Kali ini ngobrolin film dulu aja, ah. Kebetulan iseng ngerental video dan nonton The Good, the Bad and the Ugly karya Sergio Leone. Senang sekali, kayak terlempar oleh mesin waktu dan menikmati kembali film koboi gaya lama ini. Penuh dar-der-dor, tapi juga penuh drama (yang culas, berani, maupun konyol). Filmnya sangat lelaki sekali, dalam arti harfiah: nyaris tak ada peran perempuan, kecuali satu-dua figuran yang numpang lewat. Tiba-tiba kepikiran, kalau sudah tua dan bicara kepada seseorang yang beranjak dewasa, kemudian saya akan berkata, “Dengar, Nak, dulu aku pernah menonton sebuah film.” Di film itu sebagian besar pertarungan dilakukan dengan gagah-berani. Duel, saling berhadapan. Tentu saja banyak keculasan, saling menipu dan saling mengkhianati di antara karakter. Tetapi tak jarang mereka berhadapan. Adu cepat menarik pelatuk revolver. “Jika kau ingin lebih baik dari seseorang, tak usah kau cari-cari kelemahannya. Cari saja kelebihannya, sebab hanya dengan cara itu kau punya ukuran untuk lebih baik darinya. Kemudian ajak bertarung. Kalau harus adu pukul, adu pukul saja. Hanya para pecundang yang mencari kelemahan orang dan mengalahkan mereka melalui kelemahannya.” Saya pernah menonton film ini, dan seperti orang saleh membaca kitab suci berkali-kali, saya rasa tak ada salahnya menonton film (atau membaca buku) yang disukai berkali-kali pula. Film-film itu akan menempel di kepala, dan sadar tidak sadar, kita belajar banyak dari sana, dan mungkin menjalani hidup sebagaimana pelajaran yang kita peroleh dari sana. Saya lupa bagaimana kesan menonton film itu sebelumnya (saya hanya ingat puncak adegannya di tengah-tengah kuburan dan tiga orang bersiap berduel, serta beberapa adegan kecil lainnya). Si orang paling culas (Si Jahat, ia membunuh dua orang yang memberinya kontrak untuk membunuh), mati lebih dulu. Mungkin selesai menonton, dulu, tiba-tiba saya merasa menjadi seorang koboi, seorang pemburu hadiah, yang mahir mempergunakan senjata api. Ada adegan ketika Si Buruk Rupa memilah-milah senjata api (bukan untuk membelinya, tapi merampoknya), kemudian membongkarnya, merakitnya kembali dengan menggabungkan dua senjata. Bahkan bandit brengsek pun harus mengerti dunianya, mengerti perkakasnya dengan baik. Membunuh orang dengan senjata api di dalam film koboi adalah seni, dan senjata adalah alatnya. “Dengar, Nak. Kau mau menjadi pelukis? Kau harus tahu dengan baik kuas dan cat di depanmu. Kau mau menjadi dokter? Kau harus memahami dengan baik tubuh manusia. Aku tahu itu setelah menonton film ini. Aku tak bisa bicara banyak. Duduk di sini, lihat filmnya, dan kau akan mengerti maksudku.” Mungkin kau akan bingung dengan perang di latar belakang kisah tiga karakter yang sedang memburu harta di kuburan itu. Tak perlu pusing, itu hanya sebuah latar. Jika kau mau tahu lebih banyak, kita bisa melanjutkan pembicaraan tentang film ini menjadi obrolan tentang perang saudara di Amerika. Itu negeri yang jauh. Hanya kalau kau tertarik, kita bisa membicarakannya. Tentu saja, setelah kita menonton, pertanyaan paling ganjil, dan aku akan menanyakannya kembali, “Di atas segalanya, kenapa mereka tergila-gila dengan uang di kuburan itu?” Film ini tak menjawabnya, Nak. Tapi kita bisa mencoba menjawabnya. Mungkin manusia memang rakus? Mungkin uang memang sumber banyak bencana. Kita bisa bicara tentang asal-usul kekayaan, tentang hak milik. Banyak hal bisa kita bicarakan, hanya dengan menonton film yang hampir tiga jam ini. Tapi satu hal yang harus kukatakan kepadamu, Nak, satu sabda paling penting dari film ini, “Jika kamu harus menembak, tembak! Jangan banyak bacot!” (Yang kebanyakan bacot mati ditembak lebih dulu).