Tanya dan Jawab

Mustikowati: Buku pertama yg saya baca adalah Cantik itu Luka. I’m so impressed. Saya lanjutkan dengan Lelaki Harimau, S.D.R.H.D.T, dan O. Satu yg terasa beda adalah penggunaan kata “tidak” pada C.I.L anda ubah menjadi “enggak” pada novel-novel selanjutnya. Mengapa? (because I prever the first one?). Terima kasih.

Bagi saya sesederhana itu merupakan bagian dari perubahan luas antara era Cantik Itu Luka/Lelaki Harimau (sila perhatikan kembali novel ini) ke era Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas/O yang terentang hingga 10 tahun. Mengapa? Karena itu hanya satu persoalan dari banyak hal yang menarik hati dan pikiran saya, pembicaraannya akan luas sekali. Tapi bisa kita persempit di kata “tidak” dan “enggak” saja, sesuatu yang sebenarnya pernah saya bicarakan di jurnal ini: sementara pada dasarnya saya masih mempergunakan kata “tidak” di sana-sini, pada saat yang sama saya enggak mau membunuh “enggak”. Ini sejenis diplomasi kecil, tentang kata-kata yang seringkali harus dibunuh hanya karena kebakuan, aturan, atau bahkan sopan-santun.

(dari Tanya dan Jawab)



Tanya Jawab #1

Aside
Cool Stuff

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Love and Vengeance) film rights have been acquired by Jakarta-based company Palari Films. The film will be produced by Muhammad Zaidy and Meiske Taurisia; and Eka Kurniawan has been attached as co-scripwriter together with filmmaker Edwin (director and writer of Indonesian film Postcards from the Zoo, which was in competition at the Berlin International Film Festival 2012). Read more here.



“Seperti Dendam …” Will be Adapted into a Feature Film

Aside
Cool Stuff, In English

Following Beauty Is a Wound (2015) and Man Tiger (2015), my third novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (originally, 2014) will be available in English-translation (tr. Annie Tucker, expected Spring 2017). The book sold to three publishing houses for three different territories: New Directions (US and Canada), Pushkin Press (UK, Comm. exl Canada and ANZ), and Text Publishing (ANZ). At the same time, Pushkin Press acquired Beauty Is a Wound for UK, while Speaking Tiger will publish it for Indian sub-continent market (which bring the total count up to 27 publishers, in 23 languages).



Seperti Dendam, English Translation

Aside

sdrhdt_tribunyogya

“Membaca novel ini, kita akan menemukan beberapa keistimewaan yang selama ini jarang diangkat oleh novelis Indonesia.”
– Darul Azis, Tribun Jogja, 5 April 2015



Cool Stuff

Filsafat dalam Aktivitas Seksual

Image
Cool Stuff

“Sungguh sebuah fiksi yang apik, melenakan. Kita bisa merasa marah, sedih, tergugah di depannya, meski tahu itu hanya sebuah fiksi. Juga karya yang cerdas, di mana peristiwa-peristiwa sederhana mampu menebar renungan filosofis menyangkut kehidupan manusia.” (Andesta Herli, Singgalang, dalam ulasan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas)



Keniscayaan Manusia dalam Fiksi Gaya “Posmo”

Aside
Cool Stuff, In English

“Eka Kurniawan’s Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Love and Revenge) is an observation of masculinity that may come as an answer to a literary movement of woman writers who liberate themselves by discussing sexuality in their novels […] Wrapped in a Chinese kung fu-styled novel and almost as brutal and dark as Chuck Palahniuk’s Fight Club, Eka has maintained his place on the frontlines of Indonesian writers.”
Adisti Sukma Sawitri, The Jakarta Post



Seperti Dendam, Jakarta Post

Aside