Eka Kurniawan

Journal

Tag: Sjón

Dua Novel Halldór Laxness

Saya tak pernah bisa membayangkan bahwa seorang penulis dan karya-karyanya, setepat apa pun, bisa mewakili tradisi dan kehidupan (atau kesusastraan) suatu bangsa, yang mestinya lebih ruwet dan beragam. Hal yang lebih tepat barangkali, seorang penulis dan karya-karyanya bisa menjadi sejenis teropong kecil untuk melihat tradisi dan kehidupan, juga spirit negerinya. Membaca buku, kurang-lebih seperti kunjungan singkat ke sebuah negeri. Kita melihat serba sedikit, atau bahkan hanya melihat apa-apa yang sudah ditunjukkan oleh pemandu atau rekomendasi para pelancong sebelumnya, tapi kita pada saat yang sama mencoba membayangkan negeri itu dari potongan-potongan serba sedikitnya. Kadang-kadang kita melihat sesuatu secara tak sengaja, sebagaimana dari sebuah buku kita memperoleh baris-baris yang tak pernah menjadi perhatian pembaca lain. Mengenai Islandia, saya tak banyak tahu kecuali negeri itu sangatlah jauh dan berbeda dari negeri saya. Sebuah negeri yang dari namanya, kita tahu sebagai negeri es, nyaris dekat dengan kutub utara. Sebuah negeri yang sangatlah sulit melihat pohon meskipun beberapa tahun terakhir mereka mencoba menanam pohon di kota untuk menangkal angin kutub yang menggigilkan. Naik bus ke luar kota, yang akan terlihat hanyalah hamparan batuan volkanik yang menghitam, kalaupun ada warna hijau, itulah hamparan padang rumput. Penduduknya sendiri hanya sekitar 360 ribu orang saja. “Kami punya banyak tanah untuk setiap orang kalau dibagi-bagi,” begitu seloroh sopir bus yang saya ajak bicara. Tak banyak yang bisa dilakukan dengan tanah itu, memang. Dari generasi ke generasi mereka lebih dikenal sebagai pelaut, meskipun salah seorang teman makan malam saya menggerutu, “Ikan-ikan terbaik kami dijual untuk ekspor.” (Dan saya menyahut, “Begitu pula biji-biji kopi terbaik kami.”) Itu sedikit yang saya ketahui setelah kunjungan singkat tempo hari, di awal September tahun ini. Selain kunjungan singkat ke Reykjavik dan sedikit jalan-jalan ke pedalamannya, saya menengok negeri ini juga melalui empat novel Sjón, yang boleh dibilang merupakan perkenalan saya dengan kesusastraan mereka. Setelah itu, saya memutuskan untuk membaca dua novel yang tersedia di tangan saya, dari satu raksasa kesusastraan Islandia. Halldór Laxness.

Under the Glacier. Judul asli novel ini sebenarnya kira-kira “Christianity at Glacier”, tapi mungkin judul itu tampak kurang menjual. Bisa dikira seperti laporan misionaris, meskipun sebenarnya novel ini memang ditulis bagaikan sebuah laporan tentang hal-ihwal kekristenan di daerah pedalaman. Dikisahkan sang uskup mendengar tentang satu daerah glacier di mana ritual kristen tidak diamalkan. Orang mati tidak dikuburkan dengan semestinya, dan misa serta perayaan lain tidak dilaksanakan di gereja setempat. Bahkan konon sang pastor tinggal dengan perempuan yang bukan isterinya. Kuatir mengenai hal ini, diutuslah seorang anak muda, tampaknya calon pastor, meneliti bagaimana sebenarnya kekristenan di daerah tersebut. Novel ini ditulis dalam bentuk sejenis laporan, meskipun di sana-sini kadang muncul komentar-komentar ringkas, yang ditulis oleh sang utusan. Seperti biasa, selama membaca novel ini angan saya melayang ke mana-mana sambil bertanya, agama kristen macam apa sih yang ada di sana? Hingga pertanyaan yang terus mengepung saya, untuk negeri yang tampak begitu jauh dari mana-mana secara geografis, bagaimana hal-hal dari luar membentuk negeri tersebut? Agama kristen, misalnya, jelas sebagai sesuatu yang asing yang merayap datang ke sana dengan sangat lambat (bisa jadi melalui Kerajaan Denmark). Ada kesan ini merupakan negeri antah-berantah yang terabaikan oleh dunia, pengaruh pusat-pusat peradaban karena jarak yang membentang, tampak seperti sayup-sayup saja. Jelas itu salah. Justru karena negeri tersebut berada di ujung dunia, jauh dari mana-mana, orang-orangnya menjadikan diri mereka sebagai petualang-petualang tangguh, yang menganggap samudera dan badainya sebagai pekarangan rumah belaka. Tak hanya secara fisik, tapi juga gagasan. Bahkan daerah glacier sebagaimana di novel ini, tak kurang kosmopolit dari pusat peradaban di negeri-negeri lain. Ketika sang utusan akhirnya bertemu pastor setempat, ia tak hanya menemukan sang pastor yang lebih peduli membantu penduduk memperbaiki sepatu kuda daripada mengadakan khotbah, tapi juga menemukan perdebatan spiritual. Dari kepercayaan pagan lama mereka hingga ide-ide Tao dan kepercayaan Timur, dari “pengikut Muhammad” hingga kepercayaan bahwa daerah glacier tersebut sebagai pusat semesta dan gerbang bagi komunikasi dengan makhluk-makhluk di galaksi lain. Juga tak mengherankan jika bertemu perempuan yang pernah menjadi mucikari di Buenos Aires, menjadi seorang biarawati di Spanyol, melanglang buana ke Lima, Paris, dan banyak tempat lainnya. Saya membayangkan, dari keheningan negeri tersebut (barangkali karena datang dari negeri tropis di salah satu kota yang berpenduduk terpadat di dunia, buat saya Islandia memang hening sekali), mereka menyerap berbagai hal yang terpancar dari mana-mana. Ini novel yang jauh dari permukaannya, jika kau berhasil menyelam sedikit saja, merupakan humor tentang agama dan spiritual. Humor yang tampak begitu bebas, riang, dan berani. Barangkali karena datang dari tepi dunia? Memikirkan itu, bagi saya, semakin menambah kadar kelucuannya. Uskup dan kekuasaan agama kristen bagi penduduk yang lugu ini, barangkali tak ada bedanya dengan raja dan kerajaan Denmark. Mereka ada dan berkuasa, tapi jauh di sana. Mereka mengakuinya, tapi sekaligus tak memusingkannya. Sebab bagi penduduk glacier, menemukan kuda yang lepas jauh lebih penting. Dan bagi para petualang gila, berhasil menemukan kontak dengan makhluk luar angkasa lebih berarti.

The Fish Can Sing. Berbeda dengan novel sebelumnya, di mana watak kosmopolitan lebih menonjol, novel ini tampak berusaha untuk melihat ke dalam. Kisahnya berpusat pada seorang anak muda (diceritakan sejak ia masih kecil) bernama Alfgrimur dan (barangkali alter-egonya) Gardar Holm, penyanyi opera yang berhasil “menaklukkan dunia”, bahkan bisa menyanyi di hadapan Paus dan rumah-rumah opera di kota-kota besar Eropa maupun Amerika. Ya, ini kisah tentang bagaimana negeri terpencil di sudut dunia ini, pun berhasil menyumbangkan putera terbaiknya kepada peradaban dunia. Saya jadi membayangkan Björk. Juga mengingat celoteh pemandu tur yang sepanjang jalan terus bernyanyi dan kemudian berkata, “Hampir semua orang Islandia pernah tergabung dengan kelompok musik.” Dan itu mengantarkan saya pada obrolan lain, “Dibandingkan jumlah penduduk, kami juga punya penyair yang sangat banyak.” Sebagian besar memang menerbitkan sendiri buku puisinya, dan si orang yang menceritakan itu juga mengakui, sebagian besar barangkali mutunya tak seberapa. “Soalnya bukan seberapa bermutu puisimu. Yang terpenting bagi kami, semua orang merasa boleh menulis puisi, dan kami tak berusaha menghancurkan kesenangan mereka.” Laxness berusaha meneropong ketenaran, kejembaran dunia, membandingkannya dengan ketersembunyian dan dunia yang kecil. Islandia sebagai negeri antah-berantah di ujung dunia, memandang negeri-negeri yang dianggap sebagai pusat-pusat peradaban. Penyanyi terkenal yang dipuja-puja, menghadapi bocah kecil yang hanya menyanyi di pemakaman. Bernyanyi untuk banyak orang, untuk uang yang melimpah dan mengalir tiada henti, sebagai kontras dengan bernyanyi untuk memuji Tuhan dan menemukan nada yang sejati di dalam diri. Tentang pengusaha yang mengeruk ikan dengan kapal besar, dan tentang kakek tua yang menangkap ikan sebatas kebutuhannya. Jika Gardar Holm menaklukkan dunia, hidup Alfgrimur sebatas pekarangan rumahnya. Tapi dalam kontras-kontras macam beginilah, Laxness memperlihatkan kembali humornya, juga ironinya. Alfgrimur mungkin akan mengikuti jejak Gardar Holm setelah kakeknya mengirim dia ke sekolah, kemudian mengirimnya ke luar negeri untuk belajar musik. Tapi baginya, mewakili orang-orang biasa di lingkungannya, harapan terbesarnya tak lebih hanya sekadar menjadi menangkap ikan. Dituturkan dalam bentuk kronik yang mengisahkan peristiwa-peristiwa sederhana di sekitar rumah dan tokoh-tokohnya, ada sejenis kerawanan atas kontras-kontras tersebut. Lihat si kakek, yang tak hanya menangkap ikan sebatas yang dibutuhkan, tapi juga selalu menjualnya dengan harga sama (tak peduli sedang paceklik atau melimpah). Ia memperlihatkan kehidupan yang sederhana, tanpa ambisi dan kerakusan. Tapi pada saat yang sama, ia tak bisa membiarkan cucunya (Alfgrimur sebenarnya anak telantar yang ditinggalkan perempuan tak dikenal di rumah itu) hanya hidup di sekitar pekarangan rumah dan berakhir menjadi nelayan (yang makin hari makin susah setelah datangnya kapal-kapal besar). Ia mengirim cucunya ke dunia, yang tentu saja akan menghadapi hidup yang tak sederhana lagi. Novel ini tampak memiliki banyak bias biografi penulisnya, setidaknya pencariannya. Setelah memeluk Katolik Roma di masa mudanya, Laxness menjadi seorang komunis di usia dewasa, dan di masa tua menjadi pengikut Tao. Apa yang ia cari? Seperti Alfgrimur, ia mungkin mencari nada sejati di dalam dirinya. Sebab ikan, yang sangat melimpah di negeri ini, adalah ikan meskipun bisa bernyanyi.

Dua Novel Sjón

Menurut seorang teman, membaca novel (sebenarnya membaca segala jenis buku) termasuk tindakan “mengintip”. Ya, mengintip dalam arti melihat sesuatu secara diam-diam dan tak diketahui oleh yang dilihat. Membaca novel dalam hal ini mengintip, pada tingkatan tertentu, kehidupan seorang penulis. Mengintip pikirannya, kecemasannya, gagasannya, impiannya, dan seringkali sejarah hidupnya. Mungkin juga dosa-dosa dan ketololannya. Lebih luas lagi, bisa juga sebagai tindakan mengintip satu dunia, satu kebudayaan, satu generasi, dan lain sebagainya. Barangkali dengan cara pikir seperti teman saya itu, saya punya kecnderungan untuk membaca karya seorang penulis lebih dari satu (kalau bisa semuanya yang tersedia), kecuali bukunya benar-benar menjengkelkan dan nama penulisnya di otak saya berarti semacam label “buku ini tak perlu dibaca”. Dengan cara membaca lebih dari satu buku, lubang mengintip kita semakin lebar. Jika kita bisa membaca bukunya berurutan (sesuai waktu buku itu ditulis atau diterbitkan), kita bisa mengikuti “perjalanannya” dari satu tempat singgah (buku) ke tempat singgah (buku) berikutnya. Kadang di satu tempat singgah ia tampak cemerlang (mungkin baru memperoleh pacar baru), di tempat singgah lain ia tampak terpuruk (mungkin ditinggal pasangan atau kalah main judi). Saya sudah pernah membaca satu novel Sjón berjudul The Whispering Muse, dan sebelum membaca buku terbarunya, yang keempat, saya memutuskan untuk membaca dua novelnya yang lain, yang telah tersedia. Yang pertama berjudul The Blue Fox: ini tentang seorang pemburu yang memburu rubah (biru) mistis, tapi kemudian yang dihadapinya, selain si rubah, juga keganasan alam. Musim dingin dan badai salju yang tanpa ampun. Membaca novel ini, saya tak hanya merasa mengintip dunia yang sama sekali berbeda dengan negeri saya (saya harus membayangkan seperti apa badai salju), tapi juga tradisi kesusastraan yang berbeda. Tentu saja bicara tentang binatang mistis bisa kita temukan di mana-mana. Ketika saya dalam satu kesempatan bertemu dan ngobrol dengan Sjón, kami sempat membicarakan hal ini, yang sama muncul di karya kami (harimau mistis di novel saya, dan rubah mistis di karyanya). Tapi tentu saja ada hal-hal yang juga unik menyangkut tradisi kesusastraan tertentu. Seperti kita tahu, Islandia dikenal dengan tradisi kesusastraan tradisional mereka yang disebut sebagai Saga Islandia, yang jelas tampak memengaruhi novel(-novel)nya. Novel satunya lagi berjudul From the Mouth of the Whale. Awalnya saya pikir, seperti di novel dia yang pertama saya baca, akan banyak bicara tentang laut. Ternyata tidak banyak (meskipun ada), meskipun laut (selain salju dan pulau-pulau), tampaknya memberi warna tertentu di karya-karyanya, yang tentu saja berhasil saya intip ini. Novel ini juga memadukan tradisi saga, dengan penuturan yang liris, dengan latar sejarah, magisme, petualangan, dengan alusi-alusi terhadap kisah-kisah biblikal. Ya, tampak campur-aduk, membuatnya harus dibaca perlahan. Berkisah tentang seorang lelaki yang penuh rasa ingin tahu, sejenis proto-intelek yang belajar sendiri tentang sejarah, ilmu pengetahuan, jamu-jamuan, dan di zamannya, ia kemudian malah dituduh sebagai dukun penyihir. Pendosa yang tak hanya ditakuti, tapi juga harus dihukum. Merujuk perkembangan makhluk hidup, spesies yang unggul cenderung merupakan hasil dari perkawinan silang. Saya rasa kesusastraan juga demikian. Ketika kesusastraan terutama novel dewasa ini, di mana-mana, menampilkan kecenderungan yang homogen (dan banyak orang merasa kuatir mengenai “kematian novel”), saya rasa Sjón merupakan salah satu dari (tak banyak) penulis yang terus meramu berbagai unsur, mengawin-silangkannya menjadi spesies novel miliknya sendiri. Novel-novel seperti miliknyalah, yang saya kira, yang akan membuat novel terus bergerak, tumbuh dan sehat.

Sjón dan Parabel Bunga

“Enam bulan pertama sejak buku saya terbit dalam bahasa Inggris, tak ada ulasan, tak ada berita. Sepi,” kata Sjón dalam obrolan dengan saya di satu kedai di daerah bantaran selatan Brisbane. Ia sedang bercerita tentang novel pertamanya yang terbit dalam bahasa Inggris, The Blue Fox. Nama besarnya di kesusastraan Islandia sama sekali tak memengaruhi pembaca Inggris. Ia mencoba membesarkan hati, berpikir barangkali di novel berikutnya keadaan akan berubah. Buku itu memang diterbitkan oleh penerbit kecil di London, Telegram. Barangkali karena tak ada biaya promosi besar, dan jaringan para pengulas yang terbatas, novelnya seperti lahir untuk terkubur. Saya sendiri mengenalnya sejak sekitar setahun lalu, melalui novelnya yang lain, The Whispering Muse. Di acara pembukaan festival, ketika seorang panitia mempertemukan kami dan ia bilang sedang membaca novel saya, dengan sedikit terkejut saya berkata, “Sjón? Ah, saya baca bukumu!” Ya, saya agak norak jika bertemu penulis yang saya pernah baca bukunya dan saya menyukainya. Kami janjian untuk minum kopi atau sarapan bareng. Sialnya karena jadwal kami sering tabrakan, kami hanya bertemu selewat-selewat. Hingga di malam terakhir, ketika saya merasa bosan, saya keluar hotel untuk sekadar minum di satu kedai. Saya berniat menghabiskan waktu satu-dua jam membaca satu novel Halldór Laxness, seorang penulis Islandia, The Fish Can Sing. Tanpa disangka, saya bertemu si penulis Islandia lainnya di kedai, dari generasi yang tentu saja jauh lebih muda. Akhirnya kami punya kesempatan ngobrol panjang. Dari Knut Hamsun (ia terkejut karena saya bahkan bisa menyebut judul novel Hamsun dalam bahasa Norwegia – cuma judulnya, dan ia berkata, “Wah, kamu benar-benar mengenal Hamsun!”), yang pengaruhnya sangat besar dalam kesusastraan Islandia dan Skandinavia secara umumnya (kecuali barangkali di Norwegia sendiri, hahaha, di mana banyak orang membencinya); melebar membicarakan Laxness (kita seharusnya cemburu, Islandia berpenduduk tak lebih dari 400.000 jiwa tapi bisa menghasilkan penulis sekelas mereka. Laxness memperoleh Nobel Kesusastraan tahun 1955), salah satu “murid” Hamsun; saya bicara tentang Pramoedya Ananta Toer (“Penulis terbesar kami, dan akan selalu merupakan yang terbesar, tak tergantikan”) dan ia bilang ingin membaca Pramoedya; hingga akhirnya ia bercerita tentang pengalamannya ketika novelnya mulai terbit dalam bahasa Inggris, dan selama enam bulan pertama tanggapan atas buku itu sepi saja. Ia menceritakan itu sambil tertawa, barangkali sambil membayangkan bulan-bulan penuh frustasi. Tapi setelah enam bulan itu, ketika si penulis berpikir karyanya tak sanggup membuat pembaca Inggris tersihir, tiba-tiba The Guardian menurunkan satu ulasan panjang atas novel itu. Dan tak tanggung-tanggung, yang mengulas adalah A.S. Byatt, seorang penulis papan atas. Gampang diduga, ulasan-ulasan lain mulai bermunculan dan orang-orang mulai mencari karyanya. Kini, ketiga novelnya yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris terbit di Amerika oleh Farrar, Straus and Giroux, dan tentu saja ia mulai menjadi seorang selebriti dalam kesusastraan kontemporer dunia. Cerita tentang “nasib” Sjón ini membuat saya teringat pada parabel bunga, yang dulu sering saya dengar di kelas filsafat. Parabel itu sebenarnya diceritakan untuk membantu memahami konsep-konsep mengenai “ada” dan “menjadi”, tapi saya rasa bisa juga untuk menjelaskan “nasib” Sjón dan bukunya. Bayangkan ada bunga (katakan mawar yang indah) di tengah hutan. Bunga itu benar-benar indah, tapi masalahnya: tak ada orang yang melihatnya. Bunga itu “ada” sekaligus “tidak ada”. Jika bunga itu memiliki keajaiban, dan bertahan enam bulan, suatu hari barangkali akan ada orang lewat dan menemukannya, mengetahui keindahannya. Seperti A.S. Byatt menemukan The Blue Fox setelah berbulan-bulan. Intinya, sebuah novel tak bisa dibilang buruk hanya karena tak ada yang membicarakannya. Kualitasnya telah “ada”, seperti mawar indah di hutan; tapi sekaligus “tak ada” sampai ada konfirmasi atasnya. Tentu saja ada kemungkinan lain: ada orang lewat melihat bunga mawar itu, tapi ia buta atau tak mengenal konsep indah, maka mawar itu pun tetap tak ditemukan dan terkonfirmasi. Jadi, mungkin saja selama enam bulan itu, The Blue Fox ada yang baca, tapi mereka tak menyadari kualitasnya. Lebih sial lagi: ada yang baca, tahu kualitasnya, tapi tak mau mengatakannya (bisa karena ia tak ingin orang lain tahu). Parabel ini memang aneh, tapi setidaknya bisa dipakai untuk menghibur diri: jika karyamu tak dianggap selama bertahun-tahun, barangkali suatu hari ada yang menemukan dan mengetahui kualitasnya. Kita tanpa sadar sering berpikir dengan cara seperti itu. Tapi tunggu, parabel ini juga bisa diceritakan dengan cara sebaliknya: ada bunga bangkai yang sudah layu, buruk tidak kira; lalu pemilik lahan yang berharap orang datang ke hutannya bercerita ke orang-orang, “Ada bunga indah mekar di lahanku.” Tentu saja ia penipu, tapi ia bisa menciptakan ilusi “ada”, sampai orang mengkonfirmasi kenyataan sebaliknya. Dan yang lebih sering terjadi, kita memiliki bungai bangkai layu yang buruk, dan orang-orang telah melihat bahwa itu memang buruk, tapi kita tetap yakin suatu hari akan ada yang melihatnya dan menganggapnya mawar yang indah. Parabel yang aneh. Saya tak perlu belajar filsafat untuk mengetahui itu berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Tapi menyangkut Sjón, saya sarankan kalian membacanya. Saat ini saya sedang membaca novelnya yang lain, From the Mouth of the Whale. Seperti orang Islandia umumnya, ia sangat mencintai laut. Negeri kita dikelilingi laut, tapi nyaris tak ada penulis kita bicara laut.

Takashi Hiraide, Andrés Neuman, Sjón

Saya sadar, terus-terusan membaca karya klasik nan tua, meskipun saya menikmatinya, lama-kelamaan juga membosankan. Karya-karya itu, demikian tuanya, kadang-kadang tak ada hubungan apa-apa lagi dengan kehidupan kita sekarang. Tapi tentu saja, banyak di antara karya-karya itu masih asyik dinikmati. Dan jika mau mencari-cari pelajaran moral, mereka mengajarkan banyak hal. Hal paling waras, tentu saja menyelingi bacaan klasik tersebut dengan karya-karya baru. Karya-karya penulis yang masih hidup, beberapa di antaranya bahkan seumuran dengan saya. Buku pertama, The Guest Cat karya Takashi Hiraide, yang memang saya incar bahkan sejak buku itu masih “rencana terbit”. Pertama, saya selalu penasaran dengan penulis Jepang. Kedua, ini tentang kucing. Saya selalu senang membaca novel bagus tentang manusia dan binatang. Komentar saya? Manusia memiliki banyak bahasa untuk menjelaskan hubungan mereka dengan binatang: memelihara, melindungi, bahkan memiliki, atau kadang sekadar berteman. Lihat sepasang tokoh utama di novel ini: awalnya mereka menyebut Chibi (si kucing tetangga) sebagai “tamu”. Tapi di akhir cerita, kita tahu, Chibi bukan lagi sebagai tamu. Meskipun bagi Chibi, yang tak mengenali teriroti manusia (kecuali teritori binatangnya), gagasan tentang tamu atau tuan rumah itu sudah jelas pasti absurd (dan kontrasnya semakin menarik dengan kerumitan status si pemilik rumah, yang menyewa dan harus berpindah rumah). Menarik bahwa novel ini, selain menceritakan hubungan mereka dengan Chibi yang berubah bersama waktu, juga mencoba menjelaskan perilaku mereka (kucing, manusia dan kucing-manusia) dalam bentuk sejenis esai ringan yang terselip di sana-sini. Takashi Hiraide aslinya seorang penyair. Saya belum membaca puisinya, tapi yakin ia penyair yang hebat, sebab hanya penyair yang bagus bisa menulis novel seperti ini. Novel berikutnya adalah Talking to Ourselves, karya Andrés Neuman. Saya pernah membaca novel Neuman sebelumnya, Traveller of the Century, yang saya anggap sebagai novel terbaik yang saya baca tahun lalu. Kali ini ia muncul dengan novel yang lebih sederhana, lebih tipis, dengan hanya tiga tokoh yang berbicara bergantian dengan cara seperti Faulkner dalam As I Lay Dying. Seperti novel sebelumnya, ini novel gagasan. Neuman (ia lebih muda dari saya, lahir 1977), saya kira merupakan master dalam novel mengenai gagasan. Kelebihannya adalah, ia mampu meramu novel tentang gagasan dengan banalitas secara kontras, sehingga novel itu tak melulu merupakan perdebatan mengenai gagasan-gagasan (dalam hal ini, ia mengadu dan mempertemukan banyak gagasan penulis mengenai rasa sakit, dari Virginia Wolf hingga Roberto Bolaño, dari Kenzaburō Ōe hingga Javier Marías), tapi juga mengenai usia tua dan tubuh yang memburuk serta dorongan seksual yang malah membara. Meskipun tipis, seperti pendahulunya, saya beranggapan novel ini hanya diperuntukan untuk pembaca yang sabar. Novel ini diterbitkan oleh Pushkin Press, satu penerbit Inggris yang sedang merajalela dengan terjemahan-terjemahan sastra kelas satu dari berbagai tempat. Buku berikutnya berjudul The Whispering Muse, karya Sjón. Siapa Sjón? Jika melacak di internet, ia lebih banyak dihubung-hubungkan dengan Björk, karena ia banyak menulis lirik lagu untuk penyanyi tersebut. Tapi sebenarnya ia, selain penyair, juga novelis ngetop di negaranya, Islandia. Novel ini berkisah tentang Valdimar Haraldsson, seorang penulis jurnal (ya, jurnal dalam pengertian jurnal ilmiah, tapi isinya ia tulis sendiri di setiap edisi) mengenai “ikan dan kebudayaan”. Intinya, itu jurnal mengenai pengaruh konsumsi ikan atas superioritas ras Nordic. Gara-gara jurnalnya ini, ia direkomendasikan seorang temannya untuk mengikuti pelayaran kapal dagang milik ayah si teman. Di kapal, ia bertemu seorang pendongeng. Sepanjang novel, selain menceritakan pengalaman berlayarnya, perjalanan itu juga menjadi bingkai bagi dongeng-dongeng yang didengarnya di atas kapal. Sekilas, juga mengingatkan pada tujuh petualangan ajaib Sinbad sang pelaut. Dengan kata lain, ini dongeng versi modern (settingnya selepas Perang Dunia). Dan tentu saja si penulis juga memberi kontribusi di kapal itu: memberi ceramah mengenai ikan dan kebudayaan. Intinya, menurut si tokoh, kehidupan manusia berasal dari laut. Dan secara biologi, termasuk susunan gigi manusia, dirancang untuk mengkonsumsi nutrisi dari laut. Secara pribadi, karena saya suka seafood, saya setuju. Saya jadi ingat, sewaktu kecil ibu saya selalu berkata, makan ikan agar pintar. Sampai sekarang, jika disuruh memilih dari berbagai macam makanan, saya akan menengok ke ikan. Tapi pertanyaan seriusnya, di negara kepulauan yang dikepung laut ini, benarkah laut atau ikan menjadi sumber pengaruh kebudayaan kita yang terbesar. Anehnya, saya sangsi. Indonesia merupakan negara yang dikepung laut tapi tak banyak memberi kontribusi terhadap kebudayaan ikan. Lihat saja menu makan kita. Berapa banyak variasi jenis makanan kita yang berasal dari ikan atau laut? Ikan hanya digoreng dan dibakar, atau dipepes. Menyedihkan, bukan? Saya rasa novel ini bisa dibaca sebagai ejekan untuk kita. Itu jika Anda sudi mengejek diri sendiri.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑