya, London, dan bertemu untuk makan malam di satu daerah yang pasti sangat diakrabinya sejak lama: Soho. Jika kita pergi ke Soho saat ini, terutama jika keluar dari pintu stasiun Oxford Circus, kita akan dihadapkan pada bentangan pusat perbelanjaan yang riuh. Toko H&M besar langsung berdiri di depan mata, di seberang jalan. Ke kanan, toko GAP sudah menunggu. Di deretan itu, nama-nama besar industri fashion seperti Uniqlo dan American Apparel berebut perhatian. Soho, titik pusat kota London (bahkan secara fisik, bisa lihat di peta) sama riuhnya dengan Shibuya di pusat Tokyo. Bahkan memasuki jalan-jalan kecilnya, tempat itu dipenuhi toko-toko suvenir dan restoran-restoran serta bar. Tak hanya untuk orang lokal, Soho jelas magnet untuk para turis. Saya pertama kali datang ke sana sehari sebelumnya, untuk mengunjungi pesta kecil yang diadakan penerbit saya, Verso, di kantor mereka. Verso berbagi gedung dengan induknya, jurnal prestisius di kalangan intelektual radikal, New Left Review, di satu ruas jalan kecil bernama Meard Street. Kiri-kanannya dipenuhi bar dan restoran. Kantor Verso di daerah Soho? Bahkan ketika saya baru melintasi jalanan dan lorong-lorong di sekitar itu, saya tahu pasti, tempat ini pasti sangat mahal sekali. Tariq tertawa ketika saya berkomentar soal ini, dan mengakui bahkan banyak penerbit lain (termasuk yang besar), sangat iri mengetahui Verso memiliki kantor di daerah sana. Tapi itu memang cerita yang sangat panjang, dan di balik kenapa penerbit radikal yang independen itu bisa memiliki kantor di kawasan elit, terdapat sejarah panjang daerah Soho sendiri. Meskipun begitu saya bisa sedikit meringkasnya. Daerah itu pada dasarnya sudah ramai sejak lama. Dulu, itu merupakan daerah kelas pekerja. Perumahan untuk kaum buruh. Di satu perempatan, kami berdiri dan Tariq menunjuk satu apartemen putih sekitar tiga blok dari tempat kami berdiri dan berkata, “Karl Marx tinggal di sana, di apartemen tiga kamar. Ia sangat miskin.” Itu membuat kami hening sejenak. Harus membayangkan “sangat miskin” dengan konteks Soho hari ini, yang tentu sangat aneh. Di tahun 60an, di tahun ketika Tariq masih muda dan sering turun ke jalan, Soho mulai menjadi tempat kaum bohemian. Para aktivis, seniman, musisi, dan pelacur tinggal di daerah tersebut. Iklim intelektual dan seni tumbuh subur di sana. Daerah sekitar kantor Verso merupakan tempat pelacuran, dikuasai seorang germo, dan tempat perkelahian antar germo. Kemudian ada kakak-beradik yang membeli satu bangunan di sana. Kakak-beradik yang sama-sama intelektual ternama kelas dunia. Saya kenal baik si abang, tak perlu disebut di sini, dan mereka menghibahkan gedung tersebut ke lembaga yang menaungi penerbit itu. Kantor itu tetap bertahan di sana, ketika Soho terus berubah, dan jalanannya serta lorong-lorongnya tak lagi dijejali pelacur atau seniman-seniman bohemian, tapi penuh diisi turis yang menenteng tas-tas belanjaan. Di satu lorong, sepasang turis sempat berhenti di depan kami dan berseru, “Tariq! Kamu Tariq yang itu, kan? Senang sekali bisa melihatmu.” Penggemar. Saya rasa dia sering harus menghadapi kejadian seperti itu di jalanan Soho. Ketika kami janjian untuk makan malam, Tariq tanya makanan apa yang saya mau (atau makanan apa yang tidak akan saya makan). Soal makanan, kadang saya sangat rewel, tapi tak jarang gampangan. Sebenarnya saya bisa makan banyak hal, tapi lebih sering saya terpaku pada makanan kesukaan saya. Selama beberapa hari di London, saya hanya makan sandwich, burger, dan pasta, dan buat saya baik-baik saja (makan saya juga tak banyak). Tapi melihat ada banyak restoran China di sekitar kantor Verso, kami memutuskan makan di salah satunya. Di pintu masuk kami dihadapkan dengan kutipan besar dari Mao: “Yang tidak makan cabe, tak bisa jadi revolusioner.” Saya tersenyum dan terpikir, setidaknya Mao masih terus mencoba berusaha terdengar di keriuhan Soho. Saya lupa nama restorannya (lagi pula papan namanya ditulis dalam bahasa dan huruf China), tapi makanannya enak. Mungkin karena saya kangen dengan nasi. Mungkin memang racikannya cocok dengan selera perut saya. Kami akhirnya ngobrol soal apa yang saya lakukan di London (saya bilang baru mengunjungi Charles Dickens Museum), proyek skenario filmnya tentang seratus tahun revolusi 1917 (yang saya yakin akan dirayakan di seluruh dunia, dua tahun ke depan), novel lain yang ingin saya tulis; hingga melebar ke berbagai isu serius seperti sejarah gerakan kiri di dunia, kemunculan Islam fundamentalis di mana-mana; lalu soal anak perempuan saya yang akan masuk taman kanak-kanak tahun ini. Juga bicara tentang Charles Dickens, yang menurut saya seperti rock star, dan Tariq membenarkan. “Di masanya, ia bisa pergi ke Amerika untuk membacakan karyanya, dan acara itu dihadiri ribuan orang. Tak ada bandingannya bahkan untuk ukuran penulis kontemporer,” kata Tariq. Soho mungkin sudah banyak berubah, tapi hal-hal kecil mungkin masih tersisa. Saya masih merasakan gairah kreatif di lorong-lorongnya. Ada satu toko buku yang khusus menjual komik dan novel grafis. Sungguh saya ingin kembali mengunjungi toko itu. Bahkan ketika berjalan kembali ke stasiun, saya sempat berjumpa satu demonstrasi mengenai tuntutan pengaturan ulang aturan (sewa?) hunian. Saya sertakan fotonya di bawah. Kami berpisah di depan restoran. Ia berjalan kaki ke arah yang berbeda, dan mungkin akan bertemu turis yang terkejut melihatnya dan menyapanya serta memintanya bersalaman. Saya berjalan ke arah stasiun. Tentu saja tak ada yang akan mengenali saya. Sebelum benar-benar berpisah, dia sempat bertanya, “Kamu akan ada di Frankfurt, Oktober ini?” Dengan cepat saya menggeleng dan menjawab, “Tidak.”

Berjumpa Tariq di Soho

Berjumpa Tariq di Soho

Berbagi Mengenai Penerjemahan

30 September merupakan Hari Penerjemahan Internasional. Mari bicara tentang ini. Tak bisa disangkal, banyak penulis berharap karyanya diterjemahkan ke bahasa asing. Tak hanya membuka ruang pembaca baru, tapi terutama tentu saja sedikit gengsi: karya yang diterjemahkan setidaknya mengindikasikan karya tersebut memiliki nilai atau kualitas tertentu. Beberapa orang barangkali beruntung menguasai lebih dari satu bahasa sehingga bisa melakukannya sendiri. Isaac Bashevis Singer, salah satu yang saya tahu menerjemahkan karyanya sendiri (sebagian) ke bahasa lain. Tapi tentu tak semua orang seberuntung itu. Bahkan meskipun bisa melakukannya, atau nekat melakukannya, juga bukan hal yang gampang menerbitkan karya terjemahan. Banyak orang buta mengenai hal ini. Saya salah satunya. Sekarang sedikit bisa melihat, meskipun boleh dibilang masih rabun. Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya, siapa tahu berguna bagi penulis lain. Saya tahu banyak penulis dan karya dalam kesusastraan kita, yang layak untuk dibaca di luar teritori bahasa kita. Baiklah, sekali lagi, seperti kebanyakan penulis di sini, saya buta soal penerjemahan karya ke bahasa asing. Saya tak kenal penerjemah, tak kenal penerbit di luar, atau intinya, saya tak punya kenalan siapa-siapa. Diperparah oleh kenyataan saya punya kecenderungan bekerja sendiri, tak punya komunitas dengan jaringan luas dan kemampuan keuangan yang mampu mengirim anggotanya ke berbagai acara kesusastraan di luar, hanya memiliki sekelompok teman yang nasibnya kurang-lebih sama seperti saya. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah menulis sebaik mungkin, menerbitkannya di sini, dan berharap ada orang yang menyukainya. Dalam keadaan seperti itu, ketika Cantik Itu Luka diterjemahkan dan terbit dalam Bahasa Jepang (2006), bisa dibilang itu kebetulan. Ibu Ribeka Ota (ia menerjemahkan karya Murakami ke bahasa Indonesia juga), orang Jepang yang tinggal di Semarang, kebetulan membaca novel itu dan menyukainya. Atas inisiatifnya sendiri, ia menerjemahkan novel itu. Entah berapa lama. Saya rasa ia melakukannya karena hobi, sebab ia tak menghubungi saya maupun penerbit saya pada awalnya. Hingga satu hari, sebuah agen (literary agent) yang bermarkas di Tokyo menghubungi saya, bilang ada penerbit Jepang ingin menerbitkan novel itu. Saya senang dan kaget, tentu saja. Semakin kaget ketika tahu, naskahnya sudah siap dan tinggal terbit. Dari merekalah saya kemudian berkenalan dengan Ibu Ribeka Ota. Ia masih memperbaiki naskah novel tersebut dengan berkonsultasi ke saya (saya ingat mengiriminya foto-foto pohon untuk menunjukkan nama pohon yang tidak dimengertinya), sebelum terbit. Itu buku pertama saya yang terbit dalam bahasa asing. Saya rasa, nasib saya sangat baik. Hal itu juga terjadi dengan edisi Malaysia untuk novel yang sama. Bahkan bisa dibilang, saya sama sekali tak berhubungan dengan penerbit maupun penerjemahnya. Kami diperantarai pihak ketiga, hingga buku itu akhirnya terbit. Hal yang sama terjadi dengan novel Lelaki Harimau. Ada sebuah penerbit dari Italia yang mengirim orang ke Indonesia untuk mencari karya-karya lokal untuk diterjemahkan dan terbit di sana. Saya tahu ia mengambil beberapa karya penulis Indonesia lainnya. Saya tak tahu bagaimana ia kemudian memutuskan mengambil novel saya juga (L’Uomo Tigre, dari informasi penerbitnya, akan terbit awal tahun depan). Tiga kasus itu hanya menunjukkan betapa pasifnya saya. Saya yakin, tak hanya saya, tapi sebagian besar penulis Indonesia juga sepasif itu. Sebagian besar karena saya buta soal urusan ini. Lagipula menunjukkan hasrat agar karya diterjemahkan ke bahasa asing, untuk standar moral saya, agak memalukan (meskipun sebenarnya sah-sah saja). Hal ini sedikit berubah setelah saya bertemu dua sahabat baik: Ben Anderson dan Tariq Ali. Dalam beberapa pertemuan, Ben sedikit mengkritik sikap pasif saya. Saya sadar, seambisius apa pun kita, kita cenderung menyembunyikannya. Saya termasuk, tentu saja. Tapi Ben mengingatkan satu hal yang sangat penting: terjemahan yang buruk akan memberi kesan yang buruk terhadap karyamu. Itulah kenapa ia menyarankan saya lebih aktif. Ia menyarankan saya untuk memulai memikirkan penerjemahan karya saya ke Bahasa Inggris dan Perancis sebagai awalan. Kedua bahasa itu bisa dibilang lingua franca. Pintu gerbang untuk ke seluruh dunia. Meskipun saya mengerti, saya toh tak bisa berbuat apa-apa juga. Memang apa yang bisa saya lakukan? Selama bertahun-tahun sejak obrolan itu, bisa dibilang saya tak melakukan apa pun. Hingga satu hari saya bertemu dengan Tariq Ali, makan siang bersama di satu restoran Jepang di Kemang. Ia galak. Tentu saja galak, sebab ia memang aktivis. Dia orang yang diceritakan oleh The Rolling Stones dalam lagu “Street Fighting Man”. Dia yang muncul di satu episode novel Bad Girl Mario Vargas Llosa sedang teriak-teriak di jalanan London. Dia bilang, “Karyamu harus dibaca pembaca berbahasa Inggris” dengan nada seolah saya tak punya pilihan lain. “Cari penerjemah sekarang juga.” Sejujurnya saya agak terteror waktu itu. Hampir setiap bulan dia bertanya, sejauh mana prosesnya? Saya hanya membalas dengan basa-basi, sebab kemajuan saya bisa dibilang sangat lambat. Atau tak bergerak sama sekali. Bagaimana bisa bergerak, saya bahkan tak kenal penerjemah? Hingga akhirnya, setelah memperoleh kepastian dari Verso bahwa mereka akan menerbitkan karya saya (Lelaki Harimau/Man Tiger), saya memberanikan diri menghubungi beberapa penerjemah, untuk memberi contoh terjemahan 1-2 halaman. Contoh-contoh itu dikirim ke London (untuk Tariq) dan Los Angeles (untuk Ben). Kami akhirnya memilih Labodalih Sembiring untuk menerjemahkan karya tersebut (hampir dua tahun prosesnya, dan novel itu rencananya terbit 19 Mei 2015). Di hari yang sama ketika bertemu Dalih untuk membicarakan proyek tersebut, di Yogya, saya juga bertemu dengan Annie Tucker. Itu terjadi di awal 2012. Saya sudah berhubungan dengannya melalui surel selama beberapa minggu sebelumnya. Intinya, ia ingin menerjemahkan Cantik Itu Luka. Jujur saja, ini kebetulan. Kebetulan ada yang menyukai novel itu dan tertarik menerjemahkannya. Terjemahannya bagus dan saya suka. Tapi saya tak ingin proyek Annie berjalan seperti kasus-kasus sebelumnya, di mana proyek itu berjalan sendiri tanpa keterlibatan saya. Saya sudah sedikit mempelajari seluk-beluk soal penerjemahan dan penerbitan sehingga saya setidaknya tahu apa yang saya inginkan. Setidaknya, novel itu bisa saya bawa ke Verso juga, tapi jika ada kesempatan lain kenapa tidak diusahakan. Sebelum saya memberi izin Annie meneruskan terjemahan itu, saya meminta bertemu dengannya. Kami kemudian membuat kesepakatan. Saya ingin membagi kesepakatan saya di sini, karena saya pikir ini sangat penting dan siapa tahu bisa menjadi masukan untuk penulis lain. Ada dua syarat yang saya minta ke Annie: 1) Ia harus menyelesaikan terjemahan itu, tak peduli ia memperoleh dana (entah dari mana) atau tidak. 2) Saya tak ingin buku itu terbit di Indonesia. Saya hanya mau itu terbit di negara Berbahasa Inggris. Saya sadar, itu syarat berat. Annie merupakan penerjemah baru. Syarat pertama barangkali bisa dilakukannya, karena rasa senang dan hobi. Tapi syarat kedua? Seperti saya, ia juga tak kenal penerbit di luar. Termasuk di Amerika, tempat tinggalnya. Saya sendiri tak punya pilihan lain. Saya tak ingin karya saya diterbitkan dalam terjemahan, tapi tak dibaca. Saya ingin lebih serius soal ini. Tapi Annie ternyata menyanggupinya. Ia mengerjakannya di antara waktu luang mengerjakan desertasi. Ia mengajukan dana beasiswa untuk penerjemahan itu, dan beberapa ada yang lolos. Yang paling penting adalah ketika proyek itu memperoleh bantuan dana dari PEN Center Amerika. Draft terjemahan saya di sana dibaca salah satu orang penting di penerbitan sastra Amerika, Barbara Epler. Dia pemimpin New Directions. Dia editor yang mengakuisisi penulis-penulis seperti Roberto Bolaño dan Cesar Aira. Ketika ia menghubungi saya dan menyatakan minat untuk menerbitkan Beauty is a Wound, saya tahu saya tak mungkin menolaknya. Buku ini direncanakan terbit tahun depan. New Directions menginginkan buku itu terbit berdekatan dengan Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Bookfair, meskipun saya tak tahu, apa urusan buku saya, saya, dan acara itu. Pada saat yang sama, manuskrip Man Tiger rupanya beredar di beberapa editor penerbit Eropa. Salah satunya Sabine Wespieser Editeur dari Perancis, yang segera menghubungi saya dan berminat menerbitkan novel itu ke dalam bahasa Perancis (akan disusul dengan Cantik Itu Luka). Tak ada alasan untuk saya menolak, kan? Saya hanya memastikan bahwa saya ingin berkomunikasi dengan penerjemahnya. Nasihat Ben terus terngiang-ngiang, “Penerjemahan yang buruk akan meninggalkan kesan yang buruk tentang karyamu.” Selama hampir setahun proses penerjemahan, saya tak hanya berhubungan melalui surel dengan Pak Etienne Naveau, sang penerjemah, tapi juga telah bertemu dua kali di Jakarta. Saya tak tahu proses ini akan membawa saya (dan karya saya) ke mana. Jujur, sebenarnya saya hanya ingin menulis dan membaca saja, tapi urusan-urusan semacam ini pada akhirnya tak terelakkan. Dan tentu sama seriusnya. Dan naluri saya yang kemudian mengatakan: saatnya berhenti sejenak. Saya tak lagi membicarakan prospek menerjemahkan karya saya ke bahasa lain untuk sementara, setidaknya sampai edisi Inggris dan Perancis terbit. Mungkin saya salah. Tapi saya merasa dua bahasa itu merupakan salah dua pintu gerbang, yang harus dibuka lebih dulu sebelum membuka pintu-pintu yang lain. Semoga catatan saya bermanfaat untuk penulis-penulis lain. Saya akan senang sekali jika bisa melihat karya-karya penulis Indonesia beredar di rak toko-toko buku berbahasa asing, dan mereka dibicarakan bukan karena mereka penulis Indonesia, tapi sesederhana karena mereka penulis yang bagus.

Nama dan karya saya masuk di daftar Finnegan’s List 2013, sebuah proyek untuk penerjemahan karya sastra dari The European Society of Authors. Setiap tahun, sebuah komite yang terdiri dari 10 penulis merekomendasikan nama dan karya untuk masuk ke daftar ini. Saya direkomendasikan oleh Tariq Ali, dikenal salah satunya melalui novel Shadows of the Pomegranate Tree. Finnegan’s List sendiri namanya diambil dari salah satu karya James Joyce, Finnegans Wake. Lebih lanjut mengenai proyek atau organisasi ini, sila buka tautan ini.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑